[3: Kalut]

Pikiran Jihoon sedang kalut sekalut-kalutnya. Sebuah kalimat Soonyoung malam itu berputar-putar dalam otaknya selama seminggu terakhir.

Aku menyayangimu.

Aku menyayangimu.

Aku menyayangimu.

Soonyoung... menyayanginya? Jihoon sunggu merasa ambivalen antara senang mendengar ucapan tersebut dan merasa bersalah karena tidak tahu apa yang membuat dirinya pantas mendengarnya. Jihoon merasa bahwa dirinya belum pantas mendapatkan kasih sayang Soonyoung, ia belum menjadi istri yang baik, setidaknya sebelum ia memberikan itu kepada Soonyoung. Ah, seandainya Jihoon sadar bahwa inti rumah tangga tidak selalu tentang seks.

Sedikit-banyak, hari demi hari, Soonyoung sebetulnya mulai jatuh kepada Jihoon. Ya, Soonyoung punya berbagai alasan untuk bisa jatuh hati kepada Jihoon. Setiap hari ia menyadari dan mencatat satu demi satu alasan tersebut di dalam batinnya. Mulai dari hal kecil seperti senyum Jihoon saat membangunkannya di pagi hari, pengorbanan Jihoon untuk bangun lebih pagi demi membuatkannya sarapan yang lengkap, suara Jihoon saat menyenandungkan lagu yang sedang ia buat, bahkan hingga hal yang menurutnya besar seperti betapa kuatnya seorang Jihoon dalam berusaha menjalankan rumah tangga ini dengan Soonyoung. Soonyoung menyadari betul bahwa Jihoon tidak cuek saja mengenai hubungan mereka. Jihoon juga berusaha untuk mendekatkan diri dengan Soonyoung.

Pada saat alasan-alasan tersebut membuat Soonyoung terasa hangat ketika memikirkannya, ada satu yang membuat Soonyoung kalut, yaitu... tubuh Jihoon. Maafkan Soonyoung, tapi ia tetaplah manusia fana yang memiliki libido. Tidak dapat dipungkiri bahwa bukan sebuah hal yang mudah untuk tinggal di bawah atap yang sama dan setiap malam tidur di ranjang yang sama dengan seorang wanita manis yang sudah sah sebagai istrimu. Selain itu, di balik tampilan polos nan lugunya itu, Jihoon sebenarnya memiliki tubuh yang indah. Mungil, ramping, dan cukup berisi, sungguh tipe Soonyoung. Lalu kulit Jihoon. Soonyoung tak habis pikir apa yang dilakukan Jihoon seumur hidupnya hingga memiliki kulit seputih, selembut, dan semulus itu. Rasanya sampai kiamat pun Soonyoung tidak akan pernah selesai terkagum-kagum pada kulit istrinya. Apalagi di lingkungan pertemanan dekatnya, sebetulnya Soonyoung mendapat gelar kehormatan sebagai "teman yang mesum" (syukurlah ia berhasil menyembunyikan sisi itu dari Jihoon dengan baik). Bukanlah sebuah dosa apabila Soonyoung khilaf dan sewaktu-waktu "menyerang" Jihoon, toh mereka itu suami-istri kan?

Walau demikian Soonyoung gigih sekali dalam berusaha menahan dirinya sendiri, yang penting ia sudah siap kapanpun Jihoon siap. Dia sendiri tidak menyangka bahwa ternyata dia tipe suami yang pengertian dan mampu bersabar demi istri. Walaupun belum berani mengatakkan bahwa ini adalah cinta, tapi ia berani jamin bahwa ia sayang Jihoon. Rumah tangganya dengan Jihoon sangat tidak membosankan karena memberi Soonyoung kesempatan untuk mengeksplor diri sendiri dan hubungan mereka.

Bagaimana dengan Jihoon? Perempuan itu terlalu terpaku pada kecemasannya sendiri hingga lupa untuk memikirkan sesuatu: bagaimana sebetulnya perasaannya terhadap Soonyoung? Sudahkah ia mencintai suaminya tersebut? Tampaknya, jalan bagi pasutri baru ini masih belum semulus yang diharapkan. Semoga Soonyoung dapat bersabar.

.

Kira-kira 9 bulan setelah pernikahan, badai pertama mulai menerpa. Hal tersebut dimulai dari celetukan ibu Soonyoung ketika pasangan tersebut diundang makan malam untuk merayakan ulang tahun ke-56 ayah Soonyoung: "Jihoon sudah isi belum?" yang hanya bisa dijawab dengan senyuman menyesal dan gelengan oleh Soonyoung dan Jihoon. Bagaimana mau isi kalau masuk saja belum, Soonyoung mendesah dalam hati.

Kemudian, badai kedua datang sebulan kemudian, saat ulang tahun pernikahan orangtua Jihoon yang ke-29. "Wah, tidak terasa, ya, sudah 29 tahun kita menikah dan sudah 29 tahun pula kita memiliki Jihoon," ujar ibu Jihoon riang. Nyindir juga kira-kira kali, nggak usah nusuk begitu, Jihoon juga mendesah dalam hati.

Bahkan ketika dua badai saja sudah membuat kedua insan tersebut makan hati, muncul badai ketiga!

"Hyung, kau mandul ya?" pertanyaan frontal tersebut muncul bagai petir di siang hari dari bibir Chan, salah satu teman dekat Soonyoung. Seketika Seokmin dan Hansol, 2 orang teman dekat Soonyoung lainnya, terbahak-bahak karena pertanyaan macam itu bisa dilontarkan oleh Chan yang notabene paling muda dan paling polos di antara mereka.

"Benar, Hyung! Kau kan yang paling R-rated di antara kita, pasti kau melakukannya hampir tiap malam, kan! Kok noona masih kosong saja sih?" timpal Seokmin.

Seandainya bukan teman dekat dari jaman kecil, kuhajar mereka! Soonyoung terpaksa menelan ledekan sobatnya bulat-bulat.

.

"Aku pulang," ujar Soonyoung lesu ketika ia sampai di rumah seusai menjadi target teman-temannya. Keramaian butuh korban, kata mereka. Bahkan membuat ucapan pria 29 tahun itu terasa seperti formalitas saja karena saking lesunya, ia yakin suaranya bahkan tidak akan mencapai radius 3 meter. Dengan gontai ia melangkah masuk kamar, disusul oleh sebuah pekikan. Eh, pekikan?

Tersaji di hadapan Soonyoung pemandangan Jihoon yang nyaris topless karena baru saja melepas atasannya.

"S-soonyoung!" pekik Jihoon lagi sebelum tubuhnya mengkaku karena kaget. Ia tak tahu harus bergerak ke mana atau berbuat apa. Soonyoung pun tak kalah kagetnya. Ia shock karena selama ini belum pernah melihat Jihoon dalam kondisi seterbuka ini. Soonyoung tahu bahwa tubuh Jihoon memang tidak buruk, tapi ia tidak tahu kalau dada Jihoon seindah itu! Ia bahkan tidak menyangka kalau Jihoon tipe perempuan yang suka pakai bra hitam renda-renda!

Untungnya profesinya sebagai dokter menjamin bahwa otak Soonyoung encer. Ia tidak sampai shock terlalu lama dan nyaris otomatis langsung membalik badannya untuk keluar lagi dari kamarnya. Walau masih agak blank tapi ia sadar bahwa ia harus keluar demi Jihoon. "M-maafkan aku!" teriaknya dari luar kamar, tak bisa menyembunyikan bahwa suaranya sedikit bergetar. Ia tidak menyangka bahwa tubuh istrinya dapat memberi efek separah ini. Baru lihat setengah saja sudah begitu apalagi semuanya?

.

Semua perbuatan pasti ada konsekuensinya, bahkan perbuatan yang tidak disengaja sekalipun seperti kecerobohan Soonyoung tadi. Sepanjang sisa hari itu mereka nyaris tidak berbicara kecuali mengucapkan selamat makan saat makan malam. Sisanya, hening. Jihoon terus menunduk biarpun tidak dapat menyembunyikan telinganya yang tampak sedikit lebih merah muda, sementara Soonyoung pun tak tahan melihat Jihoon lama-lama karena terus terbayang pemandangan indah tadi. Sesudah makan, Jihoon langsung undur diri untuk menyikat gigi dan tidur, meninggalkan Soonyoung untuk galau sendirian. Tak ingin galau sendirian berlama-lama, Soonyoung pun menyusul istrinya ke atas tempat tidur. Ingin mencoba menyusul ke alam mimpi juga, tapi hasilnya nihil.

Menghadap ke arah Jihoon, Soonyoung malah jadi nafsu.

Menghadap ke arah lain, Soonyoung malah jadi kangen ingin menatap istrinya.

Akhirnya setelah beberapa kali berguling, Soonyoung memutuskan untuk berbalik lagi dan menatap wajah Jihoon saja, tapi jujur beberapa kali manik mata Soonyoung nakal dan menatap sedikit ke bawah. Seolah kehilangan akal sehat, Soonyoung sedikit mendekatkan tangannya ke arah Jihoon. Sumpah ia penasaran bagaimana rasanya menggenggam bagian itu dengan tangannya sendiri. Jihoon tidak akan terbangun kan? Setahu Soonyoung, Jihoon adalah tukang tidur yang cukup pulas. Bahkan daritadi Soonyoung bergerak-gerak saja ia tidak terbangun.

Setelah memastikan Jihoon tidak akan terbangun, dan setelah ia mengutuk dirinya sendiri karena akan menjadi suami yang menurutnya jahat, ia pun menempelkan telapak tangannya ke dada Jihoon. Sial, kenapa rasanya pas sekali, Soonyoung jadi ingin mencoba lebih sambil terus berharap Jihoon tidak akan sadar. Pelan-pelan ia sedikit menambahkan gerakan meremas.

"Ngh... S-soon..."


[a/n]

[1]

Jadi chapter ini intinya kekalutan yang terjadi dalam hubungan Soonhoon. Soonyoung yang kalut karena nafsunya, Jihoon yang kalut karena kecemasannya, dan mereka berdua yang kalut karena tuntutan sosial(?) untuk cepat-cepat punya anak. As always, author berharap chapter ini dapat memuaskan, tapi kalau misalnya nggak memuaskan maka author minta maaf. Sejujurnya author belum pernah nulis NC, jadi ini NC perdana banget, kalau ada salah-salah harap pengertiannya :')

[2]

Saya kembali dengan gelar sarjana :) MAKASIH BANYAK KALIAN YANG MAU NUNGGUIN WALAUPUN AUTHOR PHP INI NYARIS SETAHUN NGGAK UPDATE. Sumpah, nomu nomu nomu nomu nomu gomawoyo. Selama masa menghilang bak ditelan bumi ini author masih menyempatkan untuk baca review kalian karena review kalian itu bahan bakar utama author! Sekali lagi, terima kasih atas doa dan dukungannya sehingga author bisa dapat gelar sarjana dan juga meng-update fic ini.

Special thanks buat tofu looks dan Moon Vibes yang sampai bela-belain ngirim PM!

.

Btw, author punya beberapa pertanyaan:

1. Kalian kalau nulis review, ingin dibalasin satu-satu kah? Author ingin balas via PM tapi takut ganggu, jadi kalau misalnya mau dibalas bilang aja ya di review-nya supaya author tau siapa yang mau di-PM :)

2. Ada yang mau temenan di Twitter kah?