Last chapter~ :D ShinRan chapter ^^ okay, mulai aja deh~

DC DC DC DC DC

Ran terdiam. Menunggu dan terus menunggu di dalam rumah orang itu. Ia terus menunggu, berharap orang itu akan datang pada hari ulang tahunnya ini. Kamu pasti datang 'kan, Shinichi?

Tapi orang yang ia tunggu itu tidak kunjung datang.

Meski sudah tahu akan hal itu, ia tetap saja menunggu orang yang sangat berarti baginya itu.

Ia tidak muncul-muncul.

Ran menghela nafas, ia sudah cukup lelah berdiri di sana. Tapi ia tidak mau berhenti menunggu. Apalagi di hari ulang tahunnya ini. Ia yakin- Shinichi pasti datang hari ini. Atau mungkin… Shinichi sudah melupakan hari ulang tahunnya?

Tidak mungkin, Ran berkata pada dirinya sendiri. Shinichi tidak lupa pada hari ulang tahunnya. Shinichi tidak akan lupa pada hari ulang tahunnya. Shinichi tidak akan pernah lupa. Ia selalu ingat hari ulang tahun Ran, walaupun ia sendiri lupa pada hari ulang tahunnya. Ran teringat kembali pada hari ulang tahunnya yang sebelumnya. Shinichi selalu ingat, ia tidak pernah lupa.

Tidak pernah…

Ia selalu hadir pada hari ulang tahunnya. Pasti ia juga hadir pada saat ini… ya 'kan?

Ran terus menunggu. Ia terdiam. Dan pada saat itu juga, terdengar suara pintu terbuka dan suara langkah orang berlari. "Shinichi?" Ran bertanya-tanya. Tak lama terdengar suara pintu ditutup. Ran melangkah ke pintu itu. "Shinichi?"

"…Itu kamu 'kan… Shinichi?..." Ran bertanya dengan suara kecil. Ia ingin menangis. "Itu kamu 'kan?"

"Ran," muncul suara dari balik pintu. Suara itu- suara orang yang dia tunggu. Ran mulai merasa baikan, namun ia masih sedih. Ran mencoba untuk membuka pintu itu. Tapi pintunya dikunci. "Buka pintunya, buka pintunya Shinichi," Ran mencoba untuk membuka pintu itu lagi.

"Maaf, aku tidak bisa, Ran," hanya itu balasan dari orang itu.

"Shinichi," Air mata mulai berlinang di bola mata Ran. "Shinichi Bodoh! Bodoh! Bodoh! BODOH!" dia berteriak di telepon itu. "Kenapa aku tidak boleh membuka pintunya? Aku ingin melihat kamu!" Air mata pun membasahi pipinya. Ran terus menggedor pintu itu.

"Maaf, aku tidak bisa mengunjukkan wajahku, Ran…" suara itu membalas lagi. "Aku hanya bisa bicara denganmu dari balik pintu ini,"

Air mata Ran terus mengalir. "Shinichi, kalau kamu tidak buka pintunya…" Perasaan sedih dan marah meluap pada diri Ran- ia mau menghancurkan pintu itu. Untuk bertemu dengan Shinichi. Untuk bertemu dengannya. Dengan Shinichi.

"Happy Birthday,…"

Mendadak Ran terhenti saat ia mendengar suara Shinichi.

"…Ran,"

Ucapan selamat ulang tahun… dari balik pintu. Seperti waktu ulang tahun Shinichi saat itu.

"Shi,… Shinichi,…" Ran bersandar ke pintu, ingin mendengar suaranya lagi. "Ku…Kukira kamu lupa," Ran terus bersandar, berharap Shinichi masih ada di balik pintu itu. Berharap ia dapat menjawabnya.

"Bodoh," suara itu membalas. "Aku tidak mungkin lupa,"

"…Shi…Shinichi,"

"Ran, aku harus segera pergi, kasus itu belum selesai,"

"T-Tunggu! Shinichi- tapi kamu baru saja datang, dan kamu juga belum mengunjukkan wajahmu. Shinichi- kenapa…? Shin-" Ran menjadi panik, ia tak mau ditinggal orang itu begitu saja. Tidak mau. Namun suara itu membalas,

"Maaf ya, Ran…" Ran tidak dapat menghentikan air matanya. Hatinya sakit mendengar kata-kata itu. "Aku akan kembali. Sampai saat itu,… tetap tunggu aku,"

"Shinichi, tunggu! Shinichi!" Ran mencoba membuka pintu itu lagi, untuk menahan orang itu pergi. Pintunya sudah tidak dikunci, namun saat pintu itu dibuka… orang itu tidak ada di dalam. Melainkan orang itu, ia menemukan sekotak hadiah di lantai ruangan itu. Ran mengambil kotak itu, lalu menerawang ke sekeliling ruangan itu. "Shinichi,… kamu pasti bersembunyi 'kan? Shinichi!"

Ran mendengar suara langkah kaki di belakangnya. Shinichi pergi lagi… Ran mengejarnya. "Shinichi!" Ran tetap berlari mengejar orang itu. Tapi saat itu ia bertabrakan. Ran memegangi kepalanya, dan berharap yang ia tabrak itu adalah Shinichi. Tapi, saat ia membuka matanya…

"Aduh,"

Yang ia temukan hanya Conan Edogawa.

"Conan? Shinichi… di mana?" Ran bertanya kepada anak yang sebenarnya adalah orang yang ia cari itu.

"Kak Shinichi," Conan berputar dan menunjuk ke arah pintu. "Tadi ia lari keluar dengan terburu-buru, katanya kasus itu-"

"Kasus itu lagi, mau sampai kapan dia-" Ran menghentikan perkataannya. "Mau sampai kapan-"

'Tetap tunggu aku'

Tunggu apa? Kenapa aku harus selalu menunggunya? Bodoh! Shinichi bodoh!

"Kak Ran,…" Conan hampir tidak dapat berkata apa-apa. Ran menangis sambil memeluk Conan. "Kak Shinichi bilang-"

Ran terdiam mendengar nama itu- ia ingin marah, tapi juga tidak bisa. "Ia bilang… ia minta maaf," Ran terdiam lagi, air matanya menetes. "I…Ia bilang… Dia pasti kembali… untuk itu,… dan,… dan saat ia kembali… ia pasti…"

Ran menghentikan omongan Conan, "Sudah, Conan,…"

"T…Tapi, pada saat itu…"

Ran mengangguk. "Ya,… ia bilang ia pasti kembali, ia pasti…" Ran mengusap air matanya, dan menatap pada kotak hadiah itu.

"O, ya kak Ran…" Conan memberikan tangannya, "Selamat ulang tahun,"

Ran terdiam, lalu ia tersenyum manis dan menerima salam itu. "Terima kasih, Conan," lalu ia menghapus sisa air matanya dan perhatiannya kembali pada kotak hadiah itu. Ia tersenyum melihat kotak hadiah itu. Conan hanya terdiam sambil mencoba untuk tersenyum.

Maafkan aku ya, Ran… aku belum bisa kembali.

Tapi, pada saat aku kembali… itu adalah hadiah terbesar dariku. Aku janji, aku pasti kembali.

Selamat ulang tahun ya,… Ran.

DC DC DC DC DC

Haaah… selesai juga….xDDDD terima kasih untuk semua yang sudah baca, fav, dan review! :D Sori kalau endingnya kurang sweet *plak* rencana awalnya sih mau cuman ngomong lewat telepon- di kantor detektif Kogoro. Endingnya rada sedih ya ^^; haha… tapi semoga pada suka sama fic ini! Arigato!