Aishiteru
CHAPTER 4 UPDATE! UPDATE! UPDATE!
Yosh, minna, Shana balik lagi dengan chapter 4 fic Aishiteru ini. Dan chapter 4 ini adalah chapter terakhir dalam fic Aishiteru ini. Shana selaku author merasa senang dan sedih juga, ya... TT^TT
Semoga dinikmati chapter ini ya, karena Shana akan berusaha yang terbaik untuk ini. Oke, daripada nanti Shana nangis duluan nulis author note-nya, let's check it out!
Summary : The battle begin! Sebastian dan Ciel bertarung melawan Alois dan Angela untuk menyelamatkan Lizzy. Tapi Lizzy yang telah dikuasai Angela terus menyerang Ciel. Apakah sudah terlambat?
Warning : OOC, typo, abal, gaje, multi-chapter, ide ga menarik, deskripsi payah, sejarah ngaco, OC, dan lain-lain...
Pairing : Ciel x Lizzy
Rating : T
Genre : Romance
Disclaimer : Dengan sedih Shana katakan, Yana Toboso telah mencuri ide Shana untuk Kuroshitsuji... #plaak!
.
(=.=a) Aishiteru (=.=a)
.
"Aku akan menyelamatkanmu, Lizzy!" seru Ciel keras. Lizzy tertegun mendengarnya, dan matanya mulai mengalirkan air mata. Lizzy tak pernah menyangka, bahwa Ciel akan membahayakan nyawanya untuk menyelamatkan dirinya. Gadis itu selalu mencintai Ciel melebihi hidupnya sendiri, tapi Lizzy tak tahu bahwa Ciel juga membalas dengan sama.
"Ciel, arigatou..." lirih Lizzy. Dilihatnya Ciel sedang berhadapan dengan Alois. Butler setia Ciel, Sebastian, berdiri di sampingnya untuk menjaga tuan mudanya.
"Oh my, sangat menyentuh. Kau pasti sangat mencintai Elizabeth, benar kan, Ciel?" tanya Alois dengan senyum jahatnya. Ciel makin gemetar menahan marah mendengar setiap kata yang dilontarkan Alois.
"Diam kau! Aku pasti akan menyelamatkan Lizzy dari tangan busukmu, Alois!" seru Ciel. Alois tersenyum makin lebar, hingga lebih pantas disebut seringai.
"Oh, begitukah? Maaf, Ciel, aku tidak akan membiarkan itu terjadi!" seru Alois sambil mencabut pedangnya. Ciel terkejut, tapi langsung mundur dan berbisik pada Sebastian.
"Sebastian, berikan aku pedang," pinta Ciel dengan berbisik. Tangannya terulur meminta pedang untuk bertarung dengan Alois. Sebastian yakin dengan kekuatan tuan mudanya itu, dan memberinya sebuah pedang. Pedang bermata tajam yang mampu membunuh musuh dalam satu kali tebasan fatal.
"Aku akan melawanmu, Alois. Bersiaplah untuk saat-saat kekalahanmu!" seru Ciel keras, dan menghunuskan pedangnya ke arah Alois. Ekspresinya dipenuhi tekad yang membara.
"Baiklah, aku akan melawanmu. Tapi kau salah, ini akan menjadi saat terakhirmu. Berdoalah, Ciel Phantomhive!" seru Alois, tak kalah keras dengan seruan Ciel. Dia mengelus pedangnya, menandakan tajamnya mata pedang miliknya.
"Kita mulai!" seru Ciel dan Alois bersamaan. Keduanya mulai saling serang. Tebasan demi tebasan mereka lancarkan. Pertahanan mereka sangat sulit ditembus lawannya. Mereka terus berada dalam posisi seimbang setelah sekian lama. Sebastian dan Lizzy memperhatikan dengan tegang.
"Tuhan, kumohon, selamatkan Ciel," lirih Lizzy sambil berdoa. Gadis itu memejamkan kedua matanya, berharap menemukan sedikit pencerahan untuk hatinya yang terasa seakan telah membeku. Tangannya terkepal kuat sehingga buku-buku jarinya memutih. Tapi, sakit hatinya jauh melebihi sakit fisiknya.
"Tuan muda, saya percaya pada anda. Jangan sia-siakan darah Phantomhive dalam diri anda," gumam Sebastian. Matanya tak pernah lepas dari pertarungan di hadapannya, dari kedua pedang yang terus bersilangan.
"Kulihat kau mampu menyaingiku, Ciel. Tapi itu tidak akan bertahan lama," kata Alois, menyeringai. Ciel membalas menyeringai pada laki-laki berambut pirang pucat itu.
"Kau banyak bicara, Alois. Itu bukti bahwa kekuatanmu jauh di bawahku," balas Ciel mengejek, tampak tenang.
Alois sebenarnya terbakar mendengar ejekan Ciel, tetapi dia berusaha tidak menunjukkan kemarahannya. 'Kau mungkin benar, Ciel. Mungkin aku memang tak sekuat dirimu, tapi aku hanya perlu bertahan sedikit lagi... Sampai Upacara Pemindahan Jiwa selesai,' batin Alois. Walaupun tidak terlihat di permukaan, sebenarnya upacara tengah berlangsung.
"Jangan melamun, Alois. Pedangku akan menebasmu," kata Ciel, dan benar saja, pedangnya mengenai tubuh Alois. Sayangnya, Alois sempat berkelit sehingga luka di dadanya itu tidak terlalu dalam. Tapi tetap saja, darah mengalir dari lukanya, walau tidak banyak.
"Cih, meleset. Yang selanjutnya tidak akan," gumam Ciel sambil menyabet-nyabetkan pedangnya ke udara. Sekilas dilihatnya Alois yang sedang memegangi dadanya, tapi wajahnya menyeringai jahat. Seringai yang lebih jahat daripada seringainya sebelumnya.
"Kau mengenaiku, Ciel. Tapi sayangnya, sekarang sudah terlambat. Upacara Pemindahan Jiwa telah mencapai klimaksnya sekarang!" balas Alois dengan keras, dan tawa jahatnya mengiringi jeritan kesakitan penuh penderitaan dari Lizzy. Ciel membeku di tempatnya berdiri, tak dapat mempercayai apa yang dia lihat.
"AAKH!" jerit Lizzy. Tubuhnya terlilit kuat-kuat oleh rantai itu. Perlahan, jiwa seorang wanita mulai memasuki tubuh Lizzy. Itu jiwa Angela! Jiwa Angela memegang tubuh Lizzy dengan mata menyala. Tangannya mulai menembus tubuh Lizzy, lalu tubuhnya dan akhirnya jiwa Angela menguasai tubuh Lizzy sepenuhnya. Lizzy hanya dapat menjerit kesakitan.
"Ciel... To... Long..." lirih Lizzy sambil meneteskan kristal bening dari kedua matanya. Air mata itu jatuh ke arah Ciel, dan mengenai pipi laki-laki itu. Entah bagaimana perasaan Ciel saat ini. Rasanya dia ingin menggantikan tempat Lizzy, tapi ia tak bisa. Rasanya sungguh sangat menyakitkan.
Mata Lizzy berubah, menjadi semerah darah. Suaranya pun berubah, menandakan kalau Angela telah merasuki tubuhnya. Alois terlihat sangat puas dengan itu.
"Fuh, Angela, akhirnya kau telah datang. Sekarang, bunuh anak itu!" perintah Alois sambil menunjuk Ciel.
"Aku bukan pelayanmu, tapi akan kulakukan. Aku juga punya dendam padanya," jawab Angela, yang berada dalam tubuh Lizzy, sambil menyeringai dan menangkap pedang yang dilemparkan Alois. Dengan lari yang sangat cepat, Angela menghunuskan pedangnya ke arah Ciel. Ciel tak sempat menghindar, tapi untungnya Sebastian dengan cepat menangkisnya.
"Tuan muda, lebih baik anda mundur. Biar saya saja yang menghadapinya," kata Sebaastian sambil mencabut pedangnya juga.
TRANG! Pedang keduanya beradu. Pedang putih Angela, dan pedang hitam Sebastian. Sungguh kontras memang, lagipula mereka adalah malaikat dan iblis. Selamanya mereka akan bertarung, takkan pernah bersatu.
"Huh, kulihat kau semakin bagus, Sebastian," kata Angela saat mereka berhadapan. Seringai jahatnya seperti biasa selalu menghiasi wajahnya.
"Well, kau pun tak buruk, Angela. Tapi... Aku akan membalaskan dendam Jeanne, dan menyelamatkan nona Elizabeth demi tuanku!" balas Sebastian. Mereka mundur, dan saling menyerang lagi. Begitu terus sampai...
Crash! Pedang Sebastian menggores pipi Angela. Angela berhenti sejenak, dan mengelus pipinya. Tangannya menghapus setitik darah yang menetes dari lukanya. Wajahnya menyeringai jahat lagi.
"Dear, kau sudah melukaiku, Sebastian. Tapi, aku harus memperingatkanmu. Kau tidak melukaiku sama sekali, Sebastian. Yang kau lukai... Adalah Elizabeth Middleford!" seru Angela keras, yang mengejutkan Ciel dan Sebastian.
'Itu memang benar. Selama aku tidak bisa mengeluarkannya, tubuh nona Elizabeth yang akan menerima semua seranganku,' batin Sebastian. Butler itu bingung, bagaimana dia akan mengalahkan Angela?
"Sebastian, kumohon. Jangan sakiti Lizzy..." pinta Ciel dengan sangat. Nada memohonnya membuat Sebastian semakin bimbang. Pilihannya sangat berat : membiarkan tuan mudanya dibunuh Angela, atau melukai bahkan membunuh nona Elizabeth, yang pasti keduanya akan berakibat buruk baginya dan juga bagi Ciel. Apa yang harus dipilihnya?
"Kurasa tidak baik mengalihkan pandanganmu dari musuh, benar kan, Sebastian?" kata Angela sambil menghunuskan pedangnya lagi. Sebastian dengan cepat menyadarinya, dan menghindar dari serangan Angela. Dia tidak terluka, hanya saja bajunya robek kecil.
"Cih, gagal. Cepatlah, Angela, kita tidak punya waktu selamanya untuk melawan mereka. Kita masih punya rencana lain," perintah Alois yang sedari tadi memperhatikan pertarungan Angela dengan Sebastian. Dia mulai tidak sabar menunggu.
Angela tidak suka diperintah seperti itu. "Diamlah, aku tidak bisa konsentrasi melawannya! Jiwamu telah terkotori oleh ketidaksabaran, mungkin aku harus memurnikanmu setelah melawan Sebastian!" balas Angela.
"Missy, lebih baik hentikan dulu pertengkaran kalian, dan selesaikan pertarungan kita," kata Sebastian menyadarkan Angela. Selagi ada kesempatan, Sebastian balas menyerang Angela. Angela menghindar, walaupun nyaris kena.
"Sebastian!" seru Ciel, memperingatkan Sebastian. Ciel tidak ingin kehilangan Lizzy, dia tidak akan sanggup.
"Baiklah, maafkan saya, tuan," sahut Sebastian. Pikirannya benar-benar terbagi sekarang. Dia berkonsentrasi pada pertarungan, tapi juga sambil memikirkan cara bagaimana mengalahkan Angela.
"Percuma, Sebastian. Kau tidak akan pernah mengalahkanku. Kecuali... Kau ingin melukai tubuh gadis manis ini? Aku yakin kau tidak akan mau, benar kan, Sebastian?" kata Angela sambil tersenyum dengan jahatnya. Kekejamannya seakan terlukis cukup dengan senyumannya saja.
Sebastian melirik sekilas ke belakang, melihat Ciel. Ciel tampak begitu tanpa harapan. Pandangannya sendu, tangannya terkepal erat, dan air mata tak henti-hentinya mengalir dari mata shappire-nya. Sebastian tidak suka melihatnya. Melihat wajah putus asa Jeanne di masa lalu sudah menjadi beban tak terhapuskan bagi Sebastian, butler itu takkan mau hal yang sama terjadi pada Ciel.
"Lizzy, kumohon... Jangan tinggalkan aku. Aku... Tidak akan sanggup kehilanganmu..." bisik Ciel, sangat lirih, sangat putus asa. Matanya sembab karena banyak menangis. Jika Lizzy melihat ini, pastinya gadis itu akan melukai dirinya sendiri karena telah membuat Ciel menangis.
"Hah... Hah... Tidak ada gunanya menangis. Kau akan... Segera mati, menyusul... Tunanganmu itu!" kata Alois terbata-bata karena kesakitan. Dia terus memegangi luka di dadanya, tetapi senyum jahatnya telah membakar amarah Ciel. Ciel tidak percaya, dan tidak akan pernah mau percaya, kalau Lizzy sudah meninggalkannya selamanya.
"Diam, Alois! Lizzy tidak akan meninggalkanku, jangan bicara omong kosong!" seru Ciel marah. Apa hak Alois untuk memberi tahu Ciel itu? Dia tidak boleh berkata seperti itu, layaknya seorang penentu takdir! 'Lizzy pasti akan hidup, aku yakin! Lizzy tidak akan pernah meninggalkanku!' batin Ciel, meyakinkan dirinya sendiri.
Sementara itu, Sebastian masih bertarung sengit dengan Angela. Kemampuan mereka setara, sehingga sulit memprediksi siapa pemenang pertarungan ini. Pedang mereka terus bersilangan, menimbulkan suara dentang yang cukup memekakkan telinga. Tetapi selama darah belum tertumpah, mereka akan terus bertarung. Untuk balas dendam, kehormatan, ambisi, dan kesetiaan.
"Kau tahu, Sebastian, aku tak sempat mengatakan ini padamu. Sejujurnya, aku tak menyangka kau masih memiliki keberanian untuk bertemu denganku," kata Angela.
Sebastian memasang ekspresi sinisnya. "Dan apa maksud dari perkataanmu itu, Angela?" balas Sebastian.
Angela tersenyum, senyum yang membuat merinding. "Don't play dummy with me, Sebastian. Kau tahu dengan jelas apa maksudku. Tentang mantan nonamu, Jeannete Redblood," kata Angela.
Sebastian mengubah ekspresinya. Wajahnya terlihat dingin menatap Angela. "Memangnya ada masalah dengan Jeanne?" tanya Sebastian.
"Jangan bilang kau lupa. Itu baru terjadi 400 tahun lalu, tidak lama untuk seorang iblis sepertimu," sahut Angela. Wanita itu masih tersenyum jahat.
"Aku tidak pernah bilang kalau aku lupa. Tentu aku masih mengingatnya, terutama jiwanya yang terasa sangat manis," balas Sebastian, tanpa sadar menyentuh bibirnya pelan seakan ingin mengingat kembali rasa manis dan nikmatnya jiwa Jeanne.
"Bukan itu maksudku, Sebastian. Maksudku, adalah saat akhir pertarungan kita. Saat kau gagal sebagai butler. Saat kau dilindungi nonamu, dan kau gagal melindungi nonamu. Saat Jeannete Redblood m..." perkataan Angela terputus oleh Sebastian yang telah menyabetkan pedangnya. Sedangkan Angela dengan cepat menangkis serangan tersebut.
"Oh, calm down now, Sebastian. Jangan terbawa emosi. Lagipula, kukira kau sudah melupakan kematiannya," kata Angela, yang disambut tebasan pedang Sebastian. Angela berkelit, tapi Sebastian langsung melompat dan melemparkan sejumlah deathschyte. Deathschyte itu melukai tangan Angela cukup dalam dan merobek gaunnya lebar.
"Kau lengah, Angela," kata Sebastian sambil mengayunkan pedangnya. Darah Angela berceceran di lantai.
Angela tersenyum lagi, dan menjilat sedikit darah dari lukanya. "Kau hebat juga, Sebastian. Mungkin ini saatnya aku bermain serius denganmu," balas Angela.
Sebastian dan Ciel sangat terkejut melihat Angela, sedangkan Alois menyeringai dengan lebih jahat dari sebelumnya. Angela bertransformasi, sayapnya tumbuh, gaunnya terobek oleh tekanan aura gelap yang keluar dari tubuhnya. Mata kanannya bersinar putih sedangkan mata kirinya bersinar hitam, dan luka-lukanya menutup. Pakaiannya terganti oleh gaun berwarna putih dan hitam yang terpisah. Pedangnya terbagi dua, hitam dan putih.
"Sepertinya kau telah berubah menjadi... Dark Angel, benar kan, Angela?" kata Sebastian. Tetapi walaupun nada dan ekspresinya tampak tenang, sebenarnya kekhawatiran mulai muncul dalam hati Sebastian. Sebastian tahu siapa itu Dark Angel, dan bagaimana kekuatannya.
Dark Angel adalah wujud sejati Angela. Dark Angel adalah perwujudan dari segala kegelapan dalam hati manusia. Dark Angel tercipta karena kegelapan hati manusia mendominasi. Awalnya, Dark Angel adalah seorang Holy Angel yang bertugas menjaga kedamaian dunia. Holy Angel memperoleh kekuatan dari kebaikan dalam hati manusia.
Tetapi zaman telah berubah. Perampokan, pencurian, penggelapan, bahkan pembunuhan sudah tak jarang dijumpai dalam kehidupan manusia. Sampai di suatu titik di mana hampir semua manusia tidak memiliki hati nurani dan perasaan lagi, dan di mana kegelapan menyelimuti dunia, Holy Angel menerima imbasnya. Hati manusia yang telah tercemar, mempengaruhi kekuatan Holy Angel. Holy Angel terkontaminasi, dan mulai dikuasai kegelapan. Akhirnya, Holy Angel berubah menghitam dan menjadi jahat, dan namanya berubah menjadi Dark Angel.
Dan Angela adalah titisan Dark Angel itu. Dia sudah pernah bertransformasi menjadi Dark Angel sekali, dan menyebabkan kerusakan parah. Bahkan dia menyebabkan The Great Fire of London sekitar tahun 1600-an. Untunglah, saat itu ada seorang manusia yang berani menghadapi Angela dan bertarung dengannya. Kemurnian hatinya berhasil menyegel darah Dark Angel dalam diri Angela. Tetapi segelnya melemah setelah ratusan tahun berlalu, dan sekarang Angela mampu bertransformasi kembali.
"Rasanya sudah lama sekali sejak aku bertransformasi. Sekarang, takutlah dengan kekuatanku, Sebastian!" seru Angela, dan menyabet-nyabetkannya untuk membuktikan kehebatan pedangnya.
"Apa kau yakin dapat mengendalikan kekuatanmu lagi, Angela? Setelah sekian lama, kurasa kau akan berkarat karena tak pernah menggunakannya?" tanya Sebastian sinis.
"Jangan mempertanyakan kekuatanku, Sebastian. Bahkan untuk iblis sepertimu, kekuatan Dark Angel takkan tertandingi," balas Angela.
"Mungkin kau benar, Angela. Tapi, itu tidak akan membuatku menyerah padamu," kata Sebastian lagi. Wajahnya tak menunjukkan sedikit pun rasa takut. Pedangnya ia sampirkan di bahunya. Sebastian memejamkan kedua matanya sejenak.
"Kalau kau bertransformasi, tidak adil jika aku tetap seperti ini. Mungkin kau akan merindukan sosok ini," kata Sebastian pelan, membiarkan Angela terdiam sesaat. Akhirnya Sebastian membuka kedua matanya, dan menampakan mata yang berwarna merah berkilau bagaikan batu ruby. Seketika tubuhnya diselubungi bulu-bulu gagak hitam, yang menutupi Sebastian sejenak dari pandangan.
"Tuan muda, pejamkan mata anda lagi," pinta Sebastian. Ciel tersadar, dan memejamkan mata shappire-nya.
Saat mata Ciel terpejam, wujud iblis sejati Sebastian perlahan menjadi jelas. Sebastian mengenakan pakaian seperti jas hitam dengan celana panjang hitam pula. Sepatunya adalah sepatu hitam berhak bagi laki-laki, dan sepasang sayap berbulu hitam muncul di punggung Sebastian. Sebastian menyeringai kejam bagaikan iblis, dan mulai menyerang Angela.
"Tidak buruk. Tapi maaf, kau tidak bisa membunuhku lagi walaupun dalam sosok itu," kata Angela sambil menangkis serangan Sebastian.
"Sudah kubilang, kau banyak bicara hari ini, Angela. Lebih baik kau fokus pada pertarungan kita, atau aku akan membunuhmu lagi," kata Sebastian sambil terus menyerang Angela, dan sesekali menangkis serangan pedang Angela.
TRANG! Suara pedang terus memenuhi udara. Pertarungan itu berlangsung sengit. Walaupun keduanya telah berubah, kedudukan masih seimbang. Tapi gurat-gurat kelelahan tampaknya belum terpancar dari wajah masing-masing.
'Angela memang kuat. Bahkan aku kesulitan melawannya, walaupun telah bertransformasi. Dan aku tidak boleh melukai nona Lizzy. Apa yang harus kulakukan?' batin Sebastian frustasi. Sebastian mulai merasa lelah karena pertarungan ini. Bukan lelah fisik, tapi lelah batin.
"Mulai lelah, Sebastian?" tanya Angela sinis. Angela memiliki keuntungan karena tubuh yang digunakannya bukan tubuhnya. Dan jika dia terbunuh, maka jiwanya akan menemukan tubuh baru. Jadi, Lizzy yang akan terbunuh, bukan Angela. Apalagi, Angela yang telah menjelma menjadi Dark Angel, kini menjadi puluhan kali lebih kuat. Bahkan Sebastian akan kesulitan melawannya.
"Tidak akan dalam hidupmu, Angela," jawab Sebastian sambil berusaha menjernihkan pikirannya dan menyerang lagi. Angela menangkis lagi, dan balas menyerang. Sekali lagi, serang menyerang terjadi. Belum ada yang terluka, mereka masih bertahan. Jika diperhatikan, Angela lebih unggul. Tapi Sebastian juga dapat bertahan dengan baik, jadi sulit diprediksi siapakah pemenang pertarungan sengit ini.
"Kumohon, menanglah, Sebastian. Selamatkan Lizzy," gumam Ciel, berharap. Matanya telah berhenti mengalirkan air mata. Entah, mungkin air matanya telah mengering. Mungkin dia sudah terlalu lelah untuk menangis. Atau laki-laki kecil itu hanya menyimpan air matanya untuk yang akan datang.
Crash! Suara tebasan pedang itu menyedot perhatian Ciel dan Alois. Ternyata Sebastian berhasil menebas gaun Angela. Angela sungguh tidak menyangka kalau Sebastian berhasil mengenainya. Awalnya, Angela menyangka itu adalah kebetulan. Tapi Angela sadar kalau Sebastian benar-benar mengenainya. Bahkan sebenarnya Sebastian menahan diri agar tidak melukai tubuh Lizzy yang digunakannya.
'Sebenarnya seberapa kuat Sebastian itu? Dia bahkan mampu melukaiku tadi, hanya saja dia menahan diri. Bagaimana bisa?' batin Angela, bingumg dan panik. Kekuatannya sebagai Dark Angel telah berkurang setelah lama disegel.
"Kukira kau telah menyadarinya, Angela. Kekuatanmu melemah, aku yakin," kata Sebastian sinis. Sebastian merasa cukup beruntung karena Angela tidak memiliki kekuatan sejati seorang Dark Angel. Angela meringis kesal dalam hatinya.
'Segel terkutuk! Kekuatanku telah berkurang drastis sejak saat itu. Bagaimana aku akan melawannya?' batin Angela.
Saat itu, masalah yang lebih besar muncul di hadapan Angela. "Apa kau kesusahan, Angela? Kau sudah merasakan... Kesakitannya?" tanya sebuah suara dingin. Angela terkejut mendengar suara itu, suara seorang gadis.
"What's the matter? Takut?" tanya suara itu lagi, sekarang terdengar senang karena penderitaannya. Angela ingin menjawabnya, tapi tebasan pedang Sebastian menyadarkannya.
"Angela, konsentrasilah pada pertarunganmu!" seru Alois. Tampaknya laki-laki pirang itu mulai khawatir dengan keadaan Angela. Angela tampak tidak fokus, dan di wajahnya tersirat... Ketakutan? Sungguh amat sangat jarang, bahkan mendekati tidak mungkin, Angela ketakutan. Tapi ini? Penjelasannya pasti sungguh rumit dan kompleks.
"Aku tahu!" balas Angela sambil mendelik pada Alois. Angela memang tidak suka diperintah, tapi dia menyimpan budi pada Alois. Jadi, mau tidak mau, Angela harus mengikuti perintahnya. Tapi Angela tidak akan menerima perintah sembarangan. Alois dalam bahaya jika dia terus bersama Angela. Angela lebih suka bekerja sendiri, dan dia akan menyingkirkan siapa pun yang menghalanginya.
Sebastian menyerang Angela tanpa berhenti. Tenaganya terpulihkan sedikit, dan sekarang dia sudah siap untuk menghabisi wanita malaikat pencabut nyawa di hadapannya. Iblis itu menyadari juga, kalau Angela tak sekuat dulu. Dan Sebastian juga menyadari, kalau perhatian Angela teralihkan karena sesuatu.
'Ini kesempatan!' batin Sebastian. Tangannya makin lihai memainkan pedangnya, mendesak musuhnya ke batas.
"I see, kau ternyata lemah. Dan kau berpikir untuk menguasai tubuhku? Not a chance, Angela!" suara misterius itu terdengar lagi. Dan kali ini, Angela tersentak mendengarnya. Wanita itu telah menyadari siapa yang berbicara padanya.
Gadis itu tertawa kecil. "Hihi, bingo! Ya, akulah pemilik tubuh yang kau gunakan ini, Elizabeth Middleford. Jangan kau kira aku tak bisa melawanmu," kata Lizzy.
'Tidak mungkin! Harusnya jiwaku berhasil mengalahkanmu, memusnahkanmu. Tapi mengapa kau masih di sini?' batin Angela.
Lizzy tertawa kecil lagi. "Mungkin benar kalau kau jiwamu memakan jiwaku sedikit demi sedikit. Tapi demi Ciel, aku tidak akan menyerah!" serunya.
Angela merasakan keanehan dalam dirinya, atau lebih tepatnya dalam tubuh pinjamannya. Angela bisa gila kalau terus mendengar suara Lizzy yang berdengung di telinganya. Serangannya mulai membabi buta, tak peduli musuh atau bukan. Dan sepertinya Sebastian menyadari hal ini.
"Apa tidak ada cara untuk mengalahkannya?" gumam Sebastian. Pikirannya terus berjalan mencari cara, hingga akhirnya...
'Bingo! Kenapa aku tidak memikirkannya? Daripada terus memikirkan cara mengalahkan Angela, kenapa tidak bereskan saja dalangnya? Ya... Alois Trancy,' batin Sebastian sambil memasang senyum misteriusnya.
Dengan cepat, Sebastian berkelit menghindar dari Angela, dan merubuhkannya untuk sementara. Dia langsung menghunuskan pedangnya ke arah jantung Alois. Alois hanya dapat terpaku dengan mata melebar shock, saat akhirnya pedang Sebastian yang dingin itu menembus raganya. Merobek kulitnya, dan menancap dalam di jantungnya.
Darah memuncrat keluar dari luka Alois. Ya, luka menganga yang dalam di jantung Alois, cukup untuk membuatnya meregang nyawa di tangan Sebastian. Semua yang menyaksikannya terdiam, tak menyangka dengan perkembangan mengejutkan ini.
Alois terjatuh berdebam di lantai yang dingin. Darah masih mengalir dari mulutnya yang terbuka. Matanya terpejam, rapat. Kini tubuhnya terlihat ringkih dan rapuh bagaikan anak kecil seusianya. Topeng kekakuan dan kekejaman yang selama ini selalu dikenakannya, akhirnya terlepas dengan sendirinya. Menampakkan wujud asli Alois, yaitu seperti yang disebutkan di atas, pemuda kecil yang rapuh dan butuh kasih sayang.
'Semuanya telah berakhir,' batin Sebastian sambil menyampirkan pedang di bahunya. Matanya terpejam, mencoba mengubah kilauan merah ruby-nya menjadi hitam seperti biasa. Dia menghembuskan nafas lega, karena pertarungan panjang ini telah dikiranya berakhir. Tapi sayang, itu belum berakhir.
Crash! Tebasan pedang Angela mengenai tubuh Sebastian. Sebastian sungguh tidak menduga ini, begitu juga Ciel. Angela menyeringai jahat, saat dia mencabut pedangnya yang menancap dalam di perut Sebastian. Menikmati setiap cipratan darah segar yang memuncrat dari luka Sebastian ke wajahnya.
"Jangan kau kira jika Alois mati maka aku akan ikut mati, Sebastian. Jiwaku istimewa, jangan anggap aturan upacara yang sama akan berlaku padaku," jelas Angela. Sebastian membulatkan matanya, terkejut dengan kenyataan itu. Bagaimana mungkin ia melupakannya? Entah, hanya Sebastian dan Tuhan yang tahu.
"Sebastian!" seru Ciel yang sedari tadi menonton dari kejauhan. Kekhawatirannya bertambah dua kali lipat melihat butlernya juga terluka. Ingin rasanya dia berlari menyongsong mereka, untuk menyelamatkan keduanya. Tapi apa daya, kekuatan bertempurnya belum cukup besar untuk melawan musuh sekuat Angela.
"Apa yang kau lamunkan, bocah?" seruan itu menyadarkan Ciel. Dilihatnya Lizzy, atau tubuh Lizzy berjiwa Angela menghunuskan pedang padanya. Kejadiannya sangat cepat, Ciel tak dapat menghindar lagi. Sebastian terbaring tak berdaya karena lukanya, tidak mampu menolong Ciel. Ciel memejamkan matanya pasrah, mulutnya melirihkan namanya, "Lizzy..."
Rasanya detik demi detik berlalu sangat lama, pedang Angela tak juga menebas tubuh Ciel. Akhirnya Ciel memberanikan diri untuk membuka kelopak matanya. Matanya melebar terkejut melihat pemandangan di hadapannya. Angela, atau yang terlihat adalah tubuh Lizzy, memegang pedang tertahan di leher Ciel. Hanya beberapa milimeter lagi, dan pedang itu akan melukai pembuluh nadi di leher Ciel, menumpahkan darah segar pemiliknya.
"Liz... Zy..." bisik Ciel tertahan, tidak percaya dengan apa yang tengah terjadi. Tangan Lizzy yang putih itu bergetar, seakan tak kuat menggenggam pedang. Wajah cantiknya tertunduk. Dan yang membuat Ciel makin terkejut adalah, air matanya. Lizzy menangis, kristal bening itu mengalir dari matanya ke pipinya, lalu menetes jatuh ke lantai yang dingin.
"Ciel... Maaf... Kan aku, ya..." lirih Lizzy. Suaranya kembali, bukan lagi suara dingin penuh kebencian milik Angela. Ciel tampak luluh mendengarnya.
"Aku merindukan suaramu, Lizzy," balas Ciel penuh kasih. Tangannya terangkat ragu, tapi akhirnya mengelus pipi Lizzy.
"Apa yang kau lakukan? Hentikan!" jerit Angela. Tangannya masih gemetaran memegang pedang. Jiwanya tampak sedang tertekan oleh sesuatu. Ciel dan Sebastian masih belum mengerti apa yang terjadi.
"Lizzy, apakah itu kau? Ataukah... Itu Angela?" tanya Ciel dengan suara bergetar. Buru-buru ditariknya kembali tangannya, tapi suara itu menghentikannya.
"Jangan, Ciel... Kumohon... Jangan pergi..." lirih Lizzy lagi. Ciel tersentak, dan mengelus pipi Lizzy lagi. Tangannya turun ke dagu Lizzy dan menyentuhnya pelan. Ciel mengangkat dagu tunangannya itu dengan lembut, seakan memintanya menunjukkan wajah cantiknya yang sudah dirindukan Ciel.
Akhirnya, wajah itu tersingkap. Ciel melihat wajah Lizzy dengan perasaan bercampur aduk dalam hatinya. Senang dan bahagia, karena akhirnya dapat melihat wajah tunangannya setelah sekian lama. Tapi juga sedih karena wajah Lizzy terlihat sangat menderita.
Trang! Pedang yang dipegang Lizzy itu terjatuh. Tangannya bergetar keras, seakan perang terjadi dalam dirinya. Dan itu memang benar. Walaupun suaranya tidak terdengar di luar, tapi kini jiwa Lizzy dan Angela sedang bertarung.
"Apa yang kau lakukan? Bagaimana bisa?" jerit Angela frustasi. Jiwanya sedang ditekan keluar oleh jiwa Lizzy
"Kenapa, kaget? Lagipula ini tubuhku, Angela, sejak awal kau tak berhak menguasainya!" balas Lizzy. Jiwanya terus menyerang jiwa Angela tanpa ampun. Tekadnya yang sekuat baja memang patut dikagumi sebagai seorang Middleford.
"AAH! Beraninya kau!" seru Angela marah dan menyerang Lizzy. Sayangnya, jiwa Lizzy menjadi lebih kuat darinya. Berkat Ciel.
"Maaf, tapi aku takkan membiarkanmu membunuh Ciel. Enyahlah!" dan seiring dengan seruan Lizzy, jiwanya berhasil mengalahkan jiwa Angela, membiarkan jiwa wanita jahat itu lenyap untuk selamanya.
"Aku... Ingin bersama Ciel, untuk selamanya. Tapi... Kurasa itu tak mungkin sekarang..." lirih Lizzy sambil tersenyum sedih. Kekuatannya perlahan memudar. Tapi dirasakannya sebuah tangan hangat menyentuh tubuhnya, tubuh yang telah direbutnya kembali. Ya, sentuhan...
"Lizzy, apa itu kau?" tanya Ciel. Hatinya berharap, gadis di hadapannya menjawab ya.
"Ya, ini aku, Ciel. Aku juga merindukanmu," jawabnya berbisik. Perlahan, gadis itu mengayun langkahnya mendekati kekasihnya itu. Ekspresinya tak dapat dijelaskan, bahagia, sedih dan kecewa bercampur jadi satu.
Ciel juga berjalan mendekat, mendekati kekasihnya yang dirindukannya. Laki-laki itu mengulurkan tangan, menyambut kehangatan tubuh Lizzy. Menyambut kepulangan sang gadis kembali ke pelukannya. Setelah menggapai tubuhnya, tangannya mulai memainkan rambut pirang sang gadis di hadapannya. Dipeluknya tubuh mungil itu.
"Gomen, aku sudah menyusahkanmu, Ciel," kata Lizzy pelan. Putri Middleford itu menenggelamkan wajahnya dalam dekapan hangat sang Earl keluarga Phantomhive. Mencoba menenangkan kegundahan hatinya, menyembunyikan sebuah kenyataan pahit yang menyakitkan dalam hidupnya.
"Tidak, kau salah, Lizzy. Aku akan selalu bersamamu, mencintaimu, walaupun aku harus mengorbankan nyawaku. Aishiteru!" tegas Ciel. Lizzy melebarkan bola matanya, sebelum akhirnya memejamkannya kembali dengan bahagia. Ia semakin mempererat pelukannya pada tubuh mungil laki-laki tunangannya itu. Kehangatannya sungguh membuat Lizzy merasa aman dan damai.
"Arigatou, Ciel. Aishiteru yo," balas Lizzy sambil melepaskan pelukannya. Keduanya bertatapan sejenak, mempersembahkan kilauan cahaya kedua bola mata indah mereka untuk yang terkasih. Perasaan mereka sudah tak terbendung lagi, membuncah ingin keluar.
Ciel mendekatkan wajahnya ke wajah Lizzy. Matanya seakan memberikan isyarat bagi Lizzy. Lizzy memejamkan matanya, menutupi kedua bola mata indah itu dengan kelopaknya untuk sejenak. Wajahnya pun mendekati wajah Ciel. Ciel mengelus pipi Lizzy, menariknya halus untuk lebih dekat. Hasratnya tampak sudah tak tertahankan.
5 cm...
3 cm...
1 cm...
Dan akhirnya kedua bibir ranum itu bertautan. Bukan hanya saling berbagi saliva, tetapi lebih dari itu. Berbagi kehangatan, berbagi kasih sayang dan berbagi... Cinta. Itu bukanlah ciuman yang meminta lebih, tetapi itu merupakan ciuman yang menandakan besarnya kasih sayang dan cinta abadi di antara mereka. Mereka, terutama Lizzy, menikmati ciuman mereka karena... Ini mungkin ciuman terakhir mereka.
Berbagai kenangan melintasi pikiran Lizzy, bercampur dan berputar di benaknya bagaikan sebuah film. 'Inikah... Perjalanan hidupku selama ini? Sungguh... Indah. Aku... Aku... Aku belum ingin berpisah dengan Ciel!' jerit Lizzy dalam hati. Air matanya mengalir mengiringi kesedihannya, menetes ke pipi Ciel. Tapi nampaknya Ciel tidak peduli, atau tidak menyadari.
Sebuah kenangan melintas dalam pandangan Lizzy. Lalu berganti dengan kenangan lain. Membuat Lizzy mengenang semua kisah hidupnya selama ini. Suka dan duka, manis dan pahit, cinta dan benci, semuanya akan ditinggalkannya. Ya, Lizzy akan meninggalkannya... Meninggalkan Ciel.
Lizzy tiba-tiba merasa ringan, seakan melayang. Gaunnya sudah berganti menjadi gaun putih bersih yang sederhana, polos dan hanya memiliki pita emas di bagian pinggang. Tapi Lizzy terlihat cantik dan bercahaya, seperti... Malaikat. Malaikat yang sungguh turun dari surga untuk membawa kedamaian. 'So that's it. I'm... Dying,' batin Lizzy sedih.
"Nah, Elizabeth, kenalkan dirimu pada tunanganmu ini," kata, atau lebih tepatnya perintah Marchioness Middleford, Francis Middleford. Tangannya bergandeng dengan suaminya, Alexis Leon Middleford. Elizabeth Middleford, putrinya yang masih berumur 3 tahun, langsung menghadap laki-laki mungil di hadapannya dengan penuh senyum. Laki-laki mungil yang juga berumur 3 tahun di hadapannya pun balas tersenyum dengan tak kalah manisnya.
"Hai, namaku Elizabeth Middleford. Kau boleh memanggilku Lizzy. Salam kenal," kata Lizzy dengan riang sambil mengangkat gaunnya sedikit dan menunduk kecil.
"Hai juga, aku Ciel Phantomhive. Panggil saja Ciel. Salam kenal juga," sahut Ciel, tak kalah riang dengan Lizzy. Senyumnya menghiasi wajahnya melihat gadis mungil yang cantik di hadapannya.
"Hei, Lizzy, kita main yuk," kata Ciel sambil menggamit tangan Lizzy dan menariknya pelan. Lizzy mengikutinya, tertawa riang. Orang tua mereka tersenyum gemas karena tingkah keduanya. Anak-anak memang sangat lucu dan polos, seakan mereka kertas putih yang tidak berdosa.
"Bagaimana kalau kita masuk dan berbincang di taman, Marquess dan Marchioness?" tawar ibu Ciel, Rachel Phantomhive. Tangannya juga menggamit tangan suaminya, Earl Phantomhive.
Francis tersenyum pada kakak iparnya itu. "Tidak usah formal begitu, Rachel. Panggil saja Francis dan Alexis," katanya.
Keempatnya tersenyum dan berjalan ke taman yang ada di halaman belakang. Bahkan halaman belakangnya pun sangat luas. Rasanya sudah seperti halaman belakang istana ratu saja. Di situ, Tanaka, butler keluarga Phantomhive saat itu, sudah menyiapkan meja dan kursi untuk bersantai. Tak lupa dengan cemilan untuk elevenses : Earl Grey Tea untuk teh dan Chocolate Triffle untuk cake.
"Sepertinya Ciel dan Lizzy sudah akrab ya, padahal ini kan pertemuan pertama mereka," komentar Rachel, melihat Ciel dan Lizzy sedang bermain dengan asyiknya. Francis menanggapi dengan mengangguk dan tersenyum. Memang, Francis tidak selalu kelihatan menakutkan seperti saat dia sudah bermain pedang.
"Jadi, bagaimana keadaan perusahaanmu, Earl?" tanya Alexis sambil meminum tehnya. Lumayanlah, untuk membuat suasana tidak kaku.
"Baik, kami akan mengadakan kerja sama dengan Jerman. Dan bagaimana keadaan Edward?" tanya Earl. Edward yang dimaksud adalah Edward Middleford, putra tertua keluarga Middleford sekaligus kakak Lizzy.
"Baik, dia sedang berlatih pedang untuk meneruskanku. Makanya dia tidak ikut," jawab Alexis. Dan keduanya pun asyik berbincang tentang bisnis dan keadaan kerajaan.
"Hey, Lizzy, ayo main kejar-kejaran! Aku yang mengejarmu, ya," kata Ciel sambil berlari dan tertawa riang. Lizzy mengejarnya dengan tertawa juga, tampak sangat menikmatinya. Akhirnya Lizzy menangkapnya, dan mereka terjatuh di tanah bersamaan, masih tertawa.
"Ah, ini kenanganku... Saat pertama bertemu Ciel. Aku merindukannya..." gumam Lizzy. Perlahan, kenangan itu mengabur, digantikan kenangannya yang lain.
"Selamat ulang tahun, Ciel!" seru Lizzy sambil memeluk Ciel. Mereka sedang berada di ruang keluarga Phantomhive yang telah disulap menjadi tempat pesta untuk Ciel. Lilin berbentuk angka tujuh menyala terang di kue ulang tahun yang besar dan kelihatan lezat itu. Ciel tersenyum senang setelah Lizzy melepas pelukannya.
"Terima kasih, Lizzy!" balasnya. Seluruh keluarga Phantomhive dan keluarga Middleford hadir di sana, merayakan ulang tahun ke-tujuh Ciel. Senyum terkembang di wajah mereka, sungguh manis.
"... Happy birthday, Ciel!" setelah menyanyikan lagu selamat ulang tahun, Ciel tersenyum dan menangkupkan kedua tangannya, memohon. Memang tradisinya adalah berdoa sebelum meniup lilin.
"Fuh..." Ciel meniup lilinnya sampai padam, dan tersenyum senang. Semuanya bertepuk tangan meriah menyambutnya. Saatnya pemotongan kue. Ciel mengiris sepotong kue cokelat itu dengan bantuan ibunya, dan meletakkannya di piring porselen kecil yang indah.
"Nah, siapa yang akan kau beri pertama, Ciel?" tanya Rachel. Ciel memandangnya dan tersenyum.
"Tentu saja orang yang spesial. Dan itu adalah... Lizzy!" seru Ciel yang mengejutkan semuanya.
"Ayo, Lizzy. Aaa..." kata Ciel sambil memotong kue itu dengan sendok dan menyuapkannya ke Lizzy. Lizzy awalnya tersentak, tapi kemudian membuka mulutnya. Dirasakannya kemanisan kue itu yang membuatnya melayang, dan dia disuapi oleh tunangannya tercinta. Apalagi itu adalah potongan pertama, yang paling spesial.
"Enak. Aku sukaaa sekali!" kata Lizzy riang. Ciel dan semuanya tersenyum, dan mereka memakan kue masing-masing.
"Suka kuenya atau suka aku?" goda Ciel. Wajah cantik Lizzy merona merah. Semua yang melihatnya tertawa, melepaskan segala kekakuan.
"Aku... Suka dua-duanya," jawabnya sambil memalingkan wajah malu. Tapi Ciel tampak tidak puas mendengarnya.
"Ayolah, Lizzy. Yang paling kau sukai itu kuenya, atau aku?" desak Ciel dengan ekspresi yang sangat imut, dan membuat Lizzy luluh.
"Aku... Suka Ciel. Aishiteru!" kata Lizzy, dan dalam sekejap, gadis itu mengecup singkat bibir Ciel. Ciel sungguh tidak menyangkanya, begitu juga yang lainnya. Semuanya terdiam beberapa saat.
"Aishiteru yo, Lizzy. Ayo!" sahut Ciel. Dia bangkit dan menarik Lizzy ke taman belakang, meninggalkan keluarganya dan keluarga Lizzy. Lizzy menurut, dan mereka berlari sambil tertawa riang. Tangan mereka saling bergandengan erat, seakan tak mau dilepaskan selamanya.
"Aku... Sangat merindukan ini semua. Aku bahkan melupakan... Kalau Ciel pernah bilang cinta padaku," gumam Lizzy lagi. Air mata mengalir di pipinya, membasahi gaun putih sucinya. Sekelebatan bayangan dari kenangannya diputar lagi. Bayangan kebakaran di rumah Ciel.
"Tidak, aku tidak mau melihatnya, kumohon. Tidaaak!" jerit Lizzy sambil memejamkan mata. Seakan mengerti permintaannya, kenangan itu berganti lagi. Akhirnya Lizzy memberanikan diri membuka matanya lagi, melihat kenangan lain dalam hidupnya.
Drap! Drap! Brak! Suara langkah kaki terburu-buru dan juga gebrakan pintu yang dibanting menghiasi Mansion Phantomhive pagi itu. Lizzy berlari cepat, gaunnya terayun di belakangnya. Keringat mengalir di pelipisnya, tapi gadis itu tidak peduli. Paula memberitahunya kalau Ciel telah kembali setelah hilang selama setahun. Dan Lizzy harus menemuinya.
"Ciel!" seru Lizzy keras. Dilihatnya seorang laki-laki kurus duduk di kursi. Senyum Lizzy terkembang, dan dia langsung berlari memeluk Ciel.
"Ciel, aku sangat merindukanmu!" seru Lizzy lagi setelah melepas pelukannya. Tapi Lizzy menyadari ada yang janggal. Diperhatikannya wajah Ciel dengan seksama. Kini tunangannya itu memakai penutup mata, dan... Dia tidak tersenyum. Ciel seakan bukan lagi Ciel si anak periang yang dulu Lizzy kenal. Tapi Lizzy tidak peduli asalkan Ciel selamat.
"Ayo, kita keluar, Ciel. Kita main lagi," ajak Lizzy sambil menggandeng tangan Ciel. Dan sekali lagi, aneh, Ciel tak melawan tapi juga tidak terasa seperti mengikutinya dengan senang. Seakan Ciel sudah kehilangan semua emosinya.
"Kau mau main apa?" tanya Lizzy bersemangat. Tapi sebelum Ciel berkata apapun, seorang butler berpakaian serba hitam menyambut mereka.
"Ini pasti nona Elizabeth, tunangan tuan muda, kan? Ayo kita masuk, sudah waktunya makan siang. Oh, dan perkenalkan, saya Sebastian Michaelis, butler baru keluarga Phantomhive," jelas Sebastian sambil membungkuk. Sekali lagi, tanpa banyak bicara, Ciel berjalan ke ruang makan. Lizzy mengikuti di belakangnya, tampak sedih.
'Tapi, Ciel sudah kembali. Aku harusnya senang. Lupakan itu, Lizzy, Ciel pasti baik-baik saja,' batin Lizzy mencoba menenangkan diri. Dengan riang digandengnya Ciel, seperti dulu menuju ruang makan.
"Oh, Ciel, kenapa kau berubah? Apa... Sesuatu terjadi denganmu saat itu? Untunglah kau sudah kembali... Aku merindukanmu," lirih Lizzy. Gadis itu menangis, menutupi wajah cantiknya dengan kedua tangannya. Air mata menetes dari celah di antara jarinya. Lizzy merintih tertahan, rasanya sangat menyakitkan.
Sesaat, sinar menyelimuti Lizzy, membawanya kembali ke kenyataan. Disadarinya kalau dia masih berciuman dengan Ciel. Apakah sebentar, atau lama? Lizzy tidak tahu dan tidak peduli. Yang dia inginkan hanyalah mencium tunangannya itu selamanya, agar mereka tidak dapat terpisahkan. Tapi apa daya, takdir berkata lain. Mungkin inilah detik-detik terakhir Lizzy di dunia.
Lizzy melepaskan ciumannya, air matanya mengalir lagi dari matanya. Setelah mati-matian mencoba, Lizzy akhirnya berhasil menghentikan tangisannya. Gadis pirang itu memandang Ciel dengan sendu. Tapi dicobanya untuk tersenyum. Dan keajaiban terjadi!
Butir-butir salju putih turun dari langit, menjatuhi mereka. Atapnya memang berlubang besar, sehingga salju dapat terlihat jelas di langit kelabu London. Ciel dan Lizzy memandang tidak percaya dan takjub ke arah langit. Rasanya takdir Tuhan memang tidak dapat ditebak, salju kesukaan Lizzy harus mengiringi kepergiannya.
Lizzy memandang Ciel lagi, dan begitu juga Ciel. Mereka berpandangan sejenak. Akhirnya Lizzy tersenyum manis, lebih manis dari biasanya. Ciel tertegun sejenak, sebelum membalas senyuman Lizzy dengan senyuman yang tak kalah manis. Rasanya Lizzy seperti melihat bayangan senyuman Ciel saat dia masih kecil, senyuman yang selalu dirindukannya.
"Kau ingat, Ciel? Waktu kau bertanya tentang apa yang akan aku lakukan pada saat salju pertama turun? Well, aku tahu sekarang. Aku akan memberikan hadiahku untukmu. Otanjoubi omedetto, Ciel..." kata Lizzy pelan, dan langsung menyapu bibir Ciel dengan bibirnya. Ciel membalasnya tanpa menolak, tangannya mengelus rambut Lizzy dan mendekapnya lembut.
'Ini hadiah terindah darimu untukku, Lizzy. Aishiteru...' batin Ciel. Dan seakan bisa membaca pikiran Ciel, Lizzy membalasnya.
'Ini karena aku juga mencintaimu, Ciel. Terima kasih untuk semuanya. Aku pergi dulu ya, sayonara. Oh, dan... Aishiteru yo...' batin Lizzy juga. Ciel tersentak, tapi tetap tidak melepaskan bibirnya dari bibir Lizzy, mendengar kata-kata Lizzy. Itu kata-kata perpisahan, bukan? Lalu mengapa Lizzy mengatakannya?
Dan kemudian Ciel menyadari, kalau tubuh kekasihnya itu mulai mengabur. Lizzy benar-benar akan meninggalkannya! Dengan bibir yang masih bertautan, dekapan tangan Ciel pada rambut Lizzy bagaikan mendekap udara. Berkas-berkas cahaya beterbangan, mengiringi kepergian sang putri Middleford untuk selamanya. Ciuman mereka terpaksa terhenti, mengalirkan air mata di pipi sang Earl Phantomhive.
"Lizzy, jangan pergi! Aku... Aku tidak akan sanggup kehilanganmu! Apa kau tidak percaya denganku, tidak percaya dengan cintaku? Aku mencintaimu, Lizzy!" teriak Ciel ke udara kosong. Sayang, takkan ada lagi dekapan hangat dan uluran tangan dari seorang Elizabeth Middleford yang selalu berhasil menenangkan Ciel dari kegundahannya.
"Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi, Lizzy? Percayalah, kalau aku mencintaimu... Dengan segenap hatiku. Aishiteru, Lizzy..." lirih Ciel. Dia terduduk di lantai yang dingin, berlatarkan dinginnya salju putih yang suci. Air mata tak henti-hentinya mengalir dari mata shappire-nya. Rasanya ini pertama kalinya Ciel merasa sesedih dan sesakit ini.
"Ciel, jangan menangis, aku di sini," lirih sebuah suara manis yang sangat ingin didengar Ciel. Itu suara Lizzy! Ciel mendongak dan melihat Lizzy ada di hadapannya, tapi penampilannya berbeda. Lizzy mengenakan sebuah long dress putih bercahaya yang berlengan pendek. Pita emas terlilit di pinggangnya, dan dibordir di sekeliling gaunnya. Tali gaunnya adalah kain sutra putih yang menutupi bahunya. Rambut pirangnya juga terurai lurus, terlihat bagaikan surai kuda poni yang sangat indah.
Lizzy tampak sangat cantik dan bercahaya. Dia mengulurkan tangannya dan tersenyum tulus pada Ciel yang masih terkejut karena kedatangannya yang tiba-tiba. Lizzy tertawa kecil sambil memainkan rambutnya. Dielusnya pipi Ciel lembut sambil duduk di hadapan Ciel. Diusapnya lembut jejak air mata yang masih mengalir di pipi tunangannya itu. Tatapan matanya teduh, menenangkan.
"Lizzy, kau kembali. Kumohon, jangan pernah pergi lagi dari sisiku. Aku membutuhkanmu, Lizzy," bisik Ciel setelah dapat menyadarinya. Matanya berbinar, tapi mata Lizzy justru berubah sendu. Seakan dia menyembunyikan sebuah kebenaran yang menyakitkan.
"Maaf, Ciel, tapi... Aku tidak bisa. Aku tidak akan selamanya berada di sisimu. Aku hanya akan menemanimu sejenak, agar kau tidak sedih lagi," jawab Lizzy sedih, yang disambut tatapan tidak percaya Ciel.
"Maaf, Ciel, tapi aku harus pergi sekarang. Janji ya, kamu tidak akan menangis karena kepergianku. Dan berjanjilah, kalau... Kalau kau akan selalu mencintaiku!" jerit Lizzy, tangisnya pun pecah. Tapi dia berusaha tegar dan melanjutkan.
"Aku janji, kita bisa bersama kembali suatu hari nanti. Tapi, aku ingin kau tahu, kalau aku akan selalu mengingatmu. Kaulah satu-satunya yang ada di hatiku, karena aku mencintaimu," jelas Lizzy sambil mendekap Ciel hangat, dan melepasnya setelah sekian lama.
Tidak, Ciel tidak akan mau melepaskan Lizzy! Lizzy tidak akan pergi, tidak boleh! Lizzy harus selalu bersama Ciel! Ciel mencoba melawan kehendak takdirnya. "Tidak! Kau tidak boleh pergi, Lizzy! Kumohon temani aku..." pinta Ciel dengan memelas. Tapi Lizzy tidak bisa kembali, sudah saatnya dia kembali ke pelukan Sang Pencipta.
"Maaf, Ciel. Terima kasih atas cintamu selama ini, aku tidak akan melupakanmu. Sayonara, dan... Aishiteru..." lirih Lizzy sambil mengecup bibir Ciel lagi. Cukup singkat memang, tapi sarat akan cinta dan kasih sayang. Lizzy bagaikan terbang ke surga dimana Tuhan, malaikat, bidadari dan makhluk suci lain seperti Lizzy sudah menanti. Dengan deraian air mata, Ciel melepaskan sentuhan tangan hangat Lizzy, berpulang ke tempatnya semula.
"Aku juga akan selalu mengingatmu, dan mencintaimu, Lizzy. Aishiteru yo..." sahut Ciel, suaranya tak kalah lirihnya dengan Lizzy. Kini, kekasih hatinya telah pergi, meninggalkannya. Meninggalkannya dalam kesedihan dan kesepian yang mendalam. Sekarang, Ciel harus menjalani hidupnya sendiri, tanpa dekapan hangat, candaan ringan, belaian lembut ataupun ciuman tanda cinta dari Lizzy. Entah apakah Ciel sanggup.
"Tuan muda, lebih baik kita kembali ke mansion," tawar Sebastian yang sudah dapat berdiri. Tampaknya lukanya tidak terlalu mempengaruhinya karena dia iblis. Tapi wajahnya terlihat khawatir dengan tuan mudanya yang dari tadi diam saja, menangis.
Hup! Sebastian mengangkat tubuh mungil Ciel dan menggendongnya. Ciel tidak menolak ataupun melawan, tampaknya seluruh emosinya sudah hilang. Tatapan matanya kosong, tapi kristal bening itu masih setia mengalir di ppipi putih dan halus Ciel. Keadaannya sungguh sangat miris. Hatinya masih terus menjeritkan namanya, nama tunangannya yang sangat dicintainya. Ya, Ciel sangat merindukan dan membutuhkanmu, Lizzy...
Epilogue : The Funeral, A Promise To Keep
Teng! Teng! Teng!
Bel gereja terdengar berdentang tiga kali. Puluhan bahkan ratusan orang berdatangan memenuhi gedung itu. Inilah saatnya panggung megah bagi seorang putri bangsawan, upacara terhebat di akhir kehidupan. Ya, itu adalah... Pemakaman.
Saat memasuki gereja, warna hitam mendominasi penglihatan. Dengan penuh haru dan isak tangis, sebuah nafas kehidupan terhenti sampai di sini. Tidak ada wajah tersenyum, rasanya bagaikan sebagian dunianya sudah dirampas bagi yang ditinggalkan. Diiringi kemegahan kandelar yang berkelap-kelip dan alunan musik yang menusuk kalbu, seorang gadis cantik terbaring di peti.
Ya, inilah pemakaman Elizabeth Middleford. Gereja sangat penuh, seakan seluruh penduduk London datang ke sini. Bahkan sang pemimpin Inggris, Ratu Victoria, juga turut datang dan berduka untuk gadis manis ini. Hanya satu orang yang dirasa belum hadir, orang yang paling berduka atas kematian ini. Dialah sang Earl keluarga Phantomhive, Ciel Phantomhive.
Tubuh Lizzy dibawa kembali oleh Sebastian dalam keadaan utuh. Ciel memerintahkannya begitu, dan Sebastian mematuhinya. Ciel memang tidak tahu bagaimana caranya Sebastian membawa kembali tubuh Lizzy yang telah menghilang, tapi Ciel tidak peduli. Yang dia pedulikan hanya Lizzy.
Sesaat sebelum upacara dimulai, pintu gereja terbuka dengan suara keras, menarik perhatian para hadirin yang tengah berduka. Semua pasang mata tertuju pada seorang laki-laki mungil yang berjalan masuk dengan pakaian hitam. Sorot matanya dingin dan kosong, seakan sudah tidak punya sisa emosi untuk menangis.
Bisik-bisik terdengar di seluruh aula. Gosip yang menyebar memang selalu dapat menambahkan rasa penasaran setiap orang akan kebenaran yang sesungguhnya.
"Hei, bukankah itu Ciel Phantomhive, tunangan nona Elizabeth?"
"Lihat dia, dia tidak menangis atau sedih sedikitpun! Padahal ini adalah pemakaman tunangannya!"
"Kudengar mereka ditunangkan sejak lahir, jadi mungkin saja dia tidak mencintai nona Elizabeth."
Ciel terus berjalan tanpa memedulikan bisik-bisik itu. Matanya terus memandang lurus ke arah peti mati di atas mimbar. Peti dimana Lizzy terbaring dengan mata terpejam rapat. Rasanya dalam tiap gerakannya, hati Ciel hancur berkeping-keping. Ingin rasanya dia pergi menyusul Lizzy ke pelukan Sang Pencipta, tapi rupanya Tuhan masih menginginkannya di dunia.
Ciel telah berdiri di hadapan peti kekasihnya. Ciel tiba-tiba melompat dan duduk di tepi petinya. Semua yang melihatnya tersentak, tapi tidak menghalanginya. Keluarga Middleford tampak tegar, walaupun terkadang sang Marchioness, Francis Middleford menyeka air matanya. Ciel sudah memohon dan meminta maaf pada mereka secara pribadi.
Ciel mengelus pipi tunangannya itu lembut, merasakan kehalusan kulitnya. Dia menarik nafas dalam-dalam, bersiap mengatakan kata-kata perpisahan untuk Lizzy. "Oyasumi, Lizzy. Maaf, mungkin aku belum bisa memenuhi janjiku untuk tidak menangis. Tapi aku janji, aku akan selalu mencintaimu. Aishiteru, Lizzy..." lirihnya sambil mengecup pelan bibir Lizzy. Diambilnya setangkai lili putih dari dalam jasnya, dan disematkan ke rambut pirang Lizzy. Senyum kembali menghiasi wajah Ciel.
Tanpa disadari semuanya, roh seorang gadis berambut pirang yang mengenakan gaun putih berpita emas tengah tersenyum manis melihat tingkah Ciel. Ya, Lizzy tampak seperti malaikat yang mengawasi Ciel dari jauh. Rambut pirangnya terurai, halus dan lurus. Angin menghembuskan helai-helainya, tangannya terulur dan mengelus pipi Ciel. Gadis itu hanya ingin berbisik pelan di telinga tunangannya itu. Memberi tahu perasaannya.
"Aishiteru yo, Ciel..."
.
~OWARI~THE END~SELESAI~
.
Shana : Huwaa, akhirnya selesai jugaaaa! *nari bawa pom-pom*
Lizzy : *nyolek Shana dari belakang* Eh, author!
Shana : *nengok ke belakang* Kyaa, ada hantu!
Lizzy : Enak aja, itu kan cuma di fic kamu yang gaje bin abal ini!
Ciel : *tiba-tiba muncul* Apa nih ribut-ribut? Aah, Lizzy! Kamu masih hidup! *jerit-jerit gaje sambil meluk Lizzy dan nangis bombay*
Lizzy : Ci-Ciel... *malu-malu kucing, wajah merona merah*
Shana : Uhm, guys...
Ciel dan Lizzy : *asyik mesra-mesraan dan, ehm... Ciuman penuh cinta*
Shana : Hello...?
Ciel dan Lizzy : *masih asyik mesra-mesraan dan, ehm... Ciuman penuh cinta*
Shana : WOY! Cepetan kita bilang sesuai script! 'Itu'nya nanti aja, di kamer *readers : WHAT!* Eh, maksudku nanti aja di... Di... Dimana aja boleh, asal jangan sekarang!
Ciel dan Lizzy : Iye, iye, author bawel!
All : BALESAN RE...
Sebastian *dateng sambil lari-lari* TUNGGUUUU!
Shana : Apa lagi? *kesel*
Sebastian : Tungguin gue dong, dasar ga setia kawin nih... *ngelap keringet dan ngos-ngosan*
All : SETIA KAWAN! *simpang empat*
Shana : Udah ah, langsung aja. Lama banget, sih. Yosh, ini dia balesan review-nya...
- Yamanaka Chika : Yoy, Chika-chan, pake akunku ya? Ya iyalah, kan aku yang suruh kamu review, ya... Thanks udah muji, ya. Okeh, update!
- Karin Miyuki : Ga papa kok, yang penting review. Makasih ya atas pujiannya *Ge-eR mode : on*. OK, ini update, Karin-chan~
- mawquta : Hai... Wah, makasih atas pujiannya. Okeh, ini chapter 4, kelanjutan sekaligus endingnya...
- faricaLucy : Hai, faricaLucy-san, salam kenal juga~ Iya, makanya Ciel minum susu H*lo biar tinggi *digampar Ciel*. Tapi Ciel emang unyu~ Iya, Shana emang maunya Ciel kayak gitu, jadi OOC deh... Ah, nggak kok, review-nya bagus, makasih ya. Yuppie, ini update~
Shana : Whoa, akhirnya yang review ada banyak, empat! Shana seneng banget, makasih ya... *berbinar*
Ciel dan Sebastian : Selamat ya... *tebar senyum sejuta watt*
Shana : *klepek-klepek karena senyumnya Ciel yang unyu*
Lizzy : Baru segitu aja seneng, author ga mutu! *masih dendam karena dibuat mati*
Shana : Lizzy jangan marah, dong~ Oh, iya, Shana ada pengumuman...
BUAT READERS YANG INGIN FIC INI DIBUAT SEKUELNYA, REVIEW ATAU PM YA, INSYA ALLAH AKAN SHANA BUAT!
Shana : Nah, Lizzy jangan marah, mungkin di sekuelnya Lizzy hidup lagi... *ngerayu*
Lizzy : Bener? Yey, makasih Shana-chan~ *happy bangedh*
Shana : Iya... Tapi ga janji ya.
Lizzy : APUA? *lebay*
Shana : Bercanda, Lizzy sayang... Oke deh, buruan ya, minna...
All : REVIEW THE LAST CHAPTER PLEASE!
