Warning: OC, AU
A/N: Gomen update lama huhuh :( nah, baca chapter ini jangan di skip-skip ya! nanti ga ngerti, soalnya banyak jawaban yang terjawab di chapter ini. Asal usul juga. hmm.. itu aja. makasi yang udah review dan baca chapter kemarin!
Jangan diskip-skip ya.. hahhaah.. XD
06:00 PM
-Your Time to be Alive Again-
Terima kasih untuk membaca—Arigatou Gozaimasu Minna ^_^
Kota Konoha memang aneh. Begitulah yang saya simpulkan. Warganya bukan manusia biasa, mereka akan hilang pada pukul 6 pagi dan kembali pada pukul 6 sore. Saya pikir mereka adalah hantu. Tetapi.. mereka lebih berharga dari pada hantu. –Author-
BAB 3
"Karena dia.. telah menghancurkan sesuatu yang bernama.. harapan." jawab Kakashi tenang. Tiba-tiba Kristi melempar sebuah pisau ke arah sebuah lukisan.
Pisau itu menancap di tengah-tengah lukisan itu, lukisan Gaara. Lalu terdapat Zooi, berdiri di samping lukisan itu. Zooi menyabut pisau itu dan melempar lukisan itu ke arah Wammy.
Wammy tersenyum dan menangkap lukisan Gaara itu, lalu melemparkan lukisan Gaara ke ujung ruangan dan mengangkat tangannya, menunjuk lukisan Gaara yang tergeletak di lantai, dan semua serigalanya langsung bergerak merobek-robek lukisan Gaara layaknya santapan.
"Sejak peristiwa 'itu' terjadi, nyawa kami dicabut setiap pukul 6 pagi lalu nyawa kami dimasukkan ke tubuh kami lagi pada jam 6 sore. Apa kau tahu rasanya? Rasanya seperti mati berkali-kali. Seperti berhadapan dengan malaikat maut setiap pagi dan sore," jawab Anko dengan nada sedih.
"Dan ritual nyawa itu akan berhenti saat si merah dan kuning bersatu, melakukan peperangan final dengan Orochimaru. Sejak peristiwa itu, kami berharap mereka akan segera kembali, menghilangkan kutukan ini. Tapi apa? Mereka tak kunjung kembali," susul Genma.
"Dulu kami masih normal, tinggal bersama warga desa yang lain. Lama-lama kami sudah capek berharap kedatangan merah dan kuning, kami menjadi seperti ini," Wammy melebarkan tangannya, memperlihatkan keadaan mereka.
Kankurou tetap diam. Ia tak mengerti apa-apa. Nyawa seperti permainan..
"Lanjutkan acara minum tehnya?" ujar Kakashi menepuk pundak Kankurou. Kakashi berjalan ke arah dapur untuk mengambilkan secangkir teh untuk tamu 'istimewa' itu. Kakashi menuangkan teh ke cangkir dengan lambat. Karena pikirannya berada di tempat lain.
"Pergilah Kakashi.. hari ini kan? Pergilah ke kuil itu. Biar kami yang urus tamu istimewa ini," kata Genma.
Darbi dan Deeandra menatap satu sama lain. Mereka baru saja menyadari bahwa mereka telah kehilangan jejak Kankurou. Sesudah rapat dengan Sarutobi kemarin, Pain memberi tugas pada Darbi, Dee, Noriko, Hidan, Kakuzu, dan Seiryuu untuk mengikuti Gaara dan sepupunya.
"Ke arah utara. Aku yakin dia ambil arah ke utara!" kata Darbi dengan suara panik. Deeandra dan Darbi terus berjalan menyusuri hutan yang gelap dan lebat. Mereka harus segera menemukan Kankurou bagaimanapun caranya.
"Aku tahu. Dia mungkin memang ke utara. Dan kau tahu apa maksudnya? Di hutan ini banyak sekali orang gunung yang berkeliaran. Lebih baik kita pergi ke Pain dan mengadukan apa yang terjadi!" balas Deeandra.
"Setelah kita menemukan tanda-tanda kemana si Kankurou pergi, kita baru pergi ke Pain," kata Darbi. Sementara Dee dan Darbi terus melangkah.. mencari tanda-tanda kemana Kankurou pergi.
Hutan itu sangat gelap—dan tua pastinya. Akar-akarnya sangat panjang, besar, dan kuat sekuat batangnya. Burung hantu dan gagak sering kali mengeluarkan suara yang menyeramkan. Membuat suasana tak enak di hutan itu ketika Dee dan Darbi menyusurinya.
Kabut terus memburamkan pengelihatan mereka. "Darbi, lihat!" kata Dee tiba-tiba. Memecah keheningan yang ada.
Dee menunjuk ke arah tanah. Terdapat sebuah pisau Kristi yang masih tertancap di sana. Darbi mengangkat pisau perak itu.
"Dee, bagaimana menurutmu? Sebuah pisau perak itu menandakan kehadiran orang gunung. Pisau perak ini salah satu benda khas dari mereka, iya kan?" kata Darbi dengan nada bicara yang datar.
"Tak salah lagi. Kankurou diculik oleh mereka. Mereka yang.. membangkang," balas Dee dingin. Dee segera menatap Darbi. Keduanya saling mengangguk satu sama lain.
"Ajak Sasori pergi dengan kita. Dia tak boleh berlama-lama bermain dengan 'mantan tahanan' macam Faika Araifa," ujar Darbi. Sementara kedua orang kalangan atas itu melangkahkan kaki menuju pondok pandai besi milik Faika.
Darbi dan Dee kembali ke arah Pondok Pandai Besi. Sekarang mereka sudah berada di balik semak-semak. Mereka berhenti karena ada sesuatu yang terjadi di sana. Sesuatu yang wajar bila Sasori bertemu Faika. Ice Situation –Situasi Es-.
Tangan Sasori berada di kantung jubah Akatsukinya. Faika berdiri di depannya, membuat terlihatnya perbedaan tinggi antara mereka. Sementara Juugo, hanya menatap keduanya dari lubang yang ia gali.
"Nenekmu ada di dalam. Kalau mau tahu keadaannya, silahkan masuk." jawab Faika. Sasori tetap tak berekspresi. Sebenarnya, kedua orang itu saling menyayangi satu sama lain, tapi sebuah kejadian 200 tahun lalu, membuat Faika ingin menunjukkan rasa bencinya pada Sasori.
Sasori tetap diam saja. Ia hanya memainkan matanya, menatap perempuan berambut merah yang sangat ia sukai. Seseorang yang sudah dianggap setengah gila karena keadaan lingkungan hidupnya.
"Apa mau-mu?" tanya Sasori. Lagi, tanpa ekspresi. Tidak senyum dan tidak marah.
"Mati."
Sasori menarik nafas panjang atas jawaban Faika. Ia telah mendengar jawaban itu beribu kali. Matanya terpejam. Lalu Sasori membelakangi Faika dan berjalan menuju semak-semak. Sasori pun menghilang dalam kegelapan malam bersama Darbi dan Dee. Di balik tirai tua jendela pondok seram itu, Nenek Chiyo berhenti merajut dan menatap rambut merah Sasori yang makin menghilang..
Faika juga terus menatap kepergian Sasori. Sasori selalu pergi mebelakanginya tanpa mengucapkan apapun..
'Kamu tak tahu Sasori, seberapa besar aku membencimu sekarang ini. Dan seberapa besar kemauanku untuk tersenyum di hadapanmu..' gumam Faika. Faika menusuk tangannya dengan alat pahat yang masih ia pegang. Darah merah keluar dari tangannya. Juugo tiba-tiba saja berdiri di belakangnya dan membantunya menusuk tangannya.
"Sudah kubilang Faika, hidup ini seperti permainan milik Dewa Kematian," bisik Juugo. Faika diam akan ucapan Juugo. Juugo benar, sesering apa ia menusuk tangannya atau melukai dirinya karena kebencian akan hidup, ia tak akan pernah mati... Konoha tak akan pernah mati..
Di depan hutan, Manime terus menunggu kemunculan Kankurou. Ia menatap bulan malam itu. Ia membersihkan coretan gambar di kereta kudanya dengan seember air. Manime lama-lama menjadi bosan menunggu. Perasaannya tak enak.
Ia sempat melihat 3 orang berjubah keluar dari hutan (Sasori, Dee, dan Darbi). Karena merasa tak enak dengan lamanya Kankurou, Manime mulai merasa cemas dan memutuskan untuk kembali ke pusat kota meminta pertolongan.
Manime tak berani jika harus memasuki hutan sendirian. Tak lama-lama, Manime menaikki kereta kudanya dan langsung menuju pusat kota. Seperti biasa, kota Konoha ramai sekali. Manime berjalan ke arah Kediaman Hokage. Tetapi ia terhenti, saat mendegar suara-suara di ujung jalan gelap yang sepi.
Ternyata perasaan tak enak Manime benar. Ia melihat 2 orang berjubah yang sepertinya sedang memaksa perempuan bermata violet untuk ikut dengan mereka. Saat menyadari siapa perempuan itu.. Niku..
'Niku!' Menime terlambat, Niku telah pergi bersama kedua orang berjubah itu. Manime kembali mengendarai kereta kudanya dan memberitahu orang-orang kalau Niku dalam bahaya. 'Aku harus menolong Niku..'
Tangan Gaara berada di kantung celananya, ia menatap seorang perempuan berambut ikal hitam dan berpupil biru tua keunguan dan memakai rompi hijau, Kurata Seiryuu.
"Nama: Kurata Seiryuu. Keberatan jika makan malam bersama di rumah kami? Akatsuki?" Gaara terdiam sejenak, momen ini bisa ia pakai untuk mengetahui macam-macam hal mengenai tempat ini. Lalu Gaara mengangguk.
Seiryuu membalas anggukkan Gaara dengan senyum. Di ujung jalan di dekat sungai kota, Noriko masih menatap Sasuke dalam.
"Maafkan aku kalau aku mencampuri urusan keluargamu. Tapi Sasuke-kun.. Itachi tidak seperti yang kau pikirkan," ujar Noriko memelas. Stellar dan Sasuke terus memancing. Lalu mata onyx Sasuke menatap Noriko dalam-dalam.
"Itachi membunuh semua klan Uchiha untuk masuk Akatsuki. Lalu seperti apa Itachi yang ada di pikiranku? Pembunuh. Aku sudah menyelidiki asal-usul kelompokmu, Akatsuki dan semua dari kalian adalah pembunuh." jawab Sasuke.
"Maaf Sasuke ikut bicara, aku mau menambahkan sesuatu yaitu: Syarat masuk Akatsuki adalah membunuh kan?" ujar Stellar tajam. Noriko langsung mematung.
"Katakan Saionji, siapa yang kau bunuh?" Sasuke menatap Noriko dengan aura pembunuh.
"Pembunuh tetaplah pembunuh. Sepintar apa Akatsuki menyembunyikan identitas, jangan pikir bisa membodohi kami. Otak kami, mungkin lebih berharga dari otak kalian," Stellar berkomentar dengan tajam.
"Kalian.. " Noriko baru saja ingin membalas ucapan Stellar dan Sasuke tapi Seiryuu tiba-tiba saja ada di sebelahnya dan menepuk pundaknya. Gaara juga berada di sebelah Seiryuu.
"Makan malam, Noriko? Ada tamu spesial malam ini," ujar Seiryuu dengan ramah. Sasuke dan Stellar kembali memancing, seperti menganggap tak ada siapa-siapa di sebelah mereka.
Noriko mengangguk dengan pandangan lirih. Seiryuu, Gaara, dan Noriko berjalan meninggalkan sungai itu. Saat Gaara berjalan perlahan, ia memperhatikan Sasuke dan Stellar..
Saat itulah pandangan yang tajam menunjukkan kebencian dari sepasang mata onyx dan sepasang mata ungu diterima oleh Gaara. Gaara hanya diam. Berbeda dengan Noriko yang terus gelisah.
'Ternyata.. Sasuke-kun.. belum mengerti ..' gumam Noriko dalam hati sementara langkahnya terus menjauh dan menjauh dari sungai yang jernih itu.
Sasuke kembali menatap air sungai yang mengalir dengan jernih itu. Stellar yang ada di sebelahnya menepuk pudaknya lalu berkata. "Kau tahu kan hari apa ini, Sasuke? Kau tidak pergi ke kuil?"
"Hn.. sebentar lagi,"
Sakura baru saja dari peternakan Namikaze bertemu dengan Shizu. Sekarang, ia ingin membeli beberapa bunga di toko bunga Yamanaka. Sakura berjalan melewati sungai. Di sana ia melihat Sasuke dan Stellar sedang memancing. Mata emerald Sakura tiba-tiba saja berkaca-kaca.
'Sasuke.. ' gumam Sakura. Sementara ia segera mempercepat langkahnya ke arah toko bunga Yamanaka. Sasuke sudah bersama orang lain.. Stellar Alerion..
Sakura terus berjalan menuju toko bunga Yamanaka dengan disinari cahaya bulan. Hari ini adalah hari yang berbeda untuk Sakura. Perempuan berambut pink ini selalu mengunjungi kuil setiap tahunnya. Dan hari ini, adalah waktu Sakura untuk mengunjungi kuil. Setiap berkunjung, Sakura selalu membawa bunga.
Sakura masih ingat tentang memorinya. Ketika Konoha masih sebuah desa 'normal' biasa. Saat itu, usianya, Sasuke, dan Naruto masih 17 tahun dan mereka adalah murid akademi biasa yang luar biasa akrab dengan gurunya.
"Mulai sekarang, kita membut janji! Setiap tahun tanggal 17 Januari betepatan dengan kelulusan aku, Sakura-chan, dan Sasuke kita dan Kakashi-sensei akan bertemu di kuil ini tanda ikatan kita selamanya!
"Hey teme! Kau juga harus mau ikut berjanji!"
"Naruto bodoh! Jangan sekali-kali kau panggil Sasuke teme!!"
"Dasar bodoh,"
"Kakashi-sensei jangan baca buku terus! Ikut janji!"
Sakura tersenyum kecil. Ia masih ingat dengan janji yang mereka buat bersama. Tapi Sakura tak yakin.. Kakashi dan Sasuke masih mengingatnya. Langkah kaki Sakura seketika berhenti.. ia sudah tiba di Toko Bunga Yamanaka.
"Tumbal desa tahun ini itu aku," ucap Dilia dengan nada bicara yang dingin. Mata baby blue Helen melebar. Dilia seketika meninggalkan restaurant itu yang ramai dan besar itu. Hinata mengikutinya dari belakang.
"Hey Dilia!" terdengar suara Helen yang memanggil-manggil nama Dilia. Neji baru saja ingin beranjak bangun dari tempat duduknya, tapi Kiba menariknya untuk tetap duduk.
"Biar Hinata saja.." kata Kiba pelan. Semua mengangguk dan menatap Neji yang terus melihat kepergian Dilia. Rasa kebencian memenuhi dirinya. Kebencian pada pamannya, Hiashi Hyuuga.
Neji memakai mantel coklatnya dan ingin berjalan keluar dari restaurant. Ia tak mau semua ini terjadi, ia tak mau Dilia menjadi tumbal. Neji ingin pergi ke kediaman Hyuuga.
"Neji, kau mau kemana?" tanya Kiba dan Helen berbarengan. Sedangkan Shino hanya diam menatap Neji. Neji tak menjawab pertanyaan Kiba dan Helen ia terus berjalan meninggalkan meja mereka. Walau begitu, Kiba dan Helen mengetahui tujuan Neji. Hiashi..
Akamaru yang cerdas menghadang Neji dan menggonggong keras, ingin menghalangi kepergian Neji. Karena mereka tahu, kalau Neji sampai menentang atasan keluarga Hyuuga, semua akan menjadi rumit. Semua orang di restaurant memandang Neji karena kebisingan gonggongan Akamaru.
"Dilia tak akan suka jika kau melakukan ini. Menentang Hiashi Hyuuga!" Helen setengah berteriak pada Neji yang sudah berada di depan pintu restaurant.
Neji hanya diam, menoleh sebentar. Saat bertemu pandang dengan Helen, mata Neji sedingin es. Lalu Neji keluar dari restaurant terbesar di Konoha itu.
Selain masalah Neji, di sisi lain restaurant, juga terdapat sebuah masalah kecil. Masalah ini sangat rahasia. Dua orang berjubah hitam duduk di meja bar, meminum minuman yang disiapkan dua pelayan resataurant, Aika dan Akari.
"Kenapa Akatsuki datang ke sini? Tadi sepertinya juga ada yang berjubah dan mengikuti Gaara keluar," kata Aika sambil membersihkan meja. Dua orang di depannya mengangkat wajah mereka sehingga Aika dan Akari bisa melihat wajah mereka dengan jelas. Hidan dan Kakuzu.
"Kami mendapat tugas dari Pain. Kami harus mengikuti manusia yang bersama Gaara, si Temari itu," jawab Hidan dan meneguk minumannya.
"Temari sudah keluar dari sini tadi. Kenapa kalian tak ikuti dia?" tanya Akari yang sekarang menyiapkan gelas ke-2. Mereka berbicara dengan suara kecil karena takut terdengar orang lain.
Di sebelah mereka terdapat Karin dan Suigetsu yang sedang melayani pelanggan juga. lalu Chouji yang dengan konyolnya mencoba menghentikan Lee yang terus memnium sake.
"Yang kami butuhkan dari Temari sudah selesai," bisik Kakuzu. Aika dan Akari bingung melihat mantan rekan mereka di Akatsuki. Lalu selintas pertanyaan melewati otak mereka.
"Penjara Akatsuki akan terisi lagi," lanjut Hidan. Akari dan Aika hanya diam tak mengerti maksud dari kalimat itu. Kalimat ini menunjukkan bahwa akan ada yang ditangkap ke penjara oleh Akatsuki. Akatsuki adalah pemegang tertinggi hukum di Konoha.
"Kakuzu, Hidan, kenapa cincin ini tak bisa dilepas? Hikari yang juga mantan Akatsuki bisa melepas cincin ini, tapi kenapa kami tidak bisa? Seperti ada ikatan," tanya Aika. Aika mengalihkan pembicaraan dari penjara. Akari hanya diam menunggu jawaban Hidan dan Kakuzu.
"Suatu saat kalian akan tahu. Kami pergi dulu," tanpa basa-basi, Hidan dan Kakuzu meninggalkan Aika dan Akari yang masih terbingung-bingung sendirian. Hidan dan Kakuzu bukan pergi meninggalkan restaurant, dengan jubah yang menutup wajah mereka, mereka menuju ke sebuah meja. Meja Kiba, Helen, dan Shino.
Hidan dan Kakuzu tiba-tiba saja berdiri di belakang Kiba, Helen, dan Shino. Mereka membiarkan mata mereka terlihat oleh ke-3 manusia itu.
"Ikut kami. Kalian terdakwa bersalah. Penjara Akatsuki siap menunggu," bisik Hidan. Kiba, Helen, dan Shino tertegun.
Neji menghirup udara malam itu. Ia terus melangkah menuju kediaman Hyuuga. Sesekali ia menatap bulan. Malam ini bulan purnama. Ia membelokkan langkahnya ke arah sebuah tikungan gelap.
Tikungan ini adalah jalan pintas menuju kediaman Hyuuga. Pikiran Neji tak jauh dari Dilia. 'Kenapa Hiashi sangat membenci Dilia?' hanya pertanyaan itu yang perlu jawaban. Dari sekian banyak perempuan yang pernah berpacaran dengan Neji, baru kali ini Hiashi ikut campur.
Bahkan saat Neji bepacaran dengan perempuan cantik perpustakaan, Rin Kajuji, Hiashi tak ikut campur. Neji tenggelam dalam kenangannya sampai seseorang menepuk pundaknya.
"Kami mengikutimu dari tadi, tapi kau tidak sadar ya Nej?" Neji menoleh dan dilihatnya seorang perempuan yang pernah berarti baginya.. Rin Kajuji serta sahabatnya, Tenten.
"Aku telah mengetahui masalahmu dengan Dilia. Kalau kamu mau, cerita padaku Nej.." ujar Tenten. Tersenyum lebar. Tenten adalah sahabat Neji sejak kecil, sebenarnya Tenten telah menyukai Neji sejak lama. Tapi perasaan Tenten tak pernah terbalas..
Rin Kajuji juga tersenyum. Ini adalah kali pertama ia menatap langsung Neji sejak mereka putus 2 bulan lalu. Walau tak mengakui, Rin Kajuji masih memiliki perasaan pada Neji.
"Sekarang ada Gaara-san, ia tak akan membiarkan semua penumbalan terjadi. Semangatlah. Jangan menyerah untuk membela Shiraishi-san," ujar Rin Kajuji, tangannya menggenggam tangan dingin Neji.
Neji memandang tangan Rin yang menggenggamnya, gelang kupu-kupu darinya masih Rin pakai.
Tenten tersenyum pada Neji dan mengangguk tanda setuju atas ucapan Rin.
"Arigatou," ucap Neji dengan suara rendah. Ia melepas genggaman Rin dan segera berjalan menuju kediaman Hyuuga. Rin dan Tenten tersenyum dan menatap Neji yang makin menjauh, walaupun Rin merasa sakit harus menyemangati Neji membela Dilia padahal dirinya sebenarnya sangat menyukai Neji.
Rin juga menoleh pada Tenten, ia tahu. Tenten sangat menyukai Neji.. dan Neji sangat berarti bagi Tenten..
Dila terus berjalan menuju pinggir laut. Hanya tempat itu yang rasanya bisa membuatnya tenang. Hinata terus mengikuti Dilia dari belakang sambil terus memanggil-manggil 'Dilia-chan..'
Akhirnya, Dilia tiba di pantai. Ia duduk di sebuah batu karang besar di pinggir pantai. Suara ombak di malam hari terus terdengar di telinga Dilia.
"Dilia-chan.. mungkin aku salah dengar? Be-belum tentu Dilia-chan yang menjadi tu-tumbalnya kan?" kata Hinata lirih. Hinata berbohong saat ini. Sebenarnya, ia tahu benar ia tak salah dengar. Hiashi benar-benar menunjuk Dilia sebagai tumbal desa.
"…."
"Dilia-chan? Di-dilia-chan jangan sedih.." kata Hinata lagi sambil menatap Dilia dengan sedih. Seketika Dilia menoleh ke arah Hinata. Memberikan senyum terbaik yang ia punya.
"Tidak apa-apa kok, Hinata. Mana ada sih orang yang tahan untuk hidup sebagai kita sekarang? Aku juga tidak tahan di Konoha. Rasanya ingin sekali pergi dari sini.. walau jadi tumbal Orochimaru sekali pun.. juga tidak apa-apa kok," balas Dilia dengan senyum lebar.
Senyum itu tidak membawa kesan hangat untuk Hinata. Senyum itu hanya membuatnya menangis semakin lama.
"Aku tahu, orang yang jadi tumbal Orochimaru tidak mati tapi malah menjadi pasukannya untuk perang final nanti. Perang final antara Ichibi dan Kyuubi dengan Orochimaru. Kalau aku jadi pasukannya nanti, walau dibenci sekali pun.. tidak apa-apa kok.. yang penting bisa pergi dari sini," lanjut Dilia lagi.
Dilia jelas berbohong saat ini. Ia memang ingin pergi dari Konoha tapi bukan dengan cara menjadi tumbal Orochimaru. Hinata yang menangis tak tahu harus bagimana lagi. Kata-kata Dilia itu sangat menusuk hati Hinata.
Hinata memeluk Dilia, lalu berbisik. "Ko-konoha sudah berbeda.. Gaara-kun sudah datang.. semuanya mungkin saja berubah… Dilia-chan.." menit-menit kemudian habis dengan diam.
Seorang perempuan bernama Chika tiba-tiba datang dan menghampiri Dilia dan Hinata. Chika berjalan dengan perlahan. Tatapannya tanpa ekspresi. Ada yang salah dengan Chika. Ia terus berjalan tanpa mengucapkan apa-apa lalu duduk di sebelah Hinata dan Dilia.
"Hinata-san, ne? Boleh aku tanya, kenapa klan Hyuuga—yang memiliki hak istimewa untuk memilih tumbal malah memilih Shiraishi Dilia-san?" tanya Chika sambil melempar batu ke lautan yang biru.
"…" Hinata maupun Dilia tak ada yang menjawab pertanyaan Chika.
"Kenapa klan Hyuuga tak memilih aku sebagai tumbal? Kenapa klan Hyuuga selalu memilih orang lain? Kenapa mereka tak pernah berniat menunjukku? Kenapa mereka selalu menutup jalanku untuk bertemu sensei..?" kata Chika dengan lirih.
Chika menyebut kata sensei. Sebuah panggilan untuk Orochimaru. Dan lagi-lagi, Hinata dan Dilia tak menjawab kata-kata Chika. Hanya itu yang ingin dikatakan Chika. Sementara dari jarak beberapa meter jauhnya dari karang, seseorang telah menunggu Chika di sana.
"Apa yang dilakukannya kali ini? Sudah benar-benar tertekan rupanya ya? Hiragaishi Chika.. aku telah datang," ujar seseorang itu. Seorang laki-laki dengan kaca-mata dan rambut abu-abu dikuncir satu.. Kabuto Yakushi..
Setelah bertemu dengan Neji, Rin Kajuji dan Tenten kembali ke perpustakaan. Mereka bisa melihat Hikari yang sedang membaca buku dengan tenang di perpustakaan super besar yang mewah namun sepi itu. Rin segera duduk di sebelah Hikari.
"Hey.. aku jadi kepikiran dengan dua orang berjubah yang tadi meminjam buku dari sesi terlarang." kata Hikari kepada Rin dan Tenten.
Hikari bahkan masih ingat mata coklat indah milik salah satu dari peminjam buku tadi. Ia menjadi sedikit penasaran dengan dua orang berjubah itu.
"Hari ini Niku mana? Kok tumben nggak main ke sini sambil bawa kue?" tanya Tenten yang baru saja mengambil buku untuk dibaca.
"Oh iya.. Niku dari tadi nggak kelihatan," balas Rin dengan heran.
"Duh, aku jadi khawatir sama Niku. Nggak biasanya kan dia nggak datang ke perpustakaan?" tambah Tenten dengan wajah khawatir.
Tiba-tiba percakapan mereka terhenti ketika dua orang berjubah memasuki ruang perpustakaan. Dua orang itu adalah dua orang yang tadi meminjam buku di sesi terlarang.
"Maaf kami kembali lagi, tadi ada barang yang tertinggal." ujar salah satu dari mereka. Suaranya terdengar seperti seorang laki-laki. Rin, Tenten, dan Hikari tak bisa berkata-kata. Mereka hanya mengangguk lalu mempersilahkan kedua orang berjubah hitam itu mengambil barangnya yang tertinggal.
Beberapa menit kemudian, kedua orang itu kembali. Mereka telah mengambil barang mereka yang tertinggal dan baru saja ingin segera pergi. Hikari tak bisa menahan rasa curiganya pada kedua orang itu. Ia beranjak dari posisi duduknya lalu bertanya kepada dua orang berjubah itu yang hendak pergi.
"Maaf, sebenarnya kalian ini siapa?" tanya Hikari dengan sopan. Kedua orang berjubah itu menoleh ke arah Hikari.
"Kau pasti Hikari Hoshizora? Dulunya kau adalah anggota Akatsuki.. iya kan, Hikari Hoshizora?" terdengar balasan. Suaranya suara wanita dewasa. Hikari tak menjawab, ia hanya menatap kedua orang jubah hitam itu dengan tajam.
"Kami tanya, siapa kalian?" tambah Rin.
Salah satu dari mereka—yang bersuara seperti wanita dengan perlahan membuka jubah yang menutupi kepalanya. Rin, Tenten, dan Hikari akhirnya bisa melihat dengan jelas wajah pemilik mata berwarna coklat itu. Rambutnya berwarna kuning dikuncir dua, matanya tajam berwarna coklat. Wajahnya cantik seperti berusia 25 tahun.
"Bagaimana? Kalian mengenaliku?" ujar wanita berambut kuning itu.
"Ka… kau…" gumam mereka lirih. Mata Rin dan Hikari melebar. Belum selesai suasana es itu berlangsung, seekor burung merpati putih bertengger di jendela dengan sebuah kertas tua di paruhnya. Tenten yang berada di sebelah jendela mengambil surat itu dan Tenten membacanya dengan suara keras:
From: Manime
Niku diculik dan Kankurou-san menghilang di hutan sepertinya terjadi sesuatu. Beri tahu yang lain secepatnya. Arigatou.
Manime
"Ikut kami!" ujar dua orang misterius itu tergesa-gesa.
Kekhawatiran akan Niku benar. Niku tidak baik-baik saja. Niku berada di sebuah sel tahanan gelap dan kotor. Ia hanya terduduk di pojok ruangan.
"Kenapa 'mereka' melakukan ini? Apa yang aku perbuat sampai aku dibawa ke penjara?' Niku hanya bertanya-tanya dalam hati. Ia takut. Sangat takut berada di sel gelap sendirian. Untuk pertama kalinya.. Niku ingin malam cepat berakhir..
Niku terus melamun. Gaara yang ada di pikirannya. Tiba-tiba lamunan Niku terhenti saat seperti ada suara membuka sel. Ada orang.
Ternyata pikiran Niku benar. terdapat 3 orang lagi yang dimasukkan ke dalam sel. Sel-nya bersebrangan dengan sel milik Niku. Niku memicingkan matanya untuk melihat lebih jelas. Ia sepertinya kenal dengan potongan-potongan ke-3 orang yang baru dipenjara itu.
"Me-mereka.. Helen! Kiba! Shino!" Niku berdiri dari posisi duduknya dan segera menuju ke tirai sel. Ia menghapus matanya yang mulai beair karena takut tadi.
"Niku! Kenapa kau di sini?" ujar Helen yang tiba-tiba terjatuh karena kaget. Keseimbangan Helen memang buruk. Kiba dan Shino juga kaget bukan main.
"Nanti kujelaskan. Kalian kenapa di sini?" saat mendengar jawaban Niku, Helen, Kiba, dan Shino hanya diam. Niku juga tak berkomentar apa-apa. Suasananya sangat sunyi.
Sunyi. Sampai mereka mendegar gumaman dari sel nomor 19. Gumaman itu bersuara berat dan serak.
"Tuan Orochimaru.."
Niku, Helen, Kiba, dan Shino terpaku. Suara siapa itu?
Shikamaru, Temari, dan Ayashi sekarang sudah berada di pantai. Temari berjalan paling depan, ia ingin menunjukkan perahu yang telah dirusak Helen, Kiba, dan Shino.
"Apa kalian tidak tahu, aku, Gaara, dan Kankurou tidak tahan berada di desa macam ini. Hidup bersama kalian semua, hantu! Lalu dengan tingkah aneh kalian pada Gaara. Gaya hidup kalian yang kuno! Kami tak tahan!" ucap Temari tanpa jeda. Mereka berdiri di atas pasir yang lembut. Angin sepoi-sepoi mereka rasakan malam itu.
"Maaf. dari 3 teorimu, terdapat 1 kesalahan, 2 kebenaran, dan 1 penjelasan untukmu," ujar Shikamaru dengan tangannya berada di kantung celananya. Wajahnya yang malas berubah menjadi serius. Ayashi yang berada di samping Shikamaru mengangguk.
"Kesalahan pertama: kami bukan hantu dan kami tak terima kau sebut kami dengan kata hantu. Kebenaran pertama: kami memang bertingkah aneh pada Gaara, karena Gaara adalah yang terpenting bagi Konoha.." Shikamaru menarik nafas panjang.
"...kebenaran ke-2: Konoha memang kuno, karena waktu terhenti sejak peristiwa besar terjadi 200 tahun lalu," jelas Shikamaru.
"2-200 tahun lalu?" Temari tak percaya. Dan tak mengerti.
"Kami memang terlihat seperti remaja dan warga biasa. Mungkin terlihat semur denganmu, tapi.. umur kami sudah lebih dari 200 tahun," susul Ayashi sambil tersenyum ramah.
"Dan 1 penjelasan: Kiba, Helen, dan Shino adalah manusia sehingga mereka ada saat pagi hari. Mereka tiba di sini 5 tahun lalu dan sama sepertimu, melakukan berbagai cara untuk pulang, tapi hasilnya nihil. Dan akhirnya mereka tinggal di sini sampai sekarang," kata Ayashi lagi.
"Ma-maksud kalian? Kalian itu apa?" Temari menjaga jarak dari dua orang di depannya. Masih kaget dan tak percaya. Luar biasa.. ini seperti dongeng..
"Agar lebih tepat, kau bisa sebut kami manusia setengah arwah.." jawab Ayashi.
Manusia setengah arwah..
"Saat pagi hari nyawa kami akan dicabut dan kami akan menjadi arwah. Tetapi, pada pukul 6 sore, nyawa kami akan dikembalikan dan kami akan menjadi manusia. Kami manusia setengah arwah. Tak perlu takut pada kami." ujar Shikamaru menatap Temari dengan matanya yang sayu.
"Mengertilah wahai Putra Adam dan Putri Hawa.." ujar Ayashi. Mata Ayashi menyiratkan kesedihan dan permohonan yang terdalam.
Sunyi.
Sunyi.
Angin terus berhembus di tengah pantai sepi itu. Pantai yang diterangi oleh cahaya-cahaya kapal di lautan. 'Mengertilah walau sukar dimengerti Temari,' kalimat itu terus terulang. Temari memeluk dirinya sendiri. Tak pernah ia bayangkan, berhadapan dengan manusia setengah arwah.
"Pembicaraan yang seru," tiba-tiba saja suara yang sangat dikenal memecah keheningan daratan pasir tersebut. Suara 2 pelukis gila, Khai dan Sai.
"Apa kamu merasa takut pada kami? Manusia setengah arwah?" penekanan pada kata manusia setengah arwah yang diucapkan Khai membuat Temari bergidik.
"Jangan takut seperti itu," ujar Sai tanpa ekspresi. Ayashi dan Shikamaru hanya diam, tak mau berbicara dengan 2 orang terkenal dengan 'kegilaannya'.
"Hm, aku punya lukisan yang bisa membuatmu tak takut lagi. Mereka pahlawan!" ujar Khai. Ia menutup mulutnya menahan tawa dan membuka tas selempangnya. Sai tersenyum, dan berkata,
"Pahlawan kesiangan," ujar Sai. Tak perlu basa-basi, Khai langsung tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Sai sambil mengeluarkan 2 lukisan dari tas selempangnya. Dua pemuda berambut merah dan kuning berpakaian Hokage. Si merah dan si kuning..
"Ga-gaara? Dan.. hei, dia Naruto? Naruto pianis terkenal itu?" ujar Temari keheranan. Ia kenal pemuda berambut kuning itu, Naruto, pianis terkenal di Karakura, kota asalnya.
Kini saatnya Sai, Khai, Shikamaru, dan Ayashi yang terdiam tak mengerti. Pianis? Naruto adalah hokage, bukan pianis.
"Maaf tapi Namikaze Naruto itu hokage kami, kau tahu yeah, Naruto itu si kuning. Dia adalah Hokage yang terhebat. Merelakan nyawanya untuk Konoha agar Konoha tetap bertahan," ujar Shikamaru santai kembali.
"Tapi aku yakin, dia itu pianis terkenal. Kalau HP-ku sudah hidup, akan kuperlihatkan video dia bermain piano! Jujur, permainan pianonya keren. Tak menungkin dia pemimpin kalian," bantah Temari sedikit excited.
Orang-orang Konoha di depan Temari itu kembali terdiam. HP? Video? Pianis? Mereka tak mengerti.
Khai tiba-tiba tertawa dan Sai tiba-tiba tersenyum.
"Naruto terlahir kembali dan kau mengenalnya," ucap Sai. Khai mengangguk dan berkata.
"Peperangan final akan terjadi saat ia kembali dan bersatu dengan si merah. Kira-kira si ekor satu dan si ekor sembilan melawan ular menang mana ya?"
Sebuah kereta kuda yang tua namun mewah dan anggun melaju dengan kecepatan normal. Pemandangan malam di Konoha yang ramai terlihat dari jendela kereta kuda itu. Di dalamnya, seorang lelaki tua duduk dengan nyaman sambil terus memandang jendela. Dua kuda putih itu mengarahkan kereta ke arah kediaman Namikaze.
"Hokage-sama? Ada yang bisa kubantu?" tanya Shizu yang membukakan pintu untuk Hokage.
"Kalau bisa, dengan hormat, aku ingin bicara denganmu, Minato, dan Kushina. Apa bisa?" jawab Sarutobi dengan senyum yang ramah.
Sarutobi duduk di sofa milik kediaman Namikaze. Di sebelahnya, Asuma dan Kurenai mendampinginya sebagai anak dan menantu. Minato, Kushina, dan Shizuka duduk di seberang sofa Sarutobi.
"Sesuai janjiku beberapa tahun yang lalu, jika salah satu dari si merah dan si kuning datang, aku akan mengembalikan jabatan ini. Berhubung Naruto belum juga datang, aku memohon kepada Shizu untuk menggantikannya. Bagaimana?" kata Sarutobi dengan serius tapir amah.
"Wah hebat. Bagaimana Shizu? Mau kan menggantikan Naruto?" ujar Minato dengan senyum. Kushina juga tersenyum ramah.
"Ayolah.." tambah Asuma yang tiba-tiba saja ikut dalam pembicaraan. Shizuka tak bisa mengelak lagi, ia mengangkat wajahnya lalu tersenyum dengan terpaksa. Ia mengangguk—menyetujui ide Sarutobi itu.
'Maaf Naruto.. aku selalu merebut posisimu..' gumam Shizu dalam hati.
Gaara hanya diam terpaku memandangi kediaman Akatsuki. Kediaman ini bukan rumah biasa. Ini seperti kerajaan.. golongan atas yang sebenarnya.. Tak lama-lama, gerbang kediaman yang seperti istana tua zaman kuno itu terbuka.
Benar-benar seperti kerajaan, perabot di sana benar-benar mewah dan kuno. Pasti mahal kalau dijual di dunia Gaara. Gaara terus mengikuti Seiryuu dan Noriko dari belakang. Kini mereka berhenti di depan sebuah pintu tua di sisi kanan ruang tengah megah tersebut. Tak lama, pintu itu terbuka.
Lagi, Gaara terkagum-kagum. Sebuah meja panjang besar dengan 14 kursi mengelilinginya. Beberapa kursi di sana masih kosong dan kursi yang lain terisi oleh anggota Akatsuki yang berjubah sama.
"Selamat datang Gaara-kun.." ucap Seiryuu tiba-tiba. Gaara menoleh melihat senyum Noriko. Wajah Gaara sama sekali tak berekspresi. Tangan Gaara masih berada di kantung celananya.
Ia terus melihat ruangan megah, besar, dan mewah tua kuno itu. Gaara sempat merasa minder dengan pakaiannya yang hanya celana jeans, kaus oblong putih kotor, dan jaket hitam yang tak dipakai, dan sepatu kets putih yang kotor dengan tanah.
Gaara dengan diam duduk di barisan kursi paling kanan, bersebrangan dengan pria pemimpin Akatsuki, Pain. Seiryuu mengambil tempat duduk di sebelah kanan Pain. Sementara Konan mengambil tempat duduk di sebelah kiri Pain.
Makan malam telah tersedia.. makanan yang sungguh mewah telah siap untuk disantap. Empat belas kursi di meja itu belum terisi semua. Sekitar tiga kursi yang masih kosong. Sudah pasti, kursi itu kursi milik Darbi, Dee, dan Sasori.
Makan malam ini menurut Gaara, adalah makan malam terburuk dalam hidupnya. Pertama, makan malam dengan orang-orang tak dikenal. Kedua, orang-orang tak dikenal itu memandangnya seakan ingin memakannya. Hanya 2 orang yang tak memberikan tatapan ganas kepada Gaara. Yaitu Noriko dan Seiryuu.
Makan malam itu seketika terhenti ketika pintu ruang makan yang mewah itu terbuka dengan lebar. Tiga orang masuk dengan tergesa-gesa.
"Kabar buruk! Aku dan Dee gagal mengikuti jejak Kankurou.. hasilnya, ia jatuh ke tangan orang-orang gunung yang berkhianat itu," kata Darbi dengan panik sekaligus terengah-engah. Semua anggota Akatsuki yang sedang menyantap makan malam segera beranjak dari tempat duduknya. Gaara yang tak mengerti apa-apa juga ikut beranjak ketika mendengar nama Kankurou.
BRAAAK! Tobi memukul meja dengan kasar. Suatu hal yang sama sekali bukan Tobi. Pain, Itachi, dan Konan menatap ketiga orang yang masuk itu dengan tajam. Seiryuu dan Noriko masih terlihat tenang namun bingung. Zetsu, Hidan, dan Kakuzu terdiam.
"Bodoh kau!" geram Deidara kasar kepada Darbi. Membuat Darbi dan Deeandra terkejut. Baru kali ini Deidara membentak Darbi. Kisame yang berdiri di sebelah Deidara segera menyikutnya.
"Tak ada waktu lagi! Sekarang ini, kita harus rebut Kankurou dari tangan mereka. Semuanya ikut ke markas orang-orang sial itu! Ayo cepat!" Tobi memberi komando dengan nada suara yang amat serius bercampur kesal. Semua anggota Akatsuki segera menuruti perintah Tobi. Walau Noriko dan Seiryuu terlihat bingung, tapi mereka tetap mematuhinya.
Gaara ditarik oleh Seiryuu untuk ikut dengannya. Ruangan itu seketika kosong. Hanya Darbi dan Dee saja yang masih berdiri terpaku di sana. Keduanya ada di dalam pikiran masing-masing.
'Sejak kapan Tobi bisa sebijak itu? Seserius itu dan tidak berakting konyol? Tobi yang tadi.. bukanlah Tobi.. ada apa ini sebenarnya?' kata Dee dalam hati. Perilaku Tobi tadi jelas aneh. Bukan Tobi. Ia tiba-tiba saja berlaku layaknya pemimpin dan tidak bodoh seperti biasanya.
'Deidara.. dia seperti keluar dari karakter..' gumam Darbi dalam hati. Lalu Darbi dan Dee mengikuti jejak teman-temannya.. menuju markas orang gunung..
Akatsuki segera mendobrak pintu kediaman tua orang gunung. Saat itu, mata kebencian bertemu mata kebencian. Satu sama lain saling menatap. Kebencian yang telah tertanam satu sama lain.
"Bagi tamu yang masuk tak diundang ke kediaman kami.." kalimat Genma belum selesai. Genma memandang rekan-rekannya satu-satu yang minus Kakashi.
"Gagak mematuk dan merobek wajahmu," ucap Zooi. Kini beratus-ratus gagak bertengger di ruangan berdinding batu itu.
"Serigala menggigit dan memakan kakimu," lanjut Wammy dengan senyumannya. Beberapa serigala Wammy segera bangkit dan menggeram ganas ke Akatsuki.
"Ular melilit dan meracuni tubuhmu, lalu.." susul Anko dan ular-ular keluar dari persembunyiannya.
"Pisau menancap di jantungmu!" Kristi dengan berteriak menghempaskan pisau-pisaunya dari ujung ruangan menuju Akatsuki walaupun meleset. Tiba-tiba seorang perempuan berabut merah berdiri di depan pintu masuk yang terbuka dari tadi.
"Dan Dewa Kematian akan mulai mempermainkanmu.." ujar perempuan tak diundang itu. Semua mata memandangnya. Semua mengenalnya..
"Welcome Faika Araifa.." ucap Genma bertepuk tangan. Akatsuki yang belum menyumbangkan aksi masih diam dengan dingin dan keren.
Orang-orang yang biasa disebut orang gunung itu membuka mantel yang melapisi kaus hitam yang mereka pakai selama ini. Mereka membalikkan badan mereka dan memegang leher mereka. Dan saat itu.. tanda di leher yang belum pernah terlihat selama ini terlihat dengan jelas..
Di leher mereka, terlihat sebuah tato bergambar hewan campuran. Tato itu bergamabar hewan berkaki gagak, berbadan ular, berkepala serigala, dan memakan pisau perak. Dan tato itu bisa bergerak-gerak.
Pain, Seiryuu, Konan, Zetsu, Hidan, Kakuzu, Kisame, Sasori, Deidara, Darbi, Tobi, Dee, Itachi, dan Noriko menatap lambang itu tajam penuh kebencian.
TBC
Waaa.. akhirnya selesai juga! Yihaaa~! Gomen kalo chapi ini 'super panjang'.. maksud nakamura ngasih chapi panjang soalnya tanda maaf buat updatean yang super lama.. ne.. gomenasai minna-san.. Mudah-mudahan readers bacanya puas :P
Nahhhh.. konfliknya udah mulai keluar nih :) untuk para OC, kalo ada yang nggak puas bilang aja.. nanti Nakamura coba perbaiki yang kurang. Kritik dan Saran terbuka lebar.. request dibolehkan sangat.. (Y)..
Abis itu, kalo ada yang nggak ngerti ama jalan cerita yang semakin membingungkan, bilang aja : ) nanti nakamura coba jelasin ampe ngerti hahaha..
Sekali lagi, gomen ne update telat dan chapter kepanjangan.. heheh ^^
…. Nakamura arigatou…
