THE ENGINEER pt. 4
.
.
BarbieLuKai
.
.
~HAPPY READING~
.
.
.
.
"Kau murung sekali, Ming.." ucap Seokmin duduk di sebelahnya, Mingyu menoleh.
"Wonwoo hyung menyuruhku belajar,"
Namja bermarga Lee tersebut menaikkan satu alis, "Bukannya bagus ya? Artinya dia benar-benar peduli padamu,"
Mingyu menghela napas, "Aku merindukannya, Pabbo."
Kepalanya malah dihantam.
"Sakit, brengsek!"
"Kau mengataiku pabbo, gila!"
Soonyoung langsung menengahi mereka walaupun perang mulut mereka hanya bercanda. "Kalian ini berhentilah kelahi,"
Mingyu merengut kesal, ia hanya melempar ponsel di atas meja, "Aku tidak mau belajar!"
"Dia kenapa?" tanya Soonyoung bingung melihat kelakuan Mingyu. Seokmin terkikik. Tsk, dasar kuda.
"Dia lagi marah karena disuruh belajar sama hyung kesayangannya,"
"Kau serius mau dengannya? Umur kalian-"
"Memangnya kenapa umur kami?" balas Mingyu sewot sehingga Soonyoung sedikit takut.
"Santai aja Bro! Sensitif sangat kalau sudah mengenai dia," akhirnya namja bermarga Kwon tersebut mengajak Seokmin untuk menjauhi pangeran sekolah karena takut kena damprat lagi. Oh yang paling mengerikan adalah kalau Mingyu tidak mau memberi mereka contekan.
Bisa habis umur mereka sebelum lulus sekolah.
Mingyu hanya menatapi layar ponselnya yang meredup. Tidak dipedulikan beberapa pasang mata yang melihatnya aneh, ataupun kedua sahabatnya yang sudah ngacir duluan. Dia hanya memikirkan Jeon Wonwoo. Huaaaaaaah, dia merindukan Princess Emo-nya!
.
.
.
.
Hari sudah menjelang sore, Wonwoo membereskan peralatannya dan keluar dari ruangan bersama Jun.
"Kau pakai mobil?" tanya Jun saat Wonwoo menaruh barang-barangnya di dalam bagasi. Diamengangguk.
"Waeyo? Mau ikut?"
Tanpa basa-basi, si Cina langsung masuk begitu saja ke pintu pengemudi. Meninggalkan Wonwoo yang melongo.
"Tsk, dasar Cina tidak modal!" gerutunya seraya menutup bagasi.
"Hyung!" terdengar suara Jungkook. Dia menoleh. "Aku ikut ya!"
Wonwoo mengangguk, "Kau kan tidak mungkin kutinggal, Kook. Di mana Junyeon?"
Jungkook mengangkat bahu, "Katanya ada kerja kelompok, makanya aku disuruh pulang duluan,"
"Tumben.." jawab Wonwoo, "masuk dah!"
Siswa berambut cepak itu masuk ke pintu belakang dan Wonwoo bisa mendengar suara Jun dan Jungkook yang sedang mengobrol.
Sebenarnya, Wonwoo ingin menunggu Mingyu sebentar, niatnya ingin bertemu. Namun, sampai Jun menegur, tidak muncul juga batang hidungnya.
Saat ia hampir masuk ke mobil, Mingyu datang menghampirinya.
"Hyung sudah mau pulang?" tanyanya dengan nada datar. Wonwoo menatap Jun yang menganggukkan kepala.
"Kau bawa mobilku pulang, ya!" pintanya seraya keluar dari mobil.
Kemudian, mobil Wonwoo segera pergi dari penglihatan mereka. Mingyu menatap namja yang lebih tua darinya heran.
"Hyung nggak apa pulang pakai bus?"
Wonwoo tersenyum lembut seraya menggeleng, "Gwaenchana, aku juga sering kok naik bus,"
Mingyu menautkan kedua jari mereka sehingga Wonwoo bersemu merah, apalagi saat namja berambut abu-abu itu mengeratkan genggaman mereka.
Ampun dah Jeon Wonwoo, ingat umur woy!
"Hyung nggak malu?"
"Malu kenapa?" tanya Wonwoo. Mereka duduk di taman yang mulai ramai, karena di Seoul, saat sore banyak pengunjung yang ingin bersantai, entah untuk berkencan atau piknik keluarga sebelum makan malam.
Mingyu melirik jemari mereka yang masih bertautan. "Pegangan tangan sama anak SMA,"
Namja manis tersebut ikut melirik jemari mereka, "Kalau kau tidak mau, ya sudah," ia melepaskan tautan mereka tetapi Mingyu malah menangkapnya.
"Ah, hyung ini tukang ngambek," ejek siswa kelas 12 itu, Wonwoo memukulnya keras.
"Sekali lagi kau mengejekku, aku tidak akan bertemu denganmu!" ancamnya.
Mingyu hanya tertawa kecil, "Memangnya kau sanggup tidak bertemu lagi? Aku sih mampu saja, Hyung.."
Wonwoo langsung mencebik kasar, "Huh, kau ini. Aku pulang saja ah!" ujarnya sambil berdiri. Mingyu menahan lengan gebetannya (?).
"Araseo, araseo, kau jangan bikin aku malu dong!"
Wonwoo memandang sekeliling, betul juga kata bocah ini, beberapa pengunjung tampak melihat mereka aneh. Mungkin di pikiran mereka, 'Ada anak SMA berduaan sama om-om, anehnya om-omnya malah terlihat lebih feminim dibanding anak SMA-nya,'
Kepalanya mulai berasap.
Ah, peduli setan. Dia tetap ingin pergi meskipun Mingyu menariknya untuk duduk kembali. "Kau lapar, tidak?" tanya menarik pergelangan tangannya dari genggaman Mingyu.
"Tidak, kenapa?"
"Kajja, cari makan!" ajak yang tertua di antara mereka. Mingyu mengiyakan dan mengikuti langkah Wonwoo ke kedai kue beras. Tautan mereka belum terlepas karena Wonwoo tidak punya niat untuk melepasnya. Cih. Bilang aja modus, Won.
.
.
.
.
"Kau di mana, Mo?" tanya Jun lewat telepon. Wonwoo baru saja pulang sehabis mengantar Mingyu ke halte. Dia memakai sambungan loudspeaker sehingga ia bisa mendengar Jun berbicara.
"Aku sudah di rumah, wae?"
"Besok kujemput ya.."
Wonwoo malah membahas yang lain, "Kau memanggilku emo ya tadi?!"
Bisa kita lihat di seberang sana, terlihat wajah Jun yang sedang memutar matanya malas, "Kau kan memang emo, sekali emo tetap emo, Won. Kau sudah menghitung berkas tadi belum? Aku mau langsung tidur saja,"
Wonwoo menghela napas. Dia masih punya hati untuk tidak membuang sahabatnya ke jurang. Ingin rasanya Wonwoo mandi dengan bermacam-macam bunga dan ramuan agar julukan emo laknat ini terlepas dari kehidupannya.
"Ne, aku saja yang menghitungnya! Kau tidur sana!"
"Hahaha, gomawo Princess Emo-ku yang cantik, manis, menggemaskan, dan seksi, sampai jumpa besok! Muach!" sesaat menerima julukan menyebalkan dari sahabatnya yang sudah memutuskan sambungan, Wonwoo jadi tidak niat untuk membantu, apalagi ditambah suara kecupan, ewh, Jun tidak pantas menyuarakan bunyi menjijikkan itu.
Akhirnyaia mulai bekerja, dahinya berkerut-kerut sembari menghitung berkas yang belum sempat diperiksa.
Ponselnya berdering lagi, buru-buru ia mengangkat panggilan tersebut.
"Yeoboseyo?"
"Hyung?"
Mendengar suara Mingyu yang berat, ia memutuskan untuk menghentikan pekerjaan.
"Ne, Mingyu-ya, ada apa?"
"Aniya.. Bogoshippo,"
"Hmph, kita baru saja bertemu, pabbo!" jawab Wonwoo, senyum lebar menghias wajah emo-nya. Oke, Wonwoo… author khilaf.
Mingyu tertawa kecil, "Memangnya tidak boleh? Ya sudah,"
"Yak!" Wonwoo berseru kesal, "kau memang tengil seperti ini ya?"
Namja berambut abu-abu itu tersenyum lebar, "Ne. Apalagi di depan hyung manis sepertimu,"
"Diam kau, Bocah!"
"Hahaha, kau suka kan?"
"Aku akan menutupnya kalau kau begini terus!" ancam Wonwoo meremas kuat ponselnya. Dia tidak sanggup merasakan pipinya memerah. Benar-benar dimabuk cinta!
"Araseo, araseo, aku akan diam.." balas Mingyu menahan tawa. Wonwoo mendengus. "kau sedang apa, Hyung?"
"Bekerja, katanya kau diam!"
Mingyu mengerucutkan bibir, "Aish, maksudku, aku tidak menggodamu lagi, bukan berarti aku sepenuhnya diam,"
"Terserah kau sajalah!"
Lama mereka saling melempar candaan sampai lupa jam berapa sekarang.
"Mingyu-ya.."
"Hm?"
"Kau tidak tidur? Besok kau sekolah, pabbo!"
Wonwoo bisa membayangkan betapa jengkelnya Mingyu saat ia menyuruhnya tidur. "Kau ini harus sekolah, katanya mau jadi insinyur sepertiku,"
"Kapan aku bilang aku ingin menjadi sepertimu?" balas namja bermarga Kim tersebut.
"YAK! MINGYU-YAH! PPALI-WA! APA KAU MAU TERLAMBAT SEKOLAH, EOH?!"
Wonwoo tertawa lepas saat mendengar suara namja yang berteriak marah. Mingyu berdecak kesal.
"Aish, araseo, araseo! Annyeong Wonwoo-hyung, saranghae!"
TUT
Sebelum Wonwoo membalas pernyataannya, ia sudah memutuskan sambungan duluan, membuat namja berambut hitam itu menatap layar ponsel seraya tersenyum tipis.
"Nado, Mingyu-ya.."
.
.
.
.
Hari-hari Jeon Wonwoo berubah karena ada siswa SMA yang tak pernah absen untuk menemuinya. Bahkan, saat siswa pintar itu sedang sibuk sekalipun, ia selalu menyempatkan diri membolos untuk bermain bola seraya mencuri pandang ke Wonwoo yang dikelilingi pekerja bangunan.
Keduanya tidak peduli dengan omongan orang mengenai perbedaan umur mereka yang jauh, apalagi tentang gender mereka yang sama. Semua orang yang saling mencintai, punya hak untuk melanjutkan hubungan mereka, kan? Orang-orang yang mengatai mereka belum pernah merasakan cinta. Semoga mereka kena karma- ini tipikal Jeon Wonwoo.
"Junnie-ya.." panggil Wonwoo suatu hari di kantor mereka. Jun mendongak dari berkasnya.
"Kenapa kau biasa saja waktu aku bersama Mingyu?"
Tepat Jun ingin menjawab, pintu ruangan mereka terbuka dan tampak seorang siswa SMA yang imut sedang mengerucutkan bibir. Wajahnya sangat oriental sehingga Wonwoo tahu kalau dia ini bukan orang Korea.
Wonwoo memandang ke arah namja tersebut, "Apa dia salah masuk bangunan?"
"Jun-ge!"
Wen Junhui menghembuskan napas panjang.
"Aku tidak pernah tahu kau punya adik laki-laki," ujar sahabatnya masih memandang siswa itu dari ujung kepala sampai kaki.
"Aku bukan adik Jun-ge!"
Namja berambut hitam itu akhirnya menatap Jun meminta penjelasan. Sedangkan yang ditatap mengalihkan pandangan.
"Pacarku."
Wonwoo terdiam. Mata sipitnya memandang ke arah Jun dan siswa berambut pelangi itu bergantian.
Lima detik kemudian ia langsung sadar.
"MWOYA?! NEO NAMJACHINGU?!"
Jun tahu ini pasti terjadi, jadi untuk mengatasinya, ia hanya mengangguk dan mengode siswa tersebut untuk mendekatinya.
"Aku mau muntah,"
Si Cina hanya menyengir mendengar kalimat yang terlontar dari Wonwoo, padahal seharusnya dia ngaca. "Namanya Minghao,"
"JUN, APA KAU GILA?! Kau berkencan dengan anak SMA, bodoh!"
Jun menatapnya datar. Beberapa saat kemudian, Wonwoo langsung mengerti.
"Ah, aku juga melakukan hal yang sama.." gumam namja bermarga Jeon itu. Baiklah, dia mulai paham sekarang. "pantas saja kau santai saat aku mengencani Mingyu,"
"Karena aku juga berkencan dengan siswa SMA yang lain," sambung Jun.
"Sejak kapan?" tanya Wonwoo penuh selidik.
"Setahun yang lalu? Sewaktu aku ditugaskan ke Shenzen untuk mengawas pembangunan rumah sakit. Ayah Minghao seorang kontraktor dan dia sering ke kantornya. Jadi, di sana kami bertemu,"
Wonwoo berdecak, "Cheesy.."
"Setidaknya lebih berkelas daripada kau dan Mingyu,"
Sebuah pulpen mendarat di meja Jun. Untung tidak mengenai wajah ataupun Minghao.
"Jadi, dia pindah ke Korea?"
"Yap, demi aku.." ujar Jun bangga. Wonwoo mencebik kasar.
"Dasar om-om!"
"Kau juga harus mengaca, Ahjumma.."
Sebuah pulpen mendarat kembali. "Yak, Minghao-sshi, kenapa kau mau dengannya?"
Minghao menggaruk tengkuknya, "Entahlah, memangnya cinta butuh alasan?"
Jun tertawa keras melihat wajah Wonwoo yang jengkel. "Dasar anak SMA! Makan tuh cinta-cintaan!"
"Kau kan belum pernah muda, makanya garang begini," celetuk sahabatnya mengejek. "kajja, kita makan siang!" dia berdiri dan menggenggam tangan Minghao erat.
"Annyeong, Wonwoo-sshi!" goda Jun seraya menaik-turunkan alis, Minghao ikut tertawa kecil.
"Awas kau, Vampir Cina!"
Kan, Wonwoo jadi kangen Mingyu.
.
.
.
.
Mingyu men-scroll halaman website yang menyediakan lowongan pekerjaan. Matanya terus membaca baris demi baris iklan tersebut.
"Hoi, Ming!"
Mingyu berdeham tidak peduli.
Soonyoung dan Seokmin saling berpandangan. Ada apa dengannya kali ini?
"Kau sedang apa? Jadi tidak ke ruang guru?"
"Sebentar," balas si jenius tanpa mengabaikan layar ponselnya. "aku sedang mencari pekerjaan,"
"Mwo?" sahut Seokmin.
"Kau mau menafkahi siapa?" tanya Soonyoung.
Mereka mendekati Mingyu yang masih serius. "Ada yang sedang mencari karyawan, tapi aku butuh part-time job, bukan full job,"
Akhirnya ketiga sekawan itu larut dalam ponsel Mingyu, sibuk mencarikan pekerjaan yang baik bagi sahabat mereka.
"Ah, bagaimana dengan ini?" tunjuk Soonyoung pada salah satu kolom.
Dibutuhkan seorang part-timer job, minimal berusia 17 tahun, namja, bertanggung jawab dan jujur. Berminat hubungi email kantor : jeontrademachine .kr. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi website kami .kr/tradecompany/carengine
"Kau kan ingin jadi insinyur, bisa saja kau mulai pengalaman lewat sini," kata namja bermarga Kwon itu. Mingyu tampak berpikir.
"Benar juga, gomawo Soonyoung-ah! Kau mau kutraktir apa?"
"Yak!" sahut Seokmin, "jadi Soonyoung saja yang kau traktir?"
"Aigoo.." Mingyu menyengir kemudian merangkul sahabatnya, "tentu saja kau ikut, pabbo!"
"Tapi apa kau yakin ingin bekerja di 'Jeon'?"
Mingyu menyeringitkan dahi, "Maksudmu, 'Jeon'?"
Seokmin memasang wajah serius, "Kau ini masa tidak tahu? Jeon itu keluarga besar yang punya banyak usaha, misalnya dalam ekspor-impor, elektronik, rumah sakit, hotel, rumah makan, sampai agensi pun mereka ada,"
"Terus?"
"Yak!" Seokmin malah menonjok kepala Mingyu pelan, sehingga namja bermarga Kim tersebut mengusap kepalanya sambil menggerutu kesal.
"Kenapa kau malah memukulku?"
"Karena kau bodoh!"
"Yak!"
"YAK!" jerit Soonyoung menghentikan mereka. "Seokmin benar, Gyu. Kau harus cari pekerjaan lain, karena sekali kau terlibat dengan Jeon United, kau pasti akan terus terlibat,"
Jeon United? Ini nama perusahaan atau liga sepakbola?
Mingyu hanya memutar matanya, "Tsk, kalian ini terlalu berlebihan,"
"MEMANG BENAR!"
Dia refleks menutup telinganya, aish, dua namja idiot di sebelahnya ini benar-benar mengganggu. Apalagi mereka tampak tidak peduli saat teman sekelas mereka memandang aneh.
"Sektor perekonomian dunia ada di tangan keluarga Jeon, Ming. Apalagi Korea,"
"Aku akan baik-baik saja, pabbo!"
"Jeon Jungkook di sebelah keturunan keluarga Jeon," jelas Seokmin mengangguk.
Mingyu menatapnya, "Apa semua orang dengan marga Jeon di Korea ini termasuk keluarga Jeon? Kalian ini pintar sekali mengarang cerita,"
Kedua sahabatnya memandang tak percaya, "Percaya atau tidak, kami sudah mengingatkanmu, Kim Mingyu. Sekali kau terlibat dengan Jeon, kau akan terus terikat,"
Sedang siswa jenius itu tidak begitu mempedulikan peringatan temannya, "Kalau kalian bilang Jungkook dari keluarga Jeon, aku bisa saja bertanya-tanya soal keluarganya, siapa tahu tidak seburuk yang kalian kira,"
"Kami tidak menganggap keluarga Jeon buruk, Mingyu," Soonyoung memutar mata malas, "hanya saja mereka terlalu sempurna untuk didekati, kau ingat sewaktu Jungkook masuk sekolah pertama kali? Semua orang langsung takut padanya, padahal dia hanya diam sepanjang hari,"
"Bukan alasan yang kuat untuk mempercayainya," balas Mingyu mengangkat bahu.
"Kau benar-benar menginginkan pekerjaan ya?" tanya Seokmin hati-hati. Mingyu menyengir padanya.
"Kau tidak ingin menafkahi Seungkwan?"
Seokmin mendengus, "Belum saatnya, idiot!"
"Kau bilang aku idiot? Kalau aku idiot, kau apa, huh?!" balas namja bermarga Kim tersebut.
Soonyoung yang berada di antara mereka berdecak, "Tsk, dasar anak-anak! Aku mau ke kelas Jihoon, annyeong!"
Seokmin dan Mingyu saling berpandangan, "Kajja! Main bola!"
.
.
.
.
Terpaksa sehabis makan siang, Wonwoo izin pulang lebih awal dikarenakan acara keluarga. Yap, orangtuanya sudah tiba dari Mokpo dan dia bermaksud untuk pindah ke rumah yang ditempati mereka.
"Annyeong!"
"Wonwoo-ya!"
Ny. Jeon memeluk anak sulungnya, melepas kerinduan terdalam karena setahun tidak bertemu. Wonwoo menghirup aroma tubuh sang Ibu yang tak pernah berubah dari zaman ke zaman.
"Bagaimana kerjaanmu?"
"So far so good," jawabnya seraya tersenyum manis, ia sudah merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena you know lah, pekerjaan benar-benar menyita penampilan.
"Kajja! Kita makan siang bersama!"
Di sinilah Wonwoo. Bertemu kembali dengan dua adiknya yang masih SMP. Bohyuk dan Woori.
"Kalian akan pindah sekolah?" tanyanya seraya menyuap makan siang. Keduanya mengangguk.
"Siapa yang akan mengurus kami di sana kalau kami tidak pindah sekolah," balas Woori seraya mencibir kecil. Namja yang lebih tua 12 tahun tersebut mencubit pipi adik perempuannya.
"Kau ini tidak pernah berubah ya, selalu saja sewot padaku,"
"Appo, Oppa-ya!"
"Wonwoo.." tegur Ny. Jeon menggeleng-gelengkan kepala.
Tn. Jeon tersenyum lembut, ia menyesap air mineral yang ada di samping piringnya, "Wonwoo-ya, kapan kau berniat untuk menikah?"
Wonwoo tersedak. Kenapa pertanyaan laknat itu tiba-tiba muncul?
"M-menikah?"
Tn. Jeon mengangguk, "Kau ini sudah 26 tahun, seharusnya sudah punya seseorang, barangkali kekasih mungkin,"
Ah iya. Dia belum bilang pada orangtuanya kalau ia tengah mengencani anak SMA. Berkencan dengan Mingyu? Dia bahkan belum menembak secara official, tapi mereka sudah bertingkah mesra satu sama lain, aduh Wonwoo sendiri masih bingung mereka ini pacaran atau tidak.
"Appa punya kenalan dari keluarga Choi, kau tahu anak Choi Siwon? Choi Seungcheol baru saja kembali dari New York, siapa tahu kita bisa merencanakan makan malam,"
Wonwoo mendongak dari makan siangnya, mata rubah yang tajam itu melebar tak percaya. Choi Seungcheol?
THE CHOI SEUNGCHEOL?! YANG BENAR SAJA.
"Choi Seungcheol rivalku waktu SMA itu?" tanyanya memastikan. Tn. Jeon tertawa geli.
"Kenapa kau malah menyebutnya rival? Kalian kan bersahabat dulu,"
APA?! APA WONWOO TIDAK SALAH DENGAR? DIA? BERSAHABAT DENGAN CHOI SEUNGCHEOL? Rupanya pria yang ia sebut Appa ini tidak begitu tahu kehidupan emo-nya waktu SMA kemarin. Huh.
"Kkeut," gumam Wonwoo tiba-tiba. Dia beranjak berdiri meninggalkan keluarganya.
"Wonwoo-ya!" panggil Ny. Jeon, tapi ia tetap berjalan lurus menuju kamar baru.
Setelah pintu kamar terkunci, ia menghempaskan diri ke kasur seraya menghela napas. Pikirannya melayang ke Mingyu dan Seungcheol.
AAAAHHHHHH. Kenapa dari seluruh pria tampan di dunia ini dia malah dijodohkan sama musuh bebuyutan yang paling dibenci setengah mampus itu?! Ampun deh, kayak dunia kehabisan stok pria saja -_-.
Pokoknya jangan sampai ia bertemu dengan namja dengan paha besar dan bibir tebal alias Choi Seungcheol!
Tapi, kalau beneran, nasib dia sama Mingyu bagaimana?
.
.
To be Continued
.
.
.
.
Thanks to : Guest (kookies); xingmyun; Viyomi; 11234dong; (Guest) Rie Cloudsomnia; svtbae; Ara94; Karuhi Hatsune; monwii; Beanienim; wanUKISS; pinkeyrainbow; aestas7; BumBumJin; Minmeanie; Rei Rena; Gstiff; kimxjeon;
TERIMA KASIH BUAT PARA READER YANG MENYEMPATKAN BACA DAN REVIEW~~ jangan tanya kenapa author nggak balas review, bukan berarti sombong, tapi nggak tau mau balas apa selain ucapan terima kasih ^o^. Semoga nggak bosan ya sama alurnya, atau banyak kosakata yang tidak dimengerti :( entah kenapa author lemah di bahasa Indonesia *poor author* *author yang malang* (?) semoga makin terus suka sama karakter Wonu dan Mingyu di sini.
Oh, yang udah ngefollow sama ngefav juga! Makasih eaaakkk! Author jadi malu nih *tebar serpihan badan wonu (?)
Sekali lagi TERIMA KASIH~~ HAIL TO MEANIE ~~ppyong :*
