Chapter4
Yeeeeey akhirnya dapet ilham buat nambah ide dichapter ini. Makasih yang udah read, review, follow, dan favorite. Aku seneng banget karena yang review pun senior-senior yang ceritanya bagus yang sering aku baca.
Maaf karena sampe chapter 3 aku masih banyak salah, typo melanda dimana-mana, dan agak absurd.
.
.
.
.
.
'apa aku menyukaimu?' batin jimin
.
.
.
.
.
Jimin POV
Pagi ini aku bangun dengan tidak biasanya. Yang biasa aku selalu terbangun karena para pelayan dirumahku membangunkan ku. Dan pasti aku langsung bangun dan masuk kekamar mandi. Tapi kali ini tidak seperti biasanya. Aku sudah bangun pagi-pagi sekali tanpa harus pelayan membangunkan ku dan entah sejak kapan aku sudah melototi ponsel pintarku. Belum ada yang berubah dari semalam. Masih belum ada pesan dari perempuan kecil pucat itu. Dan entah ide darimana yang berpikiran aku akan datang kerumah sakit dan berpura-pura untuk mengecek kondisiku. Ya meskipun aku sudah sangat sehat dan tidak memerlukan kontrol. Karena itu hanya sebuah alasan untuk bertemu dengannya.
"tuan jimin tumben anda sudah bangun. Apa hari ini ada aktifitas atau janji dengan orang?" suara laki-laki paruh baya yang ternyata kepala pelayan rumah kepercayaan ibuku.
"ne, aku akan kerumah sakit untuk mengontol kondisiku. Apa ibu dan ayahku sudah bangun? Dan tolong suruh supir untuk menyiapkan dan memanaskan mobilku. Aku akan kerumah sakit setelah aku mandi dan sarapan." Titah ku kepada kepala pelayan.
"maaf tuan, nyonya dan tuan park sudah pergi beberapa menit yang lalu untuk kebandara. Dia hanya menitipkan salam kepadamu dan menyuruhku memberitahumu untuk tidak mengedarai mobil sendiri dulu jika kau ingin pergi keluar dan menyuruh supir untuk mengantarkan tuan kemanapun. Sarapan dan obatmu juga sudah disiapkan oleh pelayan diruang makan." Jawab sikepala pelayan. Ya mau bagaimana lagi itu titah dari nyonya besarnya. Pasti dia lebih memilih menuruti apa semua kata ibuku daripada diriku sendiri.
"haaaaah, baiklah jika itu perintah ibu."
Dengan berat hati aku harus menerimanya. Dan melangkahkan kakiku untuk memasuki kamar mandi. 30menit berlalu sekarang aku sudah duduk manis dibangku belakang mobilku.
"tuan kita sudah sampai dirumah sakit." Suara supir kepercayaan ibuku menyadarkan ku dari lamunanku.
"eh, baiklah kau tunggu disini. Aku akan masuk mungin sekitar 15-30 menitan."
"baik tuan"
Baru saja aku melangkahkan kaki keluar dari mobilku. Aku melihat perempuan kecil, berkuli pucat yang entah mengapa aku sangat menunggu kabar darinya.
"Yoongi? Min Yoongi... Dokter Min" aku berteriak dan melambaikan tanganku. Aku melihat Yoongi melihat kearahku dan tersenyum padaku.
'mungkin aku terlalu berlebihan memikirkan dia marah kepadaku.' Batin jimin.
Setelahnya kami sudah duduk ditaman rumah sakit itu.
"ada apa tuan park? Kenapa kau kesini? Kau mau mengontorolkan kondisimu?" ucap yoongi yang mengawali pembicaraan dengan nada datar begitupula raut mukanya.
"eung, yoongi.. ah maksudku dokter Min. Aku kesini untuk menemuimu. Aku hanya ingin bertanya kenapa kau menjadi seperti ini tidak membalas pesanku. Lalu nomermu tidak bisa dihubungi. Membuat taehyung khawatir. Dan kau bahkan pergi waktu melihatku diCafe taehyung." ucapku dengan penuh harap.
"oh, aku sedang sibuk kemarin. Ponselku mati seharian kemarin. Dan masalah diCade taehyung aku tidak sadar jika kau memanggilku tuan Park. Masalah taehyung yangkhawatir. Dia selalu seperti itu jika baru bertemu denganku lagi." Jawab perepuan pucat didepanku.
"jadi kau kenal dekat dengan taehyung?"
"ne, dia temanku dari kecil."
"lalu kenapa taehyung sangat khawatir kepadamu? Dia bilang kau sedang sakit waktu dia menjemputmu lalu kau pergi begitu saja dan tidak ada kabar seharian."
"ah aku sakit? Tidak kemarin aku hanya deman dan sekarang sudah baikan. Kan sudah ku bilang kalau aku sedang sibuk."
"kalau boleh tidak aku menjemputmu pulang nanti?"
"emm maaf tuan Park aku ada acara nanti malam dan aku akan dijemput temanku. Lagi pula aku tidak enak dengan kekasihmu."
"ah kookie? Dia tidak apa-apa. Bahkan dia sedang keluar negeri untuk acara fashion. Tapi baiklah jika kau sedang sibuk dan ada acara. Jika kau berubah pikiran kau bisa menelponku atau mengirimiku pesan. Nee?"
"Ahh baiklah."
"aku pergi dulu. Kau juga pasti harus merawat pasien-pasienmu. Paii Min Yoongi." Tidak lama aku langsung sedikit berlari kearah mobilku. Dan aku sedikit melirik kearah Yoongi yang sedang berjalan kedalam rumah sakit. Setelah aku sampai didepan mobilku aku langsng masuk kedalam mobil. Dan tidak butuh waktu lama aku langsung menyuruh supir pribadi ibuku untuk mengantarkan ku keCafe milik taehyung.
"pak antar aku keCafe temanku." Titahku cepat.
"baik tuan muda." Tanpa ku suruh dua kali. Supir pribadi ibuku langsung mngendarai mobil untuk keCafe milik taehyung.
Jimin POV end
.
.
.
.
.
Yoongi POV
"untuk apa dia datang kesini dan berbicara seperti itu. Dan bahkan dia meminta izin untuk menjemputku. Ah dasar laki-laki aneh dan tidak peka. Kenapa dia harus hadir dikehidupanku sih?" tanpa sadar yoongi mengacak-acak rambutnya yang sudah tersisir rapih itu.
"ada apa dokter Min? Kau sudah lebih baik? Aku sampai rindu denganmu. Sehari saja kau tidak masuk membuatku menjadi kesepian. Bagaimana jika magangmu sudah selesai. Aku pasti sangat kesepian." Ucap suster Seok yang sedari tadi sudah ada diruanganku.
"Ahh, eonni kau tidak perlu khawatir kita bisa bertukar pesan dan bertemu diluar jika kau sedang libur kerja. Dan ahh iya hari ini hari terakhir aku magang. Dan terima kasih yah sudah baik dan membimbingku." Ucapku dengan sedikit nada sedih.
"Kau tidak perlu berterima kasih seperti itu. Aku sangat senang membantumu. Bukan hanya aku yang kesepian nantinya. Bagaimana dengan dokter Kim dan pasien-pasien disini. Mereka juga pasti kehilangan sosok imut, lucu dan ceria ini. Baiklah karena hari ini hari terakhirmu magang. Bagaimana jika selesai bekerja kita keluar dan makan." Suara suster Seok kembali ceria seperti biasanya.
"Ne, eonni. Terima kasih." Jawabku dan memberikan senyum tulus padanya.
Setelah semua pekerjaan selesai. Hari sudah hampir malam. Aku langsung meminta izin berpamitan dan tidak lupa untuk berterima kasih karena sudah membimbingku selama aku magang kepada kepala ruangan dokter Kim, dokter-dokter senior lain, dan para suster diruanganku.
"Aku pasti sangat merindukan rumah sakit ini dan pastinya dirimu eonni."
"Aigoooo, kau berlebihan dokter Min."
"Eonni kau bisa memanggilku Yoongi saja."
"Ne, Yoongi. Kita mau makan apa? Aku akan mentraktirmu."
"tidak eonni aku yang akan mentraktirmu."
"aah baiklah baiklah. Bagaimana jika kita makan ramen didekat sini. Tempat itu tidak jauh dan juga banyak orang yang menyukai ramen disana. Bagaimana?"
"baiklah eonni. Kajja..."
Tidak jauh dari rumah sakit terlihat ruko ramen yang sangat ramai pengunjung. Yaa sepertinya benar kata suster Seok jika disini ramennya enak. Buktinya banyak sekali pengunjung yang datang. Dan tidak jauh dari situ. Aku melihat ada sesosok laki-laki yang ku kenal. Tetapi dengan warna rambut yang berbeda. Terakhir ku lihat laki-laki memiliki rambut hitam legam. Kenapa sekarang menjadi warna merah menyalah?
"tuan Park" itu bukan suaraku. Itu suara suster Seok
"Ne,, waah kau kan suster yang merawatku bersama dokter Miii" ucapannya terpotong. Ya ucapannya terpotong karena dia melihatku. Dan benar saja tebakan ku kalau itu dia. Entah kenapa aku sangat mengenalnya padahal belum hampir 3minggu aku mengenalnya. Terjadilah kecanggungan antara aku dan mantan pasienku itu.
"Ah iya benar itu aku. Dan aku juga bersama dokter Min. Kami disini merayakan perpisahan untuk dokter Min karena dia telah selesai magang dirumah sakit. Apa tuan Park sendirian? Dan aneh sekali laki-laki kaya sepertimu mau makan ketempat kecil seperti ini." tiba-tiba suster Seok memecah kecanggungan antara aku dan jimin.
"euh, aku? Iya aku sendiri. Tapi tidak sendiri juga sih. Karena tidak jauh dari sini ada supir pribadi ibuku yang menungguku. Dan ini tempat langganku dengan sahabatku waktu aku masih dibangku sekolah. Jadi aku sudah terbiasa makan disini. Hehe... " jimin menjawab pertanyaan suster Seok dengan sedikit cengiran khas yang membuat matanya menjadi sipit seperti bulan sabit.
"ah kalo gitu kebetulan ayo kita makan bersama. Apakah kau sudah memesannya tuan Park?"
"Aku belum memesannya suster karena ini ramai sekali. Dan panggil aku Jimin saja suster."
"kalau begitu kau juga harus memanggil namaku saja"
"ne ne.. tapi akan aku tambahkan noona karena sepertinya kau lebih tua dariku."
"baiklah baiklah, sebentar aku akan memesan. Dan Yoongi ajak pasienmu ini berbicara. Kau ini diam saja daritadi." Ucap suster Seok yang mengagetkanku.
"eugh? Ne eonni aku akan mengajaknya berbicara. Dan maaf aku diam saja habis eonni mendiamkan ku dan berbicara dengan tuan Park dari tadi." Ucapku dengan berusaha tidak gugup.
"Mian, yasudah aku tinggal memesan makanannya dulu."
Sepeninggalnya suster Seok aku dan jimin terlihat ada kecanggungan. Sampai akhirnya jimin memecahkan kecanggungan itu dengan berbicara terlebih dulu.
"ternyata benar kau ada janji dengan temanmu. Ku kira kau menghindar dariku. Dan beruntungnya aku bisa semeja denganmu. Yang membuatku tidak sendirian." Ujar Jimin dengan senyuman manisnya itu.
'mati kau Min Yoongi jatungmu berdetak tak karuan lagi! Dan apa-apa Jimin kenapa dia tersenyum dan berkata seperti itu' batin Yoongi.
"ah kau salah paham tuan Park ahh maksudku Jimin. Aku memang ada janji buktinya aku sedang disini bersama suster Seok." Balas yoongi dan sedikit tersenyum kepadaku.
"ahh ini makanan kalian. Dan maaf aku harus pergi karena ternyata aku lupa ada laporan kondisi pasien yang harusnya aku berikan kepada dokter kepala. Yoongi-ah bisakah kau pulang sendiri. Karena aku harus segera kembali kerumah sakit."
"tapi eonni aku takut sendirian. Dan bagaimana makananmu?"
"ah aku sudah membungkusnya. Aku akan makan nanti dirumah sakit. Dan jimin aku boleh minta tolong untuk mengantarkan Yoongi. Karena dia ketakutan pulang sendiri." Ucap suster seok yang mengagetkanku dan membuatku senang mendengarnya.
"ahh baiklah noona. Aku akan mengantarkan Yoongi kerumahnya dengan selamat. dan kau bisa tenang." Ucap jimin tenang yang tanpa Yoongi sadari didalam jantung jimin berdetak tidak karuan.
"tapi eonni..."
"tidak ada tapi-tapian. Kau bilang kau takut sendirian. Dan jimin terima kasih sudah mau mengantar Yoongi."
Dan setelah itu terjadi kecanggungan kembali dan hening. Setelah kami berdua selesai Jimin mengajakku untuk kearah mobilnya yang sudah disambut oleh supir pribadi. Pintu segera dibukakan oleh supirnya dan aku dan jimin segera masuk kedalamnya.
Yoongi POV end
Author POV
Setelah Jimin dan Yoongi masuk mereka hanya diam dan tidak mengucapan satu patah katapun. Dan tanpa sadar Yoongi sudah tertidur dibangkunya. Jimin pun kebingungan melihat Yoongi yang sedang tidur. Sedangkan dia tidak tau arah rumah Yoongi. Dan dia pun berinisiatif untuk menelpon taehyung. karena Jimin tau taehyung teman kecilnya Yoongi yang pasti tau rumah gadis imut ini.
"Yobesseyo,,, Jimin? Tumben sekali kau menelponku malam-malam begini. Apa kau mau keCafeku? Tapi ini tumben malam sekali. Ada apa jim?" terdengar suara cerewet tehyung disebrang telepon.
"bisakah kau pelan-pelan kalau berbicara! Begini tae aku sedang bersama Yoongi. Dan dia sedang tertidur dimobilku aku tidak tau alamatnya karena aku lupa menanyakan rumahnya." Jawab Jimin cepat yang membuat laki-laki disebrang telepon langsung kaget dan sedikit merasa panas.
"kenapa dia bersamamu. Apa yang sudah kalian lakuakan?" suara taehyung terdengar sedikit emosi. Yaa emosi karena taehyung menyukai Yoongi sejak dulu. Tapi dia tidak berani mengucapkannya. Karena ia takut Yoongi menjauhinya.
"santai tae santai. Aku tidak melakuakan apapun. Tadi aku dan Yoongi habis makan bersama sebenarnya bukan hanya kami berdua. Tapi tadi ada teman Yoongi." Ucap jimin.
"baiklah aku akan mengirim pesan dimana alamat Yoongi. Dan ingat jangan kau berani macam-macam padanya. Dia temanku dari kecil." Sedikit ada nada tidak rela saat taehyung mengucapkan kalimat terakhir.
"Ne,,, ku tutup teleponnya." Ucap jimin.
PIP
Drtt... drtttt...
Tidak lama jimin merasa ponselnya bergetar dan itu adalah pesan dari taehyung yang isinya adalah alamat Yoongi.
"Pak antarkan kami kealamat ini." Jimin menyodorkan ponselnya yang langsung dilihat oleh supirnya itu. Lalu supir itupun memberikan ponsel jimin kembali. Dan langsung mengantarkan ketempat tujuannya.
Mobil jimin berhenti didepan rumah mewah dengan warna putih. Jiminpun segera membangunkan Yoongi. Tapi Yoongi tidak bangun juga. Dan akhirnya Yoongi digendong oleh Jimin. Sebenarnya Yoongi tidak berat sama sekali. Tapi karena bekas operasi Jimin. Jadi ia agak sedikit sulit mengangkat tubuh Yoongi.
TingnongTingnong...
Tidak lama pintu terbuka dan menampilkan ajhumma paruh baya yang pasti itu adalah pelayan dirumah Yoongi.
"maaf bisakah kau beri tahu dimana kamar Yoongi?"
"ah ne dilantai dua. Pintu paling pojok yang ada gantungan boneka." Ucap ajhumma dan berlari membantu jimin untuk membukakan kamar Yoongi.
"Maaf sudah lancang. Tapi bisakah aku bertemu dengan ibu Yoongi bi?" ucap Jimin.
"sebentar akan saya panggilkan Nyonya" tidak lama dari itu ajhumma itu kembali dengan wanita berumur sekitar 40 tahunan.
"Saya ibunya Yoongi anda siapa?" ucap ibu Yoongi.
"Maaf saya Jimin. Park Jimin saya teman sekaligus pasien yang pernah dirawat oleh Yoongi dan teman dari taehyung. saya kesini bertemu denganmu untuk meminta maaf sudah masuk dan mengantarkan Yoongi sampai selarut ini." Ucap jimin dengan tegas namun sedikit tegang.
Ini kali pertama Jimin bertemu dengan orang tua dari perempuan. Meskipun sudah tidak sedikit perempuan yang dipacarinya.
"ah kau ternyata teman Yoongi dan juga taehyung. kalau begitu kau juga bisa memanggilku Eomma. Dan terima kasih sudah mengantarkan anakku. Dan sepertinya aku pernah melihatmu ditelevisi. Apa kau bintang film atau idol grup?" ucap ibu Yoongi yang memang selalu ceplas-ceplos dan cepat dekat dengan orang lain yang berbanding terbalik dengan anaknya.
"emm apa tidak apa-apa jika aku memanggilmu eomma bi? Dan maaf aku bukan aktor atau idol grup. Aku pembalap mobil yang belum lama ini kecelakaan. Kau pasti sering melihatku diiklan-iklan dan berita belum lama ini bi." Ucap jimin.
"ohh jadi begitu. Tidak apa-apa kau bisa memanggilku eomma. Karena kau teman anakku juga seperti taehyung. kau bisa memanggilku seperti itu. Dan sekali lagi terima kasih yah Jimin." Ucap ibu Yoongi dengan senyum tulusnya.
Tidak lama dari itu Jimin berpamitan dan langsung pergi kemobilnya untuk pulang. Didalam mobil Jimin terus saja mengembangkan senyumnya yang sedang melihat bangku kosong disampingnya.
'aku tidak menyangka akan sedekat ini denganmu Yoongi. Dan ternyata bukan hanya kau. Ibumu juga baik. Aku senang bisa kenal denganmu.' Batin jimin. Tanpa sadar jatung Jimin berdetak tak karuan lagi.
TBC
.
.
.
.
.
.
Cha,, chapter4 nya udah update. Dan bagaimana menurut kalian? Makin aneh kah makin gajelas kah? Dan terima kasih yang udah baca FF ini. Dan terima kasih juga yang udah follow sampe favorite. Dan yang udah review. Pokoknya kalian luar biasa.
Dan jangan lupa untuk Review lagi yah karena. Review dari kalian udah buat aku mencoba jadi lebih baik lagi.
Thanks to
Mr Yoon
Elswu
Terima kasih yah udah review dan masukkannya. Aku emang selalu salah dan terburu-buru. Jadi maaf yah udah ganggu pembaca dengan kesalahan aku.
MinJiSu
Yoongi sama Mark yah?
Itu masih jadi rahasia.
Iya Jimin emang bakalan jadi sifat aslinya yang petakilan, gabisa diem absurd, kalo masalah mesum. Itu lagi dipikirkan. Wkwkwk. Dan buat sikapnya Yoongi udah sedikit keliatan. Karena didepan kamera Min Yoongi a.k.a Suga itu kadanfg-kadang ceria, kadang-kadang diem, kadang-kadang absurd juga. Jadi disini Yoongi juga dibikin kaya gitu. Sedikit labil lah buat Yoongi. Haha.
Makasih udah baca dan review
FyRraiy
Haha gpp yang penting kau sudah *agakgaje*
Bukan kesalahan kecil itu besar tapi tetep lanjut kok. Dan makasih udah sempet baca dan review yah
Oke untuk chapter besok aku sedikit janji bakal ada sesuatu yang ngagetin buat kalian yang baca. Bocoran sedikit ini tentang jimin sama jungkook. Oke udah segitu dulu aja. Byeeeeeee
