Love is You, My Fat Girl

Cast : Always KyuMin, others

Disclaimer : FF ini resmi milik Mheishiee Taeminnie dan KyuMin milik Tuhan, orang tua mereka, Elf, JOYers dan tentunya KyuMin saling memiliki

Warning : GS! Typo's! Gaje! Abal-abal! Tidak sesuai EYD! Cerita pasaran!

.

.

.

DON'T BE SILENT READERS!

.

.

.

DON'T BASH! DON'T LIKE, DON'T READ!

.

.

.

~Happy Reading~

.

.

.

TING..TONG..

TING…TONG…

TING ..TONG..

TING…TONGTONGTONG!

Leeteuk yang semula sedang asyik menonton acara memasak di layar Televisi miliknya, sontak saja menoleh ke arah pintu ketika bel rumah mereka terus-terusan dipencet secara bringas. Wanita dewasa itu pun dengan malas berjalan kearah pintu untuk melihat siapa yang tengah bertamu pada jam 7 malam seperti ini.

"Sebentar…"

CEKLEK!

"Eomma!"

BRUKKK!

Sungmin yang ternyata merupakan pelaku dari pemencetan bel tersebut langsung saja melompat dan memeluk sang ibu yag kebetulan membukakan pintu untuknya.

"Y-ya…kau kenapa Minnie-ah?" Tanya sang ibu bingung lantaran sang anak tengah memeluknya erat dengan raut kelewat bahagia.

Mendengar nada bingung keluar dari bibir sang ibu, Sungmin pun melepaskan pelukannya kemudian memandang ibunya dengan tatapan yang sulit diartikan. Dengan gerakan slow motion, Sungmin perlahan mengeluarkan selembar kertas berbentuk tiket emas dan menunjukkanya tepat didepan Leeteuk.

"Ja! Eomma lihat? Aku mendapatkan tiket emas…Kyyaaa!" Teriak Sungmin senang kemudian berloncat-loncat sambil tertawa bahagia.

Leeteuk yang ternyata belum mengerti dengan apa yang telah terjadi, hanya bisa mengernyitkan alisnya terlebih melihat Sungmin yang sedari tadi mencium-cium kertas berwarna emas tersebut tanpa henti.

'Anak ini kenapa?'

"Minnie-ah, coba jelaskan pada eomma? Itu tiket apa? Terus, kenapa kau bertingkah seperti orang gila sedari tadi?" Leeteuk ternyata masih menunjukkan raut bingung nya hingga berhasil membuat Sungmin menghentikan aksinya.

"Jadi dari tadi eomma belum mengerti maksudku?" Kali ini Sungmin balik bertanya sambil menunjuk dirinya. Namun Leeteuk yang masih belum mengerti pun hanya menanggapinya dengan anggukan walaupun masih dengan kerutan di alisnya.

Sedangkan Sungmin hanya bisa menghela nafas. Dengan sabar ia pun menuntun ibunya untuk duduk di atas sofa agar mudah baginya untuk menjelaskan apa maksud dari ekpresi bahagianya sekarang. Leeteuk pun hanya menurut ketika mereka sudah duduk dan kali ini Sungmin kembali menunjukkan tiket itu didepannya.

"Eomma tau ini tiket apa?"

"Molla.." jawab Leeteuk jujur dan berhasil membuat Sungmin hanya dapat mengehela nafasnya berat. Ia sudah menyangka jika sang ibu tidak mengerti sejak awal.

"Dimana kau mendapatkan tiket itu?" Tanya Leeteuk sebelum Sungmin meneruskan ucapannya. Gadis itu terdiam sebentar. Setelah menarik nafas, Sungmin pun kembali merekahkan senyum manisnya sambil perlahan menggenggam kedua tangan sang ibu sambil meremasnya pelan.

"Aku mengikuti sebuah audisi dan ternyata dinyatakan lolos eomma. Dan sekarang aku sudah resmi menjadi trainer di SM Entertainment." Sungmin berujar senang namun membuat Leeteuk semakin tak mengerti.

"Lolos audisi? Trainer? SM Entertainment?" Ulang Leeteuk dan dibalas anggukan oleh Sungmin.

"Jadi kau mengikuti audisi hari ini? Dan tidak sekolah?" Lanjut Leeteuk dan dibalas Sungmin dengan anggukan lagi namun lebih bersemangat.

Tidak kah Sungmin sadar jika kepala Leeteuk kini telah berasap namun Sungmin masih saja terlihat bahagia dengan memeluk-meluk tiket itu senang.

"Dasar anak nakal!"

CTAKK!

"Aww! Ya! Kenapa eomma malah menjitakku!" Protes Sungmin dengan shocknya ketika sang ibu malah melayangkan jitakkan sayang kekepalanya sembari melotot kearahnya.

"Kau ini bodoh atau apa sih? Apa kau tak sadar jika tahun depan kau harus berhasil masuk ke universitas tapi kau masih saja suka bermain-main seperti ini? Eomma tak habis pikir dengan jalan pikiranmu itu. Lebih baik kau hentikkan aksi gilamu itu dan fokuskan dirimu untuk sekolah. Jika kau tak menurut, eomma tak akan segan-segan membiarkannmu bebas diluar rumah. Ara!"

DEG!

Ucapan telak Leeteuk sontak saja membuat Sungmin terdiam kaku. Apa ini artinya sang ibu tak memberikannya restu?

"Eo-eomma. Eomma pasti hanya bercanda kan? Eomma tau, sebentar lagi aku akan menjadi artis jika aku lolos dalam training nanti. Aku hanya perlu berjuang mengalahkan pesaing yang lain. Dan jika aku berhasil, aku akan dipasangkan dengan seorang artis muda dan akan masuk Televisi. Apa eomma tak ingin jika Minnie bisa berhasil seperti itu?" Jelas Sungmin namun Leeteuk kembali melayangkan jitakan untuk kedua kalinya.

"Ya! Eomma!"

"Ternyata kau masih saja bersikap seperti anak kecil. Sadarlah jika kau itu sudah dewasa Minnie-ah. Yang tak pasti seperti itu saja kau harapkan? Lihatlah dirimu? Kau sadar jika ukuran badanmu tidak seperti gadis seumuranmu pada umumnya. Pesaing-pesaingmu itu pasti cantik-cantik kan? Apa kau yakin bisa mengalahkan mereka? Dari sisi penampilan saja eomma sudah merasa tidak yakin. Berhentilah mengkhayal yang tak pasti seperti itu Minnie-ah. Eomma tidak ingin kau menyia-nyiakan sekolahmu hanya untuk audisi yang tak berguna seperti ini. Dan jangan harap eomma akan memberikanmu restu untuk hal ini."

Ucapan Leeteuk tentu saja membuat Sungmin terdiam kaku. Terlebih penghinaan yang sang ibu lontarkan membuat Sungmin benar-benar tak terima dan tanpa sadar meneteskan air matanya.

"Eomma jahat…" Lirih Sungmin dan berhasil membuat Leeteuk yang semula ingin beranjak pergi menghentikan langkahnya dan menatap Sungmin yang kini tengah menunduk.

"Aku sadar aku ini anak yang bodoh. Aku sadar jika aku tak cantik. Aku sadar jika aku memiliki tubuh yang besar. Tapi apakah salah jika Aku berharap bisa mencapai cita-cita ku untuk menjadi seorang artis seperti yang ku impikan sejak kecil?"

Tanya Sungmin dengan memberanikan diri untuk menatap sang ibu walaupun matanya penuh dengan linangan air mata. Wanita itui hanya terdiam. Ia memang marah. Sangat marah. Namun perlahan amarahnya sedikit mereda ketika melihat secara langsung bagaimana air mata itu mengalir di atas pipi bulat anaknya.

"Baiklah. Akan ku buktikan pada eomma jika aku bisa terlihat kurus dan cantik seperti gadis pada umumnya. Aku berjanji akan bisa lolos training setelah ini. Dan jika aku gagal, eomma boleh mengatur hidup ku sepuas hati eomma!"

Setelah mengucapkan itu, Sungmin pun beranjak dari duduknya kemudian berlari menuju kamarnya dan memutup pintu bercat pink itu keras.

Leeteuk hanya bisa berjengit kaget mendengar hempasan pintu kamar tersebut kemudian mendengus pasrah. Wanita dewasa itu sebenarnya tak ingin membuat sang anak sedih. Ia hanya ingin Sungmin berhasil dalam sekolah, bukan dari jalur audisi yang tak pasti seperti itu. Apa ia salah jika berpikir secara rasional untuk kebahagiaan sang anak? Leeteuk pun hanya bisa memijit pelan pelipisnya kemudian berjalan gontai ke kamar.

.

.

.

"Hiks..hiks…eomma jahat! Hiks…"

Kepala Sungmin kini tengah tenggelam didalam bantal pink miliknya. Tak henti-hentinya ia meracau dengan mengatakan 'Eomma jahat' berulang kali, sesekali meremas pinggiran bantal yang ia tiduri.

1 jam berlalu. Merasa jika perasaannya sudah kembali pulih, Sungmin pun bangkit dari acara tiduranya dan mengucek kedua matanya yang terasa perih karena terlalu banyak menangis. Dengan gerakan pelan, gadis itu pun berjalan ke meja rias kemudian bediri tepat didepan cermin disana.

Dengan cermat, Sungmin memperhatikan lekuk tubuhnya dari atas sampai bawah dan terlihat sangat besar. Sungmin pun mencubit-cubit bagian pipi, lengan atas, perut, paha, dan kakinya yang penuh dengan lemak kemudian menghela nafasnya berat.

"Hahhh~ ternyata berat badanku sudah kelewat batas." Dengus Sungmin kemudian duduk diatas kursi yang berada didepan meja riasnya. Dengan gerakan pelan, telunjuk Sungmin pun menelusuri bayangannya dibalik kaca dan berhenti tepat diarah wajahnya.

"Kau lihat? Kau itu jelek, gendut, dan juga bodoh. Wajar saja semua orang merendahkanmu. Dan kau harus sadar jika itu akibat dari kesalahanmu sendiri…"

"Seandainya aku bisa berpikiran jernih kala itu.. Mungkin badanku tak akan menjadi monster seperti ini…" Lirih Sungmin sambil tersenyum miris dan berhasil menjatuhkan setitik air mata dibalik mata bulatnya.

Setelah menghela nafasnya berat, gadis itu memandang lekat bayangan badannya kemudian mengepalkan tangannya kuat.

"Akan kubuktikan bahwa aku ini pintar. Akan kubuktikan aku bisa menjadi cantik. Dan akan buktikan jika badanku akan menjadi kurus agar kalian tak bisa seenaknya menghinaku lagi." Ujar Sungmin bersungguh-sungguh dan ia akan membuktikannya setelah ini. Pasti!

.

.

.

Pagi ini tak seperti biasanya. Sungmin kini sudah siap dengan segala keperluannya bahkan pukul 6.30 pagi ini ia sudah tampak rapi dengan seragam yang ia kenakan.

Sungmin kini tengah melahap seperempat potongan roti dan segelas susu putih, kemudian dengan anggunnya menghabisi semua makanan disana dan melahap beberapa potongan apel sebagai hidangan penutup. Leeteuk, Kangin, dan Eunhyuk hanya bisa terheran-heran bahkan Eunhyuk kini hanya bisa menganga melihat kelakuan sang kakak yang terlihat sangat berbeda.

Setelah mengelap bibirnya dengan serbet yang ada, Sungmin kemudian bangkit dari duduknya dan menghampiri sang appa.

"Appa, Minnie berangkat ne?"

CUP~

Setelah berhasil mengecup pipi kanan sang Appa, Sungmin pun beralih menatap sang ibu namun ia tak berniat untuk mengecup pipi itu seperti biasanya.

"Eomma, Minnie berangkat.."

Sungmin pun berlalu pergi dan berhasil membuat ketiga orang tersebut terdiam, terlebih Leeteuk yang hanya bisa memandang Sungmin sendu. Kangin dan Eunhyuk yang tak mengerti dengan apa yang terjadi hanya bisa mengernyitkan alis mereka.

"Apa aku tak salah lihat? Kenapa Sungmin-eonni telihat berbeda pagi ini? Apa dia salah makan tadi malam?" gumam Eunhyuk namun bisa didengar oleh Kangin dan Leeteuk.

Kangin pun mengangguk setuju, namun ia tentu menyadari ada yang tidak beres dengan sang anak dan istrinya, terlebih Leeteuk yang sedari tadi terdiam lesu. Kangin pun hanya bisa menghela nafasnya kemudian berdehem pelan.

"Sudahlah Hyukkie-ah. Habiskan makanmu kemudian cepatlah berangkat. Sebentar lagi jam 7 dan Appa tak ingin kau terlambat lagi." Nasehat Kangin dan Eunhyuk membalasnya dengan anggukan.

"Ne Appa.."

.

.

.

Jam telah menunjukkan pukul 5 sore yang artinya merupaka jam pulang di Paran High School. Semua siswa dan siswi kini tengah berbondong-bondong keluar dari gedung sekolah mereka.

Dari arah toilet perempuan, sosok Sungmin keluar dengan baju kaos beserta celana training yang ia kenakan beserta handuk yang menggantung dilehernya. Sebuah earphone pun kini sudah terpasang dikedua telinganya dan dengan santai ia berlari kecil menelusuri halaman sekolah.

Sepertinya gadis itu berniat untuk melakukan jogging pada sore hari. Apakah ini artinya sebuah awal dari Sungmin untuk menurunkan berat badan?

Tas sekolah Sungmin kini sudah tergeletak tak berdaya di atas kursi panjang yang terdapat di pinggiran lapangan umum di dekat sekolahnya. Gadis itu sedari tadi sudah mengitari seluruh sisi lapangan dan saat ini merupakan putarannya yang kelima, namun Sungmin terlihat ngos-ngosan dengan peluh yang membanjiri seluruh wajah bahkan tubuhnya. Ia sudah mulai merasakan pegal dikedua kakinya, namun ia tetap bersikeras untuk tetap berlari karena ini bukanlah saatnya untuk menyerah.

Sungmin mencoba mengingat tips-tips yag ia temukan di internet tadi malam mengenai bagaimana caranya menurunkan berat badan? Salah satunya ialah dengan melakukan olahraga seperti ini. Sungmin berjanji ia tak akan menyerah hanya karena berlari seperti ini, ia yakin bahwa ia pasti sanggup melakukannya.

Ini sudah terhitung 1 minggu sejak Sungmin mencoba aktivitas barunya. Bahkan ia sekarang tak pernah lagi menyentuh coklat dan sekarang cemilan yang ia makannya hanyalah berbentuk sayur dan buah. Sungmin kini sudah rutin berolahraga dan sering pulang agak malam karena menghabiskan berjam-jam dilapangan.

Eunhyuk pun sadar ada yang tidak beres terjadi pada diri Sungmin, terlebih ketika Sungmin hanya mengkonsumsi sereal gandum untuk sarapan, memakan kentang sebagai sumber karbohidrat, bahkan mengkonsumsi buah untuk makan malamnya selama seminggu ini. Biasanya Sungmin akan memenuhi rasa laparnya dengan 3 mangkuk nasi, namun selama seminggu ini makan berkarbohidrat itu pun tak pernah lagi ia sentuh.

"Eonni? Apa kau tak lapar jika hanya makan buah saja?" Tanya Eunhyuk ketika Sungmin tengah melahap pisang ditangannya. Gadis bertubuh besar itu pun mengangguk pasti kemudian melanjutkan acara makannya. Merasa jika porsi makannya sudah cukup, Sungmin pun bangkit dari duduknya kemudian berjalan menuju kamarnya.

"Eomma? Apa kau melihat ada perbedaan di pipi Sungmin eonni. Sepertinya pipi itu tak lagi bulat beberapa hari ini." Bisik Eunhyuk didekat Leeteuk namun wanita itu hanya terdiam tak menanggapi. Hal itu tentu saja membuat Eunhyuk mengernyitkan alisnya dan memandang ibunya heran.

"Eomma? Kenapa kau lebih banyak diam selama seminggu ini? Eomma tau, itu membuatku takut." Cicit Eunhyuk sambil memeluk sendiri tubuh kurusnya. Leeteuk hanya bisa menghela nafasnya kemudian memilih untuk diam dan melanjutkan makannya.

"Aisshh..kalian berdua memang membingungkan!" Dengus Eunhyuk kemudian melanjutkan acara makannya dengan wajah yang tertekuk karena sebal.

.

.

.

Gludukk…gludukk~

Suara perut itu sudah rutin didengar oleh Sungmin selama seminggu ini. Ia memang bersikeras menahan rasa laparnya dengan cara mengkonsumsi makanan sehat dan rutin berolahraga, namun perutnya tidak bisa berbohong jika tengah tersiksa.

Bohong jika ia bisa melupakan coklat seminggu ini, bohong jika ia tidak merindukan 3 mangkuk nasi, dan bohong jika ia tidak menginginkan 1 mangkuk jumbo ice cream. Tapi mau bagaimana lagi? Ini merupakan sebuah tuntutan yang bersifat tantangan untuknya. Ia sudah berjanji untuk berubah, dan bukankah janji itu harus terpenuhi bukan?

"Bersabarlah Ming. Ini baru permulaan dan belum ada apa-apanya. Kau bahkan baru memulai, semangat!" Motivasi Sungmin untuk dirinya sendiri kemudian mengusap-usap perut buncitnya pelan.

"Bersabarlah perut. Ini juga demi kebaikanmu.." Gumam Sungmin walaupun dengan perasaan tak rela ketika mengucapkannya.

.

.

.

"Selamat siang semuanya. Selamat datang di agensi kami."

Seorang lelaki bernama Shin Dong Hee, yang merupakan salah seorang juri ketika audisi kemarin mulai menyapa 20 orang trainer yang berhasil terpilih dari ribuan calon trainer yang ada. Dan inilah yang patut Sungmin banggakan karena ia berhasil menjadi salah satu dari 20 orang trainer yang ada. Bahkan dia satunya-satunya memiliki bentuk badan yang berbeda namun merupakan kebanggaan tersendiri bagi Sungmin.

"Kalian akan mengalami masa traning selama 2 tahun dan melalui 2 tahap. 1 tahun pertama untuk penyeleksian calon trainer terbaik, sedangkan pada tahun kedua untuk persiapan debut bersama artis baru kami…."

"…Semuanya telah terhitung sejak hari ini. Untuk menempuh hal tersebut, kalian harus melewati masa training dan harus mematuhi semua peraturan yang ada. Jika kalian merasa tidak sanggup atau bahkan melanggar peraturan yang ada, kami tak akan melarang kalian untuk mengundurkan diri atau bahkan tidak segan-segan akan mengeluarkan kalian dari agensi ini jika kalian terbukti melanggarnya…." Lanjutnya dengan wajah serius dan berhasil membuat semua trainer disana terdiam.

"…Dan masalah artis baru, suatu saat kami akan memperkenalkannya kepada kalian tapi sekarang belum saatnya…."

"Yeaaahhh~…"

Terdengar keluhan dari semua gadis-gadis trainer disana tak terkecuali Sungmin. Mereka padahal sangat berharap bisa bertemu dengan sang artis baru, namun Shindong malah menunda acara pertemuan eksklusif tersebut.

"Bagi trainer yang masih sekolah, kalian masih bisa melanjutkan sekolah kalian karena kita akan melaksanakan masa training yang dimulai pada pukul 6 sore sampai dengan pukul 12 malam. Namun kalian akan menerima konsekuensi kelelehan karena aktivitas kalian yang padat setiap harinya. Aku harap kalian tidak akan mengeluh karena hal ini. Arasseo?"

"Ne~.." Jawab mereka semua pertanda mengerti dan dibalas senyuman oleh Sungmin. Itu artinya ia tak perlu merasa akan mengganggu aktivitas sekolahnya setelah ini.

"Salam kenal untuk semuanya. Semoga diawal 2007 ini adalah awal yang baik untuk kita semua? Saya juga berharap kalian bisa berkompetisi dengan cara yang sehat. Cukup perkenalan untuk hari ini. Selamat siang.."

"Siang…"

Setelah mengucapkan salam perpisahan, Shindong pun berjalan menuju ke ruangan lain meninggalkan 20 orang trainer yang saat ini tengah berbaur satu sama lain, terkecuali Sungmin. Semua trainer terlihat saling menjabat tangan bahkan sudah terlihat akrab, tapi kenapa sedari tadi tak ada satupun yang berniat untuk menyapanya?

Sungmin pun menoleh ke arah samping dan mendapati seorang gadis yang tengah berdiri sendirian diarah pojok sambil memandang datar kearah sekitar. Sungmin yang merasa jika gadis itu juga tak memiliki teman, akhirnya Sungmin pun mendekatinya dan mencoba menyapa gadis berambut coklat tersebut.

"Annyeong haseyo…" sapa Sungmin ramah dan berhasil membuat gadis itu menoleh kearahnya.

"Eh~ Ne, annyeong haseyo.." Balas gadis itu ramah disertai dengan senyum manis miliknya. Sungmin sempat tertegun karena yoeja itu ternyata membalas sapaannya tidak seperti gadis bermarga seo yang terkesan angkuh kemarin. Gadis itu terlihat memiliki mata yang bulat yang cantik dengan bibir merah muda yang tipis, membuat gadis itu terihat sangat cantik terlebih poni yang yang menutupi dahinya.

"Perkenalkan. Aku Lee Sungmin. Boleh aku tau siapa namamu?" Tanya Sungmin berniat untuk mengenal gadis itu lebih jauh. Gadis itu tampak terdiam sebentar, tak lama kembali memamerkan senyum manisnya.

"Aku Kim Haneul. Senang berkenalan denganmu Sungmin-sshi." Jawabnya ramah namun berhasil membuat Sungmin terkekeh.

"Tak usah sungkan denganku. Cukup panggil aku Sungmin atau Minnie saja itu sudah cukup kok." Sungmin balas berujar ramah dan gadis bernama Haneul itupun mengangguk mengiyakan.

"Hmm.."

"Uwooww~ Girls..coba kalian lihat? Si gadis gendut ternyata mencoba mencari teman eoh?" Sindir seorang gadis tinggi yang Sungmin kenal bermarga Seo tersebut kepada 2 orang gadis yang berada disisi kiri dan kanannya.

"Eoh? Jadi ini gadis yang kau maksud Johyun-ah? Ternyata dia memang memiliki tubuh sangat besar..Aahhaha…" Ejek seorang gadis pendek dengan rambut pirang yang ia miliki sambil menatap Sungmin rendah dari atas sampai bawah.

"Tentu saja Jess. Perkataanku tak mungkin salah. Dan bagaimana denganmu Fany-ah?" Tanya Johyun lagi kepada gadis yang satunya.

"Sangat besar ya? Aku kira kau hanya bercanda saat mengatakannya. Aku jadi heran, ilmu apa yang ia gunakan untuk bisa berada di agensi ini…." Ucapan gadis bernama Tiffany tersebut berhasil membuat Johyun, Jessica dan semua trainer yang mendengar sontak saja tertawa dengan kurang ajarnya, terkecuali Haneul. Ia hanya bisa terdiam mendengar penghinaan yang terlontar untuk satu-satunya gadis yang baru saja mengajaknya berteman. Sungmin sebagai seorang yang terpojokkan hanya bisa terdiam menahan amarahnya. Ucapan mereka tentu membuat hantaman keras dihati Sungmin, namun ia tetap berusaha untuk sabar. Percuma jika ia melawan karena tak akan menguntungkan juga baginya.

"Bukankah kau Kim Haneul? Dengar-dengar, kemampuanmu sangat hebat bahkan semua juri selalu menomor satukan dirimu. Kau juga seorang anak dari pengusaha nomor satu di Korea. Benar kata mereka, kau itu cantik dan juga terlihat manis. Pantas jika mereka memujimu. Tapi…" Johyun sengaja menghentikan ucapannya dan beralih untuk menatap Sungmin yang sedari tadi hanya menunduk.

"…Kenapa kau mau saja berteman dengan sei gendut ini? Apa kau tak malu jika parasmu yang cantik malah bersanding dengan gadis jelek seperti dia? Nanti jika kau tertular jelek bagaimana? Lebih baik kau berteman dengan kami agar kau masih tetap terlihat cantik. Ya kan girls?" Ejek Johyun lagi sambil menoleh kekiri kanan dan membuat Jessica dan Tiffany mengangguk semangat.

"Yupss..betul sekali…"

Haneul hanya diam tak menanggapi, berbeda dengan Sungmin yang telah mengepalkan tangannya kuat dengan wajah yang terlihat memerah. Ia benar-benar sudah tak bisa menerima penghinaan yang Johyun lontarkan. Dengan kepala berasap, Sungmin pun berniat untuk melayangkan tinjunya, namun ia urungkan niat tersebut setelah mendengar ucapan yang Haneul lontarkan.

"Lebih baik aku berteman dengan Lee Sungmin yang baik dan juga ramah, tak seperti kalian yang sama-sama memiliki mulut seperti manusia-manusia yang tak pernah menginjakkan kaki di sekolah. Ja, Minnie-ah. Lebih baik kita menjauh dari orang-orang yang tak berguna seperti ini."

Setelah mengucapkan hal tersebut, Haneul pun menarik Sungmin pergi menjauh dari sana, menyisakan 3 orang gadis angkuh yang hanya bisa terdiam kaku mendengar ucapan tak terduga dari Haneul.

"M—mwo? D—dia bilang kita tak ber—berguna? Ommo! Ommo! Aku mendadak pusing mendengarnya?!" Jessica berujar berlebihan sambil memegangi kepalanya yang mendadak berdenyut sakit.

"Aku tak menyangka dia berani mengatakan itu pada kita. Aishh..jinjja!" Dengus Tiffany sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan kipas merah muda yang sedari tadi ia bawa.

Johyun yang sedari tadi diam akhirnya hanya mendecih kemudian menatap punggung kedua gadis yang berjalan menjauhi mereka. Tak lama gadis itu pun tersenyum sinis kemudian memandang Sungmin dan Haneul dengan penuh kebencian.

'Kau berani mengataiku eoh? Lihat saja, pembalasan akan lebih kejam setelah ini. Kim Haneul dan Lee Sungmin!'

.

.

.

"Gomawo Haneul-sshi.."

Sungmin dan Haneul kini tengah duduk berdua di bangku taman yang berada dihalaman gedung SM Entertainment. Setelah insiden tadi, Haneul menarik Sungmin untuk kesini karena tempat inilah yang paling teduh bahkan disuguhi oleh hamparan bunga disana.

"Tak usah sungkan. Dan cukup panggil aku Haneul saja Minnie-ah. Sama seperti apa yang kau minta padaku untuk memanggilmu tadi." Ucap Haneul kali ini tanpa menoleh kearah Sungmin.

Sungmin pun mengangguk pasti sambil melayangkan senyum manisnya walaupun tak dilihat oleh Haneul karena gadis itu tak sekalipun menoleh kearahnya. Sungmin pun dapat menyimpulkan jika Haneul adalah seorang gadis yang terlihat pendiam dan cuek diluar namun terkesan hangat didalam.

Lama mereka terdiam sambil memperhatikan gemercik air mancur didepan mereka. Karena merasa bosan, akhirnya Sungmin memilih untuk memulai sebuah obrolan untuk mengusir kecanggungan diantara mereka.

"Haneul-ah. Boleh aku tanya sesuatu?" Tanya Sungmin sambil menatap Haneul yang kini melihat kearah depan. Mendengar jika Sungmin mengajaknya bicara, Haneul pun menoleh dan mengangguk mengiyakan.

"Seperti yang dikatakan oleh Johyun tadi. Bukankah kau seorang anak pengusaha? Apa kau memiliki alasan khusus untuk mengikuti audisi ini?" Lanjut Sungmin namun dengan hati-hati karena sebenarnya merasa tak enak untuk menyangkut pautkan masalah derajat dalam percakapan mereka.

Haneul pun tampak terkejut dengan pertanyaan yang dilayangkan oleh Sungmin namun gadis itu sempat menutupinya. Haneul pun menghela nafas sebentar kemudian kembali menatap kearah hamparan bunga-bunga disana.

"Ada sesuatu yang membuatku harus mengikuti audisi ini. Aku melakukannya karena aku ingin memiliki apa yang aku impikan selama ini. Dan bagaimana denganmu?" Tanya Haneul balik seolah mengalihkan topik pembicaraan mereka. Sungmin sempat terdiam mendengar jawaban Haneul kemudian tak lama merekahkan senyumannya.

"Tujuan kita hampir sama. Aku juga sudah lama memimpi-mimpiakan hal ini bahkan sejak aku kecil dulu."

'Sejak kami kecil lebih tepatnya….' Batin Sungmin sendu namun ia berhasil menutupinya.

"..Semoga kita sama-sama bisa mencapai impian kita nantinya.." Lanjut Sungmin penuh harap dan membuat Haneul kembali menatapnya. Haneul pun mengangguk dan membuat Sungmin tersenyum.

"Aku harap kita dapat menjadi teman baik setelah ini Haneul-ah.." Ucap Sungmin dan kali ini Haneul menanggapinya dengan senyuman.

"Ne. Aku pun berharap seperti itu, Sungmin-ah…"

.

.

.

Sungmin kini tengah mengitari lapangan umum seperti biasanya. Jam telah menunjukkan pukul 8 malam namun ia belum juga menghentikan aksinya. Ini sudah terhitung 10 kalinya ia mengitari lapangan dengan tergopoh-gopoh namun ia tetap memaksakan dirinya untuk tetap berlari.

Merasa jika ia sudah sangat lelah, Sungmin pun berjalan gontai kearah tengah lapangan dan menggulingkan tubuhnya diatas hamparan rumput hijau disana.

"Hahh..hahh..haahh..haahh~" Deru nafas Sungmin terdengar bersahutan dan peluh kini sudah membanjiri seluruh wajah dan badannya. Untuk membuka mata saja ia sudah merasa tak sanggup lagi , bahkan ia serasa ingin pingsan saja sekarang.

ZZZESSHHH~

Sesuatu yang dingin kini malah terasa menempel dipipi Sungmin dan tentu membuat gadis itu mengernyitkan alisnya. Ia hanya bisa merutuki siapa pun yang berani mengganggu istirahatnya. Dengan perlahan, gadis itu membuka pelan matanya dan mendapati siluet bayangan hitam berdiri tepat didepan wajahnya.

"HUWAAA!"

BRUGHH!

"AWW!"

Karena merasa terkejut, Sungmin dengan tegannya menendang sesosok bayangan hitam tadi hingga membuat sosok untuk terlempar kearah samping. Tapi tunggu, jika itu hantu kenapa dia malah mengaduh?

Dengan susah payah, Sungmin pun bangkit dari acara berbaringnya dan menengok untuk melihat siapa yang berhasil ia tendang tadi.

Betapa terkejutnya Sungmin ketika tengah mendapati seorang namja berkulit pucat tengah tersungkur disebelahnya dengan memegangi bagian privatnya.

"Ommo! Guixian-sshi!" Teriak Sungmin kemudian cepat-cepat bangun dari acara berbaringnya dan mendekati namja itu.

"Argghhh~" Rintih Kyuhyun sambil memegangi bagian privatnya tersebut dan membuat Sungmin terkejut.

"Ommo? Apa aku menendangnya? Sini biar aku lihat…" Baru saja Sungmin berniat untuk ikut menyentuh 'bagian' tersebut, Kyuhyun yang mendengar keinginan Sungmin sontak saja membulatkan matanya kemudian berteriak sembari menjauh dari Sungmin.

"Huwwaa~ JANGAN!" Teriak Kyuhyun histeris sembari memeluk seluruh tubuhnya. Sungmin sontak saja mengernyitkan alis melihat tingkah aneh namja tersebut kemudian memanyunkan bibirnya.

"Wae? Kenapa kau berlebihan seperti itu? Aku kan hanya ingin memastikan bahwa kau terluka atau tidak setelah ku tendang tadi." Jelas Sungmin namun Kyuhyun malah menggelengkan kepalanya.

"Tapi k—kau berniat untuk melihat ke bagian 'itu'. Jelas saja aku menolak." Ujar Kyuhyun gugup namun Sungmin masih saja mengernyitkan alisnya.

"Lho? Memangnya ada masalah jika aku melihat bagian it—…"

"Tentu saja ada Sungmin-ah! Yang mau kau lihat itu masalahnya adalah letak 'masa depanku'! Aishh..kau ini terlalu polos atau bagaimana sih?!" Tanya Kyuhyun frustasi menghadapi tingkah Sungmin yang sudah sangat kelewat polos menurutnya.

Sungmin hanya memanyunkan bibirnya mendengar ocehan namja tersebut, kemudian dengan sebal kembali menjauhi Kyuhyun. Kyuhyun yang semula mendumel walaupun sebenarnya untuk menutupi rasa gugupnya, sontak saja menatap heran Sungmin yang malah berjalan menjauhinya kemudian kembali berbaring ditempatnya semula.

"Hahh~.." Dengusnya sambil menatap langit malam yang terlihat indah dengan taburan bintang diatasnya.

Kyuhyun pun yang sudah merasa baikkan walaupun masih merasakan denyutan-denyutan sakit dibagian sana memilih untuk mendekati Sungmin kemudian duduk di sebelah Sungmin.

"Sudah berapa lama kau memulai aktivitas lari seperti ini?" Tanya Kyuhyun sambil menatap Sungmin yang tengah berbaring disampingnya. Merasa jika Kyuhyun mengajaknya bicara, Sungmin pun mendongak dan mendapati Kyuhyun juga kini tengah menatapnya.

Sungmin sebenarnya malu mendapat tatapan seperti itu, namun ia mencoba untuk menutupinya dan memilih untuk kembali menatap ke arah langit.

"Hampir 2 minggu.." Jawab Sungmin jujur dan Kyuhyun hanya mengangguk.

"Untuk apa kau melakukannya? Apa kau tak lelah jika terus berlari setiap hari?" Tanya Kyuhyun lagi namun membuat Sungmin tersenyum kecil.

"Ani. Bagiku ini sebuah tantangan. Bukankah untuk bisa mencapai impian itu butuh sebuah usaha?" Ucapan Sungmin sontak membuat Kyuhyun terdiam namun tak lama namja tersebut mengulum senyum manis miliknya.

"Apa yang kau katakan memang ada benarnya." Balas Kyuhyun menanggapi dan membuat Sungmin terkekeh pelan.

"Oh iya, kenapa kau bisa ada disini?" Tanya Sungmin tiba-tiba dan berhasil membuat Kyuhyun gelagapan.

"A—aku tadi habis dari Supermarket…dan.."

"Hm?" Sungmin kian menanti jawaban dari Kyuhyun dan menatap Kyuhyun yang tengah bergerak gelisah.

"Dan…ya…aku kebetulan lewat. Karena aku melihat kau terlihat lelah ya aku bawakan…ini..ya ini minuman untukmu.." Lelaki itu terlihat sangat gugup. Dengan canggung ia pun menunjukkan sekaleng minuman isotonic tepat didepan wajah Sungmin.

Merasa pegal jika harus mendongak terus seperti tadi, akhirnya Sungmin pun bangkit dari acara berbaringnya dan mengambil kaleng yang disodorkan oleh Kyuhyun.

"Gomawo Guixian-sshi." Gadis itu tersenyum tulus hingga berhasil membuat Kyuhyun terdiam kaku. Walaupun Sungmin memiliki wajah yang bulat, namun bagi Kyuhyun wajah manis tersebut tetap terlihat dan Kyuhyun tentu terpesona melihatnya.

"Manis.."

"Kau bilang apa Guixian-sshi?" Gadis itu mengernyitkan alis ketika mendengar lirihan yang keluar dari bibir Kyuhyun. Namun lelaki itu dengan cepat mengibaskan tangannya kemudian terkekeh kecil untuk menutupi rasa gugupnya.

"A—ani.. Aku tak bilang apa-apa. Mungkin kau salah dengar.." Jawabnya gugup namun Sungmin hanya mengangguk mengiyakan. Gadis itu pun memilih untuk menikmati minuman miliknya, menyisakan Kyuhyun yang hanya bisa merutuki bibirnya yang hampir saja kelepasan.

'Hahh~ bersyukur dia tak mendengarnya. Jika tidak, habis lah aku…' Batin Kyuhyun sambil menatap Sungmin yang masih menikmati minuman dinginya, sesekali mengernyitkan alisnya ketika merasakan rasa asam pada minuman tersebut.

Kyuhyun pun hanya bisa mengulum senyumnya tanpa mengalihkan tatapanya pada gadis yang selama ini mengisi relung hatinya.

'Dilihat dari sisi manapun kau tetap cantik. Walau bagaimanapun rupamu Minnie-ah, selamanya aku akan tetap mencintaimu…'

.

.

.

to be Continued….

.

.

.

Heiii heeiii… Chapter 4 is UPDATE!

Makasih banget untuk sudah yang nyempetin review walaupun tidak sesuai dengan harapan T.T

Padahal kemaren kita udah bahagia dengan kyumin moment yang perlahan mulai bangkit, semoga dengan itu ff KYUMIN bakalan kembali booming ya biar Author dan Readers sama-sama bisa menikmati ff KYUMIN lagi ^^

Untuk yang mempermasalahkan keberadaan Nona Ubi alias Seo disini, maaf saya gak bisa mengganti karakternya nya karena mau gak mau dia udah terlanjur saya tempatkan pada karakter yang pas. Tapi dengan catatan, dia bukan sebagai orang ketiga dalam hubungan kyumin, tapi hanya sebagai bagian dari orang jahat saja. Kalian pasti sudah bisa menebak kan siapa orang ketiga dalam hubungan kyumin? Bahkan karakternya sudah muncul di chap ini? Silahkan menebak nebak guyss… hihihi

Oh iya, untuk yang bertanya masalah tahun lahir Kyuhyun. Kenapa di tahun 1988 dia masih seumuran sama anak SMA yaitu sekitar 17-an sedangkan Sungmin berusia sekitar 19-an tahun? Saya sudah memberikan klarifikasi pada chap ini kalo Shin Dong Hee menyebut jika saat ini mereka masih berada dipertengahan tahun 2007. Artinya saat ini, Sungmin menempati kelas 12 atau lebih tepatnya kelas 3 SMA. 2 Tahun dia gunakan untuk masa training, nanti ada chap yang bakal menjelaskan kapan masa trainingnya selesai, tapi itu masih lama yaaa? ^^

Maaf kalo penjelasannya ribet. Tapi saya memberikan banyak-banyak terima kasih kepada laelikyumin137elf yang dengan berbaik hati memberikan koreksi pada ff ini, juga buat semuanya yang sudah meluangkan waktu untuk menuliskan kata-kata penyemangat di kotak review. Tengkyu so much guyssss #HugAtu-atu~

Mungkin itu aja yang cuap-cuap dari saya. Saya harap chap berikutnya akan lebih banyak lagi review lagi yang bertebaran. Makasih semuanyaaa ^^

.

.

.

Thanks' to :

Park RinHyun Uchiha, ovallea, LittleOoh, Michiko Haruna, sanmayy88, chjiechjie, Guest, Orange girls, Miss Cho, laelikyumin137elf, wdespita elfjoy, and silent readers ^^