Miki kembali~~~ yeahhh~~~ lanjutannya udah keluar. Terima kasih karena sudah mendukung Miki. Silahkan dinikmati.

Salam sayang, Miki xD

Semua chara adalah milik Vocaloid

###

"Mi-Miku." Kaito meneguk ludahnya cepat, matanya masih melebar tidak percaya melihat Miku kini ada di hadapannya dengan mata yang berkaca sedih.

"Aku mencarimu," gadis tosca itu menunduk, menyembunyikan wajahnya dari Kaito. Terlihat jelas bahwa gadis itu tengah menangis, pundaknya bergetar.

Kaito terenyuh, hatinya terasa diiris tipis kala melihat gadisnya itu menangis dalam diam. Perlahan, kedua tangan Kaito meraih pundak Miku dan menariknya dalam pelukan hangat Kaito. Pria itu menggumamkan kata maaf dan penyesalan di dekat telinga Miku.

"Aku akan ke dalam duluan."

Kaito lagi-lagi tersentak. Ia baru menyadari bahwa ada sosok Meiko di dekatnya. Secepat kilat Kaito melepaskan pelukannya dan membuat Miku terkejut.

"Me-Mei-!" Kaito meraih dan menggenggam lengan Meiko yang hampir melewatinya. "Kau jangan salah-"

'Blarrrrrrr'

Suara petir yang tiba-tiba itu menghentikan ucapan Kaito, dan hujan deras tiba-tiba turun saat malam seperti ini. Kaito bahkan bersumpah serapah dalam hati.

Meiko mendelik pada Kaito, aura hitam seolah menguar di sekitar sang gadis eboni, "Itu bukan urusanku." Meiko segera mengebaskan tangannya, membuat pegangan Kaito terlepas. "Selesaikan saja urusanmu, aku tidak berminat menonton drama picisan yang kau tawarkan." Bahkan sebelum Kaito bisa memprotes, Meiko sudah lebih dulu meninggalkannya tanpa berbalik.

Ada perasaan sakit yang dirasakan Kaito kala Meiko begitu dingin dan tak peduli padanya. Namun cepat-cepat Kaito menggelengkan kepalanya, ia hanya terbawa suasana.

"Kaito-kun..." Miku meringis, melihat kekasihnya begitu peduli pada tunangan bisnisnya itu. Punggung pria di hadapannya itu berdiri tegap, dan kepalanya tak beralih dari pintu di mana Meiko menghilang.

"Kita harus mengakhiri hubungan ini..."

Iris Miku membesar, menatap tak percaya pada Kaito yang tengah menundukkan kepalanya sebagai permintaan maaf. Teh yang baru saja dipesan Miku untuk mereka berdua baru saja tiba lima menit lalu, bersamaan dengan dua potong cheese cake. Baik Miku ataupun Kaito sama-sama belum menyentuh pesanan itu.

"Ke... Kenapa tiba-tiba Kai-"

"Ini bukan tiba-tiba Miku, aku sudah memikirkannya sejak jauh-jauh hari. Berapa kali pun aku menyangkal, kita memang tidak bisa bersama." Kaito berucap lirih, ia masih belum menegakkan kepalanya. Ia terlalu takut melihat wajah Miku yang terluka.

"..."

"Ini semua kulakukan untukmu, juga untuk perusahaan keluargaku. Meiko... Maksudku Sakine-san berjanji tidak akan mengusikmu. Kau akan tetap mendapatkan beasiswa dan bisa memilih lelaki yang akan mendampingimu kelak tanpa beban. Aku hanya ingin kau bahagia, meski tanpa aku..."

"Tapi aku... Mencintaimu... Aku ti-tidak... Tidak mau berpisah..."

Suara itu jelas Miku menangis kini, dengan sepenuh tenaga Kaito menggenggam tangannya hingga buku jarinya memutih. Ia harus kuat, bagaimana pun ini untuk kebaikan mereka semua.

"Maaf, aku benar-benar minta maaf..."

"Kau lebih mementingkan perusahaanmu dari pada kebahagiaan kita?" tanya Miku denfan suara parau.

"Ya, dalam perusahaan itu ada ribuan pekerja yang menggantungkan nasib keluarga mereka pada perusahaan kami. Aku tidak ingin egois, tidak bisa membiarkan seperti itu terjadi."

"Bahkan mengorbankan aku?"

"Ya."

"Berapa lama, kau akan menikah dengan Sakine-san?" Miku mendapati Kaito menggeleng lemah. "Aku akan menunggu..." Kepala Kaito terangkat kala Miku menggantungkan kata-katanya. "Aku akan menunggu Kaito-kun bercerai dengan Sakine-san. Sampai kapan pun!"

Miku masih sangat mengingat jelas bagaimana ia dicampakkan oleh Kaito. Bahkan demi kakak tiri yang selalu jahat padanya. Semua tidak adil. Bahkan dalam benak gadis tosca itu, rasa khawatir menumpuk. Ketakutan akan kekasihnya itu akan berpaling darinya terbukti.

Dengan memakai taksi yang harganya tak sedikit, ia mendatangi kediaman Shion, dan mendapati kabar bahwa Kaito pergi menuju vila Shion. Miku tahu alamat itu, ia beberapa kali datang dengan Kaito.

Tapi kini ia harus mendapati Kaito datang bersama dengan Meiko. Hatinya berteriak nyaring tidak terima.

"Kaito-kun..." sekali lagi Miku memanggil kekasihnya itu.

Kaito berbalik, terlihat wajah kesakitan dan lelah di wajah tampan Kaito, membuat Miku terdiam.

"Sebaiknya kau juga menginap, sepertinya akan ada badai."

###

Meiko mendudukkan tubuhnya pada pinggiran tempat tidur, menghela nafas panjang.

"Apakah nona akan makan atau mandi?" tanya seorang pelayan yang tadi mengantarkan Meiko ke kamarnya.

"Aku akan mandi dan langsung tidur saja. Aku lelah."

Pelayan itu sedikit meringis tidak enak. "Tapi nona, jamuan makan malam sudah dipersiapkan. Bahkan sangat romantis... Ups!" pelayan itu segera merutuk ketika kejutan makan romantis rahasia itu terucap. Beberapa kali ia menepuk pelan mulut embernya.

Sedangkan Meiko mengernyit bingung. Makan malam romantis?! What the?

Apakah pria Shion itu tengah gencar menddkatinya?! Oh yeah, tentu saja. Mereka akan segera menikah dan hubungan mereka masih jalan di tempat.

Tapi bagaimana bisa rencana itu berjalan lacar bila ada Miku Hatsune di sini. Meiko bahkan bersumpah ia benar-benar merutuki saat di mana Kaito memeluk Miku mesra di saat Meiko ada di sampingnya. Cemburu? Tidak tentu saja tidak, ia hanya terlalu terkejut. Hanya itu.

"Nona... Maafkan saya."

Suara pelayan itu membuyarkan lamuna. Meiko.

"Nona, waktunya makan malam." seorang pelayan tiba-tiba masuk dan menghampiri Meiko. Dia wanita paruh baya.

"Apakah ada Miku yang ikut bergabung?"

Merasa ragu, pelayan paruh baya yang baru datang itu diam.

"Jawab saja."

"Ya nona, karena sepertinya akan ada badai, nona Miku juga akan menginap di sini."

Meiko mengangguk paham. "Sebentar lagi aku akan turun..."

Sebenarnya Meiko sendiri tidak mengerti kenapa ia harus tetap ada di vila ini bersama adik tirinya itu. Terlebih saat ini, di mana ia harus makan satu meja bersama dengan Kaito. Siapa di sini yang menyelingkuhi siapa? Meiko telah bertunangan dengan kekasih Miku, dan Kaito masih mempertahankan Miku. What the hell? Kenapa ia harus mau menjadi salah satu pemeran kisah cinta picisan ini? Menggelikan!

Meiko melirik pada Miku yang ada di hadapannya, ia terlihat tidak menyentuh makanannya sama sekali. Begitu pun Kaito yang hanya sedikit menyentuh makanannya. Apa memang hanya dirinya yang makan seolah tidak terjadi apa-apa? Meiko hanya tidak mau terbangun tengah malam karena lapar. Jadi ia akan memakan semua makanan yang ada hingga perutnya penuh, supaya ia juga bisa tidur nyenyak. Tak peduli bila ia disebut rakus. Tidak peduli.

"Besok pagi, supir akan mengantarmu pulang Miku. Aku yakin besok akan cerah."

Kalimat itu sukses membuat Miku yang sejak tadi tertunduk dalam, langsung menegakkan kepalanya dan memandang ke arah Kaito tak percaya. Lalu manik tosca itu beralih pada Meiko yang memandangnya tak peduli. Sorot mata polos itu berubah nyalang kala bertemu dengan manik madu milik Meiko. Meiko tidak bergeming, ia sama sekali tidak peduli dengan intimidasi itu.

"Miku..." Panggilan Kaito-lah yang sudah memutus kontak mata itu. Miku kembali memandang sang pangeran biru. "Tolong ingatlah, hubungan kita sudah berakhir..."

'BRAKKK'

Miku menggebrak meja, membuat Meiko menghentikan acara makannya, dan Kaito menunggu respon Miku.

Gadis tosca itu menggeleng cepat, kuciran ponitayl-nya menari dengan kasar di udara. "Aku tidak mau!" dengan tetiakan sepenuh hati itu, Miku berlari dari jamuan makan malam menuju kamar yang biasa ia gunakan bila menginap di sini.

Meiko menangkupkan alat makannya, dan melap bibirnya dengan serbet, mengakhiri acara makan malamnya.

"Aku akan ke kamar lebih dulu." Meiko bangkit dari kursinya, namun tangan Kaito menahannya.

"Ini tidak seperti yang kau pikirkan."

Meiko mengernyit, iris biru itu memandangnya memohon. "Memang kau pikir apa yang kupikirkan?"

"Kami benar-benar sudah berakhir, jangan sakiti dia. Aku akan bicara padanya."

Ha-ha... Haruskah Meiko peduli?

"Aku tidak peduli, urusi apa yang perlu. Hingga waktu pernikahan, itu adalah batas waktu maksimal kau bisa menyingkirkannya." desis Meiko pelan. Tidak peduli pada kegundahan tunangan bisnisnya tersebut.

###

Meiko menarik selimut tebalnya hingga dagu, sudah dua jam dan ia masih juga belum bisa tidur. Mungkin membuat segelas susu hangat akan membantu, jadi Meiko turun dari tempat tidur.

Segelas susu hangat sudah siap, tampaknya para pelayan memang sudah tidur, ia jadi harus membuat susu hangatnya sendiri. Membuat air panas dan menunggu cukup lama banginya.

Meiko terdiam ketika melewati kamar Kaito, ia menyipit dan melihat ada celah di pintu itu.

"Miku..."

Suara rintihan itu membuat bulu kudug Meiko meremang, tapi karena rasa ingin tahunya yang tinggi akhirnya Meiko mendekat dan mengintip apa yang terjadi. Hanya butuh nol koma persekian detik untuk membuat mata Meiko melebar dengan mulut ternganga.

Di sana, Meiko melihat Kaito tengah mencium dengan penuh tuntutan pada Miku. Tangan pria itu bergrilya pada tubuh Miku yang tertidur pasrah di atas tempat tidur dengan Kaito di atasnya.

'PRANG'

Suara itu membuat Kaito terkesiap, dengan cepat memakai handuk kimono-nya dan membuka pintu. Tidak ada siapa pun, hanya ada segelas susu yang kini mengotori lantai bersama pecahan beling. Saat itu juga Kaito mengepalkan tangannya sekuat tenaga.

Meiko terengah, jantungnya bertalu tak wajar. Ia kaget dan syok. Melihat pemandangan seperti itu membuat perasaannya bergolak marah, tapi ia sendiri tidak mengerti untuk apa?

Meiko kembali menarik selimut tebalnya. Ia terlalu panik. Lalu sebuah nada dering ponsel menyentaknya, Meiko menjulurkan tangannya ke atas nakas meraba keberadaan ponselnya yang masih berbunyi nyaring. Katcha, Meiko segera melihat siapa yang menghubunginya tengah malam seperti ini, dan rupanya itu Gakupo.

"Maaf aku menelepon malam-malam begini." ucap Gakupo di seberang sana.

"Um.. Ada apa?" jawab Meiko, ada sedikit nada bergetar di sana.

"Kau baik-baik saja?"

"Ya," Ada perasaan hangat dan nyaman tiap kali pemuda Kamui itu mengkhawatirkannya. Perasaan gundahnya seolah menguap begitu saja. "Kenapa menelponku? Apa kau merindukanku?" Meiko terkekeh, ia bersyukur Gakupo-lah yang tengah memvantunya untuk menata lagi perasaan kacau yang dialaminya tadi.

"Kurasa begitu," Meiko tersenyum, "Kudengar kau menginap di vila Shion?"

Mwndengar pertanyaan Gakupo membuat ia merasa kembali terhepas. "Ya, dari mana kau tahu?"

"Aku ke rumahmu sore tadi." ucap Gakupo sendu.

"Kenapa tidak langsung menghubungiku?"

Gakupo menggeleng. "Mungkin karena aku terlalu marah."

"Gakkun..."

"Hei Meiko, apakah kau akan tetap melanjutkan permainan bisnis ini?" Gakupo menghela nafas. "Tidak bisakah dibatalkan dan selanjutnya kita yang bersama?"

Tidak ada jawaban apa pun dari Meiko. "Kuharap tidak terjadi apa pun selama kau di sana."

Meiko meneteskan air matanya tanpa sadar, sesak sekali mendengar Gakupo begitu menamba dirinya. Demi , Meiko harus mempertaruhkan hubungannya dengan Gakupo yang sudah berjalan beberapa bulan ini, menyembunyikannya dengan apik.

"Gakkun.." Meiko memanggil Gakupo dengan perasaan penuh rindu. "Aku merindukanmu..."

Tanpa Meiko sadari, seseorang tengah berdiri di ambang pintu kamarnya dengan perasaan terkejut.

Tbc

Sankyuu buat yang dukung Miki, cerita ini masih berlanjut loh~~~ xD

Special thanks,

Akumarine : hehe kenapa ya Miku ada di vila? Mungkinkah ada alasan lain? #plakk

Panda Dayo : Siapa itu alien suka sate? Haha... Yah sebenarnya mereka memang sudah putus... 'Seharus'nya gitu~ wkwkwkwk

Miyu Tanuki : Berhenti di saat deg-degan itu penting,, cie... Haha yah pokoknya lanjutannya bakal membuka sisi lain Meiko perlahan~~~ xDD

Pokoknya sankyuuu minna~~~~ LoPe UUUUUU :3

Padalarang, 6 Januari 2016

Onimaru Miki, Fransiska