Ramai dan hening, dua kata bertolak belakang yang menggambarkan suasana perpustakaan saat ini. Waktu berlalu begitu cepat hingga tak terasa Ujian Akhir Semester sudah di depan mata. Kegugupan dan ketegangan melanda bak wabah, membuat perpustakaan selalu penuh oleh para mahasiswa yang mendadak menjadi rajin.
Kuroko bersyukur ia mendapatkan tempat duduk, atau setidaknya lega tak ada yang mengambil spot favoritnya—sebuah meja terpencil di sudut kiri ruangan. Ujiannya akan berlangsung satu jam lagi dan ia bertekad untuk memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Namun, beberapa menit terlewat dan tak ada satu pun kata yang tersangkut di kepalanya.
Ia tak bisa fokus.
Tidak ketika pemuda bersurai scarlet duduk dengan tenang di depannya.
Tanpa sadar ia membalik halaman buku terlalu keras, mengundang perhatian dari pemuda di depannya.
"Ada yang salah, Tetsuna?"
"Ah, tidak. Maaf mengganggumu, Akashi-kun."
Hari ini ujian memasuki minggu kedua alis terakhir, yang berarti sudah beberapa kali dalam seminggu Kuroko bertemu mantan kaptennya di perpustakaan. Ia tidak tahu kenapa, tapi pemuda itu selalu datang di waktu yang tepat dan berhasil menemukan dirinya—seperti cenayang. Alhasil, mereka selalu berakhir belajar bersama sebelum salah satu dari mereka pergi.
Seperti saat ini.
Tak ada yang mereka lakukan selain membaca dan sesekali menulis, Akashi bahkan tidak mengajaknya berbicara. Tapi keberadaan pemuda itu sendiri sudah cukup membuatnya tak nyaman. Oleh karena itu, ia mendesah lega dalam hati ketika sesosok familiar mendekat dan bergabung bersama mereka.
"Tetsu-chan! Dan, ehh... Akashi-kun?"
.
.
Fated to You
Romance/Drama/Hurt
Akashi x Fem!Kuroko
Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki
DLDR!
.
.
CHAPTER 3
.
.
Kuroko menatap selembar kertas di tangannya tanpa ekspresi. Seharusnya ia tahu kedatangan Momoi tak pernah disertai kabar baik. Masih segar diingatannya senyum ceria gadis itu saat mereka bertemu dua hari lalu.
"Taman bermain?" beonya.
"Akhir pekan ini," ujar Momoi semangat. "Pamanku memberi banyak tiket dan aku berencana mengajak kalian semua. Anggap saja sebagai penyegar setelah ujian berakhir. Bagaimana?"
"Ide bagus," sahut Akashi, sesuatu berkilat di matanya. "Kau akan pergi, kan, Tetsuna?"
Betapa Kuroko berharap untuk kembali memutar waktu dan mengatakan tidak. Tapi nasi sudah berubah menjadi bubur. Ia bahkan berusaha mengabaikan godaan untuk membuang tiket di tangannya dan berdalih hilang—meski ia ragu Momoi akan diam saja. Gadis itu sudah pasti akan memberinya tiket baru.
Mendesah, ia kembali memasukkan tiketnya ke dalam tas lalu melenggang keluar kafetaria. Ia baru saja menyelesaikan makan siang setelah berhasil melewati ujian dengan perut kosong.
Mata-mata mengawasi pergerakannya yang melintasi koridor fakultas. Hawa keberadaannya yang tipis kini seolah menghilang ketika tiap pasang mata berhasil menemukannya, dan ini semua berawal dari artikel tentangnya yang dimuat di majalah kampus. Momoi benar tentang klub jurnalistik yang berniat mewawancarainya dan ia tak kuasa menolak ketika gadis bersurai pink itu memohon padanya.
Jadilah dengan berat hati ia menerimanya. Meski ia tak mengira ternyata cukup banyak orang mengenalnya.
"Kurokocchi~!"
Kuroko yang baru saja menginjakkan kaki di rumput halaman mendesah. Kise adalah orang terakhir terakhir yang ingin ditemuinya hari ini.
"Kise-kun," sapanya datar seraya berusaha menghindar saat Kise hendak memeluknya. Namun bukannya merengek seperti biasa, pemuda itu justru berseri-seri.
"Ne, ne, Kurokocchi, apa kau mendapat tiket taman bermain dari Momocchi?" tanyanya antusias.
Kuroko mengangguk.
"Apa kau akan pergi?"
"Ya."
"Benarkah?!" Kise berseru senang, lalu tampak malu-malu dan mulai bermonolog sendiri. "Astaga, akhirnya aku akan berkencan dengan Kurokocchi-ssu! Aku tidak percaya ini! Selama ini dia selalu menolak ajakanku-ssu!"
"Kita akan pergi bersama yang lain, Kise-kun."
Tapi pemuda itu tak mendengarkan, terlalu terbuai dengan dunianya sendiri. Hingga akhirnya dia pamit dan melambai riang. "Aku akan menjemputmu besok-ssu!"
Sekali lagi Kuroko hanya bisa mendesah.
..
..
..
Kise merajuk, sementara Akashi tersenyum pongah. Kuroko berjalan di samping Akashi menghampiri kelima teman mereka yang telah berkumpul di depan pintu masuk taman bermain. Minggu tiba dengan cepat dan Kuroko terkejut mendapati Akashilah yang mengetuk pintu apartemennya pagi ini. Akashi bahkan dengan santai menelepon Kise dan menyuruh pemuda itu agar mengurungkan niat menjemputnya, yang tentu saja menimbulkan rengekan dari si kuning. Tapi Akashi adalah Akashi dan Kise langsung dibuat mingkep seketika.
"Ayo, Tetsu-chan!" Momoi berseru riang lalu menggandengnya masuk, sementara yang lain mengikuti di belakang.
Akhir pekan adalah saat tepat untuk refreshing, tak heran jika taman ramai oleh pengunjung. Mulai dari sebuah keluarga, sepasang kekasih, sekelompok remaja, hingga turis asing berbaur memenuhi tiap sudut taman dengan senyum dan tawa menghias setiap wajah. Kuroko lupa kapan terakhir kali ia mendatangi tempat ini, namun ia sedikit bersyukur menerima ajakan Momoi. Mungkin dirinya memang butuh perubahan suasana.
"Ne, ne, Tetsu-chan," Momoi mendekat dan berbisik dengan nada menggoda, "Ada apa denganmu dan Akashi-kun? Kalian berangkat bersama, kan? Apa dia menjemputmu?"
Kuroko berusaha menahan semburat merah yang mengancam untuk muncul di wajahnya. "Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan, Momoi-san. Dan tidak, kami hanya tidak sengaja bertemu di jalan," bohongnya datar.
"Hmmmm~" Momoi tampak tak terpengaruh, seringai menggoda masih bertahan di bibirnya. "Kau tidak bisa membodohiku, Tetsu-chan. Mataku terlalu tajam untuk itu. Aku tahu ada sesuatu di antara kalian berdua. Akashi-kun selalu bersikap lain di sekitarmu," ucapnya menggebu-gebu.
"Itu hanya imajinasimu saja, Momoi-san."
"Hoohh~ benarkah?"
"Hoi, hoi, sedang apa kalian berbisik-bisik seperti itu? Mencurigakan!" Suara Aomine terdengar dari belakang. Momoi menoleh dan menjulurkan lidah.
"It's girl's talk! Kau harus menjadi perempuan jika ingin bergabung, Dai-chan!"
"A-apa?!"
Kise yang sudah sembuh dari aksi merajuknya segera melerai sebelum Momoi sempat membalas. "Sudah, sudah... Berhubung kita sudah di sini, bagaimana jika sekarang kita menentukan akan naik apa-ssu?"
Pertanyaan Kise mengalihkan perhatian Momoi, dan Kuroko berterimakasih untuk itu.
"Apa kau bercanda?" Gadis pink itu menyahut tak percaya, kemudian menunjuk wahana ular raksasa yang meliuk-liuk mengerikan dengan wajah riang tak berdosa. "Datang ke sini tentu saja harus naik Jet Coaster, kan!"
Dan semua menelan ludah.
.
.
Momoi benar-benar menyiksa mereka. Sepertinya memang itu niat terselebung gadis itu mengundang mereka. Bagaimana tidak, semua wahana yang dipilihnya adalah wahana ekstrim yang sebagian besar pernah mencatat rekor. Para pria tak dapat menolak, karena selain masalah harga diri, senyum yang ditujukan Momoi terlalu manis untuk diabaikan (baca: mengerikan).
Alhasil, semua langsung ngacir ke toilet terdekat usai mereka turun dari wahana terakhir. Menyisakan Momoi yang tampak puas serta Akashi yang terlihat tetap tenang. Kuroko sendiri tidak punya masalah dengan wahana ekstrim, namun menaikinya berkali-kali membuatnya sedikit mual dan pusing. Wajahnya memucat.
"Kau baik-baik saja, Tetsuna? Wajahmu pucat."
Mereka duduk di sebuah bangku panjang. Ia mendongak, menatap Akashi yang berdiri di depannya dengan raut khawatir. Ia menggeleng.
"Tidak apa-apa, Akashi-kun. Aku hanya merasa sedikit pusing," jawabnya. Akashi menyipit, tampak tak percaya.
"Tunggu di sini sebentar," ucapnya lalu beranjak pergi. Tak lama, Akashi kembali dengan satu cup teh hangat dan sebuah kantong plastik.
"Akashi-kun..."
Kuroko tak dapat berkata-kata ketika Akashi menyodorkan sebuah tablet putih ke mulutnya. Tatapan pemuda itu begitu intens, membuat jantungnya lagi-lagi berdetak cepat di luar kendalinya. Mengabaikan setitik rona merah yang perlahan mewarnai pipi pucatnya, ia membuka mulut dan membiarkan sang mantan kapten menyuapinya. Pemuda itu dengan telaten membantunya minum sebelum kembali menyuapinya dengan tablet lain.
"Itu adalah obat sakit kepala dan penghilang mual. Kau akan segera membaik setelah ini."
Kuroko menunduk, memegang gelas plastik di tangannya erat. "Terimakasih," ucapnya lirih, mengabaikan sosok pink yang setia memandang mereka dengan senyum penuh arti dan mata berbinar.
Sekembalinya para pria dari toilet, pucat dan mengenaskan, Momoi mengajak mereka untuk beristirahat di rest area yang disediakan. Gadis itu dengan semangat mengeluarkan sesuatu dari tas yang sedari tadi dibawanya, dan seketika wajah mereka tambah memucat.
"Kalian pasti lapar! Aku menghabiskan pagi ini membuat onigiri spesial untuk kalian! Silahkan dinikmati!"
Murasakibara yang pertama kali berdiri dari bangkunya. "Ku-kurasa aku melihat kedai sandwich tadi. Aku akan segera kembali."
"Eh, se-sepertinya aku juga melihatnya. B-benarkan, Aominecchi?" ucap Kise terbata-bata.
"Y-ya, kau benar. Bagaimana kalau kita mencobanya?"
Mereka berdua pun segera melesat menyusul Murasakibara. Midorima memperbaiki posisi kacamatanya lalu berdehem.
"B-bukannya aku tidak mau nanodayo. Tapi Oha-Asa bilang tidak bagus untuk terlalu banyak makan nasi hari ini. Kurasa sandwich adalah alternatif bagus nanodayo."
Dan begitulah semuanya lenyap. Akashi berdiri lalu menatap Kuroko, mengisyaratkannya untuk ikut pergi.
"Tetsuna?"
Kuroko memandang bola-bola nasi tak berbentuk di depannya, kemudian Momoi yang menunduk lesu. Tanpa berkata-kata, ia menjulurkan tangannya dan mengambil satu onigiri, mencicipinya. Tidak terlalu buruk.
Momoi mendongak dengan mata berkaca-kaca dan memeluknya erat. "Tetsu-chan! Kau memang sahabat terbaikku!" serunya senang, kemudian menatap Akashi. "Kau mau juga, Akashi-kun?"
Akashi mendesah lalu kembali duduk. "Berikan aku satu."
.
.
Revenge is sweet. Tapi entah kenapa Kuroko merasa ada alasan lain Momoi membawa mereka ke wahana satu ini mengingat gadis itu sempat meliriknya penuh arti. Hari telah beranjak sore. Ia mengusap lengannya yang entah sejak kapan mulai terasa dingin. Ia tidak suka ini.
"Oi, Satsuki teme! Kau berniat membuatku mati berdiri, eoh?!" seru Aomine memucat. Bagaimana tidak, berdiri di depan mereka sekarang adalah bangunan yang paling pemuda itu benci dan takuti.
Haunted House. Rumah Hantu.
"Eh, ada apa, Dai-chan? Jangan bilang kau takut? Astaga, berapa umurmu sekarang, hm?" Momoi tersenyum mengejek. Warna merah dengan cepat menggantikan warna pucat di wajah Aomine—jika bisa dibilang begitu warna gelapnya masih mendominasi.
"Aku tidak takut, sialan!"
"Heh, benarkah? Kau bisa berpegangan padaku kalau mau."
"K-kau!"
Lagi-lagi Kise mencoba melerai. "Tenang, Aominecchi! Tidak akan ada hantu sungguhan-ssu, mereka hanya orang-orang yang memakai kostum. Yah, tapi kudengar tempat ini terkenal paling seram di antara yang lainnya-ssu. Aku jadi penasaran~"
Ucapan Kise tidak membantu sama sekali. Midorima di sisi lain mendengus. Dia menaikkan gagang kacamatanya.
"Bodoh sekali membuang-buang waktu di sini nanodayo. Tidak adakah tempat lain yang lebih menarik, Momoi?"
"Kau hanya takut, Midorimacchi! Lihat, tanganmu gemetar!"
"J-jangan bercanda, Kise. Tidak ada yang harus kutakuti. Hantu itu tidak ada nanodayo," elak pemuda bersurai hijau itu.
"Kalau begitu Midorin bisa masuk duluan!" Momoi berseru semangat.
"Hmph, akan kubuktikan pada kalian."
Entah sedang beruntung atau sial, tapi antrian tidak terlalu panjang. Midorima masuk dengan percaya diri, diikuti Momoi yang menarik Aomine—yang tampak ingin mati saja, Kise yang antusias, lalu Murasakibara yang memasang wajah bosan.
Kuroko berdiri ragu di tempatnya. Bangunan itu benar-benar terlihat seperti rumah angker sungguhan, membuat bulu kuduknya meremang. Tidak ada satu orang pun yang tahu, tapi seperti halnya Aomine, ia tidak suka dengan cerita-cerita horor apalagi tempat-tempat semacam ini. Wajah datarnyalah yang selama ini berhasil menipu orang.
"Ayo."
Kuroko tersentak saat sebuah tangan besar dan hangat menggenggamnya. Ia memandang punggung lebar Akashi yang berjalan menuntunnya, lalu ke arah jari-jari mereka yang bertaut, merasakan panas menyengat di daerah mereka bersentuhan. Ia menggigit bibir. Batinnya berkecamuk.
Ada apa dengan Akashi hari ini? Kenapa dia bersikap begitu manis dan membingungkan? Apa yang pemuda itu rencanakan?
Langit sudah mulai berhiaskan warna kemerahan ketika mereka berhasil keluar dari rumah yang bagaikan mimpi buruk itu. Tanpa sadar ia mengeratkan genggaman tangannya yang berkeringat dingin pada Akashi. Entah sejak kapan ia menempel di punggung pemuda itu dan berpegangan pada blazer-nya dengan tangannya yang bebas. Jantungnya masih berdetak kencang dan lututnya terasa lemas. Ia tidak akan mau memasuki tempat seperti itu lagi.
"Kau baik-baik saja?" Suara khawatir Akashi terdengar. Pemuda itu berbalik dan berikutnya Kuroko merasakan sentuhan hangat di kepalanya. Ia mengangguk kaku sebelum bergerak menjauh, melepaskan tautan tangan mereka. Rasa malu mulai merambat menyadari dirinya telah bergelayut pada pemuda itu sepanjang waktu.
"Maaf," ucapnya.
Sebelum Akashi dapat menjawab, ia segera menyusul yang lain. Momoi tampak menyeret Aomine yang tak sadarkan diri, diikuti Murasakibara yang masih terlihat acuh, sementara di depan terlihat Kise yang sibuk menggoda Midorima.
"Yah, jeritanmu tadi benar-benar keras sekali, Midorimacchi! Bahkan mengalahkan jeritan Momocchi-ssu."
"Aku tidak menjerit nanodayo!"
"Yah, kakimu bahkan masih gemetaran-ssu! Kau yakin tidak pipis di celana?"
"Apa?!"
Kise masih asyik menggoda Midorima yang wajahnya sudah seperti ingin memakan orang ketika Momoi berseru riang.
"Minna! Untuk yang terakhir kali, bagaimana kalau kita naik itu? Kita bisa melihat pemandangan matahari terbenam yang menakjubkan dari atas!"
Yang ditunjuk oleh Momoi tak lain dan tak bukan adalah Ferris Wheel, wahana romantis tempat orang menyatakan cinta dan berbuat yang iya-iya. Semua langsung sweatdrop. Satu pikiran sama terlintas di benak mereka, mereka harus menaiki itu dengan cowok-cowok ini?
Kuroko bergerak tak nyaman, tahu apa yang tengah direncanakan Momoi. Tapi tidak, ia sudah merasa cukup hari ini. Ia tidak sanggup berada di sekitar pemuda berambut merah itu lagi.
"Maaf, tapi kurasa aku harus pulang. Aku sedikit lelah," ucapnya tiba-tiba, membuat semua kepala menoleh.
"Tetsu-chan...?"
"Kurokocchi...?"
Akashi mendekat. "Biar kuantar," ucapnya. Tapi Kuroko dengan cepat menggeleng.
"Tidak perlu, Akashi-kun. Aku bisa naik bus," tolaknya sopan, lalu membungkuk ke arah yang lain. "Hari ini sangat menyenangkan, terimakasih atas undangannya. Sampai bertemu lagi."
Tanpa menoleh ke belakang, ia berlalu pergi.
..
..
..
Libur akhir semester berlalu begitu saja. Setelah menghabiskan satu setengah bulan penuh bersama sang nenek ditambah melakukan persiapan untuk kompetisi berikutnya, Kuroko kembali ke apartemen mungilnya untuk memulai semester duanya.
Pagi itu Kuroko terbangun oleh suara nada dering ponselnya. Mengerjap, ia meraih benda pesergi panjang berwarna biru itu dan melihat ada tiga panggilan tak terjawab dari Momoi. Ia melirik jam yang menunjukkan pukul delapan pagi, lalu dengan malas bangun dari tempat tidur. Saat itu juga ponselnya kembali berdering. Ia mengangkatnya sembari beranjak membuka tirai jendela.
"Moshi-moshi?"
"Tetsu-chan! Syukurlah kau mengangkatnya! Hari ini kau akan pergi bersamaku, kan? Upacara pembukaan akan mulai dua jam lagi!"
Ia menyipit ketika sinar matahari menyambutnya. Upacara pembukaan, ya...
Babak penyisihan Turnamen Basket Universitas Tingkat Nasional sudah berlangsung selama libur akhir semester, dan sama sekali tak mengherankan jika kampus mereka berhasil melaju ke babak kualifikasi mewakili Tokyo mengingat semua anggota Generasi Keajaiban berada di sana.
"Tetsu-chan?"
"Aku mengerti. Aku akan segera bersiap-siap."
Tepat pukul sepuluh, Kuroko sampai di Tokyo Metropolitan Gymnasium yang ramai, tempat turnamen diadakan. Menghampiri Momoi yang telah menunggunya di lobi, mereka memasuki arena yang telah penuh oleh penonton dan memilih dereten bangku paling depan yang masih kosong. Momoi terlihat sangat bersemangat, membuatnya mau tak mau sedikit tertular. Bagaimana pun ini pertama kalinya sejak SMP ia melihat teman-temannya bertanding.
Usai upacara pembukaan, mereka harus menonton beberapa pertandingan terlebih dulu sebelum menyaksikan tim basket kampus mereka yang dijadwalkan bermain pukul dua siang. Dan begitu tim yang menjadi unggulan itu memasuki lapangan, para penonton langsung berteriak semangat. Terlihat jelas betapa besar kepopuleran Generasi Keajaiban, ditambah saat melihat mereka kembali bersama sebagai satu tim.
Akashi-kun, Kuroko membatin ketika matanya menangkap sosok berambut merah yang terlihat tengah berdiskusi dengan kapten tim—yang ia kenal bernama Kaoru Matsuoka, seorang mahasiswa semester delapan. Sudah lama sejak terakhir kali ia melihat Akashi, tepatnya sejak mereka pergi ke taman bermain bersama dua bulan lalu. Tak pernah sekali pun pemuda itu menghubunginya selama liburan, begitu juga setelah awal semester dimulai. Ia memang tak mengharapkannya, namun tetap saja ia tak bisa menepis sedikit rasa kecewa yang tumbuh di hatinya.
Apa selama ini ia telah menyalahartikan sikap Akashi padanya? Apa trauma membuatnya menjadi terlalu sensitif hingga ia merasa pemuda itu sedang mencoba mempermainkannya? Atau karena diam-diam rasa cinta itu masih ada hingga ia besar kepala dan mengira pemuda itu sedang berusaha mendekatinya?
Kuroko merasa malu pada dirinya sendiri karena telah berpikir macam-macam. Mungkin saja Akashi hanya ingin kembali berteman dengannya. Sikapnya kemarin pasti telah membuat Akashi tersinggung hingga pemuda itu tidak menghubunginya lagi. Mendadak ia merasa menjadi orang jahat.
Pertandingan berlangsung cepat dengan skor 74-40 di akhir quarter kedua untuk Universitas Tokyo. Kuroko tak bisa mengalihkan pandangannya dari sosok merah Akashi yang tampak membara di tengah lapangan. Sebelum ia menyadarinya, pertandingan telah berakhir dengan kemenangan mutlak Universitas Tokyo.
"Tetsu-chan, kita menang!" Momoi berseru senang seraya memeluknya.
Ia tersenyum. "Yeah..."
Selanjutnya, gadis pink itu menariknya menuju ruang ganti tim. Ruangan tampak ramai dengan para anggota yang tengah bercakap ketika Momoi membuka pintu dan menyapa riang, "Teman-teman, selamat atas kemenangannya!"
Beberapa membelalakkan mata dan merona melihat mereka berdua masuk, sementara Kise dan yang lain tampak terkejut.
"Hm, itu hal yang biasa nanodayo."
"Momocchi! Kurokocchi! Kalian datang!"
"Kebetulan, kenapa tidak kita tanya Kuro-chin saja?"
Kuroko mengerjap ketika semua mata tertuju padanya usai Murasakibara menyeletuk. Kise berseru antusias, "Benar juga-ssu! Ne, Kurokocchi, maukah kau menjadi manajer baru kami?"
"Eh?"
"Dua manajer kami baru saja mengundurkan diri dan kami belum memiliki pengganti nanodayo," jelas Midorima.
"Bagaimana, Tetsu? Satsuki tidak bisa karena dia sudah masuk klub jurnalistik. Tapi kau belum mengikuti klub apa pun, kan?"
Kuroko terdiam mendengar permintaan tak terduga ini. Tanpa sengaja matanya bertemu pandang dengan Akashi yang tengah menatapnya. Pemuda itu tersenyum kecil sebelum menoleh pada sosok lain di sebelahnya.
"Kurasa itu ide bagus. Bagaimana menurutmu, Kapten?"
Kaoru, pemuda bersurai hitam yang menjabat sebagai kapten, tersenyum. "Aku akan sangat bersyukur jika Kuroko-san menerima tawaran kita."
Dan Kuroko sedikit tersentak saat semua kini menatapnya penuh harap. Ia bahkan bisa merasakan Momoi yang meremas tangannya antusias sambil berbisik, "Kau harus menerimanya, Tetsu-chan!"
Menjadi manajer... Bukankah itu artinya ia akan menjadi lebih sering bertemu dengan Akashi? Sanggupkah ia?
"Aku..."
Lagi, matanya kembali bertatapan dengan Akashi. Mengobservasi orang adalah keahliannya, namun saat ini ia sama sekali tak dapat menebak apa yang tersembunyi di balik sepasang manik dwiwarna itu.
Pikirannya bergelut.
Bagaimana seandainya selama ini ia memang telah salah paham terhadap pemuda itu? Mungkin Akashi memang hanya ingin kembali berteman dan ia malah mengacaukannya. Entah ia harus merasa sakit hati atau lega, tapi pemuda itu jelas telah melupakan masa lalu mereka. Kalau begitu, apa arti dari semua kesakitan yang tak henti membayanginya selama ini?
Ia harus maju. Ia tidak bisa terus terjebak dalam masa lalu sementara Akashi dengan mudahnya melangkah keluar seolah itu bukanlah apa-apa. Berada di samping pemuda itu mungkin akan membuat luka lamanya melebar, tapi ia juga tidak akan bisa menutup luka itu sepenuhnya jika terus menghindar. Ia tak ingin mengakuinya, namun bertemu kembali dengan teman-teman lamanya membuat hidupnya kembali menjadi lebih berwarna. Ia tak ingin semua rusak hanya karena trauma dan perasaan bodoh ini.
"Kurasa... aku bisa mencobanya."
Ini adalah pertaruhan besar. Dan ia tak berniat untuk kalah.
.
.
.
To be continued...
Akhirnya apdet juga~
Untuk yang menantikan Kagami, dia bakal muncul tepat pada waktunya XD
Thx for read! ^^
Review?
