Chapter 3: The Meeting
Sepanjang hari berlalu tanpa suatu halpun terjadi – kecuali Bella yang terus melototiku setiap menit.
Foto saja aku, biar kamu bisa menatapku lebih lama, batinku sinis. Aku benar-benar sangat bosan. Pekerjaan yang diberikan Edward padaku sudah selesai semua, dan aku tidak merasa kalau aku ingin pergi dan menanyakan apa masih ada pekerjaan lain lagi. Handphoneku bergetar, ada pesan dari Alec.
Bagaimana keadaanmu?
Aku tersenyum. Bosan. Kapan aku boleh pulang?
Setidaknya setelah jam empat. Hanya tersisa setengah jam lagi. Apa kamu sudah menyelesaikan semua pekerjaanmu?
Yup. Oh, dan beritahu ayah untuk memecat James Cullen karena pelecehan seksual.
APA DIA MELAKUKAN SESUATU PADAMU!?
Aku menyengir. Saudaraku yang overprotektif. Aku tidak bisa menyalahkannya. Tidak juga. Aku menendangnya di tempat yang paling sakit sebelum apapun terjadi.
Saudaraku yang pemberani. Aku harus pergi sekarang, okay? Sampai ketemu dirumah.
Luv ya, brotha. Itu adalah kalimat perpisahanku padanya, baik itu pada telepon ataupun lewat sms.
Aku mengamati sekelilingku, memastikan Edward tidak sedang mengintipku dari pintu untuk memata-mataiku. Syukurlah, tidak ada. Aku meluangkan sisa waktuku untuk bermain game di handphoneku, mengecek facebookku, mengirim pesan pada teman-temanku.
Aku melirik ke arah jam, menunjukkan aku punya 5 menit lagi sebelum jam 4. Karena aku punya kelas di Harvard jam 7, paling lambat aku harus pulang dari sini adalah jam 6. Bukan berarti aku punya rencana untuk tinggal lebih lama. Aku melihat ke pintu ruangan Edward yang tertutup dan bertanya-tanya, apa aku harus bertanya dulu padanya kapan aku boleh pulang. Memutuskan bahwa itu lebih baik daripada terkena masalah akibat pulang lebih cepat, aku memasukan handphoneku kembali kedalam tasku dan berjalan ke pintunya.
"Apa yang kau lakukan?" suara Bella yang menjengkelkan itu menghentikanku.
Aku mendesah, dan menjawab tanpa memandangnya. "Bukan urusanmu, sayang. Kembalilah bekerja." Aku tidak memberinya kesempatan untuk membalas, dan segera mengetuk dan membuka pintu ruangan Edward di waktu yang sama.
Dia sedang memeriksa beberapa dokumen dimejanya, mengangkat wajahnya kearah komputer setiap beberapa menit. Sebuah senyum cerah muncul di wajahnya ketika akhirnya dia menyadari keberadaanku di dalam ruangan.
"Halo, Jane. Apa ada yang bisa kubantu?"
"Sebenarnya, iya," kataku. "Aku ingin bertanya kapan aku bisa pulang. Aku punya kelas nanti malam, tapi aku tidak yakin berapa lama kamu membutuhkanku di sini."
Dia melihat kearah jam yang tergantung di atas pintunya dan cemberut, menyisir rambutnya dengan jari-jarinya. "Kelasmu jam berapa?"
"Jam 7. Tapi aku harus menempuh perjalanan yang jauh ke Harvard dari sini."
Dia cemberut lagi. "Untuk hari ini, kau boleh pulang jam 4, tapi untuk berikutnya, paling cepat adalah jam 5. Mengerti?" Nadanya terkesan merendahkan, seolah-olah aku adalah anak kecil yang berkelakuan buruk.
Itu membuatku benar-benar harus menahan diri untuk tidak menjulurkan lidahku keluar dan bersikap seperti anak-anak, yang mana seperti sekarang dia memperlakukanku. "Sangat jelas, Edward. Aku akan mengingatnya. Semoga harimu menyenangkan!"
"Kamu juga, Jane. Sampai ketemu besok." Dia kembali keperkejaannya dan aku meninggalkan ruangannya, menggelegak pada keberaniannya karena memperlakukanku seperti itu. Dan aku baru mengingatnya, untuk semua orang, aku hanyalah Jane Roland, bukan putrinya Aro Volturi. Itu benar-benar mengecewakan.
Dengan pamitan yang sopan pada Bella dan sebuah cemberut darinya, aku meninggalkan gedung itu dan mengemudikan mobilku menuju apartemen tempat Alec dan aku tinggal.
Ketika aku tiba di rumah, saudara kembarku masih belum pulang, tapi aku tahu dia akan pulang sebentar lagi. Pada siang hari, Alec berada di MIT. Dia adalah junior disana, tapi dia lebih suka untuk tinggal disini daripada di asrama atau di rumah kos-kosan. Beberapa pesta yang dia datangi (dan biasanya menyeretku juga), minuman yang banyak dan dansa, telah benar-benar mengubahnya pada kehidupan kampus.
Aku membuka kulkas dan melihat makan malam yang ada di sana. Pada akhir pekan, Ibu kami selalu menyuruh tukang masak untuk menyiapkan makanan untuk kami selama seminggu, jadi tidak ada dari kami berdua yang harus memasak. Kami berdua cukup ahli di dapur, tapi jadwal kami membuat kami tidak punya waktu untuk memasak.
Mengamati pilihan-pilihanku, aku meraih sebotol air dan separuh porsi Lasagna. Cukup untuk membuatku kenyang sampai kelasku berakhir.
Hampir setiap hari, Alec dan aku merindukan satu sama lain dalam hitungan detik, karena aku selalu harus pergi ke Harvard persis pada saat dia pulang dari MIT. Ketika jam menunjukkan hampir jam 6:15, aku mengambil barang-barang yang kubutuhkan untuk kelasku dan menuju ke kampus.
Kelasku, seperti biasa, menarik dan menahanku pada tempatku sepanjang waktu. Kita punya proyek besar nanti – mendesain gaun-gaun kita sendiri. Aku sangat bersemangat untuk memulainya, sebagai gaun terbaik akan dipajang sebagai item baru musim dingin pada toko pakaian bermerek.
Pada waktu aku tiba di rumah, aku hampir mati kecapekan. Hal ini terjadi hampir setiap hari, tapi sebelum minggu ini aku hanya pernah magang, menjadi asisten dosen, dan melihat sekolah-sekolah Fashion.
"Jadi?" tanya Alec, sesaat aku tiba di depan pintu.
"Jadi apa?" tanyaku, walaupun aku tahu apa yang sebenarnya sedang dia pikirkan. Twin thing.
Ia memutar matanya. "Ceritakan semuanya."
"Kau terdengar seperti perempuan-perempuan penggosip."
"Aku tersanjung, sissy. Ceritakan."
Aku mendesah. "Aku tidak tahu bagaimana aku akan bertahan selama sebulan di sana. Itu sangat sulit, berubah dari seorang Putri Volturi menjadi Jane yang biasa-biasa saja.
Alec menyengir. "Aku tahu itu"
"Diam kau, brengsek. Apa kau sudah memberitahu ayah tentang James Cullen?"
"Ya, sudah. Kau yakin dia tidak melakukan apa-apa?"
"Jika sesuatu terjadi, aku menendangnya. Bangga?"
"Sangat," dia mendekut, merangkul bahuku. "Kau siap untuk hari berikutmu besok?"
Aku mengerang. "Aku melakukan ini hanya untuk taruhan." Sepuluh ribu dollars sudah sangat bagus kalau bisa kudapatkan dari saudaraku sendiri.
"Aku tahu." katanya puas.
~xoxo~
Aku terbangun besok paginya, dan berbaring dengan senang di tempat tidurku beberapa menit sebelum mengingat kalau aku harus bekerja. Aku mengutuki diriku karena pernah menyetujui taruhan ini.
Hanya tiga minggu dan empat hari lagi, aku menghibur diriku. Aku memakai pakaian yang sedikit berbeda dari yang kemarin, kali ini atasan ungu dan rok hitam, ditambah sepatu hak tinggi yang lebih tinggi dari yang kemarin. Aku berangkat dari rumah lebih awal, jadi aku memutuskan untuk berhenti di Starbucks dan membeli sesuatu untukku. Aku juga memesan kopi hitam untuk Edward, pikirku dia mungkin butuh kafein. Ini benar-benar bukan karakterku, tapi seluruh poin dari taruhan ini adalah untuk perubahanku. Mengapa tidak dimulai dari sekarang, benarkan?
Aku tiba di kantor jam 8, tepat pada waktunya. Syukurlah, hari ini tidak ada yang melihat kemiripanku pada Jane Volturi, dan semoga, itu tidak akan terjadi lagi. Bagaimanapun, sebelum kemarin aku tidak pernah menginjakkan kakiku di salah satu kantor ayahku.
Begitu memasuki ruangan kerjaku, aku terkejut melihat Edward duduk di mejaku, dan Bella belum tiba juga.
"Ah, Jane," katanya, berdiri saat aku tiba.
Aku menaruh tasku dimeja dan menyodorkan kopi hitam kearahnya. "Tidak yakin apa kamu yang suka, jadi aku hanya mengambil kopi hitam."
Dia tampak terkejut. "Oh, terima kasih. Dan iya, ini tidak apa-apa. Kau perlu beberapa menit untuk persiapan?"
"Tidak, tenang saja. Apakah ada sesuatu yang salah dengan pekerjaanku kemarin?"
"Tidak ada yang salah, tapi ada sesuatu yang ingin aku betulkan…" dia berdiri di belakangku sementara aku menyalahkan komputerku dan membuka file yang dia maksud. Itu adalah PowerPoint yang kubuat untuk pertemuan hari ini.
"Apakah kamu ingin mengubah sesuatu?" tanyaku, tidak melihat apapun yang salah dengan PowerPoint itu.
"Temanya salah semua," kata Edward sambil menggelengkan kepalanya.
Aku mengangkat alisku. "Kau tidak punya spesifikasi tentang tema. Aku hanya memilih sesuatu yang menarik perhatian, tapi tetap membawa perhatian pada kalimat utama di layar."
"Ya, tapi…" dia menyisir rambutnya dengan jari-jarinya. Aku mulai menyadari itu adalah kebiasaannya. "Aku tidak suka warnanya."
"Maafkan aku, Edward, tapi apakah kau penderita penyakit ayan?"
"Apa? Tidak, aku tidak mengidap penyakit ayan." dia terlihat bingung dengan pertanyaanku.
"Bagus, karena warna ini tidak terlalu memicu. Apakah ada hal lain yang salah dengan ini?"
"Itu hanya…tidak terlihat benar," jawabnya sangat aneh.
Aku menahan diri untuk tidak memutar mataku. "Apakah kamu mau memilih warnanya?"
"Tidak, aku tidak akan tahu mau memilih yang mana. Pilih saja sesuatu yang berbeda."
Ya ampun, pria ini sangat menyebalkan. Desahku, mencoba untuk tidak menunjukkan rasa frustrasiku. Aku menutup mataku beberapa detik sebelum menoleh padanya. "Apa yang akan…"
Aku bertanya, tiba-tiba menyadari betapa dekatnya jarak kami. Kalau aku mengangkat wajahku ke atas sedikit saja, aku akan bisa menyentuhkan bibirku pada bibirnya. Matanya tertuju pada bibirku, dan tanpa sadar aku menjilat bibirku. Tatapannya berpindah ke mataku, dan aku tidak tahu apa yang dia lihat di sana, tapi aku bisa melihat warna hijau di matanya hampir lenyap ke dalam pupilnya. Aku sangat yakin seratus persen bahwa dia akan menciumku ketika pintu ruangan kami terbuka.
Bella berderap masuk, membeku di tengah jalan ketika dia melihat posisi kami. Edward cepat-cepat menjauh dariku, berguman, "Kirim itu padaku," sebelum menghilang ke dalam ruangannya. Meninggalkanku duduk di kursiku, dengan Bella yang terus melototiku.
"Foto saja aku, biar kamu bisa menatapku lebih lama," bentakku padanya, mengatakan apa yang kupikirkan sejak kemarin. Dia sudah mulai membuatku jengkel.
Selama sisa hari itu, aku tidak bisa menghilangkan wajah Edward dari kepalaku, di mana saat dia akan menciumku.
