Chapter 4 :

Toko Bunga Dragneel

Setengah dua belas lewat satu menit, bel berbunyi nyaring di penjuru sekolah. Seisi kelas sibuk membereskan buku, menyampirkan tas dan melesat keluar tanpa pamitan–guru izin duluan untuk rapat. Jadilah para murid dilarang berkeliaran. Mereka harus pulang, titik! Jika maskot teladan tentulah menurut, yaitu ketua kelas, pemegang rangking maupun si rajin tak kasat mta. Entah angin apa sampai berandalan memutuskan pulang–maksudnya mencari tempat nongkrong selain di halaman belakang.

Lucy yang biasanya acuh mendadak pusing tujuh keliling. Itu berarti kesempatan mencari rambut pink menipis.

"Kenapa melamun? Ayo pulang sama-sama," ajak Levy menarik tangan sahabatnya. Kelas sepi menyisakan mereka berdua. Mau dikata apa juga seluruh murid suka jam pulang.

"Um … kau duluan, Levy-chan. Aku ingin mencari seseorang." Sembari mengacak isi tas, Lucy mengeluarkan sebuah novel dan buku merah muda. 'Cara Mencari Jodoh Aman dan Tepat' tertulis besar di halaman depan.

"Mengembalikan buku, ya? Baiklah. Semoga berhasil."

Lokasi yang pertama terlintas adalah perpustakaan–meski Lucy Heartfilia bukan orang bodoh, dia ingat betul Nenek Obaba mengumumkan tempat baca itu ditutup sehari. Rambut pink sendiri tak kelihatan menunggu di depan pintu. Lima menit terbuang sia-sia dan diputuskannya pulang ke rumah, kalau jodoh pasti bertemu, kok! Tapi di luar arti pasangan hidup, makna konotatif bahasa kerennya. Toh, menunda sehari tidak masalah.

Seribu kali sayang, dewi fortuna tidak mampir ke jam kerja Lucy. Niatnya bersantai menguap setelah menerima SMS ibu tercinta.

From : Mother

Selamat siang, Lucy sayang~ Tolong belikan ibu bibit bunga mawar, oke? Warna merah yang melambangkan cinta dengan putih sebagai simbol kesucian.

Menghela napas berat, mana enak hati putri kesayangan Heartfilia menolak.

To : Mother

Iya. Aku beli dulu.

Singkat, padat, jelas, seketika pula Lucy melesat, membuang waktu tabu dalam kamusnya. Kebetulan beliau punya langganan di Jalan Fairy Tail, dekat kompleks Blue Pegasus di mana keluarga Heartfilia membangun rumah tangga. Dua buku beda jenis tertenteng ringan sepanjang perjalanan–diiringi senandung kecil ciri-ciri orang berbahagia. Kalau dipikirkan matang-matang tidaklah buruk. Sekalian cuci mata atau mungkin, berpapasan pujaan hati?!

"Lalalala~ Akhirnya sampai ju–!" Terhenti di pinggiran jendela, Lucy yakin retinanya menangkap sesosok makhluk pink, tampan, jangkung, jangan lupakan katakan seksi.

Mundur tiga langkah, kini pandangannya difokuskan ke objek hidup itu. Jika dipaparkan secara biologis dia lelaki, jelas sangat kecuali mata si pirang menyeleneh. Celemek bunga terpasang menutupi depan tubuh, mengurangi kejantanan namun masih sedap dipandang–kalau boleh jujur 'mereka' cocok malah, ibarat penyanyi dengan mig hitam. Pria keibu-ibuan sendiri tidak masuk dalam blacklist Lucy Heartfilia. Ayah dan ibu pasti me–lho, kenapa membicarakan pasangan?

Kembali ke cerita. Lucy masuk disapa ringan bunyi bel–ralat, cengiran khas yang terngiang-ngiang dibenaknya juga menyambut.

"Yo! Rambut kuning." Tercengang sejenak, kedua buku dipelukannya sampai terjatuh mencium lantai. Iya, mereka bertemu lagi. Murid mana yang punya senyum secemerlang dan seriang itu selain …

"Rambut pink?"

"Ada yang bisa kubantu?" Tanyanya ramah menaruh pot di barisan kedua–bahkan mempersilakan duduk di samping meja kasir. Malu-malu tapi mau, Lucy mengikuti permintaan si salam.

"Kau bekerja di sini?" Lupakanlah kata 'benci membuang waktu'. Lucy tidak keberatan asal menjumpai rambut pink–dengan begitu tujuan utamanya tercapai, jangan berpikir macam-macam, lho!

"Ini toko tanteku. Omong-omong rambut kuningmu mengingatkanku pada seseorang."

"Layla Heartfilia?"

"Benar! Kamu mengenalnya?" Aku anak dia, bagaimana tidak tahu? Batin Lucy mengangguk cepat. Lagi pula ia bukan tipikal Malin Kundang dongeng khas Sumatera sana. Semenyebalkan apa pun beliau tetap ibu kesayangan.

NGIETTT …

Pintu di sisi kiri terbuka, nampaklah wanita paruh baya mengenakan pakaian kasual–kaos putih dan celana pendek motif bunga-bunga.

"Pacarmu? Kau gesit juga. Tidak sia-sia tante pinjamkan buku Cara Mencari Jodoh Aman dan Tepat." Ah ternyata, Lucy lega mengetahui pemilik aslinya. Ibu-ibu pemilik toko bunga, sih, wajar.

"Dia teman baruku. Namanya … hmm … namanya … hmm … namanya hmm …?" Memiring-miringkan kepala yang membuat mereka gemas. Tiga detik lalu Lucy meragukan jenis kelamin si salam. Terlalu imut untuk disebut pria.

"Namanya hmm? Aneh sekali." Terjadi kesalahpahaman di sini. Lucy yang hendak meluruskan dicela duluan. Keadaan tambah runyam setelah lawan bicara asal menceletuk.

"Matahari berambut kuning, itulah namanya! Unik, 'kan?"

Krik … krik … krik….

Siapa yang menaruh jangkrik? Tawa wanita itu pecah ke permukaan. Menginterupsi hening sejak Lucy melongo dan rambut pink mempertahankan senyum lima jari. Tangan ringkih beliau menepuk keras punggung mereka. Dia berpikir sang keponakan memiliki pacar unik, bernama hmm, dipanggil rambut kuning, julukannya pun keterlaluan aneh sekaligus lucu. Kepolosan dan kebodohan bocah spiky selalu memberi keceriaan.

"Ekhem! Namaku Lucy Heartfilia dan berhenti memanggil rambut kuning, ini pi-rang!" Berkacak pinggang sebal, yang diperingati manggut-manggut paham–dia rasa tak salah menyebut begitu, hanya beda susunan huruf.

"Hati-hati pacarmu marah. Sulit, lho, menenangkan seorang wanita," ejek tante menyikut keponakannya. Bukan merasa panik lebih-lebih cemas, giliran dia tertawa.

"Hahaha … pacar itu merek makanan terbaru? Nanti malam buatkan, ya." Ughh ... keterlaluan namanya, Lucy yang heran sekadar menepuk jidat. Baru pertama kali dia menemui cowok kepolosan.

"Jangan dimakan, dong. Kamu kanibal artinya." Percakapan mereka konslet, Lucy tahu meskipun tidak terlibat.

"Tadi namamu Lucy Heartfilia, ya? Marganya mirip Tante Layla. E-eh, sebentar…." Mengusap dagu ala detektif berpikir, dua menit terbuang bola lampu imajin muncul di atas kepala.

"Duduklah di situ. Akan kubawakan teh dan biskuit!"

BLAM!

Maklumlah, Layla terkenal di seluruh kompleks dan area luar–anaknya harus mendapat pelayanan sepadan juga. Bukan sombong apalagi pamer, kenyataan kok! Lucy yang kebingungan memperbaiki posisi duduk. Dia punya pantat menempel daritadi, marah sekalipun tak sampai terbawa suasana, tiba-tiba berdiri lalu berteriak bak sinetron picisan, menjijikan. Datang-datang Natsu menaruh secangkir teh ditemani biskuit kering.

Ingat juga senyum seribu watt-nya, menyilaukan.

"Silakan dinikmati. Apa teh-nya kurang gula?"

"Tidak. Santai saja, rambut pink. Oh iya, aku belum tahu namamu." Hari ketiga mereka bertemu di pukul dua belas, bisa-bisanya Lucy kelupaan bertanya identitas. Ia menjulurkan tangan hangat–tanda perkenalan.

"Natsu Dragneel. Salam kenal, Luce!"

"Hn? Lucy bukan Luce." Sekilas mengernyitkan dahi, mungkin Natsu ini keturunan bule generasi tujuh–tak ada mirip-miripnya lagi pula.

"Luce!"

"Lucy, Natsu."

"Luce!" Macam bocah tiga tahun memanggil ibunya, Lucy menghela napas pendek sambil mengelus dada, minta diberi kesabaran lebih. Lambat laun juga dia menerima.

"Terserah kau saja. Ah! Ini novel yang kamu pinjamkan dan buku jodohmu, terima kasih banyak. Kalau begitu aku pa–!"

GREP!

Jemari lentik nan kokoh itu mengenggam erat pergelangan tangannya. Semburat merah menghias tipis pipi susu Lucy. Telapak si salam terjulur ke depan, mengisyaratkan 'tunggu sebentar' diiringi berlari kecil. Mawar putih bertengger cantik dalam pot–ditambah ekspresi malu si salam memperparah canggung. Pemilik toko merangkap Tante Natsu tersenyum simpul. Beliau melipir dan sembarangan membuka pintu–selama tidak menganggu mereka.

"Tanda pertemanan. Terimalah."

"Uhm! Sekalian aku beli bibit mawar merah dan putih. Nanti kubalas jika sudah tumbuh."

"Kata siapa aku memintanya? Pemberian ini tulus. Rawat dengan baik, oke? Cukup itu saja." Lucy yang semula enggan meraih pot tersebut–mengangguk samar pamit pulang. Toh, lima belas menit berlalu dan Layla menunggu di rumah.

"Hati-hati di jalan! Besok mampir lagi!" Seru Natsu ketika bayangan teman kuningnya nyaris lenyap. Mereka sama-sama tersenyum lebar, melambaikan tangan selama dan sebanyak mungkin–seakan benci perpisahan.

Karamel teduhnya menatap lekat kelopak putih mawar, sementara kantong kresek terjinjing di tangan kanan. Lucy tidak mengerti kenapa, dia sering diberikan bunga oleh kaum adam, saat valentine, ulang tahun, natal, namun yang satu ini spesial. Selain langsung di pot … sosok Natsu mirip seorang anak kecil dalam mimpi indah. Tiap malam mampir. Mengulang lagu serupa dengan nada riang.

"Aku pasti mampir."

Bersambung….

Balasan review :

Fic of Delusion : Jadi keinget cerita Ponytail malah. Menurutku pink-kuning lebih imut lagian, hahaha. Thx ya udah review.

mihawk067 : Gak ada apa-apa kok dengan pukul dua belas. Mereka cuma ketemu setiap jam segitu, itu aja. Thx ya udah review.

Lucy : 15 menit juga udah cukup kok, gak perlu sampe satu jam apalagi tiga, wkwkw. Thx ya udah review.