Disclamer:

Masashi Kishimoto

warning:

OOC banget

freak

random

penghancuran karakter

EYD lenyap

karna kesempurnaa hanya milik Yang Maha Kuasa

YANG GAK SUKA? KLIK BACK ^ ^

That Should Be Me!

last chapter~

"Hinata, antarkan kue ini pada keluarga Uchiha." perintah sang ibu,

"Baik, bu."

ting... nong...

"Apa maumu?" tanya Sasuke dingin,

"A.. Aku hanya ingin mengantarkan ini, Sasuke-san." jawab sang gadis malu-malu,

"Hn. Masuklah,"

Saat melewati ruang tamu, matanya seketika tertuju pada laki-laki yang begitu menarik perhatiannya. Sehingga tanpa sadar ia menabrak dinding yang memisahkan ruang tamu dengan ruang keluarga di dalam rumah mewah milik keluarga Uchiha.

"Namanya Naruto." seseorang seperti bisa membaca pikirannya,

"Kau bahkan tidak mengaduh kesakitan saat melihatnya sampai menabrak dinding nona Hyuga,"

"Oh, iya. Aduh..." jawab Hinata asal sambil mengusap-usap dahinya yang terbentur dinding. Matanya tertuju pada sesosok pemuda pirang dengan bola mata yang mampu membuatnya lupa akan rasa sakit.

"Dasar bodoh," cibir Sasuke.

Naruto yang sedang bermain ps3 milik Sasuke melirik dua manusia yang sedang berdiri tak jauh darinya. Saat melihat apa yang dibawa seorang gadis berkulit seputih awan, matanya berbinar seolah melihat oasis di tengah padang gurun. Lalu mengembangkan senyumnya yang menawan sehingga membuat Hinata seolah meleleh ketika melihatnya.

"Hei Sasuke, siapa itu?" tanyanya.

"Na... Namaku Hyuga Hinata. A.. aku tetangga Sasuke-san." jawab Hinata sambil membungkukkan tubuhnya tapi tetap menjaga keseimbangan atas nampan yang tengah dipegangnya.

"Namaku Namikaze Naruto," kata Naruto lagi, "Apa yang kau bawa itu?" lanjutnya.

"Ah... I.. Ini cake coklat. Aku disuruh ibuku mengantarkannya kesini."

"Wah kau baik sekali... Coba kulihat," ajak Naruto sambil melambailan tanganmya tanda menyuruh Hinata untuk mendekat padanya.

"Hei! Itu untukku kan?!" tiba-tiba Sasuke mengeluarkan suaranya dengan agak keras.

"Sejak kapan kau suka makanan manis? Dan aku yakin oba-san akan memberikan ini padaku. Dia kan sedang diet." jelas Naruto panjang lebar memberi dalih supaya cake coklat itu menjadi miliknya.

"Sejak sekarang aku suka." Sasuke menjawab cepat.

"Tidak! Untukku saja Hinata-chan..." pinta Naruto yang langsung mengambil alih nampan yang dibawa Hinata. Tangannya mulai mencomot satu potong cake coklat yang mengundang seleranya. Tapi sebelum itu terjadi, Sasuke dengan gesit merampasnya. Naruto tidak menyerah, Ia berusaha merebutnya kembali. Terjadilah tarik-menarik nampan.

"Se.. Sebaiknya aku berikan ini kapada oba-san dulu." Hinata mencoba melerai keduanya dengan mengulurkan tangannya hendak mengambil cake tersebut. Tapi tidak ada yang mau mengalah diantara keduanya, dan malah terjadi tarik-menarik diantara ketiga remaja ini. Selang beberapa menit seiring semakin kuat tarikan masing-masing, nampan diantara mereka bertiga jatuh karena semakin tidak karuan posisinya. Cake coklat itu pun mendarat dengan selamat di karpet berwarna merah marun. Mendengar suara gaduh, nyonya Mikoto keluar untuk mengecek apa yang terjadi. Raut wajahnya berubah seketika saat melihat tiga muda mudi yang wajah dan pakaiannya kotor oleh krim coklat, karpet yang ternodai cake yang seharusnya dimakan.

"Apa-apaan ini?" tanyany heran. Dan ketiganya hanya pasrah pada apa yg akan menimpa mereka selanjutnya.

Semenjak itu terjalin hubungan yang dekat antara Naruto dengan Hinata. Tiap akhir pekan Naruto selalu berkunjung ke rumah Sasuke dan mengajaknya ke rumah Hinata dengan alasan mengantarkan kue kering buatan oba-san, ibu Sasuke. Sampai pada akhirnya Naruto menyatakan cinta kepada Hinata yang langsung disambut sebuah anggukan kecil dari gadis itu. Semua orang turut bahagia atas mereka kecuali Sasuke.

End flash back~

Sabtu,, 23 Juli

Siang itu Hinata mengajak Naruto untuk makan siang bersama di café. Ia ingin membicarakan sesuatu dengan Naruto. Ia sudah tidak tahan lagi jika harus menjalani hubungan yang seperti ini. Ia ingin mengakhirinya. Ia sudah lelah. Sesampainya di café, mereka memesan makan dan minuman, saat menunggu pesanan datang Hinata mulai angkat bicara.

"Naruto-kun, aku ingin bertanya."

"Tanya apa hime?"

"Apakah kau benar-benar mencintaiku Naruto-kun? Karena aku merasa sekarang perasaanmu padaku hanyalah sebuah obsesi saja. Itu membuatku sakit."

"Apa yang kau bicarakan Hinata? Tentu saja aku mencintaimu. Aku takut sekali kehilanganmu. Akan kulakukan apa saja asal kau tidak pergi dariku." Aku Naruto

"Termasuk menyakitiku?" Tanya Hinata dengan wajah sedih

Naruto tidak dapat menjawabnya. Ia sedang berpikir. Tapi suara hinata membuyarkan lamunannya.

"Kalau seperti ini aku tidak sanggup lagi, kau hanya membuatku semakin merasa jauh darimu Naruto-kun. Aku tidak mengenal lagi kekasihku yang dulu sangat bersikap baik dan riang. Aku merindukan Naruto yang seperti dulu." Kini air mata sudah menganak sungai di pelupuk mata Hinata.

"A.. Aku… aku tidak menyadarinya. Telah menyakitimu sedemikian dalam. Aku terlalu khawatir pada diriku sendiri. Aku tidak bisa jika tanpamu Hinata. Aku takut Sasuke akan merebutmu dariku. Dia menyukainmu. Sejak lama.." aku Naruto dengan frustasinya

"Pikirkanlah semuanya Naruto-kun. Apa aku akan membalas cinta dari Sasuke-san disaat aku mencintai orang lain? Aku pulang dulu." Kini Hinata tidak dapat menahan lagi air mata yang mendesak keluar, ia berlari menuju pintu keluar dan meninggalkan Naruto sendirian yang membatu mencerna kata-kata Hinata.

"He..eh.. Dia benar. Aku seharusnya mempercayainya. Hinataku tidak mungkin akan selingkuh." Justru selama ini ia yang bergaul dengan wanita lain disaat dirinya frustasi karena terlalu memikirkan ancaman Sasuke dan mengkhawatirkan apa yang tengah dilakukan Hinata jika tidak bersamanya.

"Aku memang laki-laki brengsek." Gumam Naruto

7 pm.

From: Uchiha Sasuke

Kupikir hari ini aku berulang tahun, apa kau melupakan sesuatu?

Hinata membaca pesan yang dikirim Sasuke beberapa menit yang lalu. Sebenarnya ia ingin mengucapkan selamat ulang tahun kepada tetangganya secara langsung tadi sore, tapi ia tidak ingin menyakiti Naruto. Apalagi ia sudah mengatakan hal seperti itu kepada Naruto tadi siang. Ia tidak ingin menjadi orang yang tidak konsisten.

Sent to: Uchiha Sasuke

Maaf aku melupakannya. Selamat ulang tahun ya… Oia, ada yang ingin aku bicakan besok. Kita bertemu di taman pukul 5 sore. Sampai ketemu besok.

Keesokkannya~

"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Sasuke to the point

"Ini kado untukmu. Dan juga… Aku minta Sasuke-san untuk tidak mendekatiku lagi. Bisakah?" tanya Hinata hati-hati

"Hn. Jadi kau sudah mengetahuinya?"

"Semuanya masih terasa membingungkan bagiku." 'aku juga sudah putus dengan NAruto-kun' lanjut Hinata dalam hati

"Baiklah. Aku pergi dulu Sasuke-san. Semoga kau menyukai kadonya."

Selepas kepergian Hinata, Sasuke masih termangu di bangku taman kompleks perumahan mereka. Banyak hal yang di sesalinya. Kehilangan sahabat hanya demi obsesinya pada Hinata, melukai perasaan kedua orang yang saling menyayangi. Sasuke tahu itu. Tergambar jelas di wajah Hinata saat ini. Itulah puncak kesabaran Hinata dan Naruto. Mereka menyerah oleh tekanan yang diberikan Sasuke.

"Maafkan aku, HInata."

continued~

note: please jangan bunuh sayaaaaaa! Maafkan saya. Ini file udah lama bgt akhirnya ketemu juga di flashdisk yang sempet hilang

no bacot lah, saya.

Kalo mau numpahin uneg-uneg lewat review aja! Titik! Wassalam!