Qtalita
.
.
Wonkyu
.
.
...
Wajah Kyuhyun masih memerah, setelah hampir 10 menit beradu argumen dengan Siwon ia akhirnya kalah dan menuruti mantan suaminya itu untuk ikut bersamanya, Siwon begitu cerdik dengan menggunakan Minho sebagai alasan utama.
"Kau masih marah?"
Suara Siwon terdengar sumbang ditelinga Kyuhyun sekarang, ia masih tidak habis fikir, Sehun masih dalam keadaan rentan dan Siwon kembali meninggalkan keluarganya, apa namja itu memang selalu seperti ini?
Kyuhyun memilih untuk tetap diam, mengeratkan pelukannya pada anak semata wayangnya yang masih terlelap, sama sekali tidak terganggu dengan insiden tadi. Siwon menghela nafas pendek, ia memutar kemudi lalu menghentikan mobilnya di pinggir jalan sebelum memasuki jembatan. Kyuhyun mendelik, dokter muda itu menatap Siwon dengan pandangan 'kenapa berhenti'
"Siapa Namja tadi?"
Siwon mulai menginterogasi, sama seperti beberapa tahun lalu saat Kyuhyun diantar pulang rekan kerjanya. Kyuhyun memutar bola matanya malas.
"Bukan urusanmu Siwon, sekarang lebih baik antar kami pulang atau kami turun disini saja"
Rahang Siwon mengeras, terdengar gemeletuk gigi di dalam mulutnya, Kyuhyun membuang pandangannya ke arah jalan, Siwon masih diam, menatap Kyuhyun lekat.
"Apa dia kekasihmu?"
"..."
"Jadi kau sudah memiliki kekasih sekarang?"
"..."
"Dan kau ingin mengenalkan kekasihmu itu pada Minho begitu?"
"..."
"Aku ayah Minho, seharusnya kau memberitahukan hal itu padaku dulu"
Geram, Kyuhyun geram, dipandanginya Siwon dengan mata membulat besar, nafasnya tidak beraturan, Kyuhyun menenangkan diri sebelum tersenyum pada Siwon.
"Dia Jonghyun, Sahabat baruku, dan apapun statusnya itu bukan urusanmu Choi Siwon"
"Kyu!"
"Aku tidak ingin berdebat denganmu, ini sama sekali tidak penting"
"Ini penting untukku"
Kyuhyun ingin tertawa sekarang, hey siapa ini? Seorang Choi Siwon yang bermain dengan kepercayaannya dan sekarang malah menganggap apapun tentang Kyuhyun adalah hal terpenting baginya.
"Sehun, itu yang penting untuk kau fikirkan sekarang Siwon"
Kalimat itu menjadi penutup sekaligus membuat Siwon sadar akan sesuatu, Kyuhyun sudah melangkah keluar dari mobilnya dengan Minho di gendongannya. Siwon bergegas mengejarnya, menahan lengan Kyuhyun bahkan menariknya kembali. Kyuhyun menampik dengan susah payah.
"Apa yang kau inginkan Siwon! Kau membuat kesabaranku habis" Pekik Kyuhyun sebelum mengusap punggung anaknya yang menggeliat di gendongannya.
"Masuk ke dalam mobil"
"Ck, kami akan naik taksi"
Kyuhyun ingin berbalik namun dengan sigap Siwon mengambil Minho ke dalam gendongannya, bocah itu sempat terbangun, namun Siwon memeluknya erat dan membawanya ke kursi penumpang mobilnya, menidurkan Minho dengan nyaman.
Satu masalah selesai, kini Siwon berurusan dengan ibu sang anak.
"Yak Siwon, kau tidak bisa se-"
Brak.
Siwon mencengkeram kedua lengan Kyuhyun, memojokkan namja itu ke badan mobilnya, tatapan matanya tajam, Kyuhyun mencoba menunduk, namun jemari Siwon mengangkat dagunya, meminta Kyuhyun untuk menatapnya.
"Katakan padaku, Siapa Jonghyun?"
Ingin rasanya Kyuhyun memukul kepalanya sendiri, ia lelah, ia tertekan untuk hari ini, dan ia butuh istirahat penuh, dan Siwon dengan semaunya memaksa Kyuhyun untuk memberinya waktu sendiri, berfikir. Kyuhyun memberontak, menghadiahi Siwon sebuah tamparan panas di pipi kiri namja tampan itu. Siwon terkejut, matanya berkedip menyesal, ia sadar sekarang, status mereka sudah lama berakhir, tidak seharusnya ia bertanya terlalu jauh.
"Kau bukan siapa-siapa Siwon, berhenti mencampuri kehidupanku, seperti aku yang membatasi rasa ini padamu"
Jantung Siwon serasa ditikam belati, pedih. Mereka terdiam dalam kaku, Tangan Siwon menjulur, membuka pintu mobil untuk Kyuhyun.
"Masuklah, akan kuantar kalian"
"..."
"Aku berjanji, aku benar-benar mengantar kalian"
Kyuhyun mengusap wajahnya sebelum kembali masuk ke dalam mobil, membiarkan ayah dari anaknya itu mengemudi dalam diam.
...
Kyuhyun membelai pucuk kepala Minho yang memeluk guling tanpa terganggu sedikitpun, melihat berapa banyak kemiripan Siwon tercetak disana, Kyuhyun menggigit pipi dalamnya, diusapnya pipi Minho, berbisik maaf berulang kali, merasa begitu bersalah karena sudah membawa Minho kedalam kehidupan keras keluarga kecil mereka, tidak seharusnya bocah itu merasakan hal seperti ini, seharusnya Minho menikmati indahnya keluarga yang sempurna, bermain bersama ayah dan ibunya, bukan belajar untuk menerima jika ayahnya tidak bisa selalu bersamanya, bukan belajar untuk mengerti, belajar untuk dewasa sebelum waktunya.
Kyuhyun menangis tertahan, ia lemah, terlalu lemah, hanya saja ia bersembunyi dibalik kedok, berpura-pura tegar meskipun sesekali hatinya akan jatuh berkeping-keping setiap kali ia tersenyum di depan Minho.
"Gwenchana?"
Changmin berdiri di ambang pintu, melipat lengan di depan dada, bersandar. Itu bukan sebuah pertanyaan pada umumnya, namun lebih kepada cibiran. Kyuhyun beranjak dari ranjang Minho, berjalan melewati Changmin.
"Aku bertemu dengannya"
"Huh?"
"Yeoja sialan itu"
"Sst, Changmin!"
Changmin ingin tertawa, adiknya terlalu lucu untuk di abaikan, bertindak seolah ia berada di pihak musuh, namun kemudian menangis diam-diam. Changmin mendekati Kyuhyun yang duduk di sebuah sofa menghadap balkon.
"Anaknya sakit eoh? Baguslah, agar dia tahu bagaimana rasanya 'sakit'"
"Hyung" Kyuhyun merengek, benar-benar tidak ingin hal ini dibahas. Ia lelah.
Changmin merenggangkan lengannya, ikut duduk di sofa lainnya, ia menatap intens Kyuhyun, lalu mengeluarkan selebar kertas amplop berwarna biru.
"Mulai minggu depan kau dipindahkan"
Kyuhyun terkejut. Hei dia tidak melakukan kesalahan apapun, ia bahkan masuk dalam kategori dokter berprestasi di rumah sakit tempat ia bekerja.
"Aku yang memintanya, dan beruntung direktur menyetujuinya"
"Damn!"
Kyuhyun membuka cepat-cepat amplop itu, membaca deretan kalimatnya seksama, ia menggeleng tidak percaya pada Changmin yang hanya memandangnya datar. Kyuhyun membanting surat itu, ia berdiri, berkacak pinggang, kesabarannya berada di ambang batas.
"Kau.."
"ini demi dirimu juga, aku tidak ingin kau bertemu mereka sesering ini, perhatikan Minho"
"Lalu kau meminta Direktur memindahkanku?"
"Tidak ada cara lain"
"Dan Direktur menyetujuinya secepat ini?"
"..." Changmin terdiam.
"Hahaha, tentu saja kau dan puteri direktur memiliki hubungan spesial, kenapa aku bisa lupa" Kyuhyun kedua tangannya ke udara, menatap Changmin tidak percaya, kakaknya mendengus, beranjak.
"Sebaiknya kau berberes saja"
"Tapi.."
"Aku tidak ingin dibantah Shim Kyuhyun"
Kyuhyun diam, amarahnya membuncah, ia mengacak rambutnya gemas mendahului Changmin, masuk ke dalam kamarnya lalu membanting pintu itu dengan keras. Changmin mengusap wajahnya. Sungguh, ia hanya ingin yang terbaik untuk Kyuhyun, apalagi setelah tadi ia bertemu dengan Liu Wen, ia ingin menjauhkan Kyuhyun dari mereka, setidaknya sampai luka itu benar-benar menutup sempurna.
...
Siwon memasuki kamar inap Sehun, menyampirkan jasnya pada tubuh Liu Wen yang tertidur di sofa, atensinya tidak terlalu lama pada yeoja itu, Siwon kini duduk disamping ranjang yang sungguh terlihat besar untuk anak bayi berumur 8 bulan.
"Hei boy, cepatlah sembuh, kau membuatku ikut sakit"
Siwon mengelus lengan kecil Sehun, bermain dengan jari jemari bayi mungil itu. Siwon tersenyum, mengecup dahi Sehun sebelum beranjak menuju sofa yang masih kosong.
"Aku bertemu Changmin tadi"
Langkah Siwon terhenti, ia berbalik, Liu wen duduk dengan melipat jas yang tadi disampirkan ditubuhnya, senyumnya miris, Siwon tahu apa yang terjadi, Siwon yakin tidak ada hal bagus yang didengar istrinya itu.
"Apa aku seburuk itu?"
"Huh?"
"Changmin menyebutku wanita Sialan, wanita pelacur, dan perebut suami orang"
Siwon terdiam, tidak berniat membuka percakapan, ia cukup mendengar apa yang akan diucapkan Liu Wen, Yeoja itu terdengar menghela nafas, bergetar, Siwon tetap diam ditempatnya, bermain dengan jemarinya.
"Saat di toilet, aku mendengar mereka, para perawat wanita, dan dokter muda"
"..."
"Ternyata aku cukup hina sebagai seorang yang merusak kebahagiaan dokter kesayangan mereka"
Siwon mengangkat wajahnya, Liu Wen tidak menangis, hidupnya terbiasa keras, dan Siwon cukup tahu banyak tentangnya. Liu wen memandang Siwon, memaksa senyumnya.
"Seharusnya malam itu kau tidak datang Shiyuan"
Siwon mendelik, merasa bukan saatnya membicarakan hal itu lagi, ditempat ini. namun Liu Wen berkeras, wajahnya tidak menandakan ia ingin berhenti sekarang.
"Seharusnya kau biarkan saja aku ditempat itu, tanpa harus membawaku kerumah sakit"
"Lalu kau akan bunuh diri, di ruanganku, dalam keadaan hamil begitu?"
Cukup, Emosi Siwon terpancing, ia sudah mengatakan hal ini berulang kali, ia tidak ingin membicarakan apapun tentang insiden itu lagi.
"Liu Wen cukup, aku lelah, ini sudah terjadi, bisakah kau tidak mengungkitnya lagi? Sebaiknya kau cari ide menemukan dia, demi Sehun"
Siwon menyesal kembali kerumah sakit jika hanya ini yang akan dia dengar.
"Apa Sehun separah itu?"
Siwon berhenti di ambang pintu, memandang Liu Wen yang tidak berkedip memperhatikan Sehun, Siwon menggigit bibir bawahnya.
"Separah apapun keadaan Sehun, dia membutuhkan ayah kandungnya"
...
Kyuhyun duduk merenung dengan memeluk lututnya di kursi taman rumah sakit, setelah pagi tadi bertemu direktur, ia masih memiliki waktu 2 minggu sebelum dewan pusat memutuskan kepindahannya, Kyuhyun menggerutu sendiri.
Puk.
Namja itu tersentak, sesuatu yang dingin menempel di pipinya dan seorang namja duduk disebelahnya. Kyuhyun tersenyum, menurunkan kedua kakinya lalu menerima uluran minuman kaleng dari namja itu.
"Ini masih pagi Kyu dan kau sudah melamun"
Jonghyun namja itu, membuka kaleng miliknya, meneguknya perlahan. Kyuhyun memainkan jemarinya di permukaan kaleng, sebuah minuman dingin yang terbuat dari sari jeruk, entah kenapa pagi ini Kyuhyun sedang tidak ingin meminum minuman manis, lidahnya sedang ingin mencicipi pahitnya americano, dan lebih parahnya ia menginginkan minuman itu dibuat oleh Siwon.
Aiissh, Kyuhyun menepuk pelipisnya, membantu kepalanya agar tersadar. Jonghyun terkekeh kecil, Kyuhyun mengerling padanya.
"Wae?"
"Kau"
"Aku?"
"kau aneh"
Kyuhyun ikut tersenyum, memang benar ucapan Jonghyun jika dirinya sudah kelewat aneh, sangat aneh malah, dan parahnya ini semua karena mantan suaminya, ugh.
Jonghyun memiringkan tubuhnya menghadap Kyuhyun, senyumnya cukup misterius, hanya tarikan kecil di bibir tipisnya.
"Sunggyu sebentar lagi keluar dari rumah sakit'
Kyuhyun mengangguk, mengiyakan jika memang keponakan kecil namja disampingnya itu sudah pulih dan sisa menunggu tahap penyembuhan, Kyuhyun melirik Jonghyun yang tersenyum kecut.
"Wae? Kau tidak suka Sunggyu sembuh?"
Jonghyun menggeleng tidak setuju.
"Bukan begitu, hanya saja, jika Sunggyu sembuh, berarti aku tidak bisa bertemu lagi denganmu"
Kyuhyun terbatuk, sementara jonghyun tertawa keras, merasa sedang digoda Kyuhyun menepuk lengan jonghyun, membalas perbuatan namja itu dengan cubitan kecil sepanjang lengannya.
Tanpa mereka tahu, seseorang sudah menghancurkan satu kotak sampah hingga isinya berhamburan di belakang mereka.
...
Siwon masih sepenuhnya dikerubungi amarah saat ia memasuki ruangannya, sang sekertaris yang biasanya bersikap ramah kini nyalinya menciut saat Siwon lewat di depan mejanya. Ia memilih untuk menyelamatkan hidupnya daripada berbasa-basi menyapa atasannya yang tengah berada dalam mood tidak terkontrol.
Brak.
Bruk.
Dan benar, kenyataannya sekarang terdengar suara-suara aneh dari dalam ruangan pimpinannya itu, sang sekertaris yakin setelah Siwon keluar ia harus memanggil office boy lebih banyak atau mungkin tukang reparasi.
Cklek.
Siwon muncul dengan nafas terengah, menghampiri meja sekertarisnya.
"Ada jadwal apa aku hari ini?"
Sang sekertaris kelabakan, dengan cepat membuka jadwal yang ia susun rapih lalu membacakannya untuk Siwon.
"Cancel semuanya"
"Eh? Tapi.."
"Aku bilang Cancel semuanya"
"..."
"Dan jangan ganggu aku"
Blam.
Yeoja bertubuh tambun itu memijit pangkal hidungnya, kemarin Siwon yang memintanya untuk mengatur jadwal pemotretan dengan salah satu model ternama untuk iklan terbaru produk mereka, namun sekarang Siwon membatalkan semuanya, termasuk rapat kerja sama untuk pengembangan perusahaan mereka di jepang. Dahi yeoja itu mengerut dua kali lipat dari biasanya, menggerutu kecil.
Sementara itu, Siwon duduk tidak tenang di kursinya, masih dia ingat bagaimana Kyuhyun tertawa lepas di depan namja lain, dan Siwon tidak terima akan hal itu. hell, Siwon sepenuhnya tidak sadar jika apa yang terjadi tidaklah lepas dari perbuatannya.
"Jonghyun.. tidak! Kau tidak akan pernah bisa mendekati Kyuhyun" geramnya.
...
Minho menggembungkan pipinya kesal, ia sudah menunggu 30 menit dan pamannya belum juga muncul, padahal sekolah mulai sepi, teman-temannya sudah lebih dulu pulang, meninggalkannya sendirian di gerbang sekolah, seandainya Minho tahu akan seperti ini, dia akan memilih ikut dengan Taemin tadi, paling tidak ia bisa makan es krim di rumah bocah cilik itu.
Piiip..piiip..
Mata Minho menyipit, ia mengenali mobil ini, dan benar saja, seketika Minho memekik senang ketika seorang namja keluar dari kursi pengemudi.
"Daddy!"
Hup.
Minho melompat ke gendongan Siwon, memeluk leher Siwon erat lalu mengecup kedua pipi berlesung itu senang.
"Minho tidak tahu kalau daddy akan menjemput Minho, apa Mommy tahu?"
Siwon menggeleng.
"kalau Mommy sampai tahu, Daddy yakin Mommy akan memotong leher Daddy" Siwon mempraktekkan leher yang diiris di depan Minho dengan wajah lucu, Minho terkekeh mengiyakan, bukan rahasia umum bagaimana cerewetnya Kyuhyun terhadap keluarganya, sejak mereka masih hidup bersama bahkan sampai sekarang.
"jja, bagaimana kalau kita ke kantor Daddy? Shin Ahjumma pasti senang" Siwon membayangkan sekertarisnya itu memekik melihat Minho. Mata Minho membulat, sudah lama ia tidak mengunjungi kantor Daddynya. Iapun mengangguk, namun Siwon mengeluarkan ponselnya.
"Sebelumnya, Minho harus menelpon Mommy arra, jangan buat Mommy khawatir"
Minho kembali mengangguk, masuk ke dalam mobil Siwon sambil mengutak atik ponsel ayahnya, senyumnya mengembang dan matanya mengerling nakal ke arah Siwon yang baru saja masuk ke kursi pengemudi.
"Eiiiyyyy 'My Only One' ?"
Siwon terkejut saat Minho membaca nama kontak yang Siwon berikan untuk nomor ponsel Kyuhyun, ia tersenyum malu, ternyata anaknya sudah cukup dewasa untuk menggodanya.
"Ck, cepat hubungi Mommy" Siwon mengacak rambut Minho yang tidak berhenti terkikik geli.
Minho menggoyang-goyangkan kakinya sembari menunggu sambungan teleponnya terhubung, sementara Siwon sudah menyetir keluar daari lingkungan sekolah.
"Ah Mommy!" Pekik Minho.
"Eh, Minho? kenapa Minho menggunakan ponsel daddy?" Suara terkejut berasal dari seberang line, Minho menjauhkan sedikit ponsel dari telinganya.
"Mom, Changmin Samchon belum menjemput Minho, untung Daddy datang. Ah, Minho akan ke kantor Daddy ne" Jawabnya riang, tidak tahu jika ibunya sudah memijit pelipis di seberang sana.
"Minho sekarang minta pada Daddy untuk mengantarmu kerumah sakit"
Bibir Minho mengerucut.
"Tapi Minho ingin ke kantor Daddy, please" Mohon Minho, terdengar dengusan dari Kyuhyun.
"Minho.. dengarkan Mommy, Daddy-mu itu sibuk, jadi Min-"
"POKOKNYA MINHO INGIN KE KANTOR DADDY!"
Klik.
Siwon terkejut, Minho berteriak lalu mematikan sambungan, bibirnya mengerucut dengan pipi digembungkan, Siwon menepikan mobilnya lalu berpaling menatap Minho.
"Hei, Minho bisa membuat Mommy sedih" Bujuk Siwon.
"Tapi Minho ingin bersama Daddy, Minho rindu Daddy, Daddy tidak pernah menginap dirumah lagi, Mommy bilang Daddy bukan Cuma milik Minho saja sekarang, Minho harus bisa berbagi" Mata Minho berembun, ujung hidungnya memerah, hati Siwon perih, matanya ikut terasa panas, sebegitu egoiskah dirinya? Lihat! Anaknya saja bisa merasakan jarak itu.
"Minho hiks tidak bisa berbagi Dad, Minho tidak bisa Hiks.. Minho ingin Daddy dan Mommy bersama-sama lagi" Minho mengusap matanya yang berair, ia terisak kecil, Siwon menarik Minho ke dalam pelukannya, sama-sama terisak, Siwon mengecup pucuk kepala Minho berulang kali, berbisik maaf yang tulus. Siwon merasa bersalah, ini semua karenanya, karena kebodohannya, karena sikap terlalu baik yang ia miliki.
"Minho sayang, lihat Daddy"
Minho mengangkat wajahnya yang basah, mengusap matanya kasar lalu menatap Siwon dengan mata bulatnya.
"Apa Minho ingin Daddy dan Mommy bersatu kembali?"
Minho mengangguk semangat, tentu saja, itu yang menjadi mimpi Minho setiap tidurnya, pintanya setiap hari, doanya. Siwon tersenyum, mengecup dahi minho lalu mengusap-usap pipi anaknya.
"Kalau begitu, bagaimana jika anak Daddy yang paling tampan ini membantu Daddy membujuk Mommy?"
Mata Minho berbinar senang.
"Jinja? Daddy akan bersama Mommy dan Minho lagi?"
Siwon mengangguk, Minho bersorak senang, melompat-lompat di kursinya dan berakhir dengan pelukan erat di leher Siwon.
Demi melihat anaknya seperti ini Siwon bertekad, menyatukan keluarga mereka lagi seperti dulu, menyingkirkan segala kesalahpahaman yang telah ia perbuat selama ini.
TBC
*bow*
Siapa yang nunggu ff ini update?
Huhuhuhu, maaf qai gak bisa ikutin jadwalnya T_T q\
Qai lagi sibuk banget huaaaaaaa
So, bagaimana dengan chapter ini?
LOVE
QAI^^
