Chapter 4

Pagi ini, Yunho seperti biasa ia menyiapkan sarapan untuk Joongie nya sebelum pergi ke kantor. Setelah semalam ia istirahat, ia merasa tubuhnya sudah lebih baik. Dengan senyum yang tidak pernah hilang, ia mulai menyiapkan bahan-bahan yang akan ia gunakan untuk memasak nasi goreng untuk sarapan Joongie nya itu.

Tak butuh waktu lama nasi goreng special for Joongie buatan Yunho sudah tertata indah di piring siap untuk diantarkan ke kamar Jae sesuai perintah Jae.

Tok..tok..tok..

Tak ada jawaban.

Lagi, Yunho mencoba untuk mengetuk pintu tapi tetap tidak ada jawaban. Karena tak ada jawaban, Yunho pun langsung membuka pintu kamar Jae. Yunho mengerutkan dahinya saat mendapati pintu kamar Jae yang tidak pernah dikunci tidak bisa dibuka tanda sang pemilik kamar menguncinya.

'Aneh..' batin Yunho.

Dia pun mencoba untuk mengetuk pintunya kembali sembari memanggil Jae mengatakan kalau sarapan sudah siap. Tapi tetap tak ada jawaban. Tiba-tiba terdengar suara teriakan yang Yunho yakin itu adalah suara Joongie. Yunho pun menjadi khawatir akan keadaan Joongie nya.

"Joongie! Buka pintunya! Kau kenapa?"

Masih tidak ada jawaban. Karena khawatir dan tidak sabar, Yunho pun mendobrak pintu kamar Jae. Yunho menaikkan alisnya ketika melihat kasur Jae yang kosong, ia memalingkan kepalanya kea rah jendela kamar Jae. Disana, disamping jendela itu Yunho melihat Jae sedang berdiri sambil menatap koran yang sekarang sedang berada di lantai kamarnya dengan tatapan yang tidak Yunho artikan. Jae berdiri tegak sambil mengepalkan tangannya dikedua sisi tubuhnya, sesaat kemudian Jae menyunggingkan ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman. Tapi senyuman Jae saat ini bukanlah senyuman yang sudah sejak lama Yunho ingin lihat. Jae memang tersenyum, tapi jika dilihat matanya menunjukkan rasa benci, marah, dan yang pasti kecewa.

"Joongie.."panggil Yunho sambil menghampiri Jae.

"…."

"Joongie, kau kenapa?" tanya Yunho. Karena Jae masih tak menjawab, ia pun memalingkan pandangannya kearah koran yang masih ada di lantai. Mata Yunho sukses membulat ketika melihat halaman depan koran tersebut yang ternyata tengah memasang foto dari 2 majikannya, Tuan dan Nyonya Kim yang merupakan orang tua Jae. Yang lebih membuatnya kaget adalah judul dari headline koran tersebut ialah "Pemilik perusahaan nomor 1 di Korea Mr. Kim Gu Ra akan segera bercerai dengan istrinya Ny. Park Bom I".

"Joongie…" Yunho mencoba untuk memegang tangan Joongie.

"Kau sudah tahu kan?" tanya Jae sambil menepis tangan Yunho.

"Joongie… maaf…" Yunho yang tidak tahu harus menjawab apa hanya bisa meminta maaf.

"Siapkan mobilku. Aku mau berangkat kerja!"

"Mwo? Tapi Joongie, kau…"ucap Yunho kaget.

"Kubilang siapkan mobilku!" uca Jae dengan nada tinggi.

Yunho yang kaget pun langsung mengiyakan permintaan Jae dan pergi keluar dari kamar Jae untuk melakukan perintah Jae.

Jae yang sudah siap dengan perlengkapan ke kantornya pun menuju ke garasi untuk pergi ke kantor. Saat ia membuka pintu mobilnya, ia kaget melihat Yunho yang sudah duduk di kursi kemudi mobilnya.

"Kemana supirnya?" tanya Jae dengan nada datar.

"Dia ijin, istrinya akan melahirkan. Baru saja aku dapat kabar bahwa istrinya sudah melahirkan bayi perempuan. Dia pasti lucu sekali, aku jadi ingin…."

"Diam! Jalankan mobilnya!" ucap Jae memotong cerita Yunho.

"Baik" jawab Yunho lirih.

Sepanjang perjalanan Jae hanya melamun sambil melihat keluar jendela. Ia sama sekali tidak sadar kalau jalan yang ia lewati bukan jalan menuju kantornya. Setelah kira-kira 30 menit, Yunho pun menghentikan mobilnya dan barulah Jae menyadari kalau ia tidak sedang di parkiran kantornya melainkan di tepi sungai Han.

"Kenapa kita kesini? Sepertinya tadi aku sudah jelas mengatakan kalau aku mau ke kantor! Dan ini bukan kantorku!" bentak Jae pada Yunho.

Yunho yang sudah hafal dengan kelakuan Joongie nya hanya tersenyum dan keluar dari mobil. Ia menuju ke arah Jae dan membukakan pintu untuk Jae.

"Silakan Joongie…" ucap Yunho sambil tersenyum.

Jae tidak merespon, ia tetap duduk di dalam mobil. Yunho yang melihat itu menghela nafas dan kemudian meraih tangan Jae dan membawanya keluar dari mobil menuju tepi sungai han.

"Duduk.." ajak Yunho.

Jae tidak merespon dan tetap berdiri. Yunho yang melihat itupun langsung berdiri lagi dan menekan pundak Jae tanda ia menyuruh Jae untuk duduk.

"Ayolah duduk saja." Ucap Yunho yang kemudian berjalan ke samping Jae dan duduk di sampingnya.

"Aku mau pulang" ucap Jae dingin.

"Sebentar saja, nikmatilah suasana di sini. Pejamkan matamu dan hiruplah udara disini. Udara disini segar sekali. Kau harus mencobanya. Perasaanmu pasti akan lebih tenang."bujuk Yunho.

Yunho pun memejamkan matanya dan menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskannya. Ia melakukannya beberapa kali untuk memberi contoh pada Jae. Beberapa saat kemudian, Yunho menghentikan aktifitasnya dan membuka matanya. Ia melihat kesamping dan mendapati Jae sama sekali tidak mengikuti gerakannya. Ia malah berdiri dan akan beranjak pergi. Yunho yang melihatnya pun langsung ikut berdiri dan memanggil Jae.

"Joongie!" panggil Yunho.

"Joongie berhentilah!" panggil Yunho sedikit meninggikan nada suaranya.

Jae masih tetap berjalan tanpa menoleh ke belakang sedikitpun. Yunho langsung menghampirinya, ia menarik lengan kanan Jae dengan tangan kirinya sehingga tubuh Jae berbalik dan langsung memeluknya. Jae yang kaget pun berusaha untuk berontak, tapi kekuatan Yunho lebih besar dari pada Jae jadi ia hanya bisa menyerah.

"Kumohon berhentilah berpura-pura seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Kau sudah tahu orang tuamu akan bercerai pasti kau merasa sedih kan? Kau boleh menangis Joongie, kau tidak perlu terlihat kuat. Menangislah. Aku tahu kau kecewa pada orangtuamu, maka dari itu menangislah."

"Aku tidak selemah itu Jung!" ucap Jae yang suaranya teredam karena bibirnya sedang ada di dada Yunho.

"Siapa yang bilang kalau kau lemah, Joongie. Aku hanya memintamu untuk mengeluarkan emosimu. Menangis tidak membuatmu terlihat lemah, sebaliknya setelah menangis kau akan terlihat lebih kuat. Kalau kau malu untuk menangis aku akan pergi dan menunggumu di mobil, setelah kau selesai menangis dan perasaanmu sudah membaik kau bisa temui aku di mobil."ucap Yunho lembut sambil mengusap kepala Jae. Yunho mulai melepaskan pelukannya, tapi tak disangka kini malah Jae yang mengeratkan pelukannya. Yunho yang merasakan pelukan Jae pun hanya bisa kaget namun senyumnya mulai terbentuk ketika ia merasakan bagian dadanya yang mulai basah tanda Jae sudah mulai menangis.

Jae POV

Dia memelukku. Ya Jung ini memelukku. Aku tidak suka mengakuinya, tapi aku merasa sangat hangat dan tenang. Dia menyuruhku menangis dan mengatakan kalau menangis tidak akan membuatku terlihat lemah, berbeda dengan yang pernah Appa katakan padaku dulu bahwa laki-laki tidak boleh menangis apalagi di depan orang lain. Ia membelai rambutku dan melepaskan pelukannya setelah mengatakan kalau ia akan menunggu di mobil. Tapi entah mengapa aku reflek mengeratkan pelukanku. Aduh aku ini kenapa sih? Perlahan mataku mulai memanas dan buliran ini pun menetes. Entah kenapa aku merasa tidak malu sama sekali, mungkin karena sekarang kepalaku sedang ada di dekapannya sehingga orang lain tidak akan melihatku menangis. Atau karena si Jung ini yang memelukku? Aduh Kim Jaejoong kau ini berpikir apa sih? Sadarlah! Kau ini majikan dari orang yang sedang memelukmu ini. Kau namja! NAMJA! Tapi memangnya kalau aku namja terus kenapa? Aish…aku mulai gila! Lagipula kenapa si Jung ini selalu ada disampingku. Apa dia tidak punya kerjaan lain? Apa dia tidak punya pacar? Aku mulai meracau. Setelah aku merasa cukup tenang, akupun mulai melepaskan pelukanku, eh pelukannya.

Jae POV End

"Bagaimana? Sudah baikan?" tanya Yunho lembut.

Jae hanya mengangguk sekilas.

"Wajahku pasti buruk sekali." Ucap Jae lirih

"Tidak. Kau cantik. Eh maksudku tampan. Hidungmu lucu. Merah sekali." Canda Yunho.

"Antar aku ke kantor!"

"Kau yakin mau ke kantor dengan hidung merah dan mata bengkak? Tadi aku sudah telepon Changmin dan dia bilang kau tidak ada rapat apapun. Sebaiknya kau pulang. Kau kerjakan pekerjaan kantormu di rumah. Aku akan mengantarmu pulang dan ke kantormu untuk mengambil pekerjaanmu. Bagaimana?" tawar Yunho.

"Terserah. Percuma juga aku menolak, kau yang nyetir."

"Itu kau tahu. Andaikan setiap hari kau menurut, pasti menyenangkan. Ayo!" ucap Yunho sambil menarik lengan Jae halus menuju mobil.

kantor Jae

"Minnie, kau sudah menyiapkan semuanya?" tanya Yunho saat bertemu dengan Changmin.

"Ne hyung. Ini semua berkas yang harus Jaejoong-shi tanda tangani dan yang ini proposal-proposal yang harus Jaejoong-shi pelajari."

"Oke! Aku langsung pulang yang Minnie. Terimakasih…"ucap Yunho yang mengambil tumpukan map di meja Changmin dan berjalan meninggalkan meja Changmin.

"Tunggu hyung!"

"Ne. kenapa? Ada yang ketinggalan ya?"

"Ani. Hanya saja,,,kau tidak apa-apa kan hyung. Perutmu tidak sedang sakit kan? Mukamu pucat hyung." Tanya Changmin khawatir.

"Gwenchana Minnie. Kau tenang saja."

Kim Mansion

"Joongie, ini aku bawakan dokumen-dokumen yang harus kau tanda tangani dan proposal yang harus kau pelajari. Sepertinya banyak sekali, kata Changmin tidak harus selesai hari ini juga jadi jangan terlalu memaksakan diri ya."

"Terima kasih. Taruh saja, kau boleh sarapan dulu. Kau belum sarapan kan?" ucap Jae yang langsung membuka file-file yang ada di meja kerjanya.

"Ne. selamat bekerja Joongie…" ucap Yunho tanpa melupakan senyumnya.

Saat Yunho berbalik, ia merasakan sakit yang teramat sangat di perutnya. Ia menekan perutnya sekilas takut Jae melihatnya. Ia berusaha menahannya sembari berjalan menuju pintu kamar Jae untuk keluar. Tapi sepertinya gagal karena saat akan memegang knop pintu kamar Jae semuanya menjadi gelap.

Jae POV

Brukk,,,

Karena kaget aku langsung mengalihkan pandanganku ke arah pintu kamar. Dan disana kulihat Jung sedang terbaring dengan mata tertutup rapat dan tangan diperutnya. Dia tidak mencengkram perutnya hanya memeganginya. Akupun langsung menghampirinya. Aku panik melihatnya tidak sadarkan diri begini. Aku takut terjadi sesuatu.

"Tolong!" teriakku.

Para pelayan dan Jung ahjusshi langsung masuk ke kamarku untuk melihat apa yang terjadi. Jung ahjusshi langsung berlutut disamping tubuh anaknya dan mengambil handphone nya untuk menghubungi seseorang yang aku tak tahu siapa.

"Tolong bantu aku membawa Yunho ke kamarnya." Ucap Jung ahjusshi panik.

Pelayanku yang bernama Kangin langsung menggendongnya dan membawanya menuju kamarnya. Aku mengikutinya, kali ini aku benar-benar takut terjadi sesuatu padanya.

Tak berapa lama ada laki-laki membawa tas hitam masuk ke kamar Yunho. Ia mengeluarkan alat kedokteran dari dalam tas hitamnya. Dia pasti yang tadi ditelepon Jung ahjusshi.

"Bagaimana Junsu? Yunho baik-baik saja kan?" tanya Jung ahjusshi.

Laki-laki yang bernama Junsu itu langsung membuka laci meja disamping ranjang Yunho untuk mengambil botol yang ternyata kosong. Dia terlihat menghela nafas.

"Ahjusshi, obat Yunho hyung sudah habis. Maagnya kambuh lagi, dia harus segera minum obat. Aku akan keluar sebentar untuk membelikan obatnya." Tawar Junsu.

"Biar aku saja. Tuliskan saja resepnya, biar aku yang membelinya." Entah kenapa aku ingin aku sendiri yang membelinya.

"Kau pasti Jaejoong-shi. Ne ini resepnya, tapi obat ini hanya bisa ditebus di apotik di Seoul hospital. Dia alergi obat pada obat lain, jadi obatnya harus ini." Terang Junsu.

"Ne. aku akan menebusnya." Aku langsung berlari mengambil jaket dan menuju mobil untuk membeli obat ini.

Jae POV End

"Ahjusshi, Yunho hyung sudah aku beri suntikan dan aku masih ada persediaan obat untuk Yunho hyung. Aku harus pergi karena masih ada pasien. Jadi kalau nanti Yunho hyung bangun tolong minumkan obat ini, yang dibeli Jaejoongshi biar untuk persediaan saja mengingat Yunho hyung sering sekali telat makan." Ucap Junsu.

"Ne, terimakasih Junsu. Untung kau cepat kesini."

"Sama-sama ahjusshi. Aku pergi dulu." Pamit Junsu.

Jae sudah selesai membeli obat, namun ketika ia sedang berada di parkiran dan menuju ke mobilnya, tiba-tiba ada yang membekap mulutnya dengan kain dan beberapa saat kemudian semuanya gelap.

******************* TBC**********************

Akhirnya update….

Mian lama,,,,,

Masihkah ada yang mau baca? Kalau ada RCL ya…. Gomawo….