Hatsune Miku tidak mati—tidak, dia telah mati hanya saja seseorang telah melakukan ritual crimson sacrifice untuk menyelamatkannya tepat saat aku berlari karena shok dan dia sudah bertukar tempat dengan sipenulis cerita. Dan aku baru mengetahuinya setelah tak sengaja membaca sebuah halaman buku diari merah yang kutemukan di kamarku beberapa hari yang lalu secara acak. Sekarang aku tahu satu rahasia dari ritual crimson sacrifice—dan semuanya berhubungan satu sama lain. Buku itu seperti mencatat apa yang tertulis oleh sang penukar nyawa, setidaknya begitulah yang dapat aku jelaskan dari buku itu.
Seperti yang aku jelaskan sebelumnya buku diari merah yang kutemukan beberapa hari yang lalu sepertinya juga ada hubungannya dengan pena merah dan semuanya terlihat sangat jelas.
Aku memiliki pena merah, dan masih banyak orang diluar sana yang juga memiliki pena merah—seperti orang bodoh yang menukar nyawanya dengan Hatsune Miku kemarin—mungkin dia mendapatkannya setelah melakukan perjanjian darah dengan orang mati seperti yang dilakukan keluargaku. Sedangkan aku mendapatkannya karena aku adalah keturunan dari orang yang melakukan perjanjian darah dengan orang mati—ya perjanjian itu membuat pena merah tidak akan punah sebelum keturunan dari keluarga itu menghilang.
Semua ini menjadi semakin rumit saja, tapi aku yakin semua ini pasti ada jalan keluarnya. Karena setiap yang masuk pasti akan keluar, setiap yang hidup pasti akan mati. Kau mengerti 'kan? Setiap kesulitan ada jalan keluarnya walau hanya akan ada setitik harapan yang akan kau dapatkan dari semua itu.
Crimson Sacrifice oleh Naoya Yuuki
VOCALOID © Yamaha, Crypton, etc.
Rahasia
Aku memejamkan mataku mencoba berpikir dua kali lebih serius dari biasanya, di depanku sekarang Hatsune Miku sedang berdiri dengan wajahnya yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Datar. Tidak ada ekspresi. Kosong. Gadis itu menutup sebelah matanya dengan tangannya, tersenyum kearahku entah karena apa—senyuman itu lama-kelamaan terlihat mengerikan.
"Ritual itu…" dia mulai membuka mulutnya aku membuka mataku menatapnya, dia berbicara dua patah kata terputus. Aku benci situasi ini, membuatku penasaran tapi aku sama sekali tidak menunjukkan rasa penasaranku secara terang-terangan. Aku tidak merespon untuk ingin tahu tapi menunggunya melanjutkan kalimatnya, hingga aku lelah menunggu karena dia tak kunjung melanjutkan kalimat itu.
Terdiam lama menatap satu sama lain dengan pandangan yang berbeda. Pada akhirnya gadis itu tertawa tanpa alasan—tepatnya dia mentertawai diriku. "Apa?" itulah responku karena aku bosan menunggunya melanjutkan kalimatnya.
"Tidak," responnya kembali datar seketika, gadis itu menunjuk kebawah gedung dengan telunjuknya. Kau harus tahu bahwa sekarang kami berdua berada diatas gedung sekolah, dia yang memintaku untuk datang ke atas sini. Berbicara diperpustakaan adalah suatu perbuatan yang tidak sopan. Itulah alasannya—gadis itu terlalu mematuhi peraturan yang dibuat, mungkin aku juga akan melakukannya.
Aku melihat telunjuk itu dan arah yang ditunjukkannya, aku tak mengerti apa maksud dari semua itu. Lalu aku menatapnya kembali. "Aku tidak akan mati…" ucapnya. "Meskipun aku melompat dari gedung setinggi ini, aku tidak akan pernah mati."
"Karena ritual itu menyelamatkanmu?" tanyaku.
Dia menggeleng, "Ini tidak ada hubungannya dengan ritual itu, aku—ragaku memang tidak mati, tapi jiwaku sudah lama mati. Aku hanyalah sebuah kulit tanpa isi." Dia mentertawakanku.
Aku menatap dirinya, aku akan balas mentertawakannya sekarang juga jika aku benar tidak memiliki perasaan. Tapi, aku tidak akan melakukannya dan mempertahankan ekspresi dinginku ini sungguh sangat sulit. Aku berjalan kearahnya, memeluknya. "Kau belum mati," bisikku. "Tidak jiwamu ataupun ragamu. Ritual itu telah mengubahmu, aku tahu itu."
"Ritual itu tidak melakukan apapun padaku," dia tidak akan pernah mencoba membalas pelukanku ataupun meresponnya dia hanya terdiam lama, hingga bel sekolah terdengar menggema di telingaku. Aku melepas pelukanku berharap dengan itu dia merasakan setitik kehangatan dari seorang teman—jika dia menganggapku seperti itu, aku berbalik dan melangkah menuju kelas. Sebelum aku melangkah terlalu jauh dia berkata. "Jangan pernah menyelamatkan aku dari kejahatan apa yang akan datang menghampiriku."
Aku meliriknya dengan ujung mataku, aku tidak ingin dan tidak akan pernah ingin terlibat terlalu jauh dengan kehidupannya—walaupun sebenarnya aku penasaran kenapa dia bisa menulis hal yang sama denganku saat lomba dulu—dan semua perkataannya membuatku penasaran. Walaupun begitu yang harus aku lakukan sekarang adalah menyelidiki tentang crimson sacrifice—ritual pertukaran nyawa yang membuatku tinggal sendirian sekarang ini. "Aku tidak akan ikut campur," ucapku seraya meninggalkan tempat itu.
ooo
Pelajaran terakhir sudah selesai beberapa menit yang lalu seluruh penghuni kelas sudah pergi menuju ruang klub atau pulang ke rumah mereka masing-masing, kecuali aku yang masih terpaku di dalam kelas menatap Hatsune Miku yang juga masih berada di dalam kelas duduk di depan sana dan tidak bergerak seincipun dari tempat duduknya sedari tadi. Ingin rasanya aku menyapanya untuk menyadarkannya dari lamunannya jika dia memang sedang melamun, namun aku mengabaikan niatku.
Aku segera merapikan buku-bukuku bersiap untuk menuju perpustakaan sekolah lagi hari ini, mataku tak sengaja melihat kearah halaman dari buku diari merah yang kosong di dalam tasku yang terbuka. Hingga aku menyadari sesuatu bahwa sebuah tulisan mulai terukir di sana. Aku membelalakkan mataku dan mengambil buku itu.
"Aku rasa kau akan jadi orang yang satu-satunya membenci ritual itu nantinya," Hatsune Miku mengatakan kalimat itu tanpa berbalik menatapku, dia mengangkat tangannya tinggi ke atas, aku mengalihkan pandanganku padanya ke arah tangannya. "Selamat tinggal?"
Aku makin membelalakkan mataku, dia—Hatsune Miku—sedang memegang pena merah. Karena shok aku segera berlari ke arahnya, namun sebuah penghalang yang entah kenapa bisa ada di sana menghalangi jalanku. Aku terduduk karena penghalang itu, sementara Hatsune Miku masih di sana duduk tanpa memandang kebelakang dengan pena merah ditangannya.
"Jangan!" teriakku. "Aku…" entah perasaan apa yang merasukiku saat itu bagaikan ada sesuatu yang tertahan tapi ingin kukeluar dengan bebas. "Aku … tidak ingin kehilangan orang yang kusayangi lagi!" teriakku keras, air mataku mengalir bersamaan dengan teriakanku.
"Orang yang kau sayangi?" dia menoleh, wajahnya terlihat sedih namun dia tersenyum. "Aku juga…" dia bangkit dari duduknya. "Aku juga tidak ingin kehilangan orang yang aku sayangi lagi!" dia menggenggam tangannya erat, saat itu aku melihat betapa rapuhnya dia—gadis itu hanya berpura-pura kuat. Dia hanya berpura-pura menjadi dingin. Dia hanya berpura-pura, selama ini dia hidup di dalam topeng kepura-puraan. Semuanya. Dia, sama sepertiku?
Aku berusaha untuk menembus penghalang itu—memukulnya beberapa kali walaupun aku tahu itu tidak ada gunanya. Penghalang itu seperti sebuah besi yang tak bisa dihancurkan tanpa sebuah alat khusus dan pada saat itu seseorang berjubah hitam yang datang entah darimana berjalan dibelakangnya perlahan dengan tangan kanannya yang berusaha untuk memasuki tubuh Hatsune Miku dari belakang. Ketika Hatsune Miku berbalik dia menatap orang itu matanya membulat begitu juga dengan orang berjubah hitam itu.
Hatsune Miku tersenyum kearahnya membuatku bingung. "Aku senang, aku akan mati ditanganmu…"dia malah melangkah ke arah orang itu, semakin dekat dan dekat. Sementara orang itu semakin mundur dan mundur. "Ada apa? Bukannya tugasmu adalah membuat orang itu menerima nyawaku?"
"Hatsune Miku!" aku berteriak dengan sisa tenagaku. "Lari! Ini adalah kesempatanmu!" kataku. Namun Hatsune Miku tidak memperdulikan aku dia malah tertawa melihatku berteriak begitu, ah aku telah dilecehkan. Padahal aku berniat baik padanya.
"Hentikan omong kosongmu, Megurine Luka! Aku melakukan ritual ini karena Ayahku baru saja dikabarkan meninggal dunia," intonasinya menjadi datar. "Untuk itulah aku melakukannya, karena aku tahu aku masih punya kesempatan," dia menatap orang di depannya datar. "Aku memiliki pena merah dari hasil perjanjian Ibuku dan pemberian 'Kakakku' yang mati karena pena itu."
Hatsune Miku berjalan mendekati orang itu, "Kenapa kau malah menjauhiku?" tanyanya pada orang itu. "Ayo cepat lakukan ritual pertukaran nyawa ini, aku telah bosan hidup dalam lingkaran kesengsaraan. Kau harus tahu itu!"
Aku memejamkan mataku, berdo'a agar pertukaran itu tidak terjadi. Yang aku ketahui sekarang adalah Hatsune Miku telah melakukan ritual itu dan sekarang ritual itu sedang terjadi. Hatsune Miku sedang dalam proses pertukaran nyawa sama seperti saat itu—saat pertukaran nyawa kakakku. Tapi … kenapa orang berjubah hitam itu menjauhi Hatsune Miku?
Aku melihat orang itu merapatkan giginya dan makin mundur menjauhi Hatsune Miku. Miku menyunggingkan senyuman yang terlukis diwajah datar khasnya. "Ada apa? Bukankah ini tugasmu…"
Mata itu kemudian menatap orang itu tajam. "Kagamine Rin?"
to be continued!
