Summary: Naruto begitu merasa peduli pada seorang gadis penyendiri. Bagai mana cara mengenal orang semacam itu? Apa yang diharapkan Naruto dengan mengenal Hinata?
Naruto By Masashi Kishimoto
Password By Surel
Genre: Friendship
Rated: T
Warning: typo(s), AU, Naruto's pov, dll
Chapter 4: Fujina Ankaa
"Oh ya. Aku tadi membawa makan siang karena saat di swalayan kau mengajak aku untuk makan bersamamu dan teman-temanmu, tapi karena kau tidak ada jadi aku putuskan untuk makan sendirian. Aku ingin merasakan lagi rasanya makan siang bersama teman." Aku lebih terkejut dari dia. Jadi dia mengabaikan traumanya dengan membawa bekal hari ini karena ajakanku tempo hari.
"Syukurlah ternyata kau mendengarkan ucapanku. " Aku melengkungkan garis bibirku ke atas.
"Kau tahu? Aku tidak ingin lagi mendengarkanmu atau siapa pun." Seketika lengkungannya berubah arah ke bawah. Apa yang terjadi pada gadis berambut biru tua itu?
"Tapi-"
"Aku tidak ingin mengulang semua yang pernah aku alami. Ankaa dulu begitu percaya padaku, tapi setelah dia merasakan efek dari berdekatan denganku, setelah itu dia begitu membenciku. Aku yakin siapa pun yang merasakan apa yang Ankaa rasakan akan membenciku juga, begitu juga denganmu. Sebelum semua itu terulang, tolong menjauhlah dariku!" Dasar perempuan ini, dari mana dia mendapat pikiran semacam itu?
"Apa maksudmu? Aku tidak akan seperti itu." Aku masih berusaha menegaskan bahwa argumennya tentangku sama sekali tidak benar.
Dia adalah tipe orang yang tidak percaya dengan kata-kata orang lain sebelum adanya pembuktian. Pasti selama ini hanya Fujina yang pernah berteman dekat dengannya. Apa lagi dia sudah mengalami banyak pengalaman buruk setelah Fujina memusuhinya. Itu adalah tekanan dari luar. Tapi sebenarnya dia mempunyai dorongan dari dalam, dia tegar. Buktinya dia masih bisa bertahan dalam masa sekolahnya meski dia selalu sendirian.
Dari berita lain yang pernah aku dengar, Hyūga yang mengalami kondisi seperti Hinata biasanya akan mengakhiri hidup mereka di usia muda dengan cara bunuh diri. Beberapa yang lainnya meninggal dengan cara yang tidak wajar, entah itu keracunan, tenggelam, atau ditemukan dalam keadaan tak bernyawa di dalam gudang.
"Kau berkata seperti itu sekarang, tapi nanti? Tidak ada yang tahu."
"Aku tidak percaya takhayul seperti itu!" Dia pikir aku percaya dengan takhayul tentang pembawa sial.
"Kau boleh saja tidak percaya, tapi semakin kau menyangkalnya, semakin kau dekat dengan akibatnya." Hinata memutar tubuhnya untuk membelakangiku.
Hinata menuruni tingkatan demi tingkatan tribun penonton, kakinya melangkah dengan cepat. Dia semakin menjauh, bahkan tak sedikitpun dia menoleh ke belakang. Aku berusaha memanggilnya beberapa kali, tapi dia terus saja menulikan pendengarannya. Aku berlari menyusulnya, sebelum dia pergi lagi entah ke mana. Dia tidak menghindar saat aku menyentuh bahunya. Kami berhenti tepat di tingkatan terbawah tribun penonton. Aku memenempatkan diriku untuk berdiri di depannya.
"Hinata-"
Hinata mengangkat kedua tangannya yang pucat, semakin tinggi, semakin tinggi, hingga akhirnya berhenti di bahuku. Mata khas Hyūga itu menatap lurus ke dalam mataku. Aku akhirnya melepaskan peganganku pada bahunya, aku hanya menunggu apa yang akan dia lakukan setelah-
Sial! Aku kehilangan keseimbangan tubuh saat dia mendorong bahuku hingga aku jatuh karena tersandung kakiku sendiri.
"Aku tegaskan sekali lagi, menjauhlah Uzumaki!" Setelah mengatakan itu Hinata berlalu begitu saja, meninggalkan aku yang belum sadar sepenuhnya.
Aku mengerjapkan mataku berulang kali. Apa Hinata benar-benar tidak menginginkan siapa pun untuk berada di sisinya? Tapi tadi dia berkata bahwa dia senang jika aku ingin menjadi temannya. Aku mengerti dia tidak ingin mengulang kehancuran pertemanan seperti yang pernah ia alami bersama Fujina Ankaa. Tapi, aku sungguh berbeda dengan Fujina. Meskipun aku tidak bisa menjamin untuk tetap menjadi temannya jika suatu saat kejadian buruk menimpaku. Setidaknya aku akan berusaha untuk menerima semua itu sebagai takdirku, bukan karena Hinata yang membawanya.
Setelah ini apa yang harus aku lakukan? Apa perlu aku berbicara dengan Fujina? Dia dulu juga pernah menjadi teman Hinata. Tapi untuk saat ini aku harus kembali dulu ke kelas, pelajaran bahasa Jepang bersama Kakashi-sensei pasti akan segera berakhir. Baiklah, aku ikut pelajaran yang selanjutnya saja, seni.
Semua yang Hinata lakukan membuat aku harus bertanya ulang pada diriku sendiri. Untuk apa aku meneruskan usahaku untuk menjadi temannya? Tapi, batinku sendiri selalu menjawab bahwa rasa penasaranku tidak akan pernah hilang seumur hidup jika aku belum mencapai tujuan awalku untuk mengenal dan menjadi teman Hinata.
Hinata tidak ada di tempat duduknya, apa dia pulang? Tapi tasnya masih saja ada di atas mejanya. Aku mencoba untuk tidak peduli pada ketidakberadaan Hinata di kelas saat ini. Pikiranku sudah terlalu penuh dengan banyak pertanyaan yang sampai detik ini belum terjawab.
"Naruto, kemana saja kau tadi?" Sai yang duduk di depanku membalikkan posisi duduknya kebelakang untuk menghadapku.
"Kau pergi dengan Hyūga?" Kiba ikut menimpali.
"Tidak." Kepalaku terkulai di atas meja.
"Apanya yang tidak?" Kiba yang duduk dibelakangku mengguncang kursi yang aku duduki dengan sekuat tenaga.
"Sudahlah, Kiba. Naruto, apa pun yang menjadi masalahmu dengan Hyūga, segeralah selesaikan." Perkataan sasuke membuat aku sadar, kata selesai dalam hidupku artinya selesai hingga benar benar tuntas A sampai Z. Tidak ada yang terlewat, dan tidak berhenti di tengah jalan. Ok! Akan aku selesaikan semuanya. Dan aku tahu harus memulainya dari mana.
Deidara-sensei, guru seni itu sudah masuk ke dalam kelas dan menyimpan tas berwarna hijau meliknya di atas meja. Sebuah map plastik bertuliskan absensi pun sudah dikeluarkannya dari tas itu. Lelaki berponi panjang itu menyebutkan satu per satu nama murid-murid penghuni kelas ini. Tapi Hinata tidak terlihat lagi di kelas ini sampai jam pelajaran Deidara-sensei selesai.
Jam pulang sekolah adalah saat dimana manusia-manusia berseragam berhamburan meninggalkan kelas. Aku mengambil tas Hinata dari mejanya, kemudian aku simpan dalam lokerku. Aku akan mengantarkan tas itu ke rumah pemiliknya nanti. Aku tidak akan langsung pulang, aku harus mengintrogasi seseorang. Dia selalu menyempatkan diri untuk membuka lokernya dengan durasi yang cukup lama hanya untuk memperbaiki tatanan rambut pirangnya.
"Fujina, bisa aku berbicara denganmu sebentar saja?" Aku mendatangi Fujina yang masih bercermin di cermin yang menempel pada pintu lokernya.
"Oh baiklah, ada apa Uzumaki-kun?" Dia tersenyum, andai saja aku tidak tahu seperti apa dia sebenarnya, pasti senyumannya itu akan terlihat indah. Cih! Dia seolah seperti ratu yang ramah terhadap rakyatnya.
Fujina Ankaa, penjahat bertopeng wajah cantik yang dipuji banyak orang. Dan menyembunyikan keburukannya di balik kepopularan. Ah! Dia tidak sepenuhnya buruk juga, jika saja tidak ada takhayul Hyūga pembawa sial, kemungkinan dia tidak akan sejahat ini pada Hinata. Tapi tetap saja, dia mengabaikan fakta bahwa Hinata adalah temannya.
"Kau… Dulu kau teman dekat Hinata?" Aku mulai mengajukan pertanyaan pertama, sebenarnya aku sudah tahu jawabannya, tapi aku hanya perlu memastikan saja. Bahu Fujina menegang saat mendengar pertanyaanku. Dia pasti menyembunyikan statusnya sebagai teman dekat Hinata di masa lalu dari orang-orang.
"Bisa dibilang begitu. Tapi aku tidak ingin ambil resiko dengan terus dekat dengannnya." Gadis bermata merah itu menghela nafas, kemudian menutup pintu lokernya. Dia tersenyum miring padaku.
"Apa yang membuat kalian terpisah?" Aku bersandar pada salah satu pintu loker.
"Baiklah, karena kau sudah tahu rahasia tentang aku yang pernah berteman dengan Hinata, maka akan aku beri tahu kau semuanya." Fujina mulai menceritakan kisah pertemanannya dengan Hinata.
Flash back on
Hyūga Hinata dan Fujina Ankaa adalah sepasang teman yang dekat. Padahal keduanya baru saling mengenal kurang dari dua tahun yang lalu. Tepatnya saat mereka memulai kelas lima sekolah dasar. Fujina adalah murid pindahan dari Rusia. Sejak sekolah di Jepang dia selalu duduk di samping tempat duduk Hinata. Itulah awal kedekatan mereka.
Masa liburan sebelum mereka berubah menjadi siswa Sekolah Menengah Pertama mereka lewati bersama. Saling mengunjungi rumah satu sama lain, pergi ke taman bermain, sampai menginap pun mereka lakukan.
Fujina dan Hinata duduk di kursi ayunan yang ada di pekarangan rumah Hyūga. Mereka membicarakan banyak hal, mulai dari menceritakan pengalaman sampai hal yang tak terlalu penting sekali pun. Hinata pergi ke dalam rumah guna membawakan air minum untuk Fujina. Sementara gadis berambut pirang itu masih saja berkonsentrasi pada komik yang ada di tangannya.
Hinata kembali dengan dua gelas putih berisi teh. Namun Fujina sudah tidak ada di tempatnya. Hinata berpikir bahwa temannya itu sudah pulang. Hinata merapikan beberapa komik yang sempat dibacanya dengan Fujina. Ada satu hal yang membuat tangannya berhenti memunguti komik yang berserakan, tas kecil milik Fujina tergeletak di kursi ayunan yang tadi di dudukinya.
Jika Fujina benar-benar pulang maka tak seharusnya tas itu masih ada di atas kursi ayunan. Apa mungkin dia melupakan tasnya sendiri? Gadis berambut biru tua itu segera membawa tumpukan komiknya ke rumah. Setelah ini dia berniat untuk mengantarkan tas Fujina kerumahnya.
"Hinata-sama, Ankaa-chan sudah pulang?" Tanya Utsumi. Wanita paruh baya itu tidak melihat keberadaan Fujina bersama Hinata ataupun di halaman.
"Aku rasa begitu, tapi tasnya tertinggal, aku akan mengembalikannya." Hinata mengangkat sebuah tas kecil berwarna biru dengan tangan kanannya.
"Ah, baiklah Hinata-sama."
Setelah menyimpan setumpuk komik pada lemari buku yang ada di kamarnya, Hinata pergi menuju rumah Fujina yang berjarak cukup jauh dengan rumahnya. Perlu naik kendaraan umum untuk sampai di sana. Belum lagi setelah naik bus, gadis berambut biru tua itu masih harus berjalan kaki sejauh seratus lima puluh meter.
Rumah Ankaa tergolong besar dan sepi. Tapi seorang penjaga gerbang selalu siaga di posnya. Penjaga itu heran karena tidak menemukan keberadaan nona mudanya bersama Hinata. Setahunya, Fujika Ankaa sedang mengunjungi rumah Hyūga, tapi sekarang Hyūganya lah yang mendatangi rumah yang dijaga olehnya. Hinata mengatakan maksud kedatangannya ke rumah ini. Saat tahu bahwa Ankaa menghilang dari rumah Hinata, lelaki berusia tiga puluhan itu menghubungi Ibu Ankaa agar menemui Hinata. Yang benar saja, tidak bisakah wanita dari Rusia itu menerima tamu dengan cara yang lebih sopan? Bahkan Hinata tidak dibiarkan masuk ke dalam rumah. Mereka berbicara di teras depan.
"Ada apa? Di mana Ankaa?" Hinata memang kurang disambut baik di rumah ini, hanya ada dua orang yang ramah pada Hinata saat berkunjung kerumah ini. Ayah Ankaa dan Ankaa sendiri. Tapi sayang kedua orang itu sedang tidak ada di rumah, ayah Ankaa sedang pergi ke luar negeri.
"Bukankah dia sudah pulang?"
"Dia belum pulang, harusnya dia bersamamu sekarang." Wanita itu mengerutkan dahinya akibat pertanyaan Hinata.
"Tapi- Ankaa sudah tidak ada di rumahku, aku kemari untuk mengantarkan tasnya yang tertinggal." Hinata sudah bisa merasakan perasaan yang tidak enak. Bagaimana jika terjadi hal buruk pada temannya?
"Ya ampun, anak itu. Sudah ku katakan untuk tidak bermain dengan Hyūga sepertimu, tapi dia selalu saja membelamu. Apa kau sudah mengancam putriku?" Ibu Ankaa berkacak pinggang di hadapan seorang anak yang belum genap berusia dua belas tahun.
"T-tidak…" Selalu seperti ini, jika terjadi sesuatu, pasti Hinatalah yang menjadi sasaran untuk disalahkan. Apa sebenarnya yang bisa diperbuat oleh gadis sekecil itu untuk membawa temannya pada musibah?
"Kemana Ankaa pergi? Diam di sana dan aku akan menghubungi ayahmu." Jari lentik khas wanita itu menunjuk tepat pada batang hidung Hinata.
Hyūga Hiashi pasti belum pulang dari kantornya, saat ini masih sore, kemungkinan Hyūga Hiashi tidak akan bisa segera datang kemari. Benar saja, akhirnya pengasuh Hinata lah yang akan memenuhi panggilan Nyonya Fujina. Utsumi datang setelah langit mulai menggelap.
"Maaf, Fujina-san,ada apa?" Dengan sopan Utsumi-san membungkukan badannya pada pemilik rumah.
"Ankaa baru saja bermain dengan anak ini, dan sekarang Ankaa entah ke mana." Lagi-lagi jari itu menunjuk pada Hinata,
"Tapi Ankaa-chan memang sudah tidak ada di rumah kami." Wajah Utsumi-san mulai cemas mendengar penuturan Nyonya Fujina.
"Ya ampun, bagai mana jika terjadi sesuatu pada anakku? Jika saja aku tidak membiarkan anakku bermain dengan anak ini, pasti hal semacam ini tidak akan terjadi." Hinata hanya bisa menundukan kepalanya, tak ingin seorang pun melihat matanya yang sudah mulai memerah karena ingin menangis.
"Saya mohon Fujina-san, jangan salahkan Hinata-sama, dia tidak tahu apa pun." Utsumi menyentuh kedua bahu Hinata dengan gemetar.
"Kau membela dia karena kau itu pengasuhnya, aku berani bertaruh jika itu hanya sekedar pencitraan." Wanita itu benar-benar tidak berperasaan, dia terus saja menyalahkan Hinata atas kejadian yang menimpa putrinya. Padahal Ankaa pun belum tentu dalam keadaan bahaya.
Utsumi-san bukan tipe orang yang menggunakan pencitraan untuk mendapat kepercayaan dari Hiashi. Sebelum menjadi pengasuh Hinata pun wanita itu sudah menjadi kepala pelayan. Jika ada yang bertanya, siapa kah yang menjaga dan merawat Hinata hingga sebesar ini? Jawabannya adalah Utsumi. Jadi tidak mungkin jika wanita itu hanya memanfaatkan Hinata untuk kepentingannya sendiri.
"Fujina-san…" Utsumi menggelengkan kepalanya, sementara Nyonya Fujina mendelikkan matanya.
Hari sudah mulai gelap, sementara Ankaa belum juga menunjukan batang hidungnya. Ayah Ankaa yang sedang berada di luar negeri pun sudah dihubungi oleh ibunya. Saat menelpon Fujina-san beberapa kali menyinggung tentang Hinata. Padahal gadis bermata keperakan itu tidak tahu penyebab menghilangnya Fujina. Mereka hanya bermain, kemudian Fujina menghilang begitu saja saat Hinata meninggalkannya.
Dari gerbang depan kediaman Fujina terlihat sebuah mobil hitam yang diketahui sebagai mobil milik Hyūga Hiashi memasuki area rumah bercat putih itu. Semua orang di teras rumah yang awalnya sedang mencemaskan Fujina serta merta menatap kedatangan mobil itu. Mereka berpikir mungkin Hyūga Hiashi akan membantu proses pencarian Fujina. Bagai mana pun juga, semua orang rumah Fujina menyalahkan Hinata atas kejadian ini. Semua mata terbelalak saat Hiashi turun dari mobil dengan menggandeng Fujina.
"Mama!" Ankaa berlari ke arah ibunya disertai dengan tangisan yang sarat akan rasa takut. Kemudian sang ibu memeluk putrinya dengan erat.
"Apa yang terjadi padamu?" Tangan wanita asal Rusia itu mengusap pipi Anka yang dialiri oleh air mata.
"Mama, aku berjanji tidak akan main lagi dengan Hinata!" Semua mata langsung menatap Hinata dengan tatapan mencemooh, marah mau pun kasihan.
"Tadi, saat aku menunggu Hinata di ayunan, tiba-tiba dua orang pria meringkusku, mereka membawaku dengan mobil menuju rumah tua di dekat hutan. Tangan dan kakiku diikat. Saat mereka bicara padaku, ternyata mereka mengira aku adalah anak keluarga Hyūga. Setelah tahu bahwa mereka salah menculik anak, mereka mengembalikanku ke rumah Hyūga."
Jadi seseorang yang seharusnya menculik Hinata, melakukan kesalahan karena mengambil anak yang salah. Entah penculik itu yang terlalu bodoh atau bagai mana. Anak seorang Hyūga, memiliki mata yang khas dan berambut gelap. Sangat berbada jauh dengan ciri-ciri fisik Ankaa yang berambut pirang dengan iris mata yang berwarna merah darah.
Yang pasti setelah pembicaraan dengan Nyonya Fujina selesai, Hiashi meninggalkan putrinya begitu saja untuk pulang bersama Utsumi menggunakan kendaraan umum. Dari wajahnya, Hiashi terlihat sangat marah, mungkin dia marah karena kejadian ini juga melukiskan citra buruk bagi Hyūga.
Flash back off
"Seperti itu lah Hinata. Aku tidak peduli jika kau percaya padanya, tapi aku hanya menceritakan hal mengerikan yang pernah aku alami saat aku masih kecil. Bukan hanya dia yang dirugikan, aku juga dirugikan olehnya." Fujina mengakhiri cerita panjangnya.
"Apa pandangan ayahmu pada Hinata jadi berubah karena hal itu?" Dari cerita yang Fujina katakan padaku, aku berasumsi bahwa ayah Fujina adalah salah satu orang yang baik pada Hinata.
"Awalnya ayahku membela Hinata, tapi dia lebih menyayangi putrinya daripada Hyūga Hinata. Aku yakin kau juga akan lebih menyayangi nyawamu daripada dia." Senyumannya itu membuat aku ingin mencekik lehernya hingga dia kehabisan nafas.
"Aku bukan orang sepertimu!" Dia berbalik dan berdecih setelah medengar ucapanku.
"Kita lihat saja nanti. Tapi maaf saja, aku tidak akan pernah berteman lagi dengan orang itu." Dia melanjutkan kembali perjalanannya.
Hari ini ada beberapa fakta lagi yang aku dapatkan. Pertama, Hinata ternyata tinggal bersama pengasuhnya. Kedua, Fujina menjauhi Hinata karena dia pernah diculik setelah bermain dengan Hinata. Ketiga, Ibu Fujina sejak awal tidak menyukai Hinata.
Dan keanehan yang harus aku pecahkan adalah, siapa penculik itu? Ke mana penjaga rumah Hinata saat kejadian penculikan itu berlangsung? Apa modus penculikan itu sebenarnya? Dan yang terpenting adalah, apakah Utsumi-san tidak pernah mengalami kejadian apa pun selama merawat Hinata? Hinata tidak membahayakan Utsumi-san, apa itu juga berarti aku akan selalu baik-baik saja jika aku berteman dengan Hinata?
Apa ini? Semakin banyak aku mencari tahu tentang Hinata, maka semakin banyak pertanyaan yang muncul di otakku. Jadi, aku semakin penasaran saja. Ah, Hinata juga menjauhiku, setelah ini apa lagi yang harus aku lakukan?
To be continued
Dear reader-san, arigatou buat semua reader-san yang udah baca Password sampai ke chap 4 ini. Gomen karena updatenya kelamaan dan mengecewakan. Arigatou juga buat review, fav sama follownya. Mohon bimbingannya juga.
Bougenville: Iya ada misterinya, tentang Hinata ko misterinya.
Guest: Arigatou.
Cuka-san: Huaa… Cuka-san! Yakin nungguin? Iya Surel juga sering kaya gitu, nunggu-nunggu fict yang paling Surel suka ga taunya ada tulisan hiatus atau discontinued a… greget gitu. Amin makasih doanya.
Morita Naomi: Mau yang manis-manis? #Taburgula Tunggu kelanjutannya, arigatou.
mauriceandreane: Arigatou Senpai :D
Anitaa Hyuga: Arigatou, dah dilanjut nih.
Dobe: A… gomen gomen, Surel terlalu bersemangat. Amin makasih doanya.
James: Sabar ya…
Uzumaki 21: Kalau seminggu sekali takutnya pas belum selesai.
mangetsuNaru: Ide mungkin aja pasaran, arigatou kalau Naru-san suka.
Kim Jae Qua: Ya kayanya memang kecepetan T_T Ok! Makasih.
Jaa!
