-o-
"Chuya.."
Seorang remaja berambut abu-abu dengan potongan poni miring khas keluarga inti klan Nakajima terlihat sedang mengekor pada remaja yang lebih muda berambut agak oranye. Seharian itu Nakajima Atsushi terus merengek meminta Chuya memikirkan keputusannya sekali lagi.
"Chuya, kumohon dengarakan aku! Jangan gegabah untuk pergi dari akademi secepat itu. Kau masih 12 tahun!"
Bukan sekali dua Atsushi merendahkan harga dirinya di hadapan orang awam—khas Nakajima benar. Dan bukan sekali juga Atsushi menyentak-entak Nakahara Chuya yang keras kepala di tengah jalan ramai pasar tradisional ibukota Kerajaan Batu, Brezhenskha. Tapi Chuya sama sekali tidak mengindahkan kata-kata calon pewaris takhta kerajaan itu.
Chuya terus-terusan menghundar dari Atsushi sampai siang hari. Padahal hari itu hari minggu, dan mereka seharusnya sedang jalan-jalan untuk menikmati udara segar daripada berdebat hal yang tidak mengenakkan. Empat tahun berlalu sejak Perang Pulau Kedua berakhir dengan damai, tapi Chuya belum juga bisa lupa dengan masa lalunya seakan semua hal itu baru terjadi kemarin hari.
Asal kalian tahu, Atsushi benci sekali mengatakan unek-unek terdalam yang mengendap di dasar otaknya sejak 7 tahun terakhir setelah menjadikan Nakahara sebagai junior terbaik yang Atsushi miliki. Tapi intinya, akan selalu terjadi hal tidak baik begitu Chuya ingin pergi. Chuya selalu saja ingin pergi dari Kerajaan, menuju ke Tanjung Barat. Dan sebagai seorang senior yang baik, Atsushi selalu melarangnya. Karena berbahaya.
"Memangnya ada apa yang menantiku di luar sana sekarang juga, Atsushi-senpai?!" Chuya mengatakan keraguannya dengan keras begitu mereka berada di persimpangan jalan yang ramai dilalui kereta kuda yang membawa berbagai macam barang menuju Medya, Atsushi hanya menatap ngeri mengingat visi mimpi siang bolong yang datang padanya kemarin. Jika Chuya pergi sendirian hari ini, kematian benar-benar akan menjemput Chuya di gerbang perbatasan menuju wilayah netral yang diimpikan Chuya selama ini.
Nakahara Chuya tinggal di Akademi Kerajaan Batu dan berada di satu kamar yang sama dengan si pangeran, Nakajima Atsushi selama ini, setelah kota pelabuhan Yokohama secara resmi jatuh ke bagian kepemilikan resmi Kerajaan Batu.
Tiga tahun sebelumnya Atsushi berhasil menghalau kepergian Chuya dengan keraguan dan berita kematian dari bagian Barat Kesultanan yang dengan sangat disayangkannya sedang dilanda perang saudara berkepanjangan. Di umur Chuya yang kelimabelas Atsushi kembali berhasil menghalau Chuya bersamaan dengan gelombang air laut setinggi 24 meter yang meratakan nyaris seluruh pesisir pulau bagian Barat, termasuk Tanjung Barat.
Tapi tiga tahun setelahnya Atsushi tidak bisa menghalangi Chuya pergi ke Tanjung Barat—tepat di malam setelah putra utama pewaris tahta kerajaan tersebut dilantik secara resmi menjadi Raja Batu Kesepuluh di umurnya yang keduapuluh-dua. Nakajima Atsushi tidak bisa bilang tidak merasakan kejanggalan dalam visi-visinya setiap malam setelah kepergian Chuya. Chuya akan mengalami kesulitan yang bisa dikategorikan berakibat buruk pada mental Chuya. Kesulitan yang benar-benar mengombang-ambingkan seorang Nakahara Chuya dan turut serta ambil bagian sebagai penyebab sakit kepala lelaki berambut oranye itu.
Dua bulan selepas Chuya pergi, Atsushi kembali mendapatkan visi yang tak kalah aneh dari biasanya. Ada beberapa orang yang Atsushi kenal dalam mimpinya yang tumben terasa terlihat dengan jelas. Sejelas cahaya kecil yang sering ia amati lewat teropong dari bumbungan yang terhubung kamar.
Ada Dazai Osamu si Kaisar Muda yang mesam-mesem sendiri sambil menyesap teh di teras sebuah bangunan, lalu Nakahara Chuya yang terlihat risih saat mendengar pernyataan dari seorang lelaki bersurai hitam dengan helai putri di ujung rambut.
[Tuan Muda Osamu ingin menjadikanmu Permaisurinya.]
[Tapi, Perdana Menteri, saya ini laki-laki
Dan Nakajima Atsushi berani bersumpah bahwa bisa mendengar suara hati si Perdana Menteri—yang akhirnya ia ingat bernama Yosano Ryunosuke dari Kekaisaran Gunting—sejelas mendengar seseorang berbisik di telinganya.
..tolong, siapapun. Aku masih waras dan aku yakin aku masihlah memiliki keyakinan untuk melayani Bocchan. Tapi ya-demi-apa aku masih lebih waras untuk tidak menjodohkan Bocchan yang seorang kaisar terhormat dengan laki-laki!
Selamat, Ryunosuke. Kamu resmi masuk dalam konflik percintaan kecil ini.
.
.
.
.
-o-
a week within u
Bungo Stray Dogs Asagiri Kafuka Harukawa Sango
Oreo Nica
Rewritten by 01-February
-o-
.
.
.
.
iv – tolak dan jangan sesali
Maka di hari yang baru itu, Nakahara Chuya mengawalinya dengan mandi menggunakan air hangat. Kepalanya pening setelah sebelumnya mendengar pernyataan dari Ryunosuke.
Bayangkan saja, Osamu ingin menjadikannya Permaisuri!
..Chuya laki-laki! Dan Chuya masih waras!
Chuya menghela nafas panjang. Kemudian berusaha merilekskan tubuh bersama air hangat di bathtub yang terisi setengahnya. Chuya memandang langit-langit di kamar mandi yang berada tepat di samping pintu masuk kamarnya itu.
Chuya menghela nafas lagi. "Seharusnya aku meminta nasihat pada Atsushi-senpai sebelumnya.."
(..nak seperti kata orang: penyesalan selalu datang belakangan..)
.
.
-o-
.
.
Paginya Bocchan terlihat biasa saja. Makan dengan tenang di meja bersama yang lainnya, bersenandung pelan sambil meminum teh paginya, bicara santai pada orang-orang yang lewat dari teras, kemudian pergi berjalan-jalan ke luar vila sendirian untuk mencari udara segar—semua ia lakukan seolah tidak terjadi apapun di hari kemarin. Ryunosuke yakin bahwa Bocchan telah memikirkannya matang-matang, Bocchan benar-benar akan melamar Nakahara hari ini ketika Nakahara berada di hadapan.
Malam ini, di malam pergantian tahun ini, Bocchan punya rencana untuk memikat hati Nakahara.
(Dan Ryunosuke sama sekali tega tidak memberitahukan kepada Bocchan tentang Nakahara yang sebenarnya. Biarlah Bocchan pergi ke jurang sendirian, katanya kejam.)
"Ryu, kau punya ide yang bagus untukku perihal rencanaku malam ini?"
Ryunosuke menengok ke tangga, yang berada di kanan pintu masuk menuju dapur. Bocchan berdiri dengan satu kaki menyentuh anak tangga yang pertama dan menatapnya yang berada di dapur. Ryunosuke kemudian mengangkat sebelah alisnya. Ia—sumpah—bingung mau bilang apa pada Bocchan sekarang.
Tiba-tiba Higuchi, si kembang desa yang sejak beberapa hari terakhir ditaksir Ryunosuke setengah hidup, tidak sengaja kehilangan pegangan dari piring yang tengah dicucinya hingga pecah sesaat setelah menyentuh lantai. Ryunosuke menghela nafas dan menatap pada Bocchannya.
"Jangan tanyakan padaku. Aku tidak punya ide, dan aku tidak ingin mencampuri urusan Anda, Bocchan." Ryunosuke menjawab tegas sebelum membungkuk untuk membantu Higuchi membersihkan pecahan piring yang berserakan di lantai.
Osamu mengerutkan kening, kemudian beralih menengok ke kiri dari tangga. Ke arah Akiko, Qiu, Mori, dan Nakahara—yang awalnya terlihat tidak tertarik—sedang memainkan Tre o Daro (bahasa setempat untuk Truth or Dare) sambil duduk di kerpet bulu yang barusan saja digelar di ruang tengah. Nakahara sedang mencak-mencak karena dua kali berturut-turut dirinya tertunjuk oleh kepala botol kosong.
Akiko menyanyakan sesuatu pada Nakahara yang dibalas Nakahara dengan geraman murka. Wajah Nakahara terlihat memerah sempurna.
Cantik sekali.
Osamu tidak sabar menunggu malam hari nanti.
...tunggu sebentar.
Osamu terkejut mendengar suara Nakahara yang tiba-tiba berubah. Suaranya memberat—seperti suara seorang laki-laki. Tapi agak lebih halus.
"AKU INI LAKI-LAKI TULEN! IBUKU MELAHIRKAN ANAK DUA KALI SEUMUR HIDUPNYA DAN SEMUANYA TULEN LAKI-LAKI!"
Suara Akiko menyela. Nakahara menghantamkan kepalan tangannya ke botol kaca yang digunakan sebagai pemilih hingga pecah. Kemudian suara Nakahara kembali melengking tinggi—seakan tidak terjadi apa-apa sedetik sebelumnya.
Osamu mendengus. Tidak apa-apa kan? Sepertinya Nakahara hanya melakukan daro.
Sepertinya.
.
.
.
.
-o-
.
.
"Chu-nii! Chu-nii! Chu-nii kan hebat! Chu-nii pasti bisa!"
Seorang anak laki-laki yang berambut pirang kecoklatan berteriak lantang sambil bertepuk tangan ketika seorang anak laki-laki lain yang berwajah sama dengannya tapi berambut pirang oranye masuk ke arena panggung dengan wajah yang sungguh pura-pura inosen.
Mereka adalah kembaran. Ibu mereka berada di sebelah si pirang kecoklatan, tersenyum menawan dan ikut bertepuk tangan memeriahkan suasana. Sementara Ayah mereka berada di sisi lain arena panggung, sedang menyilangkan tangannya di depan dada dengan senyum khas.
Yang masuk ke arena bernama Nakahara Chuya, dan yang menyorakinya dari pinggir bernama Nakahara Chito. Mereka sepasang anak kembar yang manis di umur lima tahun. Anak-anak yang hidup penuh semangat pantang menyerah dan senyum lebar, tipikal.
"Akiramenu, Onii-chaaaaan!"
Chuya hari itu akan maju dalam pertandingan adu kecerdasan satu lawan satu dengan jagoan yang tiga bulan berturut-turut menang kejuaraan cerdas cermat satu kota Yokohama. Lawan Chuya adalah seorang laki-laki berambut merah dengan pangkal hidung yang diplester dengan raut muka super duper nyolot pake banget. Dan lagi Chuya punya dendam kesumat dengan orang itu.
(Bagaimana bisa tidak? Chuya kalah tiga kali berturut-turut juga gegara itu orang.)
Kemudian sesuai tradisi Yokohama, hymne kota dinyanyikan, pembukaan dilakukan oleh pembaca pertanyaan sendiri, lalu pertanyaan rebutan pertama diajukan.
"Pertanyaan pertama. Siapakah orang yang berhasil menyusup ke kastil klan Akashi dan membantai prajurit Kekaisaran Gunting dalam Perang Benua Per—ugh!"
Nakahara terperangah melihat pembaca pertanyaan di tengah panggung bulat tempatnya berdiri saat ini tiba-tiba memegangi dada kirinya yang tertembus panah bergerigi dari arah belakang. Darah merembes melewati kimono berwarna biru, kemudian terdengar suara seseorang berteriak di Selatan kota.
"Kota telah diserang! Pasukan Gunting datang! Merapat ke gerbang Utara!"
Kemudian dengan cepat dari pegunungan di Selatan, sepasukan prajurit berpakaian siap tempur berlari mendekat mengangkat busur di masing-masing tangan. Semua orang histeris ketakutan.
Jelas saja! Memang siapa yang tidak histeris ketika sedang lomba tiba-tiba datang sepasukan prajurit sambil menghadiahi hujan panah
Chuya turun dari arena sambil merutuki panah yang tiba-tiba menancap di lengannya. Ia mematahkannya kemudian berlari mengikuti yang lain menuju ke Utara. Orang-orang bergelimpangan jatuh ketika panah menancap tubuh mereka. Chuya sudah tidak tahu di mana Ibundanya, atau Ayah, atau bahkan Chito saat itu. Yang pasti dia harus lari menyelamatkan dirinya sendiri.
Menganggap percuma pelariannya, Chuya minggir dan bersembunyi dalam sebuah tong bekas minyak murahan di sudut jalan tanpa mempedulikan sekitar. Orang-orang berteriak ketika pedang para prajurit menyabet tubuh mereka. Para prajurit membabat habis hampir seluruh penduduk.
Chuya mengintip lewat celah di tong bekas. Merasa keadaan telah aman, anak tersebut keluar dan dengan berhati-hati menyeludupkan dirinya menuju perbatasan kota di Utara, menuju ke kota lain lewat jalur evakuasi Utara. Menurut pengamatan Chuya, orang-orang yang berhasil selamat dari hujan panah telah ditangkap dan disandera.
Termasuk Ibunda dan Chito.
Chuya bersyukur tidak terjadi apa-apa pada mereka..semoga mereka bisa bertahan hingga bantuan dari Kesultanan datang. Namun Chuya salah. Chito memberontak dan pada akhirnya dibunuh di depan matanya, lalu tak lama setelah kembarannya, Ibunda menyusulnya.
Chuya mengeratkan kepalan tangannya. Tapi Chuya sudah tidak mau lagi tahu apapun. Yang ia inginkan sekarang hanyalah pergi dari tempat ini dan bertahan hidup. Entah bagaimanapun caranya. Chuya mulai berjalan, dengan hati-hati melewati mayat-mayat yang bergelimpangan di jalanan menuju ke arah Utara seperti yang seharusnya.
Melewati hutan yang lebat untuk menghindari para prajurit, bahkan menyeberangi sungai berarus lebat dari bawah jembatan hanya untuk mencapai tempat yang aman.
Seharusnya Chuya tahu. Alasan kenapa perang tahun 217-237 disebut sebagai Perang Pertama, karena bila ada yang pertama, pasti ada yang kedua bukan? Tapi kenapa harus perang..?
.
.
.
.
-o-
.
.
Sepuluh tahun lalu, tahun 734, perang berakhir damai. Tidak peduli siapa yang menang atau kalah, berapapun nyawa melayang, ketiga pemerintahan berdamai dan mengadakan kerjasama dalam berbagai bidang sehingga terciptalah peradaban tiga pemerintahan yang seperti sekarang telah ada.
Namun Chuya masih saja memimpikan perang dalam hening malam. Perang yang sangat jahat. Bahkan klan Nakahara yang besar dan terkenal hanya bersisa Chuya dan seseorang yang lahir di penjara Kekaisaran—yang sekarang dikenalnya sebagai Gin.
Dan Gin sekiranya berusia dua tahun di atasnya. Selama ini, Chuya telah mencari keberadaan orang-orang dari klannya. Rata-rata Nakahara dulu tinggal di Kesultanan dan berkembang sebagai keluarga bangsawan yang terkenal pintar, kepala batu dan berpenampilan sebalik gender dengan wajah manis. Namun klan Nakahara nyaris tinggal nama setelah Perang Pulau Kedua berlangsung, tak ada lagi tanda-tanda kehidupan Nakahara di Kesultanan.
Dan sekarang Nakahara tinggal di Tanjung Barat, berhasil menemukan Gin setelah kabur dari Atsushi-senpai, dan tanpa sengaja memikat hati kaisar pemerintahan tetangga.
Duh, betapa pedih hidupnya.
.
.
-o-
.
.
Nakahara berada di bawah pohon dekat danau sulfur ketika malam datang. Di pohon yang sama dengan tempatnya ditemukan sekarat kedingingan oleh Osamu tempo hari. Dia sudah melaksanakan kewajiban sebagai koki untuk memasak makan malam setengah jam yang lalu. Nakahara bebas berada di manapun setelah melaksanakan pekerjaannya. Maka dia pergi keluar dengan pakaian yang cukup tebal dan syal yang melingkar di lehernya.
Uap keluar perlahan dari mulut si pemuda.
Ternyata sudah hari kelima. Dalam beberapa jam yang akan datang tahun akan berganti menuju 745. Namun seperti apa kata Ryunosuke, Nakahara sebisanya menjauh dari Osamu malam ini. Nakahara tahu apa yang terjadi seandainya dia tidak mengikuti apa kata Ryunosuke. Lagipun mau ditaruh di mana harga dirinya jika ada yang tahu Nakahara dilamar pria? Bahkan meskipun pria itu adalah seorang kaisar, bukan berarti semuanya menjadi jauh lebih baik dengan mengetahuinya!
Apalagi senja tadi surat dari Atsushi-senpai datang dan menghadiahinya kecemasan berlebih yang sungguh sangat keterlaluan. Nakahara khawatir bahwa apapun yang dikatakannya pada Osamu akan memicu sebuah perang. Sekecil apapun itu.
Kau akan membanting orang yang sedang terbang ke awan, Chuya.
Chuya sangat frustasi ketika mengingat kalimat itu tertera di baris terakhir surat yang dikirim Atsushi-senpai itu. Chuya bukanlah seseorang yang bisa begitu teganya melakukan hal itu pada orang lain. Karena jatuh itu menyakitkan. Namun jika yang mengatakannya adalah Atsushi-senpai, mungkin yang dibanting bukan Osamu tapi Atsushi-senpailah yang ia banting ke Jahanam.
Helaan nafas keluar dari mulutnya entah yang kesekian kalinya hari ini.
"Wah, di sini ternyata," Chuya mendongak, mendapati sosok berambut setengah hitam setengah putih membungkuk ke arahnya. Putri Qiu.
"Ah, Ohime-sama. Ada apa?" Chuya berusaha tenang dalam suaranya saat menatap perempuan berumur 14 itu. Qiu berdiri di sebelah Chuya sambil memeluk bonekanya kemudian membisikkan kata-kata horor yang harusnya dihindari Chuya malam ini dan seterusnya.
"Onii-chan memintaku mencarimu. Cepat pergi ke tepi pantai—aku tahu kau tahu apa maksudku—Onii-chan menunggu." Kemudian gadis itu pergi secepat datangnya. Chuya berkedip.
Nah, sudah terlambat. Sekarang apa yang harus Chuya lakukan?
.
.
-o-
.
.
"Anoo, Dazai-sama, ada perlu apa dengan saya?"
Nakahara berusaha memasang wajah sedatar mungkin ketika mengutarakan barisan 8 kata tersebut. Jantungnya serasa mau melompat dari rongga dada. Akan menjadi sebuah keajaiban kalau Osamu tidak mendengar suara detak jantungnya dengan telinga yang bebas. Dan benar-benar sebuah keajaiban bahwa Nakahara punya nyali menyambangi si kaisar yang khas dengan mantel coklat dan perbannya itu.
"Ne, Nakahara Chuya,"
Degupan jantung Nakahara semakin keras mendengar nama lengkapnya disebutkan oleh Osamu yang sedang menyandarkan dirinya pada sebatang pohon kelapa. Ada apa dengan sosok Osamu malam ini? Mengapa dia terasa..berbeda dari biasanya…?
Osamu menatapnya.
Kau akan membanting orang yang sedang terbang ke awan—
"Nakahara Chuya, maukah kau menikah denganku?"
Dan Nakahara langsung membatu.
"Nakahara Chuya, maukah kau menikah denganku?"
Akhirnya Osamu bisa mengatakannya tanpa gemetaran. Padahal sebelumnya Osamu sampai memecahkan cermin di kamarnya hanya untuk berlatih mengucapkan rangkaian 6 kata tadi. Bahkan nada bicaranya bisa-bisanya seserius itu. Detak jantungnya sudah tidak bisa lagi ditenangkan. Dia tegang luar biasa.
Dan darah yang mengalir dalam dirinya—darah sebagai seorang Dazai yang tidak bisa berbohong—tidak membuat segalanya menjadi lebih baik. Kedua netra coklatnya dapat melihat Nakahara terdiam membatu di depannya. Segalanya tampak hening saat itu. Yang dirasakan oleh Osamu hanya desiran angin dingin dan salju yang sedikit demi sedikit turun ke bumi. Osamu masih gugup.
"Jadi, apa jawabanmu, Chuya?" Osamu bertanya lagi. Dan pada akhirnya Nakahara bereaksi sedikit demi sedikit
"A. Haha. Kau akan membanting orang yang sedang terbang ke awan. Dia selalu benar," tawa datar dan gumaman yang tidak dimengerti Osamu sampai ke pendengarannya. "Aku ingin saja menerimamu. Tapi, kumohon maafkan atas kelancanganku selama ini, Dazai Osamu. Aku tidak bisa menikahimu, atau menjadi permaisurimu. Aku seorang laki-laki."
"Aku seorang laki-laki."
Nakahara yakin jauh di sana dia bisa mendengar suara sesuatu yang patah dengan sangat menyakitkan. Tapi Nakahara sama sekali tidak berbohong. Seandainya dia bukan seorang laki-laki dia pasti akan menerima lamarannya.
"Mana mungkin! Kau hanya melakukan tantangan dari Akiko-sensei siang tadi kan?!"
Nakahara memberikan senyum yang..sangat menyakitkan bagi Osamu. Senyum. Hal yang bahkan sangat jarang dia lakukan selama ini. Dan Nakahara tahu pasti, bahkan untuk dirinya sendiri, semua ini menyakitkan baginya.
"Sayangnya tadi siang aku sama sekali tidak memilih pilihan untuk melakukan tantangan sama sekali." Nakahara mengalihkan pandangannya pada hamparan laut di kirinya. Berusaha berada sejauh mungkin menghindar dari tatapan Osamu. Dia tidak memiliki keberanian sedikitpun untuk melihat manik cokelat yang masih menatapnya.
"Jadi, benar?" Suaranya berat.
Setiap detik berlalu, segalanya menjadi semakin buram bagi Nakahara. Ia hanya..tidak tega mengatakannya. Osamu adalah anak dari orang yang memerintahkan para prajurit menyerang kota kesayangannya, Yokohama. Osamu adalah seorang Dazai. Nakahara tahu itu, hanya saja dia tidak pernah tega untuk membenci Osamu.
Osamu yang dengan segala perhatiannya pada Nakahara, Osamu yang dengan senyum hangatnya dan tingkahnya yang kadang agak tidak waras dengan keinginannya untuk bunuh diri, Osamu yang dengan sepenuh hati mencintainya. Namun segalanya sudah terlambat sekarang.
"Kenapa kau tidak bertanya pada Tuan Perdana Menteri atau Ohime-sama tentang ini sebelumnya? Aku..sebenarnya tidak ingin membanting perasaanmu seperti yang dikatakan Atsushi-senpai." Sesuatu yang basah mengalir melewati pipinya pipi kirinya tanpa peringatan. Kenapa? Kenapa Nakahara menangis saat ini? Bukankah..tak ada alasan untuk Nakahara menangisi hal ini?
Tapi..kenapa Chuya menangis? Chuya menyekanya segera sebelum Osamu sempat menyadarinya.
"Aku benar-benar minta maaf. Tapi aku—sungguh—andai aku seorang perempuan aku pasti menerimanya. Berbahagialah dengan wanita lain, Dazai-san. Ini memang bukanlah perpisahan yang sebenarnya. Tapi, kumohon, bisakah kau lupakan saja orang hina sepertiku? Bisakah kau tidak menyapaku ketika kita tidak sengaja bersinggungan di tengah keramaian? Bisakah kau berpura-pura tidak mengenaliku ketika kita bertemu? Kumohon, lupakan aku."
Chuya menatap Osamu tepat di manik cokelatnya yang meredup. Matanya berkataca-kaca saat dengan cepat dirinya pergi dari hadapan Osamu.
Kemudian Chuya tidak akan pernah terlihat di mata Osamu lagi.
Ini menyakitinya entah untuk alasan apa.
Chuya tidak akan pernah terlihat di mata Osamu lagi.
—karena Nakahara sudah terlanjur memutuskan untuk tidak jatuh cinta lagi pada Osamu.
.
.
.
.
-o-
END.
-o-
.
.
.
.
Just look for the epilogue
Because there is no story have a really bad ending
