Disclaimer: SNK©Hajime Isayama
Story: Haru Tsukishima
Genre: Romance, Hurt/Comfort
Rate: M
Warning: AU, OOC, Lemon, Typo, gaje. Pair Eren x Annie, Erwin x Hanji, Levi (maybe) x Mikasa. Bagi yang tidak suka pair ini harap menekan tombol back.
.
.
Note:
"Bla bla bla" = Speak
'Bla bla bla' = Inner
.
.
Don't Like, Don't Read
.
~~* Takdir Cinta *~~
Happy Reading
.
.
.
"Ibu, apa yang terjadi? Mikasa, apa yang kau lakukan?" Eren sangat terkejut melihat gelas yang pecah dan darah yang mengalir dari jari ibunya. Mikasa yang semula bersiap menyerang kini diam dan mengajak Carla menghampiri suaminya.
Sedangkan Annie berjalan menghampiri Eren dengan wajah bersalah.
"Aku sangat yakin Annie sengaja mendorong bibi yang sedang mengiris buah hingga jarinya terluka gores" jelas Mikasa dengan tatapan penuh amarah. Grisha dengan sigap mengambil plester dan cairan pembersih luka dari kotak P3K.
"Itu tidak benar. Kaki ku terpleset karena lantainya sedikit licin, lalu gelas yang sedang ku pegang jatuh. Aku benar-benar tidak sengaja. Aku sangat minta maaf, bibi" jelas Annie dengan wajah bersalah.
"Teruskan saja aktingmu, Annie!"
"Mikasa! Berhenti memfitnah Annie seperti itu. Bukankah Annie sudah meminta maaf? Ia hanya tidak sengaja" Eren spontan membentak saudari angkatnya. Ia kesal Mikasa menuduh Annie yang bukan-bukan. Levi masih diam dan memperhatikan mereka. Sedangkan Grisha dan Carla terkejut melihat Eren demikian.
"Eren" ucap Mikasa lirih. Ia tidak menyangka Eren membela gadis itu. Gadis yang sudah merebut Eren darinya.
"Su-sudahlah, Eren. Mikasa, sudah ya. Memang benar lantainya licin dan malah ini adalah salahku karena hampir saja Annie celaka. Maafkan bibi ya, Annie" Carla turut merasa bersalah dan memang tidak mempermasalahkan luka pada jarinya.
"Kau dengarkan, Mikasa? Tidak bisakah kau sedikit bersikap baik pada Annie? Apa salah Annie padamu?"
"Baiklah. Jika itu yang kau mau, Eren. Aku minta maaf, Annie" ucap Mikasa dengan datar dan terlihat tidak dari hati. Gadis blonde itu hanya mengangguk tak bersuara.
"Sumimasen, boleh aku mengajak Mikasa berjalan? Aku sudah berjanji mengajaknya membantuku memilih kado" Levi memecah keheningan di ruangan tersebut.
"Aa, silahkan" jawab Grisha yang melihat wajah murung putri angkatnya. Mungkin ada sesuatu diantara mereka yang tidak diketahui sang kepala keluarga.
"Jangan pulang terlalu malam ya" ucap Carla seraya tersenyum melihat Levi yang menaruh perhatian pada Mikasa.
"Ayo" ajak Levi pada Mikasa. Wanita itu menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca lalu mengangguk dan berjalan mengekor pria tersebut.
"Ittekimasu" ucapnya sebelum meninggalkan keluarga angkatnya.
.
.
"Kenapa kau meminta maaf?" Ucap Levi seraya mengendalikan kemudi mobilnya.
Sudah beberapa menit mereka berada dalam mobil, namun Mikasa hanya membisu.
"Kenapa kau sangat ingin tahu?" Mikasa balas bertanya dengan datar.
Levi menghela nafas. Ia tidak marah dengan jawaban tidak bersahabat dari wanita tersebut. Namun ia tidak menyerah untuk membuat Mikasa sedikit saja terbuka padanya.
"Kau tahu, wajahmu terlihat sangat bodoh tadi. Aku tidak suka dengan orang yang seperti itu"
"Lalu untuk apa kau mengajakku? Apa untuk mengatakan hal itu?" Raut wajah wanita Oriental itu berubah masam. Pria disampingnya benar-benar tidak tahu situasi yang dirasakannya saat ini.
"Ah, kita sudah sampai" Levi memarkir mobilnya. Pria itu nampaknya tidak mengindahkan ucapan Mikasa.
Mikasa menatap sekeliling. Tempat itu seperti lahan kosong, tidak ada bangunan apapun disana, hanya ada pepohonan. Bahkan lampu penerangan tidak ada didepan sana. Mikasa menatap ke belakang, ia melihat empat buah lampu dan itu pun tidak terlalu terang.
"Tempat apa ini?" Tanya Mikasa dengan waspada.
"Menurutmu?" Jawab Levi asal seraya mencabut kunci dan bersiap membuka pintu.
Mikasa menatap pria itu dengan tajam, ia sudah bersiap menghajar pria itu jika hendak bertindak macam-macam padanya. Levi menatap Mikasa sekilas lalu keluar dari mobilnya. Merasa dirinya tak diindahkan, gadis itu semakin kesal dibuatnya.
Pintu disampingnya terbuka, menampakkan wajah datar yang sudah membuat tangannya gatal ingin meninggalkan bekas lebam disana.
"Oi, sampai kapan kau mau diam disana?" Levi bertanya dengan datar dan tenang seperti biasa.
"Jawab dulu, tempat apa ini?"
"Tcih, sudah keluar saja. Apa susahnya melangkahkan kakimu keluar dari mobil? Apa perlu aku menggendongmu seperti puteri?" Levi menatap Mikasa datar.
"Tcih, baiklah" tentu saja gadis itu menolak. Ia bukanlah seorang yang manja.
Levi berjalan menuju bagian depan mobil dan mendudukkan dirinya disana. Mikasa keluar dari mobil seraya menatap pria itu dengan heran. Ia berinisiatif mengikuti apa yang dilakukan senseinya tersebut.
Mikasa tercengang melihat apa yang ada dihadapannya. Pemandangan kota dengan lampu-lampu menghiasi nampak sangat indah di malam hari. Saat ini mereka berada di dataran yang lebih tinggi.
"Indah 'kan?" Levi sedari tadi memperhatikan Mikasa yang menatap pemandangan dengan antusias. Mikasa menoleh, dengan malu-malu gadis itu mengguman seraya menganggukkan kepalanya.
"Aku tidak sengaja menemukan tempat ini. Ketika bosan, aku selalu mengunjungi tempat ini"
"Lalu, kenapa kau mengajakku kesini? Apa kau sedang bosan?"
"Hm? Tidak" Levi hanya menjawab singkat. Mikasa tidak mempermasalahkan hal tersebut karena ia tengah asik menatap lampu-lampu kota yang nampak berkelap-kelip dari kejauhan. Angin berhembus membuat surai hitamnya melambai dan menghalangi pandangannya.
Levi sempat tertegun melihat wanita disampingnya, wajah putihnya yang terkena bias cahaya bulan tampak sangat cantik dimatanya. Ditambah ketika angin tiba-tiba berhembus dan membuat surai hitamnya melambai, rasanya ingin pria itu membelainya.
"Ne, Levi-san. Apa kau pernah merasa patah hati?" Mikasa tiba-tiba bertanya.
"Tidak. Kenapa memangnya?"
"Begitu ya. Itu artinya kau tidak mengerti-"
"Tapi aku pernah merasakan yang lebih daripada itu" Levi memotong ucapan Mikasa. Wanita itu menoleh dan wajah pria itu masih nampak datar, hanya saja tatapan matanya terlihat sendu.
"Memangnya apa yang lebih dari patah hati?"
Levi menatap Mikasa sejenak, lalu kembali mengalihkan pandangannya pada objek di depannya.
"Kehilangan. Kehilangan orang yang kita cintai"
Mikasa tersentak. Bagaimana bisa ia melupakan hal tersebut? Ia pun mengalaminya. Kehilangan orang tua yang sangat ia cintai.
"Ah, kau benar. Sejak Eren hadir di hidupku, aku hampir lupa bahwa aku telah kehilangan kedua orang tuaku" ucap Mikasa dengan muram. Pandangan mereka bertemu, Levi menatapnya seakan menyuruhnya untuk melanjutkan cerita.
"Saat itu, usiaku masih 10 tahun. Tiba-tiba ada tiga orang pria datang kerumahku dan membunuh ayah ibuku. Mereka tidak mengambil barang apapun, melainkan membawaku dan menyekapku di markas mereka. Tuan Grisha saat itu hendak memeriksa kondisi kesehatan kami..."
"... Terdengar suara ketukan di pintu, kami mengira itu adalah tuan Grisha. Ayahku membuka pintu dan salah seorang dari mereka menyerang ayahku dengan kapak. Ibuku berlari menghampiri pria itu dengan hanya sebuah gunting ditangannya. Namun pria itu juga membunuh ibuku. Saat itu aku hanya gadis kecil yang tidak tahu harus apa?"
Pandangan Mikasa menerawang. Kenangan itu seakan berputar di kepalanya.
"Begitu ya. Lalu bagaimana kau bisa selamat?" Levi penasaran. Ia memang pernah mendengar hal tersebut namun ia ingin memastikan.
"Eren berusaha mencariku dan akhirnya berhasil menemukan tempatku disekap oleh para penculik. Eren dengan berani membantai kedua penjahat itu dan aku menghabisi yang satunya karena ia berhasil menangkap Eren" Mikasa masih menatap pemandangan di depannya dengan tatapan kosong.
"Hoo. Kalian sudah membunuh sejak usia kalian kanak-kanak?" Ucapan Levi membuat Mikasa menatapnya tajam. Seakan pria itu mencemoohnya seperti orang-orang saat itu.
"Tapi kami melakukan itu untuk membela diri. Aku sangat berhutang budi pada Eren karena telah menyelamatkanku dan membunuh mereka. Polisi pun membebaskan kami karena kami masih kanak-kanak dan mereka juga sedang mencari penjahat-penjahat tersebut" jelas Mikasa dengan emosi. Levi sedikit tersentak ketika Mikasa meninggikan suaranya.
"Aku paham" ucap Levi singkat seakan mengerti apa yang gadis itu fikirkan. Mikasa kembali menoleh padanya dengan wajah datar namun sorot matanya meragukan ucapan pria tersebut.
"Aku juga pernah mengalaminya. Lebih tepatnya dulu aku sering membunuh orang"
Mendengar hal tersebut Mikasa membelalakkan mata. Apa pria disampingnya sedang bercanda? Tapi Levi bukan orang yang suka bercanda menurutnya.
"Kau, jangan mengada-ada, Levi-san"
"Semua orang harus berusaha bertahan hidup. Beruntung kau terlahir di keluarga yang baik dan di asuh oleh keluarga yang baik pula. Sampai akhirnya aku bertemu Erwin dan ia menuntunku ke jalan yang baik" Levi hanya menjelaskan secara singkat.
Mikasa merasa banyak hal yang pria itu sembunyikan. Terlebih ia sendiri yang mengatakan bahwa ia sering membunuh orang. Namun wanita itu tidak merasa takut ataupun khawatir berada disamping pria tersebut. Malah ia merasa nyaman. Aneh bukan?
Tiba-tiba angin dingin berhembus. Mikasa sedikit menggigil karena saat ini ia hanya mengenakan midi dress dengan cardigan yang tidak terlalu tebal.
Levi segera membuka blazernya dan memberikannya pada Mikasa.
"Pakai ini. Aku ke mobil dulu"
Mikasa menerimanya tanpa sepatah kata. Kedua iris hitamnya mengikuti kemana pria itu berjalan. Ketika ia memakai blazer tersebut, ia dapat mencium dengan jelas aroma parfum dari pria tersebut. Entah mengapa ia merasa rileks dan sangat menyukainya.
Levi berjalan menuju bagian belakang mobil. Ia terlihat sedang mencari sesuatu pada bagasinya lalu mengambil dua buah kaleng dan kembali menghampiri Mikasa.
"Ini, minumlah" Levi menyodorkan sekaleng minuman pada Mikasa. Wanita itu menerimanya dan mengucapkan terima kasih dengan pelan.
'Hanya minuman sari ginseng' inner Mikasa kemudian menenggak minuman tersebut seraya menatap kembali keindahan kota dihadapannya.
"Mikasa" tiba-tiba Levi memecah keheningan. Mikasa pun menoleh.
"Ada apa?" Jawabnya singkat.
"Apa kau sangat mencintai Eren?" Tanya Levi yang terlihat sendu.
"Kenapa tiba-tiba bertanya demikian?" Mikasa heran. Untuk apa pria itu menanyakan perasaannya pada Eren.
"Aku... bisa membantumu" angin kembali berhembus seiring berhentinya ucapan Levi. Terjadi keheningan setelahnya.
Sedangkan Mikasa tengah berkutat dengan fikirannya. Kenapa Levi tiba-tiba menawarkan diri? Jujur saja, ia tidak suka bila Levi menganggapnya lemah.
'Tapi Levi adalah seorang laki-laki. Mungkin aku bisa sedikit meminta saran darinya dan ia tidak terlihat seperti sedang meremehkanku, malah ia terlihat sedih?' Mikasa sedikit melirik pria disampingnya.
"Baiklah. Bukan berarti aku tidak bisa melakukannya sendiri" jawab Mikasa setelah beberapa menit berfikir. Levi menyunggingkan senyum tipis dan membuat Mikasa sedikit tertegun.
"Mulai sekarang, jangan sungkan padaku. Ini kartu namaku" Levi menyodorkan kartu namanya. Mikasa menerima kartu tersebut dan menyimpannya dalam saku cardigan.
"Ayo kita pulang. Udara sudah mulai dingin" ajak Levi yang mulai merasa hawa dingin menusuk kulitnya. Ia hanya mengenakan kemeja karena blazernya ia berikan pada Mikasa.
"Ano, Levi-san" Mikasa kembali bersuara. Membuat langkah kaki pria itu terhenti.
"Nani?" Levi menatap dengan serius.
"Etto... maukah kau,, mengajariku tekhnik bela diri yang kau kuasai?" Levi mengerutkan dahinya. Ia tidak menyangka wanita itu memintanya untuk mengajari tekhnik bela diri. Sedangkan Mikasa terlihat merona karena ia sudah menurunkan sedikit pride-nya untuk meminta di ajari olehnya.
"Tentu saja. Kabari aku kapan pun kau menginginkannya" jawab Levi seraya mengelus pucuk kepala wanita oriental itu dengan reflek. Keduanya tersentak. Pria itu segera menarik tangannya dari kepala Mikasa dan membelakangi wanita itu.
Situasi awkward menyelimuti kedua insan tersebut. Mikasa menyentuh dadanya karena jantungnya berdegup kencang. Ia merasa sangat aneh pada dirinya belakangan ini.
"Levi-"
"Mika-"
Keduanya berbicara secara bersamaan lalu terdiam.
"Kau dulu" ucap Mikasa.
"Tidak, kau saja" Levi mempersilahkan wanita itu untuk berbicara.
"Tidak, kau saja Levi-san" Mikasa kembali melempar. Jika diteruskan bisa-bisa akan terjadi debat tiada akhir dan tidak berguna. Levi menghela nafas.
"Sumimasen... soal tadi" Levi meminta maaf atas tindakan refleknya mengelus pucuk kepala wanita itu. Mikasa tidak menyangka hal tersebut. Levi yang terlihat angkuh dan tidak bersahabat, ternyata seorang pria yang gentle?
"U-um" Mikasa tidak tahu harus berkata apa. Hanya sebuah gumaman pelan yang keluar dari mulutnya.
Mereka segera memasuki mobil karena tiba-tiba air menetes dan mulai membasahi tubuh mereka. Tidak disangka hujan akan turun malam ini. Levi segera menyalakan mesin dan meninggalkan tempat tersebut.
"Tcih, kuso. Kenapa harus ada pohon tumbang" umpat Levi melihat sebatang pohon besar tumbang dan menutup jalan. Levi memundurkan mobilnya dan berbalik arah. Ia akan menggunakan jalur lain menuju rumah keluarga Jaeger.
"Levi-san" Mikasa memanggilnya setelah membisu selama di perjalanan pulang.
"Tidak perlu khawatir, katakan pada tuan Jaeger kalau kau akan terlambat sampai rumah"
"Paman bilang sedang ada badai besar. Jadi sebaiknya aku,,,, menginap saja" Mikasa terlihat canggung saat mengatakannya. Tentu saja, ia kan seorang perempuan. Bisa-bisanya sang paman menyuruhnya untuk menginap dirumah laki-laki. Ya walaupun sudah pernah ia lakukan sebelumnya.
Levi menghentikan mobilnya. Mikasa menunjukkan pesan yang dikirim oleh sang paman pada ponselnya. Levi menatap Mikasa dengan dahi mengerut lalu mencoba menelepon tuan Jaeger.
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif. Silahkan meninggalkan pesan..."
Levi berdecih. Mungkin jaringan sedang terganggu akibat badai seperti yang Mikasa katakan. Ia menyimpan kembali ponselnya. Ditatapnya Mikasa yang masih berwajah datar namun sorot matanya menampakkan kekhawatiran.
"Akan ku carikan penginapan untukmu. Sepertinya ada tidak jauh dari sini. Tenang saja, hanya kau yang akan tidur disana dan aku kembali ke ru-"
"Tidak"
Levi menaikkan sebelah alisnya. Ia heran kenapa Mikasa tiba-tiba memotong pembicaraan?
"Aku tidak mau. Mungkin lebih baik kalau aku menginap saja dirumahmu" jelas wanita berparas Asia itu seraya menatap hujan deras diluar.
"Hm? Kau yakin?" Levi tidak menyangka Mikasa akan menurut begitu saja kepada Tuan Jaeger.
"Iya. Aku tidak ingin paman khawatir jika tahu aku tidak menginap dirumahmu. Paman juga akan marah padamu jika tahu kau meninggalkanku di penginapan. Aku tahu ini sangat memalukan" jelas Mikasa yang masih memalingkan wajahnya.
Ia tidak lagi memiliki keberanian untuk menatap pria tersebut. Salahkan sang paman yang menyuruhnya untuk menginap.
"Baiklah. Mungkin ada baiknya mengizinkanmu menginap. Setidaknya kau bisa berguna" ucap Levi seraya menjalankan kembali mobilnya.
"Apa maksudmu? Jangan harap kau bisa melakukan yang tidak-tidak" Mikasa langsung menoleh menatap pria disampingnya dengan tajam.
"Hoi, bocah. Fikiranmu itu yang tidak-tidak. Aku hanya ingin kau membantuku memeriksa jawaban ujian" jawaban Levi sukses membuat wanita itu kehilangan lagi rasa percaya dirinya.
"Seharusnya kau katakan dari awal" cicit Mikasa seraya mencengkram roknya yang lembab terkena hujan.
"Hah? Salahkan kepalamu yang berfikir macam-macam" ledek Levi seraya tersenyum tipis. Perlahan situasi canggung diantara mereka memudar. Mikasa mengerucutkan bibir. Ia memalingkan wajah, kembali menatapi hujan dari jendela.
Wanita itu diam-diam menyunggingkan senyum tipis yang tanpa ia sadari Levi dapat melihatnya.
.
.
"Di-dingin sekali" ucap Mikasa dengan bibir sedikit gemetar. Rumah itu terasa sangat dingin, mungkin karena orang yang menempatinya juga memiliki sikap dingin. Begitulah pemikiran konyol yang tiba-tiba terlintas di kepalanya.
"Chotto, aku nyalakan pemanas dulu" jawab Levi lalu berjalan menuju pojok ruang tamu. Disana terdapat alat pemanas ruangan yang jarang ia gunakan. Biasanya ia meminum segelas Gin atau bourbon untuk menghangatkan tubuhnya.
Pemanas sudah menyala. Mikasa masih duduk di salah satu sofa berwarna navy blue yang berukuran single. Levi sudah berada di dapur memasak air panas untuk membuat teh. Mungkin segelas teh hangat cukup untuk menghangatkan tubuh mereka.
"Ini, minumlah" Levi meletakkan segelas teh di meja. Mikasa segera mengambil dan meminumnya. Aroma mawar yang menguar dari teh tersebut membuatnya rileks. Ia sangat suka dengan teh yang Levi buat.
Levi pun menyesap tehnya. Diam-diam ia memperhatikan Mikasa dari tempatnya duduk yang berhadapan dengan gadis itu. Wajah gadis itu tetap datar, namun hanya sorot matanya yang berubah sesuai mood gadis tersebut.
"Mari ku tunjukkan kamarmu" Levi tiba-tiba berdiri. Dengan sigap Mikasa turut berdiri dan berjalan mengekori senseinya.
Mereka tiba di depan kamar yang sebelumnya pernah gadis itu pakai ketika pertama kali ia menginap. Setidaknya ia cukup familiar dengan suasana di kamar tersebut.
"Aku siapkan baju untukmu" Levi keluar dari kamar itu. Beberapa menit kemudian pria itu kembali dengan membawa sesuatu.
"Ini pakaian untukmu tidur" Levi meletakkannya di atas ranjang. Mikasa menghampiri pakaian yang masih terlipat rapi tersebut.
"I-ini!" Mikasa terkejut mendapati sesuatu yang tidak asing baginya.
"Bagaimana bisa pakaian dalamku ada disini?"
"Kau itu ceroboh. Seenaknya meninggalkan pakaian dalammu dirumah orang. Akan jadi masalah bila ada temanku yang menemukannya"
"Aku tahu. Tapi, apa kau sendiri yang mencucinya?"
"Tidak. Aku tidak ingin mengotori tanganku dengan benda-benda itu. Ada jasa laundry"
Dahi wanita itu berkedut mendengar jawaban sang sensei. Apa-apaan sikapnya itu, seolah pakaian dalamnya sebuah kotoran.
Mikasa segera masuk ke kamarnya dan mengganti pakaiannya yang basah. Ia terkejut karena pakaian yang diberikan pria itu bukan piyama atau gaun tidur, melainkan sebuah kemeja yang panjangnya diatas lutut dan sebuah celana boxer yang pastinya milik pria itu.
'Apa-apaan ini? Dasar pria mesum'
Mikasa menggerutu namun tetap memakai pakaian tersebut. Setidaknya lebih baik dari pada harus mengenakan bajunya yang tadi. Setelah mengganti pakaian, gadis berparas oriental itu keluar dari kamar. Ia ingin membantu Levi mengoreksi hasil ujian.
Dilihatnya Levi sedang asik memeriksa lembar-lembar kertas yang menumpuk. Mikasa menghampiri pria itu.
"Mau ku bantu?"
Levi mengalihkan pandangannya pada sumber suara. Wajahnya terlihat datar namun matanya menelusuri tubuh Mikasa dari bawah ke atas.
"Hm. Bagus" jawabnya singkat.
Mikasa segera duduk disamping pria itu dan mengambil setumpuk kertas untuk ia kerjakan.
"Apa yang kau lakukan?" Levi malah menatap gadis itu dengan dahi berkerut.
"Haa? Kau buta? Tentu saja aku ingin membantumu" Mikasa balas menatap Levi dengan dahi tak kalah berkerut.
"Begitu ya. Memang kapan aku menyuruhmu?" Pria itu malah bertanya. Mikasa menghela nafas menahan kesal. Apa pria itu sedang mempermainkannya?
"Kau sudah pikun, sensei? Aku tadi bertanya padamu dan kau menjawabnya" jelas Mikasa dengan perempatan siku-siku di dahinya.
Levi tampak mengingat-ingat. Ia menanggukkan kepala, dengan tangan memegang dagu.
"Naruhoto. Aku bukan bermaksud menjawab pertanyaanmu tadi"
Mikasa menatap Levi, tatapannya seakan menyuruh pria itu untuk menjelaskan maksud perkataannya.
"Aku mengomentari pakaianmu. Tapi kalau kau mau membantuku memeriksa hasil ujian ini, aku akan sangat berterima kasih" ucapnya datar lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Jadi begitu. Dasar mesum. Tenang saja, sebagai balas budi aku akan membantumu" jawab wanita itu seraya membagi kertas menjadi beberapa tumpukan.
"Mesum katamu?" Ucap Levi dengan alis terangkat. Baru kali ini ada yang berani mengatainya demikian.
"Ya. Kau sengaja kan memberikanku pakaian ini" Mikasa menunjuk kemeja yang dipakainya.
"Lalu kenapa? Hanya itu yang bisa kau gunakan. Pakaian itu milik pamanku" jawab Levi cuek seraya mengambil sebuah lembar jawaban.
"Haa? Jadi ini milik pamanmu?" Mikasa terkejut. Bagaimana bisa Levi memberikan pakaian milik sang paman padanya. Gadis itu benar-benar dibuat kesal dan malu.
"Kenapa? Kau kecewa itu bukan pakaianku, hah?" Levi menyeringai melihat ekspresi Mikasa. Wanita Ackerman itu merasa dirinya diledek habis-habisan oleh pria chibi disampingnya.
"Tcih. Jangan bilang boxer ini juga milik pamanmu" desis Mikasa dengan wajah sedikit memerah menahan kesal.
"Aa, kalau itu tentu saja milikku. Tidak ku sangka ternyata pas" Levi kembali menunjukkan seringai tipis.
"Haa?! Aku tidak sudi memakainya" pekik Mikasa dengan wajah memerah.
"Terserah. Kalau tidak sudi, silahkan lepas" Levi nampak cuek-cuek saja. Ia malah asik memeriksa lembar jawaban ujian.
Mikasa terdiam. Ia lupa kalau ia tidak memiliki pakaian lain. Mana mungkin ia tidur dengan telanjang bukan? Tanpa wanita itu tahu, Levi menunjukkan seringai kemenangan.
"Baiklah. Kau puas?" Ucap Mikasa dengan lemas. Ia sudah cukup merasa dipermalukan hari ini. Padahal baru beberapa jam mereka bersama, namun ia sudah tidak lagi merasa terlalu canggung dengan pria tersebut.
"Untuk apa? Kalau kau benar ingin membantu, hentikan percakapan bodoh ini dan kerjakan bagianmu"
Mikasa bersyukur Levi tidak ingin melanjutkan adu mulut dengannya. Iris hitamnya memeriksa lembar jawaban dengan teliti. Levi yang berada disampingnya diam-diam memandanginya.
'Aku cukup senang walau hanya seperti ini. Setidaknya ia tidak lagi menghindariku dan menatapku dengan penuh kebencian'
.
.
Dua Jam Kemudian
"Tidak perlu memaksakan diri. Kau istirahat saja" Levi melihat Mikasa menahan kuapan beberapa kali.
"Tidak, ini masih jam 11 malam. Lagipula aku sudah berniat membantumu" jawab Mikasa dengan mata yang mulai sayu.
"Terserah kau saja" Levi sebenarnya tidak tega melihat Mikasa memaksakan diri, tapi ia juga tahu bagaimana watak wanita tersebut.
Tidak ada percakapan lagi diantara mereka. Hanya suara gemerisik kertas dan goresan pena. Sementara hujan diluar terdengar sangat deras disertai kilat yang sesekali menyambar.
"Ne, Levi-san. Apa kau hanya sendiri dirumah ini?" Mikasa tiba-tiba bersuara.
Sebenarnya sejak awal memasuki rumah tersebut wanita bersurai hitam itu memiliki beberapa pertanyaan yang berputar di kepalanya.
Levi yang tengah memeriksa hasil ujian menoleh, ia cukup terkejut dengan pertanyaan Mikasa.
"Tidak ku sangka kau cukup peduli" jawabnya setengah mencibir. Mikasa menatapnya tajam. Wanita itu menyesalkan pertanyaan yang sudah dilontarkannya.
"Ah, wajah bodoh itu lagi" ucap Levi dengan sengaja. Entah mengapa ia jadi senang menguji kesabaran Mikasa.
"Berhenti mengataiku bodoh, pendek" balasan Mikasa sukses membuat perempatan siku-siku muncul di pelipis Levi.
"Hoi, seperti itu caramu berbicara pada sensei?" Protes Levi dengan wajah kesal.
"Hei, mungkin hanya kau sensei yang tidak lebih tinggi dari mahasiswannya" ledek Mikasa seraya tersenyum tipis. Ia mulai merasa nyaman berada di dekat Levi. Perlahan kebencian yang selama ini bersarang di hati dan fikirannya memudar.
"Aa, sekali lagi mengataiku maka akan ku beri hukuman" ancam Levi yang tentu saja hanya main-main.
"Pendek, pendek, pendek" guman Mikasa seraya memeriksa lembar-lembar hasil ujian. Sudah pasti wanita itu tidak akan menggubris ucapan sang sensei.
Levi meletakkan kertas yang sedang diperiksanya. Dengan gerak cepat pria itu mencengkram kedua bahu Mikasa dan memojokkannya hingga wanita itu merebahkan diri pada sofa yang mereka duduki.
Jantung Mikasa berdegup sangat kencang. Ia tidak menyangka Levi akan benar-benar menanggapi ucapannya. Mulai saat ini, wanita berparas oriental itu akan lebih berhati-hati meledek senseinya.
"He-hei. Apa yang kau lakukan" ucapnya dengan terbata. Levi menyunggingkan senyum psycho.
"Hm? Tentu saja memberimu hukuman"
"Haa? Hu-hukuman? Ku kira kau hanya bercanda"
"Bercanda? Apa kau pernah melihatku seperti itu?" Levi semakin mendekatkan wajahnya. Ia dapat mendengar detak jantung Mikasa yang kencang. Reflek, mikasa memejamkan kedua matanya. Ia tidak sanggup melihat wajah Levi sedekat itu.
Ujung hidung mereka berdua sedikit bersentuhan. Levi memandangi Mikasa yang nampak ketakutan dibawahnya. Mikasa semakin was-was namun entah kenapa tubuhnya tidak ingin menunjukkan perlawanan sama sekali. Ia berfikir bahkan tubuhnya sudah mengkhianati dirinya.
Levi mendekatkan wajahnya pada telinga Mikasa. Tentu saja Mikasa dapat merasakan dengan jelas hembusan nafas hangat dari pria itu. Tubuhnya terasa tergelitik dan rasanya ia ingin menangis saat ini juga.
"Wajahmu terlihat bodoh, Ackerman"
Spontan Mikasa membuka kedua matanya. Otaknya masih memproses ucapan Levi barusan.
'Wajahku terlihat bodoh? Terlihat, Bodoh?!'
Mikasa sudah bersiap menendang perut Levi namun saat itu pula semua gelap seketika.
"Tcih, kenapa harus disaat seperti ini" keluh Levi yang masih mencengkram bahu Mikasa. Wanita harus menahan rasa geli karena Levi berbicara persis di telinganya.
"Hei, bisakah kau jauhkan tubuhmu dan segera mencari lilin?" Mikasa akhirnya mendapat ide agar dirinya bisa terlepas. Akan tetapi entah mengapa tubuhnya hanya diam seakan tidak ingin berontak?
"Aa, waru'i" Levi segera menjauhkan tubuhnya. Ia tidak ingin lebih lama dalam posisi tersebut, bisa-bisa ia kehilangan kendali.
Namun ketika ia hendak bangkit dari sofa, terasa sebuah cengkraman pada bahunya.
"Ada apa?" Levi menoleh. Ia tidak bisa melihat apapun karena tidak ada cahaya bulan dari luar. Ditambah lagi malam ini sedang hujan.
"A-aku ikut" cicit Mikasa dengan menahan rasa malu. Beruntung lampu mati sehingga Levi tidak bisa melihat wajahnya yang memerah. Terdengar pria itu mendengus pelan. Dapat dipastikan saat ini Levi sedang menahan tawa.
"Jangan menertawakanku, pendek"
"Hoi, bocah. Berhenti memanggilku seperti itu atau aku akan meninggalkanmu sendiri disini" ancaman Levi sukses membuat Mikasa bungkam.
"Baiklah. Sekarang cepat cari lilinnya" Wanita berparas oriental itu tidak ingin berlama-lama dalam kegelapan, terlebih dengan orang yang masih asing baginya. Ia sedikit menyesalkan dirinya yang meninggalkan ponselnya dikamar.
"Hei, siapa tuan rumah disini? Berhenti protes dan jadilah anak baik" Levi sedikit terkejut dengan sifat Mikasa yang ternyata cukup cerewet di saat tertentu.
"Iya" jawab Mikasa dengan enggan. Ia ingin segera menemukan penerangan karena ia takut dengan kegelapan.
"Hn, baguslah" Levi segera berjalan dengan Mikasa memegang lengan kemeja pria itu. Levi merasa risih dengan sikap wanita tersebut. Pasti kemejanya kusut karena ditarik.
"Hei, tidak bisakah kau berpegangan dengan benar? Aku tidak suka pakaianku kusut dan kotor" protes Levi dengan wajah kesal yang tidak dapat dilihat wanita Asia itu.
"Astaga! Kau ini selain manusia menyebalkan dan tidak berprikemanusiaan, kau juga seorang clean freak. Tcih" kritik Mikasa yang sudah kesal. Memangnya apa yang salah dengan hal tersebut?
"Apa-apaan dengan ucapanmu itu, Ackerman. Kalau kau memang tidak ingin kutinggal, sebaiknya kau berpegangan padaku dengan benar. Memangnya aku ini kotor sampai kau jijik memegang lenganku?"
Mikasa tertohok. Ia baru tahu ternyata Levi seseorang yang cukup sensitif.
"Ha'i, sumimasen" Mikasa menurut. Tidak ada salahnya ia menggenggam lengan pria itu. Apalagi saat ini keadaan sedang gelap gulita.
Mereka kembali berjalan. Tidak ada percakapan lagi diantara mereka. Hanya suara hujan yang mengisi keheningan dirumah tersebut.
'Saat mati lampu rumah ini seperti besar sekali. Sampai kapan aku harus terus menggenggam lengan pria ini?' Mikasa hanya bisa menggerutu dalam hati.
Ia tidak ingin pria itu meninggalkannya sendiri dirumah yang masih asing baginya, dengan lampu padam pula.
"Uggh!" Terdengar ringisan Levi. Sepertinya ia menabrak sesuatu.
"Kau baik-baik saja?" Sedikit rasa khawatir muncul dihati wanita Ackerman tersebut.
"Aa, tenang saja" Levi kembali berjalan. Kali ini langkahnya lebih hati-hati.
"Kenapa kau tidak menggunakan senter di ponselmu, Levi-san? Ponselku tertinggal di kamar" Mikasa baru menyadari hal tersebut.
"Kalau aku membawanya, untuk apa aku bersusah payah seperti ini. Ponselku juga ku tinggal di kamar" jelas Levi dengan sarkastik.
Sepertinya Mikasa sudah salah bicara. Levi bukanlah orang yang bodoh. Wanita bersurai hitam itu hanya mendengus.
"Bersabarlah sedikit lagi. Kita sudah mendekati dapur. Disana ada lilin dan senter" ucap Levi yang mulai menyadari perubahan suhu tubuh Mikasa. Wanita itu mulai kedinginan akibat lampu padam. Ia pun mulai merasakan hal yang sama.
Mikasa hanya menjawab dengan gumaman pelan. Tiba-tiba Levi menyentuh tangannya yang mulai terasa dingin. Telapak tangan pria itu memang tidak halus seperti Eren, tapi terasa hangat.
Akhirnya mereka tiba di dapur. Levi segera melepaskan genggaman tangannya yang sedari tadi cukup menghangatkan jemari wanita Asia tersebut.
Entah mengapa wanita itu merasa enggan kehilangan rasa hangat yang menggenggam jemarinya. Namun Mikasa tidak ingin mengatakannya terang-terangan.
"Kau diamlah disini. Biar aku saja yang mencari" titah Levi seraya mendudukkan Mikasa pada sebuah kursi yang ada diruangan tersebut.
"Iya" jawab Mikasa sedikit was-was. Ia takut Levi membohonginya dan meninggalkannya sendiri.
"Jangan khawatir, aku tidak akan kabur" Mikasa terkejut dengan ucapan Levi. Bagaimana pria itu bisa tahu apa yang difikirkannya? Mikasa hanya menggumam sebagai jawaban.
Levi berjalan ke arah kompor, lalu bergeser beberapa langkah ke kanan. Disana terdapat laci-laci yang menyimpan perkakas. Seingatnya di laci paling atas terdapat lilin dan senter serta korek api.
"Ah, akhirnya ketemu" ucap Levi yang berhasil menemukan senter. Namun disana hanya tersisa dua batang lilin. Berhubung sudah lama tidak mati lampu jadi ia tidak membeli persediaan.
Levi menyalakan sebatang lilin dan membawa satunya lagi untuk berjaga-jaga.
"Ini, ambilah. Sebaiknya kau kembali saja ke kamarmu" ucap Levi seraya menyodorkan lilin satunya beserta koreknya pada Mikasa.
"Bagaimana dengan memeriksa hasil ujiannya?"
"Besok saja aku selesaikan di kampus. Sekarang kau istirahat, besok aku harus mengantarmu kembali ke kediaman Jaeger pagi-pagi sekali"
"Baiklah"
Levi menuntun Mikasa kembali ke kamar yang sudah disediakan untuknya. Pria itu juga memberikan senternya pada Mikasa jika ia tiba-tiba ingin ke dapur untuk minum.
"Jika kau butuh sesuatu, jangan sungkan untuk mengetuk pintu kamarku" ucap Levi sebelum meninggalkan Mikasa yang sudah menyalakan lilin untuk kamarnya. Wanita itu hanya mengangguk lalu masuk ke dalam kamarnya yang gelap dan terasa dingin.
Ia merebahkan diri diatas ranjang dan menarik selimut hingga dada. Suara hujan masih jelas terdengar. Sesekali kilat menyambar dan membuat wanita itu sedikit terkejut.
"Kamar ini kenapa terasa dingin sekali. Padahal selimut ini juga cukup tebal" gumam Mikasa yang masih belum bisa memejamkan mata. Lalu ia mengambil ponselnya dan melihat status facebook teman-temannya. Semua menulis status tentang hujan dan badai.
"Aku masih belum bisa memejamkan mata. Kenapa kamar ini terasa dingin sekali?" Gumam Mikasa yang mulai merasa aneh. Setelah berfikir beberapa saat, ia memutuskan untuk menghampiri Levi.
Tok... Tok... Tok...
"Ada apa?" Levi segera membuka pintu.
"Kamarku, rasanya dingin sekali. Padahal aku sudah memakai selimut" ucap Mikasa datar namun sedikit terbata.
"Lalu?" Levi bertanya seraya mengerutkan dahi.
"Apa ada kamar lain yang lebih hangat?" mengerti apa yang Mikasa coba sampaikan, pria itu memutuskan untuk bertukar kamar.
"Kau tidur dikamarku saja. Aku yang akan tidur disana"
"Ti-dak. Kau tetap tidur dikamarmu. Aku akan kembali. Sumimasen, sudah mengganggu"
Levi reflek menarik lengan baju Mikasa. Ia yakin wanita itu sedang takut saat ini. Pria itu tidak tega bila harus membiarkan Mikasa seorang diri dikamarnya yang gelap.
"Bagaimana kalau kau juga tidur disini? Di kamarku ada sofa, aku akan tidur disana"
Mikasa berfikir sejenak. Ia pun sebenarnya tidak ingin tidur sendiri ditengah kegelapan seperti saat ini.
"Baiklah" jawab wanita Asia itu dengan mantap.
Levi mempersilahkan Mikasa memasuki kamarnya. Suasana kamar itu remang-remang karena cahaya lilin. Benar apa yang Levi katakan, di sisi kanan terdapat sebuah sofa yang cukup untuk di jadikan tempat tidur. Mikasa segera menempati sofa tersebut.
"Aku yang akan tidur disini"
"Tidak, kau saja yang tidur di ranjang. Tubuhmu pasti lelah" Levi sudah mengambil bantal untuk dirinya. Namun Mikasa segera merebut bantal tersebut dan merebahkan dirinya di atas sofa.
"Oyasumi"
"Terserah kau saja. Ini pakailah" levi menyodorkan selimut pada wanita berparas oriental tersebut lalu ia berjalan menuju ranjang dan merebahkan diri disana.
.
.
.
TBC
Hai all. Kali ini gue agak telat update, tugas negara cukup menguras tenaga dan fikiran. Semoga gak kecewa ya dengan kelanjutan cerita kali ini.
Thanks ya buat RivaMika Lovers yang udah berkenan memberi review. Thanks juga buat yang udah fave and follow. Agak sedih sih cuma sedikit yang kasih review. But that's OK. Itu lebih baik daripada isi reviewnya flame atau sejenisnya. Hahahaha.
Jangan lupa luangkan waktu lebih untuk sekedar mereview fic abal ini. Seperti biasa, No Flame atau sejenisnya karena udah Haru warning di awal. Hohoho.
See you next chap. Bye.
