Disclaimer:

Togashi-sensei

Title:

Me + You = Family (?)

Pairing:

Kuroro X fem Kurapika pastinya

Warning:

OOC, gaje, T (untuk sementara)

A/N:

chapter ini langsung author publish, lebih panjang dari yang sebelumnya, DON'T LIKE DON'T READ... review please #puppy eyes


Chapter 3 - Penjelasan X Anak X Bayi

"nak... maaf... kau pasti salah paham... aku bukan ibu mu... kau pasti keliru..." ucap Kurapika melihat anak kecil itu.

"bukan?..." tatapannya berubah nanar, dia melihat ke arah Kurapika dan Kuroro bergantian.

Bruk!

Tiba-tiba saja anak laki-laki itu pingsan.

"eh?" Kurapika langsung menahan badan anak itu dan melihat ke arah yang lain, bingung.

"kau kejam juga ya, Kurapika-chan... karena kata-kata mu yang dingin, dia jadi shock dan akhirnya pingsan..." sindir Kuroro santai lalu bangkit.

"diam kau, bodoh! Jangan seenaknya menuduh ku sembarangan" pekik Kurapika seraya menggendong anak laki-laki itu.

'tubuhnya ringan sekali... apa dia makan selama ini?' pikir gadis itu saat menggendong anak itu. Di perhatikannya wajah anak itu. Rambut hitam legamnya yang terlihat berkilau di bawah sinar mentari, garis matanya yang tegas dan tajam tertutup dengan tenang, hidungnya yang mungil dan mancung menambah kesan manis di wajah tampannya yang mungil.

'hm... sepertinya aku pernah melihat wajah yang mirip seperti ini, dimana ya?'

"hei Kurapika..." teguran leorio sukses menghancurkan lamunan gadis itu.

"eh?... ah? Ya... ada apa leorio?"

"ini... tas yang di bawa anak ini..."

"ada apa dengan tasnya?"

"isinya bayi... dan bayi ini hidup" kali ini killua yang angkat bicara.

"apa? Bayi?" Kurapika dan gon melihat isi tas itu. Di dalamnya memang ada seorang bayi. Rambut hitamnya terlihat kontras di antara balutan kain krem dan kulitnya yang putih mulus. Wajahnya terlihat sangat manis dalam tidurnya. Sebuah perban putih melingkari sekitar matanya.

"kenapa matanya di tutup? Apa dia terluka?"

"entahlah gon... aku bisa saja memeriksanya, tapi tak mungkin di sini... anak yang lebih tua pun perlu perawatan"

"bawa saja ke markas ku... tempatnya cukup dekat dari sini... di sana juga ada beberapa ruangan kosong yang bisa kau pakai untuk memeriksa keadaan anak-anak itu... kita juga bisa menghubungi netero dan meminta penjelasa lebih lanjut tentang misi ini" Kuroro angkat bicara.

"itu lebih baik ku rasa..."

.

.

Skip time

.

.

"netero-sama... saya minta penjelasan atas perintah misi kali ini... kenapa saya harus bekerja sama dengan pria ini?" suara seorang gadis terdengar tengah protes dengan pria tua nyentrik yang tengah berhubungan dengannya melalui webcam.

"aku kira kau sudah menyetujui tentang konsep kerja sama ini, Kurapika-san..." jawab netero santai.

"memang... tapi bukan kerja sama seperti ini yang saya maksud... saya tak mau bekerja sama dengannya, apalagi harus menjadi keluarga..." protes gadis itu, dia masih berusaha untuk menahan nada bicaranya agar tetap sopan.

"kami butuh kalian bekerja sama dalam misi ini... dan ku rasa hanya kalian berdua yang mampu dalam misi kali ini... kau tidak keberatan, Kuroro-kun?"

"aku tak pernah keberatan... lagipula secara teknis ini tak merugikan ku" jawaban tenang dari pria itu menghasilkan dirinya di berikan death glare oleh Kurapika.

"ba..."

"maaf... danchou..." belum sempat netero menyelesaikan ucapannya terdengar sebuah ketukan dari pintu yang ada di belakang Kurapika dan Kuroro, lalu shalnark masuk.

"ada apa, shalnark?"

"ini tentang anak-anak itu..."

"anak-anak?" netero terdengar tertarik dengan obrolan kedua orang itu.

"ah ya... tadi saat di taman, kami bertemu dengan seorang anak laki-laki usianya kira-kira 4-5 thn dan seorang bayi..." lapor Kurapika.

"hmmm... bisa kalian kirim fotonya?"

"bisa... shalnark, tolong kirimkan foto anak-anak itu kepada netero..." perintah pria itu. tanpa banyak basa-basi, pria berambut coklat itu segera mengirimkan foto anak-anak itu. Setelah mendapat foto, netero terdiam sebentar, memperhatikan foto keduannya.

"sepertinya kalian telah bertemu dengan calon anak-anak kalian... selamat berjuang Kurapika-san Kuroro-kun... aku yakin kalian mampu dan aku tak salah memilih orang... hubungi aku lagi besok untuk kepastian yang sesungguhnya..." sebelum sempat mendengar jawaban dari kedua orang itu, netero telah memutuskan hubungan webcamnya. Kurapika hanya menarik nafas panjang dan berat.

"jadi... berita apa yang kau terima, shalnark?"

"tentang latar belakang dan masa lalu anak-anak itu" ucapan shalnark di balas oleh tatapan Kurapika dan Kuroro yang menanti penjelasan lebih lanjut.

"anak yang lebih tua itu salah satu korban dari gang yang akan menjadi musuh kami... orang tuanya telah menjualnya ke kelompok itu dari umurnya 6 bulan... sejak itu dia telah berpindah-pindah dari satu orang tua asuh ke orang tua asuh yang lain, ada yang memperlakukannya dengan baik tapi tak sedikit juga yang memperlakukannya selayak budak... dia sering di pukuli dan di siksa bila ada kesalahan yang di lakukan sengaja atau pun tidak... ku rasa secara mental anak itu juga tak bisa di bilang sehat... menurut info yang ku dapat, dia dan bayi itu berhasil kabur dari rumah orang tua asuh terakhir mereka dan tak sengaja di temukan oleh salah seorang pegawai Hunter..." jelas shalnark sambil membaca kertas yang ada di tangan kanannya. Di belakangnya telah berdiri leorio dan killua.

"bagaimana dengan bayi itu?"

"belum banyak data yang ku terima tentangnya, danchou... entah mereka memang memiliki hubungan darah atau tidak, tapi yang jelas bayi itu selalu bersama dengan anak itu dari hari pertama bayi itu di jual... dan kabarnya gara-gara bayi itu sang anak selalu mendapat perlakuan tak baik dari orang tua asuh mereka, tapi alasannya belum jelas..."

Kuroro hanya diam, jari telunjuknya memegang dagu, berpikir.

"aku juga punya laporan lain" leorio angkat bicara. Kurapika dan Kuroro menatap ke arahnya.

"di tubuh anak itu memang terdapat banyak luka memar bekas siksaan, ada juga luka bakar dan luka yang terbaru terjadi sekitar 1 minggu yang lalu... dari bekas luka dan kondisi kesehatan yang ku dapat, mereka berdua selama ini hidup di lingkungan yang tak baik... anak yang lebih tua mendapat sedikit gangguan di pernafasannya sedangkan si bayi ada masalah dengan kulitnya... walaupun kondisi mereka yang sekarang belum mengkhawatirkan, tapi ini tak bisa di anggap sepele..."

"bagaimana dengan matanya? Apa dia terluka?"

"aku belum bisa memastikan hal itu, Kurapika... kami sudah membuka perban yang melilit kedua matanya, tapi bayi itu masih tertidur lelap... dan di perlukan ahli medis yang lebih berpengalaman dari ku untuk tahu hal itu..."

"sou..." Kurapika hanya menunduk pelan, berpikir. Yang lain pun ikut terdiam, cukup lama.

"... kurasa aku mulai mengerti sekarang kenapa netero memilih ku untuk jadi sosok 'ayah' dalam misi kali ini..." semua melihat ke arahnya.

"aku juga anak yang terbuang dulu... tak ada yang mempedulikan ku... aku hidup sendiri di jalanan, berjuang untuk hidup dan mati ku sendiri... jadi akulah orang yang paling pas untuk tugas ini" jelasnya lagi, tenang.

'apa dia sudah gila? Atau hatinya sudah benar-benar beku? Bagaimana bisa dia menjelaskan cerita masa lalunya itu dengan nada setenang itu? dasar aneh...'pikir leorio.

Kurapika dan yang lain kembali diam, sebelum sempat Kurapika angkat bicara, suara pintu terbuka lebar terdengar.

"kawan-kawan!" ucapnya.

"ada apa gon?"

"killua... bayi itu sudah bangun... kau harus lihat ini... kalian juga... ayo..." gon melihat mereka dan kembali berlari. Yang lain heran dengan kelakuan aneh gon, mereka pun berlari mengikutinya ke arah kamar tempat anak-anak itu tertidur. Sesampainya mereka di kamar, gon segera mendekati bayi yang sudah duduk dan bermain dengan kain krem yang tadi menyelimuti tubuh mungilnya.

"sebenarnya apa yang ingin kau tunjukan pada kami, gon..."

"killua... lihatlah mata anak ini..." ucap gon seraya mengangkat wajah bayi itu perlahan.

"kenapa dengan ma... eh?" belum sempat killua menyelesaikan ucapannya, dia telah terkejut dengan apa yang di lihatnya. Yang lain pun mendekati dan melihat ke arah bayi itu.

"... eh?... matanya... ini mustahil kan?" mereka melihat mata anak itu, tak percaya. Mereka saling melihat dan sibuk dengan pikiran masing-masing.

contenyuu~~