The Chosen One

Disclaimer :Naruto itu selalu milik Masashi Kishimoto

Genre : romance, adventure, fantasy, tragedy/hurt/comfort

Rated: T


~Sasuke's POV~

Sakura?

Kenapa dia?

Kenapa dia tiba-tiba menangis dan memelukku?

Tapi… aku tidak bisa melepaskan pelukannya..

Ahh~… hangat rasanya dipeluk seperti ini, akupun membalas pelukannya dengan melingkarkan kedua lenganku dibelakang pundak Sakura yang mungil itu.

~Sakura's POV~

Kenapa… kenapa bisa sesadis ini?

Sasuke… aku tidak menyangka masa lalunya begitu menyakitkan,seluruh keluarganya dibunuh didepan matanya sendiri, tapi siapa… siapa yang membunuh seluruh keluarganya ini?

Aku terus menerus memeluk Sasuke sambil melihat kejadian yang memilukan itu sampai aku mendengar suara Ino.

~Normal's POV~

"Sakura, aku mau ke… oh…" ucapan Ino terhenti ketika melihat Sasuke dan Sakura sedang berpelukan, dan mendengar suara Ino, Sasuke langsung mendorong tubuh Sakura dengan wajahnya yang gugup dan merona merah.

"Maaf mengganggu, silahkan lanjutkan," ucap Ino yang berusaha meninggalkan mereka.

"I-ino kamu salah paham… S-Sasuke hanya melihat lukaku tadi saat terpotong pisau," jawab Sakura yang sangat panic.

"Heii, tidak usah panic begitu, aku tidak akan mengatakannya pada Neji kok," ledek Ino sambil menjulurkan lidahnya.

.

.

.

Saat itu, malam hari telah tiba, kini Ino sedang berada dikamar Sakura, berbincang-bincang tentang kesukaan mereka, hobby, makanan favorit dan segala hal yang bisa dibicarakan, Ino juga membicarakan tentang hubungannya dengan Shikamaru yang membuat Sakura merasa sedikit kepikiran tentang Neji.

"Nah Sakura… apa kamu punya orang yang kau suka?" tanya Ino sambil menyisir rambutnya yang panjang dan berwarna pirang itu.

"Aku…"

"Aku pikir kau suka Neji," tebak Ino.

"Hah? Aku? Hhhmm… aku… tidak tahu ini bisa dibilang suka atau tidak, karena aku belum pernah merasakan perasaan suka sebelumnya," jawab Sakura yang memeluk bantal gulingnya.

"Begitu… kau tahu, dulu aku suka Neji loh," ujar Ino dan itu sukses membuat ekspresi Sakura terkejut, bukan terkejut karena mendengar pernyataannya, hanya saja Sakura tidak menyangka Ino akan mengakuinya.

"Tapi dia menolaku, karena katanya dia tidak mau merusak hubungan persahabatan kami, tapi disisi lain… aku tahu Neji… masih menunggu wanita itu," ucap Ino tersenyum manis pada Sakura.

Saat itu Sakura melihat wajah Ino yang sangat cantik menjadi bersemu sendiri, dia berfikir andai saja wajahnya secantik Ino dan kepribadiannya sesupel Ino. Tapi kata 'wanita' yang keluar dari mulut Ino membuat Sakura kembali pada masalah Neji.

"W-wanita?"

"Ya, Neji itu punya wanita yang sangat dicintainya dulu," lanjut Ino.

"Bukannya Neji menyukaimu?" tanya Sakura yang membuat Ino terkejut, lalu Sakura dengan cepat menutup mulutnya.

Namun melihat ekspresi Ino yang masih sangat penasaran, Sakura tidak bisa menyembunyikan sesuatu dari Ino.

"Tadi siang, saat Neji mengantarku pulang, dia menceritakan semuanya padaku, dan katanya… dia menyukaimu," kata Sakura sambil memeluk gulingnya makin erat.

"Sakura…" panggil Ino dengan tatapan seperti menahan tertawa, "Neji itu tukang bohong, jangan percaya, hihihi, begitu-begitu dia senang membuat orang bingung dengan perasaannya sendiri, tapi aku dan Shikamaru tidak bisa dia bohongi, sudah jelas Neji sangat mencintai wanita itu 100%"

"Wanita itu… siapa" tanya Sakura, entah mengapa dada Sakura merasa sesak mendengar hal itu.

"Dia sama seperti kami, dia sangat ahli membuat benda yang bisa dijadikan senjata," jawab Ino, "Sudah malam, kita tidur yuk."

Ino beranjak ketemat tidur Sakura yang megah itu lalu menarik selimut sampai lehernya dan memejamkan matanya perlahan. Sakura yang masih membuka matanya tetap masih kepikiran tentang Neji, namun Sakura sendiri bingung, sebenarnya apa perasaannya terhadap Neji itu? Suka… atau kagum?

o-o-o-o-o

kini giliran Sasuke dan Naruto yang sedang berada didalam kamar Konohamaru, kenapa? Karena mereka juga menginap dirumah Sakura.

"Jadi, bagaimana ceritanya tadi kau bisa memeluk Sakura? Sasuke," tanya Naruto yang sedang bermain PS3 bersama Konohamaru.

"Sudah kubilang Sakuralah yang memelukku, bukan aku yang memeluknya," jawab Sasuke yang wajahnya terlihat ada sebuah… cakaran?

"Tapi kau seram juga yah bocah, main cakar saja setelah dengar kabar itu," ucap Naruto cengengesan.

"Namaku Konohamaru!"

"Akh! Perih sekali~" rintih Sasuke yang sedang mengobati luka di pipinya itu.

"Kau suka sama kakakku yah?" tanya Konohamaru to the point.

"Enak saja menuduhku sembarangan, kenal saja baru beberapa hari," jawab Sasuke dengan wajahnya yang sedikit memerah.

"Hati-hati dengan ucapanmu kawan, bisa-bisa kau jatuh cinta padanya nanti," kata Naruto memperingati, "Saat kau jatuh cinta padanya, Sakura malah cinta dengan orang lain, kasihan… pemula kok malah patah hati."

"Kau ini minta dikubur hidup-hidup yah!" sewot Sasuke.

"Ah, dan hilangkan itu nada membentakmu, kau ini jadi cowok kasar dan dingin sekali, pantas tidak pernah dapat pacar," ejek Naruto sekali lagi.

"Haa? Tidak punya pacar? Kasihan ganteng-ganteng tapi tidak laku," sambung Konohamaru.

Entah kenapa rasanya Naruto dan Konohamaru langsung akrab kalau menyangkut mencela Sasuke. Sedangkan Sasuke hanya diam tidak bisa melawan omongan kedua orang itu, kalau bisa ingin sekali dia membakar kedua orang yang sedang akur main PS3 itu. Sasuke, dia tidak mengerti bagaimana caranya berinteraksi dengan seseorang, selama ini dia berhasil berbaur dengan yang lain berkat Naruto, Ino dan Kakashi. Berkat merekalah semua yang kenal Sasuke memaklumi kelakuan Sasuke yang kasar dan cuek itu.

Namun bukan berarti Sasuke tidak perhatian pada mereka yang peduli terhadapnya, hanya saja dia kurang bisa menunjukkan bagaimana caranya.

Waktupun semakin larut, kini mereka semua sudah tertidur dengan lelap, hingga saatnya pagi tiba, Sakuralah yang pertama kali bangun dan berjalan menuju dapur untuk menyiapkan sarapan. Saat sampai didapur, ternyata ada sosok lain yang sudah berada disana selain Sakura.

"Sasuke?" panggil Sakura, "Selamat pagi."

"Pagi," jawab Sasuke singkat sambil meminum air putih.

Keadaan sedikit canggung, Sakura mengambil segelas air putih yang terletak disamping Sasuke, kemudian dengan keberanian yang sangat besar, Sakura melontarkan suatu kalimat.

"Maafkan aku kemarin, aku tidak sengaja melihat masa lalumu, aku juga tidak mengerti kenapa aku bisa melihatnya, maaf aku telah lancang."

Sasuke menatap Sakura yang sedang memejamkan matanya, menunggu sepatah kalimat dari Sasuke agar gadis itu membuka mata emeraldnya yang indah.

"Tidak apa, aku juga sudah lancang melihat masa lalumu, disengaja malah," jawab Sasuke sambil memandang gelas berisi air ditangannya itu, "Setidaknya, aku merasakan bagaimana kasih sayang yang tulus dari orang tua." Pikir Sasuke.

"Jadi… kita impas yah, hehehe," ucap Sakura terkekeh sedikit.

Sasuke mengerutkan keningnya sambil tersenyum heran, "Ayo siap-siap, nanti telat kesekolah."

o-o-o-o-o

pagi itu adalah pagi yang sangat ramai, 5 orang keluar dari rumah yang megah dengan seragam sekolah mereka, ya… kini Sakura berangkat sekolah bersama Ino, Sasuke, Naruto dan Konohamaru.

"Kak, ngomong-ngomong, ketika aku melihat mereka tidak takut dengan kakak, aku jadi teringat orang itu," ucap Konohamaru tiba-tiba sambil mengangkat kedua lengannya dan ditempelkan dibelakang kepalanya.

"Orang itu?" tanya Ino.

"Ah! Iya aku ingat," jawab Sakura yang menempulkan jari telunjuk di dagunya, "anak kali-laki yang kita temui saat menginap di villa kan?"

"Iya iya," jawab Konohamaru dengan semangat, "Siapa yah namanya? Kalau tidak salah.. ma… mima… arrgghh."

"Aku juga lupa namanya, tapi aku suka padanya dia sangat baik dan pemalu, dia juga tidak takut saat aku mengatakan sesuatu yang akan terjadi padanya," kata Sakura.

"Kau suka padanya?" tanya Sasuke bingung.

"Maksudku bukan suka dalam hal khusus," jelas Sakura.

"Kalau dengan Neji?" ledek Ino sambil menyenggol sikut Sakura, terlihat wajah Sakura yang langsung memerah ketika Ino meledeknya.

"AAhh! Aku tidak suka dengan si Neji Neji itu!" sewot Konohamaru.

"K-kenapa?" tanya Sakura dengan nada panik, seolah Konohamaru itu adalah kakaknya.

"Pokoknya aku tidak suka, kakak kalau mau pacaran carilah laki-laki yang baik dan apa adanya, tuh… seperti Sasuke misalnya," kata Konohamaru dengan asal-asalan sambil tidak menatap Sasuke.

"A-AKU?" teriak Sasuke yang gugup, "E-Enak saja! Aku tidak menyukai Sakura, kita saja baru bertemu dan belum kenal lebih dekat."

Ucapan Sasuke membuat Sakura, Ino, Naruto dan Konohamaru memandangnya dengan tatapan kaget.

"Sasuke… tidak perlu sekasar itu ucapanmu," tegur Ino.

"Ya, kalau memang tidak menyukai Sakura jangan melontarkannya begitu saja," sambung Naruto.

"Dan pergi saja ke neraka!" kata Konohamaru mengakhiri perkumpulan mereka, Konohamaru mencium pipi Sakura dan pamit karena letak sekolah Konohamaru berbeda arah.

"Ayo Sakura, kita pergi duluan," tarik Ino pada lengan Sakura meninggalkan Sasuke yang berdiri disana.

Ketika Ino dan Sakura sudah lumayan menjauh, Naruto menghampiri sahabatnya itu dan menepuk pundaknya.

"Minta maaf padanya nanti," usul Naruto.

Sasuke hanya terdiam, dia tidak bermaksud melontarkan kalimat seperti tadi, hanya saja ketika Konohamaru dengan asal berkata seperti tadi, itu membuat Sasuke gugup dan malu, Sasuke sendiri tidak mengerti kenapa dia bisa merasa malu dan gugup, maka terlontarlah kalimat yang tidak mengenakan untuk Sakura.

"Aku tidak apa Ino, kelihatannya Sasuke tidak bermaksud bicara begitu," ucap Sakura yang sudah berada ditempat loker sepatu, sejak Sakura dekat dengan Ino, sudah jaranag ada orang yang menghina atau mengerjai Sakura lagi.

"Walaupun tidak bermaksud Sakura, Sasuke itu kebiasaan… terlalu kasar ucapannya," ujar Ino sambil mengganti sepatunya.

"Mungkin itu dikarenakan dia kurang kasih sayang dari orang tuanya yang sudah tidak ada kan?" kata Sakura dengan santai.

Ino terdiam kaget, "Dari mana kau tahu itu?"

"Hah?"

"Dari mana kau tahu kalau Sasuke sudah tidak punya orang tua?" tanya Ino sekali lagi.

"Oh… kemarin saat dia menyentuhku, aku tidak sengaja melihat masa lalunya, aku juga tidak tahu kenapa bisa melihatnya," jawab Sakura.

"Apa? Dia juga bisa melihat masa lalu? Sakura… kekuatannya pasti sangat besar, bisa dibilang dia cenayang yang sangat hebat," pikir Ino.

"Sakura…" panggil Ino pelan sambil mendekat kearah Sakura, "Apa kau bisa melakukan ini?" tanya Ino sambil menunjukkan telapak tangannya dan tiba-tiba muncul tumbuhan hijau yang membuat mata Sakura terbuka lebar.

"T-Tidak…" jawab Sakura.

"Begitu yah," kata Ino yang menghilangkan kembali sosok tumbuhan itu dengan tiba-tiba.

"K-Kau bisa seperti itu?" tanya Sakura bingung.

"Ya, kami semua bisa," jawab Ino.

"Makanya nanti sepulang sekolah mau ikut ke markas kami?" tawar suara laki-laki dari arah belakang, dan ketika Sakura menoleh.

"N-Neji?" sentak Sakura kaget.

"Markas? Nona Tsunade sudah menyuruh kita membawanya?" tanya Ino.

"Tidak, hanya saja aku ingin cepat-cepat memperkenalkan Sakura padanya," jawab Neji sambil tersenyum pada Sakura dan membuat Sakura berdebar-debar.

"Benar juga, lebih cepat kenal lebih bagus, mau kan Sakura?" tanya Ino.

"Iya aku mau," jawab Sakura.

~Sakura's POV~

Ya Tuhan, pagi-pagi sudah harus menlihat Neji? Aku sangat grogi dan senang karena Neji mengajakku ke tempat mereka, tapi kesenanganku ini hanya sesaat ketika aku mengingat ucapan Ino tadi malam tentang wanita yang dicintai Neji, siapa yah wanita beruntung itu? Neji pasti akan sangat menyayanginya kalau sudah mendapatkan wanita yang dicintainya.

Tapi kenapa dia berbohong padaku dengan mengatakan dia menyukai Ino yah? Kurasa dia tidak bohong saat bilang suka pada Ino, tapi melihat dari tatapan Ino tadi malam, aku juga yakin Ino tidak bohong tentang Neji yang mencintai seseorang itu.

Ah~ aku sangat bingung.

Dan lagi… Sasuke, sebenarnya ucapannya tadi membuatku sedikit terkejut, habis nadanya membentak begitu, kalau memang dia tidak suka padaku… ehm, bukan dalam hal yang khusus… kenapa dia mau berbuat baik padaku.

Saat aku berjalan menuju kelas bersama Ino, aku melihat Kiba yang sedang berada di depan kelas bersama para wanita, sepertinya Kiba menikmati ke populerannya, Kiba menyapaku dengan ramah dan akupun tersenyum kembali padanya, dan anehnya, tidak ada lagi tatapan sinis untukku dari para wanita ganas itu.

Aku bersyukur, entah apa yang dilakukan oleh mereka sampai-sampai aku merasa… aku menyukai sekolah ini sekarang.

Selama di sekolah, aku merasa Sasuke ingin membicarakan sesuatu denganku, tapi kelakuannya membuatku bingung, kadang menggaruk kepalanya dengan ekspresi kesal, kadang menendang-nendang kursi di depannya, dan kadang mencabuti rambut Naruto dengan ekspresi bingungnya. Tapi aku yakin sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu padaku, hingga akhirnya aku memutuskan saat pulang sekolah ini, akulah yang akan menanyakannya langsung.

"Sasuke…" panggilku dan itu membuat Sasuke….

"YAA?" menjawab dengan sangat keras.

"Ah.. maaf.." ucapku yang… kenapa minta maaf?

"Tidak, tidak… Sakura, akulah y-yang meminta m-maaf," ucap Sasuke dengan masih nada gagapnya.

"Tidak, aku minta maaf karena telah mengagetkanmu," ucapku pelan.

"Aku… akulah yang meminta maaf! Maafkan aku yang sudah bicara kelewatan tadi pagi!" bentak Sasuke.

Nadanya memang membentak, tapi aku merasa dia sedang tidak membentakku, setelah kulihat wajahnya, aku baru sadar,wajahnya sangat tampan dan ternyata wajahnya sangat gugup… bisa kutebak dia sedang menahan malu, raut mukanya yang sangat dingin, tatapan matanya yang tajam, namun terpancar rona kemerahan yang sepertinya mati-matian dia tutupi, bisa kutebak lagi… harga dirinya pasti tinggi. Akupun tersenyum lembut padanya dan mengatakan.

"Tidak masalah, oh iya… hari ini aku akan ke markas kalian loh."

"Ha? Sekarang?"

"Iya, katanya Neji mau mengenalkanku pada Nona Tsunade," jawabku dengan sangat pelan ketika menyebutkan nama Neji.

"Sakura," aku mendengar suara Neji dari pintu kelas, "Ayo kita berangkat."

Aku tersenyum dan langsung meninggalkan Sasuke dikelas, sebelum aku meninggalkan kelas itu, aku menoleh lagi ke Sasuke dan… "Sampai besok," akupun melanjutkan langkahku lagi, tanpa kusdarai bahwa saat itu ternyata wajah Sasuke berubah menjadi lesu, saat jalan bersama Neji, bisa kurasakan tatapan sinis masih ada yang terpaku padaku dari wanita-wanita yang melihat kearah kami, tapi aku tidak memperdulikannya. Saat ini aku menaiki mobil Neji, tadinya aku ingin bareng dengan Ino, tapi katanya Ino akan menyusul setelah dia membantu ibunya yang membuka took bunga.

Saat aku melirik kearah Neji yang sedang menyetir… bisa kurasakan darah yang berada di wajahku memanas.

Aku…

Sepertinya…

Benar-benar menyukai Neji.

"Kita sudah sampai," ucap Neji yang membuyarkan lamunanku dan sudah membuka pintuku, aku benar-benar melamun, bahkan sampai Neji turun saja aku tidak menyadarinya.

Aku mengikuti langkah Neji ke sebuah rumah yang sangat sederhana itu, tapi ketika aku memasuki rumah itu, alangkah kagetnya ketika aku melihat suasana seperti… markas?

Memang ada ruang tamu, ruang Tv dan ruang makan selayaknya rumah biasa, tapi peralatannya… ada monitor yang sangat besar, dan lagi banyak kamar yang aku sendiri tidak tahu apa fungsi dari kamar tersebut, dalamnya tidak sesederhana penampilan luar rumah yang tadi kulihat, bahkan ini lebih besar dari rumahku yang menurutku sudah megah.

"Kak Nejiiii," aku melihat ada sosok wanita berambut panjang berlari memanggil Neji, wanita itu sangat cantik.

"Hinata, mana Nona Tsunade?"

"Diruangannya." Jawab wanita itu.

"Oh iya, perkenalkan ini Sakura," kata Neji yang memperkenalkanku pada wanita itu, dengan cepat aku sedikit membungkukan tubuhku dan memperkenalkan diriku dengan sopan.

"Salam kenal, aku Sakura Haruno," ucapku.

"Aku Hinata Hyuuga, sepupu kak Neji, waaah ternyata kau lebih cantik dari yang difoto yah."

Kalimatnya membuatku bingung, foto? Dari mana dia mendapatkan fotoku? Ok, itu akan kupertanyakan nanti, dan lagi aku masih bingung sebenarnya tempat apa ini.

"Ayo masuk," kata Neji membukakan pintu untukku.

Ketika kami memasuki suatu ruangan yang sangat besar, aku terpana melihat kemegahan ruangan itu, maksudku… tidak mungkin ada sebuah kamar yang sangat megah dirumah yang terlihat sangat sederhana kan!

"Sudah datang rupanya," ucap seorang wanita yang duduk dibangku dengan posisi membelakangi kami, saat wanita itu memutar bangkunya, "Kami sudah menunggu kedatanganmu, Sakura."

Aku terdiam.

Tahu dari mana dia kalau namaku Sakura? Apa aku sudah mulai terkenal? Atau jangan-jangan cerita Karin tentang aku gila sudah menyebar ke seluruh dunia? Tapi kalau diperhatikan, sepertinya aku pernah melihat sosok wanita seksi berambut pirang ini, dimana yah kira-kira?

"Silahkan duduk," ucap wanita satu lagi berambut hitam pendek sambil menggendong seekor… babi?

Aku duduk di sofa bersama Neji dan wanita seksi itu beranjak dari bangkunya lalu berjalan kearahku, saat dia berada dihadapanku, aku sangat grogi, perlahan dia pegang daguku dan tersenyum.

"Kau benar-benar tidak tahu apa-apa yah?" tanyanya dengan nada seperti… meremehkan.

"Nona Tsunade, kami semua belum sempat menjelaskan semuanya pada Sakura, kami…"

"Ya ya ya, karena kalian ingin aku sendiri yang menjelaskannya kan?" potong wanita yang bernama Tsunade itu sambil menduduki sofa yang ada dihadapanku, "Kita tunggu yang lain, baru aku akan menjelaskan pada gadis ini."

o-o-o-o-o

~Normal's POV~

"Huaaaaahh! Aku bosan sekali, Tuan Orochimaru benar-benar memperlambat gerakan kita, sebenarnya apa sih yang direncanakannya?" gumam sosok pemuda berambut silver.

"Berisik Sakon! Kalau mau mengeluh keluar sana!"

"Tayuya, jadi wanita itu tidak boleh kasar nada bicaranya." tegur sosok laki-laki berkacamata yang dipanggil Kabuto itu.

"Ngomong-ngomong, sebenarya apa sih yang direncanakan Tuan Orochimaru? Sampai-sampai kita harus membawa gadis itu dengan kemauannya sendiri?" tanya wanita yang bernama Tayuya.

"Kau belum tahu?" kata Kabuto.

"Aku dengar sih, katanya Tuan Orochimaru memerlukan kekuatan yang ada didalam tubuh gadis itu, kalau gadis itu tidak mau membantunya, maka tuan akan mengambilnya secara paksa," sambung Kidoumaru yang sedang menggerakkan ke 6 tangannya itu.

"Secara paksa? Contohnya?" kata Tayuya tidak mengerti.

"Kau lihat alat yang baru saja kubuat?" tanya Kabuto, "Itu bisa mengambil semua pancaran tenaga yang kita punya dengan menyambungkan kabel-kabel yang ada, maka energi yang semula berada didalam tubuh gadis itu akan berpindah ke tubuh Tuan Orochimaru."

"Kau ini suka sekali membuat benda-benda aneh yah," kata Tayuya dengan nada heran.

"Itulah gunanya kemampuanku," jawab Kabuto sombong.

o-o-o-o-o

"Baiklah, semua sudah berkumpul, Hinata nyalakan semua programnya," perintah Tsunade.

"B-Baik," jawab Hinata.

Terlihat Hinata sedang sibuk mengotak-atik sebuah sistem dimejanya, beberapa saat kemudian muncullah sebuah layar yang besar berbentuk hologram.

"Pertama-tama, Sakura… aku ingin kau mengetahui sesuatu," ucap Tsunade pada Sakura yang kini sudah berada bersama Ino, Sasuke, Naruto, Neji, Shikamaru dan Kiba, "Kau tahu bahwa kami mempunyai kekuatan khusus kan?"

"Iya," jawab Sakura.

"Dulu, sekitar 20 tahun yang lalu, kalian semua belum lahir, aku dan kedua temanku melakukan sebuah penelitian, awalnya kami meneliti hanya untuk bersenang-senang, namun salah satu dari kami mempunyai tujuan lain," jelas Tsunade yang membuat Sakura penasaran, "Yaitu untuk menguasai dunia ini."

"Apa?" ucap Sakura yang sangat terkejut.

"Yah, karena saking jeniusnya, pikirannya jadi gila, dia membuat zat-zat formula yang bisa membuat kita berubah menjadi jauh diatas normal."

Semua terdiam, karena Tsunade baru menceritakan hal ini pada mereka, maka berita ini lumayan membuat semuanya kaget.

"Dan setelah aku menelitinya lagi bersama Shizune, ternyata 'dia' tahu akan sesuatu yang dia sembunyikan dari kami, Hinata," ucap Tsunade dan Hinata mengangguk lalu mengubah tampilan hologram menjadi bentuk sosok wanita bersayap dan berambut soft pink yang membuat semua tertegun melihat sosok itu.

"Ini dia, sosok ini disebut 'Goddess'," jelas Tsunade.

"Goddess?" kata Ino bingung.

"Dulu Goddess terkenal dengan kekuatannya yang sangat hebat, dia melihat masa lalu, masa depan, membuat lapisan pelindung, dan juga bisa menyembukan luka," jelas Tsunade

"Awalnya, Orochimaru menyuntikan zat-zat itu pada seluruh bayi di daerah yang kami tempati dengan tujuan akan menjadi guardiannya… untuk melawan Goddess," kata Tsunade, "Namun kami menentangnya, karena itu adalah hal yang konyol, dia ingin menguasai dunia ini dan membuat semua makhluk takluk padanya."

"Memangnya, Goddess ini… hidup?" tanya Naruto yang masih terpaku melihat sosok itu.

"Pertanyaan yang bagus, sampai saat ini, belum ada yang bisa membangunkan Goddess, karena dibutuhkan tenaga yang sangat besar untuk membangunkannya," jawab Tsunade.

"Lalu, apa kekuatan Goddess sampai-sampai si Orochimaru itu mengincarnya?" tanya Shikamaru.

"Goddess itu tidak baik tapi juga tidak jahat, kalau kita bisa mengalahkannya saat dia sadar, maka semua permintaan kita akan dikabulkannya, bahkan menghidupkan kembali orang yang sudah mati," jelas Tsunade sambil menatap kearah Sasuke.

"Ehm… anu… lalu, apa hubungannya denganku?" tanya Sakura yang menunjuk tangannya dan membuat seluruh ruangan itu menatapnya.

"Sakura… bisa kulihat seluruh tubuhmu tanpa busana?" tanya Tsunade yang membuat semua orang diruangan itu terkejut.

"APAA! Heh nenek! Ada kami semua disini!" bentak Naruto yang wajahnya memerah.

"Tidak jangan Sakura!" larang Sasuke.

"Apa sih! Kalian berisik sekali! Aku hanya ingin memastikan sesuatu! Ayo cepat Sakura lepas pakaianmu," perintah Tsunade.

"E-eh? T-tapi…"

"Hinata! Shizune! Lucuti dia!"

"Baik!" jawab mereka dengan kompak dan menghampiri Sakura.

"Eh? T-tunggu.. kyaa… jangan…"

Ino menutup mata Shikamaru dan Kiba, sedangkan Sasuke, Neji dan Naruto menghadap belakang dengan cepat. Setelah sukses melucuti pakaian Sakura yang kini hanya memakai bra dan celana dalamnya, Tsunade tersenyum seolah memenangkan sesuatu.

"Benar dugaanku," ucap Tsunade, "Baiklah, kau boleh pakai lagi bajumu."

Sakura cepat-cepat memakai seragamnya lagi sebelum semua menoleh kearahnya.

"Apa maksudmu menyuruh Sakura telanjang? Nenek!" sewot Naruto.

"Coba kalian pikir, apa kalian punya tanda yang aneh di lengan kanan kalian?" tanya Tsunade yang membuat mereka menyadari akan sesuatu, dengan serempak mereka membuka lengan kanan mereka yang terbungkus seragam, dan disitu terlihat ada sebuah tanda. Tanda bintang kecil berwarna hitam.

"Kalian semua memilikinya, sedangkan Sakura tidak ada dimanapun, padahal sama-sama mempunyai kekuatan khusus kan?"

"Benar juga," ucap Ino.

"Seperti yang kubilang dulu, Sakura… dia adalah 'The Chosen One'," ucap Tsunade dengan nada serius, "Satu-satunya orang yang mempunyai kekuatan khusus secara alami, dan merupakan keturunan langsung… dari Goddess."

"Apa?"

Ucapan Tsunade membuat semua sangat kaget, bahkan Sakura sampai tidak bisa berkata apa-apa.

"Coba Sakura… apa wajah kedua orang tuamu mirip denganmu?" tanya Tsunade.

"…." Sakura terdiam.

Tidak ada yang bersuara ketika melihat ekspresi Sakura yang… tidak bisa dijelaskan itu.

"Aku…. Aku yakin, aku adalah anak kandung mereka, aku mempunyai foto-foto saat aku dilahirkan," ucap Sakura yang akhirnya bicara.

"Pertanyaanku adalah… apa mereka mirip denganmu? Sudah kubilang kan tadi… Goddess bisa melakukan apa saja, kalian tahu… kenapa sekarang Goddess tidak bergerak?" kata Tsunade.

Tidak ada yang menjawab, karena mereka tidak tahu apa jawabannya.

"Itu karena dia dijebak, oleh salah satu anak buah Orochimaru…" jawab Tsunade sendiri, "Dia membuat sebuah perangkap untuknya, dan alat itulah yang menyebabkan Goddess menjadi seperti ini, dan juga yang membuat Orochimaru menyuntikkan zat-zat itu pada kalian."

"Maksudmu, kekuatan kami itu berasal dari…."

"Energi Goddess," ucap Sasuke yang memotong omongan Kiba.

"Sasuke… apa maksudmu yang kau katakan dulu padaku itu tentang Goddeess?" tanya Naruto.

"Hn," jawab Sasuke.

"Tapi kau bilang padaku katanya Sakura bisa melakukannya sendiri? Dan kau tidak bilang apa-apa padaku tentang Goddess!"

"Itu karena aku menyuruhnya untuk diam, Naruto," jawab Tsunade.

"Jadi Sasuke sudah tahu?" tanya Kiba yang tidak percaya.

"Kenapa menyembunyikannya dari kami?" tanya Ino.

"Kalau kau sudah tahu, berarti Hinata…" ucap Naruto yang kemudian menatap Hinata, terlihat raut wajah Hinata yang menunjukkan bahwa dia menyesal telah menyembunyikan semuanya dari kekasihnya itu.

"aku mengerti," ucap Ino, "Jadi misi kami itu sebenarnya adalah membuat Sakura berteman dengan kami, agar dia memihakmu Nona Tsunade? Karena kau tahu, bahwa Sakura murni keturunan Goddess, maka tidak menutup kemungkinan Sakura bersikap netral?"

"Benar," jawan Tsunade tanpa ragu-ragu.

"Dan kau… sudah tahu semuanya tentang Sakura?" lanjut Ino.

"Tidak, aku hanya tahu kalau dia murni keturunan Goddess," jawab Tsunade.

"Dari mana kau tahu itu?" tanya Neji yang akhirnyabicara.

"Karena…" Tsunade terdiam sejenak.

"Paman Jiraiya yah?" tanya Sakura menjawab pertanyaan Neji.

Tsunade terdiam dengan tatapan merasa tidak enak pada Sakura.

"Pantas saja, dia tidak heran dengan kekuatanku, dia juga tidak keberatan kalau aku melihat masa depannya," ucap Sakura yang suaranya terdengar bergetar.

"Paman Jiraiya? Ah, penjaga sekolah itu?" tanya Kiba.

"Apa kau yakin Sakura? Kau tahu dari mana kalau si Jiraiya itu ada hubungannya dengan semua ini?" tanya Sasuke yang menghampiri Sakura.

"Karena…" Sakura terdiam sejenak dan memandang Tsunade dengan ekspresi segan, "Aku melihatnya di masa depan paman Jiraiya."

"APA?, kenapa dunia ini begitu sempiiit?" gerutu Kiba.

"Maaf, aku… tidak ada urusannya dengan ini semua, jangan libatkan aku," ucap Sakura yang beranjak dari duduknya.

"Sakura…" panggil Ino dengan nada bersalah… bersalah karena dengan tidak sengaja, pertemanan mereka ini semua… palsu.

"Aku permisi," pamit Sakura melangkahkan kakinya keluar ruangan itu.

Semua hanya terdiam, tidak ada yang berani mencegah kepergian gadis itu, juga tidak ada yang berani memulai pembicaraan. Sampai pada akhirnya semua terkejut dengan tindakan Sasuke yang… berlari keluar.

"Wajar… kalau aku jadi Sakura, akupun akan sangat sedih," rintih Ino menahan tangisnya.

o-o-o-o-o

~Sakura's POV~

Tuhan.

Hukuman apalagi yang kau berikan padaku?

Apa yang telah kulakukan sehingga kau membuatku begini?

Pertama kau berikan sepercik kebahagiaan dengan mendatangi sosok teman padaku, kemudian kau menghujamku dengan berita bahwa aku, bukan keturunan dari kedua orang tuaku. Selanjutnya apalagi yang akan kau berikan untukku?

Aku sudah cukup mendengar menjelasan mereka semua, aku memutuskan untuk pulang, sendiri, dan aku akan menganggap kalau besok bertemu dengan mereka, anggap saja mereka hanya orang biasa yang sama seperti Karin dan yang lainnya. Sakit… kalau memang dari awal tujuan mereka seperti itu, bilang saja padaku! Jangan berpura-pura untuk menjadi temanku!

"Sakura!"

Aku menoleh pada suara yang memanggilku, orang itu adalah Sasuke, kalau kupikir-pikir, dia itu selalu kasar pada wanita, dan sangat dingin, tapi kenapa dia baik padaku? ah~ kenapa aku tidak menyadarinya? Sejak aku melihat masa lalunya, seharusnya aku sudah harus sadar, kalau tujuan Sasuke adalah menghidupkan kembali keluarganya memakai kekuatanku.

"kami tidak bermaksud jahat padamu, kami…"

"Aku tahu," potongku pada ucapannya, "walaupun hanya sebentar, terima kasih karena sudah mau menjadi temanku."

Aku membalikan kembali tubuhku dan meninggalkan Sasuke sendirian disitu, sedih memang, tapi aku harus kuat, bukankah aku sudah terbiasa dengan kesendiarian? Yah, anggap saja ini semua hanya mimpi.

~Normal's POV~

Saat sosok Sakura menjauh dari pandangan Sasuke, sebuah kabut putih dan tebal menyelimuti seluruh daerah itu, Sasuke langsung sadar bahwa itu adalah tanda kalau musuh datang.

"Sakura!"

Sakura terdiam membatu saat ada sosok laki-laki berambut putih berkaca-mata dihadapannya, laki-laki itu adalah yang dia lihat dikelasnya saat Sasuke dan Naruto berkelahi, tapi kali ini… laki-laki itu menyekap sosok seorang yang sangat Sakura sayangi.

"KONOHAMARU!" teriak Sakura.

"Hehehehe, selamat sore, Tuan Putri," ucap Kabuto sambil menopang Konohamaru yang tidak sadarkan diri, dan saat itu juga Sasuke datang menghampiri Sakura.

"Sakura!" Sasuke langsung berdiri dihadapan Sakura, "Kau tidak apa-apa?"

"Begini Sakura-ku… kalau kau mau adikmu selamat, datanglah ke markas kami, sen-di-ri," ucap Kabuto sambil membenarkan kacamatanya, "Byeeee"

"Konohamaruuuu!" Sakura mendorong Sasuke dan mengejar sosok Konohamaru, hampir saja Sakura menyentuh tubuh adiknya yang akan membuat Sakura terbawa oleh Kabuto, namun tubuh Sakura tiba-tiba terlilit sesuatu. Sesuatu yang berwarna hitam seperti bayangan.

"Akh! Lepaskan aku!" rintih Sakura, dan ketika dia melihat kebelakang, ternyata itu adalah Shikamaru yang menghentikan Sakura memakai bayangannya untuk melilit tubuh Sakura. Kemudian bayangan Shikamaru menarik tubuh Sakura sehingga Sakura tertarik, sebelum tubuh Sakura terjatuh ke tanah, Neji menangkapnya dengan cekatan, lebih cekatan dari Sasuke yang baru saja mengambil ancang-ancang untuk menangkap Sakura.

"Kalau kau terbawa apa yang akan kau lakukan?" tanya Shikamaru yang perlahan melepaskan bayangannya itu.

"Diam! Apa peduli kalian? Kalian hanya mau kekuatanku! Ambil! Silahkan ambil! Tapi jangan libatkan adikku! Sebelum bertemu dengan kalian hidupku dan adikku tenang! Aku tidak butuh kemunafikan kalian!"

PLAAAK
tamparan Ino berhasil mandarat di pipi kanan Sakura yang menyebabkan pipi Sakura makin merah. Kemudian Ino memeluk gadis itu.

"Aku tidak tahu dengan yang lain, tapi… aku tulus ingin berteman denganmu," ucap Ino.

"Aku juga kok, aku tidak keberatan sama sekali kalau Sakura tidak punya kekuatan," kata Kiba.

"Awalnya memang untuk si Nenek Tsunade, tapi setelah mengenalmu, aku jadi ingin terus menjadi temanmu," sambung Naruto.

"Bukan hanya Ino, kamipun sama," ucap Sasuke," Awalnya aku ingin membuat impianku terwujud, karena kalau rencana Tsunade sukses, otomatis aku juga bisa menghidupkan kembali seluruh keluargaku, namun setelah kupikir-pikir, kedua orang tuaku pasti tidak akan sudi menerima hal itu dengan cara kotor."

"Maka dari itu, karena kita teman, izinkan kami membantumu untuk menyelamatkan adikmu," ujar Neji sambil mengulurkan tangannya pada Sakura.

Sakura menjadi menangis setelah mendengar pendapat mereka masing-masing tentang dirinya, karena saat ini pikirannya hanya pada adiknya, Sakura makin menangis dan memejamkan matanya lalu menunduk.

"Tolong… selamatkan adikku," pinta Sakura.

o-o-o-o-o

"Ngh…"

"Sudah bangun rupanya?" ucap seorang laki-laki.

"Ah, dimana aku?" tanya Konohamaru yang baru sadar dari pingsannya.

"Kau aman, kami menggunakanmu untuk memancing kakakmu saja," jawab laki-laki itu.

"Memancing kakakku? Ada perlu apa kau dengan kakakku sampai-sampai menculikku…." Konohamaru terdiam dan menatap dengan teliti sosok laki-laki yang ada dihadapannya itu, begitu dia teringat akan hal sesuatu.

"Ah! Kamu!... kamu anak yang dulu pernah bertemu dengan kami di villa itu kan?" tanya Konohamaru sambil menunjuk kearah laki-laki itu.

Laki-laki itu tersenyum, namun senyumannya kini beda dari yang dulu, dulu senyumannya sangat menyedihkan, dan kini senyumannya bisa dibilang lebih memiliki makna kehidupan.

"Apa kabar… Konohamaru?"


A/N : sampai sejauh ini gimana ceritanya? kok aku agak ragu yah takut g muasin para readers...=_=

kalo ada yang mau ngasih ide-ide atau sesuatu agar lebih menarik boleh kok... :)

makasih sebelumnya yaaah...