It's not about the money, money, money
We don't need your money, money, money
(Price Tag – Jessie J)
Previous Chapter: Sungmin memberikan surat panggilan untuk orang tua Kyuhyun karena kelakukan Kyuhyun yang sering kali menggodanya.
"Hei, Jess, kau mengajar di kelas 2D juga kan?" tanya Sungmin pada Jessica, salah satu guru yang usianya lebih muda darinya, tapi sudah mengajar selama satu tahun di SMA Suju.
Jessica menganggukkan kepalanya. Sedikit tertarik dengan obrolan Sungmin, Jessica mengambil kursi di depan seberang meja Sungmin. "Ya, memang kenapa?"
"Bagaimana Cho Kyuhyun menurutmu?" Sungmin bertanya dengan lebih santai karena memang guru-guru sedang berada di kelas untuk mengajar, sementara mereka sedang jam kosong mengajar.
"Dia tampan. Tubuhnya tinggi dan atletis. Anak orang kaya dan…"
"Maksudku bukan itu," Sungmin menatap Jessica jengkel. Mengapa Jessica mengira pertanyaan Sungmin mengarah pada bentuk fisik? "Maksudku bagaimana dia sebenarnya di kelas dan di luar kelas?"
Jessica menaruh telunjuknya yang lentik di dagunya, seolah hal itu bisa membantunya untuk berpikir. "Sebenarnya dia sangat jarang masuk ke kelasku. Dia lebih banyak membolos. Aku pernah menegurnya, tapi dia tidak peduli, dan guru-guru lain juga sudah kewalahan menghadapinya," jawab Jessica lemas. Ia memikirkan mengapa ada siswa semalas Cho Kyuhyun. "Dia sering kali bolos saat jam pelajaran, juga tidak mengerjakan tugas."
"Lalu?" Sungmin semakin penasaran.
"Yang kami semua herankan adalah..." Sungmin memajukan wajahnya menunggu cerita Jessica. "… anak itu selalu bisa menjawab soal yang diberikan, baik saat ujian, maupun jika disuruh mengerjakan soal di papan tulis. Padahal dia jarang masuk ke kelasku, apalagi mengerjakan tugas yang aku berikan."
Dahi Sungmin berlipat mendengar penjelasan Jessica. "Maksudmu apa? Aku kurang mengerti."
"Intinya, Cho Kyuhyun itu sebenarnya anak yang genius. Dia murni seorang anak yang cerdas, tapi sayangnya terlalu malas."
"Menurutmu apa yang menyebabkannya begitu?" Sungmin terus bertanya untuk menuntaskan rasa penasarannya.
Jessica mengangkat bahunya. "Aku juga tidak terlalu yakin. Tapi, dari cerita yang aku dengar, Kyuhyun bersikap seperti itu karena kurang kasih sayang dari ibunya."
"Memangnya ada apa dengan Nyonya Cho?" Sungmin semakin bersemangat untuk mencari informasi tentang muridnya itu.
"Tuan Cho, pemilik yayasan ini adalah seorang pengusaha yang sangat sukses. Sekolah ini hanya bagian kecil dari kepeduliannya pada dunia pendidikan. Selebihnya, perusahaan Tuan Cho, Cho Holdings Company, sangat besar memberi pengaruh di dunia perbisnisan dan ekonomi. Setidaknya sampai lima tahun yang lalu. Semuanya berubah karena Tuan Cho meninggal dalam kecelakaan pesawat."
"Oh, astaga!" Sungmin menutup mulutnya yang terbuka karena terkejut. Selama ini cerita yang ia dengar tentang Kyuhyun lebih pada kelakuan nakalnya saja, ini pertama kalinya ia mendengar cerita seputar keluarga Cho.
"Ya, Kyuhyun seorang yatim. Semanjak kecelakaan itulah Nyonya Cho mengambil alih semua perusahaan. Kabarnya, Nyonya Cho jadi gila kerja dan melupakan Kyuhyun. Mungkin karena itu Kyuhyun tumbuh menjadi remaja yang bertingkah, selalu berulah untuk mencari perhatian dari orang-orang di sekitarnya."
Sungmin menganggukkan kepala, menyetujui ucapan Jessica. Beberapa anak yang tumbuh tanpa perhatian dari orang tuanya memang melakukan berbagai cara untuk menarik perhatian dari orang lain.
"Anak-anak jadi terlantar karena orang tua terlalu sibuk dengan bisnis dan uang. Padahal usia seperti mereka itu butuh perhatian agar tidak salah pergaulan. Usia yang menentukan bagaimana masa depannya," komentar Sungmin matanya menerawang. Betapa beruntungnya dia dibesarkan di keluarga yang utuh dan rukun.
"Begitulah orang kaya, mereka mampu secara finansial, tapi tidak mampu memberikan kasih sayang," timpal Jessica. "Oh iya, Min, bukankah kau ada janji dengan Nyonya Cho?"
Sungmin menganggukkan kepalanya, sambil melirik jam tangannya. Masih sepuluh menit lagi dari janji yang seharusnya. "Apa kau pernah bertemu dengan Nyonya Cho itu?"
"Tidak," jawab Jessica cepat, membuat Sungmin heran. "Pihak sekolah sudah banyak sekali mengirim surat panggilan untuk Nyonya Cho. Kyuhyun bilang orang tuanya tidak sempat datang, atau kalaupun kami mengirimkan suratnya ke kantor CHC, surat-surat itu hanya sampai di sekretarisnya saja. Jadi, kita tidak bisa mengharapkan Nyonya Cho muncul di sini. Mungkin dia juga tidak menggubris panggilan hari ini."
"Sebenarnya seperti apa Nyonya Cho itu?"
"Entahlah. Tidak ada yang pernah bertemu dengannya. Kalau yang pernah aku baca di artikel internet, dia seorang wanita yang sangat dingin. Kita tidak ada yang tahu sebelum bertemu dengannya langsung."
"Berarti sulit sekali pihak sekolah menjalin komunikasi dengan orang tua Cho Kyuhyun ya?"
Jessica menganggukkan kepalanya bertepatan dengan masuknya Shindong ke ruang guru.
"Bu Sungmin, Nyonya Cho baru saja datang dan beliau mencarimu," ujar Shindong.
Sungmin menolehkan kepalanya pada Jessica yang sedang menatapnya tidak percaya. Seorang Nyonya Cho mau datang ke sekolah untuk menemui Sungmin?
"Aku akan segera menemuinya. Beliau menunggu di mana?"
"Di ruang pertemuan," jawab Shindong. "Apa kau mau aku temani?" tanya Shindong, dari nada suaranya ada rasa kekhawatiran.
"Uhm.. saya rasa saya bisa menghadapinya sendiri," sahut Sungmin padahal ragu menyelinap dalam dirinya.
"Baiklah, kalau begitu segera temui dia," ujar Shindong sebelum meninggalkan Sungmin dan Jessica.
Sepeninggal Shindong, Sungmin berdiri dan merapikan roknya. Sebelum pergi, Sungmin menarik napas berat dan membuangnya.
"Sungmin," panggil Jessica saat Sungmin baru akan melangkahkan kakinya.
Sungmin menoleh dan melihat Jessica yang menatapnya penuh perhatian. "Semoga sukses dan…"
"Jangan sampai merasa terintimidasi."
TBC
