Minna hishashiburi…!

Gomen ne minna sebenarnya aku hiatus (tanpa pamit) selama beberapa minggu ini karena ada hal yang sesuatu banget #dengan nada alay *ditimpuk panci utangan*

Sekali lagi gomen ya minna… hiks… *sob*

Dozo yoroshiku onegaishimasu!

Warning : Typo(s), Semi-canon, OOC, dan di chapter ini banyak OC yang nyerempet ke tokoh Detective Conan X""D

Disclaimer

Naruto © Mas Kishimot. *Masashi : Panggilan lo kok ga enak gitu ke gue!*

Plot Kasus © Detective Conan volume 30

Guide?

Chapter 4 : Kasus!

.

.

.


(Third Person's POV)

Kedua insan itu masih terdiam membisu. Tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara. Hanya suara-suara angin yang membelai dedaunanlah yang terdengar dari luar, menemani langit yang masih lama menunjukkan mataharinya.

Posisi mereka tidak jauh berbeda sebenarnya. Gadis bermata aquamarine itu terduduk kaku dan memandang onyx di depannya dengan wajah kaget dan bersemu—berterimakasihlah pada langit malam karena pemuda itu tidak dapat melihat semburat merah dengan cahaya yang memadai.

Sedangkan pemuda onyx yang ditatap kaget seperti itu hanya ganti memandangnya dengan muka malas dan mengantuk—terlihat dari matanya yang masih terbuka separuh. Dia juga bangkit duduk.

"Kenapa kau berteriak malam-malam begini," kata—tanya Sasuke dengan nada datar dan setengah mengantuk.

"Kenapa, katamu? Kenapa kau tidur di sampingku coba?" tanya Ino balik dengan nada kesal.

"Kita kan tidur di futon yang berbeda, bodoh." ucap Sasuke.

"Berbeda? BERBEDA? Lalu kenapa kau bisa ada di sini hah?" ucap Ino dengan marah. Sasuke hanya diam dan sedikit tertawa geli bercampur sinis.

"Seharusnya aku yang bertanya begitu 'kan? Lagipula futonmu ada di sana. Kenapa kau bisa sampai sini padahal kau tidak sadar?" ucap Sasuke balik.

Ino memandang kasur lipat yang tepat ada di sebelahnya—tidak jauh dan juga tidak dekat dari milik Sasuke. Seketika wajahnya langsung memerah tidak karuan karena malu. Ternyata ini salahnya sendiri. Mungkin waktu musuh komplotannya sedikit menyerang tadi tubuh aslinya ikut bergerak kesana kemari.

"…" Ino sekarang tidak mempunyai kekuatan untuk menoleh dan menatap Sasuke yang sepertinya sedang tersenyum geli dan sinis.

Dengan cepat Ino menggeser badannya ke futon yang diperuntukkannya. Dan dengan sigap pula dia langsung tidur serta menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Sasuke yang melihat itu merasa sedikit geli dengan perlakuannya, walaupun muka luarnya masih terlihat datar.

"Oyasumi," tanpa dikomando mulut Sasuke mengeluarkan kata-kata. Sasuke sedikit kaget karena dia tidak biasa dengan hal-hal seperti ini tapi toh dia tidak menganggapnya aneh atau apa. Sedangkan Ino, matanya sedikit melebar ketika suara baritone itu mengucapkan salam tidur padanya.

Sial… Kenapa semua mimpiku dulu menjadi kenyataan sekarang? ucap Ino dalam hati.


~ Sasuke Ino ~


Matahari bertengger dengan indahnya di ufuk timur. Waktu sudah menunjukkan pagi. Burung-burung bersahutan satu sama lain, tidak mengetahui bahwa kegiatan mereka telah membangunkan sosok pemuda onyx ini.

Sesaat kemudian pemuda itu telah beranjak berdiri dengan agak sempoyongan. Dia melirik sekilas ke futon sebelahnya, dan dia tidak mendapati surai pirang yang tertidur. Kasur lipat itu telah rapi di pojok kamar.

Kemana dia pergi? tanya Sasuke menautkan kedua alisnya. Setelah melakukan aktifitasnya di kamar mandi, pemuda Uchiha itu pun keluar dari kamarnya. Tepat setelah dia membuka dan melangkahkan kakinya keluar kamar, dia mencium bau yang sedap. Menyadari itu Sasuke tersenyum tipis.

"Ohayou, Sasuke-kun! Maaf aku lancang, tapi aku lapar sekali! Jadi aku buatkan sup sebisaku, ehehe. Gomen ne," cerocos Ino panjang lebar. Tangannya yang belum sembuh benar itu memegang sendok besar untuk mengaduk-aduk supnya.

"Hn."

Sasuke duduk di sebuah alas tepat di depan sebuah meja. Dia sama sekali tidak ada niatan untuk membantu Ino yang sedang di dapur. Yang dia lakukan hanyalah memandang depan dengan tatapan kosong.

Beberapa menit kemudian makanan pun siap untuk dihidangkan. Sasuke memandang intens aquamarine itu saat gadis itu sibuk mengatur makanannya. Lama Sasuke memperhatikannya, hingga aquamarine itu menatap balik dan menyunggingkan sebuah senyuman manis.

"Sasuke-kun kok ngelamun? Ayo dimakan! Nih!" ucap Ino sambil menyodorkan sebuah mangkuk berisi sup tomat.

"…" Sasuke sadar dan hanya menatap datar mangkuk itu beberapa saat. Kemudian dia menerima mangkuk itu dan mulai memakannya. Sedangkan Ino tersenyum senang dan langsung bertanya apa itu enak.

"…Enak."

"Yokatta!" teriak Ino senang.

Mereka pun melanjutkan makan pagi mereka dengan suasana hening yang damai. Selang beberapa saat Sasuke yang teringat akan sesuatu memecah keheningan yang terjadi. Dan apa yang dikatakan Sasuke itu membuat Ino membulatkan kedua matanya dan tersedak tidak karuan.

"Apa ayahmu tidak khawatir?"

SIAL, AKU BENAR-BENAR LUPAAA! umpat Ino dalam hati.


~ Sasuke Ino ~


"Benarkah kalian tidak melakukan hal-hal yang aneh?"

"Benar, Ayah! Kami tidak melakukan apapun! 'Kan tadi juga sudah ada petugas keamanan yang bersaksi di sini."

"Tapi itu tidak membuktikan apapun," timpal Sasuke.

"Kenapa kau malah mempersulit ini sih Sasuke-kun? Kau itu sebenarnya ada di pihak mana?" ucap Ino frustasi. Sedangkan Sasuke hanya mengangkat kedua bahunya dan tersenyum tipis.

Inoichi tidak bisa untuk tidak percaya pada semua yang anak semata wayangnya ini ceritakan. Yah, terlihat dari kefrustasian dan tatapan mata yang jujur, sepertinya memang benar penuturan dari Ino.

"Ya baiklah. Tapi lain kali kau harus meminta izin dahulu jika ingin menginap di rumah teman," ucap Inoichi menghela napas tapi matanya tetap memandang protektif.

"Baik, baik."

Beberapa jam setelah 'interogasi' oleh ayah Ino, kedua insan itu keluar rumah Ino dan mulai menjalankan misi sekaligus hukuman mereka kembali.

"Ayah cerewet sekali tadi," gerutu Ino melangkahkan kakinya dengan kesal. Sasuke seperti biasa—tidak menganggap.

"Dia itu laki-laki atau perempuan sih? Panjang benar ceramah tadi," ucap Ino, lagi.

"Kenapa dia bisa semarah itu? Haah,"

"Ayah itu sayang aku apa tidak sih,"

"Masa hanya karena—"

"…Sasuke-kun?" Ino menoleh dan tidak mendapati sosok pemuda raven itu di sebelahnya. Ino mencari di edaran pandangan aquamarinenya dan mendapati pemuda itu di sebuah rumah yang baru saja menutup—membanting pintunya dengan keras. Ino hanya menghela napas dan kemudian mendekati Sasuke.

"Kenapa kau meninggalkanku?" tanya Ino kesal.

"Aku tidak meninggalkanmu. Kau saja yang kurang fokus."

"Haah~ ya sudahlah. Apa orang ini tadi tidak mau kau bantu?" ucap Ino. Sasuke hanya menganggukkan sedikit kepalanya. Ino pun menghela napasnya, lagi.

*TOK TOK TOK*

*CKLEK*

"Apa lagi maumu hah?" tanya seorang pria paruh baya yang berada di balik pintu. Ino tersenyum ramah mendapati orang itu. Sedangkan pria itu hanya sedikit kaget ada gadis cantik yang sudah ada di sebelah pengkhianat itu. Wajah pria itu tiba-tiba sumringah—kau tahu kenapa. Sedangkan Sasuke hanya menghela napas kecil.

Pria paruh baya itu bermata jade, dengan rambut hitam kelam jabrik. Kulit-kulit putihnya sudah mulai berkerut di sana-sini. Tapi dilihat dari penampilannya serta keadaan rumahnya, dia adalah orang yang modis dan gaul.

"Ohayou, Jii-chan. Jadi begini…" ucap Ino dengan ramah dan menceritakan apa yang telah terjadi pada Sasuke. Padahal tadi sebenarnya Sasuke sudah menjelaskannya—dengan menodongkan surat perintah hokage dan ekspresi datar. Yah, siapa yang akan luluh kalau begitu?

"…Jadi, bolehkah Sasuke Uchiha ini membantu anda dalam hal apapun? Kami siap membantunya," ucap Ino dengan tersenyum ramah. Sasuke yang ada di sebelahnya hanya memandang pria yang galak tadi—dan sekarang jadi sumringah itu dengan datar.

"Ah, boleh saja. Asalkan Nona ikut minum teh bersamaku ya?" ucap pria itu dengan nada menggoda dan menarik tangan Ino.

Dasar om-om girang, batin Ino sweatdropped tapi tetap dalam mode senyum ramahnya. Sesaat dia melirik kea rah pemuda raven itu, dilihatnya dia memasang muka tidak peduli. Ino berpikir sebentar lalu dengan lembut dia melepaskan tangannya dari genggaman pria itu.

"Uhm… Sebenarnya, apa yang Sasuke Uchiha kerjakan, saya juga harus kerjakan," ucap Ino. Sedangkan kedua laki-laki yang ada di rumah itu kaget. Oke, kagetnya berbeda persepsi satu sama lain.

Om-om girang itu, tentu saja kaget karena rencana mesum yang sudah terperinci di otaknya tiba-tiba luntur seketika. Tidak percaya. Raut wajahnya kelihatan kaget dan sedikit kecewa.

Sasuke? Tentu saja dia kaget. Siapa yang menentukan peraturan seperti itu? Oke dia dulu pernah berkata begitu pada Ino—saat di rumah kediaman Hyuuga. Tapi apa itu dianggap serius oleh gadis blondie ini? Sasuke agak sedikit melebarkan matanya. Tapi sesaat kemudian wajahnya sudah datar lagi.

"Jadi keputusannya, Jii-chan?" tanya Ino.

Orang itu hanya diam memandang keduanya bergantian. Dia bersedekap dan sedikit menggigit kuku ibu jarinya.

Apa dia selalu menggigit kukunya ketika berpikir? Batin di kedua benak insan itu bingung dan merasa aneh karena tingkah lakunya.

"Sebenarnya aku ingin membully pengkhianat desa ini, tapi karena dia bersama bidadari cantik aku menjadi kasihan," ucap pria itu sejenak mengambil jeda, "Jadi aku putuskan untuk hanya sekedar acara minum teh bersama saja. Bagaimana, Ojou-chanku yang manis?" ucapnya.

Ino sedikit sweatdropped lagi mendengar penuturan pria paruh baya itu. Dia melirik Sasuke. Sasuke juga memandangnya dengan tatapan terserah-kau-saja. Dan akhirnya Ino tersenyum.

"Baiklah, Jii-cha—"

"Ah, namaku Goro Kisaki. Panggil saja aku Goro-nii. Aku masih 38 tahun, kau tahu Ojou-chanku~" ucap orang itu sambil mempersilakan mereka berdua masuk ke ruang makannya.

Ino hanya bisa sweatdropped untuk ketiga kalinya.

Dan di sinilah mereka sekarang. Ino ada tepat di depan Goro dan Sasuke ada di sampingnya, melihat ke arah lain. Tangannya digaet dengan erat oleh Goro dan menanyakan apa saja yang orang itu ingin ketahui.

"Jadi…, Ino-chan… Kau masih umur 16 ya. Cantik sekali…" ucap Goro. Ino hanya tersenyum—berusaha untuk tersenyum.

"I-iya… Jii—etoo… Go-goro-nii…" ucap Ino sekenanya.

"Ini dia tehnya," ucap seorang pelayan muda menyajikan tehnya. Memang orang ini adalah orang yang lumayan kaya, sehingga dia mempunyai beberapa pembantu.

"Ini adalah teh daun hijau khusus yang diracik oleh koki rumah kami. Diatur dengan cangkir bergagang yang modern dan suasana ruang makan yang tenang ini akan menambah sensasi nikmat. Cangkir yang ini khusus untuk Tuan karena Tuan suka yang lebih manis," jelas gadis muda tersebut dan menyodorkan secangkir teh kepada Goro.

"Oh… Kau tetap cantik Ai-chan. Terima kasih. Sampaikan terima kasih juga kepada Ayumi-chan yang telah membuatkan teh ini," ucap Goro dengan tidak nyambungnya.

"Baiklah. Saya permisi dulu."

"Ayo silahkan diminum, Ino-chan! Jangan malu-malu," ucap Goro dengan menyodorkan secangkir padanya. Ino menerimanya dengan senyum ramah. Setelah mereka berdua menyeruput minumannya, mereka mulai mengobrol lagi.

"Jadi, Ino-cha—"

"Anoo… Apakah teman saya ini tidak diberi?" tanya Ino dengan hati-hati. Sebenarnya Ino merasa kasihan karena daritadi Sasuke tidak dianggap sama sekali.

"Oh… iya aku lupa. Nih ambil sendiri," ucap pria paruh baya itu dingin. Sasuke hanya memutar bola matanya bosan.

"Heemm… Jadi Ino-chan, kau ada hubungan dengan si pengkhianat ini?" tanya Goro dengan nada sok protektif dan memandang Sasuke dengan tajam. Ino yang saat itu minum teh jadi agak sedikit tersedak dan terbatuk-batuk kecil.

"A-apa yang Jii —Go-go-nii bicarakan? Kami teman baik," jawab Ino menyembunyikan rona merah yang mulai menjalar di pipinya. Sasuke hanya mendengus kecil dan tidak berkata sepatah kata pun.

"Hee… benarkah? Hmm…" balas Goro bersedekap sebelah dan memandang kedua orang itu sambil berpikir seperti gayanya di awal.

"Apa urusanmu," ucap Sasuke. Dia akhirnya mengeluarkan suaranya setelah beberapa momen di rumah ini dia diam saja. Goro hanya menatap sinis Sasuke.

"Lalu apa urusanmu juga? Ini kan urusanku dengan Ino-chan," ucap Goro dengan sinis. Sasuke pun membalasnya dengan tatapan sinis juga.

Goro pun kembali menyeruput teh hijaunya lagi.

"Kau tahu, Ino-chan, kau adalah tipeku. Bagaimana kalau kau kujadikan—ENGH!"

Orang—yang dianggap Ino mesum itu tiba-tiba berdiri sempoyongan dan menabrak dinding rumahnya sendiri. Sasuke dan Ino panik dan melebarkan kedua matanya.

"AAARRRRHHHKKKKK!" erang Goro sambil memegang—mencekik lehernya kuat-kuat.

"Jii-chan! Apa yang telah terjadi!" ucap Ino dengan panik. Mereka berdua segera bangkit dan mendekati Goro.

"UUUUUAAAARRRRGGGHHH!" sebelum kedua insan itu mendekat dan menyentuh Goro, pria paruh baya itu jatuh telentang. Posisi mata yang terbuka melihat ke atas, kedua tangannya yang masih memegang lehernya kuat-kuat.

Ino dan Sasuke segera mendekatinya. Dan alangkah kagetnya ketika mereka melihat Goro sudah bermuka pucat pasi.

Dia mati.

"Tuan besar! Apa yang membuat anda berteriak begitu kencang?" ucap Ai—gadis pelayan yang membuatkan teh tadi berlari tergopoh-gopoh menuju ruang makan.

"Hei kau! Cepat panggil petugas keamanan!" ucap—teriak Sasuke membentak Ai. Ai yang dalam keadaan bingung tetap mematuhi perintah Sasuke. Dia langsung bergegas keluar rumah.

Setelah gadis pelayan itu pergi, Sasuke mendekati Ino yang sedang meneliti tubuh pucat Taka.

"Dia diracuni?" tanya Ino. Sasuke ikut berjongkok dan sedikit menganggukkan kepalanya.

"Siapa kalian?" tanya seorang pria muda jabrik berambut blondie yang tiba-tiba muncul di ruang makan.

Sasuke dan Ino berbalik dan mendapati seorang pemuda tinggi sedang menatap asing mereka. Pemuda blondie yang berkacamata dan berkulit putih. Mata sipitnya hampir tidak memancarkan warna jade di matanya yang menjadi turunan ayahnya.

Mata jade itu melebar ketika dia menemukan pemandangan di belakang Sasuke dan Ino. Sontak dia langsung berlari dan memeluk ayahnya. Menggoyang-goyangkan, meneriakinya dengan panik. Sasuke dan Ino hanya memandang pemuda itu dengan pandangan iba.

"KALIAN! APA YANG TELAH KALIAN LAKUKAN!" teriak orang itu menatap Sasuke dan Ino dengan sangat tajam dan marah.

"Kami tidak melakukan apapun. Kami hanya tamu di sini," ucap Sasuke dengan datar.

"Yah. Kami bahkan belum sehari kenal dengan Goro-jiichan. Aku tidak menyangka akan begini," ucap Ino dengan muka sedikit pucat dan takut.

"Ngomong-ngomong siapa anda?" tanya Sasuke menyelidik.

"Subaru Kisaki. Aku anaknya," ucap Subaru dengan mata sayu,"Kalian sendiri?"

Ino pun mengenalkan diri mereka dan mengatakan apa sebenarnya tujuan mereka ke sini. Subaru hanya memandang Ino yang sedang berceloteh menjelaskan. Setelah semuanya jelas, Subaru menganggukkan kepalanya—tanda mengerti.

Sesaat kemudian petugas keamanan pun datang bersama Ai—gadis pelayan tadi. Salah satu kelompo petugas keamanan itu langsung mengangkat tubuh Goro menuju rumah sakit untuk di otopsi.

Karena Sasuke dan Subaru berdiam diri saja—tidak ada satupun yang memberi penjelasan pada petugas keamanan, Ino pun akhirnya angkat bicara lagi dan mengatakan apa yang telah terjadi, lengkap dengan tujuan sebenarnya mereka datang ke rumah megah ini.

"Jadi, yang tinggal di rumah ini selain korban hanya kalian berdua? Subaru Kisaki-san dan Ai Edogawa-san?" tanya seorang petugas.

"Tidak. Masih ada satu lagi. Dia sedang keluar untuk membeli kecap, katanya," jawab Ai langsung.

"Siapa?"

"Koki keluarga kami. Ayumi Tsuburaya," jawab gadis berambut pirang pendek itu.

"Baiklah. Sepertinya salah satu dari kalian bertiga adalah tersangka yang sudah meracuni Goro Kisaki-san."

"Apa? Bagaimana caranya?" tanya Subaru tidak terima.

"Bisa saja, kan racunnya berasal dari teh—"

"Inspektur! Kami tidak mendeteksi adanya racun di teh itu," ucap seorang anak buahnya. Sang Inspektur hanya bisa melongo dan berkata tidak mungkin.

Sasuke dan Ino hanya termenung. Oke, sepertinya termenung mereka berbeda. Sasuke termenung memikirkan apa yang bisa meracuni Goro jika tidak dari tehnya. Sedangkan Ino? Dia masih trauma dan terbayang-bayang akan wajah pucat orang yang baru saja dia ajak ngobrol. Kunoichi blondie itu masih takut.

"Ada apa ini?" ucap seorang wanita muda yang sedang membawa bungkusan.

Wanita itu adalah Ayumi Tsuburaya. Dengan rambut hitam sebahu dan mata lavender dia mendengarkan penjelasan dari Inspektur dan secara shock dia menjatuhkan barang belanjaannya.

Semua tersangka dipersilahkan untuk duduk di ruang tengah. Sedangkan Sasuke dan Ino masih di tempat kejadian perkaranya—di ruang makan. Sesaat Sasuke melihat cangkir yang tergeletak miring di meja makan itu. Dengan penuh selidik Sasuke meminta untuk memeriksa cangkir itu.

Dan benar saja, ketika cangkir itu telah diperiksa, terdapat bubuk-bubuk racun yang masih tersisa di gagang cangkir milik Goro. Dengan begitu Inspektur menanyai ketiganya, "Apa kalian menyentuh cangkir milik Goro Kisaki-san?"

"Aku yang membuat tehnya, jadi sudah jelas aku menyentuh cangkirnya," ucap Ayumi—sang koki rumah.

"Aku menaruhnya di baki dan mengantarkannya kepada Tuan, jadi aku juga menyentuhnya," ucap Ai.

"Aku melihat Ai sedang keluar dari dapur dan langsung aku mengambil cangkir bertutupkan warna yang berbeda dari yang lainnya—milik Ayah karena aku juga suka manis. Ai langsung melotot dan menyuruhku untuk mengembalikannya kembali. Dan akhirnya aku meletakkannya dan kembali lagi ke kamar. Jadi aku menyentuh cangkir Ayah," ucap Subaru panjang lebar.

Sekali lagi, mereka diam dalam pikiran masing-masing.

"Kenapa Ayah bisa sampai seperti ini," ucap Subaru sambil berpikir dan gayanya persis sama seperti ayahnya. Tipikal ayah anak.

Ino melebarkan aquamarinenya sesaat. Dia merasa tahu sesuatu. Dengan segera Ino menarik lengan pemuda Uchiha itu untuk keluar dari ruang tengah dan menuju ke taman rumah—tempat yang sepi. Sasuke yang bingung hanya menurut saja atas perlakuan gadis blondie itu.

Setelah Sasuke dan Ino sampai di taman belakang, Ino melepas lengan Sasuke. Sasuke memandangnya bingung.

"Ada apa, Ino?" tanya Sasuke datar.

"Sasuke-kun… Aku rasa… Aku…

.

.

.

mengetahui pelakunya."


"Ino sedang keluar menjalankan misinya bersama Sasuke. Gomen ya Kiba, mungkin lain kali,"

"Tidak apa-apa, Paman. Terima kasih," ucap pemuda jabrik yang mempunyai partner anjing itu. Dia kemudian berbalik untuk pulang.

Ino… Sepertinya kau lebih senang menjadi guidenya daripada menjadi guide hatiku.

.

.

.

~ To Be Continued ~


Hadoooooh *ngelap dahi*

Akhirnyoooo selesai juga ini chapter! Fyuh~ udah aku banyakin nih! :D

Banyak kasusnya daripada romens, sori yang mintak romens! Xd di chapter depan janji bikin full-love! (karena chapter ini full-mystery)

Sekarang mau bales repiu~

vaneela : Iya itu Kiba XD. Gomen yak aku baru hiatus ._. Makasih udah repiu.

rizta : Iyupzz! XD ah, kalo romens doang nggak enak, harus ada yang menantang Xd makasih udah repiu.

JV Bee : Gomen yak aku baru apdet sekarang, baru bangkit dari kubur eeh dari hiatus X""D makasih udah repiu.

Chika Chyntia semoga gampang login XD : Iyaakk XD Sasu cemburu? Emm, tanya aja si Sasunya sendiri *jderr XD maap yak baru bangkit dari hiatus ._. Makasih udah repiu.

nona fergie : Sasu mulai ada bibit-bibit cintrong gitu deh XDD gomen yak baru bangkit dari hiatus X"D makasih udah repiu.

KyuRa : Ahh masak siih? *tersapu-sapu ehhh tersipu-sipu XDD makasih :D gomen yak baru dari hiatus gak pamit X""D makasih udah repiu.

Woke minna-san. Sekali lagi maap karena udah hiatus gak pamit, ya soalnya nggak ada wall buat nulis gitu *emang pesbuk?* cmiiw

Last, terima kasih banyak karena sudah baca.

Dan untuk menghargai Author gaje ini, perkenankanlah jari anda untuk mengeklik tombol di bawah ini XDD *dilempar duren

V

V

V

V

V