previously

Merasa tubuhnya menempel dengan Chase, Candace menelan ludah. Segeralah ia mundur dan menunduk agar pria itu tidak dapat melihat wajah memerahnya.

"Cha-Chase... ma-maaf..." Katanya. "A-Aku mau mengambil baju kotor dulu..." Ujarnya, asal. Tanpa memedulikan Chase yang kini memanggil namanya, ia langsung keluar dapur.

Saat ia sudah di ruang tamu, masih dengan wajah merona Candace terus saja berlari. Ia tidak tau dirinya harus ke mana, yang penting ia harus jauh dari Chase dulu.

Tapi karena kepanikan yang melanda Candace, dengan tidak snegaja gadis berumur 20 tahun itu menabrak seseorang di ruang tamu. Telak. Wajahnya bahkan membentur dada pria itu. Bahkan sampai terdengar sebuah beling yang pecah di dekat sepatunya.

Saat Candace melihat siapa yang dia tabrak, pria itu adalah Gill—lagi.

Dan apa yang pecah di sebelahnya adalah gelas cocktail yang sempat diminum olehnya.

"Tsch, kau lagi..." Kata Gill. "Kau tidak bosan ya menggangguku?"

.

.

Merasa dirinya telah menabrak tuan rumahnya, Candace segera meringis.

Dengan kedua tangan yang sudah saling berkaitan erat, ia mencoba sedikit mengadahkan wajah. Kini, kedua manik matanya bertemu dengan mata Gill. Wajah pria itu tidak jauh berbeda, masih sinis dan dingin.

Kecemasan Candace semakin bertambah.

Kenapa dia sebegitu cerobohnya sampai-sampai terjadi hal yang tidak diinginkan seperti ini—lagi? Pertama, ia tersandung dan memeluk Chase. Kedua, ia bertabrakan dengan Gill sehingga gelas kaca berisi cocktail itu kini terpecah belah di lantai.

Kembali ke pertanyaan Gill yang belum ia jawab, Candace awalnya sempat akan mengeluarkan suara. Namun karena iris biru laut Gill yang begitu tajam menatapnya, ia menahannya.

Lagi pula, ia tidak tau harus menjelaskan apa kepada Gill.

Bersama keresahan dan kebingungan yang masih tercetak jelas di wajahnya, Candace segera berjongkok dan mengambil beling-beling yang berserakan dengan kedua tangannya.

Melihatnya, Gill sedikit menghela nafas malas.

"Kau mau cari luka, hn?"

Candace tidak mengerti, bersama gerak tangan yang sedikit memelan, ia mengadahkan wajah. "A-Ada apa, Tuan Hamilton—ah!"

Candace berdesis kesakitan. Dapat dia rasakan ibu jarinya menjadi berdarah. Sepertinya ia sempat terbeset oleh sebuah ujung runcing beling yang terbilang cukup tajam.

Sakit...

Tapi dibandingkan mengasihani dirinya sendiri, Candace malah semakin panik. Pasti Gill benar-benar menganggapnya tidak berguna.

"Seharusnya kau memakai sapu untuk membersihkannya. " Pria itu berkata. Menggunakan salah satu tangan, ia memaksa Candace agar dapat berdiri. "Kau bisa berpikir, kan?"

Candace terdiam. Kedua matanya berkaca-kaca.

"Sekarang, kau ambil sapu di dapur dan bersihkan kekacauan ini." Katanya. "Setelah selesai makan malam, nanti aku mau bicara denganmu."

.

.

.

F-L-U-B-I-L-O-B-U

Harvest Moon by Natsume

AR—Alternate Reality

Pieree Present...

(Gill Hamilton—Candace Schessa—Chase Kalvin)

.

.

four of ...

-tuduhan-

.

.

Ketika sendok dan garpu yang terbuat dari perak tersebut ditaruh di atas meja makan, itu menandakan bahwa Gill baru saja menyelesaikan acara makannya. Candace yang pada saat itu berdiri di sebelahnya mulai menelan ludah. Tidak tau kenapa, jantungnya berdegup tidak beraturan.

Dilihatnya Gill yang sedang mengelap bibirnya dengan serbet. Usainya, ia berdiri dan menoleh kepadanya. Candace segera memalingkan wajah, memberikan isyarat bahwa ia sedang menyimpan banyak ketakutan dan penuh penyesalan kepada Gill.

Gill berkata pelan. "Seperti apa yang kubilang, aku mau bicara empat mata denganmu. Tapi di atas—di ruanganku."

"Ba-Baik..." Candace mengangguk sopan. Dia ikuti Gill yang sekarang sudah berjalan menuju tangga.

Sesampainya di kamar Gill, pria yang sekiranya masih berumur 25 tahunan itu berjalan menuju meja kerjanya dan duduk di sana. Ia memandang Candace, lalu menyuruhnya mendekat. "Duduk di depanku."

Perintah tadi membuat Candace memberanikan diri untuk duduk sopan di bangku yang ada di depan meja Gill—sehingga kini mereka bertatapan.

"Bisa kita mulai?"

Kalimat Gill memecah keheningan.

"Iya..."

Gill sedikit menegakan posisi duduknya, lalu mengambil sebuah map coklat. Sembari membuka satu per satu halaman yang ada di sana, ia bertanya. "Apa kau tau kenapa aku bisa memanggilmu ke sini?"

"Mm.. karena aku... telah berbuat banyak kesalahan?"

"Ya. Kecerobohan, lebih tepatnya." Ia menambahkan. "Kata Maya, kau berkerja di sini untuk membiayai nenekmu yang sedang dirawat inap di rumah sakit, kan?"

Candace mengiyakan. Sebenarnya, ia tidak marah ketika mengetahui Maya memberikan informasi itu ke Gill. Tapi ia cukup heran. Kenapa Gill tiba-tiba saja membahas neneknya?

"Karena itu, aku menyuruh seseorang menyelidiki latar belakangmu. Dan ternyata, aku baru tau kalau sebelumnya kau dan nenekmu adalah pemilik dari Sonata Tailoring yang kusita di Garmon Mines beberapa hari yang lalu. Tentu saja karena kalian tidak bisa membayar hutang tanah. Apa itu benar?"

Mendapati wajah kebingungan Candace, Gill meletakan sebuah map yang dari tadi ia pegang lalu menunjuk sebuah halaman di mana terdapat sebuah foto ia dan Shelly.

Candace baru menyadari bahwa map itu berisi data penduduk di Castanet Island.

"Sampai di sini, apa kau mengerti maksudku?"

Candace mengerjap. "T-Ti-Tidak..."

Gill memandang kedua mata Candace. "Sebenarnya aku masih belum tau pasti, tapi aku dapat menduga kau berkerja di sini untuk mencelakakanku. Singkatnya, balas dendam. Secara akulah yang membuat kebijakan untuk menyita Sonata Tailoring-mu."

Candace tersentak. "Tidak... walaupun aku memang dihusir dari sana, aku sama sekali tidak bermaksud—"

"Terlebihnya lagi, nenekmu sakit karena dihujani oleh badai. Hal buruk yang terjadi kepada nenekmu itu akibat penghusiran, kan?" Gill memotong kalimatnya.

"A-Aku bukan orang yang seperti itu. Ka-Kalaupun aku berlaku ce-ceroboh, itu semua ti-tidak sengaja..." Lirihnya, nyaris menangis. "A-Aku berkerja di sini pun karena kebetulan..."

"Aku tidak peduli. Dari pengalaman yang kudapat, sebagian besar penduduk—yang tempat tinggalnya kusita—memang membenciku dan berniat mencelakaiku." Jawab Gill dengan nada yang sedikit kasar. Karena telah menjadi walikota di umur yang sangat muda, ia sudah cukup mengalami asam pahitnya menjadi penguasa. "Yang penting, karena kau telah banyak berbuat ulah kepadaku, mulai sekarang aku mencurigaimu."

Candace merasakan kedua matanya berkaca-kaca. Ia ingin menangis, tapi mati-matian ia menahannya. Gill sebenarnya mengetahui itu, tapi ia sama sekali tidak peduli.

"Akhir kata, kalau misalnya nanti aku mengetahui ada niat buruk di balik tingkah lakumu, aku tidak akan segan-segan memecatmu—bahkan mencabut kependudukanmu di Castanet Island ini."

.

.

pi-e-ree—flu-bi-lo-bu

.

.

Usai pembicaraan serius yang terjadi di ruangan Gill, akhirnya Candace diperbolehkan keluar. Saat ia sudah menutup rapat pintu kamar, ia mengadahkan wajah dan menghela nafas panjang. Sebenarnya ia ingin menangis—karena baru kali ini ia dituduh sampai sebegitunya oleh seseorang—tapi wanita pemalu itu berusaha menahannya.

Ia pun menuruni tangga. Dia lihat Maya yang baru saja keluar untuk memberikan makanan ke kucing-kucing yang tinggal di dalam mansion ini. Maya yang menyadari keberadaannya langsung menoleh. Ia pandangi wajah Candace yang sedang lesu.

"Hai, Candace. Ada apa—?"

Sebelum sapaan Maya selesai, Candace terlebih dulu mempercepat langkahnnya ke belakang—ke arah dapur agar bisa sampai ke kamarnya. Maid berambut pirang itu hanya terbingung di tempatnya.

Sedangkan, Candace yang kali ini sudah berada di dapur langsung menemukan Chase yang sedang menuangkan jus jeruk ke gelasnya.

Chase yang menyadari kedatangan Candace segera menoleh. Mata mereka sempat bertemu. Tapi bukannya saling menyapa seperti biasa, wanita berambut biru itu malah memalingkan wajah.

Itu semua disebabkan oleh bayangan yang sempat teringat kembali di benaknya—sesuatu yang membuat rasa malu bercampur senang ketika ia memeluk Chase.

"Candace..."

Chase memanggilnya. Sudah dapat ditebak dari nada yang dikeluarkan oleh Chase, pasti pria itu ingin meminta maaf. Namun karena situasi hati Candace sedang tidak terlalu bagus, ia hanya melewatinya begitu saja dan masuk ke kamarnya.

Chase yang menghela nafas.

Kenapa Candace sampai tidak mau melihatnya seperti itu?

Apa dia benar-benar marah hanya karena ia kelewat menyebalkan?

Entah kenapa, perasaan bersalahnya kian menumpuk.

Cklek.

Sekarang Maya muncul di dapur.

"Chase..."

"Hm?"

"Candace kenapa?" Tanyanya.

"Tidak tau..."

"Apa mungkin karena Gill?"

Chase memiringkan kepalanya, heran. Baru saja ia menganggap kesuraman yang berada di wajah Candace itu dikarenakan olehnya. Tapi kenapa Maya malah mengira itu dikarenakan oleh Gill?

"Memangnya ada apa dengan Gill?"

"Kalau tidak salah, tadi sebelum makan malam, Candace tidak sengaja menabrak Gill. Jadi sesudah makan malam, Gill memintanya untuk berbicara empat mata ke kamarnya. Lalu setelah Candace keluar dari kamar Gill dan turun, wajahnya murung. Pasti ia dimarahi..."

Chase pun melirik pintu kamar rekan kerjanya yang sudah tertutup rapat.

"Kalau benar seperti itu... biarkan dia tenang terlebih dulu saja."

.

.

see you

.

.

my note

Maaf update lama, haha. Semoga kalian masih setia menunggu. Oh, ya. Penjelasan tambahan, berhubung aku udah agak-agak lupa bagaimana isi mansion Romana di HM: AWL, penjelasan tentang ruang bagian belakang (dapur, kamar pelayan, dll) agak ngasal, ya. :)

.

.

replies side

Gill kenapa dingin sekali? Karena di game-nya dia keliatan judes dan dingin sih, hehe. Aku lebih suka Gill/Angela dan Chase/Molly. Aku sebenernya juga suka pairing itu, tapi karena aku ngga tau mana yang Molly dan mana yang Angela, akhirnya aku buat Gill/Candace aja.

.

.

warm regards,

Pieree...