Chapter 4 : A case that never exist
Ohayou/Konnichiwa/Konbanwa, Minna-san! Ohisashiburi ne~~
O genki desu ka, Minna?
Pagi, pagi! (Saya buatnya tengah malam sih), gimana nih kabarnya? Baik kan? Saya selalu dalam mood baik dalam keadaan apapun, ekekekeke (Jangan di contoh, nanti ketularan #PLAK)
Gimana chappy kemarin? Ngeselin ya? Saya abis baca ulang juga kesel kalau dalm sudut pandang pembaca #DORR
Langsung mulai aja ya!
A Rom-Myst Fict from me
~An Innocent Reality~
Main pair : IA & VY2 Yuuma, maybe a little bit of slight pair and crack pair content
Disclaimer : Vocaloid © Yamaha, and other companies
Story © Me
UTAUloid © Owner creator
Fanloid © Creator
Summary :
"Aku selalu hidup dalam kebiasaan, tak ada yang berarti, selalu pergi tanpa kenangan. Saat kenangan itu terpatri, entah kenapa akhirnya itu selalu terlupakan. Sampai akhirnya dia datang, mengubah hidupku"
Warning : OOC (maybe), typo(s), gaje, pendeskripsian kurang, kesalahan eja 'EYD' dan teman-temannya.
'Abc' (italic): Hayalan/angan, flashback, kata asing, atau percakapan secara tidak langsung (telepon, email, sms, dll)
'Abc' : Percakapan normal
'Abc'/ 'ABC' (bold atau kapital) : Kata atau kalimat yang diberi penekanan, kata atau kalimat penting.
HAPPY READING MINNA!
Chapter 4 : A case that never exist
Yuuma's POV
"Yuuma, akhirnya ada sesuatu yang bisa kupotong."
Tubuhku kaku, keringat dingin mengucur dari pelipisku, apa dia pembunuh itu? Meiko?
"Apa yang akan kau potong?"
"Dirimu, YUUMA!"
.
.
.
"GYAAA!"
"Yuuma? Kau tidak apa-apa? Apa ada yang terluka? Ada yang sakit?"
Dimana aku? Syukurlah yang tadi itu hanya mimpi, aku tidak bisa membayangkan rasanya dipotong gunting sebesar itu.
"Meiko? Ini dimana? Kenapa aku bisa di sini?"
"Sekarang kau ada di rumahku. Kau tadi pingsan saat bertemu denganku, ingat? Di gang sempit itu loh... Kau tiba-tiba pingsan tanpa sebab yang jelas... Padahal aku ingin menunjukan ini..."
Meiko mengeluarkan gunting besar dari bawah kasur, aku langsung melonjak dari kasur saking kagetnya.
"Sing-singkirkan benda itu, kumohon.."
"Kenapa? Aku hanya ingin memberitahu akhirnya aku bisa memotong rumput halaman rumahku dengan gunting yang baru. Gunting rumput yang lama tumpul... Coba kau lihat, rumputnya tidak terurus.."
Meiko mengajak ku melihat keluar jendela, dan benar... Halamannya sangat tidak terawat...
"Oh iya, kau kenapa bisa pingsan? Apa penampilanku seburuk itu?"
Meiko menerawang penampilannya, beputar dengan rok mini yang di dalamnya ada hotpants hitam, wajahku memerah... Aku rasa aku melihat lekukan yang tidak perlu saat melihat hotpants nya.
"Loh Yuuma? Kok wajahmu merah? Hayo... Mikir mesum apa?"
"E-e-eh?! Tidak! Aku hanya merasa agak demam jadi wajahku me-merah! Ya itu!"
Meiko tidak seperti Miku, ia tidak mudah dibohongi. Meiko menghampiriku dan menengadahkan daguku.
"Hmmm... Jika kau memang menginginkan ku, kita bisa bertukar 'makan malam'.."
Meiko menunjuk ke arah celanaku, astaga! Maksudnya bertukar 'makan malam' itu... Bukan! Itu tidak mungkin!
"I-itu tidak mungkin.."
"Oh iya, kau kan punya IA... Hahahaha, salahku, salahku..."
Tunggu... Darimana ia tahu soal Aria? Ini aneh, apa dugaan Aria bahwa Meiko mengenal yang lain itu ada benarnya?
"Dari siapa kau mengenal Aria?"
"Huh? Cul... Kenapa?"
Aneh, berarti dia mempunyai hubungan dengan Cul. Seharusnya Cul sebagai klien menjaga rahasia servernya, tapi kenapa?
"Oh iya, apa kau tahu bingkai yang ku bawa sebelum pingsan?"
Lupakan dulu soal identitas Cul, sekarang bingkai itu lebih penting.
"Oh itu, ada di atas meja bersama tas mu." Meiko menunjuk ke arah meja, aneh... Kenapa bingkainya ada di luar tas?
"Kenapa bingkainya ada diluar tas?"
"Oh, tadi aku penasaran saja dengan isi tasmu. Tidak boleh ya Yuuma?"
"Tidak, tidak apa-apa... Jam berapa sekarang?"
"Hmm, sekitar 10.30 malam."
GAWAT! AKU BISA TELAT MEMBAWA BINGKAI DAN MASUK SEKOLAH BESOK!
"Meiko! Terima kasih atas bantuanmu, tapi aku baru ingat aku punya urusan penting yang harus di kerjakan. Aku akan pergi, sekali lagi terima kasih!"
Aku berlari dari rumah Meiko, Meiko hanya melambaikan tangan sambil tersenyum, tapi aku bisa merasakan hal buruk jika aku berlama-lama di rumah itu. Keputusan untuk pergi adalah yang terbaik.
BRAK!
"Yuuma lama sekali! Dan lagi-lagi tidak mengetuk- MANA YAKISOBAKU?!"
Astaga! Aku lupa!
"Aria! Kesampingkan dulu masalah itu! Ada yang lebih penting, Meiko tahu identitasmu!"
"Ya, Cul yang memberi tahu kepada Meiko soal aku..."
"Kok kau bisa tahu?"
"Cul mengatakannya sendiri kepadaku. Soal Meiko, aku sudah dapat identitasnya, Sakine Meiko, 22 tahun. Mantan prostitusi, sekarang bekerja sebagai customer service di sebuah perusahaan. Ia satu perusahaan dengan Cul... Cul bagian marketing dalam perusahaan itu. Ditinggal oleh orang tuanya saat berumur 12 tahun menjadikannya berprofesi sebagai prostitusi tapi berhenti pada umur 19 tahun. Salah satu lulusan terbaik Misaki Gakkuen, dengan kata lain dia kakak kelasmu. Walau ia melakukan pekerjaan yang tidak wajar, tapi nilai nya selalu bagus dan menjadi murid teladan. Hanya segelintir orang yang tahu info ini."
Aria, seperti biasa... Kemampuan stalk mu luar biasa...
"Mana bingkai yang kuminta?"
"Nada bicaramu selalu membuatku ingin muntah... Bisa tidak kau bicara lebih lembut? Atau lebih tsundere saat seperti kau malu?"
Aria memerah, pipinya membulat.
"Bi-bi-biarkan saja! Terserah aku!"
"Nah begitu lebih baik.."
"Su-sudah! Cepat! Mana bingkainya!"
Aku memberikan bingkai itu, Aria melihatnya dengan antusias. Memangnya apa sih yang berharga dari sebuah bingkai tua?
"Seperti yang kuduga..."
"Kau mendapatkan sesuatu Aria?"
Aria menunjukan tiap sudut pada bingkai itu, aku mengerutkan alis.
"Apa yang aneh?"
"Dasar lamban. Ini menceritakan Athena sang dewi kemakmuran yang memiliki sisi ganda bernama Metis yang bersifat serakah. Medusa yang merupakan ular terkutuk adalah hasil dari pencampuran sifat kedua dewi ini."
"Lalu?"
"Kau ini... Ini menceritakan pasang surut perang dunia kedua waktu poros Jepang-Italia-Jerman menganut faham fasisme. Pada awalnya hanya Jerman yang menganut faham ini, karena bersatunya tiga negara ini akhirnya Jepang dan Italia tertular faham ini dan menjadi satu organisasi penganut fasisme. Menurutku ukiran bingkai ini lebih menunjuk ke arahHitler, bapak dari faham fasis. Sepertinya bukan harta yang disimpan oleh kebenaran bingkai ini, tapi fakta."
"Maksudmu fakta tentang Hitler? Tapi apa hubungannya dengan masa kini?"
"Bukan fakta Hitler, Hitler hanyalah perumpamaan dari apa yang sebenarnya terjadi. Ini hanya dugaan, tapi sepertinya ayahmu mengetahui rahasia penting, dugaanku peran Hitler di sini adalah ayahmu, ayahmu susah payah membeli bingkai ini dari pelelangan sebagai kode ke salah satu jaringannya mengenai suatu hal."
"Hah?! Jangan bercanda! Aku tahu orang tuaku itu yakuza, tapi apa iya mereka melakukan tindak kriminal dengan negara luar?!"
"Aku tidak tahu. Ayahmu pasti memilih benda seperti ini agar orang awam atau pihak berwajib tidak menganggap ini bukti atau kode, melainkan hanya barang hiasan jika ada dugaan kasus yang dilakukan ayahmu. Barang antik bisa membuat alibi kuat penghapusan bukti menjadi sekedar alat hias."
Astaga, ini sudah gila... Kemana sebenarnya kasus ini berjalan? Seakan kasus ini bukanlah awal, tapi lanjutan dari kasus lama yang tertimbun dan muncul lagi ke permukaan. Jadi, ayah bermaksud membeli barang antik sebagai kode,tapi menyembunyikannya dalam bentuk barang antik suoaya tidak dicurigai?
"Apa mungkin... Aria, apa mereka yang mengincar bingkai ini merupakan orang penting?"
"Seperti yang kau katakan, kebanyakan dari mereka adalah polisi atau detektif. Ayah Cul yang dibunuh waktu pagi itu adalah seorang detektif."
"Dengan kata lain, mereka juga sadar jika bingkai ini memiliki kode khusus pada jaringan khusus pula?"
"Mungkin... Aku merasa, kasus ini bukanlah hanya soal kasus pembunuhan lagi."
Ya, aku juga merasakan hal yang sama Aria.
KRING! KRING! KRING!
"Halah, berisik..."
"Yuuma, sekarang sudah jam 7.45!"
"Aku tidak akan tertipu lagi nee-chan~~ Hoam~~"
"Jika kau punya waktu untuk menjawab dan menguap, lebih baik kau lihat jam weker mu atau ku beri kau 'hubungan' selamat pagi.
Aku melihat jam weker... TERNYATA DIA BENAR! Sial! Ini gara-gara aku pulang malam lagi!
"Keluar nee-chan! Aku ingin buru-buru ganti baju!"
"Tidak bisa~~ Ini tugas seorang kakak untuk melihat pertumbuhan adiknya~~"
"TIDAK ADA WAKTU UNTUK BERCANDA LAGI!"
BRAK!
Aku langsung mendorong nee-chan keluar kamar dan membanting pintu, mulai besok aku akan selalu mengunci pintu kamarku sebelum tidur!
.
.
.
"Hah.. Hah.. Hah.. Untung belum terlambat."
Kalian tahu? Bukan hanya melewati sarapan, aku bahkan tidak memakai baju dengan rapi dan hanya menggosok gigi serta mencuci muka tanpa mandi tadi... Jika masih saja terlambat masuk, aku tidak akan segan-segan headbang 100 kali ke arah pagar.
Aku berjalan ke kelas, lorong sudah kosong... Semua murid pasti sudah di kelasnya masing-masing. Ketika aku berjalan santai sambil bersiul, lengan bajuku ditarik seseorang.
Sreet...
"Hei?!"
"Diam Yuuma! Ini sensei!"
"Ada apa sih guru gak jelas?! Aku sedang buru-buru ke kelas!"
"Tidak ada apa-apa, hanya saja aku ingin memberi tahumu, saat golden week awal musim panas nanti, kita semua akan pergi tamasya... Cul mengajak kita ke villa miliknya. Katanya, villa miliknya dekat dengan Himuro mansion, kau tahu kan? Mansion misterius dimana sang kepala keluarganya membantai seluruh anggota keluarga karena sebuah ritual yang gagal?"
"Memang apa yang pentin, katakan aku tidak ikut!"
"Eits! Tunggu dulu! Apa kau tidak tertarik dengan menggoda Aria, Aria takut hantuloh~~"
Apa? Ternyata ada juga yang ditakuti oleh perempuan sinis itu!
"Baiklah! Aku ikut!"
"Nah gitu dong! Sekarang pergi sana ke kelas! Jam pertama sudah dimulai dari tadi!"
"Hah?! Dasar gulu linglung! Kenapa baru bilangnya sekarang?! Kau kan bisa mengajak ku bicara waktu istirahat!"
"Malas saja memanggilmu waktu istirahat, aku ingin berkumpul dengan para siswi perempuan~~"
Dasar guru tak tahu diri...
.
.
.
Aku tidak sabar menunggu golden week, kesempatan menakut nakuti Aria itu kesempatan langka yang jarang datang 2 kali!
"YES!"
"Yuuma? Kau baik-baik saja?"
Miku?! Kenapa kau harus melihatku ketika sedang menggerutu sih?!
"Iya, aku masih waras."
Jawaban aneh yang tidak tepat.
"Baiklah."
Miku kemudian pergi meninggalkan ku, mungkin ia ingin ke kanti? Suasana barusan, sungguh awkward.
Aku kembali memikirkan perkataan Aria, kasus ini bukan lagi soal kasus pembunuhan? Apa ini sudah masuk tindak kriminal yang lebih besar? Apa pada akhirnya aku harus menentang ayahku sendiri?
Pertama itu gila, mana mungkin aku menang melawan ayahku yang merupakan pemimpin ternama di dunia bawah.
Kedua, aku berharap Aria hanya asal memberi hipotesis.
Dan yang ketiga, kau tetap tidak sabar menunggu golden week!
"OKE!"
"Yuuma? Yakin kau tidak apa-apa?"
Miku?! Sejak kapan kau ada di situ lagi?!
"I-iya aku masih normal kok, hehehehe.."
"Baiklah."
Deja vu yang mengerikan...
BRAK!
"YUUMA! AKU SUDAH BILANG KETUK PINTU!"
"Huh? Ku kira kau tida peduli dengan hal kecil seperti itu?"
"A-aku ini perempuan! Ma-mana bisa aku tidak peduli?! Bagaimana ji-jika sesuatu terjadi padaku? Bagaimana jika yang masuk adalah orang mesum seperti kau yang berpikir mesum ingin menodaiku?"
Aria menatapku dengan pandangan jijik sambil memeluk dirinya sendiri, hei! Kenapa jadi begini! Sepertinya kita tidak membahas soal seperti ini tadi!
"Jangan berpikir yang aneh-aneh idiot!"
"Jadi, mau apa lagi ke sini?"
"Aku hanya ingin mengucapkan hati-hati saja saat tamasya nanti.."
"Mencurigakan... Wajahmu seperti orang mesum Yuuma. Sekali mesum, tetaplah mesum."
"Dasar... Untung saja kau perempuan, jika kau laki-laki aku berani jamin wajahmu tidak akan berbentuk lagi."
"Kau ingin memukul perempuan? Benar-benar memalukan..."
"Sudah diam!"
"Oh iya Yuuma, ingat saat tamasya nanti, aku ingin kau membawa senjata api. Revolver mungkin sudah cukup."
"Hah? Untuk apa? Kalau ingin bermain jangan pakai benda asli."
"Sudah tidak usah banyak bicara! Kau mudah kan mendapatkan hal seperti itu? Bawa saja!"
Aku tetap tidak mengerti jalan pikiran Aria, tapi yang pasti, aku tidak akan membiarkanmu istirahat barang setitikpun ketika tamasya, Aria... Khukhukhu...
Chapter 4 completed~~
Di sini malah jadi rom-com gak jelas #PLAK
Awalan ceritanya begini aja dulu, karena saya berani jamin dibagian tengah dan akhir akan menjadi cerita serius yang tidak bisa lagi di rileks an seperti ini... Jadi terus tunggu chapter selanjutnya yah ^^
Dan akhir kata, pembaca yang baik selalu meninggalkan pesan dan kesan. Tapi saya gak nuntut kok, dengan adanya yang membaca ini, saya sudah cukup senang. Jika ada yang ingin berkomentar, tolong jangan pedas-pedas ya, jika kritik yang membangun nggak apa sih, karena review dari kalian itu penyemangat saya menulis! Jadi saya akan terus berkarya selama masih ada dukungan dari para readers semua!
Jaa~~ Matta ne~~
Best Regards,
Aprian
