Married? What?!

.

.

BL/Yaoi / Namjin - Namjoon x Seokjin / dldr.

.

.

.

Deru mesin kendaraan bermotor mengusik telinganya, lelaki tampan itu menyibak gorden kamarnya dan melirik ke bawah. Di bawah sana terlihat kakaknya yang baru saja turun dari sebuah mobil sport berwarna hitam. Sebelum berjalan masuk Taehyung sempat melihat Seokjin berbalik lalu mengumpat keras entah pada siapa yang di dalam mobil itu, dan hanya dengan hitungan detik Seokjin menendang ban mobil itu dengan ganas.

"ENYAH KAU SIALAN!"

Wow, Taehyung takjub, apakah yang tadi itu suara kakaknya?

.

.

.

Tok Tok Tok

"Kim Taehyung sebaiknya buka pintu ini sekarang atau kubakar kau hidup-hidup dari sini!"

'Wtf.' Taehyung mengumpat dalam hatinya. Demi singa dan hewan laut beserta seluruh isinya, siapapun orang yang berada di dalam mobil itu pastilah luar biasa menyebalkan sampai-sampai membuat Seokjin murka seperti ini. Dengan langkah lebar-lebar Taehyung berlari menuruni anak tangga dari kamarnya, masih sempat meneguk susu kotak strawberrynya sebelum membuka pintu.

"Selamat datang, hyung."

Seokjin diam, Taehyung dicuekin, man. Tanpa memperdulikan Taehyung, Seokjin langsung melesak ke dalam setelah melepas sepatunya terlebih dahulu. Taehyung hanya bisa mengedikkan bahu, mengikuti Seokjin dari belakang sambil menikmati susunya. "Hyung kenapa sih? Yang tadi itu siapa?"

Seokjin menoleh. "Kau melihatku?"

"Iya, mobil hitam itu, aku belum pernah melihatnya. Itu siapa hyung?"

Taehyung melirik Seokjin yang membuat ekspresi kesal, alis mengerut dengan pipi menggembung. Cukup lama Taehyung menunggu jawaban Seokjin untuk meresponnya, ia memutuskan untuk menghabiskan susunya dalam sekali teguk sampai jawaban Seokjin menghancurkan semuanya.

"Suamiku."

Pfffffffffffft!

Bayangkan apa yang terjadi, Taehyung menyemburkan isi mulutnya ke wajah Seokjin. Semuanya. Well, yang ini Taehyung tidak sengaja, sumpah.

Jika bisa digambarkan kerutan di dahi Seokjin sudah berlapis-lapis, tangannya terkepal kuat dengan wajah memerah menahan amarah. Sudah cukup satu manusia cabul itu merusak moodnya, jangan ditambah dengan satu alien lagi, please.

Adegan yang terjadi setelah ini adalah kekerasan dalam rumah tangga, jadi tidak patut untuk di expose 'kan. Oke mari kita lewatkan saja.

"KIM TAEHYUUUUUUUUUUUUUNG!"

Atau paling tidak bantu selamatkan Taehyung dengan do'a bersama.

.

.

.

Sebenarnya apa yang terjadi? Mari kembali ke beberapa saat yang lalu sebelum Seokjin pulang.

.

.

.

Hening. Tidak ada yang bersuara satu pun di dalam mobil itu. Hanya deru napas yang terdengar karena kedua penghuninya sedang kelelahan. Selang beberapa menit kemudian barulah ada yang memulai. Siapa lagi kalau bukan si cantik Kim Seokjin.

"Apa maumu?" Seokjin memberanikan dirinya untuk menoleh dan menatap sengit orang yang lagi-lagi menculiknya, ya, karena bagi Seokjin ini adalah sebuah tindak penculikan. Sementara yang ditatap berusaha menetralkan gejolak dalam dirinya untuk tidak segera menerkam sang istri yang err.. seksi berpeluh. Tolong tampar Namjoon sekarang, siapapun.

Namjoon berdehem. "Tenanglah, aku hanya ingin bicara baik-baik denganmu. Ikut denganku sebentar." Namjoon yang baru akan melajukan mobilnya terhenti karena Seokjin menahan pergelangan tangannya.

"Tunggu! Kenapa aku harus ikut denganmu?"

"Karena aku akan menjelaskan semuanya."

"Bagaimana aku bisa percaya padamu? Kau tidak akan menjualku, 'kan?" Seokjin ingat, belakangan ini banyak modus yang terjadi untuk melakukan penjualan manusia, entah sebelum itu disiksa atau diperkosa kemudian organnya dijual, idiih Seokjin ngeri. Lelaki cantik itu menatap Namjoon dengan sorot penuh curiga. Bagus, pertanyaan yang konyol, nyonya Kim.

Namjoon diam, mencerna pertanyaan lelaki cantik barusan, dan setelahnya tawa Namjoon menggema di ruang sempit itu. "Ya! Apa tampangku terlihat seperti penjahat? Yang ada jika kau dijual maka aku yang akan membelimu, cantik." Goda Namjoon sambil mengedipkan mata yang dihadiahi jambakan mematikan Seokjin.

"Aku serius kurang ajar!" Umpat Seokjin menyertai jambakan penuh cintanya pada helaian rambut tebal merah muda Namjoon.

"AUWW! YA! Yaa! Hentikan aku bisa botak!"

"Salahmu! Tak bisakah kau menanggapi ini serius?!"

"Aku serius, makanya diam dan ikut saja, percayalah aku bukan orang jahat. Kalau aku macam-macam aku yakin kau cukup kuat untuk mematahkan leherku." Namjoon member jeda, kemudian melanjutkan.

"Dan bagaimanapun juga aku ini suamimu." Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Namjoon, tulus. Mendengar itu Seokjin bisa sedikit lebih tenang, setelah dipikir-pikir memang Seokjin pernah menang melawan Namjoon saat pertama kali ia kabur di hari pernikahannya.

"Sudah?" Namjoon memastikan.

Satu anggukan kecil dari Seokjin dan mobil hitam itupun melaju.

.

.

.

Mobil yang dikendarai Namjoon menepi di dekat sebuah dermaga. Namjoon turun lebih dulu kemudian berjalan memutar ke arah Seokjin untuk membukakan pintu. Seokjin turun perlahan, ia mendengar perintah dari Namjoon untuk lebih dulu duduk di tepi dermaga karena lelaki tampan itu ingin mengambil sesuatu. Seokjin bahkan tidak yakin ia di mana sekarang, bukan berarti Namjoon akan membuang dan menenggelamkannya, 'kan? Kim Seokjin, please. Buang pikiran konyolmu itu jauh-jauh. Well, setidaknya ia mencoba untuk percaya pada suami dadakannya itu sekarang.

Seokjin duduk dan menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya, tempat ini tidak buruk juga menurutnya. Tak lama setelah itu ia terkejut karena sesuatu yang dingin menempel di pipinya. Itu Namjoon, menawarkan sebotol air mineral dingin. "Minumlah dulu, kau pasti lelah."

Seokjin mendongak, menemukan Namjoon disebelahnya dan menerima air mineral pemberian Namjoon. Wow, dia bisa baik juga ternyata.

Sepasang suami istri baru –baru bertemu lagi– itu kini duduk berdampingan di sebuah dermaga. Usai melegakan tenggorokan masing-masing, Namjoon meletakkan botol air nya dianatara dirinya dan Seokjin kemudian mulai berbicara.

"Jujur, bingung juga mau memulainya dari mana." Aku Namjoon sekenanya.

"Mulai dari mana saja, yang jelas kau sudah membuatku seperti buronan yang terus melarikan diri." Potong Seokjin yang terdengar menggerutu.

Namjoon menoleh tanda tidak terima dengan pernyataan Seokjin. "Apa aku pernah memintamu untuk melarikan diri? Aku juga lelah asal kau tahu."

"Bagaimana aku tidak kabur, aku bahkan tidak tahu apa-apa."

"Itu karena kau tidak mengerti!

"Aku memang tidak mengerti. Bagaimana bisa aku mengerti kau bahkan tidak menjelaskan apapun!"

"Aku mencoba menjelaskannya tapi kau terus kabur dan sekarang terus memotong ucapanku."

"Jadi ini salahku?"

"Aish." Namjoon menghela napas panjang dan menghembuskannya kasar. Namjoon tidak boleh marah, tidak boleh. Bagaimanapun juga Seokjin memang tidak pernah berharap dirinya akan terlibat seperti ini. Baru saja mereka tampak sedikit berbaikan, sekarang bertengkar lagi? Ya Tuhan. Seokjin bahkan sudah membelakangi Namjoon sekarang.

"Oke, oke. Aku minta maaf." Namjoon meraih bahu Seokjin. "Lihat aku, dan dengarkan penjelasanku."

Seokjin sudah tidak memunggungi Namjoon, tapi lelaki cantik itu menolak untuk berhadapan dengan Namjoon. ia lebih memilih melihat laut lepas di hadapannya. Namjoon menggeleng kecil, menarik napas pelan kemudian melanjutkan.

"Pertama, aku minta maaf jika memang itu yang kau inginkan. Aku sama sekali tidak berniat membuatmu mengalami ini semua, aku minta maaf. Aku melakukan ini karena aku akan dijodohkan, ah tidak, lebih parah lagi aku akan dinikahkan. Rencana bodoh ini timbul begitu saja. Awalnya aku meminta bantuan teman dekatku, tapi hari itu dia tidak datang dan aku terpaksa mencari orang lain. Dan orang itu adalah kau, yang kebetulan lewat di depan gereja. Sudah jelas sekarang?"

Seokjin bergeming, sama sekali tak berniat untuk menatap Namjoon sedikitpun. "Kenapa harus menikah? Lebih mudah jika kau membawa seseorang sebagai kekasih palsumu."

"Jika saja bisa, aku tidak akan senekat ini. Kau hanya belum bertemu keluargaku, terutama eomma ku."

"Memangnya kenapa?"

"Kau akan tahu setelah bertemu langsung dengannya."

Seokjin merebahkan tubuhnya, dengan kaki yang masih menggantung di sisi dermaga. Matanya menatap langit yang sudah mulai terlukis jingga, sudah sore. Cukup lama juga ternyata berurusan denga lelaki ini. Jujur Seokjin juga bingung apa yang harus dilakukannya sekarang.

"Makanya aku butuh bantuanmu. Semuanya sudah terlanjur terjadi. Dan kita bisa bekerja sama, kurasa"

"Apa aku punya pilihan?" Seokjin berujar putus asa, Namjoon benar, semuanya sudah terlanjur.

"Kurasa tidak. Lagipula tidak ada ruginya juga. Aku butuh bantuanmu, dan aku juga akan membantumu." Namjoon ikut merebahkan tubuhnya. Mereka berdua kini berbaring bersisian.

Seokjin tertawa meremehkan. "Memangnya apa yang bisa kau lakukan untukku?"

"Aku dosenmu, tuan Kim. Jangan lupakan itu." Oh shit, Seokjin bahkan melupakan satu fakta itu, sial.

"Baiklah. Simbiosis mutualisme."

"Okay, deal?" Namjoon mengangkat jari kelingkingnya ke atas.

"Deal." Seokjin dengan separuh, atau mungkin sepenuh hati menerima uluran jari Namjoon dan menautkannya dengan miliknya.

Keduanya tidak menyadari kilau indah cincin pernikahan mereka yang diterpa sinar mentari yang sedikit lagi terbenam.

Namjoon bangkit, memberi isyarat pada Seokjin untuk mengikutinya. "Sudah hampir malam. Aku harus kembali ke rumah sakit. Ayo, kuantar pulang."

.

.

.

.

Selama perjalanan menuju ke rumah Seokjin, tidak ada yang berbica sedikitpun. Namjoon terlihat tenang-tenang saja. Namun tidak untuk Seokjin. Lelaki cantik itu terus merenungkan berbagai pertanyaan yang melayang-layang dalam pikirannya.

'Apakah yang kulakukan ini benar?'

'Bagaimana aku akan menjelaskannya pada eomma?'

'Apa itu artinya aku sudah tidak boleh memiliki kekasih?'

'Mengapa semuanya jadi seperti ini?'

'Sebenarnya apa dosa yang pernah aku lakukan?'

'Bagaimana hidupku nantinya setelah ini?'

'Apa aku harus tinggal serumah dengannya?'

'Bagaimana kalau Namjoon hanya memanfaatkanku?'

'Kalau kami sudah menikah, itu berarti kami harus… melakukan itu?'

'What?! Tidaaaak. Tidaak. No. BIG NO.'

'Astagaaaaaa Seokjin apa yang kau pikirkan!'

Terlalu banyak pertanyaan, apa, mengapa, bagaimana, dan sebagainya yang beterbangan hingga Seokjin tidak sadar kalau mereka berdua sudah sampai di depan rumahnya. Seokjin masih diam mematung dengan wajah datar tanpa berkedip hingga sebuah cubitan ringan menyentuh kulit halus pipinya.

"Hei, kita sudah sampai. Jangan melamun terus." Suara berat Namjoon juga mengejutkannya.

Seokjin menjawab kikuk, terlihat lucu. "A-ah, iya." Lelaki cantik itu meraih tasnya yang terletak di jok belakang, kemudian turun tanpa mengucapkan sepatah katapun lagi. Banyak yang terjadi hari ini, ia lelah.

Namjoon yang melihat tingkah aneh Seokjin langsung memanggil sang istri, berniat menggodanya sekali lagi sebelum mereka berpisah untuk hari ini. "Hei."

Langkah Seokjin terhenti ketika mendengar Namjoon memanggilnya, ia berbalik untuk mendekat.

"Oh ya, aku lupa bilang. Bokongmu seksi sekali waktu berlari tadi." Namjoon nyengir mesum, puas karena sudah menggoda istrinya, terbukti dari mata bulat Seokjin yang melebar dan umpatan kasih sayang yang ditujukan untuknya setelah itu.

"ENYAH KAU SIALAN!"

Duk

Seokjin menendang keras ban mobil Namjoon kemudian berbalik dengan langkah penuh hentakan. Meninggalkan Namjoon yang tertawa puas sudah mengerjai istri cantiknya.

.

.

.

.

.

Helai rambut hijaunya mengibas, bagi Seokjin tidak ada yang lebih menyegarkan dari pada mandi jika sedang merasa stress seperti ini. Piyama biru langit bergambar tokoh Mario Bross sudah melekat rapi di tubuhnya, sekarang waktunya tidur dan melupakan sejenak semua pikiran melelahkannya.

Seokjin menghempaskan dirinya ke tempat tidur dan berbaring terlentang, mengabaikan suara rintihan Taehyung yang berasal dari kamar disebelahnya. Jangan salah paham dulu, Seokjin tidak menyiksa Taehyung, kok. Ia hanya menyiksa dompet milik adiknya itu. Jadi itu adalah suara Taehyung yang meratapi nasib dompetnya karena Seokjin memintanya untuk membeli boneka Mario berukuran setengah tubuh orang dewasa. Kalau tidak maka tidak ada jatah makan selama sebulan. Poor Taehyung.

Tangannya bergerak untuk meraih satu boneka Mario untuk dipeluknya, kemudian menutup mata bulatnya perlahan sembari menarik napas dan menghembuskannya perlahan beberapa kali. Setidaknya itu bisa membuatnya tenang sebelum tidur.

Semoga besok harinya bisa jauh lebih baik, tanpa ada gangguan dari siapapun termasuk itu suami mesumnya. Titik.

.

.

.

.

.

.

.

Ciee Namjin yang mulai baikan cieeee Poor Taehyung ciee ~

sy menyukai review kalian, semuanya sy baca :* #ciumsatusatu ada beberapa yang bertanya, oke sy sengaja mencantumkan complete di situ karena sengaja aja/? ngga tau juga knp mian ~ #dicekek buat yang review dan nanya Unpermitted maafkan untuk sementara blm d lanjut, filenya hilang :( dan yang untuk kasus Seokjin, sy menyesuaikan dengan sistem yang ada d indonesia karena sy ngga begitu paham sama yg di korea sana, tergantung dari universitasnya juga, jadi walapun sudah di tingkat akhir jika ingin memperbaiki nilai di makul bawah masih bisa, jadi masih ada kesempatan, tapi itu tidak d semua universitas. dan sekedar untuk info, bagi sy personally biokim itu memang susah #dor Sayang kaliaaaaan :* #kabur