Disclaimer :

Kuroko no Basuke © Fujimaka Tadatoshi

Akuma no Riddle © MINAKATA Sunao & KOUGA Yun

Warnings : AU/OOC/Bad language/Violence/Gore

a/n : Lagu yang bikin saya mood buat bikin chapter ini adalah This Game – Konomi Suzuki :)


"… Alive, even if it isn't easy..

Don't go away, move forward with the pride of all your might… "

[—Inochi no Uta ga Kikoeru, Naomi Tamura

Queen's Blade Rebellion Opening Theme—]


.

.

Rebirthia

[ Trick III – of reason and reality ]

.

.

.


Hei, kau ini kenapa?

Desisan pelan menghentikan adu pandang antar dua remaja lelaki yang sudah mengeluarkan senjatanya masing-masing. Mereka bertatapan cukup lama, dan ia yakin pria bersurai hitam yang menutupi salah satu matanya itu ingin ia berlari ke arahnya, menyerang duluan. Tapi ia menahan hasrat membunuhnya dulu untuk sementara—ingin mengingat dahulu data seorang Tatsuya Himuro di kepalanya.

Beraninya kau mengacuhkanku, jelek!

Berisik!

Ah-ah, kau sadar sekarang, heh? Jawab pertanyaanku, kau ini kenapa?

Apa maksudmu?

Kau tidak seperti biasanya, tahu! Kau seperti mahluk gila yang tak berhenti berucap kasar sejak kau dengar gadis itu diculik.

Aku tidak—

Sejenak, Akashi tidak berdebat dengan suara yang bagaikan Alter-Ego dalam batinnya. Ia terdiam cukup lama, berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk membalas kalimat sialan yang meremehkannya ini. Apa tadi katanya? Ia seperti mahluk gila? Bukankah selama ini ia memang suka berucap kasar?

Yeah, tapi ekspresimu berbeda. Kau terkesan… menakutkan.

Diamlah. Aku sedang berpikir.

Oh? Tentang apa? Si Tatsuya itu? Hei! Tidak usah kau pikirkan, langsung habisi saja!

Ia menghela nafas.

Baiklah, tapi kalau aku kalah, kau akan mati.

Hahahah, MATI? Kalau aku mati, berarti kau juga mati, bodoh!

Akashi tidak menggubris perkataan dirinya yang satu lagi. Tak ada gunanya ia berargumen dengannya dan hanya menghasilkan sebuah jawaban gantung yang takkan pernah terselesaikan karena tak ada yang mau mengalah. Lebih baik ia diamkan saja.

Matanya menyipit seraya jari-jarinya memberikan jarak lebih sempit agar tiga pisau di sela-sela jemarinya bisa lebih tertekan. Ia cuma perlu melempar pisau itu dengan lihai ke arah wajah atau badan Himuro. Umpamakanlah pisau itu menusuk matanya, maka Akashi akan dengan mudah menendangnya dan mungkin jika ia usil ia akan menginjak tubuh saingannya itu sampai hancur.

Kaki kanannya dimajukan sedikit—ancang-ancang untuk berlari. Iris dwiwarnanya sudah terfokuskan pada beberapa bagian vital Himuro. Ia menyadari jika ia hanya melempar, maka ditangkis dengan mudah oleh pedang lelaki tersebut. Dan hal ini sangat merepotkannya sehingga ia harus membuang tenaganya untuk berlari agar bisa mendekatinya.

Dan dalam hitungan detik—Akashi sudah berlari dengan cepat dan memfokuskan lemparan pisau pertama ke arah wajahnya—dan sesuai perkiraannya, Himuro dengan mudah menangkisnya sehingga pisau itu jatuh. Ketika ia sudah berada dua jengkal dari Himuro, ia langsung sedikit menurunkan badannya dan menendang kedua kaki lelaki itu sehingga dirinya oleng dan badannya menubruk keras permukaan lantai di bawahnya.

Belum sempat ia bangkit—Akashi sudah menusuk tangan kiri Himuro dengan pisau kecilnya— hal itu membuat lelaki bersurai hitam itu meringis kecil dan ia berbalik dan refleks mengayunkan pedangnya ke arah wajah Akashi, dirinya sontak melompat ke belakang.

Ia menggesekkan giginya seraya meraba permukaan kulit wajahnya yang tergores—rasanya perih dan sakit, tapi anehnya tak ada darah sama sekali. Karena merasa luka itu tidak fatal, Akashi kembali menyerang Himuro bertubi-tubi dengan pisau, tinju dan tendangan khas lelaki itu.

Suara berisik dan sedikit ngilu akibat hentakan pisau dan pedang yang bertemu yang serasa tak mau kalah itu sedikit menyakitkan telinga (Name) yang hanya bisa melihat mereka berkelahi. Kakinya ingin berlari untuk melerai mereka berdua tapi ikatan tali Himuro terlalu kuat sampai-sampai ada warna merah yang kini menghiasi kulitnya. Dirinya ingin menolong Akashi—tapi dalam hatinya ia juga tidak tahu apakah hal itu benar untuk dilakukan atau tidak.

Karena—ia sudah tahu semuanya dari Himuro… semuanya. Bahwa ia telah diincar oleh semua teman sekelasnya. Terutama Akashi yang diduga sebagai psikopat peringkat atas yang takkan memberi ampun pada korbannya.

Tapi ia tidak tahu… ia tidak tahu kenapa ia ingin menolong Akashi…

Kenapa?

"Hanya segitu kekuatanmu brengsek?" Sungguh—(Name) tidak mengira seorang yang dingin dan tenang seperti Akashi bisa berucap kasar seperti itu.

"Diam kau sampah. Aku hanya ingin membuktikan bahwa kau lebih lemah dariku dan kau takkan pernah menang lagi untuk kompetisi selanjutnya!" Keduanya tak ada yang mau mengalah—ujung senjata mereka saling berdekatan satu sama lain.

Serangan dua pisau Akashi tidak mudah ditangkis oleh Himuro; sementara Akashi begitu santainya menghindar dari ujung tajam senjatanya tersebut—dan terkadang menjepit pedang tersebut dengan kedua pisaunya, hanya dengan satu tangan.

Meskipun begitu, dibandingkan dengan Himuro, wajah Akashi terlihat sangat lelah. Terlihat dari bibirnya yang memucat dan tangan kanannya yang digunakan untuk melindungi tubuhnya dari serangan bertubi-tubi Himuro sudah terlihat uratnya. Keringat mengucur dari pelipisnya hingga ke lehernya. Nafasnya juga tersengal, tapi ia berusaha menutupinya.

Trang! Trang!

Hanya suara itulah yang memenuhi ruangan tiap menitnya. Keduanya saling menahan senjata yang ditunjukkan ke arah mereka. Himuro sepertinya sudah hampir ingin tumbang karena sejak tadi kakinya mundur selangkah; tak bisa menangkis berbagai serangan Akashi lagi.

Disamping itu…

(Name) terkesiap saat melihat tubuh Akashi yang hanya berlapiskan seragam sekolahnya tanpa jasnya itu sudah terobek sedikit demi sedikit—tapi bukan itu yang membuatnya kaget. Melainkan kulit pucat lelaki itu yang sudah tergores cukup banyak—dan dalam. Dalam benaknya, terlintas sebuah hal yang ganjil mengenai tubuh Akashi.

Tersayat seperti itu… ia menggigit bibir, … harusnya sudah berdarah kan?

Ia melihat dengan saksama kulit pemilik surai merah itu—dan tak ada apa-apa, hanya goresan saja! Ini aneh…

Tak ada darah sedikitpun… apa Akashi-kun tidak menyadarinya…?

Jika saja kain yang menyumpal mulutnya bisa terlepas, ia akan segera berteriak untuk menyadari Akashi yang terus bertarung tanpa perduli akan luka-luka di tubuhnya.

Irisnya kini berputar melihat ke arah Himuro yang terluka cukup banyak dan dia—tetap berdarah…

Tunggu… kenapa?

Pasti ada yang salah…

Atau jangan-jangan—

"AKH—" Lamunannya terbuyar saat mendengar dan melihat Akashi yang memuntahkan darah dari mulutnya—banyak. Cairan kental itu keluar ketika lelaki itu mulai terbatuk-batuk lagi. Ia menautkan kedua alisnya—kenapa darahnya baru muncul sekarang?

Di sisi lain, Akashi sedikit heran kenapa ia bisa muntah darah sebanyak itu. Padahal luka yang ada di tubuhnya hanyalah luka biasa—malah tak mengeluarkan darah sama sekali!

Pandangannya semakin memburam—bayangan samar-samar Himuro dan pemandangan bisa terlihat tak jelas dari matanya. Jantungnya berhenti berdetak sebentar—tunggu, ini…

Anemia?

Tapi ia tidak—

"Ah… Anemia ya?" Himuro yang berada cukup jauh dari Akashi mengayunkan pendangnya untuk main-main, "Ternyata kau tidak sepintar yang kukira ya, Akashi-kun…"

"Cih apa maksudm—" Belum sempat kalimatnya diucapkan, ia terbatuk lagi dan bercak darah memenuhi mulutnya sehingga ia harus duduk dengan satu kaki yang bertumpu dibawahnya dan mengelap cairan itu.

Himuro membuang pedangnya ke sembarang arah dan mengangkat bahunya sambil merelaksasikan tangannya—bertingkah seolah mengejek Akashi.

"Coba perhatikan baik-baik lukamu, Akashi-kun." Ada senyum yang terukir disana, "Lukamu itu cukup dalam—memangnya kau tidak merasa aneh karena dari tadi tidak mengeluarkan darah, hah?"

Akashi mengerjapkan matanya.

Uh-uh, dia benar. Kita daritadi tidak peduli dengan luka yang kita anggap kecil. Hey, dia cukup pintar.

Aku tidak minta pujianmu untuknya.

Aku tidak memujinya, bodoh.

Di sela argumentasi tersebut, Himuro memutuskan koneksi mereka dengan mulut terbuka sembari menjelaskan.

"Pedang ini—menembakkan tekanan cukup tinggi 20 megapascal, dan kau tahu apa artinya…?" Ia menyeringai, "Itu berarti sangat berlawanan dengan darah, bodoh! Tanpa kau sadari, tekanan itu menetralkan darahmu saat aku menyerangmu!" Ia lalu tertawa keras mengetahui letak kesalahan Akashi.

20 Megapascal…? Tekanan udara…?

Artinya, sifatnya sangat negatif dengan darah, lamban.

Aku juga tahu kalau sangat bertolak belakang, berisik.

Himuro masih tertawa di depan lelaki yang sekarang masih memuntahkan sedikit darah ke lantai suram dibawahnya. Ia sangat menikmati pemandangan dimana Akashi masih terduduk lemah dan bermandikan darah di mulutnya. Sebentar lagi Akashi pasti pingsan—tapi Himuro takkan membiarkan lelaki itu hanya pingsan. Ia harus mengakhirinya.

Sementara Akashi tengah mengatur nafasnya dan memikirkan sesuatu untuk bagaimana caranya agar bisa melawan pedang sialan tersebut.

Kalau begitu harus ada yang bisa melampaui ultrasonik—karena tekanan udara yang ditembakannya terlalu cepat.

Uh-huh, dan kalau ada yang bisa melebihi kecepatannya, maka udara takkan bisa menghindar kan? Daya tolaknya akan meningkat drastis dan menciptakan gelombang kejut.

Bodoh! Meskipun begitu, aku tetap tak bisa melawannya dengan melebihi kecepatannya.

Entah—uh, sial. Kenapa jadi buram sekali disini? Hei, kau sudah kehilangan berapa liter darah?!

Cukup banyak setelah bertarung dengan si bajingan itu—ditambah dengan darah yang keluar karena terbentur kepala gadis itu.

Astaga. Mati kau, sialan.

"Oi, oi, jangan pingsan dulu Akashi-kun, aku masih punya pertunjukan untukmu." Kepalanya terangkat dan matanya melebar sedikit saat melihat Himuro yang menghampiri (Name) dan membuka semua ikatannya sambil membisikkan sesuatu dan menyerahkan sebuah pistol ke tangannya.

Ia mengepalkan tangannya erat—jangan-jangan…

"Nah, (Name)-chan… kau lihat Akashi—ah, bukan. Psikopat kejam yang akan membunuhmu disana…?" Tubuh gadis itu bergetar dan mengangguk pelan, "Tembaklah dia, dear. Dengan begitu, bebanmu akan sedikit berkurang, eh?"

Kepalannya semakin mengerat ketika ia sadar bahwa Himuro sudah memberitahukan semua rencana mereka ke (Name), dan beraninya ia menyuruh gadis itu untuk membunuhnya?! Sialan! Jadi ini rencananya?!

Awalnya (Name) tidak menatap Akashi untuk beberapa lama—dirinya terus dipengaruhi oleh Himuro, kalimat yang sebenarnya memang fakta tapi tidak usah dijabarkan satu persatu kejahatannya pada gadis itu kan? (Name) terus mengerjapkan mata untuk beberapa kali dan mengangguk lemah. Ck, Akashi harus memikirkan sesuatu atau tidak—

Tiba-tiba gadis kecil itu berbalik ke arah Akashi dan menatapnya. Tatapannya kosong—seolah berharap Akashi bisa mengerti keadaanya. Mengerti? Jangan bercanda! Apa-apaan gadis itu sudah mengisi peluru ke pistolnya itu dan memfokuskannya ke arah kepalanya? Siala—

Kaki gadis itu terlihat linglung, seperti ragu untuk berbalik ke arahnya—namun—

Ia tersenyum.

"Gomen ne, Akashi-kun…"

—Dan dengan kalimat terakhirnya itu, sebuah benda tajam langsung menusuk badannya dengan cepat.


oOo [ Rebirthia ] oOo


"Ah, Mine-chin."

Nada malas Murasakibara tidak terdengar aneh maupun asing di telinga Aomine yang kebetulan berpapasan dengannya di luar ruangan.

"Apa yang kau lakukan disini?"

"Harusnya aku yang tanya itu padamu—hei, mana Himuro?" Tanya Aomine basa-basi karena rasanya janggal jika tidak melihat Himuro yang biasanya bersama dengan lelaki bertubuh raksasa ini.

Sebelum menjawab, ia memakan Maiubou dan menimbulkan suara cukup berisik, "Mine-chin tidak tahu? Muro-chin kan sedang membunuh Akashi-chin."

"Oh… begi—APA?!" Mata lelaki berkulit tan itu terbelalak lebar, "Kau bercanda?!"

"Tidak. Tapi aku tidak tahu dia menang atau tidak—dia belum kembali dari satu jam yang lalu." Balasnya sambil mengunyah lagi.

"Memangnya kenapa si Himuro itu ingin membunuh Akashi? Targetnya kan—"

"Muro-chin tidak ingin punya saingan lagi seperti Akashi-chin—soalnya dia pernah kalah waktu permainan dua tahun lalu."

Aomine melipat tangannya dan menganggukkan kepalanya berkali-kali, berusaha menyimak apa yang dikatakan oleh Murasakibara.

"Ah tapi—" Bola matanya berputar ke lelaki bersurai ungu di depannya, "Kalau begitu… ia melanggar peraturan kan?"

"Mm, tapi katanya Muro-chin bisa menyembunyikannya."

"Haah? Tidak mungkin! Kau tahu si Judgment sialan itu seperti apa kan?"

Murasakibara berhenti memakan makanan kesukaannya itu setelah mendengar perkataan Aomine—mengingat siapa lelaki yang dimaksud olehnya.

Ia lalu membuang bungkus berwarna kuning itu ke tempat sampah di belakangnya, "Entahlah. Mungkin dia ketahuan."

"Heh! Kau ini berharap dia itu menang atau kalah, hah?" Sahutnya sembari mendecih.

Lelaki itu terdiam.

Ia bergumam, "Bukankah semakin banyak yang kalah, saingannya semakin sedikit?"

"Hoo, kupikir kau ini temannya…?"

Murasakibara sempat tidak meperdulikan ejekan Aomine dan melangkah kembali menuju kamarnya, namun ia tetap menjawabnya.

"Memangnya sejak kapan kita semua ini jadi teman?"

Aomine hanya mendengus.


oOo [ Rebirthia ] oOo


Himuro semakin tertawa keras saat melihat Tubuh Akashi yang mulai benar-benar oleng ke lantai sehingga menimbulkan bunyi yang cukup keras. Tangan kanannya kini mencengkram lengkung baju di dadanya yang sudah mulai memerah karena ada darah yang keluar lagi.

"Aku tidak menyangka—kau akan mati secepat itu! Ya ampun, kalkulasiku benar-benar sempurna!" Lelaki itu menyeringai lebih lebar dan menepuk bahu (Name) sambil membisikkan sebuah kalimat pujian sarkastik padanya.

Tapi hal itu tidak membuat dia bangga.

Tidak sama sekali.

Tatapannya masih kosong seperti tadi, tapi tak ada air mata yang keluar—ekspresinya sangat tidak terbaca.

"Hey, hey, ayolah! Harusnya kau berterima kasih padaku tahu!"

Dia diam bergeming.

"Hey jawab aku, (Name)-chan~" Bisiknya menggoda, "Lihatlah! Kau yang lemah seperti semut ternyata bisa menumbangkan seorang psikopat yang paling ditakuti seluruh orang! Hmm, mungkin aku harus memujimu, eh?"

Dia tidak berkata apa-apa, hanya menundukkan kepalanya ke bawah.

"Shock berat, huh?" Tukasnya pelan, "Terserahlah. Tapi aku ingin sedikit bermain dulu dengan tubuh—eh, mayat Akashi hm?"

Tak dibalasnya pernyataan Himuro tapi matanya memutar ke arah lelaki itu saat Himuro mengambil pedangnya dan berjalan menuju Akashi sambil tersenyum seperti seorang iblis yang baru saja menang dari peperangan.

Tap. Tap.

(Name) menggigit bibir—jantungnya berdebar keras kian sosok Himuro yang mulai dekat dengan Akashi.

Tap. Tap. Tap.

Ia menutup matanya; mencengkram erat-erat pistol yang digenggamnya. Hatinya diliputi rasa takut;bersalah; dan penasaran. Hatinya gemetar takut jika perbuatannya itu entah salah atau benar.

TAP.

Jantungnya bergema keras.

"Heh, aku tak mengira rencanaku berhasil dengan sukses." Senyum lebar mengiringi perkataannya dan decitan sepatunya yang sudah sampai di hadapan Akashi yang masih terduduk di lantai.

Himuro lalu mengangkat pedangnya, "Mungkin di tempat ini bakal ada pesta darah, ya kan… AKASHI-KUN?!"

Tak banyak omong lagi, dirinya menngayunkan pedang tajamnya dari belakang menuju kepala Akashi.

"MATI KAU AKA—"

SET!

Dua jari pucat Akashi yang entah bagaimana caranya menahan ujung pedang yang hampir saja menusuk kepalanya.

Pasang mata Himuro terbelalak melihat Akashi yang dengan mudah menahan ayunan pedangnya dengan dua jari tangannya.

Lagipula—bagaimana bisa?!

Akashi seharusnya sudah ma—

CRAT!

"AGH!"

Himuro berteriak histeris sesaat saat merasakan rasa tusuk yang luar biasa dari sebuah benda tajam yang tanpa ia sadari sudah menancap di kaki kirinya. Ia lalu menoleh ke bawah tubuhnya dan mendapati pisau Akashi yang menusuk kakinya hingga menembus kulit dan dagingnya.

Tunggu, tapi kenapa? Ia seharusnya pingsan karena Anemia—bukan! Ia seharusnya sudah mati karena ditembak (Name) kan?!

"Gomen Himuro-kun…"

Pandangan mata mereka kini beralih ke arah sosok gadis yang berbicara dengan nada lemah di belakang.

(Name) menurunkan pistolnya, "Aku memang menembak Akashi-kun—tapi bukan peluru yang kutembakkan…"

Lelaki yang terluka di bagian kakinya itu mengerjapkan matanya tak mengerti dan berteriak pelan, "Apa maksudmu?!"

Iris matanya tidak menatap Himuro yang berteriak padanya, tapi ia tetap menjawab dengan nada yang lemah. Ia lalu berdiri dan mengambil sesuatu dari saku roknya dan memperlihatkannya ke arah pemilik surai hitam tersebut.

"Itu—"

"Ya." (Name) kemudian menjelaskan, "Yang kutembakkan ke Akashi-kun tadi adalah suntikan berisi Ferrum ini. Saat aku mendengarkan penjelasanmu, aku ingat bahwa aku membawa barang ini dari UKS—dan aku mengganti pelurunya saat kamu sedang tidak memperhatikanku…"

"A—"

"Aku tak sengaja membaca tulisan tentang ini… ya. Ini seperti jarum akupuntur—sehingga butuh waktu beberapa menit agar mengalir di tubuh Akashi-kun."

Ia menelan ludah, begitu tidak menyangkan sosok gadis yang ia kira innocent dan cukup bodoh ternyata mempunyai startegi sendiri untuk mengalahkannya.

Dirinya menggertakkan gigi.

"Tapi kau salah besar membiarkan Akashi-kun hidup!" Sahutnya marah.

(Name) terdiam.

"Himuro-kun, kamu pasti punya alasan tersendiri untuk membunuh Akashi-kun kan? Tapi memangnya semuanya bakal terselesaikan kalau kamu membunuhnya?" Nadanya melembut, "Teman-teman pasti punya alasan kenapa mereka ingin mengikuti permainan itu—termasuk Akashi-kun."

Kekagetan singkat sempat tersirat di matanya—melihat sikap positiv gadis itu, bahkan pada orang yang hampir membunuhnya dan yang mau membunuhnya. Dari balik poni surai merahnya ia mengintip raut wajah gadis itu—tidak ada kebohongan.

Dia…

—Tulus memaafkannya?

(Name) sempat tersenyum tipis sebelum tubuhnya mulai jatuh dan Akashi segera menangkap tubuh gadis itu.


oOo [ Rebirthia ] oOo


Dingin.

Itulah yang pertama kali dirasakan Mayuzumi saat kakinya menapaki permukaan lantai berwarna hitam di depan gedung—kantornya. Ya, miliknya sendiri. Berusaha menghapus hawa yang menganggunya itu, ia mengangkat tangannya dan menyentuh keamanan yang berada di depan pintu tersebut. Dirinya lalu memasukkan kode rahasia sehingga pintu itu bisa terbuka.

Hawanya malah semakin menganggu lehernya karena suhu di dalam ternyata lebih dingin daripada di luar—namun hal itu tidak terpikirkan olehnya lagi saat melihat sepuluh orang di sisi kanan dan kirinya yang menyambutnya dengan pakaian serba jas hitam dan memberikan salam sopan padanya.

Mayuzumi hanya menganggukkan kepalanya dan berjalan melewati mereka dan menuju ruangannya—namun terhenti saat melihat sosok Kuroko Tetsuya tengah memandangnya tanpa tahu maksudnya apa dari sofa dekat meja tamu.

"Ada apa?"

"Hm. Hanya menyambut ketua, apa tidak boleh?" Ia tersenyum dibalik cangkir teh yang bertemu dengan bibirnya saat menyisipnya.

Ia menutup matanya tidak peduli, "Aku tidak punya waktu untuk mengobrol denganmu." Ia lalu melanjutkan langkahnya.

"Apa yang akan kau lakukan pada Himuro-kun?" Tanyanya langsung.

Langkahnya terhenti.

"Dia akan masuk penjara—tentu saja." Balasnya pelan.

"Boleh aku mengambil senjatanya?"

Lelaki bersurai abu-abu itu menghela nafas, "Bukankah hal itu memang sudah jadi kebiasaanmu?"

"Ah, ya. Tapi apa senjata itu cocok untuk membunuh target—ah bukan." Ia menyeringai, "—Adikmu, ketua?"

Ia sedikit tersenyum.

"Kau tahu benar bahwa dia tak akan mati hanya dengan pedang tolol itu, Tatsuya."

"Oh. Jadi ketua sudah menyadarinya?"

"Aku tidak mengerti apa maksudmu."

Asap putih transparan berbaur keluar dari mulut Kuroko setelah meminum teh hangatnya, dan menaruhnya kembali ke atas meja. Iris biru mudanya tidak menatap orang yang menjadi atasannya seperti biasanya.

"Adikmu sama denganku dan Kise-kun." Jelasnya singkat.

Ia mendecakkan lidah, "Virus itu benar-benar menyusahkan."

"Mungkin." Pernyataan itu membuat Mayuzumi merendahkan bahunya agar tidak terlalu pegal karena terlalu lama berdiri tegak, "Yah, dia takkan mati kecuali kalau tubuhnya hancur."

"Kalau begitu, hancurkan saja semuanya." Ia menggertakkan giginya, "Tubuhnya saja tidak cukup untuk menggantikan kematian orangtuaku, tahu."


oOo [ Rebirthia ] oOo


Akashi tidak memperdulikan seorang Himuro yang badannya kini tergeletak pingsan di ruangan hampa udara bekas tempat mereka bertarung. Ia tidak mau memikirkan tentang saingannya itu—karena sudah akan ada yang mengurusnya. Himuro bisa dikatakan melawan peraturan kedua di komunitas tersebut—sehingga ia akan segera masuk penjara dan takkan mendapatkan apapun. Ia akan dikeluarkan dari Black Class.

Dipunggungnya terasa berat karena ia menggendong (Name) yang pingsan dan belum sadarkan diri sampai sekarang. Yah, tidak berat amat sih—tubuh gadis itu bisa terbilang cukup kurus. Kedua tangan Akashi harus mengangkat kedua paha (Name) dan membuatnya bisa melihat beberapa luka sayat disana. Tidak banyak, tapi kadang ia penasaran apa masih ada luka di bagian tubuhnya yang lain? Tapi rasanya tidak mungkin ia membuka seragam gadis itu hanya untuk memeriksa tubuhnya.

Hey, itu bisa saja. Nanti saat sudah sampai kamarnya, buka saja.

Sejak kapan kau jadi mesum seperti itu?

Kau tahu, kita ini laki-laki. Kita normal. Kita masih punya hormon yang—

Justru karena itu aku tak mau melakukannya.

Karena kau takut tergoda, eh?

Ingin sekali ia meninju suara dari dalam dirinya itu—jika bisa. Lagipula ia bukan laki-laki sembarangan yang mempermainkan wanita manapun. Ia sudah sedikit terganggu dengan suara detak jantung (Name) yang terdengar seperti irama di punggungnya. Oke, lupakan kata-katanya tadi.

Hembusan nafas gadis itu di lehernya lah yang paling menganggu.

Terasa menggelitik—dan berbagai gerak-gerik kecil sambil menggumamkan sesuatu.

"Gomen… Mayu-nii…"

Akashi menghela nafas—gadis itu pasti sedang mengigau tentang kakaknya.

Bibirnya bergerak tak menentu dan hal ini menimbulkan sensasi aneh di bahunya—pegangan tangan mungil orang di belakangnya itu semakin mengerat.

"Gomen… Hontou ni gomenasai, Mayu-nii—" Akashi bertanya-tanya kenapa daritadi gadis itu mengigau meminta maaf pada kakaknya, "Aku tidak bermaksud… aku… kh…"

Suara lemahnya terdengar jelas di telinga lelaki itu—tapi sempat tidak dipikirkannya saat melihat mereka sudah mau sampai di depan penginapan. Mungkin tinggal beberapa langkah lagi sampai di gerbang.

Tapi gadis itu masih berbisik pelan.

"Aku… aku tidak bermaksud membuat ayah dan ibu celaka—kh, aku… Gomen…" Jemarinya mencengkram erat baju Akashi, "Kumohon Mayu-nii… maafkan aku… aku hanya ingin—"

Dia terdiam sebentar.

"—agar Mayu-nii masih mengakuiku sebagai keluarga Mayuzumi…"

Langkahnya terhenti.

Nafasnya tercekat.

Apa tadi katanya…?

Keluarga… Mayuzumi?

Mayuzumi…? Mayuzumi Chihiro—?

Ketua… nya?

"… hiks, Mayu-nii…"

Tidak… tidak mungkin—

Jadi selama ini… ketua…

"Entah kenapa ketua bersikap aneh saat memberikan perintah ini."

Ketua… ingin… anggota Black Class—membunuh adiknya sendiri?

.

.

.

[ to be continued ]


a/n : SHITSHITSHIT Apaan itu adegan bertarungnya nggak jelas banget wkwkk. Apalagi adegan terakhir -_-. Maaf ya saya kurang bisa bikin romance. Well, genre-nya udah masuk Sci-fi belum? Semoga udah ya, teehee. Tapi kayaknya deskripsinya kurang jelas ya?

Saya lagi miskin referensi buat genre Sci-fi, makanya jadi bikin si Himuro punya senjata kaya gitu. Ideitu diambil dari sumber Manga Deadman Wonderland dan beberapa film yang saya liat :D


[ reviews ]


E : Seperti yg saya bilang, reviews kalian dibalas sama Kise/Aomine/Akashi! Langsung mulai aja ya! *ngebut nonton Queen's Blade Rebellion*

Kise : HAI FAAANSKUUUU! *tebar cium* *muntah bareng* Sankyu yang udah review Chapter 2&3 dari cerita (nista) ini-ssu! Perkenalkan aku ini Kise—

Aomine : -TAN! KI-SETAN!

Kise : Hidoooi-ssu! *nangis bentar* Hiks, oke, kamu duluan aja Akashi-cchi!

Akashi : Hn.

Kise : Anuu, Akash-cchi… mulai duluan-ssu.

Akashi : Hn.

Kise : Akashi-cchi kamu yang bales review-nya duluan-ssu!

Akashi : …..

Kise : *Sigh* Oke, kalau gitu aku duluan ya-ssu. *Liat kotak reviews* Oke, reviewer pertama Chapter dua itu… Ruki-chan SukiSuki'ssu! HAI RUKI-CCHI! Makasih udah jadi reviewer pertama dan selalu review setiap chapter! Kok namamu kaya akhiran kalimatku sih-ssu? APA KITA INI JODOH?! /dilempar sendal

Akashi : *rolled his eyes* Hn. Selanjutnya ada Alois. T, wulan. irawan. 52, ABNORMALholic, dan PinKrystal. Terima kasih banyak sudah review lebih dulu *evil smile* Oh, iya, untuk Krystal-san, udah diputuskan nggak ada lemon kok. Lime? Mungkin… tergantung mood-ku dan—/dibekep Author yang lagi blushing/

Aomine : Lalu untuk—

Kise : Giliranmu belakangan Ahomine-cchi! Ini gara-gara kamu bikin aku kesel!

Aomine : Woi tung—

Kise : *smile* Thanks buat Hibari Misaki Cavallone, pingkan, saya siapa /aku juga nggak tahu-ssu XD/ dan mey. chan .5872682. Untuk informasi, Gomen (Name)-cchi bukan psikopat kaya aku-ssu. Karena kalau ceritanya kaya gitu… terlalu mainstream(?). Disini udah ketahuan kok Ketua-nya siapa XD

Akashi : Then, arigatou untuk Aoi Yukari & ImaginationFactory yang selalu me-review setiap chapter. Dan… uh… maaf Imagination-san, bunuh dengan cintaku itu maksudnya seperti apa? /Astaga Akashi Innocent/ /Akashi blushing/ G-Giliranmu, Daiki.

Aomine : *shouted* SORI LAGI NONTON QBR BARENG AUTHOR!

Akashi : *glares at Aomine* Okay, big thanks for Anya-san and nabmiles-san yang sudah mengingatkan Author-san cara penulisan yang benar. *smiles*

Kise : Sakamaki Tsuki-cchi juga makasih yah sudah review ^^. Lalu Guest-cchi(?), tolong Author-cchi jangan dibuat jadi bakso QAQ, nanti Fic2 lain dia yang ada akunya juga kagak dilanjut-ssu! *sobs*

Aomine : *dateng dengan nosebleed abis nonton QBR* O-Oke, giliranku… Sankyuu untuk Fisika-chan (Kenapa nama kamu Fisika?! Aku jadi inget nilaiku jeblok semua di bidang itu! /Aomine ditimpuk) Lalu SelenaAthene-chan, Akashi-nya kurang seram bagaimana? Lihat matanya saja sudah bikin aku merin— *Di deathglare Akashi* Uhm, maaf.

Akashi : Lalu ada almira. Maharani. 90, KitsuneSMP, dan Silvia-KI chan. Makasih udah review chapter 2/3 ya~ *smirk*

Aomine : Akashi, kalo senyum nggak usah dipaksain serem gitu.

Akashi : Apa maksudmu Daiki? Jadi aku nggak boleh senyum? /Ambil gunting/

Kise : *who cares about them lah* Arigatou KuroAmalia/Amel-cchi sudah bersedia review-ssu. Hmm, kata Author-cchi mungkin chapter depan bakal dimasukkin ke rated-M. Heheh, lalu Kitami Misaki-cchi, cerita ini memang dimodifikasiin sedikit/banyak(?)-ssu.

Aomine : Yup, dan terakhir, terima kasih banyak untuk KiruRieRei10 & Kintoki Kin. Semoga yang ujian dapet nilai bagus yaaa! (Jangan males sepertiku! /dhuag)

Akashi : Hm. Udah kan? Boleh aku pulang?

E : He? Mending temenin aku nonton QBR aja Akashi-kun! Kalo kamu nosebleed kaya Aomine, berarti kamu cowo normal!

Akashi : STFU.

E : Eh? Oke, oke. Jadi segitu dulu aja ya, Minna-san. Oh iya, maaf kalau balesan reviewnya nggak berurut, trus namanya ada yang salah, balesannya nggak mengenakan hati dan kalau ada yang namanya belum ditulis, tolong kasih tau saya! FYI, semua review nyemangatin saya kok! *cries*

Dan juga makasih udah yang Fav/Follow this story. Heheh, terakhir, boleh dikoreksi, un? XD

Salam manis,

E-cchi aka Euphoria