Wolf Girl and Black Prince
Chapter Three
— The beginning of a nightmare. —
.
.
Sehun duduk dengan santai menunggu busnya datang. Ia tidak bisa tidur semalaman memikirkan hal apa yang akan Kim Jongin lakukan padanya. Hal-hal menyeramkan muncul dan berputar-putar dipikiran Sehun. Salah apa dia dikehidupan sebelumnya sampai bisa bertemu dengan iblis macam Kim Jongin seperti ini?
"Sial sekali sih kau, Oh Sehun."
"Siapa yang sial?"
Suara ini sepertinya Sehun kenal. Suara... Park Chanyeol. Sehun mendongak, mendapati Chanyeol menyender pada motor besarnya. Cowok itu melambaikan tangannya ramah. Dan bersamaan dengan itu—jantung Sehun berdebar ga karuan.
Gadis itu beranjak dan mendekati Chanyeol. "Chan oppa sedang apa disini?"
"Apa aku tidak salah dengar?" Senyuman di bibir Chanyeol mengembang. "Kau memanggilku oppa? Benarkah? Astaga..."
( OH SEHUN KENAPA KAU BERBICARA TIDAK DIPIKIR LEBIH DAHULU SIH. (╥_╥) ) —Catatan Hati Seorang Sehun.
Sehun menggeleng—tentu saja rona merah muncul dari kedua pipinya yang mulus. "M-maksudku, tidak enak kalau aku memanggilmu langsung dengan nama. Lagipula kau kan lebih tua dariku.. ehm, maaf kalau kau keberatan op—ah, maksudku Chanyeol." Sehun menunduk, mencoba untuk menyembunyikan wajahnya yang sekarang malu setengah mati.
Kekehan terdengar dari mulut Chanyeol. Ia mengelus puncak kepala Sehun lalu mengacak rambut blonde sang gadis. "Kau tentu saja boleh memanggilku oppa. Aku senaaang sekali."
Rasanya Sehun ingin memeluk Yifan yang sukarela mendengar curhatannya kemarin malam. Chanyeol mengelus rambutnya... oh astaga... Jika bisa, Sehun tidak akan keramas seminggu ini.
"Omong-omong, sedang apa disini?"
"Kebetulan rumahku disekitar sini dan aku tidak sengaja melihatmu duduk menunggu bus. Mau berangkat bersama?" Chanyeol tersenyum.
Ah, permulaan hari yang sangat baik.
. . .
Belum jadi kekasih saja, Sehun sudah merasa se-special ini. Sifat Chanyeol asli persis sama seperti apa yang diceritakan Kyungsoo. Dan itu membuat Sehun makin lama makin jatuh pada pesona cowok yang ternyata adalah ketua tim basket—dan lagi-lagi Sehun tambah jatuh dalam pesonanya hanya dengan memikirkannya saja.
Zitao merasa ada yang tidak beres dengan gadis gila disebelahnya. Senyum-senyum sendiri, lalu tiba-tiba cekikikan. Bulu kuduk Zitao meremang setiap mendengar cekikikan itu.
"Ey, Sehun."
"Yaaa~"
Biasanya, Sehun tidak pernah menjawab panggilan Zitao seramah itu. "Kau gila ya?" tanya Zitao langsung. Cowok itu benar-benar bingung melihat Sehun seperti gadis yang sedang kasmaran—atau ia memang sedang kasmaran?
"Eh?" Mata Sehun membulat lalu sedetik kemudian ia cekikikan (lagi). "Aku ini waras Zitao~"
"Kau benar-benar sudah gila."
"Ish, Zitao! Hehehe."
Zitao menopang dagunya dan memperhatikan raut wajah Sehun. "Oh ya? Ada apa? Kau mendapatkan kupon gratis bubble tea setahun?"
Sehun menggeleng. "Lebih hebat lagi!"
Cowok berkantung mata tebal itu terlihat berpikir walaupun malas-malasan. Lumayan, daripada ia memperhatikan penjelasan guru tua di depan sana yang bahkan tidak peduli sekelilingnya yang sibuk sendiri. "Kau memenangkan lottre berhadiah miliyaran rupiah?"
"Seandainya."
"Aku menyerah. Sudah jawab aja kenapa kau bisa menjadi gila seperti ini."
Senyum lebar mengembang. "Pertama, aku tidak gila—kutekankan, aku tidak gila. Aku hanya terlalu senang!" Sehun mengacungkan jari telunjuknya dihadapan Zitao. "Kedua, Chanyeol notice me! Huhuhu, aku senang sekali, Zitao! Finally, senpai notice me." Sehun menaruh kepalanya diatas meja dan membuat suara seakan-akan ia menangis penuh kesenangan.
Zitao memutar bola matanya. "Hanya itu?"
Sehun berhenti membuat suara-suara aneh dan menatap Zitao bingung. "Memangnya apa lagi?"
"Tidak. Lupakan."
Mereka kembali sibuk dalam kegiatan masing-masing. Sehun masih senyum-senyum sementara Zitao mencoba untuk tetap terjaga namun tidak bisa dan akhirnya cowok itu tertidur dengan lelapnya (Sehun sempat bingung kenapa cowok sekebo Zitao punya kantung mata yang lumayan tebal—dan ternyata itu bawaan lahir.) Sebelum cowok itu tertidur, ia teringat sesuatu.
"Eh, Sehun." Sehun bergumam menanggapi panggilan Zitao. "Tadi aku ketemu Jongin, katanya kamu disuruh ke kelasnya pas istirahat nanti—" Wajah gadis itu tak lagi terhasi senyuman, ia membeku mendengar ucapan Zitao. "—dan jangan coba-coba kabur." Dan Zitao pun terlelap—terdengar dari suara 'ngorok'nya.
Mati.
. . .
Bukan Sehun namanya kalau ia menuruti suruhan Jongin. Dengan kekuatan ninja yang ia miliki—maklum, dulu ia sering bermain ninja-ninjaan dengan kakak laki-lakinya—gadis itu dengan cepat berlari ke pohon besar dihalaman belakang sekolah. Pohon yang pertama kali mempertemukannya dengan coret-pangeran hitam-coret Kim Jongin.
Sehun tidak mengerti, kenapa halaman belakang sekolah selalu sepi? Padahal menurut Sehun, halaman belakang SMA Seoul itu sangat nyaman. Ditambah ada kandang kelinci dipojok sana.
Setelah memanjat dan duduk diranting yang kuat, Sehun meminum jus kemasannya. Bahkan Sehun hampir tertidur menikmati angin sepoi-sepoi dari atas sana.
"Sunbae, aku menyukaimu."
HM?
"Aku—sejujurnya, memperhatikan sunbae selama ini. Sunbae tampan, baik, dan pintar. Sunbae adalah tipe idealku. Aku sangat menyukai sunbae."
Astaga. Sehun menghela nafas. Kenapa aku selalu terjebak dalam situasi 'pernyataan' cinta seperti ini sih, rutuk Sehun.
Suara tawa terdengar. Sehun merasa familiar dengan suara ini—entah, membuat Sehun kesal saja rasanya. "Tapi aku tidak menyukaimu. Kau bukan tipe idealku dan—oh ya, masuk kriteria saja tidak."
Deg.
Hanya satu nama yang langsung melewati ingatan Sehun. Ia tau siapa cowok yang seratus persen akan berkata nyelekit saat menolak pernyataan cinta cewek.
Kim Jongin.
Sehun menunduk—gotcha! Benar sekali tebakannya. Kim Jongin dan seorang gadis sedang berhadapan. Gadis yang Sehun tak tau namanya itu terlihat bergetar menahan tangis. Jujur, Sehun paling tidak bisa menangis dengan mudah namun ia juga tidak bisa melihat seseorang menangis karena hal mengesalkan seperti ini.
Dengan cepat dan akurat, Sehun loncat kebawah. Memisahkan jarak antara gadis berkacamata itu dengan Jongin yang kaget.
"Kim Jongin! Kau ini kenapa sih membuat para gadis menangis terus?!"
Bukannya meminta maaf, Jongin malah tersenyum meremehkan. "Lalu, apa urusannya denganmu, serigalaku?"
"YA!" Sehun berseru. Gadis yang berada dibelakangnya makin menunduk dan terdengar suara tangis pelan. "Hiks—ti-tidak a-apa. Sunbae, maafkan aku. Aku akan pergi sekarang," ucap gadis itu dengan sesegukan lalu berlari meninggalkan Sehun yang sekarang menatap benci Jongin.
Sehun tidak pernah habis pikir kenapa Jongin selalu sekejam itu menolak pernyataan cinta para gadis. "Kau ini, apa sih yang salah denganmu?! Berhenti membuat para gadis menangis!"
"Bicara apa kau pada majikanmu? Yang penting aku tidak membuatmu menangis kan."
"Aish—" Gadis berambut blonde itu mengepalkan tangannya bersiap untuk menonjok Jongin kapanpun ia meledak.
Melihat Sehun yang benar-benar serius, Jongin melancarkan senyum berbeda. "Baiklah. Aku akan menuruti keinginanmu—tidak membuat para gadis menangis. Tapi dengan syarat."
"APA?"
"Kau harus menuruti permintaanku kemarin. Hanya itu persyaratannya. Bagaimana?"
Ugh, sial. Sehun memang belum menjawab permintaan Jongin kemarin dan Jongin menagihnya sekarang. Apa yang harus Sehun jawab? Memang, ia tidak punya urusan dengan gadis-gadis yang Jongin tolak tapi bagaimanapun juga, Sehun tidak mau terlalu banyak korban penghinaan seperti ini. Ditambah lagi ia masih punya sesuatu yang memalukan ditangan Jongin.
"Jadi—bagaimana?"
Oke, Sehun... kau membuat pilihan yang besar sekarang. Sehun menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan.
"Baiklah."
. . .
"Aku... tidak pernah menyangka kalau kalian sangat dekat."
Baru beberapa menit pertama Sehun (terpaksa) menempel dengan Jongin, cobaan utama sudah datang. Siapa lagi kalau bukan Park Chanyeol? Mau ditaruh dimana muka Sehun.
"Hm? Tentu saja kami dekat. Sangat dekat malahan. Ya kan, Sehuna?" Jongin menatap kearahnya dengan raut wajah andalannya—raut wajah pantat teflon—membuat Sehun memutar bola matanya malas. "Ya, kami dekat."
Chanyeol memakan kentang gorengnya. "Tapi apa kalian yakin kalian tidak ada sesuatu gitu?"
"Tidak!" Sehun menjawab cepat dan lantang. Membuat Jongin serta Chanyeol (bahkan beberapa penghuni kantin ikut memperhatikannya) tersentak kaget. "Ma-maksudku kami hanya sebatas teman dekat kok... ya, ya.. sahabat."
Ketua tim basket itu tertawa kecil—dan Sehun bisa bersumpah itu adalah tawa paling tampan yang pernah ia liat asdfghjkl—lalu menepuk kedua kepala manusia di hadapannya. "Kalian terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang meminta restu pada ayah mempelai sang perempuan."
Jongin mendengus sementara wajah Sehun memerah menahan malu. Apa-apaan ia dengan Jongin? Hei Chanyeol, aku itu mengharapkanmu, bukan Jongin! Sehun mau tidak mau terkekeh tidak rela.
"Mohon maaf kepada bapak dan ibu guru yang sedang beristirahat, kepada seluruh anggota OSIS diharapkan berkumpul diruang OSIS sekarang juga. Untuk ketua OSIS diwajibkan untuk datang. Terima kasih!"
"Jong, dipanggil tuh." Chanyeol kembali mencomot kentang goreng (yang sebenarnya punya Jongin) dan mengingatkan Jongin yang menatap jus apelnya malas.
"Kau sajalah yang menggantikanku."
"Eeh? Aku kan bukan ketua OSIS apalagi anggota OSIS. Bisa-bisa aku dimarahi lagi kayak waktu itu. Aku dan Sehun akan menunggumu disi—"
Jongin beranjak dan menarik tangan Sehun agar mengikutinya. Sehun menatapnya bingung. "Kentang gorengku untukmu saja." Dan Jongin berjalan (dengan menarik Sehun) menuju ruang OSIS.
"H-hei—" Sehun berkali-kali mengibaskan tangannya agar dibebaskan namun percuma, genggaman tangan Jongin itu terlalu kencang. "Sakit, Jongin!" Sehun berseru, menahan dirinya untuk tidak berjalan mengikuti Jongin yang kini menghentikan langkahnya. Cowok itu mengendurkan genggaman tangannya dan kembali menarik Sehun agat kembali berjalan.
"Kau ini kenapa menarikku tiba-tiba sih!?" Sehun lagi-lagi berseru. "Jongin! Kau mau membawaku kemana?"
"Ruang OSIS." Jongin menjawab singkat.
Bisa dipastikan Sehun menganga sekarang. Ruang OSIS? ohtidakohtidakohtidak—KUBUR SEHUN SEKARANG JUGA! "Tapi, Jongin! Aku kan bukan anggota OSIS!"
Jongin berhenti dan menatap Sehun dengan tatapan malas. "Nah. Karena itu kau kurekrut menjadi anggota OSIS bagian 'Budak Khusus Ketua Kim Jongin'. Bagaimana?" Lagi-lagi rahang bawah Sehun jatuh untuk yang kedua kalinya. Jongin benar-benar— "Hitam menyebalkan!"
Sehun terus saja memberontak agar bisa kabur dari genggaman Jongin sementara sang ketua OSIS kembali mengeratkan pegangannya namun tak sekencang genggaman yang pertama.
"Jongin, demi apapun juga—Aku. Tidak. Mau. Ke. Ruang. OSIS." Sehun menekankan setiap kata-perkata.
"Say that again."
"Lepaskan aku!"
Senyum licik tertera diwajah Jongin. Ia berhenti untuk yang kedua kalinya dan kembali manatap Sehun. "Ikuti atau tape recorder memalukan itu kupastikan sudah didengar Chanyeol."
"HIYAAA!"
. . .
Sehun menghela nafasnya lelah. Jongin benar-benar serius akan ucapannya dengan 'Budak Khusus Ketua OSIS Kim Jongin'. Bayangkan, saat ia masuk ke ruangan OSIS, seluruh pasang mata menatapnya heran—walaupun beberapa memasang dengan tatapan menggoda, ew—dan dihadiahi beribu pertanyaan.
"Kau siapanya Jongin?"
"Jongin, cewek ini siapa? Pacarmu?"
"Cantik juga ya."
"Eh eh pssst psst, dia kan yang tadi pagi dateng bareng Chanyeol sunbae."
Sehun memutar bola matanya mendengar beberapa siswi sedang berbisik-bisik membicarakannya. Bisakah mereka bergossip dengan suara yang lebih kecil? Aku mendengarnya, hei.
Jongin hanya diam dan berdeham. Ia menyuruh Sehun untuk duduk dikursinya (yang otomatis adalah kursi utama) sementara ia sendiri berdiri. "Ini Oh Sehun, kelas sebelas lima. Ia volunteer untuk festival nanti. Jika kalian ingin menyuruhnya; izin dulu padaku. Ada yang keberatan?" Jongin menepuk-nepuk pundaknya. Rasanya Sehun ingin terjun saja mendengar Jongin berbicara seperti itu. Seketika semua mulut bungkam.
( UGH MAMAAA AKU MAU PULANG. ) —Catatan Hati Seorang Sehun. (2)
"Kalau tidak ada mari kita lanjutkan. Park Taejun akan menjelaskan tentang festival sekolah tahun ini."
Park Taejun—Wakil Ketua OSIS—berkacamata itu berdiri. Ditangannya menggenggam dua lembar kertas. Sehun mencolok pinggang Jongin dan mengkodekan agar Sehun bisa membisikkan sesuatu.
"Hei, kau tidak mau duduk?"
Jongin menyeringai. "Boleh. Aku duduk dipangkuanmu ya?"
"Eeeh?" Sehun buru-buru menutup mulutnya. Ia langsung mencubit pinggang Jongin. "Byuntae!"
"Sudah, dengarkan dulu penjelasan festival sekolah tahun ini. Kau kan mau tidak mau akan turut membantu juga nanti."
Sehun merengut. Jongin kembali menegakkan badannya dan mengambil bangku dipojok ruangan lalu menempatinya tepat disebelah Sehun—agak menyerong sedikit. Dan Sehun sadar setelah sedikit melirik ke arah Jongin yang diam mendengarkan; Jongin yang serius itu berbeda dengan Jongin yang selama ini ia lihat. Lebih... lebih gimanaaa gitu kesannya.
(Bukan berarti Sehun mulai menyukai Jongin, ya.)
"—tema kali ini Wonderland. Waktunya dari pukul delapan pagi sampai jam delapan malam. Ditutup dengan fireworks. Sedangkan OSIS harus stay disekolah dari pagi sampai—"
Sebuah tangan terangkat menginterupsi. "Kita kapan kerja bakti?"
"Besoknya kerja bakti! Berkumpul disekolah pukul tujuh pagi!" Salah satu suara menambah usulan.
Taejun melirik Jongin. "Menurut ketua?"
Jongin mengangguk-angguk. Ia malah meminta pendapat Sehun. "Kau bisa ikut kan, Hun?"
"Eh?" Sehun mengerjapkan matanya—ia bengong sedaritadi entah memikirkan apa. "Ya... ya... bisa." Jongin mengacungkan jempolnya ke Taejun. Membuat beberapa tukang gossip kembali berbisik-bisik.
"Baiklah. Kita setujui yang itu. Lalu—blablabla," Sumpah, Sehun tak lagi memperhatikan apa yang dijelaskan Park Taejun dan malah berjuang menahan kantuk. Baru saja Sehun akan benar-benar jatuh terlelap, ucapan Jongin yang menanggapi penjelasan Taejun membuatmya kembali terjaga.
"Aku dan Sehun yang akan mendekorasi aula."
. . .
Baru saja tadi Sehun senyum-senyum layaknya orang gila, sekarang gadis itu berubah menjadi pembunuh yang akan membunuh siapa saja yang mengganggunya. Terutama Zitao yang sudah terkena lemparan penghapus untuk yang kedua kalinya.
"Tadi pelempar senyum, sekarang jadi pelempar penghapus. Kau ini kenapa sih?" Zitao menyampirkan tasnya kebahunya dan berjalan beriringan keluar kelas bersama Sehun. Ia dan Sehun memang sudah janji akan mampir kesalah satu kedai bubble tea untuk menukarkan kupon gratis beli dua bulan yang diberikan Jimin serta Mino.
"Aku benci Kim Jongin."
"Uh-huh."
Sehun menghela nafas. "Sudahlah, lupakan saja. Yang penting sekarang kita jajan bubble tea sepuasnya!" Zitao terkekeh melihat tingkah kekanak-kanakan Sehun.
Tiba-tiba saja gadis dengan rambut blonde itu menghentikan langkahnya dan juga langkah Zitao. "Ada apa sih—"
"Pindah haluan, kapten Zitao! Musuh sedang berdiri sekitar 300 meter di depan kita!" Sehun menarik Zitao untuk mengganti jalur mereka keluar sekolah. Zitao menganga tidak mengerti. "Jongin berada di jalur satu. Kita harus keluar lewat jalur dua!"
"Apa-apaan ini... memangnya kau bajak laut?"
"Aku ini titisannya Gold D. Roger, kau tau tidak? Tokoh bajak laut yang paling keren menurutku."
Zitao menahan tawanya agar tidak menyembur. Sebenarnya apa yang ada di dalam otak Sehun sih. "One Piece?"
"Yeah! Hahaha."
Mereka berjalan sambil bersenda gurau. Lebih tepatnya Sehun selalu menggoda Zitao dan dibalas jawaban singkat dan datar. Tapi entah kenapa mereka itu klop. Omongan mereka pun nyambung-nyambung aja walaupun Sehun suka membawa topik yang tak penting tapi Zitao tetap saja meladeninya.
Kling. Kling.
Sehun mendorong pintu kedai bubble tea yang minimalis namun tak pernah sepi pengunjung. "Aku Hazelnut Chocolate Milk Tea dengan tambahan pearl dan pudding! Kau, Zitao?" Sehun menyerahkan kupon pemberian Jimin dan Mino pada penjaga kasir. "Samain sajalah, aku tidak tau mana yang enak."
Setelah mendapat bubble tea mereka masing-masing, Sehun berencana untuk mengajak Zitao ke game center sampai seonggok manusia mengganggu pemandangannya. Seonggok manusia itu sedang berjalan kearah mereka sembari menggenggam segelas latté di tangannya.
Kim Jongin?!
Ugh, tiba-tiba saja pearl yang berada di minuman Sehun nyangkut ditenggorokan.
. . .
Jam menunjukkan pukul lima sore dan Sehun berjalan kembali ke sekolah dengan menenteng banyak tas belanjaan. Sebenarnya festival akan dilaksanakan sebulan lagi dan Sehun pun tau kalau mereka harus dengan cepat mengerjakannya tapi—Sehun kan dipaksa, bukan keinginan sendiri! Tapi kenapa ia sekarang harus merelakan waktunya untuk membantu Jongin membeli barang-barang yang diperlukan dan menyiapkannya di aula untuk dikerjakan besok? Hei, Ibu nya bisa khawatir kalau anak gadisnya belum pulang juga (Sehun hanya mencari alibi, fyi.)
"Jongin, ayo pulang. Sudah jam lima sore nih."
"Tunggu sebentar. Aku harus memastikan semuanya ada."
Selain diktator, ternyata Kim Jongin itu perfeksionis.
"Ish." Sehun mendudukkan dirinya disalah satu bangku yang berada di dalam aula. Lelah rasanya berjalan-jalan mengitari sepuluh toko.
Merasa Jongin masih lama mengatur apa yang akan didekorasi, Sehun iseng mengirim pesan ke Zitao.
Oh Sehun [17.03 kst] oh mister zitao pls save me from a demon. Q_Q
Zitao Huang [17.05 kst] Hah? Siapa?
Oh Sehun [17.05 kst] ampe niat bls 'yg nanya' aku pites kau.
Zitao Huang [17.06 kst] Suudzon ye.
Zitao Huang [17.06 kst] Seriusan, siapa?
Zitao Huang [17.07 kst] Bkn berarti aku peduli padamu ya. Jangan ge-er.
Oh Sehun [17.08 kst] HAHA. dasar tsundere.
Oh Sehun [17.08 kst] kim jongin lah siapa lg.
Butuh waktu beberapa menit sampai Zitao membalas pesannya.
Zitao Huang [17.15 kst] Udh takdir, kali. Jalanin aja.
"Ayo pulang." Jongin berdiri di depan Sehun yang sekarang mendongak. Gadis itu beranjak dan mereka berjalan beriringan keluar gerbang sekolah tanpa ada yang memulai pembicaraan sama sekali. Sehun terlalu malas untuk mengajak Jongin berbicara.
(terlalu malas.)
(Sejujurnya Sehun tidak tau apa yang mau dibicarakan.)
Rasanya awkward. Entah kenapa.
"Eum—Jongin, aku tunggu bus disini ya. Bye—"
Tiba-tiba sebuah limousine berwarna putih (yes, a limousine yang Sehun biasa lihat di film-film menceritakan tentang keluarga high class milik Yifan) berhenti tepat di depan mereka. "Ayo masuk," Jongin membuka pintu penumpang, mempersilahkan Sehun untuk masuk lebih dulu layaknya seorang gentleman.
Kalau bisa, rahang Sehun sudah menyentuh tanah sekarang. "H-hah—"
"Masuk buruan, udah mau malem nih. Tadi ngedumel mau pulang cepet."
"T-tapi ini—mobilmu? Kau yakin tidak salah mobil? Omaigad."
"Ya, ya, menurutmu saja. Cepatlah! Aku juga mau pulang."
Selain diktator dan perfeksionis, ternyata Kim Jongin juga seorang Tuan Muda.
Dan Sehun?
"Da aing teh rempahan rempeyek pun bukan."
. . .
Kim Jongin [20.04 kst] besok kita berangkat bersama.
Sehun membulatkan matanya. Ada setan apa yang merasuki Jongin? Dan, memangnya Jongin tau dimana rumah Sehun berada? Sehun melupakan acara mari-mengeringkan-rambut dan membalas pesan Jongin dengan cepat.
Oh Sehun [20.06 kst] apa-apaan?
Kim Jongin [20.08 kst] tidak ada protes.
"Dasar diktator!" Sehun melempar ponselnya keatas kasur dan kembali mengeringkan rambutnya. Gadis itu menyalakan televisi kecil dan juga playstationnya. Ia meraih stick ps-nya dengan kesal. Mungkin Tekken 5 bisa meredakan kekesalannya yang siap meledak-ledak kapan saja.
Sehun mengacuhkan ponselnya yang kembali bergetar.
. . .
"Sehunna! Ayo bangun, nak."
Sehun mengerang kesal. Tidak seperti biasa Ibunya membangunkannya sepagi ini. Matanya melirik kearah jam dinding yang kini menunjukkan pukul 6—demi apapun, jam 6 pagi!
"Oh Sehun!"
"Ya, Bu!"
Dengan amat terpaksa, Sehun beranjak dari kekasih hatinya (re: kasur) dan berjalan keluar kamarnya. Ibunya masih berdiri di depan kamarnya. "Ada apa sih, Bu? Kan masih jam enam..." Sehun ngedumel sembari melewati Ibunya yang kini berjalan menuju tangga untuk ke bawah.
"Ada temanmu tuh dibawah. Cepat mandi—"
Gadis yang masih setengah tersadar itu melotot. Siapa yang datang sepagi ini? Dengan langkah kilat Sehun mendahului Ibunya yang menasehatinya agar tidak berlari-lari dan membersihkan ilernya lebih dulu. Sehun menghiraukannya dan berlari mejuju ruang tamu.
—Jongin sedang duduk disofa rumahnya dengan antengnya.
"K-kau ngapain disini?"
Senyum (setan) terpatri diwajah sang cowok. "Menjemputmu. Mandi sana, ilermu masih menempel begitu."
Wajah Sehun memerah menahan malu—ia langsung mengusap tepi bibirnya dan memang ada iler yang sudah mengering disana. Maklum, ia bermimpi makan ayam sepuasnya tadi malam. "Aku mandi!" Dengan langkah lebar-lebar, Sehun melangkah meninggalkan Jongin yang senyam-senyum ga jelas.
(Jongin suka melihat wajah bangun tidur Sehun.)
(Suka.)
(Berterima kasih lah Kim Jongin, aku sudah mem-bold, italic, dan underline kalimat spontanmu itu.)
"Lucu sekali." gumam Jongin dan detik berikutnya ia tersadar. "Astaga, apa yang kupikirkan?" Cowok dengan rambut hitam kecoklatan itu mengacak surainya. Kenapa tiba-tiba ia jadi aneh begini? Dan apa yang ia pikirkan tadi?
"BUUU, SERAGAM SEHUN DIMANA?"
"COBA CARI DI KAMAR PAKAIAN—" Ibu Sehun melewati Jongin yang dengan sopan langsung bangkit dan membungkuk sopan. "—uh, maaf ya Jongin, Sehun memang seperti itu."
Jongin tersenyum kikuk. "Tidak apa-apa, ahjumma."
"Sarapan dulu disini ya, nanti baru berangkat habis sarapan." ajak Ibu Sehun ramah. Berbeda seratus derajat dengan anaknya yang begajulan dan keras kepala. "Tante udah buatin omelette, gapapa kan?"
"Iya ahjumma, maaf aku jadi ngerepotin."
Tiba-tiba sebuah suara menyeletuk tajam. "Tumben sopan biasanya beuh." Sehun sudah rapih dengan seragam dan tas yang menyampir dibahunya. Sebuah cubitan dipinggang di dapatkan gadis itu dari sang Ibu tercinta.
"Aw! Ibu—!"
Ibunya menatap tajam. "Ajak Jongin sarapan diruang makan. Ibu mau merapihkan kamar dulu."
"Ngapain ngajak si hitam ini sarapa—" Sehun meneguk salivanya kasar setelah mendapat tatapan tajam sang Ibu. "—iya, iya. Ayo ikut aku." Sehuh (terpaksa) mengajak Jongin ke ruang makan.
Kedua anak adam itu sarapan dalam diam. Sampai Sehun membuka suara. "Kenapa kau datang sepagi ini sih?"
"Suka-suka. Lagipula Ibu mu tidak keberatan, tuh."
Sehun menghela nafas. Sabar, Hun. Orang sabar rejekinya lancar cepet dapet pacar. "Tsk. Cepat habiskan sarapanmu, kita berangkat." Gadis itu beranjak—diikuti Jongin yang sarapannya memang sudah habis.
"Bu, Sehun dan Jongin berangkat! Sehun sayaaang Ibu!"
. . .
Sehun baru sadar kalau ternyata Jongin itu benar-benar 'pangeran' sekolah.
Bukan, bukan karena ketampanannya—karena dimata Sehun hanya Chanyeol yang paling tampan heuheu—tapi karena semenjak masuk gerbang sekolah, Jongin selalu kedatangan gadis-gadis yang menamai mereka Black Prince Fans Club—disingkat BPFC.
"Alay."
Jongin mengangkat sebelah alisnya. "Siapa?"
"Kau." Lengan kanan Jongin mencekik leher Sehun sekarang—tapi malah jadi terlihat seperti Jongin yang merangkul Sehun. "Yak! Lepaskan Jongin! Aku bisa dibunuh fansclub hyena mu itu!" Sehun mencoba melepaskan lengan Jongin karena rasanya ia sedang dikuliti dengan tatapan para gadis BPFC itu.
"Oh ya? Tidak akan, kan ada aku." Jongin mengacak surai blonde milik sang gadis yang sekarang mengerang protes.
"Najeees. Udah ah, lepas—"
"Jongin? Sehun?"
Sehun mengangkat kepalanya melihat orang yang memanggilnya—begitu pula dengan Jongin. Chanyeol berdiri disana, menatap mereka dengan tatapan yang menurut Sehun... aneh. Entah, Sehun tidak merasa keceriaan yang biasa Chanyeol pancarkan.
"Pagi, Chanyeol!" Sehun menepis lengan Jongin dilehernya. Jongin dan Sehun malah terlihat seperti kedua sejoli yang ketauan selingkuh oleh kekasih sang gadis.
Chanyeol tersenyum. "Pagi. Kalian berangkat bersama?"
"Ya." Jongin menjawab singkat.
"Oh begitu." Senyum apa itu? Sehun membatin saat melihat senyum Chanyeol yang benar-benar berbeda. "Well, sedikit lagi bel berbunyi. Ayo ke kelas."
Mereka bertiga pun berpisah haluan—Jongin dan Chanyeol ke kelas dua belas sementara Sehun ke kelas sebelas. Sehun berjalan dengan lesu. Ia merogoh ponselnya yang semenjak kemarin malam ia acuhkan.
'Huh? Dua pesan masuk?'
Sehun membuka dua pesan yang berbeda waktu pengirimannya namun dikirim dari nomor yang sama.
Park Chanyeol [20.10 kst] Apa kau sudah tidur? Besok ayo berangkat bersama, aku akan menjemputmu :D
Omaigat?! Kenapa Sehun baru membaca pesan itu sekarang? Itu pesan kemarin malam!
Park Chanyeol [06.31 kst] Sehun, kau belum berangkat kan? Aku akan berangkat ke rumahmu. Ciao~
Dan Sehun bersumpah dalam hati,
Ia tidak akan lagi mengacuhkan pesan yang masuk kedalam ponselnya.
. . .
Mungkin memang benar, bukan hal yang baik berdekatan dengan Kim Jongin menurut Sehun.
Kenapa?
'Kenapa' kalian tanya?
Coba saja kalian bayangkan, hampir seluruh siswi-siswi di sekolahnya sekarang berbisik tentangnya. Menatapnya tajam dan sedikit mencibir padanya. Sehun memang orang yang tidak perduli akan hal itu—tapi, hei, ini semua demi kalian agar tidak menjadi korban selanjutnya si Hitam Menyebalkan itu!
Sehun merenggangkan tubuhnya. Membawa buku seberat itu oleh Kang seonsaengnim melelahkan juga ternyata. Ya, salahnya juga sih karena dengan sengaja menaruh permen karet dibangku guru—tapi siapa yang tidak kesal kalau guru menyebalkan itu selalu mengomentari rambutnya?! Hah! Rambut blonde Sehun ini asli, tau!
BRUK
"Jalan pakai mata!"
Sehun mengaduh kesakitan. Ia mendongak—mendapati dua siswi dengan dasi bergaris tiga berkacak pinggang melihatnya. Gadis bersurai blonde itu beranjak dan membersihkan roknya dari debu. "Mian, sunbaenim." ucapnya sopan dan berjalan meninggalkan kedua gadis dengan rambut yang diwarnai itu. Ia tidak mau cari perkara.
"Eh—tunggu kau!" Sehun berhenti dan membalikkan tubuhnya, menatap kedua kakak kelasnya yang balik menatapnya dengan angkuh. "Kau Oh Sehun, kan?"
Gadis bersurai blonde itu mengangguk. "Ya, sunbaenim."
"Bagus, ayo ikut kami!"
Sehun tidak mengerti namun ia juga tidak ada pemikiran untuk menolak. Sedetik kemudian ia ditarik ke belakang gedung sekolah—dekat dengan gedung tua. Disana ada seorang gadis dengan rambut yang diombre. Ketua geng mereka mungkin?
"Seulgi-ya, tebak kami membawa siapa!"
Siswi ombre yang dipanggil Seulgi itu menatap malas. Namun ketika tatapannya bertemu dengan Sehun, tatapan benci menguar dari sana. Iris kecoklatan itu membaca nametag Sehun.
"Kau yang bernama Oh Sehun?"
"Ya, itu aku."
Tubuh Sehun di dorong hingga terjatuh menghadap Seulgi. Sial. Tiba-tiba saja rambutnya dijambak dengan kasarnya. Memaksa Sehun untuk berhadapan dengan Seulgi yang menatapnya penuh benci. Sehun merintih kesakitan. Ia rasa, beberapa helai rambutnya rontok sekarang karena jambakan yang cukup kuat itu.
"Dasar perempuan jalang!"
Apa?
"Berhenti mendekati Jongin-ku, jalang!"
Iris Sehun kini menatap Seulgi tak kalah tajam. Ia mengerti sekarang. Senyum terlihat dibibir plumnya. "Apa maksudnya, sunbaenim? Dan maaf, aku bukan jalang seperti yang sunbaenim katakan. Bahkan kita baru bertemu hari ini, sunbaenim."
Jambakan dirambut Sehun menguat, membuat gadis itu semakin merintih kesakitan.
"Berani-beraninya kau. Jongin itu milikku, dan seluruh sekolah tau itu!"
"Kalau begitu," Sehun tidak akan pernah kalah dalam hal seperti ini walaupun rasa sakit di kepalanya sangat terasa dan membuatnya ingin mentojos Seulgi tak peduli ia kakak kelas atau siapa. "Tolong jaga milikmu dengan baik, Seulgi sunbaenim."
Wajah putih Seulgi memerah menahan marah dan malu. Kedua sahabatnya dibelakang Sehun pun ikut marah dan bersiap untuk membully Sehun kapanpun Seulgi menyuruh. "Sialan!" Sehun menutup matanya saat tangan Seulgi terayun menuju pipinya.
—namun ia tak merasa ada tamparan, malah jambakan dirambutnya mengendur.
"Hentikan, Seulgi."
Sehun membuka matanya. Ia hampir menangis mendapati Chanyeol yang kini menahan tangan Seulgi yang bersiap akan menampar dirinya. Seulgi melepas jambakannya dari surai blonde Sehun.
"Jangan menghentikanku untuk menampar anak ini, Park Chanyeol!"
Chanyeol melepas tangan Seulgi. "Aku tetap akan menghentikanmu karena Sehun sudah kuanggap sebagai adikku." Ketua tim basket itu membantu Sehun untuk berdiri. Ia bahkan memeluk pundak Sehun yang kini masih merintih karena kulit kepalanya teramat sakit.
Seulgi berdecih. "Sial—"
"Kau tidak mau hal ini kulaporkan ke Jongin, kan?"
Lagi-lagi Seulgi berdecih, ia mengajak ke dua anak buahnya meninggalkan Chanyeol dan Sehun. "Awas saja kalau sampai kau mengadukan hal ini pada Jongin! Perempuan jalang itu benar-benar akan kuhabisi! Lihat saja, Oh Sehun!"
Sehun meringis. Gadis bernama Seulgi itu benar-benar menyeramkan.
Tersadar, Chanyeol melepas pelukannya dari pundak Sehun dan menatap sang gadis khawatir. "Kau tidak apa-apa, Sehun?" Sehun menggeleng. Ia tersenyum kalem. "Tidak apa-apa, hanya saja rambutku agak sakit. Terima kasih, Chanyeol."
Chanyeol tersenyum senang. Ia mengelus surai Sehun yang ia sukai. "Maaf. Jika saja aku datang telat—"
"Tidak, Chanyeol! Seharusnya aku yang minta maaf." Sehun menunduk, ia teringat akan pesan Chanyeol yang mengajaknya untuk berangkat bersama. Cowok bertelinga caplang itu menatapnya bingung.
"Minta maaf untuk?"
"I-itu... k-kau mengajakku berangkat bersama t-tapi..."
"Ah!" Chanyeol memotong dan menepuk pundak Sehun. "Tidak usah dipikirkan, lagipula aku tidak tau kalau kau ternyata berangkat lebih dulu dengan Jongin." Cowok itu kini malah mengacak surai Sehun—dibalas erangan protes sang gadis. "Aku datang dan disambut hangat oleh Ibu mu. Tapi setelah tau kalau kau sudah berangkat ke sekolah lebih dulu, aku jadi malu sekali. Hahaha, akhirnya aku berangkat sendiri deh."
Sehun ikut tertawa. Bersama Chanyeol membuatnya nyaman. Cowok bermarga Park itu menatap Sehun dan memberikan senyum lima jarinya. "Hm, daripada itu... nanti mau pulang bersama?"
"Tentu!"
Tanpa disadari, seseorang yang sedari tadi tanpa sengaja melihat adegan itu dari awal berdecak kesal.
Seandainya saja kalau ia datang lebih awal.
. . .
"Kau ini kenapa sih?"
Jongin menatap Sehun yang menjaga jaraknya kurang dari lima meter dari tempatnya. Sehun mendelik ketika Jongin malah mendejati dirinya—membuat gadis itu kembali menjauh.
"Berhenti, Jongin! Jangan mendekat lebih dekat lagi!"
"Hah?" Jongin mengangkat sebelah alisnya bingung. Memangnya dia ini apa? Virus berbahaya? Flu burung? Bakteri mematikan? Enak saja. "Sebenarnya kau ini kenapa sih? Jawab aku!"
Sehun memutar bola matanya malas. "Pokoknya jangan dekat-dekat!"
Sekarang Jongin-lah yang memutar bola matanya. "Apa ini masalah Seulgi?" tebak Jongin asal-asalan namun berefek pada Sehun yang kini menegang mendengar nama gadis yang menyebabkan rambutnya rontok beberapa.
"A-apa? Siapa?"
"Seulgi."
Gadis berambut blonde itu terdiam dan melanjutkan pekerjaannya yang kini menempelkan tali yang satu ke yang lainnya. Jongin menghela nafas.
"Aku minta maaf atas kelakuan Seulgi padamu tadi. Tenang saja, aku sudah memperingatinya agar tidak melakukannya lagi."
Diam.
"Seulgi itu—ya kau taulah, salah satu dari gadis yang kutolak. Jadi.."
Helaan nafas keluar dari bibir Sehun. "Ya, aku sudah tak memikirkannya kok."
"Apa... sakit?" Jongin mengangkat tangannya, mencoba mengelus kepala Sehun yang bekas dijambak itu namun langsung ditepis oleh sang empunya rambut.
"Tidak. Tidak apa-apa."
Namun bukan Jongin kalau ia menyerah begitu saja, cowok itu langsung mengacak surai blonde Sehun gemas. "Sekali lagi, aku minta maaf."
Sehun bergumam tidak jelas.
Mereka kembali bekerja mendekorasi aula dengan diam sampai bel istirahat kedua berbunyi dengan nyaring tanda berakhir.
Entah kenapa, saat Jongin mengacak rambutnya... Sehun merasa sesuatu yang aneh dengan dirinya. Namun sialnya, ia tidak tau rasa apa yang aneh itu. Ia baru pernah merasakannya kali ini.
Rasanya seperti kupu-kupu keluar dari perutmu dengan serakah.
Geli, namun Sehun ingin merasakannya lagi.
.
.
.
.
To Be Continue!
Chapter Four:
— A Date? —
.
.
hai. sorry baru bisa update. rencananya dua minggu lalu gue publish tapi gegara gue sakit seminggu full terus minggu kemaren gue UAS—jadi ya baru bisa update sekarang deh. (lha, curcol.)
maaf kalo jadi tambah gajelas ff ini—gue pusing mikirin otak gua yg ga konsen-konsen ditambah exo luxion NGAPE SUKA BANGET BASAH-BASAH DIATAS PANGGUNG? TRUS GANTI BAJU DIATAS PANGGUNG PULA? MINSEOK TOLONG TAHAN DIRIMU? disitu kadang saya merasa sedih (sama diri gue sendiri). hahahabye. kalo mau protes/nanya2 silahkan, PM terbuka~
so, mind to review? /kedip/
—kimeanly.
