.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Warning : T Rate/AU/Typo(s)/OOC (maybe)

Main Pair : SasukexHinata

Genres : Horror/Romance/Mystery/Friendship/Hurt-comfort/Angst

.

Only Doll Still Doll

Chapter 3

.

Di dalam ruangan olahraga

Hinata tampak sibuk mengepel dengan tergesa. Biar bagaimana pun dia harus cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya agar bisa kembali ke kelas sebelum bel tanda jam pelajaran berakhir berbunyi. Tak jauh darinya ada Lee yang juga ikut membantu Hinata mengepel ruangan olahraga tersebut.

Kring! Kring!

Lengkingan suara bel tanda jam pelajaran pertama telah berakhir berbunyi. Hinata yang mendengarnya langsung panik dan segera berlari keluar ruangan menyisakan Lee yang tertinggal di dalam ruangan olahraga.

.

.

Hinata berlari secepat yang ia bisa, berharap Kurenai masih berada di dalam kelas. Gadis itu hampir sampai ke kelas ketika dilihatnya sang guru sedang berjalan keluar dari dalam kelasnya.

"Ku-Kurenai-sensei tu-tunggu!"

Hinata mendekati Kurenai dengan setengah berlari. Napas gadis itu tersenggal-senggal karena dia memang tidak terbiasa berlari.

"Hinata?!" sepasang manik crimson Kurenai membelalak saat melihat Hinata baru datang. "Kau ini kemana saja? Kenapa kau tidak masuk pada jam pelajaranku? Apa kau tahu kalau hari ini ulangan?" sederet pertanyaan yang menyiratkan kecemasan terlontar dari bibir wanita berusa 28 tahunan itu.

"A-a-aku... Aku..." Hinata akhirnya hanya bisa menunduk dengan perasaan bersalah.

Kurenai mengamati Hinata yang terlihat kebingungan. Sepertinya gadis itu sedang mendapat masalah (lagi) dengan teman-teman sekelasnya. Hinata hanya bisa menunduk dengan jari-jari tangan yang saling bertautan. Manik lavender itu bergerak ke kiri dan ke kanan, seperti ingin menyampaikan sesuatu tapi tak berani untuk ia ungkap.

Wanita yang mengajar bahasa inggris itu menghela napas. Sebagai wali kelas 2-A dia sudah hapal betul watak dan kelakuan semua murid-muridnya termasuk Hinata. Dia tahu bagaimana gerak-gerik disaat gadis itu sedang mengalami kesusahan akibat teman-temannya yang lain.

"Temui aku pada jam istirahat. Kau akan ulangan di ruangan guru," ucap Kurenai kemudian yang tidak mau membahas masalah absennya Hinata pada jam pelajarannya tadi.

"Te-terima kasih, Kurena-sensei!" gadis itu mendongak kembali dan menatap Kurenai dengan mata berbinar. Senyumannya merekah lebar.

"Ingat, jangan sampai kau tidak datang, atau kau tidak dapat nilai." Kurenai mengingatkan Hinata sekali lagi agar tidak lupa untuk datang ke ruangannya nanti.

"Baik, sensei!" jawab Hinata sambil membungkuk hormat.

Setelah Kurenai pergi, anak-anak di dalam kelas langsung mencibir Hinata. Mereka tidak terima kalau Kurenai masih mengijinkan gadis itu untuk ikut ulangan padahal jelas sekali tadi dia absen pada jam pelajaran yang seharusnya dia mengikuti ulangan. Seisi ruangan kelas bergemuruh dengan suara-suara sumbang mengenai Hinata yang terlalu dianak emaskan oleh wali kelas mereka.

Hinata bersikap cuek atas segala protesan yang keluar dari mulut teman-temannya, yang penting dia bisa mengikuti ulangan dan bisa mendapatkan nilai. Lagipula dia absen tadi bukan kesalahannya, melainkan karena Neji.

"Hei, hei. Ada apa ini? Kenapa berisik sekali?" disaat kelas sedang berisik tiba-tiba muncul Orochimaru di depan kelas. Pria berusia 30 tahun itu hanya bisa menggeleng-geleng melihat kegaduhan kelas.

Melihat Orochimaru ada di depan kelas, semua murid sontak terdiam. Mereka takut pada Orochimaru, guru biologi yang nyentrik dan terkenal killer oleh semua murid di sekolah.

"Hinata, kenapa kau berdiri saja di sini? Cepat masuk, saya mau memulai pelajaran," ucapnya kemudian menyuruh Hinata yang masih terpaku di depan kelas untuk segera masuk ke kelas.

"Ba-baik, sensei!" gadis itu mengangguk dan segera berjalan menuju ke arah tempat duduknya, yang kemudian disusul oleh Orochimaru.

...

Pria itu masuk ke dalam sambil membawa beberapa tumpukan buku tebal yang diletakkannya di atas meja guru. Dia mengamati seluruh murid-murid di dalam kelas yang hari itu lengkap, masuk semuanya. Orochimaru tersenyum puas melihatnya.

"Sebelum kita memulai pelajarannya, saya akan mengabsen kalian dulu," katanya sembari membuka buku absen yang ia bawa.

Orochimaru mengabsen satu-persatu muridnya di dalam kelas. Selesai melakukan ritual awalnya sebagai seorang guru, pria berambut panjang itu segera membuka sebuah buku cetak yang ia bawa.

"Baiklah, anak-anak. Hari ini kita akan melanjutkan catatan materi kemarin. Silahkan buku kalian," perintahnya meminta semua murid untuk mengeluarkan buku catatan masing-masing.

Orochimaru berdiri di depan papan tulis dan mulai mencatat materi yang ingin dia sampaikan. Para murid segera mengeluarkan buku catatan dan menulis apa yang dicatat Orochimaru di papan tulis tanpa banyak berkomentar.

Dalam sekejap keheningan menyergap seisi kelas. Semuanya fokus menatap papan tulis, dan mencatat kata demi kata yang tertulis di sana. Pun, Hinata mencatat dengan konsentrasi penuh.

"Zzzz... Zzzz..." Shikamaru yang menjadi teman bangku Hinata malah asik tertidur pulas meskipun posisi duduk mereka berada paling depan.

Pemuda itu memang memiliki hak khusus di dalam kelas, karena meski ia tertidur, tapi nilai-nilainya selalu bagus. Jadi para guru tidak keberatan kalau pemuda itu tidur di dalam kelas. Hinata sendiri juga tidak merasa terganggu. Selama ini Shikamaru cukup baik padanya, dan Hinata dengan senang hati selalu meminjamkan semua catatan miliknya pada pemuda itu, bahkan memberikan foto copy-annya tanpa diminta oleh yang bersangkutan.

Menit demi menit berlalu hingga akhirnya bel jam pelajaran kedua sekaligus tanda istirahat pun berbunyi. Semua murid langsung bernapas lega, karena pelajaran yang menjemukan telah selesai.

"Baiklah anak-anak, sisa materinya dilanjutkan hari kamis, dan setelah itu kita akan ulangan minggu depan." Orochimaru bergegas merapihkan buku-bukunya dan segera keluar dari dalam kelas.

Hinata yang sudah punya janji pada Kurenai untuk menemui Kurenai di ruangannya bergegas mengambil alat-alat tulis yang ia butuhkan. Setelah itu ia melesat keluar kelas dengan terburu-buru sebelum ada anak lain yang iseng menghadangnya.

...

Gadis itu berlari menuruni tangga menuju ke ruangan guru yang berada di lantai bawah dekat dengan ruangan kepala sekolah. Saat kakinya menginjak lorong sekolah bawah perasaan Hinata berubah jadi tidak enak. Larinya terhenti, berganti menjadi sebuah langkah pelan. Hinata berjalan hati-hati menyusuri lorong tersebut.

Hinata meremas jari-jemarinya dengan perasaan gugup. Setiap langkahnya terdengar menggema di dalam lorong yang tak biasanya sepi itu, padahal ini sudah jam istirahat. Degup jantungnya semakin berpacu tak karuan, sampai tiba-tiba Hinata melihat sekelebat bayangan seorang gadis dengan gaun putih berlari, masuk ke dalam ruangan olahraga.

"A-apa itu? Ya-yang kulihat ta-tadi a-apa?" Hinata bicara sendiri sambil berjalan mendekati ruangan olahraga untuk memastikan apa sebenarnya yang lewat tadi.

Dengan ketakutan yang menguasai dirinya, gadis itu masih bisa memberanikan diri untuk mengintip ke arah ruangan olahraga. Di dalam sana, ia mendapati sorang gadis berdiri di tengah lapangan tengah menangis.

"Si-siapa di sana? A-apa kau ba-baik saja?"

Hinata merasa tidak yakin kalau gadis itu adalah salah satu dari murid Konoha. Gadis yang sedang memunggunginya itu tampak aneh, dengan gaun pengantin berwarna putih yang sudah lusuh, dan rambut kemerahan yang tak beraturan menangis tersedu-sedu di dalam sana.

Hinata memberanikan diri berjalan mendekat, untuk mengetahui siapa gadis yang sedang menangis itu. Suara tangisnya terdengar begitu memilukan, mengiris hatinya.

"Hinata, apa yang kau lakukan di sini?" tanpa disadari Hinata, muncul Kurenai di belakangnya dan menepuk pundak gadis itu.

"Hah! Ku-Kurenai-se-sensei!" Hinata melompat kaget dan langsung berbalik ke belakang, mendapati Kurenai sudah berdiri di sana, sedang mengawasinya.

"Aku sudah menunggumu di ruangan dari tadi, untuk apa kau malah di sini?" wanita itu memandang heran ke arah Hinata. Apa yang sedang dilakukan gadis itu seorang diri di dalam ruangan olahraga.

"Ma-maaf, a-aku tadi hanya sedang..." Hinata segera membungkuk dan ingin menjelaskan mengenai gadis aneh yang dilihatnya.

Namun, begitu Hinata berbalik, sosok gadis yang tadi ada di tengah lapangan sudah tidak ada di tempat.

"Kau sedang apa?" tanya Kurenai sambil melirik ke arah mata gadis itu tertuju dan hanya mendapati ruang kosong.

'Aneh, kemana perginya gadis itu?' Hinata kebingungan sendiri. Kenapa gadis itu cepat sekali perginya.

"Ayo cepat ke ruanganku." Kurenai memerintahkan Hinata untuk ikut dengannya ke ruangan guru.

...

Hinata akhirnya berjalan mengikuti Kurenai, meskipun sebenarnya dia masih sangat penasaran dengan sosok gadis yang tadi dilihatnya. Begitu tiba di ruangan guru, Hinata dapat melihat suasana di dalam sana yang tampak begitu sibuk. Masing-masing guru sedang sibuk mengecek tugas-tugas dan nilai ulangan para murid. Menjelang ujian nasional para guru memang selalu sibuk, bahkan Kakashi, guru yang terkenal paling santai dan cuek di antara guru lainnya ikut menenggelamkan diri di dalam pekerjaannya. Laki-laki berusia 25 tahun itu tampak serius sekali. Jarang-jarang Hinata melihatnya seperti itu.

"Ayo masuk." Kurenai mengantar Hinata berjalan ke arah mejanya. "Duduklah di sini, aku akan mengambilkan soal dan kertas ulangan untukmu." Guru itu menyuruh Hinata untuk duduk di bangkunya.

Hinata duduk sambil menyamankan dirinya di situ, sementara Kurenai pergi ke arah rak buku dan mengambil soal ulangan yang disimpannya di sana. Entah kenapa tiba-tiba saja dia menjadi tegang meskipun dia sudah belajar dan mempersiapkan diri untuk menghadapi ulangan ini. Hinata mengetuk-ngetuk meja guru itu dengan puplen untuk menghilangkan grogi.

Ctak!

Saking groginya, pulpen yang ia gunakan untuk mengetuk-ngetuk meja lepas dari genggamannya dan terjatuh ke kolong meja. Hinata merutuki dirinya yang terlalu cepat panik dalam menghadapi situasi. Gadis itu segera membungkuk untuk mengambil pulpennya yang terjatuh.

Manik lavender itu mencari-cari sang puplen yang ternyata tergeletak tak jauh dari kakinya.

"Hinata, ini soal dan kertas ulanganmu." Terdengar suara Kurenai dari arah samping meja.

Tangan Hinata terulur untuk mengambil pulpen, tiba-tiba saja dia melihat dua pasang kaki sedang berdiri di samping meja. Kaki yang satu kemungkinan adalah milik Kurenai, tapi sepasang kaki lain yang berada persis di belakang Kurenai begitu pucat, bahkan terlalu pucat untuk ukuran manusia normal. Satu hal yang mengerikan dari semua itu adalah, sepasang kaki yang berdiri di belakang Kurenai itu tidak menapak ke bumi, melainkan melayang! Sontak hawa dingin menyergap seluruh tubuh Hinata, membuatnya seolah membeku di tempat. Pergerakan tangannya juga terhenti.

"Hinata, apa yang kau lakukan?" Kurenai membungkuk dan menatap Hinata yang terlihat sedang ketakutan.

"Ti-tidak..., ha-hanya mau mengambil pu-pulpen," jawab Hinata yang segera menyambar pulpennya dan buru-buru duduk kembali.

"Baiklah, kau hanya punya waktu satu jam dan ada 10 soal yang harus kau selesaikan." Kurenai menghela napas, tak mengerti melihat sikap Hinata yang seperti ketakutan tadi.

Hinata mengangguk mengerti dan mulai memusatkan perhatiannya pada lembaran soal yang diberikan Kurenai. Sejenak dia berusaha melupakan mengenai 'sesuatu' yang dilihatnya tadi.

Gadis itu tersenyum begitu melihat ke sepuluh soal ulangannya, karena materi yang dipelajarinya keluar semua. Ini merupakan hal yang paling luar biasa bagi Hinata. Tak biasa-biasanya semua materi yang ia baca dan pelajari keluar semua. Berkat itulah Hinata mengerjakan semua soal itu dengan antusias, dan perasaan bahagianya menghapus kejadian aneh yang dialaminya 5 menit lalu.

Tepat 10 menit sebelum bel istirahat berakhir berbunyi, Hinata sudah menyelesaikan semua soal ulangan itu dengan sempurna. Ia tersenyum puas dan sangat optimis akan mendapatkan nilai yang bagus.

Hinata merapihkan kembali alat tulisnya dan segera beranjak dari tempat duduk, berjalan menghampiri Kurenai yang sedang duduk di meja guru milik Anko.

"A-ano..., a-aku sudah selesai mengerjakannya." Hinata menyodorkan kertas ulangan miliknya pada Kurenai.

"Baiklah Hinata, kau boleh kembali ke kelas." Kurenai mengambil kertas yang disodorkan Hinata padanya dan tersenyum sesaat begitu melihat jawaban Hinata.

...

Hinata melangkah riang menuju kelasnya. Hari ini adalah hari yang paling menyenangkan untuknya karena bisa menjawab semua soal-soal tadi tanpa masalah sedikit pun, dan hal itu sangat membahagiakan lebih dari apa pun juga. Namun langkahnya terhenti saat ia melihat seorang gadis berambut merah muda tengah berdiri seorang diri, dan pada bagian kaki gadis itu ada tetesan darah yang berjatuhan ke lantai. Warna merahnya terlalu kontras dengan lantai putih sekolah.

"Ma-maaf, ta-tapi kakimu berdarah!" Hinata segera memberitahukan hal itu pada sang gadis, tapi tak ada respon. Gadis itu masih saja berdiri menyamping dengan tatapan kosong ke arah depan.

Hinata secara spontan berlari mendekatinya. Ia menepuk pundak gadis merah muda itu agar sang gadis menyadari kalau kakinya terluka.

"Maaf, kakimu terluka. Ada banyak darah di sana," ucap Hinata mengulangi lagi kalimatnya dan menunjuk ceceran darah yang membasahi lantai.

Hinata merasakan tangannya bagai menyentuh gunung es saat bersentuhan dengan pundak gadis merah muda itu. Dia benar-benar tak mengerti apakah tubuh manusia bisa sedingin ini? Saat pikirannya melayang mengenai temperatur tubuh manusia normal pada umumnya, gadis merah muda itu akhirnya menoleh ke arah Hinata.

"KYAAAAAA!" Hinata berteriak kaget saat melihat wajah gadis itu.

Siapa yang bisa menduga kalau rupa gadis itu begitu mengerikan. Wajahnya begitu pucat dengan kedua bola mata yang berwarna putih tanpa adanya pupil mata sama sekali. Hinata belum pernah melihat wajah sesorang yang sebegitu mengerikannya seperti ini sebelumnya.

Blugh!

Saking takutnya gadis berambut indigo itu akhirnya jatuh pingsan di tempat.

TBC


A/N : Mulai dari chapter ini Hinata sudah mendapatkan efek dari kepemilikannya pada si boneka