PREVIOUS CHAPTER…
"LEE CHANGMINNNNN!"
Serentak semua orang yang berada di sana menoleh ke asal suara tersebut. Suara yang tidak bukan adalah milik dari Lee Sungmin yang sedang melakukan video call dengan Changmin.
"Changmin! Tolong! Ada namja gila mau memukulku!"
"Diam kau noona! Kau dimana sekarang?! Memukul dahiku, bikin aku pingsan, lalu kabur meninggalkan aku dengan wajah seperti ini!" omel Changmin. Terlihat bekas cakaran di wajah tampannya. Yang tidak lain dan tidak bukan adalah ulah Sungmin.
Mendengar perkataan Changmin di telepon, para namja yang berada di sana hanya bisa membulatkan matanya dan menatap tidak percaya pada Sungmin.
Sungmin yang menyadari tatapan itu hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Hehehe.. mungkin dia mimpi.."
Kyuhyun lah yang lebih cepat sadar dari suasana tersebut. Dengan mudah dia melepaskan tangannya dari genggaman Yesung dan Donghae yang masih terpaku mendengar pernyataan Changmin.
"Ap.. apa? Jangan mendekat! Kamu dengar kan aku ini siapa?"
Kyuhyun merebut ponsel Sungmin tanpa menghiraukan perkataan pemilik ponsel itu. "Aku, Cho Kyuhyun." Changmin terkejut karena seorang Cho Kyuhyun bisa memegang ponsel noonanya. "Noona mu aku tahan. Datanglah ke Orange!"
.
You Are My Everything
(Remake)
.
Presented by ChoJH
.
Cast :
Lee Sungmin
Cho Kyuhyun
Choi Siwon
Lee Hyukjae
Lee Donghae
Kim Jongwoon (Yesung)
Zhoumi
Shim Changmin
Choi Minho
Lee Jonghyun
Seo Joohyun (Seohyun)
Kim Young Duk (Jay Trax)
.
Genre : Gerderswitch - Comedy - Romance
.
Rate : T
.
Chapter : 4/?
.
ChoJH's Note : FF ini adalah Remake dari komik berjudul sama, You Are My Everything karangan Hwang Mi Ree. Cerita ini milik Hwang Mi Ree tapi tulisan ini murni milik saya. The casts belong to God and their family. Please dont read this fanfict if you dont like this couple/pair or this genre.
.
.
.
Eunhyuk terlihat mondar mandir memperhatikan pintu masuk ke hotel mewah tersebut. Raut cemas dan khawatir terlihat sekali di wajahnya.
"Bagaimana ini? Dia sudah terlalu lama berada di dalam. Kenapa nggak keluar juga?" ujarnya bermonolog pada dirinya sendiri.
Pikiran negatif tiba – tiba menghampirinya. "Jangan – jangan…" Bayangan Sungmin yang dilecehkan oleh Kim Young Duk memenuhi pikirannya yang memang sedang kalut.
"Awas saja kalau kamu berani menyentuh Minnie… Akan kuhabisi kamu!" ujarnya seakan – akan Kim Yong Duk ada di hadapannya. Dan entah keberanian dari mana, Eunhyuk akhirnya memutuskan masuk ke dalam.
"Minnie..! Minnie..! Di mana kamu?!" Eunhyuk melihat sekelilingnya yang ternyata sebuah café. Ternyata lantai bawah hotel itu terdapat café yang cukup megah.
Eunhyuk memukul pelan kepalanya. Bukan saatnya mengagumi café ini, yang terpenting adalah dia harus secepatnya menemukan Sungmin. Eunhyuk terus berlari sampai sebuah suara menghentikannya.
"Eunhyuk.." Eunhyuk mencoba mencari asal suara tersebut. "Eunhyuk!" Kali ini terdengar lebih jelas dan Eunhyuk yakin itu suara Sungmin.
Dan saat matanya beradu pandang dengan Sungmin, hatinya bernafas lega. Sungmin dalam keadaan baik – baik saja dan sedang tersenyum ke arahnya.
"Eunhyuk noona?" panggil suara lain.
"Choi.. Minho?" tanya Eunhyuk ragu setelah mengalihkan pandangannya ke arah sosok di belakangnya. Meyakinkan dirinya kalau yang memanggilnya memanglah Minho, teman Changmin.
"Aku dengar noona nyaris mengalami hal buruk gara – gara Kim Young Duk. Tapi, noona nggak apa – apa kan?"
"Kok tahu?" tanya Eunhyuk.
"Aku mendengarnya dari Minnie noona."
"Minnie?" Eunhyuk langsung memutar badannya dan melihat Sungmin melambaikan tangannya seakan memanggilnya. Lagi – lagi dia hampir lupa kalau tujuannya masuk ke sini adalah untuk menolong Sungmin.
Minho merangkul Eunhyuk dan membawanya mendekati Sungmin yang juga sedang menuju ke arah mereka. Sungmin memeluk Eunhyuk erat.
Minho tersenyum melihat adegan itu. "Aku beli minuman dulu ya, noona." tanpa menunggu jawaban Eunhyuk dan Sungmin yang sedang asik dengan dunianya sendiri pun, Minho beranjak pergi.
"Eunhyuk ah ~ aku kira kau sudah pulang, ternyata kau masih menungguku." ucap Sungmin manja.
Eunhyuk melepaskan pelukan Sungmin dan memegang kedua lengan Sungmin. "Sebenarnya apa yang tejadi?" Eunhyuk yang tidak mengerti dengan keadaan ini pun langsung bertanya to the point. Bukankah Sungmin ingin memukul Kim Young Duk? Tapi kenapa dia malah duduk santai di café hotel ini.
Salahkan kepolosan Sungmin yang tidak mengerti pertanyaan Eunhyuk. Matanya mengerjap imut memandangi Eunhyuk yang terlihat penasaran dan juga khawatir. "Hah? Apanya?"
"Mereka yang ada di sana itu loh!" Eunhyuk menunjuk meja yang ditempati oleh Kyuhyun dan teman – temannya. Nada suaranya yang tinggi karena sebal menghadapi pertanyaan bodoh Sungmin membuat Kyuhyun dan yang lain melihat ke arahnya dan Sungmin. Eunhyuk langsung menutup mulutnya dan menarik Sungmin ke salah satu meja yang terletak tidak terlalu jauh dari meja Kyuhyun tapi cukup membuat namja itu tidak mendengar pembicaraan mereka.
Kyuhyun membuang tatapannya dari arah Eunhyuk setelah melihat Eunhyuk yang serius mendengarkan ocehan Sungmin dan memastikan bahwa mereka hanya sedang saling bercerita. Apa Kyuhyun takut Sungmin sedang menyusun rencana untuk kabur, heum?
"Hyung.." Kyuhyun bersuara. Mencoba menyadarkan sosok yang masih terdiam menatap ke arah meja yang ditempati oleh Sungmin dan Eunhyuk. "Seohyun ada di mobil, tolong hyung antarkan dia pulang."
Siwon menoleh cepat, dia tahu pasti kalau kalimat Kyuhyun barusan ditujukan untuknya. "Aku?" tanyanya ragu.
"Kenapa? Hyung nggak mau?"
Siwon terdiam cukup lama. Entah Kyuhyun mengerti tentang bimbangnya Siwon atau tidak, tapi dia diam saja menunggu reaksi Siwon. Sesekali menahan sakit di hatinya lagi saat dia harus membiarkan orang yang dia sayangi untuk hyungnya. Berperang batin dengan hatinya sendiri, mencoba tidak bertindak egois dan membuat Seohyun tidak bahagia.
"Baiklah. Aku akan mengantarkan dia." Siwon beranjak dari duduknya. Saat baru hendak melangkah, dia malah membalikkan badannya dan menghadap Kyuhyun. "Apakah tidak apa – apa kalau aku yang pergi?" Siwon menatap Kyuhyun dengan wajah yang sulit diartikan.
Kyuhyun terkejut mendengar pertanyaan Siwon. Walau pertanyaan itu terdengar ambigu, tapi dia tahu jelas bahwa hyungnya ini tengah menyinggung soal perasaannya dan dia tidak suka itu. Siwon yang menyadari tatapan tidak suka Kyuhyun dengan cepat mencoba mengartikan maksud dari perkataannya. Walau sebenarnya itu cuma salah satu upayanya untuk mencairkan sedikit emosi Kyuhyun.
"Maksudku, nggak masalah sih mengantarnya pulang, tapi aku takut Seohyun nggak suka."
"Hyung takut dia nggak suka? Lalu kenapa hyung menolaknya?" kali ini Kyuhyun tersenyum dipaksakan menjawab perkataan Siwon.
Siwon juga tersenyum mendengar perkataan Kyuhyun dan berjalan pergi. Kata – kata Kyuhyun benar – benar membuat dirinya tidak bisa berkata apa – apa. Apa perasaannya pada Seohyun hanya sebatas seorang kakak pada adiknya..? Atau.. lebih..?
Kyuhyun menatap punggung Siwon sampai hilang dari pandangannya. Hatinya berdenyut nyeri di luar kehendaknya. Apa memang harus begini? Apa memang dia harus membiarkan Seohyun bersama Siwon?
"Kyuhyun, sudahlah.." Yesung memegang bahu Kyuhyun. "Aku tahu isi hatimu, tapi kau tidak bisa memaksa orang lain untuk berpikiran sama sepertimu." Yesung bangkit dari duduknya, matanya tetap mengarah pada Kyuhyun yang hanya meliriknya sekilas. "Kau terlalu sepihak dan kelewat batas. Memangnya hal macam itu bisa beres dengan saran dari otakmu itu? Itu urusan mereka berdua, biarkan mereka mengurusnya sendiri. Kalau kamu terlalu ikut campur, kamu sendiri yang akan terluka."
"Hhh.." Terluka? Kyuhyun memang sudah terluka. Keberadaannya yang selama ini selalu di sisi Seohyun dalam suka dan duka, sekarang harus tergeser. Dia menyadari perkataan Yesung memang benar, tapi hanya ini yang bisa dilakukannya. Hanya ini yang bisa dia lakukan agar Seohyun tersenyum bahagia.
.
.
Siwon memandang mobil yang terparkir tepat dihadapannya. Ragu apakah dia harus masuk atau tidak. Bagaimana reaksi Seohyun kalau melihatnya? Apa dia akan tersenyum atau malah menangis?
Dia membuka pintu mobil itu dengan pelan. Menatap wajah Seohyun yang sedang memejamkan matanya.
"Kyu, aku ngantuk. Bangunkan aku kalau sudah sampai ya.." ucap Seohyun dan menyandarkan kepalanya di jendela sisi kanannya tanpa membuka matanya. "Kenapa nggak berangkat?" tanya Seohyun saat menyadari mobil yang dia naiki tetap tidak bergerak. Matanya membuka perlahan dan menatap sosok di sampingnya. Dia menutup mulutnya tanpa sadar saat melihat orang yang di sampingnya bukan Kyuhyun, melainkan Siwon.
"Terkejut? Mianhae, aku tidak bermaksud.. Mianhae.."
Seohyun membuang tatapannya. "Mana Kyuhyun?" nada suaranya terdengar dingin.
Siwon memaklumi ucapan dingin Seohyun. "Dia ada urusan sedikit. Jadi aku yang akan mengantarmu pulang."
"Aku nggak mau pergi sama oppa! Apa oppa nggak mendengarnya dari Kyu kalau aku nggak ingin bertemu dengan oppa?!"
"Seohyunnie..."
Seohyun menutup telinganya dengan kedua tangannya. "Hentikan! Jangan panggil aku dengan akrab begitu!" Siwon tersentak mendengar perkataan Seohyun. "Oppa tidak mencintaiku, jadi jangan membuatku berharap!" Tangis Seohyun pecah.
Siwon tidak mengira kalau Seohyun tersakiti sampai seperti ini. "Aku akan membangunkanmu kalau sudah sampai. Tidurlah.."
Seohyun tidak menggubris perkataan Siwon dan malah membuka pintu mobil Kyuhyun. Berlari masuk ke arah tempat Kyuhyun berada tanpa menghiraukan teriakan Siwon yang terus memanggilnya.
.
.
"Hahaha benarkah?" ucap yeoja cantik berkulit susu itu yang tanpa sengaja terdengar Kyuhyun.
Kyuhyun menatap datar sosok Sungmin yang sedang bersenda gurau dengan Eunhyuk, Jonghyun dan juga Minho. "Lihat dia? Sekarang merasa bebas dan bisa tertawa!"
Yesung melirik Sungmin. "Temannya datang dan Changmin juga akan datang, jadi mungkin dia merasa lega."
"Lalu kenapa? Siapa yang mau toleransi hanya karena dia noona dari juniorku?"
Yesung tersenyum, "Kurasa dia yakin akan bebas darimu, Kyu."
"Yesung hyung benar! Kalau nggak, nggak mungkin dia akan tertawa seperti itu." timpal Donghae sambil tertawa. Dia tidak sadar kalau ucapannya dan Yesung membuat Kyuhyun geram melihat tingkah Sungmin.
"Begitu? Aku akan membuatnya menghilangkan pikiran itu dari benaknya." Kyuhyun berdiri dan hendak menghampiri Sungmin, dan saat itu Donghae langsung menahan tangan Kyuhyun.
"Kenapa? Katanya kau mau sabar sampai Changmin datang?!"
"Melihat dia tertawa seperti itu membuatku jadi naik pitam!"
Kali ini Donghae menepuk pundak Kyuhyun pelan. " Sabar. Bukankah wajah tertawanya sangat cantik?"
Kyuhyun melemparkan pandangan ke arah Sungmin. Melihat bagaimana yeoja itu tertawa dengan gigi kelinci menghiasi senyumnya dan jangan lupakan mata foxynya yang makin berbinar.
"Hoekkk…." ujar Kyuhyun sambil memegangi perutnya. "Cantik? Mual aku jadinya!"
Yesung dan Donghae menatap maklum melihat tingkah kekanakan Kyuhyun. "Mungkin karena kamu hanya melihat putri salju saja makanya tidak tahu bahwa di dunia ini masih banyak yang jauh lebih cantik." Donghae melirik lagi ke arah Sungmin. "Aku yakin namja – namja di luar sana banyak yang tergila – gila padanya. Bukankah begitu?" Donghae meminta pendapat Yesung.
Yesung tersenyum lembut. "Dia memang manis."
Donghae tersenyum penuh kemenangan. "Iya, kan? Manis, kan? Matanya bulat dan besar, belum lagi kulitnya yang seperti susu itu. Benar – benar seperti tokoh di komik."
DUK!
"Kau aneh, hyung! Apanya yang mirip dengan tokoh di komik!?" Kyuhyun menatap Donghae yang masih kaget mendengar bunyi meja yang digebrak oleh Kyuhyun.
Yesung hanya tersenyum penuh arti. "Bungkam saja dia untuk selamanya, Kyu." ucapnya pelan. Tapi Donghae masih bisa mendengarnya dan melemparkan lirikan tajamnya pada Yesung.
Kyuhyun yang menyadari kalau Sungmin memandangnyapun berteriak kesal ke arahnya. "Lihat apa kau?!"
"Sifatnya jelek sekali." kata Eunhyuk di telinga kiri Sungmin, seolah membisikinya.
"Memang." ucap Sungmin dan menatap sinis Kyuhyun.
Kyuhyun bangkit dari duduknya. "Ngapain kalian bisik – bisik seperti itu, hah?!"
BRAK!
Terlihat Seohyun sedikit berlari menghampiri Kyuhyun yang saat itu ingin berjalan ke arah Sungmin. Kyuhyun sontak menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Seohyun.
"Seohyun..." ucap Kyuhyun.
"Seohyun!" panggil Siwon yang ternyata mengikuti Seohyun.
PLAK!
Siwon berhenti di tempatnya setelah melihat tangan Seohyun yang mengayun dengan keras ke pipi Kyuhyun. Yesung, Donghae dan juga Sungmin langsung berdiri dari duduknya melihat kejadian itu. Sungmin menatap iba ke arah yeoja yang menampar Kyuhyun. Yeoja itu pasti bernasib sama dengannya, pikirnya.
"Kenapa mengabaikan perkataanku? Kenapa kamu membuatku begini hina? Kenapa?!" teriak Seohyun marah.
Kyuhyun lagi – lagi melihat air mata mengalir dari pipi Seohyun. "Ada apa? Kamu kenapa?" Tangan Kyuhyun bergerak mengenggam bahu Seohyun.
Seohyun menepis kasar tangan Kyuhyun. "Sakit.. Di sini, rasanya sakit sekali." Seohyun meletakkan tangannya tepat di dadanya sendiri.
Kyuhyun menunduk dalam mendengar perkataan Seohyun. Hatinya ikut berdenyut mendengar kata – kata yang terucap dari bibir yeoja itu.
"Kalau bertemu dengan Siwon oppa, hatiku semakin sakit. Dan aku nggak mau memperlihatkan diriku yang lemah begini di hadapannya." Seohyun menutup wajahnya dengan satu tangannya. "Kamu.. Aku kira hanya kamu yang mengerti aku, tapi.."
"Seohyun! Dengarkan aku dulu.." potong Kyuhyun. Hatinya sakit saat melihat Seohyun malah mundur menghindarinya saat dia ingin mendekat.
"Sekarang kamu senang? Puas melihat aku mengemis cinta?" tanya Seohyun.
Kyuhyun terbelalak mendengar perkataan Seohyun. "Seo Joohyun!"
"Jangan teriak padaku!" Seohyun mengusap air mata yang mengalir di sisi pipi kananya. "Siwon oppa ataupun kamu, semua sama saja. Kalian berdua menyebalkan! Jangan pernah muncul lagi di hadapanku!"
Kaki Seohyun goyah. Rasa pusing yang tiba – tiba menyerangnya membuat badanya limbung. Kyuhyun langsung bergerak mencoba menangkapnya. Tapi kenyataannya tubuh Seohyun sudah terlanjur menyentuh lantai sebelum Kyuhyun meraih tangannya. "Seohyun! Seohyun bangun!"
"Seohyun!" Siwon berteriak panik saat melihat kejadian itu.
Kyuhyun langsung menggendong tubuh ramping Seohyun. "Hyung, kau yang menyetir!"
"Baik!" Siwon langsung berlari menuju mobil Kyuhyun.
"Dia pingsan?" tanya Donghae.
"Diamlah, hyung!" sahut Kyuhyun dan dengan tergesa – gesa menuju pintu belakang café.
Sungmin termenung melihat pemandangan itu. Sungmin belum pernah melihat ekspresi wajah seperti Kyuhyun selama ini. Wajah namja yang ketakutan dan menjadi pucat karena yeoja yang berada di gendongannya pingsan, padahal namja itu bersifat sangat jelek saat dia yang melayangkan tamparan ke wajah tirus miliknya. Tangan Sungmin mengepal tanpa sadar. Dia menyadari sesuatu. Namja bertubuh tinggi itu mencintai yeoja yang tengah pingsan itu. Perasaannya pasti sangat dalam. Ah, ini pertama kalinya Sungmin iri dengan seseorang. Tapi, kenapa?
"Eh?" Changmin yang saat itu baru datang berpapasan dengan Kyuhyun dan tanpa sengaja menghalangi jalannya.
"Minggir kamu!" bentak Kyuhyun.
Changmin segera minggir dan memasang wajah bodohnya. Sungmin segera tersadar dari lamunannya saat mendengar bentakan Kyuhyun terhadap Changmin.
Changmin menatap Sungmin tajam setelah Kyuhyun, Donghae dan Yesung benar – benar telah pergi. "Jangan – jangan.. noona yang melakukannya?"
"Apanya?" tanya Sungmin.
"Noona yang membuat putri salju seperti itu! Karena itu kamu ditahan sama Kyuhyun hyung, kan?!"
Sungmin diam. Dia baru ingat kalau dia ditahan oleh Kyuhyun tadi. Apakah sekarang dia bebas?
Changmin berjalan mendekat ke arah Sungmin. Melihat Sungmin yang diam saja membuatnya yakin akan pernyataannya. "Apa sih masalahnya?"
Sungmin mengadahkan wajahnya menatap wajah Changmin yang sedikit lebih tinggi dari Kyuhyun. "Apa?"
"Apa masalah kalian sampai noona bersikap gila begitu?!"
Eh? Sungmin menatap wajah Jonghyun. "Dia bilang apa tadi?"
Jonghyun memilih mencari aman. "Entahlah.."
Tapi tidak dengan Eunhyuk yang terus terang, "Katanya kamu bersikap gila."
Changmin emosi melihat kepolosan noonanya yang kadang tidak tahu tempat. "Lalu apa kalau nggak gila, hah?! Bagaimana kamu bisa menganggu putri salju! Beraninya kamu bersikap seperti itu!" Changmin menjambak rambutnya frustasi.
"Itu bukan salah Minnie noona, Min!" sela Minho.
"Be..begitu?" Changmin sedikit merasa malu melihat tatapan Sungmin yang meremehkannya. "Sebentar! Lalu kenapa kamu ditahan sama Kyuhyun hyung?" Wajahnya heran melihat Sungmin dan yang lainnya malah terdiam seolah mengabaikan pertanyaannya. "Reaksi apa ini?" Sungmin memalingkan wajahnya dari tatapan lekat Changmin.
"Itu.. bukan putri salju, tapi Kyuhyun hyung.." ucap Jonghyun.
"Eh? Ngapain sama Kyuhyun hyung?" tanya Changmin bingung.
Jonghyun dan Minho bungkam mendengar pertanyaan Changmin. Dan saat itulah keterus terangan Eunhyuk memperjelas semuanya. "Tampar.." Changmin mengalihkan tatapannya ke arah Eunhyuk. "Minnie menampar Kyuhyun.."
Changmin mendadak pucat mendengar perkataan Eunhyuk. Bahkan dia tidak sanggup mengucapkan sepatah kata pun untuk beberapa saat.
Sungmin mendadak panik. "Nggak sengaja kok, Min. Aku salah mengiranya sebagai orang lain.."
Changmin tetap tidak begeming. Tangannya mengambil ponsel yang terletak di saku celananya. Memencet tiga digit angka di ponsel itu.
Minho yang menatap layar ponsel Changmin mengerutkan dahinya. "911? Kenapa menelepon 911?"
"Biar polisi masukin dia ke rumah sakit jiwa!" ujar Changmin.
"APAAAA?!" teriak keempat orang itu secara bersamaan.
Minho langsung merebut paksa ponsel Changmin. "Kamu gila, ya?!"
"Yang gila bukan aku!" Mata Changmin menatap Sungmin kesal. "Tapi dia!" Changmin menunjuk muka Sungmin yang masih shock dengan perkataan Changmin yang ingin menjebloskannya ke rumah sakit jiwa. "Kalau orang waras, mana mungkin melakukan hal itu!" Changmin memegang bahu Jonghyun. "Apa kamu bisa melakukan itu dengan sadar, hah? Menampar Kyuhyuh hyung?!"
Jonghyun menggigit bibirnya. Nyalinya menciut ketika membayangkan apa yang akan dilakukan Kyuhyun kalau dia berani menamparnya.
Sungmin gemas melihat sikap Jonghyun yang malah ketakutan seperti itu. Bukankah tadi Jonghyun ada dipihaknya? Aishh!
Changmin merampas ponsel miliknya dari tangan Minho. "Kita harus cepat – cepat sebelum terlambat! Ini lebih dari sekedar depresi! Tapi dia sudah gila!"
Changmin yang mengoceh panjang lebar tidak menyadari kalau Sungmin sudah berdiri di hadapannya dan memasang wajah super seram.
DUAK!
Changmin terjatuh ketika kepala Sungmin menghantam jidatnya. "Kau benar! Dan sekarang akan kutunjukkan seperti apa yeoja gila, lihatlah baik – baik!" ujar Sungmin sambil mencengkeram kerah baju Changmin.
Dan seketika suasana gaduh menyelimuti mereka. Perkelahian antara Sungmin dan Changmin tidak bisa dihindari sehingga membuat ruangan yang luas itu hampir seperempatnya kacau balau. Minho dan Jonghyun pun tidak bisa mengehentikan amukan Sungmin yang hebat itu. Sekencang apapun mereka menahan lengan Sungmin, kaki pendek Sungmin selalu dapat mencapai tubuh Changmin yang sudah terkapar di lantai. Sedangkan Eunhyuk? Yeoja itu hanya bisa berteriak histeris melihat amukan Sungmin. Poor Changmin…
.
.
Kyuhyun dan Siwon menatap cemas wajah Seohyun yang sedang terbaring di salah satu rumah sakit di Seoul. Sesekali menatap wajah dokter yang sedang serius memeriksa keadaan Seohyun.
"Dia hanya kehabisan tenaga. Habis disuntik, dia sudah boleh dibawa pulang." ujar dokter tersebut. Terdapat nametag Kwon BoA di jas dokternya.
Kyuhyun dan Siwon mengehela nafas lega. Syukurlah ternyata Seohyun hanya kelelahan. Siwon melihat wajah khawatir Kyuhyun yang menatap Seohyun.
Kyuhyun yang menyadari tatapan Siwon langsung memalingkan wajahnya dari Seohyun. "Aku ingin bicara denganmu, hyung."
Kyuhyun keluar dari ruangan itu diikuti dengan Siwon. Tidak ada yang membuka suaranya sampai mereka tiba di taman rumah sakit itu. Duduk berdampingan sambil menatap rimbunan bunga di hadapan mereka.
"Hyung.." Siwon tidak menyahut. Tapi Kyuhyun tahu kalau dia mendengarnya. "Hyung sungguh tidak bisa menerima Seohyun?" Kyuhyun hanya mendengar helaan nafas Siwon sebagai jawaban atas pertanyaanya. "Jangan – jangan hyung menolak dia karena aku? Karena takut aku terluka?"
"Kyuhyun.."
"Baik! Aku akan bicara terus terang! Aku suka Seohyun! Sangat menyukainya!" Kyuhyun menegakkan wajahnya. " Tapi Seohyun suka padamu, hyung! Bukan denganku! Lalu aku harus bagaimana?!"
"Kyuhyun.. aku.."
Kali ini suara Kyuhyun terdengar lemah. "Aku berpikir keras, aku harus melakukan apa, harus bagaimana, dan kesimpulannya cuma satu.." Kyuhyun menatap Siwon dengan penuh keyakinan. "Berikan Seohyun tempat di hatimu, hyung."
Siwon memejamkan matanya. "Kamu menyerah?"
"Itu yang diinginkan Seohyun. Aku puas melihat Seohyun memperoleh apa yang dia inginkan. Mungkin terlihat seperti sinetron picisan, tapi begitulah cintaku!" Sedalam itukah perasaan Kyuhyun untuk Seohyun, pikir Siwon. "Lebih baik melihat Seohyun tersenyum di sisi hyung dari pada melihat dia bersedih di sisiku." Kyuhyun tersenyum miris mendengar pengakuannya sendiri. "Aku juga akan lebih mudah mengatur hatiku, kan?"
"Apa kau tidak mempertimbangkan perasaanku juga, Kyu?" tanya Siwon.
Kepala Kyuhyun menoleh dengan cepat ke arah Siwon dan kemudian memandang rimbunan bunga di hadapannya. "Nggak perlu." Kyuhyun tahu dia sangat egois, tapi bukankah dia juga sudah mengorbankan perasaannya sendiri demi kebahagian Seohyun. Jadi sebenarnya siapa yang egois? Kyuhyun atau malah Seohyun, yang sebenarnya tanpa sadar membuat Kyuhyun melakukan hal ini.
Kyuhyun menautkan kedua jarinya. "Yesung hyung bilang, kalau aku campur tangan dengan urusan hyung dan Seohyun, maka aku akan terluka. Aku tahu itu, tapi aku terpaksa begini. Aku bisa tahan jika diriku terluka, tapi aku nggak bisa tahan melihat Seohyun sedih. Hyung juga berpikiran sama, kan?" Walau Siwon tidak menjawab pertanyaan Kyuhyun lagi, Kyuhyun yakin kalau Siwon satu pemikiran dengannya, sama – sama ingin membuat Seohyun bahagia. "Lihat, hyung. Sejak awal kita nggak punya pilihan untuk perasaan kita. Kita berdua memang lemah pada Seo Joohyun."
Kyuhyun bangun dari duduknya. "Kalau hyung tetap nggak mau menerima dia, hubungan kita bertiga akan berakhir sampai di sini. Aku nggak akan bicara lagi pada hyung, ini yang terakhir. Pilihannya ada pada dirimu sendiri, hyung." Kyuhyun bersungguh – sungguh dengan perkataanya. "Aku pergi dulu."
.
.
Siwon memejamkan matanya dan tersenyum miris. Wajahnya menatap pintu di depannya. Tangannya pun menggenggam erat gagang pintu dan membukanya perlahan. Kakinya melangkah mendekati tempat tidur di ruangan bernuansa putih tersebut. Matanya menatap wajah tenang Seohyun yang belum sadar dari pingsannya.
Hubungan kita bertiga akan berakhir sampai di sini . Perkataan Kyuhyun mengusik pikirannya. Pilihannya ada pada dirimu sendiri, hyung. Pilihan? Pilihan yang dihadapkan Kyuhyun untuknya sangatlah sulit. Apakah ini memang jalan keluar satu – satunya? Siwon menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Pikirannya kalut.
"Enghh…" Siwon menghentikan lamunannya dan menatap wajah Seohyun. Mata Seohyun terbuka perlahan.
"Seohyun? Kamu sudah bangun?"
Seohyun membuang wajahnya dan menarik paksa jarum infus ditangannya. "Seohyun!" ucap Siwon kali ini dengan suara lebih besar.
Seohyun menepis tangan Siwon yang menggengam pergelangan tangannya. "Minggir. Aku mau pulang!"
.
.
Sepasang namja dan yeoja itu hanya terdiam di dalam taxi. Siwon sungguh terganggu dengan perkataan Kyuhyun di taman rumah sakit tadi. Dia tidak mungkin membiarkan hubungan mereka retak. Tapi di satu sisi, dia tidak mungkin membiarkan Kyuhyun terluka walau ini adalah kemauannya sendiri.
Seohyun memandang Siwon diam – diam. Dia benci diacuhkan seperti ini. "Ah!" Seohyun memegang kepalanya.
Siwon menoleh cepat. "Kenapa? Apa sakit lagi? Ayo kita kembali ke rumah sakit?"
"Jangan pura – pura perhatian, oppa! Aku cuma sedikit pusing kok!" sahut Seohyun kasar.
Siwon menarik bahu Seohyun dan menyandarkan kepala Seohyun di bahu kirinya. Seohyun menolaknya tapi Siwon membentaknya. Seohyun akhirnya menurut dan mencoba memejamkan matanya.
Suara tangisan lirih terdengar oleh Siwon. "Seohyun.." Siwon mencoba menghapus air mata Seohyun, tapi tangan Seohyun menggengam erat tangannya.
"Oppa.. aku mohon.. berpura – puralah kau tidak tahu.. Aku mohon.." Siwon menurutinya. Dia membiarkan Seohyun terisak dan bersikap seolah tak terjadi apa – apa.
Setelah taxi tersebut sampai di depan rumah Seohyun, Siwon menggengam tangan Seohyun saat dia hendak masuk tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Aku nggak bisa berjanji untuk menyerahkan seluruh hatiku untuk mu hari ini." ucap Siwon. "Sampai kemarin, ah, tidak, sampai beberapa menit yang lalu, kamu masih kuanggap dongsaeng yang kusayangi. Tapi dari sekarang, aku akan berusaha tidak menggapmu sebagai dongsaeng yang kusayangi, tetapi sebagai yeojachinguku."
Mata Seohyun memandang tak percaya dengan apa yang dikatakan Siwon. "Terus terang, aku nggak ngerti perasaan ku sekarang. Aku juga tak tahu apa keputusanku benar. Tapi, dalam keadaan seperti inipun ada satu hal yang jelas. Aku nggak mau kamu terluka atau sedih karena aku. Aku nggak tahan itu."
Setetes air mata mengalir tanpa sadar di pipi Seohyun. "Op..pa?"
"Aku akan berusaha, Seo. Apakah kamu mau menerima diriku yang seperti ini?" Siwon mengulurkan tangannya kepada Seohyun.
Seohyun tersenyum bahagia dengan air mata berlinang di wajahnya. Tanpa ragu dia menerima uluran tangan Siwon untuknya. Ini memanglah yang dia inginkan.
"Maaf selama ini membuatmu pusing, aku nggak akan melakukannya lagi."
Seohyun memeluk Siwon erat. "Aku menyayangimu oppa. Saranghae.." Siwon balas memeluk tubuh Seohyun. Hanya ini yang bisa dia lakukan karena dia tidak bisa mengatakan balasan perkataan Seohyun untuknya. Tidak mudah bagi Siwon mengatakan 'nado saranghae' kepada orang yang tidak dicintainya.
.
.
Gluk! Gluk! Gluk!
Sepertinya tidak cukup tiga botol wine untuk menemani keresahan hatinya saat ini. Seakan wine itu hanya air putih yang tidak akan pernah merusak kesehatannya. Bahkan beberapa tetes wine itu membasahi dagunya karena namja itu meminumnya dengan tidak sabaran.
"Hentikan, Kyu! Kamu mau mati ya? Sudah berapa botol yang kamu minum, hah?" Donghae merebut paksa botol wine itu dari tangan Kyuhyun.
"Berikan!"
"Nggak akan!"
PRANG!
Kyuhyun melemparkan botol wine yang sudah kosong ke sampingnya. Donghae dan Yesung yang menemani Kyuhyun mabuk menatap tak percaya.
"Kyu.." lirih Donghae.
Kyuhyun seolah buta dan tuli. Tak memperdulikan tatapan sahabatnya, dan tidak menanggapi perkataan mereka. "Berikan wine nya!"
Hilang sudah kesabaran Yesung. Dia mengambil botol wine yang sedang dipegang Donghae dan meletakkannya dengan kasar di hadapan Kyuhyun. "Ini! Minumlah! Minum dan mati saja kamu! Orang sepertimu pantas mati!"
Kyuhyun sebenarnya kaget dengan perkataan hyungnya yang sebenarnya selalu tenang itu. Tapi dengan mudah dia menutupi kekagetannya dengan wajah datarnya.
"Kenapa nggak diminum? Kurang? Atau mau tambah lagi?" tantang Yesung.
Donghae menahan lengan Yesung. "Hyung, kenapa kau jadi ikutan marah juga, sih?"
"Diamlah, Hae!"
"Mengertilah sedikit perasaan Kyuhyun, hyung."
Yesung tertawa meremehkan. "Mengerti? Mengerti soal apa?" Yesung mengambil ponsel Kyuhyun yang tergeletak di atas meja. "Katanya dia sendiri yang bilang akan menyerah." Yesung melempar ponsel itu ke arah Donghae. "Bagaimana bisa menegerti kalau Kyuhyun bersikap gila hanya karena SMS ini!?"
Donghae membaca ulang isi SMS itu. SMS yang dikirimkan Seohyun untuk Kyuhyun. "Kyu, aku dan Siwon oppa jadian. Kau pasti senang mendengar kabar ini!" Singkat. Tapi cukup membuat lubang besar di hati Kyuhyun.
"Terakhir kali.." Kyuhyun meraih wine yang ada di hadapannya. "Hari ini terakhir kalinya aku bersikap gila begini gara – gara Seohyun." Janji tak tertulis itu terekam jelas di otak Yesung dan Donghae, dan tentunya dirinya sendiri. Kyuhyun perlahan bangun dan menatap kedua wajah sahabatnya. "Aku pasti akan melupakannya. Lihat saja nanti!"
.
.
.
TBC
.
.
.
Thanks to : kyumin07, won2, jouleypeetz, dewiktubagus, Erry Evilakyumin, KyuWie, BabyKyuMin, miss wine and 2073 viewers ^^
.
.
Nb : Karena kemarin udah ngantuk banget jadi langsung publish aja, dan ternyata banyak typo Miannn ~ *bow* But u still wanna review, rite? ^^
