Jaebum terbangun dengan sepi di sampingnya, tempat Jinyoung berbaring semalam kini kosong dan hanya menyisakan wangi khas Jinyoung, kasurnya terasa dingin dan Jaebum lalu berkedip perlahan, mencerna apa yang terjadi beberapa jam yang lalu.

Jinyoung semalam ada dalam dekapannya, Jaebum ingat bagaimana saat mereka masih di sekolah dasar, Jinyoung sering menginap di rumah Jaebum, mereka akan berusaha bergadang meski pada akhirnya mereka ambruk karena kantuk—Jinyoung akan berbaring tepat dalam dekapan Jaebum—dan pada pagi harinya Jinyoung akan membangunkan Jaebum, mengatakan sarapan sudah siap, Jaebum dan menarik tangannya ke kamar mandi untuk mencuci muka, lalu berlari ke lantai bawah dan sarapan bersama.

Karena ia adalah anak tunggal, Jaebum sangat menikmati kehadiran Jinyoung, ia seperti adik kecil, namun bisa berubah sok dewasa dan menasehati Jaebum—terlebih saat Jaebum sedang marah.

Setelah sekitar setengah jam Jaebum menggeliat di kasur bersama kenangan masa kecilnya dan Jinyoung, lelaki yang terlambat bangun itu memutuskan keluar dari kasur dan pergi keluar. Jaebum butuh waktu sendiri.

Ia melewati dapur saat berjalan, dan ia melihat Jinyoung dan Mark—Jinyoung duduk di kursi meja makan, sementara Mark duduk di depannya; di meja makan; membuat Jaebum tak dapat melihat wajah Jinyoung karena dihalangi Mark, tapi Jaebum dapat melihat rambut panjang Jinyoung. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi nada suara Mark tidak terlalu menyenangkan di telinga Jaebum.

"—aku harus mencari cara kembali normal," suara Jinyoung terdengar, bukan niat Jaebum untuk menguping, ia hanya mendengarnya secara tak sengaja, "liburan akan usai beberapa minggu lagi, dan bagaimana aku akan menghadapi ibuku dengan tampilan seperti ini?"

Mark sedang menghadap Jinyoung, dengan punggung yang jauh berhadapan dengan Jaebum yang berdiri di sisi pintu dapur, Mark menghalangi Jaebum dari melihat Jinyoung, tapi Jaebum tahu dari nada suara Jinyoung bahwa lelaki dengan rambut panjang itu sedang merengut.

"Aku mengerti," Mark mengangguk perlahan, "aku akan mencari cara," lelaki yang lebih tua pasti sedang tersenyum dari nada suaranya, "tapi apa kau sudah bicara dengan Jaebum?"

Jaebum terkejut mendengar namanya disebut, di sebelah sana, Jinyoung bersuara lagi, "Tidak, ia belum bangun, kurasa. Kenapa juga aku harus memberitahunya?" Nada bicara Jinyoung terdengar seperti sedang mengeluh.

Dan hati Jaebum terasa seolah dilubangi oleh peluru.

"Wow, wow, apa kalian bertengkar?" Mark bertanya lagi.

"Tidak. Aku hanya tidak ingin melihatnya."

Dua peluru.

.

.


.

.

symphonia — chapter four
warning: overdramatic lmao? and husband-wife quarrel im literally laughing in this chapter, POOR DESCRIPTION AND LONG DIALOGUES
catatan: hahaha i think this is where the storm comes. also please! review!

.

.


.

.

Setelah menaiki bus dan berputar-putar pada rutenya selama sekitar dua jam, Jaebum kembali ke rumah Mark saat jam menunjukkan pukul sembilan pagi, suasananya cukup ramai dengan Jackson dan Mark sedang memainkan playstation dan Youngjae menyemangati mereka yang bermain di tengah.

Jinyoung tidak terlihat di manapun.

Jaebum menghampiri Mark, menepuk pundaknya, "Hyung, kau tahu di mana Jinyoung?"

Mark, masih terfokus dengan layar kacanya, menggeleng cepat, "Mm-hm, tidur, mungkin," jawaban yang tidak membantu, karena Jaebum tahu Jinyoung bukan tipe yang kembali tidur setelah bangun pagi, semalas-malasnya Jinyoung, ia akan membuka buku, atau hanya terbengong sendirian.

Karenanya, Jaebum berjalan ke lantai dua, lalu ke atap—sesekali memuji kekayaan keluarga Tuan karena daripada menyewa rumah di Seoul, Mr. Tuan tidak tanggung-tanggung membangun rumah untuk Mark—dan menemukan Jinyoung duduk di sisi teduh atap dengan buku Naked Lunch di tangan kanannya.

Lelaki dengan anting-anting itu tidak langsung membuyarkan konsentrasi Jinyoung pada buku, ia malah memandangi Jinyoung yang mengenakan jaket denim, kaus biru bergaris, serta celana jeans longgar dari belakangnya. Jaebum menyadari bagaimana Jinyoung mencoba beradaptasi dengan keadaan dirinya sekarang, Jinyoung mengenakan setelan yang sedikit lebih netral—tidak maskulin, atau feminim. Jaebum tahu keadaan Jinyoung sekarang pasti memukulnya begitu berat, namun lelaki itu bertahan dan mencoba untuk menyesuaikan diri.

Jinyoung telah tumbuh begitu dewasa—jika itu adalah Jaebum, pasti ia sudah berteriak dan marah pada Tuhan, pada dunia, pada ayah dan ibunya, pada sepupunya—

Sepupunya?

Benar! Bukankah dia yang memberikan Jaebum minuman itu? Minuman terkutuk itu?

Lamunan Jaebum buyar ketika buku yang Jinyoung pegang sedari tadi jatuh begitu saja ke aspal atap, dan melihat Jinyoung tidak bereaksi atas jatuhnya buku itu membuat Jaebum curiga, Jaebum bergerak dari pintu atap dan mendekati Jinyoung.

Jinyoung tertidur, tidur yang lelap.

Wajah tidur Jinyoung terlihat begitu damai, Jaebum kini sudah berada tepat di depannya, Jaebum tersenyum kecut, mengingat kembali apa yang Jinyoung katakan tadi pagi, kalimat yang memukul mundur dirinya dan membuatnya menjadi pengecut dengan menyendiri dalam bus pagi yang kosong.

Kenapa Jinyoung tak ingin menemuinya?

Jaebum mengusap perlahan pipi Jinyoung yang tampak lebih tirus setelah ia secara tidak masuk akal berubah menjadi perempuan. Jika karena berubah menjadi perempuan akan membuat Jaebum kehilangan sahabatnya, ia akan mencari cara agar Jinyoung kembali normal, ia akan benar-benar mencari cara.

Tapi sebelum itu, Jaebum memungut buku Naked Lunch, mengingat-ingat halaman di mana tadi Jinyoung terakhir membacanya, lalu memindahkan pembatas buku ke halaman tersebut, kemudian menaruh buku itu tepat di samping pergelangan tangan Jinyoung. Jaebum tersenyum lembut, ada dorongan entah dari mana untuk mengecup dahi Jinyoung, tapi Jaebum merasa itu sungguh homo, jadi ia mengurungkan niatnya dan berjalan menjauhi Jinyoung.

Setelah turun dari atap dan lantai dua, Jaebum mencari di mana ia meninggalkan botol terkutuk itu, di dekat tasnya dan tas Jinyoung, sepertinya. Ia lalu berjalan ke sana dan menemukan botol yang hanya bersisa setengah itu, masih sama persis ketika ia mengambilnya kemarin pagi.

Ia mengantongi botol itu dan mengambil kunci motornya lalu bergegas, melewati Mark, Jackson, dan Youngjae yang masih terfokus pada playstation, Jaebum sebenarnya ingin bermain juga, tapi ada hal yang lebih penting yang harus didahulukan.

Jaebum menyalakan motornya dan meninggalkan pekarangan rumah Mark.

.

.


.

.

Setelah sekitar tiga puluh menit perjalanan, Jaebum sampai di rumah sepupunya, dengan terburu-buru, ia mengetuk pintunya, berharap orang yang ia cari ada di rumah. Setelah pintu dibuka, lelaki itu menemui lelaki lainnya yang berambut cokelat dengan senyuman yang menunjukkan giginya.

"Yoo Youngjae," Jaebum melakukan tos dengannya, "lama tak bertemu."

"Jaebum! Wow, kangen nih?" Lelaki dengan nama Yoo Youngjae itu menerima tos Jaebum, dan menarik lelaki berambut hitam untuk menubrukkan bahunya sebagai tanda persahabatan, "kapan terakhir kita ketemu? Liburan musim semi?"

Jaebum hanya tertawa, ia lalu dipersilahkan masuk oleh Youngjae, Jaebum duduk di ruang tamu, sementara Youngjae mengambilkan minum untuknya.

"Ah, nggak usah repot-repot, aku nggak akan lama, beneran."

Youngjae menaikkan sebelah alisnya, "Hm? Emang ada apa sampai terburu-buru gitu?"

"Uh, aku kesini cuma mau nanya, sebenernya," Jaebum menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal, "kau ingat minuman yang kau berikan padaku tempo hari?"

Setelah duduk, Youngjae ber-ooh ria, "Oh, yang bergambar matahari itu?" Youngjae mengangguk-angguk, "ya, aku ingat, kenapa?"

"Hm.., kau.. mendapatkannya dari mana?"

Youngjae mengingat-ingat, "Dari temanku, teman dekat, lebih tepatnya, sangat dekat! Dia seorang hyung sebenarnya, tapi dia sangat baik, namanya Yongguk, Bang Yongguk Hyung," ia tersenyum simpul.

Kembali menggaruk bagian belakang kepalanya, Jaebum bertanya lagi, "Err, temanmu itu... tidak memberi tahu sesuatu tentang minuman itu? Atau.. apa?"

"Ah ya, Yongguk hyung memberitahuku beberapa hal, kurasa aku belum memberitahumu apapun, hm? Maaf ya! Aku lupa, hahaha!" Youngjae tertawa santai, sementara Jaebum tampak aneh karena ia sedang membahas minuman yang membawa petaka bagi Jinyoung. Youngjae bicara lagi, "Hmm, coba kuingat, kalau tak salah, Yongguk Hyung bilang, minuman itu ia beli dari.. entahlah, ia bicara sesuatu tentang matoki, aku tak mengerti. Yang jelas, ia bilang minuman itu mengeluarkan sesuatu dari tubuhmu."

Jaebum mengernyitkan dahi, "Mengeluarkan?"

"Bukan mengeluarkan secara harfiah, seperti, um, ya membangkitkan sesuatu dari sisi terdalammu, sisi yang tersembunyi, ia bilang minuman itu berefek tergantung pada yang meminumnya. Apabila kau membutuhkan suatu pencerahan, minuman itu akan membuat tubuhmu seperti tidak waras, dan pada akhirnya, ia akan menuntunmu mendapatkan sesuatu yang kau butuhkan itu," Youngjae menjelaskan secara panjang lebar.

"...hah?" Jaebum hanya melongo.

"Err, gini, Yongguk Hyung cerita padaku dia sedang kelelahan mencari ide, dan ia juga sedang menyukai seseorang, unrequited. Ia minum minuman itu suatu waktu, dan ia mendadak jatuh pingsan selama sehari—ia seperti mati, serius!—Dan saat itu, orang yang disukainya ternyata khawatir setengah mati, lalu mengaku ia menyukai Yongguk Hyung sejak lama, dan pada malam hari Yongguk hyung terbangun dengan otak dipenuhi inspirasi, dan ia berakhir berpacaran dengan orang yang ia sukai. Tamat. Suka ceritanya?"

Jaebum terdiam, tampak bodoh, masih memproses.

"Gini, gini," Jaebum membalas, "petunjuk di botol bilang tentang satu cup, gimana kalau.. misalnya kau meminum segelas?" Youngjae lalu melihat Jaebum dengan mata membelalak.

"Wow, berani," Youngjae lalu tertawa, "kurasa itu berefek pada masalah yang dihadapi, semakin banyak kau meminumnya, masalah yang minuman itu coba bantu akan lebih mendalam."

Jika ia menganalogikan cerita dari Yongguk dengan apa yang Jinyoung alami: berarti Jinyoung saat ini sedang mengalami sesuatu masalah, yang mungkin Jinyoung tak sanggup hadapi, dan dengan minuman itu ia tenggak sebanyak satu gelas, minuman itu mencoba menyelesaikan masalahnya—yang dengan tidak beruntungnya, mengubah Jinyoung menjadi perempuan.

Kesimpulan yang bodoh.

"Ada cara untuk menghentikan efek dari minuman itu?" Jaebum mencerocos lagi.

Youngjae mendelik, "Um, nggak tahu? Mungkin kau hanya harus menunggu sampai efek minuman itu hilang. Atau kau harus menyelesaikan masalahnya sendiri."

Jaebum meneguk ludah.

"Emang kenapa? Kau sudah meminumnya belum? Ceritakan padaku nanti apa yang kau alami, ya!" Nada ceria terdengar dari bibir Youngjae. Tapi Jaebum hanya tersenyum, Jaebum kemudian mengatakan terima kasih banyak sekali dan ia kemudian pamit, meninggalkan Youngjae yang bingung.

Ia hanya harus menyelesaikan masalah Jinyoung. Mungkin.

Kenapa rencana Tuhan harus begitu sulit?

.

.


.

.

"Jackson. Kemudikan. Mobil ini. Kembali. Ke rumahku. Sekarang."

Dengan masa bodoh, Jackson malah mengganti gigi dari angka dua ke angka empat, ia kemudian bersiul, tidak memedulikan Mark yang hampir berubah gila.

"Sudahlah, Mark Hyung, ngertilah sedikit," Youngjae mengiba dari jok belakang.

Mark memutar matanya, "Kalian benar-benar bodoh. Aku tidak keberatan kalian menjodohkan dua lovebirds itu, tapi, demi Tuhan, ini bukan saatnya."

Jackson masih bersiul, "Atas dasar apa, Mark-ssi?"

"Atas dasar... ah sial, jika saja Jinyoung tidak memintaku merahasiakannya."

Dengan nada ceria, Jackson membalas, "Alasanmu tidak relevan, kalau begitu. Biarkan mereka bersenang-senang dan begitu juga dengan kita! Yo! Kita adalah anak-anak keren dalam semalam!"

"I don't fucking believe," Mark melongo, "aku nggak percaya kau menggunakan kata relevan. Wow, Jackson, what the fuck happened to your brain."

"Someone screwed with it," Jackson menjawab santai, kemudian mengambil ponselnya dan melihat beberapa kali ke layarnya, setelah itu ia memberikan ponselnya pada Mark, "lihat itu."

Mark menatap ponsel Jackson, layarnya menunjukkan sebuah chat, dengan gadis bernama Youngji, Jackson tampaknya melancarkan beberapa godaan dan Youngji menanggapinya dengan baik, Mark tampak takjub, Jackson punya kencan malam ini.

"Kalau begitu bagaimana dengan aku dan Youngjae?" Mark menaikkan alisnya, "kau akan menelantarkan kami?"

"Hei, kalian tetap ikut, Youngji adalah gadis yang keren, kita akan ngobrol seru seharian!"

"Perasaanku tidak enak," Mark menghela napas panjang.

.

.


.

.

Jaebum kembali dengan suasana rumah Mark yang sepi, jam menunjukkan angka dua belas siang, dan Jinyoung duduk di kursi ruang tamu, buku Naked Lunch berkutat di atas pangkuannya. Setelah memarkir motornya, Jaebum melangkah ke dalam rumah Mark, lalu membuka pintu depan.

"—Jinyoung," adalah kata pertama yang Jaebum katakan, Jinyoung masih dalam setelan baju yang sama, hanya rambutnya kini diikat ke belakang.

Jinyoung tidak membalas apa-apa, ia hanya mengikuti gerakan Jaebum dengan matanya, tangan Jinyoung tak berpindah dari bukunya, tidak ada senyum, tidak ada ucapan selamat datang. Jaebum merasa sedikit tersinggung, tapi ia abaikan dan ia duduk di samping Jinyoung.

"Dengar, aku..,"

Tidak mendengar Jaebum, Jinyoung pergi dari ruang tamu dan pergi ke ruang keluarga, menutup bukunya dan menyalakan televisi. Bukanlah Jaebum apabila tidak memiliki harga diri yang tinggi. Jaebum bisa melihat dari mata Jinyoung bahwa lelaki itu tengah mendiamkannya entah karena hal bodoh apa, yang jelas, Jaebum tidak suka akan perlakuannya.

Jaebum berjalan ke ruang keluarga dan memberikan senyum menantang, "Keren, kau mau main perang dingin? Oke, aku jamin kau takkan mendengarkanku bicara lagi padamu seumur hidup jika kau mau! Terima kasih Jin-young-ie!" Ia setengah berteriak.

Dengan wajah terluka, Jinyoung bangkit, meski suaranya tetap tenang, "Oh, ya. Sama-sama, Im-Jae-bum—yang mana jika bukan karena minuman anehnya yang dibawa saat pesta, tak akan membuatku berubah wujud menjadi seperti ini. Good shit you did there."

Tidak mau kalah, Jaebum bicara lagi, suaranya semakin keras, "Bagus, bagus sekali! Setelah cuek, dan tidak memberi tahu apa yang kulakukan yang membuatmu mendiamkanku, kini kau menyalahkanku! Kau tidak tahu apa yang kubela untukmu! Orang nggak tahu diuntung! Berhentilah sok suci dan berwajah polos!"

Mereka terdiam lama.

"Aku tidak mau mendengarmu lagi," Jinyoung tampak begitu terluka, cahaya dalam matanya seolah padam, "kau bisa pukul aku jika kau mau marah, tapi jangan bicara seperti itu."

Jaebum menggertakkan giginya, "Aku tidak memukul perempuan."

Tiba-tiba saja Jinyoung nyaris berteriak sebelum suaranya mendadak parau, "Demi Tuhan, aku.. bukan perempuan. Berhenti melukai harga diriku dan lihat aku baik-baik—aku Park Jinyoung, dan selama enam belas tahun aku hidup sebagai laki-laki. Astaga..." Ia melangkah maju mendekati Jaebum, suara tetap dalam nada yang stabil, Jinyoung mengontrol emosinya.

Dengan marah yang berapi-api, Jaebum mendorong Jinyoung mundur dengan mudahnya hingga ia tersudut dan punggung Jinyoung menabrak tembok, Jaebum menggenggam kedua pergelangan tangan Jinyoung dan menatapnya tepat di kedua matanya, "Lihat sekarang, tenagamu tidak ada apa-apanya dibandingkan tenagaku, dan kau mengharapkanku memukulmu?! Kau sudah gila? Kau mau aku melukaimu?!"

Dengan nada lemah, tapi matanya tetap menyiratkan marah, Jinyoung berbisik, "Fisikku mungkin persis perempuan, sekarang. Tapi aku tetap seorang laki-laki, Im Jaebum," ia menjeda sejenak kata-katanya, "dan, jujur, pukulanmu akan jauh lebih baik daripada kata-kata dari bibirmu yang menyakitkan."

Jinyoung mengenyahkan tangannya dari Jaebum, ia bergegas pergi meninggalkan Jaebum dengan marah meledak-ledak dalam hatinya.

Begitupun Jaebum, ledakan amarah dalam kepalanya meluap begitu saja, kedua mata Jaebum mengekori Jinyoung yang menghilang di balik pintu kamar tamu. Ia ingin meledak—kesal dan harga dirinya tercoreng, saking marahnya, giginya bergemerutuk.

Jaebum berlari keluar rumah Mark, menuju motornya, ia mengatur napasnya, lalu menyalakan motornya. Ia terlalu marah untuk menemui siapapun sekarang.

"Brengsek!" Jaebum mengenakan helmnya dan pergi begitu saja dari rumah Mark.