Cr : Kim Bum Soo - Appear (Secret Garden OST)
v
v
v
v
~ Enjoy ~
Beberapa hari setelah kepergiannya dari kediaman Zaoldyeck, Hiju tiba di pet shop yang sekaligus telah menjadi tempat tinggalnya selama lebih dari setengah dekade. Rozu dan semua penghuni pet shop menyambut kedatangan Hiju dengan begitu menyenangkan. Saat Hiju kembali. Rozu melihat ada begitu banyak kebahagiaan yang terpancar dari mata gadis itu. Hiju tidak seperti sebelumnya yang hanya sekedar bercahaya. Kali ini Hiju datang bagaikan terlahir kembali sebagai seseorang yang sangat bersinar.
"Hiju?" malam itu Rozu menghampiri Hiju yang sedang berada di dapur.
"Ya?"
"Kau terlihat sangat berbeda."
"Benarkah? Apanya yang berbeda?" Hiju menanggapi kata-kata Rozu dengan senyum mautnya.
Rozu mengambil tempat duduk di depan meja makan. " Kau nampak sangat bahagia sekali sehabis pulang dari Padokia. Apa kau bertemu seseorang?"
Hiju blushing mendengarnya lalu ia tersenyum dengan tatapan yang sangat lembut. "Iya."
Rozu yang biasanya berbicara dengan nada kasar kini melembut. "Hmm,, siapa dia?"
Hiju mengambil tempat disamping Rozu dengan membawa dua cangkir teh, satu untuk Rozu dan satu lagi untuk dirinya.
"Dia orang yang menyewaku beberapa hari kemarin. Namanya Killua, dia salah satu putra dari Keluarga Zaoldyeck."
"Za…Zaoldyeck?! Ja… jadi diaa…"
"Iya, dia pembunuh. Tapi katanya dia sudah lama berhenti. Sekitar tujuh tahun yang lalu kalau tidak salah." Hiju menyeruput tehnya.
"Jika dia sudah berhenti kenapa dia ada disana?"
"Dia kembali untuk Mike. Dia juga bicara mengenai melindungiku dari keluarganya. Itu sebabnya ia kembali." Hiju memandangi teh yang ada didalam cangkir sambil tersipu malu.
Rozu memperhatikan lawan bicaranya.
"Apa kau tertarik padanya?"
"Eh?" Hiju memandangi Rozu.
"Aku rasa kau tertarik padanya. Jangan bilang kau jatuh cinta padanya." suara Rozu mendadak naik.
Hiju terdiam. Hanya dengan mendengar nada bicara Rozu, Hiju dapat menyimpulkan bahwa Rozu tidak menyukai percakapan ini. Ia tidak akan setuju jika Hiju berhubungan dengan Killua.
"Dengar Hiju, kau sudah aku anggap sebagai cucuku sendiri. Jangan masuk ke dalam dunia gelap lagi. Aku tidak peduli dengan ' berhenti membunuh'. Bagiku, dia akan tetap menjadi pembunuh, hanya saja ini belum waktunya dia kembali. Masa depanmu akan suram jika kau bersama dengannya. Lupakan dia. Masih banyak pria normal yang akan memilihmu." Rozu meninggalkan dapur dan Hiju yang termenung disana.
Hari demi hari berlalu. Bagi Hiju, berada di pet shop sekarang ini terasa kurang menyenangkan. Ia merasa hidupnya tertinggal disuatu tempat tapi ia lupa dimana. Hiju merasa hampa disetiap harinya. Tidak seperti dulu. Sepulangnya dari kediaman Zaoldyeck Hiju jadi semakin pendiam. Apalagi setelah Rozu menyuruhnya untuk tidak lagi menyukai Killua. Killua juga. Tidak ada kabar sama sekali mengenai dirinya. Hiju baru menyadari itu setelah sekitar seminggu ia berada di York Shin. Killu tidak pernah menghubunginya lagi.
Hiju larut dalam perasaan kalut. Setiap hari ia berharap Killua akan menghubunginya walau hanya sebentar saja, tapi itu tidak pernah terjadi. Ia juga tidak pernah bertemu dengan Killua lagi. Killua yang tidak pernah lagi muncul membuat Hiju bertanya : apakah Killua benar-benar serius dengannya atau tidak? Disatu sisi ia ingin percaya kalau Killua selama ini memang menyukainya tapi disisi lain ia merasa kalau Killua memang tidak pernah punya niat serius dengannya. Disamping itu, Rozu memang sudah bertekad bahwa ia tidak akan mendukung hubungan Hiju dengan Killu. Tidak adanya kabar dari Killua dan respon negarif yang selalu ia dapat dari Rozu membuat Hiju semakin putus asa setiap harinya.
Tanggal 15. Hari itu Hiju pergi ke salah satu cagar alam di York Shin. Disana ia menghabiskan waktu selama hampir sepuluh jam hanya untuk membantu proses melahirkan seekor ibu beruang lebah yang merupakan salah satu hewan langka. Ketika diperjalanan pulang, ia terjebak macet yang cukup parah. Tidak hanya itu, ia juga melihat 'hidupnya' York Shin saat itu. Orang-orang terlihat sangat sibuk dimanapun. Sama sibuknya seperti menjelang natal.
Awalnya Hiju tidak mengerti mengapa. Setelah mencoba mengingat-ingat, ternyata hari itu adalah hari ke 15 di bulan Mei. York Shin Anniversary akan diadakan tanggal 17 Mei nanti.
Hiju akhirnya sampai di pet shop. Sesampainya disana ia disambut oleh semua binatang yang telah menunggu kedatangannya. Hiju tersenyum membalas sambutan dari mereka dan dilanjutkan dengan pemberian pakan kepada masing-masing hewan disana. Rozu sedang tidak ada. Ia akan pergi sekitar dua minggu untuk mengurusi stambun hewan-hewan di luar York Shin. Itu akan membuat Hiju sendirian di pet shop selama dua minggu ke depan.
Setelah selesai memberikan pakan, Hiju bersiap-siap untuk mandi. Ketika ia hendak menuju kamar mandi, Hiju tidak sengaja melihat ke arah telepon. Objek penglihatannya saat itu melayangkan ingatannya akan janji Killua disaat terakhir ia akan meninggalkan kediaman Zaoldyeck.
'Hati-hati, ya. Nanti akan aku hubungi kau pada tanggal 15.'
Hiju termenung didepan telepon itu. Tidak ada tanda rekaman pesan atau pemberitahuan mengenai panggilan yang tidak terjawab. Banyak sekali pertanyaan yang membebani dirinya : apakah Killua akan menepati janjinya? Jika tidak, mengapa begitu? Mengapa Killua tidak menghubungiku? Apakah dia lupa kalau sekarang tanggal 15? Apakah dia sedang sibuk? Dimana dia sehingga tidak bisa menghubungiku?
What make you appear in my eyes
What always keep you appear
If I lie down and closed my eyes
Why is your face reminded
Semua pertanyaan itu berkecamuk dibenak Hiju. Dadanya terasa sesak, sakit sekali. Sakitnya membuat kepala Hiju terasa panas dan mata Hiju terasa perih. Tanpa Hiju sadari, air matanya mengalir.
Not seem a big deal then
to calm down my heart
you´re not the passing filing
that much is clear: its love
Must be love
'Killua… memang tidak pernah serius denganku…,'
Hiju terduduk dan menghabiskan semalam itu dengan menangis.
Although i don't know much
It is hard to belive this heart
Just before you leave
I don't know why i´m felling so strange
Pagi harinya Hiju terbangun karena jilatan Mango, salah satu anjing peliharaan di pet shop mereka yang dibiarkan bebas tanpa dikandang di dalam rumah.
GUK GUUKK
Mango terlihat sangat senang pagi itu. Hiju yang terbangun masih mencoba mengenali situasi. Ia sempat heran mengapa Ia tertidur dilantai, bukan dikamar. Ia juga sempat bingung mengenai pakaiannya : mengapa bukan piyama atau daster yang ia pakai, melainkan knitted blouse putih dan rok coklat selutut. Setelah mencoba mengingat-ingat lagi kejadian semalam, ia ingat apa yang membuatnya jadi tertidur dilantai : ia menangis hingga tertidur lelap. Timbulnya ingatan akan kejadian semalam membuat ia juga ingat sebab-sebab mengapa ia menangis hingga tertidur.
Hiju kembali termenung. Sekali lagi ia melihat teleponnya, tidak ada pesan ataupun panggilan yang tidak terjawab.
Setelahnya, Hiju menjalani hari-hari seperti biasa : mengurusi para hewan, melayani pasien dan pembeli yang datang ke pet shop, membersihkan rumah, mencuci dan menjemur pakaian, memasak dan mengurus taman belakang. Tidak terasa bagi Hiju ketika sore hari datang.
Sore itu tidak seperti biasanya. Kali ini langit berwarna oranye dan menciptakan banyak bayangan dipermukaan bumi. Hiju kembali ke dalam rumahnya untuk menyiapkan makan malam bagi para hewan dan mandi. Setelah menghabiskan beberapa menit untuk mandi, Hiju masuk ke kamarnya dan langsung menuju ke meja rias didekat ranjang. Hiju memperhatikan bayangannya dicermin. Entah apa yang dipikirkannya sehingga ia termenung beberapa saat.
Lamunan Hiju buyar saat ia mendengar gonggongan beberapa anjing yang ada dibawah, termasuk Mango. Hiju yang khawatir segera turun dari kamarnya dan berlari menuju kamar para hewan. Ketika ia sampai disana ia melihat semua binatang, terutama anjing sangat kepanikan. Mereka terus menggonggong dan Hiju berusaha menenangkan mereka satu per satu. Perlu waktu yang lama bagi Hiju agar mereka bisa diam. Setelah mereka semua diam, Hiju kembali ke kamarnya diatas dan mendapati Mango sedang berada didepan pintu kamar Hiju. Mango terlihat seperti sedang menunggu sesuatu. Ia terlihat tidak sabar, ketakutan dan seperti bersiap untuk menyerang sesuatu.
Melihat Mango dalam keadaan seperti itu, Hiju jadi berfikir kalau ada pencuri yang sedang bersembunyi di dalam kamarnya. Karena pintu kamarnya memang sudah terbuka, Hiju mencoba menilik ke dalam kamarnya dengan hati-hati. Ia memperhatikan sekeliling ketika berada dibibir pintu. Dari lokasi itu ia dapat melihat jendela, ranjang dan meja rias dari arah samping kiri. Hiju mulai menapakkan kakinya di lantai kamar. Dengan hati-hati Hiju berjalan mengendap-endap, masuk ke kamarnya. Sambil terus berjalan, ia memperhatikan sekelilingnya. Kini ia sudah berada ditengah kamar dan masih terus melihat ke sekeliling. Tidak ada apapun.
Bulu kuduk Hiju menegang.
'Apa mereka melihat hantu?' pikirnya dalam hati.
Saat Hiju masih memikirkannya, tiba-tiba ia di kejutkan dengan rangkulan seseorang dari belakang. Dengan refleks, Hiju berusaha melepaskan rangkulan kuat orang tersebut. Sayangnya kekuatan Hiju tidak mampu melepaskannya. Ketika ia melirik ke samping untuk melihat wajah orang yang mengagetkannya itu, ia melihat wajah yang ia kenal. Sangat kenal. Bahkan ia sangat merindukannya.
"Ki..Killua?" gumam Hiju yang masih shock.
Killua menoleh ke samping kirinya dan tersenyum. Senyuman maut dikombinasikan dengan tatapan mata yang indah tapi dalam ala Killua membuat Hiju meleleh dan terpaku. Ia tidak bisa bergerak.
"Maaf. Aku mengagetkanmu, ya?" tanyanya ramah dan seolah tanpa dosa.
Hiju masih shock jadi ia tidak merespon sama sekali.
"Sebegini kagetnya kah? Maaf. Tadinya aku mau memberimu kejutan tapi akhirnya kau malah benar-benar terkejut. Awalnya aku hendak masuk dari pintu biasa, tapi dikunci. Mau lewat pintu belakang juga dikunci. Akhirnya aku melompat saja untuk naik kesini. Untung saja ada balkon di kamar sebelah. Jadi aku bisa masuk dulu ke kamar itu lalu kemari. Hihihi." Killua memberikan penjelasan dengan ekspresi bangga disertai senyum khasnya.
Hiju hanya terdiam mendengarnya.
"Hiju?" panggil Killua seperti hendak menyadarkan gadis yang ia rangkul.
Dengan cepat Hiju melepaskan dirinya dan menampar wajah Killua dengan cukup keras. Killua menggigit bibir bawahnya dan menatap ke arah Hiju dengan tatapan heran tapi tajam. Dia melihat Hiju berdiri didepannya dengan mata berlinang dan wajah yang merah. Hiju sedang mencoba untuk tidak menangis.
"Killu, kau benar-benar keterlaluan!" Hiju membentak Killu dan Killu hanya menunduk terdiam. Hiju melanjutkan, "Kau pikir kau ini siapa?! Jangan mentang-mentang karena kau seorang Zaoldyeck kau dapat mempermainkan aku seperti ini!"
Mendengar kata-kata Hiju, Killua mengangkat kepalanya dan menatap gadis itu dengan seksama. "Apa maksudmu?"
Tanpa terasa air mata mengalir dari kedua mata Hiju dengan cepatnya. "Sudah berapa hari aku ada di York Shin? Aku menunggu kabar dan telepon darimu setiap hari! Tidak ada satu pun kabar darimu! Aku hanya berharap kau menelepon atau memberiku pesan. Hanya 'halo' saja sudah cukup bagiku. Tapi ini? T idak ada! Kau bahkan lupa janjimu untuk menghubungiku pada tanggal 15! Apa maksudmu?! Kau bilang kau serius denganku tapi apa jadinya saat aku pulang? Aku kehilanganmu! Sekarang kau kemari dan mengejutkan seisi rumah! Kau bisa membuat jantungku berhenti karena tiba-tiba memelukku seperti tadi! Kau ingin aku mati atau apa?!"
Killu yang terus mendengarkan kata-kata Hiju perlahan melunak. Ada ekspresi rasa bersalah pada wajahnya saat itu. "Maaf. Aku benar-benar minta maaf."
Hiju masih terlihat marah dimata Killua.
"Kalau kau hendak menamparku, aku akan terima karena aku benar-benar menyesal. Tapi aku mohon, jangan pernah menganggap kalau aku tidak serius denganmu."
Hiju masih mendengarkan. Killua dengan perlahan mendekati Hiju yang tadi sempat mundur beberapa langkah ketika menamparnya. Perlahan kakinya mendekati Hiju yang masih terdiam menangisi Killua. Saat Killu sudah benar-benar ada dihadapan gadis itu, ia memeluk Hiju dengan lembut tapi kuat, seolah tidak akan pernah mau melepasnya.
"Maaf. Aku benar-benar minta maaf. Aku berani bersumpah kalau aku memang serius denganmu. Soal janjiku untuk meneleponmu, maaf. Kemarin aku ada pertemuan keluarga, jadi aku tidak bisa meneleponmu. Maaf sekali,,,"
Air mata Hiju masih mengalir. Sedikit demi sedikit rasa sakit didada Hiju yang selama ini ia rasakan semakin memudar dengan hadirnya Killu. Malam itu hanya ada Killu dan Hiju dan tidak ada satupun yang mengganggu.
'Hmm,, silau sekalii,,' gumam Hiju dalam hati.
CIT,,CIIIT,,,
'Berisik jugaa,,'
Sedikit demi sedikit Hiju membuka matanya. Didepan, ia melihat ada dua burung gereja sedang bertengger di bingkai jendela. Pagi itu cuaca sangat cerah. Sinar matahari yang menyeruak masuk ke dalam kamar Hiju membuat kedua burung gereja yang ada disana terlihat seperti titisan dari surga.
Hiju memperhatikan kedua burung yang dijubahi cahaya matahari tersebut. Ia merasa mata dan tubuhnya masih amat lelah. Beberapa detik kemudian ia merasa tubuhnya agak dingin. Saat Hiju melihat ke bawah, Hiju terkejut setengah mati saat mendapati dirinya sendiri tidak berpakaian.
Mata Hiju terbuka seratus persen. Ia mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi sebenarnya. Sedikit demi sedikit memori pada malam sebelumnya muncul dikepala Hiju. Mulai dari kedatangan Killua yang tiba-tiba, argumen mereka selama beberapa menit, mereka berciuman dan akhirnya….
Wajah Hiju memerah seluruhnya saat ia ingat kejadian malam sebelumnya dimana ia dan Killua akhirnya melakukan 'itu'.
Hiju speechless. Kini ia menengok ke kiri dan ke kanan. Killua tidak ada dikamarnya. Karena penasaran mengenai keberadaan Killua, Hiju segera mencari pakaian yang ada didekatnya lalu ia pakai untuk keluar kamar. Diluar kamar ia melihat Killu yang shirtless sedang duduk terdiam di meja makan. Matanya kosong dan Killu terlihat tegang.
"Killu?" sapa Hiju dari samping kirinya.
Killua melirik. "Oh, pagi. Bagaimana tidurmu?" sapa Killua dengan senyum manisnya.
"Nyenyak." Hiju mengambil tempat disamping Killua.
"Syukurlah,, oh iya, masalah semalam,, aku jadi maluu,," Killua tertunduk malu sambil mengusap-usap bagian belakang lehernya.
Hiju jadi blushing jika ingat bagaimana ia dan Killua melakukan 'semuanya' kemarin malam.
"Tidak apa-apa. Itu pertama kalinya aku melakukan itu. Aku juga malu. Maaf ya kalau kemarin malam aku berisik."
Killua makin blushing. "Euhm,, gak apa-apa kok. Aku suka malah." Killua makin tertunduk saking malunya.
Hiju tersenyum malu. "Killua?"
Killua menoleh. "Ya?"
"Apa kau akan pergi lagi?"
Perlahan bola mata Killua memandang ke arah lain. "Ah, mungkin. Aku juga tidak tahu, sih. Tapi… aku akan menemanimu malam ini ke perayaan kota. Kau mau pergi, kan?"
Mata Hiju jadi berseri-seri. Ia mengangguk dengan cepat. "Ya! Aku mau pergi denganmu! Oh iya, kalau kau pergi, kapan kau akan kembali kesini?"
Killua terlihat berfikir. Mendadak raut wajahnya berubah sedih. "Hiju?"
"Hmm?"
"Untuk saat ini, jangan pikirkan itu dulu, ya? Aku ingin menghabiskan hari ini bersamamu. Aku belum mau memikirkan masalah kapan aku pergi dan kembali. Selama aku disini, aku milikmu. Kita nikmati saja dulu, oke?"
Ada sedikit perasaan tersentuh di hati kekasih Killua. Ia meraih tangan Killua yang ada dimeja makan dan menggenggamnya erat-erat.
"Aku, sangat suka Killua."
Sorenya, Hiju tengah bersiap-siap untuk kencan pertamanya dengan Killua. Ia sudah mematut dirinya didepan cermin kurang lebih satu jam hanya untuk mencari hanbok yang terlihat cocok dengannya. Pilihan terakhirnya jatuh pada hanbok sutra dengan jeogori berwarna baby pink, otgoreum berwarna kuning dan chima berwarna merah darah. Hanbok itu sudah lama ia beli dan sore itu adalah hari debut sang hanbok. Dalam hati Hiju, ia berjanji akan memakai pakaian itu untuk pertama kalinya pada saat penting yang membahagiakan hidupnya.
Setelah ia merasa dirinya sudah cukup 'bagus', Hiju mendatangi Killua yang sedang berada dikamar tamu. Saat Hiju sampai dibibir pintu, ia melihat Killua sedang mematut dirinya didepan cermin. Killua menggunakan kimono Kinagashi berwarna hitam dengan obi berwarna abu-abu.
"Kau terlihat sangat tampan," ujar Hiju yang berhasil membuat mata Killua berpaling ke arahnya. Begitu Killua berpaling, ia tidak bisa berhenti menatap Hiju dari ujung rambut hingga ujung kaki. Bagi Killua, Hiju saat itu terlihat sangat cantik dengan dua kuncir kuda disamping kiri dan kanan pelipisnya.
"Bagaimana menurutmu?" Hiju memastikan 'kebagusan' penampilannya pada Killua.
Tatapan Killua melembut. "Cantik, sekali. Kau seperti boneka bagiku."
Hiju tersenyum malu – malu. Ia melangkahkan kakinya menuju ke hadapan Killua lalu berjinjit untuk merapikan rambut cowok yang sudah resmi menjadi pacarnya.
"Sudah. Kau sangat tampan. Aku jadi ragu mengajakmu ke perayaan. Pasti akan banyak sekali perempuan yang mengincarmu nanti." Hiju menggigit bibirnya.
Killu tersenyum. "Tidak peduli berapa dan siapa yang menyukaiku. Aku hanya bisa memandangmu," balas Killua.
Hiju menatap kekasihnya sama lembutnya. "Killu. Apa kau marah karena aku menamparmu?"
"Eh? Tidak. Kenapa memangnya?"
Hiju bicara dengan ragu-ragu. "Aku merasa kau sangat aneh sejak kemarin malam. Entahlah apa perasaanku saja atau bagaimana, tapi.. aku merasa kau sangat berbeda dibandingkan saat aku dan kau berada di Kukuru Mountain. Kau yang aku kenal sangat hangat dan menenangkan, ceria, bahkan kau yang selalu mengajakku bercanda. Tapi sejak kemarin malam, aku merasa kau begitu dingin. Apa kau sedang punya masalah? Karena aku bisa merasakannya. Mau cerita padaku?"
Killu terdiam lalu mengecup kening Hiju. "Jangan bicara yang aneh-aneh lagi, ah. Ayo kita pergi?"
"Kau yakin? Maksudku, kalau ada masalah sekecil apapun, kau bisa menceritakannya padaku."
Killu tersenyum. "Tidak ada Hiju, sayang~…" Killua mencubit pipi Hiju dengan gemas.
"Benarkah?"
"Iya." Killua menjawab mantap.
York Shin Anniversary merupakan salah satu perayaan di kota tersebut sebagai perayaan atas hari jadinya. Perayaan itu dirayakan oleh semua orang. Ada pesta kostum, pesta kuliner, pesta dansa, pesta konser, pertunjukkan segala macam, karnaval, kembang api, lomba-lomba, dan masih banyak lagi hal yang dilakukan oleh seluruh isi kota untuk merayakan hari jadi kota mereka.
Hiju dan Killua menjadi salah satu penikmat acara itu. Mereka berjalan dari satu area ke area yang lain. Hiju terlihat sangat senang malam itu, tapi tidak dengan Killua. Killua memang sempat beberapa kali bercanda dan tertawa bersama Hiju, tapi ia akan murung kembali.
"Killu? Ayo kesana?" ajak Hiju seraya menunjuk pada satu wahana labirin.
"Eh?"
Killua membaca nama wahana labirin tersebut yang baginya agak norak : Labirin Cinta.
"U…untuk apa?" tanya Killu setelah cracking beberapa saat.
"Nama wahananya memang tidak enak dibaca, tapi aku ingin mencoba wahana itu. Aku belum pernah masuk ke dalam labirin. Lagipula banyak sekali orang yang masuk ke wahana itu. Ayo kita masuk juga?"
Melihat antusiasme Hiju terhadap labirin, Killu akhirnya mengiyakan. "Oke deh."
Begitu mendengar kata 'oke' dari bibir kekasihnya, Hiju segera menyeret Killu menuju pintu masuk labirin. Di pintu masuk ada seorang perempuan penjaga wahana. Ia memberikan dua tiket masuk kepada Killua seraya memberi penjelasan mengenai wahana labirin.
"Selamat datang di Labirin Cinta. Labirin ini mempunyai dua pintu masuk, satu untuk perempuan dan satu untuk laki-laki. Kalian harus berpisah disini dan menemukan satu sama lain di dalam labirin. Jika kalian bertemu, kalian adalah jodoh. Tidak hanya mencari pasangan masing-masing, di dalam juga akan kalian temui ujian yang akan menghalangi jalan. Ujian ini akan menguji seberapa besar cinta yang kalian punya terhadap pasangan. Semoga berhasil~."
"Kau yakin mau mencobanya?" tanya Killua pada Hiju ketika mereka berada di depan dua pintu masuk.
"Ehmm! Kita pasti akan bertemu didalam!"
Killua tersenyum cool.
Tiba saatnya bagi Hiju dan Killua berpisah untuk sementara. Setelah berjalan sekitar tiga menit di dalam labirin, Killu mendapati tujuh orang berdiri menghalangi jalannya. Mereka terlihat seperti keluarga dan memandangi Killua dengan tatapan tajam.
Melihat ada orang-orang yang menghalangi jalannya, Killua jadi terdiam heran.
"Anakku?" ujar salah satu perempuan yang berdiri disana. Dari caranya bicara barusan, Killua jadi ingat akan seseorang.
Sementara itu, Hiju masih berjalan dengan tenang di dalam labirin. Setelah beberapa langkah ia berjalan, ada sekelompok orang yang menghalangi jalannya. Mereka semua terlihat 'berbeda' dan cukup menakutkan juga. Tidak seperti penjahat kelas rendahan yang pernah ia temui saat Killua menyelamatkannya, kelompok orang-orang ini terlihat seperti penjahat yang unik. Beberapa dari mereka berpakaian biasa sementara yang lainnya cukup aneh. Tatapan mata mereka juga berbeda, begitu dalam dan terlihat mengancam.
Hiju yang sebenarnya sedikit takut terus menguatkan diri untuk tetap berjalan. Begitu Hiju hendak melewati mereka, salah satu dari mereka bertanya. "Apa kabar?"
Hiju mendengar pertanyaan itu. Ia melirik ke samping kanannya.
"Kau orang yang kuat. Mau bergabung bersama kami? Kita akan menghabiskan banyak waktu bersama dengan berkeliling dunia dan mencari sesuatu yang berharga. Kau tidak akan menyesal."
Hiju hanya diam memperhatikan.
"Bagaimana? Kau tertarik?" lanjut orang itu lagi.
Setelah sekian lama Hiju terdiam, Hiju akhirnya menjawab. "Tidak, terima kasih."
Hiju melanjutkan kembali langkahnya. Kini salah satu dari mereka yang lain yang bicara. "Kau akan melahirkan anak yang hebat. Anak yang akan sangat membanggakan keluarganya dan teman-temannya. Bergabunglah bersama kami. Anakmu akan menjadi yang terkuat karena didikan dari kami."
Hiju termenung sebentar. "Maaf, aku tidak tertarik."
Saat Hiju mau berjalan lagi, tiba-tiba salah satu dari mereka memegang tangan Hiju dengan kuat. Saking kuatnya, tangan Hiju terasa seperti remuk. Hiju tidak bisa bicara, apalagi berteriak.
Setelah beberapa menit berlalu sejak memasuki labirin, Killua akhirnya sampai di sebuah taman kecil yang berada di dekat pintu keluar.
Di taman itu ada petunjuk yang mengarahkan orang-orang untuk mengikuti satu jalan. Jalan itu akan membawa mereka menuju pintu keluar labirin dimana ada dua peramal yang menunggu mereka disana. Dua peramal itu akan memberikan ramalan kepada si pria dan si wanita mengenai hubungan asmara yang sedang terjalin. Disisi labirin yang lain juga disediakan enam pintu keluar. Akan tetapi, pintu keluar yang lain bukanlah pintu yang benar. Jalan yang benar hanya ada satu –hanya ada ditaman- dan jalan itu memiliki dua peramal di ujungnya. Jalan itu lurus dan tidak akan ada orang yang bisa mencapainya dari arah lain. Atau dengan kata lain, hanya tamanlah satu-satunya tempat dimana setiap pasangan dapat menemukan jalan yang benar itu. Sedangkan keenam jalan yang lain dapat ditembuh dari arah mana pun. Hanya saja, pasangan yang melewatinya tidak akan tahu kalau jalan itu adalah jalan yang salah. Jika ada pasangan yang berhasil menemukan jalan keluar dari salah satu jalan yang salah itu, maka diramalkan bahwa asmara dua pasangan ini tidak akan berjalan baik. Nama – nama dari enam pintu keluar itu adalah Heart Break, Dead End, Ruby, Black Out, Windy, dan Lily.
Disekeliling Killua sudah banyak sekali pasangan yang berkumpul. Awalnya mereka seperti Killua dan Hiju yang berpisah di awal. Namun, kini mereka telah bersatu kembali.
Killua duduk sambil termenung dengan wajah menatap tanah disertai keringat yang tak hentinya bercucuran dari kening. Sudah hampir setengah jam Killua duduk dipinggir kolam teratai taman itu. Sudah berpuluh-puluh pasangan juga yang masuk – keluar taman. Sudah selama itu dan Hiju belum juga muncul. Setelah lima menit kemudian berlalu, Killua memutuskan untuk mencari keberadaan Hiju. Ia menganggap Hiju masih ada didalam labirin, jadi dia memutuskan untuk memperhatikan labirin dari atas pohon. Dengan cepat Killua memanjat pohon yang ada di samping labirin dan menilik sudut demi sudut labirin itu. Tidak berapa lama, Killua akhirnya menemukan Hiju yang berjalan di tengah labirin sambil memegangi tangannya. Merasa ada yang tidak baik dengan Hiju, Killua segera mendatangi kekasihnya yang berjalan sambil menahan sakit pada lengannya.
Setelah beberapa kali Killua melompat untuk mendatangi kekasihnya, Killua akhirnya sampai di depan Hiju. Begitu mendarat di depan kekasihnya, betapa kaget Killua saat ia melihat tangan kiri Hiju yang sepertinya remuk. Hiju tidak bicara apalagi berteriak. Ia hanya menggigit bibir bawahnya sekuat mungkin hingga air matanya mengalir dan darah keluar dari gigitan di bibirnya.
Mata Killua berlinang air mata saat melihat Hiju mencoba menahan rasa sakitnya. Dadanya bergetar tidak karuan melihat Hiju tersiksa sedemikian mengerikannya. Killua tahu akan percuma jika bertanya mengenai pelakunya sekarang, toh Hiju masih menggunakan bibirnya untuk menahan sakit. Dengan lembut Killua menghapus air mata dikedua pipi Hiju dengan menggunakan kedua jari tangannya. Killua juga pelan-pelan menyuruh Hiju untuk melepaskan gigitan pada bibir bawahnya. Setelah itu, Killua menghapus darah yang mengalir dari bibir kekasihnya dengan menggunakan telunjuk. Sebagai sentuhan akhir, Killua menghisap semua darah yang masih mengalir dari bekas gigitan di bibir bawah Hiju sampai tidak mengalir lagi. Hisapan itu tidak cukup ampuh bagi Hiju sebagai penahan rasa sakit. Setelah darahnya tidak mengalir lagi. Dengan cepat, Killua memukul pundak Hiju menggunakan sedikit kekuatannya. Hiju pingsan dan Killu memangku gadis itu pulang dengan berjalan.
'Maaf Hiju. Tapi dengan begini kau tidak akan merasa sakit untuk sementara'.
Killua terus berjalan di dalam labirin untuk menemukan jalan keluar. Ia berhasil keluar dari labirin setelah sekitar sepuluh menit berjalan. Persis didepan pintu keluar, ada dua pasangan yang terlihat sangat kecewa.
"Pintu Black Out? Kenapa? Apa maksudnya?"
"Hei, lihat ini!" tiba-tiba salah satu dari mereka menunjuk sesuatu yang terpasang di pinggir pintu. "Disini tertulis kalau pintu Black Out ini adalah 'pintu dimana kedua pasangan tidak akan pernah bersatu karena masing-masing menjadi orang lain'."
"Apa maksudnya?"
"Mungkin seperti ini : ada satu pasangan dimana si pria atau si wanitanya mengalami kecelakaan lalu dia amnesia akut. Tentu dia akan menjadi orang lain selamanya bagi sang kekasih. Karena itulah, akhirnya mereka berpisah sebagai pasangan."
