Heart

~White Christmas~

Disclaimer : J.K Rowling

Pair : Draco M. & Harry P.

Rate : M

Genre : Romance / Family / Hurt / Comfort

Warning : SLASH, OOC, Modifiate Canon.

.

#

.

Pemuda itu menatap satu persatu teman-temannya yang mulai mengemas koper mereka, rencana-rencana yang terdengar menyenangkan keluar dari bibir-bibir yang tertawa bahagia. Pemuda itu hanya tersenyum kecil, ada sedikit rasa sepi menyelinap di sudut hatinya karena tak ada keluarga yang akan menunggunya pulang saat liburan natal yang akan tiba dua hari lagi.

"Kau yakin tak mau ikut aku ke The Burrow, mate?" tanya seorang pemuda berambut merah yang menghampirinya dan duduk di sampingnya.

Pemuda itu menggeleng pelan, "Tidak, aku sudah berjanji padanya untuk merayakan Natal disini saja," jawab pemuda itu lagi.

"Draco maksudmu?" tanya pemuda berambut merah itu meyakinkan, "Kau setia sekali padanya, Harry," katanya lagi sambil tergelak dan menghindar dari pukulan kecil Harry Potter, sahabatnya selama tujuh tahun di Hogwarts. Pemuda yang menang melawan takdirnya sebagai musuh sang pangeran kegelapan, Voldemort, yang kini tengah menjalin hubungan khusus dengan mantan musuh mereka, Draco Malfoy.

"Bukan begitu, Ron, kami bisa saja menghabiskan Natal di the Burrow ataupun di Grimmauld Place, hanya saja kalau disini kami bisa leluasa menjenguk uncle Lucius melalui jaringan Floo milik kepala sekolah, dengan kawalan beliau tentunya," jawab Harry cepat sambil menyembunyikan rona merah tipis yang menghiasi wajahnya.

Pemuda yang dipanggil 'Ron' itu terkekeh pelan, "Ya, ya… aku paham," jawabnya sambil menyeringai menggoda pada Harry. "Bagaimana kondisi Mr. Malfoy sekarang?" tanya Ron lagi, kali ini terdengar serius.

Harry menyadarkan tubuhnya pada dinding, "Kondisinya sedikit membaik, walau belum bisa dibilang sembuh," desah Harry. "Uncle Lucius hampir dua tahun dipenjarakan disana sejak tahun keenam kita kan? Kondisinya begitu lemah. Dan yang kami khawatirkan kondisi disana juga akan mempengaruhi kesehatan Aunt Cissy," sambung Harry.

Ron tercenung, "Ya, kau benar, mate, Dad bilang kondisi di Azkaban memang mengerikan walau tak ada lagi dementor yang berkeliaran dengan bebas disana. Mrs. Malfoy bisa bertahan disana saja itu sudah hebat," katanya pelan. "Kuharap mereka bisa mendapatkan masa pemotongan tahanan dan segera keluar dari tempat itu," lanjut Ron.

Harry mengangguk pelan, "Thanks, kuharap juga begitu," jawab Harry. Pemuda bermata hijau itu lalu memandang pada sahabatnya, "Aku senang kau tak berpikiran negatif lagi pada mereka, mate."

Ron mengangkat bahunya, "Mrs. Malfoy sudah begitu baik padamu, bahkan dia juga menyetujui hubunganmu dengan anaknya yang manja itu…"

"Kuharap Draco tak mendengar itu, Ron," desis Harry memotong kata-kata Ron yang mengejek Draco tersebut. Sampai sekarang Ron dan Draco memang tak bisa dibilang akrab, Ron masih kesal karena ulah-ulah usil Draco di masa lalu dan Harry bisa memahami itu mengingat betapa menyebalkannya pangeran Slytherin yang pernah mereka kenal itu, dulu.

Ron berdecak, "Aku tak peduli walau dia mendengarku, Harry, dan jangan mulai terus membelanya," sergah pemuda berambut merah itu dengan kesal dan tak menghiraukan tawa geli Harry, "Aku hanya kasihan pada Mrs. Malfoy, itu saja," jawabnya lagi, "Aku heran dari wanita secantik itu bisa lahir anak sombong dan menyebalkan seperti Draco," gumamnya pelan sambil memalingkan wajahnya dari Harry.

Harry tergelak dan meninju pelan lengan sahabatnya, "Cukup, Ron, jangan terus menggerutu tentang Draco," bela Harry, "Lagi pula aku rasa Draco cukup tampan untuk menjadi anak dari Aunt Cissy," godanya lagi pada Ron.

Ron meringis, "Kau mulai membuatku mual, mate," jawabnya kesal sambil berdiri meninggalkan Harry yang tersenyum jahil dan membaur dengan Neville dan Dean yang masih sibuk dengan koper mereka.

Harry membaringkan tubuhnya, dengan perlahan dia memejamkan matanya mencoba tak menghiraukan kegaduhan dari ketiga temannya.

.

#

.

Siang ini Harry duduk sendiri di sudut perpustakaan yang sepi, saat menjelang liburan begini perpustakaan seakan malas dilirik oleh para siswa. Dia memandang lurus keluar dari jendela besar di sampingnya sambil menopang dagu, dilihatnya para siswa berkumpul di halaman samping membentuk menjadi beberapa kelompok. Mereka tertawa dan tampak begitu bahagia, 'pasti Natal yang menjadi topik hangat mereka sekarang', batin Harry.

"Kau tampak begitu kesepian, Harry," kejut sebuah suara di belakangnya.

Harry menoleh dan tersenyum mendapati Hermione disana, yah siapa lagi yang tak bisa lepas dari buku dan perpustakaan? "Hai, Mione," sapa Harry.

Hermione meletakkan buku-bukunya di meja Harry dan duduk di depan pemuda itu, "kau selalu begini setiap kali kau memikirkan sesuatu, apa tak bisa lagi berbagi dengan kami?" tanya gadis cantik itu pada sahabatnya yang selalu bersamanya dan Ron itu.

Harry tersenyum, "Bukan begitu, Mione, aku hanya sedang ingin sendiri," jawab Harry.

Hermione menatap kesal pada Harry, "Apa hubunganku dengan Ron akhirnya memecah persahabatan kita? Ku harap itu hanya pemikiran bodohku, Harry."

"Tidak… tidak, maafkan aku," jawab Harry cepat sambil meraih tangan Hermione yang hampir berdiri dari duduknya.

Hermione menarik napas panjang dan kembali duduk dengan tenang, "Ada apa? Apa yang kau pikirkan?" tanya gadis itu lagi.

Harry terdiam sesaat, "Tidak ada apa-apa, Mione, aku hanya iri melihat kalian yang bersemangat menyambut natal, karena selama ini kita selalu bersama saat liburan tiba," jawab Harry pelan.

Hermione memandang mata emerald Harry yang tampak lesu, "Kenapa kau dan Draco tak ikut dengan Ron saja? Aku akan menyusul kesana setelah Natal."

Harry menggeleng, "Tidak, walaupun berada di The Burrow para Auror tak akan melepaskan pengawasannya pada kami, lagipula hanya dari sini lah kami bisa leluasa mengunjungi orang tua Draco di Azkaban," jawab Harry.

Gadis berambut coklat itu mengangguk mengerti, "Aku akan mengirimimu surat setiap hari," hiburnya pada Harry.

Harry tertawa pelan, "Thanks, Mione," jawabnya pelan sambil menggenggam tangan gadis itu.

.

.

Setelah mengobrol cukup lama di perpustakaan, yang akhirnya membuyarkan rencana Hermione untuk membaca buku, kedua sahabat itu berjalan pelan menyusuri koridor kastil, "Aku akan membawakan banyak oleh-oleh untukmu saat kembali ke Hogwarts nanti, jadi kau siapkan perutmu untuk masakan Mrs. Weasley ya," goda Hermione.

"Aku rasa aku akan sanggup memakan seluruh masakan Mrs. Weasley, Mione, berapapun banyaknya," jawab Harry sambil tertawa.

Hermione hanya menaggapinya dengan senyuman, "Aku sangat berharap kau bisa menghabiskan Natal ini bersama kami, Harry," katanya sedih.

Harry tersenyum melihat sahabatnya yang menundukkan kepala tersebut, dengan lembut dirangkulnya bahu kecil itu, "Aku akan sangat merindukan kalian," bisiknya lirih.

Hermione memeluk Harry dengan erat, "Begitu pun dengan kami, Harry," jawabnya pelan. Gadis itu mencemaskan keadaan Harry selama tak ada mereka, selama ini mereka selalu bertiga bahkan saat liburan tiba. "Beri kabar kalau terjadi sesuatu padamu, pada Draco, atau pada Mr. dan Mrs. Malfoy."

Harry mengangguk dan mengecup lembut rambut ikal Hermione.

"Lepaskan pelukanmu, Granger, atau aku akan membuatmu menyesal karena telah memeluk milikku," sebuah suara mengejutkan mereka.

Hermione berdecak kesal dan berkacak pinggang, "Asal kau tahu, Malfoy, aku sudah melakukan itu jauh sebelum kau memeluknya dan menjadikannya milikmu," jawab gadis itu dengan nada ketus yang dibuat-buat.

Draco menyeringai pada gadis yang kini juga akrab dengannya itu, "Tapi itu dulu, nona, sekarang dia sudah menjadi hak mutlakku," balasnya.

Hermione mencibirkan bibirnya, "Tapi aku sudah tujuh tahun bersamanya, sedangkan kau baru beberapa bulan ini saja kan?"

"Waktu tidak bisa dijadikan ukuran, Granger, kau mau bilang selama apa tetap saja aku yang berhak atasnya saat ini," balas Draco lagi.

"Cukup, kalian membuatku merasa aneh, tahu," bentak Harry kesal sebelum Hermione kembali membalas Draco. Dia tahu mereka hanya bercanda, hanya saja Draco memang selalu usil dan senang membuatnya kesal, dan Hermione terkadang justru mendukung Draco untuk menggodanya.

Gadis cantik itu tertawa dan mencium pipi Harry sekilas, "Sampai nanti, Harry, bye Draco," pamitnya pada dua pemuda yang menjadi topik hangat di Hogwarts karena perubahan status mereka dari musuh menjadi kekasih itu.

Setelah gadis itu hilang di belokan koridor Draco memeluk Harry dan membenamkan wajahnya pada lekuk leher pemuda itu.

Harry sedikit terkejut lalu terkekeh pelan, "Kau kenapa?" tanyanya heran sambil membelai rambut pirang Draco yang halus. Terkadang Draco bersikap angkuh dan kasar, tapi tak jarang juga dia menjadi begitu lembut dan sedikit manja padanya, aneh memang mengingat dia adalah pangeran Slytherin yang biasa bersikap dingin dan sempurna.

Draco menghela nafas panjang tanpa mengangkat wajahnya, "Kemana saja kau seharian ini?" tanyanya pelan, "Aku tak melihatmu setelah kelas berakhir."

Harry menghirup dalam-dalam harum tubuh Draco yang sangat dia suka, "Aku ada di perpustakaan bersama Hermione sejak tadi, kau bisa tanyakan padanya."

Draco akhirnya menatap mata hijau Harry, "Kenapa tak mencariku?"

Harry mengusap lembut pipi Draco, "Maaf, besok mereka akan pulang, jadi aku sebisa mungkin ingin bersama mereka sebentar."

Draco menatap tajam emerald itu, kilau yang selalu membuat dadanya dipenuhi oleh kehangatan, "Kau akan kesepian tanpa mereka?" tanyanya lagi.

Harry mengangguk pelan, "Tentu, baru kali ini aku melewatkan Natal tanpa mereka," jawabnya.

"Maafkan aku," bisik Draco pelan, "Apa sebaiknya kau ikut mereka saja ke The Burrow?" tawarnya ragu sambil terus menatap mata hijau Harry, sungguh dia tak ingin melihat pemuda ini bersedih.

"Bodoh," sergah Harry sambil memukul pelan kepala Draco, "Walaupun bersama mereka aku juga tak akan tenang kalau tidak tahu keadaan uncle Lucius."

Draco melepaskan pelukannya lalu menarik napas panjang, "Kondisi Dad belum pulih, sedangkan Mum terlalu memforsir tenaganya demi menjaga Dad dan akhirnya sekarang kondisinya ikut melemah."

"Apa Kingsley sudah tahu hal itu?" tanya Harry pada Draco yang membelakanginya.

Draco berdiri di depan jendela besar yang menghadap ke arah Danau, pantulan sinar matahari membuat permukaan danau itu tampak begitu berkilau, "Dia sudah tahu bahkan meminta Mum untuk beristirahat di ruangan lain dan tak usah mengkhawatirkan Dad, tapi Mum begitu keras kepala, tak sedetikpun dia ingin meninggalkan Dad."

Harry tersenyum, lalu dia mendekati pemuda berambut pirang itu dan memeluknya dari belakang, "Keras kepala, seperti kau," bisiknya di punggung Draco.

Draco tertawa kecil, dadanya diselimuti rasa hangat, pelukan Harry selalu bisa membuatnya terhibur, "Aku pikir saat ini aku sudah terlalu sering mengalah padamu, love," gurau Draco.

Harry melepaskan pelukannya dan duduk di ambang jendela di depan Draco, mata hijaunya memandang kilau abu-abu Draco lalu tersenyum, "Aku berharap Natal kali ini membawa keajaiban untuk kita," bisiknya lagi.

Draco meraih tangan Harry dan menggenggamnya dengan erat, "Kuharap juga begitu," jawab Draco. Mereka melepaskan pandangan mereka keluar jendela, menikmati keindahan danau dan semilir angin yang membelai kulit wajah mereka. Tak ada yang bicara, genggaman tangan seakan telah mengungkapkan segalanya.

.

#

.

"Aku akan menunggumu kalau kau berubah pikiran sekarang dan mulai mengepak kopermu, mate," kata Ron di depan pintu utama.

Harry tertawa, "Tidak, Ron, pergilah."

"Kau yakin tak akan mati kesepian disini?" paksa pemuda berambut merah itu lagi.

Draco berdecak kesal, "Kau itu bisa mendengar tidak sih, kalau dia bilang tidak ya tidak, jangan kau paksa-paksa lagi, bodoh," bentaknya.

Ron membelalakkan matanya, "Apa kau bilang? Aku hanya khawatir kalau meninggalkannya hanya berdua saja denganmu, Ferret."

"Aku lebih khawatir kalau dia bersamamu, Weasel, aku tak tahu apa yang akan kau lakukan padanya saat dia tidur," balas Draco sambil menyeringai.

"WHAT? Seleraku tak sama denganmu, kulit pucat." Balas Ron kesal.

"Apa katamu? Kau itu..."

"CUKUP, HENTIKAN RON, DRACO," bentak Harry memotong kata-kata Draco, pemuda itu memijat keningnya untuk mengurangi rasa pusing di kepalanya.

Hermione, Pansy, Blaise dan Theo tergelak melihat ulah dua pemuda yang susah akur itu, "Aku jadi iri padamu, Harry, kau seperti seorang putri yang diperebutkan dua pangeran," goda Pansy yang diikuti tawa teman-temannya, tak peduli kalau saat itu Ron hampir meledak kesal.

"Oh come on, diamlah Pans, jangan membuatku semakin pusing," gerutu Harry, "Sebaiknya kalian segera pergi dan jangan membuat keributan disini."

"Baiklah, kami pergi dulu," pamit Blaise pada Harry dan Draco.

Hermione memeluk Harry dengan erat, "Jaga dirimu, Harry, aku akan sangat merindukanmu," kata gadis itu setelah memberikan ciuman sekilas di pipi sahabatnya itu, "Dan kau, Draco, jangan membuat Harry menangis selama kami tak ada," godanya sambil tersenyum jahil.

"Serahkan padaku, Mione, dia akan aman bersamaku," jawab Draco tak kalah usil.

"CUKUP... segeralah berangkat atau aku akan melempar tas kalian keluar gerbang," ancam Harry sambil menggenggam tongkatnya.

Semua tertawa dan akhirnya mereka berbalik meninggalkan dua pemuda itu di pintu kastil, Harry terdiam menatap punggung mereka yang semakin menjauh.

"Siap melewati Natal dan tahun baru ini bersamaku, dear?" tanya Draco sambil memeluk pundak Harry dari belakang.

Rasa kesal yang tadi ditinggalkan teman-temannya langsung hilang begitu dia merasakan hangatnya tubuh Draco pada punggungnya, Harry tersenyum dan mengangguk lalu mencium singkat pipi pemuda bermata kelabu itu, "Tentu," jawabnya singkat.

.

#

.

Dan saat ini Hogwarts menjadi benar-benar sepi tanpa kehadiran para murid yang biasanya ramai saat makan di aula besar. Harry duduk di samping Draco, keduanya tak banyak bicara. Entah kenapa saat ini Harry merasa begitu aneh, ada rasa tak nyaman di hatinya, bukan... bukan karena Draco tapi karena sesuatu yang lain yang Harry sendiri tak mengerti. Begitu pun dengan Draco, sejak tadi dia hanya diam, bahkan seperti enggan menyentuh makanannya.

"Aku merasa ada sesuatu yang aneh dengan perasaanku, seperti tak nyaman, entahlah," kata Harry pelan sambil meletakkan sendok makannya dan mengusap bibirnya dengan serbet putih.

Draco memandang pemuda berambut hitam itu dengan heran, "Apa maksudmu?"

Harry menggeleng pelan, "Entahlah," desahnya tanpa melihat Draco.

Draco menghela napas panjang dan merapikan sisa makanannya, "Sebenarnya aku juga merasa tak nyaman, aku teringat akan Dad, apakah dia baik-baik saja?"

Harry terdiam, "Semoga semua akan baik-baik saja," jawabnya pelan.

Draco memandang pemuda di sampingnya itu, dia melihat kilat cemas di mata hijaunya, perlahan dia berdiri dan menarik pelan lengan Harry, "Kita cari udara segar di luar, aku malas melihat Flitch yang sejak tadi mengawasi kita."

Harry melihat kearah sudut aula dimana Mr. Flitch dan Mrs. Norris memandang tajam pada mereka. Harry juga selalu kesal pada penjaga kastil itu, kesannya menyeramkan, "Baiklah, sepertinya aku juga butuh udara segar."

.

.

Berdua di halaman belakang seperti ini merupakan saat-saat yang menyenangkan untuk mereka, apalagi saat ini tak satupun yang mengganggu. Hogwarts tanpa murid dan hanya beberapa pengajar yang tak pulang benar-benar terasa nyaman. Harry tak menyangka kalau suasana seperti ini justru terasa begitu damai.

"Aku ingin menjenguk orang tuamu, Draco," katanya memecah kesunyian.

Draco terdiam sesaat, "Kemarin kita baru menjenguk mereka. Kita memang memiliki ijin khusus tapi tetap saja tak boleh terlalu sering, aku tak mau kalau kita melanggar justru Kingsley akan mencabut hak itu," jawab Draco.

Harry mengangguk pelan, Kingsley Shacklebolt, Menteri sihir yang berkuasa penuh atas kementrian, telah memberikan hak istimewa pada Draco dan Harry untuk mengunjungi Mr. Dan Mrs. Malfoy di Azkaban. Kondisi Lucius Malfoy yang tengah terbaring sakit adalah alasan mereka untuk berkunjung kesana.

Kondisi terakhir Lucius setelah mendapat perawatan dari penyembuh St. Mungo belum begitu baik, bahkan pria yang pernah berkuasa di dunia sihir tersebut belum juga mampu bangkit dari tidurnya, dia hanya mampu berbaring dan tak bisa berkomunikasi dengan siapapun. Kondisinya yang lemah begitu memprihatinkan mengingat dulu dia adalah pria yang begitu kuat dan gagah. Mata kelabunya yang begitu mirip dengan mata Draco hanya mampu memandang lemah pada mereka walau masih terlihat sinar keangkuhan disana, keangkuhan yang menjadi ciri khas keluarga Malfoy.

Harry tak kuasa menahan laju air matanya saat terakhir menjenguk Lucius Malfoy, pria itu menatapnya dengan pandangan yang tak bisa diartikan oleh Harry lalu kembali tak sadarkan diri dengan tangan Harry dalam genggamannya. Tangan yang dulu begitu sering digunakan untuk menyakiti orang tersebut terasa begitu hangat dan melindungi, belum pernah Harry benar-benar merasa nyaman seperti itu, dia seperti menemukan sosok seorang ayah dalam hidupnya.

"Kau melamun?" tanya Draco mengejutkannya.

Harry menundukkan kepalanya, "Tidak," jawabnya singkat, saat ini rasa rindu menyeruak alam dadanya, rindu pada sosok orang tua barunya. Dia meneggelamkan diri dalam dekapan Draco untuk mencari ketenangan.

"Malfoy, Potter, Kepala sekolah memanggil kalian di kantornya," seru suara dingin Mr. Flitch di belakang mereka.

Harry menegakkan tubuhnya, melepaskan diri dari dekapan kekasihnya, "Ada apa?" tanyanya pada penjaga sekolah itu.

"Tanyakan sendiri padanya," jawab ketus pria bertubuh kurus itu lalu berbalik pergi meninggalkan dua pemuda yang tampak jengkel tersebut.

Harry memandang Draco yang masih duduk, ada rasa cemas di hati keduanya, lalu mereka tergesa melangkah ke kantor kepala sekolah.

.

.

"Duduklah, Mr. Malfoy, Mr. Potter," kata Minerva McGonaggal yang menjadi kepala sekolah mereka menggantikan Albus Dumbledore.

"Ada berita apa, Profesor?" tanya Harry setelah dia duduk di samping Draco.

Profesor McGonaggal menarik nafas panjang sebelum berbicara, matanya menatap tajam pada dua pemuda di depannya itu, "Harry, Draco," panggilnya akrab pada kedua muridnya pertanda kalau yang akan dibicarakannya adalah masalah pribadi, "Baru saja ada kabar dari Kingsley kalau Lucius..."

"Kenapa dengan uncle Lucius?" tanya Harry cepat, wajahnya tampak pucat dan panik.

"Harry, dengarkan dulu," sentak Draco.

Harry menatap Draco dengan kesal, wajah datarnya tak menampakkan ekspresi apapun.

Profesor McGonaggal kembali menarik nafas panjang, "Dengarkan aku... Draco, ayahmu dalam keadaan kritis sekarang," kata wanita tua itu pelan.

Harry melompat dari duduknya, "Apa maksud anda? Apa yang terjadi?" tanyanya cepat.

Draco menahan lengan Harry dan memintanya kembali duduk, tapi pemuda berkacamata itu mengibaskan tangan Draco dengan kasar, wajahnya tampak sangat cemas.

"Sejak semalam Lucius tak sadarkan diri, tubuhnya kembali melemah dan saat ini Kingsley telah membawanya ke St. Mungo untuk perawatan intensif," lanjut McGonaggal.

"Lalu?" tanya Draco pelan.

McGonaggal diam sejenak, "Tak seorangpun diijinkan masuk ke dalam ruang perawatan."

"Antarkan kami kesana, Profesor," pinta Harry, dadanya berdebar kencang mendengar berita yang disampaikan oleh kepala sekolahnya. Rasa panik membuncah pada dirinya.

"Dia tak boleh dikunjungi, Harry, bahkan Narcissa pun tak diijinkan masuk ke dalam ruangannya," tolak McGonaggal.

"Tapi aku ingin kesana, aku ingin berada di dekat mereka," paksa Harry lagi.

"Harry..."

"KALAU KAU TAK BISA MENGANTAR MAKA AKU AKAN PERGI SENDIRI," teriak Harry kalut.

"HARRY, TAK BISAKAH KAU TENANG SEDIKIT," bentak Draco tak kalah kerasnya.

"Tenang? Kau bilang tenang? Tidakkah kau sedikit khawatir pada keadaan orang tuamu, Draco?" tanya Harry sinis.

"Kau dengar sendiri kata Profesor McGonaggal, Dad tidak bisa dikunjungi dan kalaupun kita kesana tak ada yang bisa kita lakukan," jelas Draco.

Harry mendengus, "Kau selalu dingin, kau tak peduli pada mereka, Draco, kau terlalu manja hingga kau tak tahu bagaimana perasaan orang yang tak pernah memiliki orang tua," sindirnya tajam.

Draco tercekat, dia tak menyangka kalau Harry akan bicara seperti itu padanya, dia hanya ingin Harry tenang dan memikirkan semua dengan kepala dingin, "Terserah kau," kata Draco akhirnya, lalu dia berbalik dan meninggalkan ruangan bundar itu.

Profesor McGonaggal mendekati Harry dan menyentuh lembut pundaknya, "Kau salah, Harry, dialah yang paling sedih atas semua ini," kata sang kepala sekolah setelah pintu kantornya tertutup dengan kencang.

Harry tercenung, dia merasa begitu menyesal telah mengatakan kata-kata bodoh itu pada Draco, seharusnya dia tahu Dracolah yang paling bersedih pada apa yang terjadi sekarang. Bahkan beberapa minggu kemarin Draco hampir saja mengorbankan hubungannya dengan Harry demi memenuhi persyaratan yang diajukan oleh keluarga Greengrass agar ayahnya dipindahkan ke St. Mungo.

"Temani dia, Harry, aku yakin dia membutuhkanmu sekarang. Masuklah ke asramanya dan sebutkan kata kuncinya untuk membuka pintu," perintah McGonaggal sambil membisikkan kata kuncinya ke telinga Harry.

Harry mengangguk dan keluar dengan cepat dari kantor kepala sekolah.

.

.

Perlahan dibukanya pintu asrama di ruang bawah tanah tersebut, sepi, tak ada orang sama sekali, perapianpun mati sehingga menambah dingin ruangan lembab tersebut. Harry menaiki tangga yang ada di ujung ruangan lalu meraih handle pintu kamar yang terletak paling belakang.

Pintu itu tak terkunci, Harry membukanya dan tercekat melihat Draco duduk terpekur di pinggir tempat tidurnya sambil menopang keningnya dengan tangannya.

Pemuda berambut pirang itu terkejut saat mendengar pintu kamarnya terbuka, dia mendongak dengan cepat dan terkejut melihat Harry telah berdiri di depan pintunya, "Bagaimana kau..."

"Maafkan aku," bisik Harry memotong pertanyaan Draco, "Maafkan aku, harusnya akulah yang paling mengerti tentang perasaanmu, Draco, maafkan aku," ulang Harry. Mata hijaunya menatap kilau kelabu Draco dengan penuh penyesalan.

Draco menarik napas panjang, perlahan diulurkannya tangannya pada Harry, "Kemarilah," katanya pelan.

Dengan ragu Harry melangkah maju mendekati pemuda itu, setelah tangannya meraih uluran tangan Draco dia merasakan kehangatan menyelimuti dadanya. Dengan cepat dia memeluk pangeran Slytherin itu, kekasihnya, "Maafkan aku," bisiknya lagi di dada Draco, "Tak sepantasnya aku berkata seperti itu padamu."

Draco memeluk tubuh Harry dengan erat, menciumi rambut hitamnya yang selalu berantakan, "Aku juga salah, aku tak berusaha mengerti apa yang kau rasakan, Harry, maafkan aku," jawabnya pelan.

"Aku begitu mengkhawatirkan mereka, Draco," kata Harry dengan suara bergetar. Dia bersandar di dada kekasihnya, mencengkeram erat kemeja putih yang dikenakan Draco.

Draco mengusap lengan Harry, mencoba membuat pemuda itu tenang, "Aku juga, Harry," jawabnya.

"Aku ingin bertemu mereka, aunt Cissy pasti begitu cemas saat ini," kata Harry lagi.

Draco mendekap Harry semakin erat, "Aku tahu, Harry, aku tahu, tapi saat ini kita juga sedang panik jadi tak mungkin kita akan bisa membuat Mum tenang," jawab Draco pelan, "Kalau kita disana dengan kondisi seperti ini kecemasan Mum akan bertambah, Mum akan memikirkan kita juga, kau mengerti kan?"

Hary terdiam, dia mencoba meresapi kata-kata Draco. Perlahan dia menutup matanya dan merasakan debaran jantung Draco di pipinya, jantung yang berdebar lebih cepat dari biasanya dengan iramanya yang tak teratur, dan yakinlah Harry kalau Draco lah yang paling mencemaskan keadaan saat ini. Pemuda bermata emerald itu mengangguk di dada kekasihnya, "Aku mengerti," bisiknya pelan.

Draco tersenyum lalu mendongakkan wajah Harry yang tampak pucat, "Besok kalau semuanya sudah tenang kita baru kesana, okay?" hiburnya.

Sekali lagi Harry hanya mengangguk pelan, dadanya berdebar kencang saat Draco memagut bibirnya dalam satu ciuman yang begitu lembut, ciuman yang mampu membuat otaknya meleleh. Dilingkarkannya lengannya pada leher Draco memohon kekasihnya itu untuk memperdalam ciuman mereka. Ciuman menenangkan itu dengan cepat berubah menjadi hasrat dimana masing-masing ingin menjadi bagian utuh dari yang lainnya. Kamar yang dingin dan lembab berubah panas seiring peluh yang membanjiri tubuh mereka dimana gairah melambung pada puncaknya.

.

.

Dengan pelan di tutupinya tubuh Harry dengan selimut tebal lalu dikecupnya luka di kening pemuda bermata emerald itu dengan lembut, "Good night, Love," bisiknya. Pangeran Slytherin itu duduk bersandar di tepi tempat tidur, kemeja putihnya dibiarkan terbuka di tubuhnya yang putih sedangkan tangannya tak berhenti membelai rambut hitam Harry. Mata abu-abunya tak lepas memandang wajah tidur kekasihnya yang tampak begitu pulas, napasnya berhembus teratur dengan sedikit peluh masih menempel di keningnya.

Dengan berat mata hijau itu terbuka merasakan gerakan di kepalanya, "Draco..." desahnya.

Draco terus mengusap rambut hitam Harry, "Tidurlah."

Harry memiringkan tubuhnya lalu memeluk pinggang Draco yang terbuka, usapan lembut jemari Draco membuatnya nyaman dan semakin mengantuk sehingga tak perlu menunggu lama untuknya kembali tertidur pulas.

Draco terus menikmati wajah Harry, ada gurat lelah dan cemas disana. Draco tahu bagaimana sayangnya Harry pada kedua orang tuanya saat ini, Draco bisa memahami perasaan Harry yang tak pernah memiliki orang tua di sepanjang hidupnya.

Masih diingat Draco saat mereka tinggal bersama di Grimmauld Place, hanya cerita tentang kedua orang tuanya yang telah terbunuh oleh Voldemort lah yang tak pernah meluncur dari bibirnya, karena dia tak memiliki secuil memory pun akan mereka. Bagaimana bisa dia dulu begitu kejam pada pemuda ini, Harry telah menderita seumur hidupnya dan dia beserta keluarganya justru terus menekannya dan menyakitinya.

Kini disaat semua berubah Draco bersumpah untuk menjaga Harry, melindunginya dari apapun yang terjadi. Waktu tujuh tahunnya terbuang sia-sia hanya untuk membenci anak yang bertahan hidup ini, anak yang kini telah berubah menjadi pemuda yang begitu dicintainya.

"Maafkan aku," bisik Draco pada kesunyian.

.

.

Entah berapa lama Harry tertidur, perlahan dibukanya matanya yang terpejam. Dadanya menghangat karena saat mata hijaunya terbuka yang pertama kali terlihat adalah kilau abu-abu Draco yang menatapnya dengan begitu lembut.

"Morning," sapa Draco pelan.

Harry melihat Draco masih mengenakan kemeja yang di pakainya tadi malam, rambutnya pun sedikit berantakan. Dengan cepat pemuda berambut hitam itu terduduk dan memandang cemas pada Draco, "Kau tak tidur?" tanyanya.

Draco mengusap pipi Harry lalu mencium bibirnya dengan lembut, "Aku tidur, walau cuma sebentar," katanya berbohong, karena sejak semalam matanya sama sekali tak mampu terpejam.

Harry menatap tak percaya pada pemuda tampan di depannya itu, karena dia melihat dibawah mata Draco ada bayangan hitam, "Dasar pembohong," kata Harry sambil tertawa.

Draco terkekeh pelan dan menarik tubuh Harry dalam pelukannya, "Bagaimana perasaanmu pagi ini?" tanyanya.

Harry mencium lekuk leher Draco, "Akan lebih baik kalau kau biarkan aku memakai bajuku lalu pergi mandi dan setelah itu makan pagi, jujur aku lapar sekali," gurau Harry.

Draco kembali tertawa, "Mandi disini saja setelah itu kita pergi ke aula besar," jawab Draco sambil meneyrahkan kemeja Harry yang teronggok di lantai.

.

#

.

Setelah makan pagi mereka berdua menghadap kepala sekolah di kantornya, "Bagaimana, Profesor? Adakah kabar dari St. Mungo?" tanya Draco.

Minerva McGonaggal melipat tangannya di depan dada, "Belum ada, Draco, Lucius masih dalam perawatan penyembuh, dan maafkan aku kalau menyampaikan ini, ibumu..."

"Kenapa dengan aunt Cissy?" tanya Harry panik.

Draco menggenggam tangan Harry agar pemuda itu sedikit tenang, "Ada apa dengan Mum?" tanya pemuda berambut pirang itu pelan.

Minerva menarik napas panjang, "Tadi malam ibumu berkali-kali pingsan, tekanan yang mereka hadapi tak ringan, Son."

"Kapan kami diijinkan kesana untuk menjenguk mereka?" tanya Draco mewakili Harry yang terus tampak gelisah.

Minerva menatap prihatin pada dua pemuda di depannya, "Aku akan menghubungi Kingsley, setelah ada ijin kita akan langsung kesana," jawab wanita tua itu.

Draco mengangguk, "Terima kasih, Profesor," katanya. Lalu pemuda itu berdiri sambil menarik lengan Harry, "Kami menunggu kabar dari anda," kata Draco lagi sebelum mereka menghilang di balik pintu.

.

.

Harry terus diam sepanjang siang ini, tak satupun kata keluar dari bibirnya dan Draco pun tak ingin mengganggunya.

Tepi danau menjadi tempat untuk mereka menghabiskan waktu, kilau air yang biru dan jernih, kicau burung yang terbang diatas mereka dan hembusan angin yang mulai terasa dingin menjelang Natal tak mampu membuat mereka tenang, terutama Harry. Pemuda itu menenggelamkan wajahnya diantara lututnya, dadanya begitu sesak. Lucius dan Narcissa memang bukan orang tua kandungnya, tapi kasih sayang yang mereka berikan telah menggantikan sosok James dan Lily Potter yang telah meninggalkannya sejak berumur satu tahun.

Masih terasa hangat genggaman tangan Lucius malam itu, masih tercium harum tubuh Narcissa saat memeluknya setiap mereka bertemu. Haruskah dia kehilangan semua itu? tidak, dia tak ingin kehilangan orang-orang yang dicintainya, tidak Lucius, Narcissa ataupun Draco. Tubuhnya bergetar saat membayangkan andai mereka tak ada lagi disisinya.

Getaran itu mereda saat dia merasakan kalau Draco tengah memeluknya, disandarkan kepalanya di dada pemuda itu, "Jangan tinggalkan aku," bisik Harry lirih.

Draco tersentak, tak pernah Harry seperti ini, begitu putus asa dan sedih, "Tak ada yang akan meninggalkanmu, percayalah," jawabnya sambil memeluk kekasihnya semakin erat, "Semua akan baik-baik saja, Harry, aku bersamamu," bisik Draco di telinga Harry.

Harry memejamkan matanya, membiarkan butir halus mengalir dari mata hijaunya, tak ada isak ataupun tangis, keduanya hanya diam.

.

#

.

Waktu terasa berjalan begitu lambat, tak juga ada kabar dari kepala sekolah tentang kepastian mereka bisa ke St. Mungo. Malam Natal yang begitu kelabu, bahkan Draco dan Harry tak peduli akan Natal yang akan tiba esok hari, kepala mereka dipenuhi oleh Lucius dan Narcissa.

Saat malam semakin larut datanglah Mr. Flicth yang menemui mereka di aula besar, "Profesor McGonaggal mencari kalian," sampainya ketus.

Draco dan Harry saling berpandangan, lalu keduanya berlari dengan kencang ke kantor kepala sekolah dan membuka pintunya dengan keras.

"Bagaimana?" tanya Harry dengan napas yang tersengal sehabis berlari.

Minerva tersenyum tipis, "Kita berangkat sekarang," katanya pada dua pemuda itu.

Mereka berdiri di depan perapian, kepala sekolah meneriakkan kata St. Mungo setelah melemparkan bubuk floo lalu menghilang ke dalamnya, kemudian diikuti oleh Harry dan Draco.

.

.

Suasana rumah sakit ini tampak sepi mengingat kalau ini hampir tengah malam, hanya ada beberapa orang yang tengah menunggu keluarga mereka yang sakit di piggir koridor. Wajah mereka tampak takjub melihat Harry, luka di keningnya tampak jelas dan merupakan suatu tanda pengenal akan sosok pemuda yang berjalan di depan mereka itu, Harry Potter, anak yang menang.

Harry tak begitu menghiraukan sapa orang-orang yang melihatnya, dia terus berjalan bersama Draco mengikuti langkah McGonaggal hingga langkahnya terhenti di ujung koridor. Disana sudah menunggu Kingsley Shacklebolt bersama dua petugas kementrian yang Harry tak tahu siapa namanya.

"Bagaimana, Kingsley?" tanya McGonaggal pada koleganya itu.

Kingsley mengangguk-angguk kecil, "Kalian berdua masuklah," katanya tanpa memberitahu bagaimana kondisi kedua Mlafoy senior itu.

Draco mengagguk pelan, "Terima kasih," jawabnya. Lalu dia memandang Harry yang tampak cemas, digenggamnya tangan pemuda itu. Dada keduanya berdebar, mereka tak yakin tentang apa yang akan mereka temui di dalam. Apa yang terjadi, apakah hal yang buruk telah menimpa mereka?

'Tidak, kumohon jangan. Ini malam Natal, Tuhan, berikan keajaibanmu pada kami', bisik Harry dalam hati. Dia mendongak saat merasa kalau Draco menggenggamnya semakin erat, lalu dia mengangguk mantap.

Perlahan Draco membuka pintu putih itu, cahaya di dalam tampak begitu terang. Mereka membiasakan diri dengan cahaya itu sampai akhirnya mereka tercekat melihat ke sudut ruangan, dimana Lucius Malfoy duduk bersandar di sofa putih yang besar sedangkan Narcissa duduk di lengan sofa sambil memeluk pundak suaminya, wajah keduanya terlihat pucat tapi senyum hangat menghiasi wajah sang ibu yang rambut pirangnya tergerai indah di punggungnya. Sedangkan Lucius tak tersenyum, tapi tatapan mata kelabunya terasa begitu hangat. Rambut pirangnya yang lurus terikat rapi di belakang punggungnya menonjolkan pipinya yang tampak tirus dan pucat.

Dari kejauhan dentang lonceng gereja terdengar begitu menggema di malam yang sunyi ini, "Merry Christmas, my sons," bisik narcissa dengan nada yang sedikit lemah.

Draco dan Harry melangkah perlahan mendekati mereka, rasanya tak percaya melihat apa yang terjadi di depan keduanya.

"Merry Christmas, Mum, Dad," bisik Draco dengan suara bergetar, kebahagiaan membuncah dalam dadanya. Sekuat tenaga dia menahan laju air mata yang nyaris tumpah. Tangannya meraih tangan kedua orang tuanya dan menggenggamnya lembut lalu menciuminya satu persatu dengan bibir yang bergetar.

"Kalau kau merasa bahagia, menangislah," kata Lucius dengan suaranya yang parau.

Draco tercekat, dia tak mampu lagi membendung apa yang ditahannya selama ini, air matanya tumpah saat kedua orang tuanya memeluknya dengan begitu erat. Draco berlutut di depan mereka, memeluk dada ayahnya yang menjadi begitu kurus, "Maafkan aku, tak ada yang bisa aku lakukan untuk kalian," isak Draco.

Mata abu-abu Lucius menatap Harry yang berdiri terpaku di depannya, satu tangannya yang tak memeluk Draco terulur lemah ke arahnya, "Kemarilah," bisik pria itu, sedangkan Narcissa tersenyum lebar pada Harry.

Dada Harry bergemuruh, dia teringat pada Draco yang selalu mengulurkan tangannya disaat dia bimbang, dan kini Lucius melakukan hal yang sama padanya. Dia merasa dicintai, dikasihi, banyak tangan terulur padanya, menawarkan cinta yang tulus untuknya.

Perlahan Harry meraih tangan Lucius, kehangatan menyelimuti dadanya. Harry merasakan tangan pucat itu menariknya dan membawa tangannya ke dadanya, "Tak ingin memelukku... Son?"

Kaki Harry melemas, dia berlutut di depan Lucius, sementara Draco memberikan tempatnya pada Harry, pemuda berambut pirang itu membiarkan Harry berinteraksi dengan ayahnya. Dia tersenyum saat ibunya mengusap lengannya, mereka melihat bagaimana bahagianya wajah Harry saat Lucius Malfoy memeluk pemuda bermata emerald itu.

"Terima kasih, Harry," kata Lucius dengan lirih.

Harry tersentak, dia mendongakkan matanya dan memandang kilau kelabu pria separuh baya di hadapannya, "Aku tak melakukan apa-apa untuk kalian, maafkan aku."

Lucius tersenyum tipis, tangannya menepuk lembut tangan Harry yang berada di genggamannya, "Terima kasih telah mencintai kami, aku, Cissy dan... Draco," jawabnya.

Harry terpana, dia menundukkan kepalanya dan membiarkan air mata mengalir dari matanya saat Lucius kembali memeluknya dan Narcissa membelai lembut kepalanya, 'Terima kasih, Tuhan, kau turunkan keajaibanmu pada kami di malam Natal ini', bisiknya dalam hati.

Setelah itu tak ada yang bicara, semua menikmati kebersamaan yang indah itu dalam diam. Semua mata memandang ke luar jendela, menikmati indahnya pohon Natal besar yang terpajang di halaman rumah sakit, menikmati Natal yang sempurna di hati mereka.

.

Kenyamanan itu terusik dengan terbukanya pintu kamar tempat mereka berkumpul, Minerva McGonaggal dan Kingsley Shacklebolt masuk dengan senyum di bibir mereka, "Maaf mengganggu, senang melihat kalian telah pulih kembali," kata Minerva pada Lucius dan Narcissa yang dijawab dengan senyum dan anggukan kepala oleh dua Malfoy senior itu, "Tapi maaf, aku harus membawa kedua muridku untuk kembali ke Hogwarts," lanjutnya.

"Tidak bisakah kami bermalam disini?" tanya Harry.

Sang kepala sekolah menggelengkan kepalanya, "Tidak, Mr. Potter, mereka harus lebih banyak beristirahat saat ini," jawab wanita tua itu.

Harry dan Draco berpandangan dengan lesu.

"Besok kalian bisa kembali kesini, kapanpun kalian mau," sambung Kingsley yang langsung mendapatkan senyuman lebar dari keduanya.

"Kembalilah," kata Narcissa sambil menepuk pelan pipi Harry, "Semuanya akan baik-baik saja."

Kedua pemuda itu pun mengangguk dan berjalan mengikuti kepala sekolah mereka setelah berpamitan pada Lucius dan Narcissa.

.

.

"Kembalilah ke kamar kalian, ini sudah hampir menjelang pagi," perintah McGonaggal pada kedua muridnya itu.

Harry dan Draco berbalik untuk meninggalkan ruangan itu, "Profesor..." kata Draco pelan, "Terima kasih untuk semuanya," lanjutnya sebelum mereka menutup pintu ruangan itu.

Minerva McGonaggal tersenyum sendiri, "Dia telah berubah, mereka telah berubah, semua telah berubah, Albus," kata Minerva.

Lukisan pria tua dibelakang Minerva yang mengenakan kaca mata berbentuk bulan separuh dengan jenggot peraknya yang tadi tertidur kini membuka matanya, "Aku tahu, Minerva, jagalah mereka untukku," jawabnya pada wanita tua yang membelakanginya itu.

Minerva berbalik dan tersenyum pada pria di dalam lukisan itu, "Tentu, Albus, tentu," katanya sambil tersenyum.

.

.

"Draco, kita mau kemana?" tanya Harry yang berjalan di samping pemuda berambut pirang yang terus menggenggam tangannya.

Draco tak menoleh padanya, "Ikut sebentar, aku ingin menghirup udara segar di halaman belakang," jawabnya.

Harry terkejut, "What? Salju terus turun dan pasti akan dingin sekali di luar."

Draco terkekeh, "Jangan manja, kau seperti anak perempuan saja," guraunya.

Harry melotot, "Apa kau bilang? Enak saja..."

Kata-katanya terhenti saat Draco membuka pintu belakang kastil dan angin dingin langsung menyeruak masuk, "Dingin sekali, Draco..." gerutu Harry.

Draco menoleh pada Harry sambil menyeringai, "Sebentar saja, Harry, aku hanya ingin menikmati salju Natal ini bersamamu, setelah itu kita masuk," hiburnya.

Harry yakin kalau saat itu wajahnya memerah, "Baiklah."

Draco mengayunkan tongkatnya dan dan membuat udara di sekitar mereka menghangat, "Kalau begini tak masalah, kan?"

Harry hanya mengangguk lalu membiarkan Draco menarik tangannya dan melangkah ke luar menuju danau yang airnya telah membeku. Sekali lagi Draco mengayunkan tongkatnya dan muncullah berjuta sinar kecil yang mengelilingi mereka, "Indah sekali," desah Harry yang terpukau pada sekitarnya, danau yang membeku, rumput yang ditutupi salju, juga pohon-pohon disekitar mereka yang telah menjadi putih. Cemara besar di dekat mereka telah dimantrai Draco dan menjadi pohon natal yang indah, "Kemampuan mantramu boleh juga, Draco," puji Harry dan pemuda itu tak peduli walau Draco tak menjawabnya.

Mata hijaunya terus menikmati keindahan di sekelilingnya, lalu dia tercekat saat Draco yang berdiri di belakangnya memakaikan sesuatu di lehernya. Jarinya meraba benda itu dan mendapati sebuah kalung telah menggantung di sana, kalung polos yang terbuat dari emas putih, tampak begitu simpel tapi tak mengurangi keindahannya, "Draco..."

"Merry Christmas, love," bisik Draco sambil memeluk pinggang Harry dari belakang, dia mencium samping leher Harry yang terbuka.

Harry tertawa kecil, "Bagaimana bisa kau masih sempat menyiapkan ini?" tanyanya.

Draco memutar tubuh Harry agar menghadapnya, "Aku tak menyiapkan apa-apa tadinya, tapi tadi sebelum kita pulang Mum meyelipkan ini di jariku," jawab Draco sambil menyentuh kalung yang baru saja dipasangkannya pada leher Harry.

"Apa artinya ini kau ingin mengikat leherku?" gurau Harry sambil tersenyum.

Draco tertawa dan menangkup wajah pemuda itu, "Aku akan memberikan yang lain setelah kita lulus dan tinggal bersama nanti," jawab Malfoy junior itu.

Harry terpana, "Ap- apa maksudmu?"

Draco mendekatkan wajahnya pada Harry, "Aku ingin selalu bersamamu, Harry, entah itu di Malfoy Manor ataupun di Grimmauld Place atau dimana saja, aku ingin kita tetap bersama."

Harry tak mampu berkata apa-apa, lidahnya terasa beku seiring udara yang mulai terasa dingin menembus mantera penghangat Draco. Dia menutup matanya saat Draco mencium bibirnya dengan begitu lembut, ciuman yang mampu menghentikan fungsi otaknya, "I love you," bisik Draco saat bibir mereka terpisah.

"I love you too, Draco, and Merry Christmas," jawab Harry pelan, lalu bibir keduanya kembali bertemu dalam satu ciuman yang panjang. Keduanya berharap andai waktu bisa berhenti untuk saat ini dan menjadi Natal selamanya untuk mereka.

"Kau tak ingin kita mati beku disini, kan?" tanya Harry setelah ciuman mereka berakhir.

Draco terkekeh pelan lalu memeluk Harry dengan erat, "Baiklah, kurasa sekarang saatnya kita masuk," jawab Draco, "Di asramaku?" godanya.

Harry terbelalak, "Apa maksudmu, pervert?"

Draco tertawa, "Kau tak ingin mengambil jubahmu yang tertinggal semalam?" godanya lagi.

Harry berdecak, "Kau sengaja menyembunyikannya agar aku kembali kesana, kan?"

Draco menarik tangan Harry dan melangkah menuju kastil, "Aku ini Slytherin, dan aku selalu pandai menggunakan otakku, Harry."

"Kau itu hanya licik, Draco," bantah Harry.

"Whatever, aku hanya tak ingin kau kehilangan jubahmu besok," seringai Draco.

Harry tak membantah lagi, Draco memang tak terkalahkan kalau disuruh bicara dan mengancam, membuat orang kesal adalah bakatnya yang paling hebat, tapi anehnya Harry menikmati itu, menikmati saat-saat dimana dia tak mampu membantah dan melakukan semua yang bisa membuat pemuda berambut pirang itu tersenyum, tersenyum hanya untuknya.

ooOooOooOoo

a/n.

Hahaha jadi juga ini fic, demi kalian aku rela datang pagi-pagi ke kantor disaat semuanya belum datang dan aku bisa ngetik dengan leluasa *di balang si bos*

Masih belum tahu ide untuk chap selanjutnya jadi... bersabarlah lagi ya XD

Makasih buat Rizuqi, Nh, Cissy, Icci-chan, Yul-chan, n Silvia yang udah ngeripu di chap sebelumnya.

O iya, untuk yang merayakan Natal aku ucapain "Merry Christmas yah..."