Mingyu bangun pagi-pagi sekali, jam 6 pagi ia telah selesai mandi. Lalu setelah mengambil bahan makanan dari kamarnya, Mingyu membuat makanan untuk Wonwoo. Ada bubur dan sup untuk di makannya. Tak lupa ia menyiapkan obat dari kotak p3knya. Tak lama pukul 7 Scoups dan Jeonghan tiba di kamar Wonwoo. Mingyu telah siap dengan pakaian dan buku-buku yang di bawanya. "Coups-hyung, Jeonghan-hyung, ini sudah ku buatkan bubur, dan ini obatnya tolong paksa Wonwoo-hyung untuk menghabiskannya saat ia siuman. Aku akan pulang jam 1 siang dan akan membuatkannya makan siang. Tolong jaga dia sampai aku kembali ya." Ucapnya panjang lebar menjelaskan lalu pergi meninggalkan mereka. "Aku berangkat dulu ya." Teriaknya di kejauhan. Coups dan Jeonghan hanya saling memandang.
Chapter 4
Suasana pagi ini sangat mendukung untuk menjadi orang yang bersemangat. Cuaca nya yang cerah dan udara pagi yang sejuk, membuat si pemilik rambut coklat ini menghentakkan langkahnya santai sambil menikmati pemandangan. Matanya mengedar, tangan nya penuh dengan buku-buku yang akan di pelajarinya. Hatinya begitu tenang dengan suasana pagi yang juga tenang. Senyum terkembang berharap saat pulang nanti, Wonwoo telah sadar dari pingsan nya. Pluk! Terasa ada dua tangan yang menyampirkan di bahu miliknya. Ternyata Woozi dan Hoshi menyusul dari belakang. Walaupun tangan Woozi terlihat sangat lucu karena Mingyu sangat tinggi baginya. "Tidak terlambat lagi?" ucap Hoshi meledek. Mingyu hanya terkekeh menjawab candaan Hoshi. "Bagaimana kabar Wonwoo? Apa dia sudah baikan?" Woozi membuka pembicaraan yang lebih serius.
"Ah demamnya sudah turun, tapi ia belum siuman juga. Aku sudah membuatkan makanan untuknya." Jelas Mingyu. Mereka berdua hanya mengangguk tanda mengerti. "Mingyu-ya, apa kau sangat dekat dengan Wonwoo?" Hoshi mencoba untuk menggali informasi dari Mingyu terlebih dulu. Misi yang ia rencanakan kemarin harus segera di laksanakan. Terlihat sekali ada yang aneh di antara mereka berdua. "Ah Wonwoo-hyung sudah ku anggap seperti kakak sendiri. Bahkan jika aku bisa membandingkan dia lebih berharga dari orang tua ku sendiri." Hoshi dan Woozi saling pandang atas jawaban Mingyu. Mereka berdua bertanya-tanya apa maksudnya. "Sampai segitunya? Tapi bukankah kau baru bertemu dengan nya kemarin?" Woozi mencoba ingin menghilangkan rasa ingin tahunya.
"Etto, sebenarnya aku dan Wonwoo-hyung sudah saling mengenal sejak kita kecil, aku tau semua kebiasaannya, sifatnya dan apapun tentangnya. Ah Hyung kita sudah sampai. aku akan duduk di depan, kalian ingin duduk dimana? Aku harus membuat catatan yang rapi agar Wonwoo-hyung juga bisa belajar dari catatanku nanti." Jelas Mingyu meletakkan buku-bukunya. "Ah kami disana saja, aku selalu tak ingin merasakan duduk di depan dosen." Hoshi menarik Woozi untuk mengikutinya.
"Hey, Jihoonie. Bukankah aneh?" tanya Hoshi membuka percakapan. "Apanya?" Woozi yang masih meloading pikirannya tidak mengerti maksud pertanyaan Hoshi. "Apa kau lihat Wonwoo seperti orang yang sudah mengenal dekat Mingyu. Ini seperti hanya Mingyu yang merasakannya." Akhirnya Woozi mengerti maksud perkataan Hoshi. "Ah benar, Wonwoo juga pernah bilang kalau ia baru kali ini ke Seoul dan sepertinya ia tak mengenal Mingyu. Maksudku ia hanya mengenal sebagai tetangganya." Pikiran Woozi dan Hoshi mulai terancang. Memang benar ada yang aneh diantara mereka.
Kelas yang riuh tiba-tiba hening, ternyata Prof. Song sudah datang. Pelajaran dimulai, Mingyu terlihat sangat serius mendengarkan sesekali ia mencatatnya di buku. Woozi dan Hoshi berpikir Mingyu benar-benar menjadi anak teladan hari ini.
-0-
"Hey, apa kau pikir dia sangat parah?" Jeonghan terus memperlihatkan wajah khawatir. Scoups menepuk punggung Jeonghan berusaha menenangkannya. "Hey tenanglah, Mingyu bilang demamnya sudah turun. Mungkin sebentar lagi dia akan siuman."
"Tapi dia benar-benar belum siuman dari semalam. Sampai-sampai buburnya dingin." Jeonghan tetap saja tak bisa tenang. Wonwoo masih saja berbaring, walaupun wajah pucatnya sudah mulai berkurang tapi ia juga belum sadarkan diri. Masih menunggu, tapi sepertinya tuhan mendengar doa mereka tiba-tiba Lenguhan pelan terdengar, Wonwoo terlihat gelisah dalam tidurnya, walau begitu kedua temannya merasa senang karena Wonwoo telah siuman. Tangannya memegangi kepala, wajahnya terlihat seperti ia sangat merasakan sakit. Jeonghan dan Scoups langsung menghampiri Wonwoo. Scoups mengambil segelas air, tenggorokan Wonwoo pasti sangat kering, setelah pingsan begitu lama. Mata Wonwoo mengerjap pelan, kelopak matanya terbuka memperlihatkan manik mata miliknya yang indah. "Dimana aku?" ucapnya pelan. Ternyata Wonwoo masih belum sepenuhnya sadar. "Ini ada di kamarmu, Wonwoo-ya." Jeonghan masih memperhatikan Wonwoo takut-takut ia merasakan sesuatu.
Lagi-lagi Wonwoo memegangi kepalanya. Terlihat sekali sepertinya pusing karena terlalu lama pingsan belum hilang. "Minumlah dulu." Scoups berusaha membantu Wonwoo untuk merubahnya menjadi posisi duduk agar ia bisa minum dengan baik. "Hyung, apa yang terjadi dengan ku semalam?" Jeonghan membawakan bubur yang sudah ia hangatkan sebelumnya beserta obat yang di beritahu Mingyu.
"Makanlah dulu, ini buburnya dan obatnya." Sodor Jeonghan pada Wonwoo. "Akan kuceritakan saat kau makan." Wonwoo mulai memakan bubur dan supnya, sedangkan Scoups menceritakan ulang apa yang terjadi semalam secara singkat, Wonwoo memakannya dengan lahap sambil mengangguk-angguk tanda mengerti apa yang sudah di ceritakan Scoups. "Benarkah? Aku pingsan selama itu?" ujarnya bertanya-tanya pada diri sendiri. Kedua hyungnya hanya mengangguk memperhatikan Wonwoo. Wonwoo menghabiskan makanannya tanpa sisa, ia benar-benar lapar. Salahkan dirinya karena marah pada Mingyu kemarin jadi ia tak sempat makan sampai malam, ditambah ia pingsan sangat lama.
Wonwoo meminum obatnya sesuai apa kata Scoups, ia tak ingin tanggung jawab yang di beri Mingyu tidak ia jalankan dengan baik. "Terimakasih hyung telah merawatku, makanannya sangat enak. Aah aku sangat tertolong untung ada kalian." Wonwoo menundukkan sedikit badannya menunjukkan rasa terima kasih yang amat sangat kepada Jeonghan dan Scoups.
"Ah bukan apa-apa. Jika kau ingin berterimakasih, berterimakasih lah pada Mingyu. Ia yang sudah menggendongmu semalam sampai rumah, ia juga menungguimu semalaman sampai demam mu turun." Ucap Scoups. "Dan ia juga yang memasakkan makanan dan memberikan obat untuk mu dan Mingyu juga lah yang menyuruh kami merawatmu pagi ini. Sebenarnya kami juga akan merawatmu walaupun tak di suruh olehnya." Wonwoo terdiam. Apakah semua ini berkat Mingyu? Lagi-lagi Mingyu yang menyelamatkan dirinya. Kali ini Wonwoo benar-benar harus merasa berterimakasih kepada Mingyu."Dimana Mingyu sekarang hyung?" tanya Wonwoo, setelah ia pulih benar ia harus cepat-cepat menemui Mingyu. "Dia ada kelas hari ini sampai jam 1." Jeonghan membereskan bekas makan Wonwoo layaknya seorang ibu yang sedang mengurus anaknya yang sakit.
"Ah iya aku juga ada kuliah hari ini." Wonwoo langsung menyibak selimutnya berdiri tegak mondar-mandir tak tau apa yang sedang di lakukannya. Scoups yang melihatnya hanya menggelengkan kepala. "Ini sudah jam 10 kau sudah telat. Lebih baik kau pulihkan tubuhmu. Jangan kemana-mana dulu." Scoups yang melihat Wonwoo seperti orang kebakaran jenggot, menarik Wonwoo untuk kembali ke tempat tidur. "Bisakah aku kembali sebentar ke kamarku? Ada yang harus kulakukan. Seungcheol bisakah kau jaga Wonwoo dulu. Aku akan kembali secepatnya." Jeonghan pergi meninggalkan mereka berdua tanpa menengok lagi ke belakang. "Hyung, aku sudah sembuh. Kau juga bisa kembali ke kamar." Scoups menggeleng, ia tak ingin lari dari tanggung jawab. Ia sudah berjanji pada Mingyu akan menjaga Wonwoo sampai jam 1 siang atau sampai saat Mingyu pulang.
"Wonwoo yang lebih penting ada yang ingin ku tanyakan padamu." Wonwoo bertanya-tanya kira-kira apa yang akan di tanya Scoups padanya. Wonwoo mengangguk memberi isyarat tanya lah apapun aku akan menjawabnya. Scoups merangkul Wonwoo dengan lengannya kepala nya sedikit menoleh ke arah Wonwoo dan berbisik. "Ada hubungan apa kau dengan Mingyu? Apa Mingyu menyukaimu?" Wonwoo sontak mendorong keras Scoups sampai-sampai ia hampir saja tersungkur. "Apa maksudmu hyung? Aku ini masih normal. Aku juga pernah punya kekasih perempuan." Scoups tertawa keras. Ia mencoba hal yang sama dengan Hoshi, mencari tau apa yang terjadi di antara mereka. "Aku hanya bercanda, tenanglah. Maksudku apa kalian teman masa kecil? Mingyu seperti orang gila semalam ia sangat mengkhawatirkanmu. Sepertinya juga Mingyu sangat mengenalmu." Scoups mencoba berwajah santai agar Wonwoo tak merasa seperti di interogasi.
"Hmm, sebenarnya aku juga agak bingung hyung. Aku benar-benar bingung. aku bertemu dengannya baru 2 hari yang lalu. Itu benar-benar aku pertama kali bertemu dengannya." Jelasnya. Scoups berwajah aneh entah ia mencoba berpikir atau semacamnya. "Yang lebih aneh lagi, saat aku pertama kali bertemu dengannya, dia memelukku dan….." Wonwoo menceritakan kejadian pertama kali ia bertemu dengan Mingyu. Sontak, Scoups benar-benar kaget. Wajahnya benar-benar tak bisa diartikan ekspresi apa yang sebenarnya ia berikan. "Benarkah? Kau mengalami hal seperti itu?" Scoups hampir saja menganga dan menutup mulut kagetnya dengan telapak tangannya. ia menggeleng pelan."Aku benar-benar tak percaya."
"Kau tak percaya, apa lagi aku yang mengalaminya sendiri hyung. Bukankah itu aneh? Aku bermaksud untuk mencari tau siapa Mingyu sebenarnya." Ucap Wonwoo layaknya detektif. "Aku mendukungmu Wonwoo. Katakan padaku jika kau butuh bantuan. Aku benar-benar sangat tertarik untuk mencari taunya. Ini seperti cerita-cerita detektif yang sering ku tonton di acara Tv." Scoups meloncat kegirangan. Tapi tiba-tiba ia berwajah serius lagi. "Tunggu, mari kita sedikit analisa. Apa kau punya penyakit Alzhemeir atau bahkan pernah Amnesia?" Wonwoo mengingat-ingat. "Sepertinya aku tak pernah punya penyakit semacam itu. Atau aku harus mengeceknya ke rumah sakit? Tidak-tidak aku sangat yakin aku tak pernah mengalami amnesia." Yakinnya pada diri sendiri. Mereka pun larut dalam pikiran mereka masing-masing. Dan menganalisa kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.
-0-
Kelas telah selesai, tapi masih banyak mahasiswa yang masih berdiskusi atau bahkan hanya untuk berbincang. Mingyu membereskan bukunya cepat, menghampiri Hoshi dan Woozi dan berkata "Aku duluan ya,, aku tak ada kelas lagi hari ini hyung." Woozi terlonjak mendadak kaget dengan kedatangan Mingyu. "Sampaikan salam ku pada Wonwoo ya." Mingyu hanya melambaikan tangan bermaksud menjawab pertanyaan sipit bersaudara itu.
Mingyu berjalan cepat, perasaannya sudah tak karuan ingin mengetahui bagaimana keadaan 'teman masa kecil' nya itu. Tapi langkah nya terhenti saat ia mengingat sesuatu. Ia berpikir sejenak. "Apa yang harus kulakukan sebagai permintaan maaf agar Wonwoo-hyung mau memaafkanku? Bagaimana bisa ia memaafkanku, bahkan diriku saja tak bisa memaafkan sikap seorang Mingyu. Bagaimana ini?" Mingyu bermonolog. Mondar mandir di pinggir jalan bagai orang yang tak tau arah. "Ah sudahlah belikan apa saja. Aku harus cepat cepat pulang." Mingyu akhirnya memutuskan untuk mampir ke sebuah mini market. Setidaknya Mingyu membawa pulang buah dan roti di tangannya walaupun ia tau ia tak akan di maafkan hanya karena menjenguknya dengan membawa buah dan roti.
MIngyu menambah kecepatan larinya, keringat yang bercucuran telah ia abaikan. Bahkan saat sampai di gerbang, Mingyu yang bertemu dengan Seungkwan sapaan Seungkwan pun diabaikannya. Ia menaiki tangga bagai orang yang sedang lomba lari, membuka pintu kamar Wonwoo dengan cara menggebrak langsung masuk dan bertanya. " Scoups-hyung, Jeonghan-hyung gimana kabar Wonwoo-hyung, apa dia sudah sadar?" Mingyu tak menoleh saat mengucapkan itu dan ia hanya melepas tas da meletakkan buku-buku dan buah yang di bawanya di meja kecil yang biasa Wonwoo gunakan untuk makan.
Saat Mingyu selesai dengan kegiatannya, ia menoleh ternyata Wonwoo sedang memperhatikan Mingyu yang sedari tadi berbicara sendiri dan sibuk dengan kegiatannya. Wonwoo yang berdiri beberapa meter di depannya tengah memegang gelas berisi susu yang baru saja di buatkan oleh Jeonghan tadi. "Wonwoo-hyung? Apa kau sudah sembuh?" Mingyu yang melihat pemuda sipit di hadapannya telah siuman. Untuk kedua kalinya ia memeluknya tanpa memerhatikan lingkungan sekitar. Untung saja saat itu Cuma ada mereka berdua. Salahkan Mingyu yang sampai-sampai tidak memerhatikan lingkungan sekitar, ternyata beberapa menit lalu Scoups yang kedatangan tamu dan Jeonghan yang harus mengangkat telpon pribadinya entah dimana membuat mereka hanya berdua di dalam kamar.
Cklek! Pintu terbuka. Ternyata urusan mereka berdua tak terlalu lama. Jeonghan dan Scoups yang melihat pemandangan di depan mata mereka hanya terpaku. Wonwoo yang dari tadi belum mengeluarkan suara juga ikut terpaku. Kata-kata tak ingin keluar dari mulut Wonwoo. "Suasana yang begitu indah di siang hari bukan begitu Jeonghan?" Scoups mencoba meledek mereka berdua. "Ya benar."Jeonghan ikut mengangguk. Tapi Mingyu malah mengeratkan pelukannya. "Kau taka pa hyung? Apa masih ada yang sakit?" sepertinya Mingyu benar-benar melupakan dunia. "Emm… Mingyu-ya." Panggil Wonwoo. Scoups dan Jeonghan masih saja senyum-senyum memerhatikan. Mingyu hanya berdehem bermaksud menjawab ya. "Scoups-hyung dan Jeonghan-hyung sudah datang. Bisakah kau melepas pelukannya. Aku benar-benar sangat malu." Bisik Wonwoo pelan.
Sontak Mingyu langsung melepaskannya. "Sepertinya kau sangat menikmatinya Mingyu." Scoups mulai meledek lagi. Mingyu hanya terkekeh. "Ah hyung terimakasih telah menjaga Wonwoo-hyung. Ia terlihat lebih baik sekarang. " Mingyu mencoba mengalihkan pembicaraan untuk tak membahas masalah pelukan, ia tak mau membuat Wonwoo malu. "Walaupun kau tak meminta kami, kami akan tetap merawat Wonwoo, tenang aja Mingyu." Jeonghan mengambil alih. "Baiklah sepertinya kami akan pulang, jika sudah ada Mingyu aku tak akan khawatir dengan keadaan Wonwoo lagi. Wonwoo jika kau butuh sesuatu panggil saja kami, kami memang bertanggung jawab atas kalian karena kami yang paling tua disini. Mengerti? Mingyu kau juga." Lanjut Jeonghan. Scoups pun mengangguk setuju. Setelah mendapat jawaban mereka berlalu meninggalkan kedua pemuda itu.
-0-
Pukul 2 siang, setelah adegan dramatisir yang telah di lakukan Mingyu tadi. Kini suasana kamar Wonwoo benar-benar hening, Mingyu yang biasanya selalu mengeluarkan kata-kata jitunya dengan baik kini ia diam, sudah sekitar 10 menit Wonwoo hanya duduk di depan Mingyu dan menatapnya diam. Mingyu merasa sedikit salah tingkah, sebenarnya ada apa dengan Wonwoo. Terlalu canggung, terlalu hening, Mingyu menggaruk belakang lehernya yang padahal Wonwoo tau itu tidak gatal. Matanya yang dingin membuat Mingyu tak mengerti apakah Wonwoo benar-benar semarah ini padanya.
"Istirahatlah disini, aku akan membuat makan siang." Ucap Mingyu memecah keheningan. Ia beranjak dari tempatnya duduk dan mulai menggunakan celemek. Bahan makanan yang ia beli tadi bersama buah dan roti ia keluarkan. Suara tuk tuk potongan pisau terdengar di kamar Wonwoo. Bau harum sudah semerbak di kamarnya.
"Mingyu-ya… Tolong aku. Mingyu-ya… tolong aku." Ingatannya kembali terbuka. Suara Wonwoo kecil terdengar terngiang-ngiang di kepalanya. Pisau yang sedang di pegangnya terjatuh dan hampir saja mengenai kaki nya, Mingyu gemetaran. Tubuhnya kembali mengeluarkan keringat dingin. Kenangan yang begitu buruk, yang tak ingin di ingatnya lagi begitu saja terpikir olehnya. Suara prang pisau tadi membuat Wonwoo agak kaget. Ia langsung menghampiri Mingyu dan melihat Mingyu terdiam. Mulutnya bergumam, "Tidak apa Mingyu, Wonwoo ada di sampingmu sekarang." Mingyu mengucapkan kalimat yang sama berulang, berusaha menenangkan dirinya dari ingatan buruk yang ingin jauh-jauh dibuangnya saat ini. Wonwoo yang melihat Mingyu sungguh aneh, di tepuk pelan pundaknya. "Ada apa?" ucapnya sangat pelan.
"Ah hyung, syukurlah. Kukira kau akan menghilang lagi. Tetaplah di sampingku jangan jauh-jauh." Wonwoo tak mengerti. Lagi-lagi sifat anehnya keluar. Tak ingin bertanya, akhirnya Wonwoo membantu Mingyu memasak makanan untuk mereka berdua. "Hyung, kau sangat lucu saat memakai celemek itu." Tapi sesaat setelah Mingyu mengatakan itu, Wonwoo melepas celemek nya dan duduk di belakang agak jauh dari Mingyu. "Aku akan menunggumu selesai memasak dari sini."
-0-
Cukup setengah jam untuk Mingyu membuat makan siang. Karena Wonwoo masih dalam keadaan sakit jadi Mingyu hanya bisa membuat sup dan menggoreng ikan. Mereka menikmati makanannya di meja kecil yang biasa Wonwoo pakai. Hening, tak ada yang membuka pembicaraan. Mereka menikmati makanannya tanpa bersuara. Mingyu meneguk habis gelas di tangannya setelah piringnya jelas-jelas tak ada isinya. Wonwoo yang masih menikmati makanannya mencoba mengabaikan kegiatan apapun yang di lakukan Mingyu. Wonwoo asyik untuk menyendok nasinya sendiri. Mingyu yang serba salah mulai angkat bicara, "Hyung.." ucapnya pelan. Wonwoo hanya menjawab dengan gumaman kecil. Mingyu mulai gelisah, ia harus memikirkan kata-kata untuk membuat Wonwoo memaafkannya. Akhirnya, ia mulai dengan mengambil buku catatan di dalam tasnya.
"Tadi adalah mata kuliah Prof. Song dan catatannya sangat banyak. Aku sudah mencatat semuanya dengan rapi dan aku juga telah menyalin catatan untukmu." Mingyu menyodorkan buku catatan untuk di berikan pada Wonwoo. Wonwoo yang sedang mengunyah pun berhenti dan meletakkan sumpitnya. Matanya beralih pada benda segi empat yang menarik perhatiannya. Wonwoo adalah orang yang sangat suka sekali belajar, semua buku yang ada di kamarnya sudah di baca. Beberapa di antara menjadi favorit yang selalu di bacanya setiap malam. Wonwoo kini mengabaikan makanannya dan beralih untuk mengecek isi buku yang katanya telah di catat Mingyu dengan rapih. Mata nya sedikit terbelalak, saat melihat catatan nya benar-benar rapi, banyak tinta warna-warni sebagai catatan khusus agar mudah di ingat. Wonwoo membolak-balik catatan nya, ia sedikit tidak percaya catatan Mingyu bisa serapih ini. Dilihat dari penampilannya, Mingyu adalah tipe orang yang tidak suka belajar bahkan cenderung suka bermain-main.
"Itu adalah catatan hari ini, buku ini untukmu. Aku sengaja membuat catatannya serapih mungkin karena aku tau kau tipe orang yang sangat rapi hyung. Ya bisa di lihat dari kamarmu ini juga." Jelas Mingyu. "hyung." Panggil Mingyu lagi. Lagi-lagi di jawab dengan deheman kecil oleh Wonwoo. Wonwoo yang masih asyik membaca catatan nya tak menghiraukan kata-kata Mingyu. "Maafkan aku, karena aku, hyung jadi sakit lagi seperti ini. Aku sungguh minta maaf." Mingyu terlihat memelas, memohon dengan sangat, meminta maaf secara tulus dari dalam hatinya. Wonwoo yang melihat raut wajah Mingyu hanya bisa tertawa. "Hyung kenapa kau tertawa? Dari tadi kau hanya diam saja."Mingyu sedikit merengek.
"Kau sangat lucu saat begitu. Aku yang harusnya berterima kasih padamu karena sudah menjaga ku semalaman, walaupun sebenarnya aku memang marah padamu. Bagaimana bisa kau lupa dengan janji mu sendiri. Mulai besok aku tak akan menunggumu lagi di gerbang utama." Jelas Wonwoo. "Baiklah kau tak perlu menunggu ku saat kau tak melihatmu hyung. Aku tak ingin melihatmu seperti kemarin lagi." Jawab Mingyu.
-0-
"Hari ini aku benar-benar lelah, rasanya sampai rumah aku ingin tidur saja." Hoshi merengek. Si pemuda pemakai baju oranye ini hanya bisa mengeluh. Woozi yang sebagai pendengar hanya bisa diam saja. Merasa bosan untuk menjawab semua keluhan yang di lontarkan tetangganya ini. "Bagaimana ya keadaan Wonwoo?" Woozi mengalihkan pembicaraan berusaha untuk tak membahas keluhan-keluhan Hoshi. "Apa menurutmu kita harus menjenguknya?" Hoshi berhenti sejenak menghadap Woozi. "Atau perlukah kita bawakan sesuatu?" tanya nya lagi. Woozi memalingkan matanya. "Jika kau yang berkunjung pasti Wonwoo tambah sakit. Lagipula jika kita membawakan sesuatu pasti Mingyu sudah memenuhi kebutuhan Wonwoo, dia seperti ibunya saja. Kita beli buah saja." Usul Woozi.
Mereka mampir ke minimarket. Sedikit bertengkar saat memilih, apel atau pir. Mana yang lebih baik untuk orang sakit. Tak keduanya akhirnya mereka memilih melon. Sesampainya di rumah, terlihat Scoups dan Jeonghan sedang bersantai di lantai bawah. "Scoups-hyung…" teriak Hoshi dari jauh. Scoups dan Jeonghan pun menghampiri mereka. "Bagaimana kabar Wonwoo?" tanya Woozi cepat. Jeonghan menjelaskan bahwa Wonwoo telah baik-baik saja. Hoshi dan Woozi pun menhela nafas lega. Walaupun baru 3 hari mengenal Wonwoo, mereka menganggap semua penghuni di tempat kos ini adalah keluarga.
"hyung.. kalian sedang apa?" terlihat secara bersamaan penghuni lantai bawah keluar dari kamarnya. "Ya! Kemana saja kalian, aku baru melihat kalian hari ini." Dokyeom, Minghao, Vernon dan Dino yang merasa di tegur oleh penghuni lantai dua hanya terlihat senyum-senyum tak jelas. Satu-satu dari mereka mulai menjelaskan alasan-alasan mereka mulai dari Dokyeom. "Ah payah juga, aku mengurusi pendaftaran Mahasiswa baru tapi sedikit bermasalah hyung, jadi besok aku baru mulai masuk kuliah." Ucapnya sambil berekspresi sedih. Sedangkan ketiga anak SMA yang memulai ajaran baru bahwa mereka memiliki tugas, dan akhirnya saling bantu untuk menyelesaikannya makanya mereka tak punya waktu untuk bermain.
"Apa kalian tau insiden semalam?" Hoshi si biang gossip mulai menyebarkan berita-berita terbaru. Mereka yang tidak tau masalah Mingyu dan Wonwoo antusias bertanya ada apa? Ada apa? Seakan ini adalah hal penting yang harus mereka dengarkan. Hoshi bercerita panjang lebar menggosip ria di senja yang indah ini. Mereka yang mendengarkan pun mengangguk-angguk, terkadang Woozi dan Scoups menambahkan. Bahkan Jeonghan yang baru mendengar cerita lengkapnya begitu antusias. Hoshi yang tengah asyik cerita di senggol pelan oleh Woozi. "Soonyongie, diamlah Wonwoo dan Mingyu turun dari tangga." Mereka yang baru melihat pertama kali hanya bisa berkata oh ini si pemeran dramatisir adegan yang di ceritakan Hoshi.
"Hyung, ada apa kalian mengumpul seperti ini?" Mingyu yang memang supel langsung masuk ke dalam pembicaraan. "Ah kami hanya sedang bincang sore yang santai saja." Ucap Scoups berusaha menutupi. "Inikah tetangga baru kita?" Ucap DK tiba-tiba. Agar tidak terlalu curiga akhirnya DK berusaha memperkenalkan diri, begitu juga Hoshi yang mengikuti alur cerita. "Nah, ini dia tetangga baru kita. Dia adalah Kim Mingyu dan yang ini adalah Jeon Wonwoo." Hoshi mengambil alih perkenalan mereka. Vernon, dino dan Minghao juga ikut memperkenalkan diri. "Kau tau Mingyu adalah siswa akselerasi, mungkin jika kalian punya pelajaran yang susah, Mingyu bisa membantunya." Jeonghan menambahkan. Mingyu dan Wonwoo hanya tersenyum.
"Kalian mau kemana?" Woozi yang benar-benar penasaran akhirnya menanyakan pertanyaan yang sedari tadi tertahan. Memang, Mingyu dan Wonwoo terlihat sangat rapi. "Ah kami hanya ingin jalan-jalan sore. Untuk menebus kesalahanku aku ingin menemaninya." Mingyu hanya terkekeh setelah menjawab pertanyaan Woozi. "Ya, aku sangat bosan di kamar terus seharian. Baiklah kami pergi ya." Sambung Wonwoo. Mereka pun berlalu meninggalkan kerumunan tukang gossip yang sebenarnya sedang membicarakan mereka.
Ketiga anak SMA itu kembali ke kamarnya, merasa refreshing cukup sudah dan harus kembali berkutat dengan buku-buku sekolahnya. DK yang merasa tak mengerti arah bicara mereka dan mulai bosan pun juga memutuskan untuk kembali ke kamar. Kini tinggal mereka berempat. "Hyung, bisakah nanti malam kita adakan rapat? Ada sesuatu yang harus ku bicarakan dengan mu mengenai Mingyu dan Wonwoo." Hoshi mulai membuat rencana lagi. Karena besok jadwal kuliah siang, mereka bersedia untuk ikut rapat walaupun harus begadang. Karena bagi mereka topik Mingyu dan Wonwoo, berita yang tak boleh tertinggal.
-0-
Kini Wonwoo sudah tak lupa mantel nya, jadi ia tak harus di pinjamkan mantel oleh Mingyu di cuaca yang sangat dingin ini. "Kau yakin tak apa, jalan jalan di hari yang dingin begini. Sebentar lagi malam, lebih baik kita pulang." Mingyu mulai memperlihatkan sisi drama nya lagi. Mingyu benar-benar khawatir, baru saja Wonwoo sembuh. Ia sudah ingin jalan-jalan di sore yang dingin ini. Bisa-bisa ia terkena flu atau bahkan demam lagi. Mereka berhenti di sebuah taman yang sepi untuk sekedar duduk menikmati senja yang indah. Mingyu berinisiatif untuk membeli minuman kaleng yang hangat.
"Mingyu-ya, apakah aku sangat berharga untukmu?" Wonwoo tiba-tiba bertanya. Walaupun baru tiga hari, semua ini benar-benar mengganggunya. "Tentu saja, hyung. Jika kau tidak berharga untuk ku, untuk apa aku sangat peduli padamu?" pernyataan nya kurang meyakinkan hati Wonwoo. "Kenapa sangat peduli? Aku masih belum mengerti." Tanya Wonwoo lagi. "Aku menganggap kau seperti kakak ku sendiri hyung, aku sangat menyayangimu."Wonwoo merasa aneh. Ia baru tiga hari bertemu dengan Mingyu tapi Mingyu sudah berani berkata seperti itu. Tapi Wonwoo benar-benar ingin tau. Jadi Wonwoo pura-pura untuk mengenal Mingyu. "Haha, tentu saja. Kau selalu mengatakan itu." Balas Wonwoo singkat semoga bisa menarik Mignyu dalam jebakannya.
"Ya, benar. Aku selalu berkata seperti itu sejak kita kecil." Wonwoo terdiam, apa maksud kata sejak kita kecil. Wonwoo tak pernah merasa pernah mengenal Mingyu sejak kecil bahkan ia baru bertemu tiga hari yang lalu. Dan Wonwoo benar-benar yakin kata-kata yang di katakana kepada Scoups di pagi hari, bahwa ia tak mengidap alzhemeir ataupun amnesia. Akhirnya, Wonwoo menghentikan penggalian informasinya cukup sampai sini saja, ia tak ingin terlalu menekan Mingyu. "Mingyu ayo kita pulang. Hari sudah mulai malam." Wonwoo berlalu berjalan mendahului Mingyu. "Hyung, jangan tinggalkan aku lagi. Aku tak ingin kehilanganmu untuk yang kedua kalinya." Ucap Mingyu. Sudah berapa kali Wonwoo mendengar kalimat itu. Ia ingin membongkar masa lalu Mingyu, jadi Wonwoo hanya bisa mengikuti permainannya sekarang. "Jika kau tak ingin kehilanganku lagi, terus arahkan pandanganmu padaku. Karena aku bisa hilang kapan saja." Mingyu terdiam mendengar ucapan Wonwoo.
-0-
"Jadi, haruskah kita mulai sekarang?" Tanya Hoshi kepada ketiga kawannya. Mereka sudah berkumpul di rumah Woozi, mereka memilih di rumah Woozi karena memiliki kamar paling rapi di antara semuanya. Mereka juga sudah menyiapkan cemilan kalau-kalau rapat ini berjalan alot.
"Baiklah akan ku mulai,"
Kaze: chap 4 akhirnya apdet, kilat banget aku nulis mereka emang punya kemistri yang bagus banget ya jadi gampang ngayalnya wkwk. Aku seneng banget kalian suka sama ff ku ini. Aku bakal terus semangat nulis jika kalian terus semangatin aku. Keep review ya, biar aku tau gimana pendapat kalian tentang tiap chap nya. Jangan sungkan buat kritik. Aku suka kritikan ko wkwk. Ada yang punya request buat other pair yang bakal lebih di tonjolkan di ff ini?
Waktunya balas review :
Tfiy: makasih banget buat kamu yang terus ikutin forget it! Mingyu mau aku jadiin tersangka nih wkwk makanya mau diselidiki. Semoga penasarannya berkurang di chap ini
Kyuli99: sebenernya aku juga bingung, ini brothership bukan ya? xD iya deh kayanya. Ini bukan tentang cinta sih tapi intinya Mingyu tuh sayang banget ama Wonwoo karena suatu hal
Arlequeen Kim: duh kalo Mingyu pacaran ntar para Meanie shipper pada bahagia *eh wkwk dimana scene fav kamu di chap ini xD?
Dpramestidewi: temen kecil bukan ya? Aku pun belum memutuskan biarkan akhirnya mengalir begitu saja wkwk
Ria537: aku pengennya ada PHO tapi takutnya jadi panjang banget nih cerita hehe. Tapi aku bakal selipin sedikit konflik di antara mereka karena salah satu tetangga yang bawel itu. Aku belum bisa bilang berapa ch soalnya masih tahap penulisan hehe.
auliaMRQ: Alhamdulillah ya allah di bilang bagus ceritanya. Sungguh terharu hati ini. Semoga kamu suka chap kali ini.
Kimxjeon: duh aku pen punya pacar kaya wonu, dingin pedes gimana gtu wkwk semoga rasa penasaran kamu berkurang di chap ini.
Itsmevv: siapanya ya? Duh aku seneng bikin orang penasaran nih. Kita lihat di chap ini apa tebakanmu benar ya xD
Akhir kata, Mingyu dan Wonwoo pamit. Sampai jumpa lagi. ^^
