Disclaimer: Karakter dan beberapa setting hanyalah pinjaman dari series Gundam SEED. Kesamaan tentu saja disengaja untuk kelancaran cerita ini.

.

Chapter 4

.

Miriallia berlari sekencang mungkin. Meski jalan berbatu dan banyak kerumunan orang, ia tetap berlari. Ia tidak menghiraukan meskipun ia hampir jatuh dan menabrak orang di sekitarnya.

Masih terngiang di kepalanya tentang mimpi tadi pagi. Mimpi yang menyeramkan. Membuat bulu kuduknya berdiri. Cagalli meninggal? Mungkin bisa dibilang Cagalli bangkit dari kuburnya. Tepat setelah tubuh Cagalli yang berada di dalam mimpinya dibawa oleh petugas ambulans, Cagalli 'asli' menelepon. Kalo itu terjadi sungguhan, apa yang akan dilakukannya? Mungkin ia akan pingsan berdiri.

Masalahnya, sekarang kenapa ia berlari dengan sekuat tenaga?

ooo

Cagalli bangun dengan wajah yang masih penuh dengan make-up, rambut yang berantakan, dan baju yang kusut. Semalam ia tidak sempat untuk menghapus make-upnya, ia terlalu lelah dengan kejadian yang ia alami kemarin.

Ia bangun dari tempatnya tidur—sebuah sofa empuk yang berada di ruang kerjanya—diam sejenak sambil mengumpulkan beberapa nyawanya yang masih melayang, lalu berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya yang 'kotor'.

Ia memandang wajahnya di cermin. Meskipun sedikit menghilang, di wajahnya masih ada sisa-sisa make-up. Maskaranya yang luntur membentuk sebuah lingkaran hitam di matanya. Ya sudahlah, nanti ia minta Milly untuk membawakan make-up remover dan satu pasang baju ganti untuknya. Gaun yang ia pakai sekarang tidak mungkin dipakai lagi, baju yang kemarin ia pakai—sebelum memakai gaun—sudah berbau tidak enak.

Ia mengeratkan giginya. Gemas dengan laki-laki itu. Semua kejadian yang ia alami sampai sekarang ini, gara-gara monster itu.

'Ah, sudah jam berapa sekarang?'

Ia keluar dari kamar mandi, kemudian melihat jam yang tergantung di atas pintu yang mengubungkan dapur dengan bagian depan toko.

08.00

Masih cukup pagi. Ia tidak yakin kalau Miriallia sudah bangun sekarang. Yah, lebih baik mencoba dari pada tidak.

Ia masuk ke dalam kantornya untuk mengambil ponsel yang ia taruh di dalam tas semalam. Untung saja battery ponselnya masih ada. Ia memencet nomor Miriallia yang sudah sangat ia hapal, lalu menekan tombol panggil. Tapi tiba-tiba ada sebuah telepon masuk. Nomor yang tidak dikenal. Ia paling tidak suka dengan nomor itu. Ia pun memencet tombol reject, lalu dengan gesit kembali mencoba menelepon Miriallia.

Yap. Sambungannya berhasil.

"Ha-halo." suara Miriallia terdengar gugup.

"Miriallia."

"Ya?"

Cagalli menjauhkan ponselnya dan melihat nomor yang ia ketik di layar ponsel itu, takut-takut salah mengetik nomer. Ini karena dari suara di seberang sana, seperti tidak mengenali suaranya, padahal nomer yang ia ketik sudah benar.

"Bisakah kau datang ke sini sekarang?" tanya Cagalli.

"Maafkan aku, tapi, bisakah kutahu ini siapa?"

Cagalli menepuk dahinya. Benar dugaannya. Miriallia tidak mengenali suaranya. Sebenarnya sudah berapa lama mereka berteman sih? Kenapa dia bisa lupa dengan suaranya dalam waktu semalam?

"Astaga. Kau tidak mengingat suaraku?" tanya Cagalli sambil berjalan ke jendela dua arah yang berada di belakang meja kerjanya. Ia lalu mendesah pelan, "Ini Cagalli, Cagalli."

"EH?!" teriak Miriallia dari seberang telepon. Cagalli menjauhkan ponselnya lagi. Kupingnya bisa rusak kalau mendengar teriakan sekencang itu.

"Milly! Kenapa kau berteriak seperti itu? Kau seperti mendengar orang yang bangkit dari kubur."

"Tidak, tidak. Aku tidak apa-apa." jawabnya lalu memutus sambungan telepon mereka.

"Ih ... kenapa diputus? Aku belum selesai berbicara." gumamnya sambil melihat ponselnya. Ia mencoba menelepon Miriallia lagi, tiga kali telepon, dua kali direject. Oke, ada yang aneh dengan sahabatnya ini.

"Milly, kenapa teleponku diputus?" tanya Cagalli dengan nada sedikit kesal.

Miriallia diam sejenak, lalu menjawab, "A-ah, tidak ada apa-ap—"

"Oke, itu tidak penting. Bisakah kau ke Bonheur sekarang?"

"Ada apa? Oh, iya, semalam kau tidak apa-apa, 'kan?"

Cagalli tertawa garing, lalu menjawab, "Yah, nanti aku ceritakan di toko. Sepertinya hari ini kita akan buka toko lebih siang. Oh iya, aku pinjam bajumu, dan tolong bawakan aku make-up remover."

"Oke, oke."

ooo

TOK TOK

Sebenarnya ada apa dengan manusia satu ini? Tadi di telepon suaranya terdengar seperti orang kebingungan, sekarang, kenapa ia mengetuk pintu toko kencang sekali?

Cagalli keluar dari dapur, menuju ke pintu masuk untuk membukakan pintu untuk Miriallia. Yah, siapa lagi orang yang akan mengetuk pintu toko sekencang itu selain Miriallia.

Di balik pintu, sudah berdiri Miriallia yang terlihat gelisah. Ia menengok ke sana kemari, seperti ada sesuatu yang mengejarnya. Cagalli tidak menyadarkannya, biar saja dia sendiri yang sadar kalau pintu di depannya sudah terbuka lebar.

Miriallia menghentikan gerakannya dan terpaku pada Cagalli di depannya.

Mata dan mulutnya terbuka lebar, bersiap untuk berteriak. Cagalli menempelkan jari telunjuknya di depan mulutnya, mengisyaratkan untuk tidak berteriak, kemudian menariknya masuk ke dalam. Menuntunnya duduk di sebuah kursi tepat di depan jendela.

Tirai di pintu dan di jendela masih tertutup. Cagalli sengaja tidak membukanya karena ia belum ingin membuka tokonya, meski sekarang jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi.

"Ca-Cagalli, matamu ..." Miriallia menunjuk mata Cagalli yang penuh dengan lunturan maskara.

"Ambil napas dulu," Cagalli menirukan cara mengambil napas dengan perlahan kepada Miriallia. Miriallia pun mengikutinya. Ia menarik napas perlahan dari hidungnya kemudian menghembuskan melalui mulutnya.

"Sekarang ceritakan apa yang terjadi padamu dari tadi pagi hingga sekarang." pinta Cagalli.

Miriallia menenangkan detak jantungnya, lalu berkata, "Hari ini aku sial sekali," Cagalli mengerutkan alisnya sambil memiringkan kepalanya.

"Kau tahu, tadi pagi aku bermimpi kau meninggal dengan baju yang sama persis seperti yang kau pakai sekarang." Ia diam sejenak, lalu meneruskan. "Kau meninggal karena kedinginan. Badanmu dingin dan membiru."

"Benarkah?" Cagalli sedikit kaget, tapi kemudian ia tertawa, "Kau tahu, ini masih musim gugur, dinginnya tidak sedingin musim dingin, aku tidak akan mati kedinginan di musim ini, dasar bodoh."

"Tunggu, aku belum selesai berbicara, bukan hanya itu yang membuatku seperti ini." Miriallia menarik dalam napasnya. "Tadi dalam perjalanan ke sini, aku dikejar anjing, setelah itu aku tidak sengaja tersandung seseorang yang sedang membetulkan tali sepatunya." Lanjutnya. Matanya mulai berkaca dan hampir menangis. Cagalli tiba-tiba menjadi kikuk. Bingung apa yang harus ia lakukan.

"E-eh? Jangan menangis. Kau sudah 25 tahun, Milly. Hanya terkena sial saja tidak perlu sesedih ini,"

Tangisannya mengencang. "Lalu dia menge—"

Cagalli yang gemas mencubit paha Miriallia.

"Aw, aw! Sakit, Cag!" Miriallia memukul pergelangan tangan Cagalli lalu memperhatikan wajah Cagalli dan menunjuknya. "Wajahmu, sini kubersihkan."

"Oh," Cagalli menutupi matanya yang penuh dengan lunturan maskara, "Jangan lihat."

Miriallia menarik tangan Cagalli dari matanya, "Bagaimana aku tidak melihatnya, dasar bodoh."

ooo

Setelah mendapat pakaian ganti, Cagalli langsung mandi dan mengganti pakaiannya. Riasan wajahnya kembali berkurang, tapi tetap masih ada. Rambutnya yang sebelumnya kaku karena hair spray, sekarang sudah guyub dan jatuh terkulai. Ia menyampirkan gaun yang tadi ia pakai di atas sofa. Miriallia sudah siap dengan pembersih wajahnya di meja kerja milik Cagalli. Meja yang sangat jarang digunakan olehnya, yah, tempat utama Cagalli bekerja bukan di sini, tapi di dapur, membuat kue.

"Jadi, tadi pagi kau gugup karena habis bermimpi buruk itu?" tanya Cagalli. Miriallia mengangguk sambil menghapus make-up dari wajah cagalli dengan kapas yang sudah dibasahi dengan make-up remover. Cagalli membuka matanya, melihat dengan jelas raut wajah Miriallia.

"Kalau kau mimpi seperti itu tentang diriku, itu berarti aku akan berumur panjang." Cagalli menepuk-nepuk pundak Miriallia.

"Tapi tetap sa—"

"Aduh! Kemana tanganmu bergerak, Milly!" Cagalli memegangi matanya yang tidak sengaja terkena jari Miriallia saat menghapus riasannya.

"Uwah! Maafkan aku!"

Miriallia panik melihat mata Cagalli yang memerah.

"Osu!"

Mereka berdua menoleh ke pintu. Ada seseorang berdiri di sana dengan wajah sumringahnya. Gadis berambut merah pendek, dengan celana jeans pendek ditambah stoking berwarna gelap, dan kaus yang ditutupi jaket berwarna magenta.

"Hei, dari mana kau masuk, Lunamaria?" tanya Miriallia.

"Tentu saja dari pintu." jawab Lunamaria.

Ia masuk dan langsung menyambar gaun yang Cagalli sampirkan di sofa. Ia mengangkatnya tinggi-tinggi, melihat setiap detail yang terdapat di gaun itu.

"Gaun siapa ini?" tanyanya.

"Itu gaun milik Cagalli." jawab Miriallia sambil merapihkan alat sudah selesai ia gunakan. Cagalli berdiri dari tempat duduknya lalu tanpa basa-basi mengambil gaun itu dari tangan gadis itu. "Ini mau kukembalikan." ujar Cagalli singkat.

"Mou ..." Lunamaria sedikit menekuk wajahnya. Di Bonheur, ia merasa kalau dirinya selalu di-bully; oleh Miriallia maupun Cagalli. Ini kenyataan, tapi mereka selalu baik padanya. Ketika ia memiliki masalah, sebisa mungkin, mereka berdua pasti membantunya.

Cagalli melipat gaun itu dan memasukkannya ke dalam sebuah kotak yang diambil dari dalam laci meja kerjanya, kemudian mengembalikan kotak yang sudah berisi gaun itu ke dalam laci lagi. Ia berjalan ke arah Lunamaria, dan menepuk pundaknya pelan. "Kau penasaran soal gaun itu?" tanya Cagalli. Lunamaria tersenyum senang.

"Mau tahu aja, atau mau tahu banget?" wajah Lunamaria berubah memelas. Cagalli tertawa. "Oke, oke, nanti akan kuberitahu," Cagalli mengambil apron berwarna kombinasi hijau dan kuning yang digantung di samping pintu. Ia memakainya, lalu melenggang keluar, dan memulai kegiatan membuat rotinya.

ooo

"Irrashaimase!" Lunamaria membungkuk kepada seorang wanita yang baru saja masuk.

"Ano ... onee-san, apa roti yang biasanya ada?" tanya wanita yang barusan masuk kepada Lunamaria. Wanita itu memang langganan ke Bonheur. Setiap kali ia datang ke Bonheur, pasti ia membeli jenis roti yang sama.

Lunamaria menoleh ke Miriallia yang berada di belakang meja kasir. Ia memberi sebuah isyarat untuk memberitahu Cagalli kalau pelanggan langganannya datang lagi hari ini. Cagalli punya resep khusus untuk ibu tua yang sudah berumur kira-kira 40 tahunan itu.

Miriallia menyambar gagang telepon di sebelahnya dan menyambungkan telepon tersebut ke telepon yang berada di dalam.

"Cag, roti yang biasa ada?"

Miriallia mengangguk-angguk beberapa kali, menanggapi apa yang Cagalli katakan dari ujung telepon sana. Merasa sudah selesai dengan percakapan mereka, Miriallia menutup telepon itu dan berbisik kepada Lunamaria.

Lunamaria mengangguk mengerti.

"Roti yang biasa sedang dalam proses, Nyonya." Jelas Lunamaria dengan sopan kepada ibu itu. "Apa anda mau menunggu sebentar?" lanjutnya.

Wanita itu mengangguk anggun. "Iya akan kutunggu." Jawabnya. "Bisakah aku memesan secangkir kopi?"

"Ah, tentu."

Ibu itu berjalan ke kursi yang berada di pojok ruangan dekat jendela.

Lunamaria memperhatikan wanita itu sampai duduk. Wanita itu sudah tidak muda lagi, tapi wajahnya begitu cantik. Meskipun ia tidak pernah mengobrol dengan wanita ini, ia sangat mengaguminya. Aura kelembutan dan keanggunannya begitu terasa, ia merasa kalau wanita ini mirip dengan seseorang.

"Milly, kenapa kita selalu membuat kue khusus untuknya, sih?" bisik Lunamaria, takut-takut terdengar oleh wanita itu.

"Cagalli bilang, dia itu kenalan lamanya," tangan kirinya menutupi mulutnya dari arah wanita itu. "Aku tidak tahu alasannya kenapa ia membuatkan kue khusus untuknya."

Telepon di sebelahnya berdering. Ia mengangkatnya dan mendengar suara Cagalli di dalamnya.

"Rotinya sebentar lagi selesai, tapi aku ada urusan penting. Tolong salah satu dari kalian ke sini, gantikan aku."

"Siap!"

ooo

Cagalli melepas apronnya dan menggantungkannya di samping pintu. Ia mengambil ponselnya yang ia simpan di dalam laci mejanya.

Ia memasukkan sebuah nomer ponsel ke dalam ponsel itu, lalu menempelkan ponselnya ke telinganya. Sambil menunggu sambungannya tersambung, ia bersandar pada cermin satu arah di belakang mejanya. Cermin itu membuatnya bisa melihat bagaimana keadaan di depan sana.

Ada wanita itu. Wanita itu berdiri menunggu di depan pintu masuk.

"Halo."

Teleponnya tersambung.

"Ah, tadi kau menelepon, Kira?"

"Ah."

"Ada apa?" masih bersandar di pinggir cermin, ia memperhatikan gerak-gerik wanita yang sudah menjadi langganan toko rotinya selama beberapa bulan itu.

"Aku ingin minta tolong kepadamu."

"Minta tolong apa?"

"Jenguklah ibu, sedang sakit dan tidak mau membuka pintu kamarnya."

Cagalli mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa tidak kau yang ke sana, kau ada di Orb. Dari rumahmu, hanya membutukan sedikit waktu untuk ke tempat ibu, ya kan?"

"Masalahnya bukan itu, katanya ibu ingin bertemu denganmu."

"Kau ke tempat ibu, lalu hubungi aku dengan skype. Sama saja bertemu denganku, kan?"

Kira diam sejenak.

"Hei."

"Tuan Athha juga menyuruhmu untuk datang."

Gantian Cagalli yang terdiam.

"Sebentar lagi ulang tahunnya yang ke-55. Ia ingin sekali kau datang."

Cagalli menimbang-nimbang sebentar. Kalau ia pulang ke Orb, ia tidak yakin kalau ia bisa pulang secepatnya ke December City, ke sini.

"Nanti kupikirkan dulu." Jawab Cagalli singkat.

Ia hampir mematikan sambungan teleponnya ketika Kira memanggilnya lagi.

"Cag, 'dia' sedang di December City." Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, "Mungkin sebentar lagi ia akan meneleponmu dan memintamu untuk menemuinya."

"Ah."

Tidak lama setelah ia memutus sambungan teleponnya dengan Kira, telepon di kantornya berdering. Ia dengan sigap mengangkatnya.

"Ya?"

"Cag, roti yang biasa ada?" tanya Miriallia dari ujung telepon sana.

"Ada, sedang dipanggang. Bilang pada wanita itu untuk menunggu, oke?"

Ia sudah tahu kalau wanita itu akan datang, jadi ia sengaja membuat roti yang biasa ia pesan.

Ia mengambil apron yang ia gantung dan memakainya kembali. Baru saja ia memegang gagang pintu dan hendak keluar, ponselnya berbunyi. Sepertinya ia tahu siapa yang menelepon ke ponselnya.

Ia mengambil ponselnya, lalu melihat nama orang yang memanggilnya.

Yap. Dugaannya tepat dan ini seperti apa yang dikatakan Kira tadi. 'Dia' menelepon dan ia pasti akan memintanya untuk menemuinya.

Ia menghela napas.

"Lacus ..."

"Cagalli-chan!" seru Lacus.

"Ada apa? Tidak biasanya kau menelepon." tanya Cagalli berpura-pura tidak tahu kalau dia sekarang ada di kotanya.

"Kau tahu, sekarang aku sedang berada di December City."

"Benarkah? Kapan kau sampai?"

"Em ... dua hari yang lalu."

"Dua hari yang lalu?!" Cagalli tidak tahu soal yang satu ini. "Kenapa kau tidak meneleponku dari kemarin?"

Kira sialan. Kenapa ia tidak memberitahunya lebih awal? Kasian 'kan dia sendirian di kota orang.

Oh, ngomong-ngomong, kenapa dia ke sini?

"Aku ingin meneleponmu dari dua hari yang lalu, tapi aku malah sibuk berbelanja." Lacus tertawa kecil.

"Hah?" Cagalli menjauhkan sedikit ponselnya lalu menggaruk telinganya, siapa tahu ia salah mendengar apa yang barusan Lacus katakan.

"Kau ke sini hanya untuk berbelanja? Bukankah kualitas barang-barang di Orb memiliki kualitas yang sama?"

"Hm ... sudahlah, soal itu tidak usah dipermasalahkan," kata Lacus."Kau datang saja ke sini, ada yang ingin kuberitahu."

Cagalli menghela napas.

"Baiklah di mana kau menginap?"

Cagalli mengapit ponselnya dengan telinga dan pundaknya, sementara tangannya bergerak mengambil secarik kertas dan pulpen.

"Di jalan X, hotel XX, kamar 1029."

"Oke, tunggu aku, ya."

"Yap."

Cagalli menutup sambungan teleponnya. Ia melipat kertas berisi nama hotel yang ditempati Lacus dan menyelipkannya di saku celananya.

Ia keluar ruangannya dan mengecek roti yang ia panggang. Rotinya sudah mulai berubah warna menjadi kecoklatan. Sebentar lagi matang.

Ia menggigit kuku ibu jarinya. Memang roti pesanan ibu itu sebentar lagi matang, tapi yang lain belum.

Ia masuk lagi ke dalam kantornya, mengambil gagang telepon lalu menghubungi Miriallia di depan. Sebenarnya bisa saja ia keluar dan berbicara face to face dengan Miriallia, sayangnya ia malas bertemu dengan pemesannya di depan. Pasti wanita itu akan bertanya banyak padanya.

"Rotinya sebentar lagi selesai, tapi aku ada urusan penting. Tolong salah satu dari kalian ke sini, gantikan aku."

"Siap!"

Ia menutup teleponnya.

Oke, apa yang harus ia lakukan sekarang?

Ah, ambil tas, lalu keluar melalui pintu belakang agar wanita itu tidak melihatnya.

Ia mengambil tasnya dari dalam laci lemari di sebelah meja kerjanya. Tasnya yang kecil tergulung bersama sebuah jas berwarna hitam.

Ia memandangai jas itu. Beberapa menit kemudian ia sadar, jas itu adalah jas yang diberikan oleh si 'monster' itu. Ia melemparnya ke lantai lalu menginjak-injaknya. Wah, ia terlalu kesal dengan kejadian kemarin malam.

ooo

Lonceng di atas pintu masuk bergemerincing. Ada seseorang datang.

"Irrashaima—" Lunamaria menghentikan salamnya dan dengan gesit menamengi dirinya dengan sebuah nampan plastik berwarna coklat susu.

"Aku tahu kau siapa!" teriaknya. "Mau apa kau ke sini? Apa kau mau menghancurkan toko ini dari dalam?!"

"Aku mencari Cagalli, apa dia ada?" tanya pria berambut biru itu, Athrun Zala, dengan sopan.

Lunamaria tiba-tiba terkesima dengan ketampanan dan kesopanannya. Sebenarnya ia sudah tahu kalau pria ini tampan setengah mati, tapi saat melihat aslinya, ia rasanya ingin mati saja, my life is complete.

Tapi.

Kalau dia sesopan ini, berarti ini meruntuhkan fakta soal cerita Cagalli tadi. Yap, tadi Cagalli sudah cerita semuanya. Dari awal sampai akhir. Dari bagaimana ia bertemu pria ini sampai kejadian tadi malam dan juga tambahan mimpi aneh Miriallia. Ia rasanya ingin tertawa sekaligus sedih dengan mimpi itu. Mimpi itu seperti nyata. Kejadian itu sama persis dengan yang kenyataan yang ada. Dress dan tempat dimana Cagalli tidur.

Ah, tapi Cagalli tadi sempat bilang, 'Kalau dia ke sini, tolong sebisa mungkin bilang kalau aku tidak ada.'

Athrun melambaikan tangannya di depan Lunamaria. Ia tidak sadar kalau dari tadi pikirannya melayang dan lupa menjawab pertanyaan dari pria tampan di depannya.

"Halo, nona?"

"Ah, ya. Tunggu sebentar, aku cek dulu."

Lunamaria melongok ke dalam ruangan 'staff only'. Ia melihat Miriallia yang sedang membuat kue di sana. Ia memanggilnya dengan berbisik. "Sst, Milly."

Miriallia menghentikan pekerjaannya, ia mengerutkan alisnya, bertanya-tanya ada apa dengan Lunamaria yang memanggilnya.

Lunamaria memberi sinyal untuk mendekat.

Miriallia mengibas-ngibaskan tangannya yang penuh dengan tepung lalu mendekati Lunamaria di pintu.

"Ada apa?" tanyanya.

"Ada Athrun di depan."

Miriallia sontak kaget saat Lunamaria menyebutkan nama itu. Ia menyuruh Lunamaria yang menutupinya, minggir dari pintu dan melihat yang Athrun berputar-putar melihat roti yang ada di dalam toko.

"Kenapa kau membiarkannya masuk?" Miriallia panik.

Masih dengan nada berbisik, ia menjawab, "Mana bisa aku melarang pelanggan untuk masuk ke toko kita? Itu menolak rezeki namanya." Ia sedikit kesal dengan pertanyaan Miriallia. Menurutnya, pertanyaan Miriallia itu adalah pertanyaan yang bodoh.

Miriallia menepuk dahinya pelan, lalu mendesis. "Mau apa dia ke sini?" tanya Miriallia tidak sabar.

"Dia mencari Cagalli. Apa dia ada?"

"Dia ada di—" jawabannya dipotong oleh suara pintu belakang yang tertutup. Dengan begini, pertanyaan Lunamaria sudah bisa terjawab. Cagalli baru saja pergi. Berarti dia tidak ada, ya 'kan?

"Sekarang kau sudah tahu jawabannya, 'kan?"

Lunamaria melirik ke arah Athrun di belakangnya. Belum sempat ia memanggil Athrun, pria itu sudah berlari keluar Bonheur.

Lunamaria ikut berlari, mengejar pria berambut biru itu. Ia penasaran apa yang membuat pria tampan itu berlari keluar Bonheur.

"Luna!"

"Dia keluar, keluar!" teriak Lunamaria sambil melambaikan tangannya ke arah Miriallia agar teman berambut coklatnya itu mendekat kepadanya. Ia masih memakukan matanya pada Athrun yang berlari keluar dari Bonheur.

"Oh, astaga." Lunamaria bergumam.

"Apa yang terjadi?" Miriallia muncul dari belakang Lunamaria.

Mereka berdua melihatnya. Mereka melihat wanita di belakang Cagalli yang baru saja keluar dari jalan kecil di sebelah Bonheur, dicopet oleh seorang pencopet di belakangnya. Wanita itu sepertinya sempat berteriak dan membuat Cagalli menghentikan langkahnya. Athrun yang sepertinya juga mendengarnya ikut keluar dan membantu wanita itu menangkap pencopet tersebut.

Cagalli meninju perut pencopet yang sedang lari itu. Pencopet itu terjatuh, tapi ia kembali bangun dan berlari ke arah yang berlawanan dari sebelumnya dan hendak meloncat pagar pembatas jalan saat tangan Athrun menangkapnya.

"Ah, dia tertangkap." Kata Lunamaria.

Athrun menariknya dan memojokkannya ke tiang listrik di dekatnya. Athrun melemparkan dompet yang pencuri itu curi kepada Cagalli. Cagalli menangkapnya dengan tepat, kemudian langsung mengembalikannya kepada pemiliknya yang terpaku di ujung jalan kecil di sebelah Bonheur.

Cagalli tersenyum kepada wanita itu. "Lain kali hati-hati ya, nona."

"Terima kasih." Kata wanita itu gagap. "Tapi, nona, aku ini laki-laki."

Cagalli tertawa garing. "Jangan bercanda ..." ia mengibas-ngibaskan tangannya.

"Aku tidak bercanda, nona." Katanya meyakinkan.

"Tapi, kau, tadi ..." Cagalli tergagap, lalu bertanya dengan suara yang pelan, "Kenapa kau berteriak?"

"Aku kaget." Pria itu menutupi wajahnya yang memerah dengan tangan kirinya.

Teriakannya tadi sungguh seperti seorang wanita. Suaranya melengking sampai membuat semua orang di jalan tadi menghentikan langkah kaki mereka untuk menegok siapa orang yang baru saja berteriak dengan suara seriosa itu.

Jadi, wanita ini, ah bukan, pria ini, yang mempunyai rambut hitam yang panjang dan halus, kulitnya mulus seperti bayi, matanya besar, dan bulu matanya lentik, adalah seorang pria? Oh, astaga! Image di depan matanya menipunya.

Do not judge a book by its cover.

Kalimat itu sekarang berlaku untuknya.

"Hei." Panggil Athrun.

"Ah, iya?"

"Cepat ambilkan tali untuk mengikatnya," perintah Athrun. "Ia dari tadi terus memberontak."

Aduh. Ia lupa kalau ada si monster itu di sini. Ia berdecak kecil, lalu berjalan masuk ke dalam Bonheur. Sebelum itu, ia tidak lupa menepuk pundak pria-wanita itu dan memintanya untuk hati-hati.

ooo

"Aku sudah menelepon polisi," kata Cagalli. "Aku titip pencuri ini." Cagalli menunjuk pencuri yang terikat di tiang listrik. Athrun yang tadi mengikatnya di sana.

"Baiklah. Serahkan padaku." Kata Lunamaria.

"Oh, ya, kemana wanita tadi? Rotinya sudah diberikan kepadanya?"

"Ah, dia sudah pergi sekitar lima belas menit yang lalu dengan membawa rotinya."

"Oke. Aku pergi dulu ya. Jangan lupakan dia." Cagalli menunjuk pencuri yang kesal di belakangnya itu dengan ibu jarinya.

Lunamaria mengangguk.

Cagalli melambaikan tangannya ke Lunamaria, yang juga dibalas dengan lambaian tangan darinya.

Sambil berjalan, ia melihat jam di tangan kirinya. Jam setengah 4. Masih ada 30 menit sebelum bus jam 4 datang. Ia harus bergegas.

"Cagalli."

Cagalli menoleh. Belum lama ia pergi dari Bonheur, ia sudah bertemu orang ini lagi.

Ia memasukkan banyak oksigen ke dalam paru-parunya, lalu ia berlari dengan kecepatan penuh. Berharap bisa hilang dari pandangan Athrun.

ooo

Athrun tertawa terbahak-bahak. Ia tidak menyangka Cagalli akan kesal hanya karena candaannya tadi.

Cagalli yang duduk di kursi penumpang di sebelah Athrun masih menekuk wajahnya sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Ia bingung kenapa ia bisa masuk ke dalam mobil ini dengan monster itu lagi. Ditambah, pria di sebelahnya juga sudah mengolok-oloknyanya.

Oksigen yang tadi ia ambil sepertinya sudah mulai menipis. Oksigen itu terbuang di setiap langkahnya dan sekarang membuat tenggorokannya terasa perih. Ia butuh air dan tempat untuk beristirahat.

Ia melihat sebuah tong sampah besar yang kosong. Cocok untuk tempat persembunyiannya, meskipun sedikit bau. Yuck. Ah, yang penting selamat, pikirnya.

Ia duduk di samping tempat sampah itu.

"Cagalli." Panggil Athrun.

Ia mendengar langkah Athrun mendekat. Ia memperkecil jaraknya dengan tong sampah di sebelahnya agar Athrun tidak melihatnya.

Athrun sudah tepat berada di depan tong sampah itu. Ia membuka tong sampah itu dan memanggil nama Cagalli.

"Cagalli, apa kau di dalam?" tanyanya ke dalam tong sampah.

Hatinya tiba-tiba tergetar. Tangannya bergerak ke kaki tong sampah itu dan membaliknya. Membuatnya ketahuan oleh Athrun yang sebenarnya memang sudah tahu kalau Cagalli berada di situ.

Athrun menghindar dari serangan tempat sampah yang dilancarkan Cagalli. Ia menangkap tangan Cagalli, lalu berkata, "Nah, kau ikut aku sekarang." Athrun menarik tangan Cagalli pelan menuju mobilnya.

Athrun masih tertawa di kursi kemudi. Cagalli mengerutkan alisnya bingung sekaligus kesal. Bagaimana ia bisa mengemudi sambil tertawa terbahak-bahak seperti itu? Kalau ia yang mengemudi pasti dengan sekejap ia akan melupakan kalau dirinya sedang menyetir, lalu sedetik kemudian dirinya akan hilang kendali. Yah, itu kalau dirinya.

"Apa sih yang lucu? Kenapa kau dari tadi tidak berhenti tertawa?" tanya Cagalli kesal. "Konsentrasilah pada jalan itu, jangan tertawa terus."

"Baiklah, baiklah." Athrun menghentikan tawanya.

"Kalau kau tertawa soal tong sampah tadi," Athrun kembali tertawa, tapi kemudian ditahannya karena melihat wajah Cagalli yang kesal.

"Ah, sudahlah." Cagalli pasrah. "Ngomong-ngomong, kau mau membawaku ke mana?" tanyanya.

"Aku mau kau menemui temanku." Katanya sambil memutar kemudi mobil.

"Teman siapa?"

"Teman lamaku. Dia memintaku untuk menjemputmu."

"Hah?" perkataannya cukup membuat Cagalli bingung. Teman lama Athrun kenal dengannya? Dari mana temannya kenal dirinya?

"Lacus, kau tahu dia, kan?"

"Ah!" Cagalli memutar badannya menghadap ke arah Athrun. "Kenapa kau bisa kenal Lacus?"

"Tentu saja aku kenal. Dia itu pacar sahabatku, Kira, yang juga saudara kembarmu." Jawabnya. Intonasi suaranya agak aneh saat menjawab pertanyaan Cagalli.

"Oh, astaga!" Cagalli bergumam. Kenapa hari ini banyak kejadian yang mengagetkannya. "Jadi kau sudah tahu siapa aku?"

"Bisa dibilang begitu." Senyuman terhias di wajahnya. Senyumannya terlihat sedikit mengejek. Jenis senyuman yang paling ia benci.

Cagalli mencubit perut bagian kanan Athrun, membuat Athrun meringis kesakitan. "Kenapa tidak bilang dari awal?" tanya Cagalli sambil mengeratkan giginya.

Athrun tidak menjawab dan hanya mengaduh kesakitan.

Cagalli menarik tangannya, lalu diam sejenak, kemudian ia mencubitnya lagi dengan lebih kencang. Ia tertawa dalam hati. Ini kesempatannya untuk membalasnya yang telah membuatnya kedinginan di jalanan sendirian.

"Aw, aw, aw. Hei, Athha, sakit." Athrun memejamkan sebelah matanya sambil kesakitan. "Lepaskan cubitanmu itu, kalau tidak mobil ini bisa menabrak."

ooo

1029

Cagalli bersandar pada tembok sambil melipat kedua tangannya di depan dada, kakinya mengetuk-ngetuk lantai tidak sabar. Athrun mengtuk pintu kayu berwarna coklat di depannya.

"Ya, tunggu sebentar." Kata seseorang dari balik pintu. Suara itu lembut, khas suara Lacus.

Pintu itu terbuka dan menampakkan seorang wanita cantik berambut pink dengan sepasang jepitan yang menjepit poninya.

Athrun dan Cagalli sama-sama tersenyum saat melihat Lacus yang menyambut mereka.

"Hai, lama tak bertemu." Sapa mereka berdua bersamaan.

ooo