Disclaimer : Tite Kubo
Rate : T
Genre : Romance
WARNING : Typo bertebaran dimana-mana, EYD yang amburaul, Penempatan tanda baca yang tidak sesuai, OOC tingkat akut, Gaje dan masih banyak kekurangannya.
Disini Orihime jadi Ichigo dan Ichigo menjadi Orihime. Jadi jangan heran, bingung, aneh pas membacanya nanti karena disini mereka berdua bertukar sifat dan karakter karena bertukar jiwa.
(Baca chapter 3 yang diedit biar tidak bingung membaca jalan ceritanya)
PLEASE IF YOU DON'T LIKE DON'T READ
.
.
.
X0X0X0X0X0X0X0X
Seorang pemuda bersurai hitam dengan mengenakan piyami berwarna ungu bergambar kucing terlihat tertidur lelap memeluk orang yang berada disebelahnya tanpa tahu dan sadar kalau perbuatannya ini membuat orang yang dipelukkanya itu sedikit susah bernafas.
"Ngh...sesak..." erang Renji dalam tidurnya.
Pemuda bersurai merah ini-pun terbangun dari tidurnya untuk melihat apa yang membuat tidurnya terasa sesak.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Empat detik.
Wajah Renji berubah pucat pasi dan syok tak kala mendapati, Yumichika tengah tertidur lelap memeluk tubuhnya.
"TIDAAKKK!" jerit Renji histeris.
Ichigo yang tidur diranjang sebelah langsung terbangun mendengar teriakkan dari pemuda bersurai merah itu.
"Ada apa Renji? Mengapa kau berteriak?!" tanya Ichigo panik seraya turun dari ranjangnya dengan kedua matanya masih setengah terpejam.
Pemuda bersurai orange ini berjalan menghampiri teman sekamarnya itu dan belum sadar dengan apa yang tengah terjadi pagi ini.
"Lihat ini Ichigo!" tunjuk Renji pada mahkluk disebelahnya saat ini.
Ichigo langsung membuka kedua matanya menatap tak percaya pemuda yang berada disebelah pemuda bersurai merah itu.
"Yumichika?!" serunya kaget.
"Cepat kau suruh ia bangun, aku sangat risih sekali dengannya," Renji berusaha melepaskan pelukkan pemuda bersurai hitam itu namun pelukkannya malah semakin erat saja.
Ichigo berjalan mendekati pemuda bersurai hitam itu dan berusaha membangunkannya.
"Yumichika, bangun...bangunlah..." Ichigo menggoyang-goyangkan tubuh Yumichika.
"Lima menit lagi Ichigo-kun, aku masih ingin tidur seperti ini," rajuk Yumichika dengan mata yang masih terpejam.
Yumichika mengeratkan pelukkannya dan kembali kealam mimpinya, wajah Renji terlihat kesal sekali dan ingin sekali memukul pemuda yang tengah memeluknya saat ini. Namun Renji harus menaha emosinya jika tidak ingin terlibat masalah dan terkena hukuman karena memukul Yumichika hanya karena masalah sepele.
"Ayolah Yumcihika, cepat bangun kasihan Renji tidak bisa bernafas karena kau peluk terus." Ichigo berusaha membangunkan pemuda bersurai hitam itu lagi.
Dan sepertinya usaha Ichigo berhasil, Yumichika langsung terbangun dan menatap Ichigo penuh arti. Renji bisa bernafas dengan lega dan segera berlari turun dari ranjang menjauh dari Yumichika.
"Selamat pagi Ichigo-kun," sapa Yumichika dengan suara yang agak sedikit serak.
"Selamat pagi juga Yumichika," balas Ichigo ramah.
"Kenapa Ichigo-kun, ada didepanku lalu tadi aku tidur memeluk siapa?" tanya Yumcihika yang masih belum sadar dengan keadaannya saat ini.
Ichigo tersenyum mendengarnya, jadi semalam Yumcihika salah naik ranjang dan mengira Renji adalah dirinya. Sudah beberapa hari ini pemuda feminin ini selalu mengendap-ngendap masuk kedalam kamar Ichigo dan Renji namun sepertinya tadi malam pemuda bersurai hitam ini salah orang.
"Aku yang semalam kau peluk." Teriak Renji dengan nada yang sedikit tinggi.
Wajah pemuda bersurai merah ini terlihat kesal sekali pada teman sekelasnya itu yang selama beberapa hari ini sudah merusak ketenangan tidurnya karena selalu masuk kedalam kamar ditengah malam secara diam-diam padahal kamarnya sudah Renji kunci dengan rapat.
"APA?!" kedua mata Yumichika langsung terbuka sempurna dan raut wajahnya terlihat syok.
"Pantas saja aku bermimpi buruk semalam." Tambah Yumichika yang membuat Renji kesal mendengarnya.
"Seharusnya aku yang bilang seperti itu!" dengus Renji.
Ichigo hanya diam melihat pertengkaran keduanya dan memilih untuk pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya dan bersiap-siap pergi kesekolah.
"Ichigo-kun, kau mau kemana?" tanya Yumichika.
"Membasuh wajah," jawabnya seraya berjalan kekamar mandi.
"Aku ikut." Yumcihika langsung turun dari ranjangnya dan berlari menghampiri Ichigo.
Namun dengan cepatnya Renji langsung menghalangi langkah kaki pemuda bersurai hitam itu lalu menariknya keluar kamar. Bisa Ichigo dengar kalau Yumichika berteriak kesal didepan pintu dan Renji sepertinya tidak memperdulikannya sama sekali.
Setelah menyelesaikan sarapan paginya Ichigo dan Renji bergegas pergi ke sekolah namun baru juga sampai dipekarangan sekolah dari jauh Renji sudah melihat para anggota Osis tengah melakukan razia seragam didepan gerbang sekolah.
"Ck! Razia seragam, kalau kesana aku pasti kena," Renji memandangi seragamnya yang berantakan karena ini sudah ciri khasnya.
"Ayo Ichigo kita lewat tembok belakang saja." Ajak Renji.
"Hah!? Lewat tembok?" tanya Ichigo bengong.
"Ya, bukankah kau dan aku sudah biasa lewat sana jika ada razia seragam." Ucap Renji seraya berjalan kebelakang sekolah.
Saat tiba disana Ichigo memandangi ngeri tembok sekolah yang cukup tinggi dan berfikir apa bisa ia melewati tembok itu. Namun disaat Ichigo tengah sibuk dengan pikirannya sendiri Renji sudah berada diatas tembok.
"Ayo Ichigo, kau naik." Renji mengulurkan tangannya.
Dengan cepat Ichigo meraih tangan Renji dan keduanya-pun sukses masuk kedalam sekolah dengan selamat tanpa adanya luka sedikit-pun.
Sementara itu Byakuya terus menajamkan pandangan matanya menunggu dan menantikan kedatangan Ichigo juga Renji karena keduanya belum juga muncul padahal ini sudah hampir jam pertama akan dimulai.
TING TONG...
Bel masuk-pun sudah berbunyi dan pelajaran pertama akan segera dimulai. Mau tidak mau Byakuya dan teman-temannya harus menyudahi kegiatannya dan hari ini lagi-lagi Byakuya tidak berhasil menghukum Ichigo dan Renji, keduanya bisa lolos dari razianya seragam yang diadakan.
"Lain kali kalian berdua tak akan lolos." Desis Byakuya.
Pemuda bersurai hitam panjang ini-pun kembali ke ruang Osis untuk mendata siapa saja yang melakukan pelanggaran dan setelah selesai dengan pekerjaan ia akan menyerahkannya kepada Ukitake sensei.
*#*
Hari ini udara bersinar dengan terikknya dan saat ini kelas Ichigo tengah melakukan olahraga lari seratus meter untuk pengambilan nilai akhir semester.
"Ichigo-kun, semangat," teriak Yumichika dipinggir lapangan memberikan semangat pada pemuda bersurai orange itu.
"Terima kasih atas semangatnya Yumichika."
"Apa kalian siap?" teriak Zaraki Sensei.
Semua murid terlihat mulai mengambil posisi untuk melakukan lari.
PRIITTT...
Zaraki Sensei meniupkan peluitnya, Ichigo dan teman-temannya mulai berlari, dengan cepat pemuda bersurai orange ini berlari cepat sampai di garis finis dengan catatan waktu tercepat dikelasnya.
"Rekor yang sangat bagus Kurosaki, delapan koma dua detik." Ucap Zaraki Sensei takjub.
"Hebat! Sejak kapan kau bisa berlari sekencang itu Ichigo?" puji Renji.
"Entahlah, mungkin hanya keberuntunganku saja," jawabnya santai.
"Dasar kau ini," Renji merangkul pundak pemuda bersurai orange itu.
Diam-diam dari ruang kelas tiga yang berada dilantai tiga, seorang pemuda bersurai hitam panjang tengah memandangi Ichigo dengan penuh arti yang tak lain adalah Byakuya Kuchiki. Ada perasaan aneh didalam hatinya saat melihat Ichigo yang tersenyum senang didekat teman-temannya dan tanpa disadari kalau pensil yang dipegang Byakuya patah saat melihat Yumichika memeluk erat tubuh Ichigo.
KREK...
"Astaga! Apa yang sebenarnya terjadi padaku?!" Batin Byakuya frustasi.
Byakuya memang jatuh cinta pada Ichigo versi seorang gadis namun dirinya masih normal dan masih menyukai seorang gadis bukan laki-laki. Namun apa yang tengah dialaminya saat ini benar-benar membuatnya sangat menderita juga hampir gila karena tanpa sadar pandangan matanya selalu tertuju pada Ichigo Kurosaki.
Dan siang ini dirinya diam-diam mencuri pandangan pada pemuda bersurai orange itu dan tidak memperhatikan pelajaran yang disampaikan oleh sang Sensei. Hal ini membuat Byakuya sangat frustasi, karena hatinya tidak bisa bohong kalau ada sebuah rasa yang tumbuh di sudut hatinya untuk Ichigo versi seorang gadis yang telah merebut hatinya.
"Lama-lama aku bisa digila dibuatnya!" batin Byakuya frustasi.
Walaupun sekeras apapun Byakuya mencoba mengelak dari perasaannya namun tanpa disadari olehnya kalau ia sering memikirkan Ichigo atau bahkan sekedar curi-curi pandang pada pemuda bersurai orange itu dan hal ini benar-benar membuatnya stres berat karena ia masih pemuda normal.
Syazel yang merupakan teman sekamarnya juga wakil Osisnya mulai merasa heran dan bingung dengan sikap Byakuya yang belakangan ini terus diam dan sering melamun. Entah apa yang tengah dipikirkan sang ketua Osis, namun sepertinya itu cukup berat bagi Byakuya mengingat pemuda bersurai hitam panjang itu selalu diam memikirkan sesuatu.
TING...TONG...
Bel istirahat-pun berbunyi, semua murid terlihat meninggalkan kelas dan pergi ke kantin untuk makan siang. Namun Byakuya masih duduk diam dibangkunya dan pandangan matanya sedang menerawang entah kemana.
"Hei, Byakuya," panggil pemuda bersurai merah muda itu yang duduk disebelah Byakuya.
"Hm..." sahut Byakuya datar.
"Apa kau sakit?" Syazel memandangi penuh arti pada sang ketua Osis.
"Tidak. Memang ada apa Syazel?"
"Belakangan ini kau terlihat sangat aneh sekali Byakuya. Apa kau sedang ada masalah? Jika ada ceritakan saja padaku,"
"Aku tidak ada masalah apapun Syazel Aporo."
"Ya sudahlah kalau seperti itu. Habis kau terlihat seperti orang yang sedang patah hati saja," celetuk Syazel yang tanpa sadar sudah mengena dihati Byakuya.
Sesaat kedua mata Byakuya melebar mendengarnya namun dengan cepat ia langsung bersikap dingin lagi dan menyembunyikan raut wajahnya yang kaget.
"Jangan bercanda denganku Syazel. Patah hati? Hal itu tak ada dalam kamus kehidupanku," ucapnya dingin seraya beranjak bangun dari kursinya.
"Kau mau kemana?"
"Kantin," Byakuya berjalan keluar dari kelas.
"Aku ikut." Syazel berlari menghampiri Byakuya dan keluar kelas bersama.
Saat berada dikantin lagi-lagi Byakuya harus melihat Ichigo yang tengah duduk bersama Yumichika dan Renji, dimatanya pemuda feminin itu terlalu dekat jaraknya dengan Ichigo bahkan tanpa sadar ada sedikit percikapan api didalam hatinya saat melihat Yumichika yang menyuapi Ichigo.
"Menjijikkan." Celetuk Byakuya saat melihat pemandangan yang tersaji didepannya.
Syazel menatap bingung Byakuya yang berdiri mematung menatap Ichigo dan teman-temannya. Belum juga pemuda bersurai merah muda ini bertanya, Byakuya sudah berjalan medekati mereka bertiga dan tanpa diduga sama sekali oleh mereka semua kalau sang ketua Osis duduk dimeja Ichigo.
BRUK...
Byakuya menaruh nampan makanannya dengan keras, ketiga pemuda yang duduk dimeja itu menatap bingung dan kaget melihat pemuda tampan bersurai hitam itu yang tiba-tiba duduk didekat mereka dan Syazel tidak bisa ikut duduk disana karena malas jika harus berdekat-dekatan dengan Renji yang merupakan musuh atau bisa dibilang rival cintanya karena telah merebut hati gadis pujaan hatinya, Rukia Kuchiki.
"Byakuya?!" seru Renji dan Yumichika bersmaan.
Ichigo diam menatap pemuda tampan didepannya saat ini yang memandangi dirinya penuh arti.
"Kenapa kau duduk disini?" tanya Yumichika dengan setengah berteriak.
"Meja ini bukanlah milikmu dan semua orang bebas untuk duduk disini," Byakuya terlihat cuek saja.
"Memang benar, tapi bukankah masih banyak meja yang kosong dan kau bisa duduk disana bukan disini," geram Yumichika karena membuat suasan makan menjadi tidak enak dan nyaman.
"Sudahlah Yumcihika, biarkan saja ia duduk disini." Ichigo membuka suara.
"Baiklah, jika kau sudah berkata seperti itu Ichigo-kun." Sahut Yumichika.
Satu sudut siku tercetak didahi Byakuya saat mendengar Yumichika memanggil Ichigo dengan tambahan sufik-kun dan ia merasa sedikit tidak suka mendengarnya karena itu membuat keduanya terlihat sedikit akrab dan dekat.
Suasana makan siang terasa sedikit canggung karena adanya Byakuya, terlebih pemuda tampan itu diam-diam terus manatap tajam Ichigo.
.
.
.
SRET...
Ichigo mencoret tanggal kalender, ia menatap pilu tanggalan di kalender karena ini sudah dua minggu dirinya bertukar jiwa dengan sang kakak, namun sampai saat ini belum ada kemajuan sama sekali. Terkadang sempat terbesit didalam hatinya kalau tidak akan bisa kembali ke tubuh masing-masing mengingat susahnya mencari orang yang mau menerima keadaan mereka berdua yang bisa dibilang tidak biasa juga normal.
"Haah~~" Ichigo menghela nafasnya berat.
SRUK...
Pemuda bersurai orange ini merebahkan tubuhnya lalu menatap langit-langit kamarnya seraya menerawang memikirkan tentang nasibnya dan sang kakak.
"Ayah, ibu apa yang harus aku lakukan." Batinnya.
Disaat tengah bersantai didalam kamarnya tiba-tiba ponselnya bergetar dan Ichigo membukanya ternyata itu pesan dari sang kakak yang memintanya untuk datang ke cafe.
Ichigo segera beranjak bangun dan meraih jaketnya lalu pergi, hari ini ia pergi sendirian tidak mengajak Renji ikut ke cafe karena temannya itu tengah pergi berkencan dan terpaksa Ichigo harus menaiki bus mengingat ia tidak bisa mengendarai motor atau mobil.
*#*
Sore ini Byakuya pergi berjalan-jalan untuk menghilangkan stressnya juga melupakan jauh-jauh tentang perasaan anehnya pada Ichigo. Setelah berjalan-jalan di pinggir kota perutnya terasa sedikit lapar dan tanpa sengaja ia melihat sebuah cafe maid diseberang jalan.
Saat Byakuya masuk kedalam cafe ia disambut hangat dan sopan oleh seoran maid berpakaian miko.
"Selamat datang dicafe kami Tuan, mari saya antarkan anda ke meja anda." Ucap sang pelayan ramah seraya menuntunnya menuju meja yang kosong.
Namun tanpa diduga sama sekali oleh Byakuya kalau dicafe ini ia akan bertemu dengan Ichigo, padahal hari ini ia memutuskan pergi berjalan-jalan untuk menghilangkan jauh-jauhnya perasaan anehnya karena terus memikirkan Ichigo. Tadinya Byakuya ingin duduk menjauh dari Ichigo tapi melihat pemuda itu dekat juga akrab dengan seorang pelayan maid cafe ini membuatnya penasaran dan memilih untuk duduk dibelakang meja pemuda bersurai orange itu.
Saat Byakuya duduk dengan ramah sang pelayan menanyakan pesanannya dan Byakuya memesan minuman cokelat panas dan pancake dengan toping madu diatasnya. Sang pelayan-pun pergi setelah mencatat pesanannya, Byakuya memasang kupingnya baik-baik dibelakang meja Ichigo untuk mendengar percakapan kedua adik kakak itu.
Awalnya percakapan anatar Ichigo dan Orihime tidak terlalu menarik atau penting diketahuinya, namun kedua matanya membelalak sempurna tak kala mendengar keduanya membicarakan pertukaran jiwa. Bahkan cara bicara Ichigo seperti seorang gadis saja, dan karena penasaran Byakuya langsung menghampiri keduanya.
Wajah Ichigo dan Orihime syok dan pucat pasi melihat sosok Byakuya dibelakang meja mereka.
"B-Byakuya!" seru Ichigo kaget.
"A-apa yang kau lakukan disini?" tanya Ichigo gugup dan takut kalau-kalau Byakuya mendengarkan semua percakapan mereka berdua.
"Katakan padaku Ichigo, apa maksud dari ucapan kalian berdua?"
Tubuh Ichigo menegang mendengarnya sementara itu Orihime menatap Byakuya jutek dan memperlihatkan wajah tak sukanya.
"Memangnya apa yang kau dengar?"
"Bertukar jiwa, men-hmpp..."
Orihime langsung menutup mulut Byakuya cepat dan memaksa pemuda tampan itu untuk duduk kemudian Orihime melepaskan bekapan tangannya.
Byakuya menatap tajam Orihime karena berbuat tak sopan padanya.
"Lalu jika kau tahu kami berdua bertukar jiwa, apa yang ingin kau lakukan!"
Byakuya terdiam menatap wajah Orihime yang menatapnya garang, "Jadi, kalian berdua benar-benar bertukar jiwa?" Byakuya menatap kedua kakak adik itu secara bergantian.
"Ya. Aku Ichigo Kurosaki dan dia adikku, Orihime Inoue." Kata Orihime mantap.
Deg'
Jantung Byakuya terasa seperti berhenti berdetak sesaat mendengar pengakuan dari Orihime, dan sebagai pemuda jenius yang selalu mengandalkan akal juga logika hal ini benar-benar diluar pikiran dan tidak mungkin terjadi didunia ini mengingat mereka tinggal didunia nyata bukannya sebuah sinetron, buku atau komik yang bisa terjadi hal-hal seperti ini.
Orihime dan Ichigo menatap bingung pemuda bersurai hitam panjang itu yang sedari tadi hanya diam dan terlihat tengah berfikir sesuatu. Baru juga Ichigo hendak membuka mulutnya memanggil Byakuya, pemuda bersurai hitam panjang itu membuka suara duluan.
"Beri aku bukti kalau kalian berdua benar-benar bertukar jiwa," tantang Byakuya.
Orihime tersenyum sinis mendengarnya, "Kau mau bukti Tuan muda Kuchiki."
"Baik, kalau begitu kemarikan telinga kananmu padaku," sambung Orihime.
Byakuya-pun menuruti permintaan dari Orihime dan gadis bersurai oranye kecokelatan itu membisikkan sesuatu ditelinga Byakuya. Kedua mata Byakuya membulat sempurna mendengarnya diiringi seulas rona merah dikedua pipinya, entah apa yang dibisikkan Orihime.
"Bagaimana Tuan muda, apakah kau sudah percaya. Aku ini Ichigo Kurosaki," ucap Orihime.
"Y-ya," sahutnya malu.
Mau tidak mau Byakuya harus mengakui dan mempercayai kalau mereka berdua benar-benar bertukar jiwa, mengingat gadis bermata abu-abu itu mengetahui rahasianya yang hanya diketahui oleh Ichigo saja karena. Akan tetapi dilubuk hatinya yang terdalam ada sebuah perasaan senang mengetahui kalau yang berada didalam tubuh Ichigo adalah seorang gadis, Ortihime Inoue adik dari Ichigo.
"Kau jaga rahasia kami maka aku berjanji akan menutup mulutku rapat hingga mati, menyimpan rahasiamu." Ucap Orihime yang mencoba membuat kesepakatan.
"Baik." Byakuya menerima kesepakatan dari Orihime.
Byakuya adalah orang pertama yang mengetahui rahasia tentang Ichigo dan Orihime yang bertukar jiwa, entah ini sebuah keberuntungan atau masalah mengingat pemuda bersurai hitam panjang ini tidak menyukai Ichigo.
X0X0X0X0X0X0X0X
Setelah bekerja dari sore hingga malam hari, akhirnya Orihime bisa pulang juga kerumah dan beristirahat. Betapa melelahkan sekali menjadi sang adik, karena setiap hari harus bekerja part time untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan hal ini membuat Ichigo merasa sedih juga miris mengingat kalau ayahnya adalah orang yang kaya raya. Namun Orihime sendiri yang saat ini tengah berada dalam tubuh Ichigo, enggan meminta bantuan pada sang ayah karena merasa dirinya sudah bukan bagian lagi dari keluarga Kurosaki.
"Orihime terima kasih untuk hari ini. Hati-hati dijalan." Ucap Midoriko.
"Ya, sampai jumpa besok Midoriko." Orihime melambaikan salah satu tangannya.
Dengan mengendarai sepedahnya, Orihime pulang kerumah yang jaraknya lumayan jauh dari tempatnya bekerja. Dan disaat melewati sebuah jembatan dekat sungai tanpa sengaja Orihime melihat seorang gadis cantik bersurai hijau panjang yang mengenakan seragam sekolah SMA tengah berdiri menatap kosong kebawah aliran sungai.
Awalnya Orihime tidak mengidahkan dan memperdulikan gadis bersurai hijau itu sampai mendengar suara benda terjatuh kedalam sungai.
BYUR...
Orihime langsung menghentikan sepedahnya dan menoleh kebelakang.
"Gadis itu tidak ada!" serunya kaget.
Buru-buru Orihime turun dari sepedahnya dan berlari ke asal arah suara, saat dilihatnya gadis bersurai hijau itu sudah berada didalam sungai. Tanpa berfikir panjang, Orihime langsung terjun kedalam sungai untuk menyelamatkan gadis itu.
Setelah mencari didalam sungai Orihime menemukan gadis itu dan menariknya keluar dari dalam sungai.
"Haaaah...Haaah..." Orihime terlihat terengah-engah dipinggir sungai.
Sementara itu gadis yang diselamatkannya terlihat tak sadarkan diri, buru-buru Orihime memberikan nafas buatan dan setelah mencoba beberapa kali memberikan nafas buatan akhirnya gadis itu terbatuk dan mengeluarkan banyak air dari dalam mulutnya.
"Uhuk...uhuk..."
"Syukurlah ia selamat." Ucap Orihime dengan bernafas lega.
Namun tak lama gadis bersurai hijau itu jatuh pingsan tak sadarkan diri dan mau tidak mau Orihime membawanya ke rumah sakit terlebih tubuh gadis bersurai hijau itu demam tinggi.
"Bertahanlah Nona." Gumam Ichigo.
Setelah mengayuh sepedah selama dua puluh menit akhirnya Orihime tiba disebuah klinik dua puluh empat jam terdekat dan langsung membawanya masuk untuk diperiksa oleh dokter.
"Aku harap gadis itu tidak baik-baik saja," gumam Orihime seraya duduk bersandar didepan ruang pemeriksaan.
CKLEK...
Pintu ruang pemeriksaan-pun terbuka dan seorang wanita paruh baya dengan rambut hitam panjang keluar menghampiri Orihime.
"Apakah kau keluarga dari Nona itu?" tanya sang dokter.
"Bukan tadi saya menemukannya hendak bunuh diri pinggir sungai,"
"Apa anda sudah menghubungi keluarganya?"
"Belum," jawab Orihime singkat.
"Ya, sudah kalau begitu. Bisakah kau ikut aku keruanganku sebentar," ujar sang dokter seraya berjalan menuju ruangannya.
Kini keduanya tengah duduk saling berhadapan, entah apa yang ingin dibicarakan oleh sang dokter padanya namun sepertinya ini adalah hal yang sangat penting.
"Nona dan bayi yang ada didalam kandungannya selamat, tapi saat ini keadaannya bisa dibilang kritis dan harus dibawa kerumah sakit untuk menjalani perawatan lebih lanjut," jelas sang dokter.
Orihime kaget mendengar penjelasan dari sang dokter, ternyata orang yang ditolongnya adalah wanita hamil karena dilihat dari wajahnya kalau gadis itu masih duduk di bangku SMA karena mengenakan seragam sekolah. Gadis bersurai oranye kecokelatan ini-pun menyetujui usulan sang dokter untuk membawa gadis bersurai hijau panjang itu kerumah sakit terdekat.
Namun mengingat kalau Orihime tak memiliki uang untuk membayar rumah sakit dengan terpaksa Orihime menghubungi Ichigo ditengah malam seperti ini untuk membantunya.
*#*
DRAP...DRAP...DRAP...
Seorang pemuda bersurai orange terlihat berlarian di koridor rumah sakit, pemuda tampan ini terlihat berlari tergesa-gesa setelah menerima telpon dari sang kakak kalau saat ini tengah berada disebuah rumah sakit besar dekat kota.
Ichigo berhenti disebuah ruangan nomor dua ratus delapan dan buru-buru membuka pintu itu lalu menghambur masuk kedalam.
"Kak Ichi," panggilnya saat melihat seorang gadis bersurai oranye kecokelatan tengah duduk disamping seorang gadis bersurai hijau panjang.
"Hime," sahut Orihime saat melihat sang adik berlari menghampirinya.
"Apa yang terjadi padamu? Apakah kau..."
"Aku tidak apa-apa dan maaf karena menghubungimu malam-malam begini," ucap Orihime yang berusaha menenangkan kepanikan sang adik.
"Syukurlah kalau begitu," Ichigo bernafas lega mendengarnya.
Pandangan mata Ichigo beralih pada seorang gadis yang terbaring tak sadarkan diranjang rumah sakit didekat Orihime.
"Siapa gadis itu?" tanya Ichigo penasaran.
"Entahlah aku tak tahu, aku baru bertemu dengannya dua jam yang lalu. Nanti akan aku ceritakan tapi, apakah kau sudah mengurus biaya rumah sakit ini?" tanya Orihime.
"Saat ini Renji tengah mengurusnya didepan," jawab Ichigo.
"Jadi kau kemari bersama dengan Renji?"
"Ya, karena aku tidak bisa mengendarai motor milikmu dan terpaksa aku minta diantarkan oleh Renji agar bisa cepat sampai kerumah sakit," jelas Ichigo.
SREK...
Seorang pemuda bersurai merah terlihat masuk kedalam dengan tergesa-gesa dan tak lama pemuda tampan ini langsung memeluk erat tubuh Orhime.
"Hime-chan, apa yang terjadi padamu," tanya Renji panik.
Wajah Orihime langsung pucat pasi saat dipeluk oleh Renji, "le-lepaskan aku Renji-kun," rontanya.
Namun bukannya melepaskan pelukkannya Renji malah semakin mengeratkan pelukkannya membuat Orihime sesak dan sulit bernafas.
BUAGH...
BRUK...
Renji jatuh tersungkur ke lantai karena dipukul Orihime.
"Hime-chan," gumamanya sesaat sebelum jatuh pingsan.
"Kak Ichi! Apa yang kau lakukan?" Ichigo terlihat panik melihat Renji yang pingsan terkena pukulan sang kakak yang terkenal mematikan.
"Huh! Salah dia sendiri memelukku," dengus Orihime.
"Tapi tetap saja kau tak perlu memukulnya hingga pingsan. Cepat bantu aku merebahkannya di sofa." omel Ichigo.
Orihime-pun membantu Ichigo merebahkan pemuda bersurai merah itu di sofa dan berharap tidak terjadi apa-apa dengan Renji mengingat kalau pemuda itu jatuh dengan kepala yang mendarat duluan diatas lantai.
*#*
Setelah pingsan hampir sepuluh menit Renji-pun terbangun dengan kepala yang terasa agak sakit. Ternyata pukulan Orihime dasyat juga seperti tinju milik Ichigo, untung saja ia tidak mengalami gegar otak.
"Kau sudah bangun Renji," Ichigo tersenyum menatap pemuda bersurai merah itu.
"Ya, Ichigo ternyata pukulan adikmu sangat kuat sepertimu," ujar Renji seraya bangun dan duduk menyadar disofa.
Ichigo hanya bisa tersenyum kikuk mendengarnya, tentu saja pukulan Orihime kuat mengingat yang ada didalam tubuh gadis bersurai oranye kecokelatan itu memang Ichigo.
"Maafkan atas perbuatan Hime padamu, aku rasa ia tidak sengaja melakukannya,"
"Aku tidak mempermasalahkannya kok, lagi pula aku sudah biasa dipukul oleh Rukia bahkan bisa lebih parah lagi," ucap Renji santai seraya memerkan senyumannya.
Ichigo hanya bisa terdiam kaget mendengarnya dan tidak menyangka kalau kekasih Renji adalah gadis yang kuat juga. Pantas saja jika Renji sangat takut pada Rukia Kuchiki yang merupakan ketua klub Akido di Alice Gakuen.
Hari sudah larut malam bahkan sudah menunjukkan pukul satu pagi, Ichigo dan Renji harus segera kembali ke asrama. Besok siang mereka akan ke rumah sakit lagi dan menemui Orihime, jika ada apa-apa Orihime bisa menghubungi dan memberitahukan pada Ichigo.
"Renji, terima kasih karena sudah mau mengantar dan menemaniku," ucap Ichigo.
"Sudahlah Ichigo, itu tak masalah untukku. Lagi pula kita ini-kan teman, dan sesama teman bukannya harus saling membantu," Renji menepuk pelan pundak Ichigo.
Ichigo merasa senang mendengarnya, ternyata sang kakak memiliki seorang teman yang baik seperti Renji dan sangat bersyukur bisa bertukar jiwa dengan sang kakak karena bisa mengenal Renji dengan baik.
*#*
Setelah hampir semalaman gadis asing yang ditolong oleh Orihime tak sadarkan diri akhirnya pagi ini ia membuka matanya.
"Aku ada dimana?" gadis ini melihat seisi ruangan yang didominasi warna cat putih.
"Apa aku ada disurga," gumamnya yang belum sadar kalau dirinya berada di rumah sakit.
"Bukan, kau ada rumah sakit," sahut Orihime yang baru masuk kedalam ruangan.
Gadis cantik bersurai hijau ini menatap bingung dan heran pada Orihime, "kau siapa?"
"Namaku Orihime Inoue dan siapa namamu Nona," Orihime duduk disebelah gadis asing itu.
"Aku tidak tahu siapa namaku," ucap gadis itu polos.
Iris abu-abu Orihime melebar sempurna mendengarnya, "apa kau tidak ingat namamu," Orihime menatap gadis itu tak percaya.
"Iya," angguk gadis itu pelan.
Wajah Orihime pucat pasi mendengarnya, "Apa?!"
Kejadian apa lagi yang menimpa Orihime saat ini, dirinya merasa kalau ia sudah jatuh tertimpa tangga pula.
"Ya Tuhan!" jerit Orihime frustasi dalam hatinya.
TBC
Inoue ucapkan terima kasih kepada siapapun yang sudah mau membaca Fic ini.
Jika berkenan Read and Riview.
Inoue kazeka
