Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : SasuFemNaru
Rated : T, T+(+++?)
Genre : Drama, Family, Romance, a little bit Fluff
Warning : Gender Switch, OOC, Typo(s)
Hands, Walk and Desire
By : MizuMiu-Chan
Chapter 4
Kerja Bersama
Sasuke tertawa terbahak-bahak ketika melihat wajah pucat Naruto yang terlihat shock. Itu semua karena ulahnya yang menginjak pedal gas terus menerus tanpa dilepas, terkadang melakukan drifting, menerobos lampu merah, belok ke sana dan kemari untuk mencari jalan cepat, dan itu semua terjadi dalam lima menit. Ya, sesuai janjinya. Mengantar Naruto ke kafe dalam waktu lima menit saja. Sementara biasanya dengan mobil butuh waktu 25-30 menit. Beruntung tak ada polisi yang sedang patroli di jalan yang mereka lalui.
"Kau gila, Uchiha Sasuke!" Naruto berteriak histeris ketika mengingat bahwa nyawanya nyaris berada di ujung tanduk bersama lelaki sial ini, "Kau tahu, aku bisa saja mati dalam sekejap!"
Sasuke masih terkekeh geli ketika melihat omelan dari gadis manis disebelahnya. Naruto meninju bahu Sasuke, "Kau! Apa yang kau tertawakan, Teme?! Aku bahkan tidak bisa merasakan kakiku!"
"Tapi kenyataannya kau baik-baik saja, bukan?" Sasuke berhenti tertawa dan mengelus lembut dahi Naruto.
Berkat ulah Sasuke, nafas Naruto tercekat.
'Sial, di saat seperti ini dia malah modus,' pikir Naruto yang agak gugup.
Ia memalingkan pandangannya dari Sasuke. Menghindari tatapan Sasuke yang entah kenapa terasa lembut. Ia mengambil ranselnya yang selama di perjalanan ada di bawah. Saking cepatnya Sasuke ketika mengendarai mobil, ia sampai tidak bisa menggenggam erat ranselnya.
Pandangan Sasuke tertuju pada ransel kumal yang merasa diperhatikan akhirnya mengangkat wajahnya. Namun tetap berbicara ketus.
"Apa lihat-lihat?"
"Kau selalu memakai tas itu ketika sedang kuliah. Aku kira kau akan membawa tas yang berbeda untuk berangkat bekerja, Dobe," celoteh Sasuke yang kini menatap mata gadis didepannya.
Naruto menghela nafas perlahan, "Ini tas satu-satunya milikku. Aku sudah kesulitan menyimpan uang untuk membayar kuliah, membayar apartemen dan juga biaya sehari-hari. Bagaimana bisa aku membuang uang untuk sesuatu yang belum kuperlukan saat ini?" Ia mengeratkan genggamannya pada ransel miliknya, "Tas ini masih layak pakai kok. Meskipun warnanya sudah kurang bagus."
Keheningan menyertai mereka. Sasuke terdiam melihat Naruto, berusaha memahami keadaan Naruto. Suatu hal yang sangat jarang dilakukan olehnya. Sementara Naruto hanya menatap langit langit diluar kaca mobil dengan tatapan kosong, entah memikirkan apa.
"Baiklah, kita turun. Kau masih punya banyak waktu untuk bersiap-siap, Dobe," Ujar Sasuke yang menyadarkan lamunan Naruto.
"Oh! Huh? I-Iya, benar juga," Naruto membuka pintu mobil dan pergi ke arah kafe, disusul dengan Sasuke yang mengikutinya dari belakang.
"Kau mengikutiku lagi? Kau seperti penguntit saja, Teme," Ujar Naruto ketus ketika melihat Sasuke yang lagi-lagi berjalan mengikutinya.
"Aku lapar," Jawabnya singkat, "Mana ucapan terima kasihmu pada orang yang telah mengantarmu?"
"Dan membuat nyawaku berada di ujung tanduk?" Sergah Naruto, "Oh! Terima kasih banyak, Uchiha Sasuke."
"Cih. Ucapanmu itu sama sekali tidak tulus. Sombong sekali kau, Dobe,"
"Terserah!" Naruto menoleh ke arah Sasuke, "Ingat, jangan macam-macam di dalam. Aku tak mau kehilangan pekerjaanku," Ia pun melengos meninggalkan Sasuke yang tidak menjawab ancamannya.
oOo
"Naru~!" Ino berlari kecil ke arah rekan kerjanya yang sedang memasukkan barang di loker . Naruto menoleh ke arah Ino.
"Dia datang lagi? Kalian pergi bersama?" Tanya Ino dengan mata yang berbinar-binar. Berharap mendengar suatu hal yang menyenangkan, dan bisa dijadikan gosip.
"Ya, dia memaksa mengantarku. Kau tahu? Dia memacu kendaraannya dengan sangat cepat. Lima menit dari apartemenku ke sini. Aku bisa saja mati," Naruto mendesah keras, mendudukkan dirinya di kursi dekat loker. Kemudian, Ino pun ikut duduk di sebelahnya.
"Hei, bukankah itu menyenangkan?"
Naruto mengernyit heran, 'Menyenangkan? Apanya? Yang ada menyeramkan,' pikirnya.
Seakan bisa menebak apa yang Naruto pikirkan, Ino langsung menjawab dengan senyum manisnya, "Kau terlalu terpaku dan serius pada satu hal. Kau itu masih muda, jangan sia-siakan waktumu. Lihatlah dari berbagai aspek. Lihat dunia dengan berbagai warna. Kau akan lebih menikmati waktumu dibanding hal monoton yang terus kau lakukan setiap hari."
"Jangan terlalu parno dengan Sasuke. Lagipula ia membawamu dengan selamat. Cobalah nikmati waktumu dengannya. Hal yang menurutmu buruk, tak seburuk yang kau pikirkan, Naru," Naruto tercengang mendengar ucapan Ino.
Benar sih, sejak SMA ia tetap melakukan hal yang sama. Belajar, bekerja, dan tidur. Ia pergi keluar selain bekerja paling untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Mendengar itu, sedikitnya ia menyesal telah menolak seluruh ajakan main dari teman-teman dekatnya di SMA. Termasuk ajakan main dari Sakura. Sakura sering sekali mengajaknya ke toko kue terenak di Tokyo yang berlokasi sekitar lima belas menit dari stasiun kereta. Sepertinya, setelah ini ia akan mencoba mengajak Sakura ke toko itu sekali lagi. Jika kuliah tidak sampai sore, tentunya.
Melihat Naruto yang terdiam sejak tadi, Ino memiringkan wajahnya. "Naru?" Naruto tersentak dan menoleh ke arah Ino, "I-Iya?"
"Ada apa?" Tanya Ino khawatir.
"Tidak, bukan apa-apa." Naruto beranjak dari kursi, "Ayo kita bekerja."
Ino mengangkat bahunya dan pergi ke arah counter.
oOo
Waktu sudah menunjukkan pukul 11:13 malam, ini waktu Naruto biasa pulang, sekaligus ikut membantu yang lain membereskan kafe yang akan ditutup. Naruto meletakkan kedua tangannya di depan dada. Memicingkan mata secara tajam ke arah Sasuke. Marah? Tentu saja.
"Sasuke! Berdiri dari kursi itu, sekarang!"
Sasuke tetap santai duduk pada kursi favoritnya di kafe itu. Kursi yang letaknya berhadapan dengan counter, "Tidak mau. Tubuhku lelah menunggumu berjam-jam, kau tahu?"
"Siapa suruh menungguku, huh?!" Naruto menarik lengan baju Sasuke kasar dan mulai melontarkan omelannya, "Cepat berdiri! Aku mau membereskan kursi itu. Hanya kursi itu yang belum dibereskan. Kau mengganggu saja, sih Teme jelek!"
"Aku tidak jelek, Dobe. Aku ini cowok tampan Uchiha. Buktinya kau terpesona padaku," Ujar Sasuke yang kini menopang dagunya dengan tangan kanannya. Ia tersenyum jahil ke arah gadis pirang yang tengah menatapnya jijik.
"Terpesona? Jangan harap! Pergilah, agar aku bisa pulang, Sasuke!"
"Baik baik, tapi aku mengantarmu pulang."
"Ap—"
"Tidak ada alasan atau kau menginap disini hari ini,"
"Cih. Lebih baik aku meninggalkanmu duduk di kursi ini dan pulang sendiri!" Naruto berbalik arah dan pergi ke arah ruang pegawai. Sasuke berjalan mengikutinya dan menarik lengan Naruto yang akibatnya hampir terjatuh.
"Kya— A-Apa sih, Teme?!" Naruto menolehkan wajahnya ke arah Sasuke yang berada tepat di belakangnya.
"Turuti perintahku, atau kau akan menyesal, Naru," Bisik Sasuke seksi di telinganya. Sontak, Naruto meninju perut Sasuke sekuat mungkin. Sasuke mengerang kesakitan dan memegang perutnya.
"Apa yang kau lakukan, Dobe?!"
"Ini akibat karena macam-macam denganku. Sudah kubilang jangan sentuh aku!" Desis Naruto. Ia berjalan menuju kursi yang tadi ditempati oleh Sasuke dan membereskannya. Sasuke hanya menatapnya kesal. Si Dobe ini tidak main-main, pikirnya.
"Selesai. Saatnya pulang,"
Naruto pergi ke ruang pegawai untuk mengambil barang-barangnya. Ketika ia keluar dari ruang tersebut, ia melihat Sasuke sedang berbicara dengan managernya. Managernya belum pulang karena ialah yang akan mengunci pintu kafe.
"Manager? Ada apa?" Tanya Naruto ketika Sasuke sudah bergerak menjauh dari managernya dan pergi ke arah mobilnya diparkirkan.
"Ah, bukan hal penting. Sebaiknya kau pulang sekarang, Naru-chan," Ujar manager cantik bernama Tsunade. Sebenarnya, sudah lama Naruto meragukan umur Tsunade. Dengan wajah dan tubuh yang masih sangat kencang dan terawatt, mana mungkin ia berumur lebih dari empat puluh tahun? Operasi plastik kah? Sial, wajah dan tubuhnya saja tidak sebagus itu.
"Ah… Ya, benar juga. Lagipula aku masih memiliki tugas kuliah yang harus diserahkan besok," Naruto kemudian tersenyum dan membungkuk, "Aku pamit pulang dulu, manager. Manager juga, semoga sampai rumah dengan selamat."
"Yaa. Kau juga, Naru-chan," Jawab Tsunade.
Naruto melangkahkan kakinya keluar kafe. Tiba-tiba, Sasuke memblokir jalannya dengan mobil sport hitamnya.
"Apa maumu?" Tanya Naruto ketus. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam jaket tipisnya yang berwarna pink yang sudah agak kusam.
"Masuklah. Akan kuantar kau kerumah."
Alis Naruto bertaut, "Tidak mau. Aku pulang sendiri saja."
"Cepat masuk. Diam dan turuti perintahku," ancam Sasuke. "Siapa kamu berani memerintahku seperti itu?"
"Calon kekasihmu."
"Aku tak sudi!" Naruto kembali menatapnya jijik dan sebal. Manusia sial didepannya ini begitu keras kepala dan sangat ngawur, "Sudahlah. Aku bisa pulang sendiri. Kau pikir berapa umurku sekarang? Delapan belas tahun! Bukan lagi bocah lima tahun!"
"Aku tak peduli umurmu berapa, Dobe. Yang kutahu kau ini seorang perempuan. Kau ini masih gadis. Kau tahu betapa membahayakannya membiarkan seorang gadis pulang sendiri nyaris tengah malam?" Bentak Sasuke.
Naruto tercengang. Pertama kalinya Sasuke membentaknya seperti itu. Bukan ucapan ngawur seperti biasanya. Apa yang ia ucapkan malam ini ia akui memang benar, "Berpikirlah dengan jernih. Berpikirlah sesuai umurmu. Bukan berumur delapan belas tapi bersikap seperti anak lima tahun, Dobe."
Naruto menundukkan kepalanya. Ia malu. Ia selalu saja menganggap Sasuke tidak baik. Selalu berpikiran negatif tentangnya. Kalau dipikir-pikir, Sasuke memaksanya seperti itu memang untuk kebaikannya juga. Sasuke memang memikirkan dirinya.
Ah—Maksudnya, Sasuke memikirkan bagaimana cara untuk membantu dirinya.
Ya. Seperti itu.
… Kan?
Coba saja ingat. Awal masuk, Sasuke membantu Naruto dan menemaninya di ruang kesehatan. Meskipun keadaan kakinya memburuk karena hukuman Sasuke juga sih. Sasuke memang mengendarai mobil secara gila, menurutnya. Namun Naruto tidak terlambat bekerja berkat Sasuke. Kini, Sasuke menunggunya bekerja. Hanya untuk mengantarnya.
Sasuke yang melihat Naruto yang terdiam secara mendadak, akhirnya sedikit merasa bersalah juga. Ia keluar dari mobilnya dan berjalan ke hadapan Naruto yang masih tertunduk malu.
Sasuke merendahkan tubuhnya sejajar dengan Naruto. Ia menundukkan kepalanya dan melihat ke arah Naruto.
"Dobe—Ah… Naru…" Panggil Sasuke dengan suara serendah mungkin. Naruto mendongak perlahan dan menatap mata Sasuke. Ia kembali menundukkan wajahnya.
"Ya?"
Sasuke menghela nafas. Ia meraih puncak kepala Naruto dan mengelusnya perlahan. Masih tetap mencoba bertatapan dengan gadis didepannya.
"…" Sasuke terdiam sejenak, "Jangan menangis, bodoh. Wajahmu semakin jelek kalau menangis."
Naruto mendongak dan mengerucutkan bibirnya.
"Aku tidak menangis!" Naruto memukul dada Sasuke pelan, "Aku tidak jelek tahu. Aku ini imut!"
"… Hn."
SHIT.
Diam-diam, Sasuke merutuki dirinya sendiri.
'Maaf ya, Naru.'
Kalimat itulah yang seharusnya ia ucapkan tadi!
Ia merasa telah siap mengatakan hal itu, tapi… Ternyata lidah Uchihanya bahkan tidak mengizinkan hal itu. Cih.
"Hn."
"Huh! Baiklah, hari ini aku mengalah padamu. Aku lelah dan ingin cepat sampai rumah. Antarkan aku!"
Sasuke mengernyit, "Kenapa jadi kamu yang memerintahku?"
"Karena aku tak mau diperintah olehmu!"
"Aku juga tak mau diperintah olehmu."
Alih-alih menjawab ucapan Sasuke, Naruto lebih memilih untuk masuk dan duduk di mobil nyaman milik Sasuke, "Diam dan kemudikan saja mobil ini, Teme!"
"Cih. Seenaknya saja kau," Sasuke mendecih kesal dan memasuki mobilnya.
"Lain kali kau tak usah datang ke apartemenku dan mengantar jemput aku ke kafe. Aku bisa sendiri" Ujar Naruto yang masih tetap enggan melihat Sasuke.
Sasuke tak memberikan respon dan tetap mengemudikan mobilnya perlahan.
Ya, sangat perlahan.
oOo
Siang ini, Naruto merasa sangat gembira. Entah kenapa hari ini semua orang yang tidak ingin ia lihat mendadak tidak terlihat. Kakak tingkat bitchy yang biasanya menatap sinis dan terkadang membicarakannya, kini jarang terlihat. Aneh, memang. Tapi gadis itu cukup menikmatinya. Hari-hari indah masa kuliah akhirnya ia rasakan juga. Tanpa bully-an, tanpa kesialan, dan tanpa Sasuke. Ah! Benar. Sasuke juga tidak terlihat hari ini. Lelaki yang kemarin malam membuat dia mati kutu.
Yap. Semua terasa indah, tanpa gangguan dari Sasuke.
.
.
.
Sebenarnya, itulah yang ingin ia utarakan pada rekan kerjanya Ino. Namun kini ia memilih untuk mengurungkan niatnya. Melihat seluruh gadis di tempat kerja berteriak histeris dan membicarakan satu pegawai tampan layaknya model, yang baru saja bekerja hari ini. Tak hanya pekerja. Seluruh kalangan wanita yang menjadi pengunjung kafe ini tak hentinya berdecak kagum dan berbisik dengan teman-temannya. Mereka terpesona.
Oleh sosok yang tak dilihatnya seharian ini.
Yap.
Sasuke Uchiha Si lelaki kaya, sombong, arogan, pemaksa, dan tam—Ugh, keparat.
Dia, mulai hari ini…
Bekerja di OO Donuts and Café.
oOo
"Kau bercanda! Apa yang kau lakukan disini?!" Gadis bule Konoha itu menjerit tak percaya di hadapan lelaki yang jauh lebih tinggi darinya.
Sementara lelaki itu hanya mengambil buku pesanan yang masih baru dan dua buah pulpen. Ia menyimpannya di saku pada setengah apron hitam berbahan kaku yang digunakannya.
"Aku bekerja, tentu saja," Lelaki itu mendengus dan melirik gadis pendek disebelahnya yang merengut kesal.
"Bukan begitu, Teme! Ah! Ini sungguh tidak lucu!" Naruto mencengkram kepalanya frustasi. Sasuke terkekeh pelan, "Aku memang tidak sedang bercanda, Dobe."
"AARGH!" Naruto berteriak kesal. Membuat beberapa pasang mata tertuju pada mereka. Sasuke baru saja akan meninggalkannya, namun Naruto menarik lengan bajunya yang panjang dengan kasar, "Untuk apa kau bekerja disini? Kau itu orang berada! Aku dapat melihatnya dari sikap arogan dan sombongmu itu. Oh! Jangan lupa mobil sport mewahmu," Naruto berbisik pelan. Mata biru langitnya berkilat tajam. Jika yang berada di hadapannya bukanlah Uchiha Sasuke, dipastikan orang tersebut akan merinding ketakutan.
"Aku melakukannya karena aku ingin, paham? Lepaskan genggamanmu. Aku akan melayani pengunjung di meja nomor lima," Alis Naruto bertaut ketika ia mendengar ucapan Sasuke yang terasa dingin. Seperti bukan Sasuke yang biasanya. Namun, ia memilih untuk tidak mengambil pusing. Ia lepaskan genggaman tangannya pada ujung lengan baju Sasuke, "Baik, baik. Aku lepas."
Sejak itu, wajah Naruto terlihat kusut. Salahkan Sasuke yang membuatnya menjadi seperti ini. Apakah ia dan manager Tsunade membicarakan ini kemarin? Ah. Kalau saja ia mengetahuinya. Ia akan melarang manager untuk menerima Sasuke sebagai pegawai baru.
Tapi… Dengan adanya Sasuke di kafe, jumlah pengunjung yang datang hari ini meningkat sekitar dua puluh persen. Padahal baru satu setengah jam sejak Sasuke mencoba melayani pesanan pengunjung secara langsung di meja. Bukan di counter.
Naruto memposisikan pipinya di atas telapak tangan kanannya. Memperhatikan pekerjaan si anak baru, katanya. Sejujurnya, Naruto ingin tertawa keras ketika melihat cara Sasuke melayani pesanan pengunjung. Entah kenapa, Sasuke terlihat sangat kikuk. Mungkin ia baru pertama kali bekerja sebagai pelayan—atau baru pertama kali bekerja. Ia meragukan pengalaman bekerja Sasuke si anak berada. Manusia arogan yang egois itu mana pernah bekerja?
Naruto terkikik pelan ketika melihat wajah kaku Sasuke semakin terlihat kaku sekaligus kikuk. Walaupun sebenarnya, tadi Gaara sempat memuji Sasuke yang bekerja lumayan baik di hari pertama kalinya bekerja. Naruto menaikkan sebelah alisnya.. Mengapa Gaara tidak menyadari tingkah kikuk Sasuke? Padahal lelaki pintar seperti Gaara itu biasanya peka terhadap orang lain.
Cih. Rupanya semakin sering bersama Sasuke, ia semakin memahami karakternya.
Baik atau buruk? Entahlah.
Yang pasti, ia menemukan sisi lain dari Sasuke hari ini.
Gaara menoleh ketika mendengar kekehan pelan dari gadis yang bekerja bersamanya di daerah counter dan kasir. Sebenarnya ia senang melihat senyum manis Naruto hari ini meskipun ia tidak tahu apa penyebabnya. Gaara tersenyum tipis dan mencoba engawali pembicaraan dengan Naruto.
"Naru, ada apa? Kau terlihat senang ya?"
Gadis bermata biru langit itu menoleh dan mengibaskan tangannya, "Senang? Tidak, tidak~ Hanya menahan tawa saja. Melihat tingkah kikuk orang bodoh." Gaara mencoba untuk tidak memperlihatkan wajah kecewanya.
"Uchiha ya? Sebelumnya kau mengatakan bahwa cara bekerjanya terlihat kikuk."
"Yap. Dia aneh sekali," Naruto tertawa renyah, "Aku berpikir apakah ini kali pertamanya bekerja," Senyum lembut yang ditunjukkan Naruto entah kenapa, sedikit membuat hati Gaara terasa panas.
"Yah. Siapa sangka kekasihmu sekikuk itu dalam bekerja," Gaara menghela nafas dalam dan tersenyum ke arah Naruto Naruto mengangguk pelan, "Yah. Benar. Siapa sang—wait. What the hell I just heard? Kau bilang Sasuke pacarku? Kau mengada-ngada, Gaara," Naruto mencubit kecil lengan Gaara, yang menyebabkan desisan kecil darinya.
"Kau tahu? Sejak awal kukira Uchiha itu kekasihmu, Naru. Sejak hari dimana ia datang ke kafe ini untuk menemuimu. Kupikir itu wajar sebagai seorang kekasih untuk datang ke tempat gadisnya bekerja," Gaara bersidekap dada sambil mengangguk pelan, seperti menyetujui kata-katanya sendiri.
"Cih. Tidak mungkin Uchiha itu menjadi kekasihku. Aku membencinya, dan dia selalu menggangguku! Tidak ada kata suka di antara kami berdua. Jelas saja, aku tak mengharapkannya," Penjelasan tersebut membuat Gaara menyunggingkan senyuman.
Ia senang, berarti ia tidak perlu bersusah payah untuk mendapatkan gadis manis yang sedang berbincang dengannya. Tak ada penghalang baginya, termasuk Uchiha Sasuke, benar?
"Kau ini… Meskipun kau memang merasa begitu, kau tidak boleh berkata begitu, Naru," Gaara mengetuk dahi Naruto lembut, "Kau tidak mau merasakan karma dan jatuh cinta padanya, bukan?"
"Y-Ya, ya… Benar juga. Aku tidak mau—"
"Dilarang berbicara dengan rekan kerja selagi bekerja," Tiba-tiba, seorang gadis berambut merah muda gelap berwajah tegas datang dan berdiri di belakang Naruto dan Gaara yang asik berbincang.
"Ah, Tayuya-san. Maaf, kami tidak—"
"Jangan banyak alasan. Fokus pada pekerjaanmu! Sabaku Gaara, jangan menanggapi Shiranui-san bila ia mengajakmu berbicara," Ujar Tayuya dingin sebelum ia pergi meinggalkan mereka berdua dan beralih ke arah belakang, arah dapur.
Gadis Shiranui itu mengepalkan telapak tangannya erat. Menggigit bibir bawahnya. Wajahnya terlihat merah karena marah.
"Kau lihat itu, Gaara! Tayuya-san selalu saja menyalahkan aku! Kau dengar bagaimana ia bicara padamu. Seakan-akan aku yang selalu mengganggu jam kerjamu! Menyebalkan sekali," Gadis itu mencoba berbisik terhadap lelaki tampan disebelahnya. Gaara hanya menyunggingkan senyum tipis dan menepuk puncak kepala Naruto pelan.
"Sudahlah, jangan begitu. Kau tahu sikap Tayuya-san itu memang begitu. Aku pun pernah kena omelannya, kok. Semangat bekerjanya, Naru!" Gaara mengepalkan kedua tangannya, menunjukkan semangat. Dibalas oleh Naruto yang melakukan hal yang sama sepertinya.
oOo
Sasuke tidak bisa fokus bekerja. Ya. Ia tidak bisa!
Ia pikir, dengan bekerja disini ia bisa berbicara santai dengan Naruto, atau sekedar menjahilinya. Ia berharap menempati counter bersama gadis itu dan bekerja bersama. Tapi ia mendapatkan posisi yang sulit.
Ya, menjadi seorang pelayan.
Terlebih, pelayan yang melayani pengunjung dan mendatanginya ke meja mereka.
Cih, pekerjaan ini benar benar so-unlike-Sasuke. Ia takkan pernah sudi melayani orang lain, kalau bukan untuk menghabiskan waktu lebih bersama Naruto.
Tapi, apa yang ia dapatkan disini? Di hari pertamanya bekerja. Sebagai pelayan kafe.
Pertama, gadis-gadis yang entah kenapa jumlahnya membludak datang berbondong-bondong ke kafe ini. Semuanya minta dilayani oleh Sasuke. Bukan melayani yang itu. Melayani pesanan makanan, tentunya. Terkadang, mereka dengan terang-terangan mengatakan suka. Atau minta selfie bersama, atau apalah itu Sasuke tidak mau tahu dan tidak mau peduli. Yang penting, ia dapat melaksanakan pekerjaannya dan kabur dari kungkungan gadis-gadis itu.
For your information, selama ini Sasuke sangat anti dengan spesies homo sapiens yang ber gender wanita, atau perempuan. Ia sama sekali tak mau mendekati spesies bernama perempuan itu. Tingkah mereka yang menjijikkan dan seperti bitch— setidaknya, itu yang ia tahu karena seluruh perempuan yang mendekatinya sangat tidak tahu malu.
Kau tahu? Ketika SMA, Sasuke kabur ke pojok perpustakaan demi menghindari perempuan-perempuan itu yang terus mengejarnya dan terobsesi padanya. Tiba-tiba, salah seorang dari mereka yang agak pintar, datang menghampirinya di pojok Perpustakaan. Menggodanya, dan mulai membuka beberapa bagian seragam miliknya.
Mereka gila!
Kedua, posisi pekerjaannya. Tidak sesuai dengan harapannya. Tidak bersama dengan Naruto.
Bukan apa-apa. Hanya saja, Naruto asik sekali dijahili. Ekspresinya aneh dan itu terlihat menyenangkan. Ketiga, yang terakhir—sepertinya, dan yang paling menyebalkan. Dia terus melihat lelaki merah mata panda itu mendekati gadisnya! Asal tahu saja, Uchiha Sasuke tak suka jika sesuatu yang sudah dianggap miliknya, direbut atau didekati orang lain. Tak segan-segan ia akan merebut kembali hal itu secara paksa. Apapun akan ia lakukan. Asal hal itu kembali padanya.
Dan ia akan sangat puas.
Begitu pun dengan Naruto. Sejak ospek beberapa bulan lalu, ia telah resmi menjadi milik Sasuke.
Namun, sekarang ia melihat si merah itu terus menerus flirting pada gadisnya. Sial, itu memuakkan. Terutama, ia melihat kejadian itu tepat di depan matanya sendiri. Di meja nomor lima, depan counter. Tempat yang beberapa waktu lalu sempat menjadi tempat favoritnya, karena dapat melihat Naruto secara langsung.
Bayangkan, Uchiha Sasuke lebih memilih kursi kayu dengan dudukan empuk dibanding sofa coklat tua empuk yang berada di pinggir ruangan untuk menikmati kopi dan gadis pirang bermata sangat jernih. Itulah kursi favorit Sasuke di kafe ini, sebelum ia bekerja. Really.
So-Unlike-Sasuke.
Sial. Gadis-gadis ini lama sekali memesannya. Terkadang Sasuke melirik dari ujung matanya. Beberapa gadis tampak sangat serius dengan layar ponsel mereka. Mendadak, mereka duduk bersandar dengan kursi, menegakkan ponselnya, dan tiba-tiba mereka seakan menahan teriakan dengan semburat tipis yang muncul di pipinya.
Ya, ia tahu apa yang mereka lakukan.
Mereka mengambil foto Sasuke secara diam-diam.
Hal itu dikarenakan Sasuke tidak pernah mau diajak selfie oleh seluruh gadis yang memaksanya. Maka, itulah jalan keluar yang mereka pilih selanjutnya.
Sial. Seharusnya ada copyright untuk penyalahgunaan foto-foto miliknya, dan penyebarluasan ilegal untuk foto-fotonya.
Pandangan Sasuke kembali teralih pada gadis matahari yang tepat di depannya.
FOR THE GOD SAKE. Ya ampun. Si merah keparat itu berani sekali menyentuh Naruto secara intim!
Intim yang dimaksudkan, menyentuh puncak kepala Naruto dengan lembut.
Apapun yang lelaki lain lakukan kepada Naruto-nya, semuanya pelecehan! Titik!
Sasuke menggertakkan giginya kesal, "Cih. Sial."
oOo
"Sasuke-kun~"
Sasuke yang sedang mengambil istirahat enggan menoleh ke sumber suara. Ia tetap melanjutkan kegiatannya minum kopi di ruang pegawai.
Merasa tidak dipedulikan, gadis yang memanggilnya kini meneriakkan namanya, "Hei, Sasuke!"
Akhirnya, mau tak mau Sasuke menoleh juga. Gadis berambut ice blonde dan bermata aquamarine merengut kesal dengan menolakkan kedua tangannya di pinggul.
"Seperti kata Naru-chan, kau ini dingin sekali. Lebih dingin dari pacarku!" Mendengar bahwa gadis itu memanggil nama Naruto dengan akrab dan gadis itu sudah punya kekasih, ia memutuskan untuk menanggapi gadis itu. Siapa tahu gadis itu teman baik Naruto di kafe ini, bukan?
"Hn," Sasuke kembali menikmati kopi itu. Sangat nikmat, pikirnya. Ia mendapatkan kopi itu dari gadisnya yang menggemaskan, Naruto. Dengan sedikit paksaan, tentunya, "Apa saja yang Naruto bicarakan padamu?"
"Eh? Hmm. Banyak," Mendengar itu, Sasuke jadi geer sendiri. Timbul pemikiran bahwa si Dobe itu sebenarnya memikirkannya, tapi hanya terlalu tsundere untuk mengakuinya, "OH! Ngomong-ngomong, kau sepertinya populer sekali ya di kampus? Disini saja gadis-gadis mendekatimu. Ketika Manager Tsunade memberimu istirahat tiga puluh menit karena kau sibuk melayani pesanan gadis-gadis itu, dan mengganti posisimu dengan Shino, mendadak kafe tidak sepenuh tadi, tahu."
Sasuke meneguk kopinya pelan. Gadis ini bicara tanpa henti, pikirnya.
"Oh iya, kau kenal Naru-chan semenjak ospek ya? Apa pendapatmu tentang Naru-chan? Kau ini kakak kelasnya? Kau ini semester be—"
"Yamanaka. Kembali ke counter. Sekarang!"
Lagi-lagi, Tayuya mengganggu kegiatan pegawai yang sedang berbincang. Namun dalam hal ini, hanya Ino yang berbicara. Ino menautkan kedua alisnya. Ia berkacak pinggang, tanda sebal. Ia mencoba menantang Tayuya yang terkenal menyebalkan. Jangan mentang-mentang ia senior di kafe ini dan mendapat kedudukan penting dibawah manager, ia jadi semena-mena. Ino tidak takut! Lagipula, Ino kesal dengan sikap Tayuya kepada Naruto ketika berbicara dengan Gaara di counter.
"Apa, Tayuya-san? Aku sedang beristirahat sekarang. Manager memberiku istirahat, dan masih tersisa sepuluh menit!"
"Dan sayangnya aku berhak mencabut kebijakan manager. Kembali bekerja sekarang," Perintah Tayuya sambil menunjuk bahu Ino dengan telunjuknya secara kasar. Kukunya yang tajam mengenai bahunya dan agak sakit rasanya.
"Apa-apaan itu? Itu namanya penyalahgunaan wewenang, tahu! Lagipula Manager memberiku istirahat karena tahu kondisiku sedang kurang baik. Kau itu bukan manager, jangan bersikap seperti manager dan pemiliik kafe ini," Ino semakin menantang Tayuya dan mendekati wajah Tayuya dengan wajah garang.
Sasuke yang mendadak melihat drama yang tak berujung, kini beranjak pergi ke counter. Hitung-hitung ia bisa menggantikan posisi Ino disana, bukan?
Dasar Uchiha ini. Memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.
oOo
"Sasuke? Apa yang kau lakukan? Pekerjaanmu bukan di counter dan aku tahu itu," Naruto berkacak pinggang melhat Sasuke ada di sebelahnya, tempat Ino biasa bekerja.
"Kudengar Yamanaka kurang enak badan. Aku menggantikannya sementara," Jawab Sasuke asal.
Namun tak terkira, Naruto terlihat tidak terima. Sasuke kira, Naruto akan bersikap tsundere atau malu-malu kucing ketika tahu ia di counter. Cih.
"Apa? Tidak boleh! Lebih baik orang lain saja yang menggantikan Ino daripada kau yang berada disini!"
"Kau ini… Tak bisakah berbuat baik padaku sesekali? Kau banyak berhutang budi padaku," Ucapan telak Sasuke kini lagi-lagi membuat Naruto mati kutu. Sial, Sssuke menjadikan ini sebagai pedang bermata dua bagi Naruto.
"Sial kau Teme. Ingatlah! Aku takkan pernah lagi berhutang budi padamu. Kemarin yang terakhir!"
"Aku tidak yakin, Dobe."
"Cih!"
Sementara itu, seorang yang sejak tadi mengintip kini menggeram marah. Menyebutkan nama seseorang yang sangat ia benci.
"Awas kau. Shiranui Naruto…"
-To Be Continued-
Hai, hai hai~~~ Yeay, Miu senang. Kali ini, edit fanfic bisa lebih mudah :'3 semua karena THR xD ayoo ada yg mau kasih Miu thr juga? :3 Gimana chapter ini? Eheheh~ aku greget pengen bikin gambar digi :'3 Sasu pake outfit pelayan OO Donuts :'3 Ehiya, menurut kalian nih... Apa yg kalian pikirin tentang suatu fanfic yang beralur lambat? Otomatis, chapternya juga lumayan banyak. Karena kemungkinan, fanfic ini bakal panjang deh. Aku termasuk orang yang pengen menjelaskan sesuatu hal secara detail. Termasuk dalam cerita yang kubuat. Tanpa sadar, alur yang kubuat malah jadi lambat, dan baru sadar tentang itu tadi pagi. Makanya, tiap mau bikin oneshot suka gagal :"3 Bikin tugas mengarang waktu masih di SMP/SMA juga selalu panjang panjang :'3 Menurut kalian gimana ttg itu?
Aku tunggu jawabannya ya:3
Yuk, kita balas review~! Seperti biasa, yg login lewat pm yak ;3
Hiro mineha : Hiro-san, makasih mampir lagi yaa xD hmmm... Sayangnya sudah nyaris 3 tahun melepas status jomblo :'3 tapi masih suka baperan x"D Iya nih, seneng yang agresif *eh* nggak deng wkwk. Sasuke dibikin agresif biar asik dan Naru nya ngerasa annoyed =))) Kapan ya :( Aku jg greget nunggu mereka jadian:( Nih sudah update yaa xD
Yui : Wkwk harusnya ngikutin saran Shikamaru ya, tarik ulur :)))
Itakun : Waah, arigatou iyaa, sudah lanjut yaaa ini :3
TemeDobe : Oh, SasuNaru day? Sama kayak SasuFemNaru day?._. Wah omedetou xD
naginagi : Haloo, Naginagi-san~~ Makasih udah dateng lagii xD eheheh terima kasih banyak xD aduh kayanya ini chapter ngga ada lucu lucunya deh x"D Hihihi~ Sasunya iseng mulu, Narunya cepet ngambek kaya yg pms tiap hari xD iyaa nih udah lanjut yaaa :3
Karena bales review sudah selesai, sekarang Miu pamit undur diri dulu yaa :)) Terima kasih atas review kalian semua yang selalu membuat Miu senang dan senyum senyum sendiri :3 Kalian bener bener membantu Miu untuk meneruskan fanfic ini sampe nonstop xD sayang kaliaan ({}) babaaay, sampai ketemu di chapter berikut yaa :3
XOXO,
MizuMiu-Chan
