Minna ^^/
Apa kabar? Sehat? Amaya dan Kurapika serta Kuroro sehat disini :D*plak
Amaya kembali dengan kehororan*pasang music horror
Di chapter ini, masih tetep horror, ooc dan entahlah..
Tidak banyak basa- basi, langsung saja kita sambut bersama..
Chapter: 4
Slyph x Yuzu x Marry
Siang yang sangat terik. Satu kalimat singkat yang membuat Kurapika mendengus kesal. Entahlah, moodnya benar-benar buruk. Selain kenyataan Kuroro telah melihatnya telanjang ( tentu saja selalu dibantah oleh Kuroro), ia juga merasakan tubuhnya sangat lemah. Biasanya ia kuat berjalan sejauh apapun dengan cuaca seperti itu. Tapi tidak hari itu. Ia merasa langkahnya mulai memberat. Belum lagi matanya yang ikut memberat. Kuroro melirik gadis disebelahnya. Wajah gadis itu nampak pucat. Peluh terlihat jelas di dahinya. Beberapa mengalir sampai ke dagu. Nafasnya terengah ( dan Kurapika mencoba menyembunyikan kenyataan itu). Rambut pirang panjangnya terikat asal. Beberapa helai malah menjuntai dengan indahnya. Entah kenapa, wajah yang terlihat lelah dengan rambut acak-acakan itu membuat mata Kuroro memandangnya dengan cara yang lain. Kurapika merasakan ada sesuatu yang mengganggunya. Tanpa peringatan apapun, mata Kurapika segera bertumpu pada manik hitam Kuroro.
" Apa yang kau lihat? Dan apa-apaan ekspresimu itu? Kau seperti baru menemukan mainan yang bagus." Ujar Kurapika sedikit terengah. Kuroro –yang sebenarnya kaget ditatap tiba-tiba- memalingkan wajahnya. Nampak datar.
" Tidak. Hanya saja aku penasaran. Kenapa kau tidak memotong rambutmu. Kukira kau lebih suka rambut pendek. Kau tau bukan? Rambut panjang mungkin mengganggu untuk wanita sepertimu." Jawab Kuroro. Kurapika 'mengangkat alisnya heran'. Detik berikutnya ia 'tertawa'.
" Hahaha… ayolah, sejak kapan kau jadi banyak omong seperti ini, Kuroro Lucilfer?" Ucap Kurapika di tengah tawanya. Jujur saja cara Kurapika tertawa dengan ekspresi datarnya membuat Kuroro merinding.
" Hentikan cara tertawamu yang aneh itu." Balas Kuroro sadis. Kurapika langsung menghentikan tawanya. Kemudian menatap wajah datar kuroro yang tak terarah padanya.
" Apa maksudmu dengan cara tertawaku yang aneh?" Tanya Kurapika. Kuroro menghela nafas. Ia masih belum tau apa ia harus memberi tahu Kurapika tentang penyakitnya atau mendiamkan selama ini. bagaimanapun, Kurapika jelas tidak akan terima . jika ia diberitahu bahwa ia tak bisa berekspresi dengan wajar bagaimanapun, Kuroro dan Luna tau. Kurapika tetap melihat ekspresinya jika ia melihat pantulan dirinya di cermin, atau genangan air, atau apapun yang mampu memantulkan bayangan dirinya. Jelas saja ia akan menganggap Kuroro tengah berusaha mengerjainya jika Kuroro memberitahunya. Kuroro memilih untuk diam. Tidak memberitahu Kondisi Kurapika, dan tidak menjawab pertanyaan Kurapika. Otaknya berfikir cepat. Kemudian ia menoleh dan tersenyum mengejek.
" Aneh saja. Kau kan tidak pernah tertawa. Jadi untukku itu mengerikan. Bahkan tawa yang paling buruk, seingatku." Jawabnya santai. Kurapika mendengus mendengar jawaban Kuroro. Tapi ia sudah sangat lelah. Berjalan dengan keadaan selemah itu sambil berdebat dengan orang yang pandai berbicara macam Kuroro jelas bukan alternative yang baik.
" Ne, Kuroro. Kenapa padang pasir ini belum berakhir? Bukankah kau bilang jika kita berangkat dini hari, kita akan sampai sebelum siang?" Tanya Kurapika. Kuroro memegang dagunya.
" Harusnya memang seperti itu." Jawab Kuroro. Kurapika 'mengernyit'.
" Apa maksudmu dengan jawaban semacam itu?" Tanya Kurapika. Kuroro menoleh.
" Itu yang dikatakan oleh buku yang kubaca diperpustakaan kota Alfheim." Jawabnya.
" Ha! Jadi ini hanya percobaan saja?" Kuroro mengangguk santai.
" Lagipula aku percaya dengan buku itu. Bagaimanapun, buku itu ada di satu-satunya perpustakaan yang dinaungi oleh Netero-san. Perpustakaan terlengkap didunia." Kurapika mengerjapkan matanya. Kuroro tidak bisa menebak apa yang tengah dipikirkan Kurapika. Tapi entah kenapa ia memikirkan kemungkinan bahwa Kurapika ingin mendatangi perpustakaan itu. Kuroro menyeringai.
" Kau… pasti sangat ingin menginjakkan kakimu ditempat itu bukan? Kuakui itu memang perpustakaan yang hebat." Kurapika menelan ludahnya. Ingin rasanya ia menonjok mulut Kuroro yang dengan teganya menyembunyikan keberadaan perpustakaan itu darinya. Tentu saja sebagai penggemar ( Atau penggila lebih tepat) buku, ia sangat tidak ingin melewatkan kesempatan mengunjungi Perpustakaan terlengkap didunia. Tapi untuk saat ini, mungkin menahan diri lebih baik. Karena bagaimanapun, menunjukkan wajah ingin didepan Kuroro benar-benar seperti masuk ke sarang serigala.
" Te..tentu saja tidak! Lagipula itu bukan hal besar. Aku bisa mengunjungi perpustakaan itu kapan saja!" Kurapika memalingkan wajah datarnya. Kuroro mendengus geli. Kemudian ia menatap langit biru yang tak juga mengurangi terik matahari itu. Kemudian ia bergumam.
" Tapi, memang tak perlu kau pergi kesana." Kurapika melirik Kuroro.
" Kenapa?" Tanyanya. Kuroro mengangkat bahunya.
" Karena Perpustakaan itu ada di kota Alfheim. Kau pasti bisa menebaknya. Akan ada banyak ukiran yang bisa mengganggumu." Kurapika tertegun. Ia mengerti apa yang dimaksud Kuroro. Laba-laba..
" BRUK."
Kuroro menoleh. Dilihatnya Kurapika yang sudah tersungkur di hamparan pasir yang panas.
" Hei… kau bahkan pingsan hanya karena kalimatku barusan?" Kuroro berjongkok sambil menekan dahi Kurapika. Kemudian ia menyadari sesuatu. Bukan. Ia tidak pingsan. Tapi tertidur seperti yang biasa terjadi semenjak penyakit mannequin itu menimpanya. Dan jika diingat, Kurapika memang belum satu kalipun tertidur selama perjalan mereka hari itu. Kuroro mendengus sambil tersenyum.
" Kurasa ekspresi wajahmu yang normal hanya saat tertidur saja, Kuruta!" Kuroro segera meraih tubuh Kurapika dan membawanya dalam sebuah gendongan. Dalam satu hentakan, ia pun melesat meninggalkan tempatnya berpijak.
99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999
" Um.." Kurapika menggeliat pelan. Samar-samar matanya menangkap surai hitam dengan warna jingga yang menjadi latarnya. Kurapika mencoba untuk duduk.
" Dimana, ini?" Tanyanya serak.
" Kota Slyph." Jawab Kuroro tanpa mengalihkan pandangannya dari buku ditangannya. Kurapika memegang keningnya. Pusing.
" Kau pasti merasa pusing karena belum makan dari tadi. Ini." Kuroro melempar sebungkus roti dan sekotak susu Strawberry. Kurapika meraihnya dan menatap makanan ditangannya 'bingung'.
" Dan, ini tempat apa?" Tanya Kurapika sambil membuka bungkusan roti.
" Penginapan. Sepertinya kita tidak bisa kembali ke alfheim hari ini." Jawab Kuroro.
" Hmm… jadi, kenapa kau ada dikamar ini?" Kuroro menutup bukunya dan menoleh.
" Karena ini kamarku, Kurapika." Jawabnya. Kurapika menghentikan tangannya yang akan memasukkan potongan roti kedalam mulutnya. Kemudian ia mengerjapkan matanya.
" Ah, jadi dimana kamarku?" Kurapika menyingkap selimut, hendak pergi.
" Ditempat kau berdiri sekarang." Jawab Kuroro. Ia tau maksud Kurapika. Dan ia sudah menyiapkan alasan yang ampuh untuk Kurapika.
" Baiklah, ini penginapan dan pastinya memiliki banyak kamar. Jadi kenapa aku masih harus satu kamar denganmu?" Kurapika menatap Kuroro 'tajam'.
" Karena aku memesan satu kamar saja. Apa kurang jelas?" entah mengapa, Kuroro ingin sekali menggoda Kurapika. Sedikit berharap bisa melihat ekspresi jengkel Kurapika. Setidaknya jika dengan keajaiban dia sembuh, dia tidak harus direpotkan oleh Kurapika yang tiba-tiba tertidur ditengah perjalanan mereka bukan?
" Kuroro Lucilfer.. aku tidak sebodoh itu untuk mengambil kesimpulan kau hanya memesan satu kamar. Yang kutanyakan, kenapa kau tidak memesan dua kamar?" Suara Kurapika bergetar menahan geram. Kuroro tersenyum TIPIS.
" Entahlah, aku hanya berfikir kau tidak akan suka jika harus berpisah denganku dan pergi mencari kamar la-"
"MATI SAJA KAU!" Teriak Kurapika. Kurapika menghentakkan langkahnya dan mendekati pintu. Tepat saat tangannya akan memutar kenop pintu kamar, Kuroro memegang lengannya. Kurapika menoleh dan 'menatap' Kuroro 'tajam'.
" Kuruta, kau harus belajar dari pengalaman. Di alfheim kita satu kamar karena tidak ada pilihan lain. Disini juga kita tak punya pilihan lain."
" Ha… jalan buntu? Katakan!" Kuroro menghela nafas.
" Slyph adalah kota yang lebih aneh dari Alfheim. Mereka memiliki gubernur yang sangat suka mencegat para turis yang datang kekota ini. Dan jika mereka menemukan seorang wanita yang belum menikah, maka itu akan dianggap sebagai hadiah untuk kota mereka." Jelas Kuroro. Kurapika 'mengernyit'.
" Hadiah?" Tanyanya. Kuroro mengangguk samar.
" Dengan kata lain, wanita yang berpergian kekota ini akan aman dari perbudakan selama ia datang dengan..suaminya." Imbuh Kuroro.
" Budak? Jadi wanita-wanita tak bersuami itu akan menjadi budak gubernur? Budak.. itu berarti mereka bebas melakukan apapun kepada wanita malang itu." Kurapika merasa mual membayangkan siksaan yang akan dialami para budak itu. Kemudian Kurapika menoleh kearah Kuroro.
" Tunggu… kalau aku ada disini dan tidak ditempat ketua suku itu… berarti.."
" Bingo… Aku memperkenalkanmu sebagai nyonya Lucilfer yang sedang pingsan karena dehidrasi." Kuroro tersenyum licik. Kuroro bisa melihat semburat merah dipipi Kurapika. Namun wajahnya tetap saja datar.
" KURORO! KAU PIKIR APA YANG KAU LAKUKAN?" Bentak Kurapika. Kuroro hanya tersenyum.
" Tentu saja menyelamatkanmu, nyonya Lucilfer." Jawab Kuroro. Kurapika mendengus geram.
" Atau kau lebih memilih keluar dan memesan kamar lain? Asal kau tau, mereka adalah rakyat yang sangat patuh terhadap ketuanya. Dan tindakanmu tentu akan membuat mereka curiga. Kau pasti akan berakhir di tangan pemimpin mesum itu." Lanjutnya. Kurapika terdiam ditempatnya. Kemudian ia menghela nafas pelan dan kembali duduk.
" Baiklah, kali ini aku akan menganggap ini semua adalah misi. Jadi, katakan. Sebenarnya apa yang akan kau lakukan dikota ini? kenapa pula kita harus pergi dari Alfheim?" Cecar Kurapika.
" Aku ingin menemui seseorang." Kurapika 'menaikkan' alisnya.
" Seorang kenalan?" Kuroro menggeleng.
" Seseorang yang mungkin akan membantuku melalui semua kesulitan ini." Jawabnya. Kurapika mengangguk. Ia merasa tak perlu bertanya lebih jauh lagi. Keduanya terdiam untuk beberapa saat. Matahari semakin tenggelam. Membuat warna senja yang menyedihkan. Kurapika menatap warna senja itu dengan 'sendu'. Matanya berubah scarlet. Bibirnya 'tersenyum' menyedihkan. Warna ini. Warna yang sama dengan warna beberapa tahun lalu. Warna yang menjadi latar pemandangan menyedihkan yang ditemukannya setelah sehari semalam tanpa henti memacu kudanya menuju Rukuso. Dalam senja yang hening, ia melihat mayat para penduduk Rukuso yang terbelalak tanpa mata satupun. Dalam warna jingga yang menyedihkan, ia menggendong tubuh kecil sahabatnya. Ia menggenggam kedua tangan orang tuanya. Dalam warna senja yang membuatnya menangis untuk terakhir kalinya. Tangisan pilu yang pertama, dan terakhir dari seorang Kurapika Kuruta. Disebelahnya, Kuroro melirik gadis itu. Ia tak mengerti kenapa mata Kurapika berubah scarlet. Tentu saja wajah datar Kurapika tak bisa menjelaskan apapun. Entah gadis itu tengah bersedih, entah gadis itu tengah marah, Kuroro tidak tau. Kemudian matanya beralih pada helaian pirang yang menjuntai bebas dari gadis tersebut. Tanpa Kuroro sadari, tangannya meraih beberapa helai. Kemudian ia menggenggamnya.
"Halus" pikir Kuroro. Kemudian ia menyadari bahwa Kurapika tengah menatapnya.
" Apa yang kau lakukan?" Tanya Kurapika. Kuroro melepas helaian rambut pirang tersebut dan mengangkat bahunya.
" Kau tidak berniat memotongnya?" Kuroro balik bertanya. Kurapika meraih rambutnya.
" Menurutmu aku harus memotongnya?" Tanya Kurapika.
" Terserah kau, Kuruta." Jawab Kuroro tak peduli. Kurapika ikut mengangkat bahunya.
" Akan kupotong setelah kita kembali ke Alfheim." Gumamnya
99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999
" Err.. Kuroro, tempat apa ini?" Bisik Kurapika. Pandangannya matanya menyapu seisi ruangan. Ruangan yang suram, sedikit berdebu dan.. entahlah. Kurapika bisa melihat beberapa nisan. Penjual batu nisan?
" Ah, selamat datang.. selamat datang.." Seorang pemuda berkacamata menyambut mereka. Rambut hitam panjangnya diikat kuda. Matanya tajam berwarna pucat.
" Silahkan duduk. Jadi, ada yang bisa kubantu?" Tanyanya. Kuroro menarik Kurapika untuk segera duduk. Merekapun duduk berhadapan dengan pria 'aneh' yang entah mengapa selalu tersenyum dengan cara yang aneh jika ekor matanya menangkap sosok Kurapika.
" Kudengar kau adalah orang yang tepat untuk dikunjungi dikota ini." Kuroro memulai pembicaraan. Pria itu masih tersenyum.
" Jika kau ingin mencari tahu tentang sesuatu, akulah orang yang tepat." Jawabnya. Kuroro merogoh saku bajunya dan mengeluarkan secarik kertas.
" Kalau begitu.." Kuroro menyodorkan kertas itu kepada pria berambut hitam itu. " aku ingin kau memberitahuku ini semua." Pinta Kuroro. Kurapika memicingkan matanya. Berusaha melihat apa isi kertas tersebut. Namun Kurapika tak berhasil membacanya. Pria itu meraih kertas dari Kuroro dan mulai membaca isinya. Sesekali matanya menyipit, sesekali ia tersenyum. Kemudian ia mendongak dan menatap Kurapika. kurapika hanya diam ditatap seperti itu. Jujur saja ia bingung dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi.
" Baiklah tuan, akan kujawab pertanyaanmu ini." Pria itu membetulkan kacamatanya. Kurapika menoleh kearah Kuroro. Ia melempar tatapan 'apa yang sebenarnya kau tanyakan padanya?' kepada Kuroro. Namun tentu saja pertanyaan itu gagal tersampaikan jika tidak diucapkan oleh Kurapika. hanya wajah datar kurapika yang Kuroro tangkap. Namun, Kuroro bisa menebak tatapan datar Kurapika. tapi ia memilih untuk kembali menatap pria berkacamata didepannya. Pria itu mulai mengeluarkan auranya.
" Yang pertama, semua informasimu 100% benar. Yang kedua, ya. Itu bisa masuk katagori berbahaya. Meski awalnya biasa saja. Yang ketiga… tidak.. itu tidak menular melalui apapun." Pria itu mengibas-kibaskan tangannya. Kemudian kembali melihat kertas tersebut.
" Yang keempat, kau bisa menemui orang yang kau cari dibukit itu." Pria berkacamata menunjuk bukit yang nampak dijendela belakang tubuhnya. " Kau bisa menemuinya disana. Dia bekerja sebagai peternak di kota ini. dan bukit itu secara keseluruhan adalah miliknya." Pria itu melipat kertas Kuroro dan melemparnya kearah Kuroro. Kuroro menangkap kertas yang ia lesatkan dengan menjepitnya diantara jari telunjuk dan jari tengah.
" Baiklah.. terimakasih atas bantuanmu, tuan..?"
" Ah, panggil saja aku Yuzu." Jawabnya sambil tersenyum ramah. Tangannya terulur. Kuroro menyambut uluran tangannya.
" Kuroro Lucilfer." Ucapnya. Yuzu menoleh kearah kurapika.
" Dan.. nona disana?" Tanya Yuzu. Kurapika tersentak.
" Ah.. ano.. Kurapika. Kurapika ku—"
" Lucilfer." Potong Kuroro. Yuzu terkikik geli.
" Kau tak perlu menyembunyikannya, Kuroro-san – boleh kupanggil seperti itu bukan?-. Aku tau dia bukan siapa-siapamu. Karena itu aku memanggilnya nona. Bukan nyonya." Ujar Yuzu. Kuroro menatap Yuzu datar.
" Jadi, kau akan menyerahkan gadis disampingku ini untuk gubernur kalian yang aneh itu?" Tanya Kuroro. Jarinya menunjuk Kurapika yang sontak menoleh sambil 'melotot' pada Kuroro.
" ah… tentu saja tidak… tidak… aku lebih suka menyimpannya sendiri daripada memberikannya pada Gubernur mata keranjang itu. Tapi aku tidak suka memaksa. Jadi, bagaimana nona Kurapika? kau tertarik dengan tawaranku?" Tanya yuzu sambil tersenyum jahil. Kurapika mendengus dan memalingkan wajahnya.
" Tidak." Jawabnya singkat. Yuzu terkekeh.
" Baiklah, kurasa kami harus pamit sekarang. Berapa yang harus kubayar?" tanya Kuroro. Yuzu menggelengkan kepalanya.
" Tidak usah.. anggap saja aku sedang berbaik hati karena nona manis ini dengan bersedia duduk didepanku. Ah, sedikit informasi, orang yang kau cari adalah orang yang loyal pada gubernur. Jadi, bersikaplah dengan 'wajar'" Jawab Yuzu sambil tersenyum ramah. Ia menekan kata 'wajar'. Kurapika kembali mendengus kesal. Kuroro hanya tersenyum tipis. Mereka segera beranjak meninggalkan rumah tersebut. Selama perjalanan, Kurapika masih tak mempedulikan Kuroro. Kuroro hanya menghela nafas dan memutuskan untuk ikut tak mempedulikannya. Mereka terus berjalan sesuai intruksi yang diberikan Yuzu pada mereka. Kuroro tersenyum mengingat pria itu. Dari jumlah nennya, Kuroro tau laki-laki itu adalah pengguna nen yang hebat. Dan juga, kemampuan mengumpulkan informasinya bahkan lebih canggih daripada shalnark. Tentu saja. Shalnark hanya mengandalkan computer dan internet. Sedangkan pria itu membuat nen abilitynya sendiri menyerupai data dan system pencarian internet. Dan Kuroro sangat tertarik untuk mengajak Yuzu bergabung dengan Ryodan. Kemampuannya akan sangat berguna untuk kinerja Ryodan. Mereka akan bisa bergerak dengan lebih cepat tanpa harus menunggu Shalnark pulang dari tempat 'meminjam' computer secara paksa dari rumah orang-orang lemah itu. Bicara tentang Yuzu, Kuroro mengingat jawaban yang diberikan Yuzu. Yang pertama, semua kesimpulan dari buku yang kubaca di perpustakaan Alfheim memang 100% BENAR. Itu berarti akan banyak hal yang belum nampak pada diri Kurapika. yang kedua, penyakit Kurapika bisa menjadi penyakit yang mematikan jika tidak ditangani dengan benar. Yang ketiga, Kuroro lega karena penyakit itu tidak menular. Dan yang keempat.. Kuroro harus bertemu langsung dengan orang itu. Orang yang menurut Yuzu, adalah Orang yang berhasil sembuh dari penyakit Mannequin. Kuroro harus tau apa yang menyebabkannya sembuh dari penyakit itu.
" hei… apa yang sebenarnya kau tanyakan pada Yuzu?" Tanya Kurapika memecahkan pikiran Kuroro. Kuroro terdiam sejenak kemudian memejamkan matanya.
" Bukan urusanmu." Jawab Kuroro datar.
" Kalian membicarakan tentang penyakit bukan ? Aku yakin jawaban Yuzu tentang tidak menular itu menuju pada pembahasan tentang sebuah penyakit. Katakan, siapa yang sedang sakit?" Tanya Kurapika. Kuroro melirik gadis pirang disampingnya.
" Kau. Kau yang sedang kami bicarakan." Jawaban itu hanya menggema di pikiran Kuroro.
" Apa keuntungannya jika aku memberitahumu?" Tanya Kuroro. Kurapika mengangkat bahunya.
" Tak usah kau jawab. Toh aku hanya bertanya." Jawab Kurapika kesal.
99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999
Perkebunan yang amat luas dan tertata rapi menyapu mata mereka. Kuroro bisa melihat wajah Kurapika merona karena kagum. Kuroro yakin, Kurapika saat ini sedang 'tersenyum'.
" Ah, gomen..gomen.. kalian jadi harus menunggu lama. Anak buahku, Chief sedang izin hari ini. aku jadi harus mengerjakan semuanya sendiri." Seorang wanita berambut pink meletakkan nampan berisi the panas dan sepiring kue kering.
" Ah, justru kami minta maaf karena sudah mengganggu. Tapi, kami benar-benar membutuhkan bantuanmu. Iya kan, sayang?" Kuroro melingkarkan tangannya di pinggang Kurapika. Kurapika menoleh dan 'tersenyum'
" Tentu saja." Jawabnya. Dalam hati ia berjanji akan memberi si 'danchou' itu pelajaran.
" Wah.. wah… aku jadi iri. Kalian benar-benar pasangan yang serasi. Akan lebih serasi jika kalian sudah punya anak nanti." Ujar wanita itu.
" I..ie.. itu..-"
" Akan kami usahakan secepatnya, Marry-san." Potong Kuroro. Kurapika mengepalkan tangannya erat. Wajahnya memerah mendengar jawab Kuroro.
" Hahaha... kalian harus. Nah, kalau boleh tau apa yang bisa kubantu?" Tanya Marry. Kuroro melirik Kurapika yang kini sudah berpaling kearah perkebunan. Kembali menganguminya. Kemudian ia menepuk pundak Kurapika.
" Jadi, kalau kau sebegitu inginnya menelusuri perkebunan ini, kenapa kau tak pergi saja? Sementara aku menyelesaikan urusanku dengan Marry-san." Usul Kuroro. Kurapika langsung mengangguk setuju. Selain karena ia benar-benar ingin menelusuri perkebunan itu, Kurapika juga merasa bahwa jauh dari pemimpin laba-laba itu adalah hal yang bagus! Ia segera melangkahkan kakinya. Menjauh sejauh mungkin dari Kuroro.
" Jadi?" Marry kembali menanyakan tujuan Kuroro.
" Begini… Kudengar dulu kau pernah mengidap sebuah penyakit aneh yang belum ditemukan obatnya sampai saat ini."
" Ah… Mannequin maksudmu? Itu masa-masa yang buruk." Gumam Marry. Kuroro mengangguk.
" Jadi, bagaimana ceritanya kau bisa sembuh?" Tanya Kuroro. Marry mengerutkan alisnya.
" Bagaimana menjelaskannya ya? Menurut orang tuaku, sehari sebelumnya aku bertemu dengan suamiku – dulu kami belum menikah-. Kemudian besoknya aku terbangun dan sudah bisa berekspresi lagi." Jawab Marry. Kuroro mengangkat alisnya heran.
" Jadi?"
" Jadi, kurasa karena ada sesuatu yang membuatku benar-benar bahagia." Jawab Marry ragu. Kemudian ia menatap Kuroro. " Dan kau harus tau, saat aku sembuh, aku benar-benar tak mengingat apapun dari masa-masa saat aku mengidap penyakit itu." Lanjutnya. Kuroro terdiam. Ia sudah tau itu.
" Apa… Istrimu adalah pengidap penyakit ini?" Tanya Marry hati-hati. Kuroro terdiam kemudian mengangguk pelan.
" Ah, aku turut berduka. Dan maafkan aku karena ceritaku tak begitu membantu. Tapi, kurasa taka da salahnya kau mencoba saranku.. buat dia bahagia." Ujar Marry sambil tersenyum bijak. Kuroro menoleh dan menatap Kurapika yang tengah memejamkan matanya. Menikmati angina perkebunan yang memainkan rambut panjangnya. Wajahnya memang datar. Namun Kuroro tau bahwa ia tengah bahagia. Membahagiakannya? Entahlah. Kuroro tersenyum. Apa yang akan dikatakan anak buahnya jika mereka tau Marry mengatakan agar danchunya ini harus membuat Kurapika bahagia. Mungkin yang paling membuat Kurapika bahagia adalah kematiannya sendiri. Jadi apa ia harus bunuh diri didepan Kurapika? tidak. Selain ia masih ingin hidup, Kuroro tau.. Kurapika justru akan kecewa karena ia mati tidak ditangan Kurapika. jadi.. membahagiakan Kurapika.. mampukah?
99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999
Tbc-
Well, maaf kalau lama ^^
Amaya tetap berharap agar cerita ini bisa menghibur ^^
Dan jangan lupa kritik dan saran ya, Minna :D
Jaa ne !
