"Sasuke, Naruto-sensei tidak bisa ke rumah hari ini. Kau bisa datang ke apatonya, ibu akan memberikan alamatnya"
"Kenapa? Biasanya juga selalu datang"
"Dia sedang sibuk, tidak ada waktu untuk datang kemari"
Sasuke mimikirkan berbagai alasan agar dia tidak bisa datang kesana.
"Jangan kira ibu tidak tahu, kau tidak mau pergi kesana kan?" baiklah sekarang dia curiga kalau ibunya seorang peramal.
"Seharusnya kau menghargai usahanya, mau membantumu. Sekali saja kau datang ketempatnya tidak masalah kan?"
"Baiklah," Ibunya tersenyum.
Semoga nanti tidak terjadi apa-apa. Bukan berarti takut sih. Tapi senseinya itu kan brengsek, padahal dirumah Sasuke sendiri dia berani melakukan ini dan itu padanya, apalagi nanti ditempatnya sendiri.
Berpikir possitive Sasuke, Naruto itu sebenarnya baik. Ingat kata ibu
****** Lillow ******
*My Tutor*
*Naruto by Masashi Kishimoto*
Warning:
.OOC. DLDR
Dia berjalan dengan selembar kertas di tangannya. Peta yang digambar ibunya terlalu jelas. Mau bertanya, dari tadi dia tidak juga bertemu orang. Memang rumah senseinya itu dimana, kenapa jauh sekali dari peradaban.
'Mungkin ini?' Sasuke berdiri di depan bangunan berlantai dua. Sasuke menaiki tangga, menuju lantai atas. Kata ibunya nomor dua dari ujung. Sasuke sampai di depan pintu. Suaranya riuh, asalnya dari dalam. Masih segan mau mengetuk, bisa saja salah tempat. Kan bisa malu.
Baiklah setelah membulatkan tekad dia jadi mengetuk pintu. Mau kembali pulang juga sayang, siapa tahu nanti dapat tebengan dari senseinya. Padahal belum pasti.
Pintu diketuk, tidak lama lalu terbuka. Bukan rambut kuning yang muncul.
"Siapa?" rambutnya coklat dengan tato segitita terbalik di kedua pipinya.
"Maaf, apa ada yang namanya Naruto?"
"Oh Naruto. Naruto ada yang mencarimu"
"Siapa yang ada di luar Kiba?" Sasuke kenal dengan suara itu. Naruto keluar hanya dengan kaos tanpa lengan dan celana panjang.
"S-Sasuke, ku kira kau tidak datang," Naruto menggaruk belakang kepalanya, "Masuklah"
Sasuke masuk kedalam, ada beberapa orang. Laki-laki dan perempuan. Sasuke mengekori Naruto.
"Sasuke duduklah," Sasuke duduk bergabung. Padahal dia lebih senang jika duduk di ruangan lain. Asal tidak bergabung dengan orang-orang ini. Rasanya aneh.
Naruto juga tidak lagi bersamanya, katanya kebelakang mau mengambil minum. Tapi kok lama.
"Ne, ne. Dia manis ya" jika saja bukan perempuan pasti Sasuke sudah memaki-makinya. Sayang dia perempuan, dan lagi banyak orang disini. Bisa disangka kurang ajar dirumah orang. Yang ada nanti dia di usir.
Sasuke hanya menanggapi sekenanya. Kadang tersenyum canggung. Mau menyusul Naruto, dia lama sekali.
"Maaf aku permisi dulu," Sasuke menyusul Naruto. Dia tahu kemana arah Naruto tadi pergi. Yakin jika Naruto berada di dapur. Dia menuju kesana.
Berharap segera menemukan Naruto, tapi telinganya malah lebih dulu mendengar sesuatu. Suara desahan. Arahnya berasal dari tempat yang dia yakin adalah dapur.
Sasuke menajamkan pendengarannya, mungkin tadi dia salam dengar bisa saja kan? Dia lebih mendekat ke sumber suara.
Tapi apa yang dilihat matanya membuktikan tadi dia memang tidak salah dengar.
Senseinya dengan perempuan, mungkin pacarnya sedang melakukan sesuatu yang terlihat dewasa.
Naruto yang bertelanjang dada sedang menghimpit perempuan di dinding. Bibir mereka bertaut. Sasuke bahkan bisa mendengar suara basahnya.
Tangan Naruto berada di dalam pakaian perempuan itu, sedang meremas dadanya. Sementara yang dihimpit, sepertinya terlihat sangat menikmati. Tangannya mengalung di leher Naruto. Sasuke mendengar desahannya.
Sasuke berdehem. Wajahnya panas. Hatinya ikut panas.
Naruto dan perempuan itu berhenti. Mereka melepaskan ciuman. Perempuan itu merapikan pakainnya yang berantakan disana-sini. Naruto mengambil kaosnya yang ada dilantai.
"Brengsek!" Sasuke berbalik. Setengah berlari keluar dari ruangan sial itu.
Dia tergesa melewati orang-orang tadi. Biar saja dia dilihati dengan tatapan aneh, toh juga tidak kenal.
"Sasuke tunggu!" Naruto memakai kaosnya.
Naruto berlari mengikuti Sasuke yang sudah lebih dulu keluar dari apatonya. Tidak peduli dengan teman-temannya yang memandanginya heran.
"Tadi itu siapa? Pacarnya Naruto?"
"Entahlah, memang sejak kapan Naruto serius menjalin hubungan?"
.
.
.
.
Sasuke berlari tidak tentu arah. Kakinya baru berhenti ketika dia merasa lelah berlari. Dia tidak kenal tempat ini. Sasuke tersesat. Tidak masalah yang penting bisa jauh dari tempat itu.
Kakinya mengarahkan ke taman yang sepi. Sasuke duduk di ayunan sendirian. Mungkin nanti dia bisa menelepon rumah, minta di jemput. Biar saja hari ini dia tidak mengikuti les senseinya.
'Apa yang bisa diharapkan dari Naruto? Ingat Sasuke dia hanya orang brengsek,' Sasuke berkata pada dirinya sendiri. Naruto memang brengsek, tapi Sasuke sudah terlanjur suka pada orang yang dianggapnya brengsek. Sasuke hanya tidak mau mengakuinya.
Sasuke terlalu sibuk dengan pikirannya sampai dia tidak sadar ada orang lain yang menuju kearahnya.
"Aku mencarimu kemana-mana, tapi ternyata kau ada disini"
Tanda bahaya. Sasuke langsung berdiri. Niatnya mau kabur lagi, tapi Naruto sudah lebih dulu menahan tangannya.
"Lepas!" Naruto tidak mau melepasnya. Menemukannya saja tadi susah, mana mau melepaskan lagi.
"Kau ingin lari lagi?" Sasuke tidak menjawab Naruto, melihat wajahnya saja tidak sudi.
"Maaf, seharusnya kau tidak perlu melihat yang tadi. Aku bisa menjelaskan"
Sasuke tidak segera menjawabnya. Tenaganya mengendur, dia tidak berusaha melepaskan diri. Nanti Naruto juga akan melepaskannya jika sudah bosan. Dia yakin.
"Apa lagi? Aku memang seharusnya tidak lancang. Lagipula kita tidak ada hubungan apapun, tidak ada yang perlu di jelaskan, sensei. Aku mengerti"
Sasuke marah. Naruto tahu dari jawaban Sasuke tadi. Dia tahu dia brengsek, tapi dia juga tidak berpikir jika tadi Sasuke akan melihatnya dalam keadaan seperti itu. Bodoh!
"Kau marah? Maaf"
"Berhenti meminta maaf," Sasuke menarik tangannya. Naruto melepasnya.
"Kau marah, jadi aku minta maaf"
Sasuke berjalan meninggalkan Naruto. Tidak memperdulikan Naruto.
"Hei, tunggu!" Naruto menahan bahu Sasuke, "Kau tidak mau memaafkanku?"
Sasuke benci seperti ini.
"Bisakah kau berhenti meminta maaf? Kau pikir aku senang? Hari ini aku melihatmu bercumbu dengan orang lain, padahal kemarin kau baru saja menyentuhku"
Sasuke mengatakannya tepat didepan Naruto, mungkin lebih cocok disebut berteriak. Untungnya tidak ada orang.
Dia tidak peduli jika sekarang mungkin dia terlihat seperti perempuan yang baru saja ketahuan dihamili. Kau saja dia perempuan, mungkin dia bisa hamil jika terus-terusan dekat dengan Naruto.
"Maaf"
Naruto memeluk Sasuke. Sasuke benar-benar tidak paham dengan orang ini. Beginikan caranya menaklukan mangsanya?
Sasuke tidak mau tertipu dengan muslihat Naruto, dia berusaha melepaskan pelukan Naruto. Tapi Naruto malah semakin erat memeluknya.
"Lepas!"
"Aku tidak akan melepaskanmu"
"Kau brengsek!" Sasuke mendorong bahu Naruto. Tidak ada yang berubah, Naruto masih memelukanya erat.
Dorongan berubah menjadi pukulan.
"Lepaskan aku! Aku membencimu!" sudut mata Sasuke berair. Pukulannya tidak berarti apa-apa bagi Naruto.
Naruto tersenyum tanpa diketahui Sasuke.
"Aku mencintaimu"
Pukulan dibahu Naruto berhenti. Air disudut mata Sasuke mengalir begitu saja.
Naruto mengendurkan pelukannya. Melihat reaksi Sasuke.
"Kau sudah mengatakan itu keberapa banyak orang?"
"Hanya ke Sasuke"
"Aku tidak percaya"
"Lalu bagaimana agar aku bisa membuatmu percaya"
"Pikirkan saja sendiri"
"Kau benar-benar marah padaku? Tidak mau menerimaku lagi, aku masih senseimu"
"Jangan gunakan itu sebagai alasan"
Naruto menghela napas lelah. Dia harus bekerja keras.
"Baiklah, aku akan pergi"
Naruto berbalik, dia benar-benar pergi meninggalkan Sasuke.
Sasuke benar-benar ingin menangis sekarang. Sebenarnya dia dianggap apa?
Belum juga sampai jauh Naruto meningglakan Sasuke, dia berbalik dengan langkah cepat meraih tangan Sasuke.
"Aku benci ini, kenapa kau tidak mengakuinya saja?"
Sasuke masih diam. Naruto menggenggam tangan Sasuke erat.
"A..apa?" Naruto sudah mencium Sasuke tanpa izin. Ciuman yang lembut dibibir Sasuke. Sasuke menutup matanya, merasakan ciuman Naruto.
Naruto menghentikan ciumannya, melihat reaksi Sasuke. Tidak ada perlawanan, anak ini sudah pasrah dengannya kah?
"Kita pulang," Naruto menarik Sasuke, membuat Sasuke mengikuti langkahnya yang cepat.
Mau tidak mau Sasuke mengikuti Naruto. Masih diam dari tadi, mengeluh juga tidak.
Sasuke dibawa kembali ke apato Naruto, teman-teman Naruto sudah tidak ada. Sudah pulang mungkin, mereka tadi pergi cukup lama sih. Kembali juga ketika matahari akan menghilang.
"Kenapa tidak masuk, ayo masuk," Naruto sudah masuk kedalam, sementara Sasuke masih berdiri mematung di depan pintu. Apa yang dia tunggu?
Naruto menariknya masuk ke dalam apatonya.
"Kenapa disini, aku benci tempat ini"
"Sasuke dengarkan aku, tadi hanya salah paham. Aku benar-benar tidak ada apa-apa dengan gadis tadi"
"Bukan urusanku, aku mau pulang"
Sasuke baru akan keluar, Naruto lebih dulu menahannya lagi.
"Kau jadi tanggung jawabku, aku berjanji akan mengantarkanmu jika ini selesai"
"Tidak perlu berpura-pura peduli denganku, urusi saja urusanmu sendiri"
"Bisakah kau mendengarku sebentar saja, aku tahu kau marah. Tapi dengarkan dulu aku, aku mencintaimu Sasuke," Naruto memeluk Sasuke lagi, entah yang keberapa kali.
"Begitu kah? Kau tahu aku marah, tapi kenapa kau tetap tidak mau mengerti," Naruto tersenyum tanpa Sasuke tahu.
"Aku tahu, aku hanya menunggu waktu. Kau tidak mau mengaku, itu saja kan? Aku tahu kau juga mencintaiku"
Baiklah sekarang Sasuke ingin sekali menonjok muka senseinya, dia sedang serius tapi beginikah reaksi senseinya?
"Kau mau memukulku? Aku juga sedang serius," Sasuke tidak jadi ingin memukul senseinya. Mereka masih dalam keadaan berpelukan.
"Kau itu tsundere ya, mengaku sedikit saja susah sekali. Aku harus bagaimana lagi? Kalau kau masih saja menolakku, baiklah aku akan menyerah mulai sekarang. Aku akan berhenti menjadi senseimu"
Sasuke membelalakkan matanya, Naruto akan berhenti menjadi senseinya. Itu artinya dia tidak akan bertemu dengan Naruto lagi. Tidak, dia tidak mau itu terjadi.
Sasuke melepaskan pelukan Naruto, dia memandang Naruto.
"Kau mau berhenti? Kenapa?"
"Kenapa? Karena sudah tidak ada alasan lagi untuk dekat denganmu, kau membeciku jadi untuk apa berada dekat denganmu"
"Tapi-"
"Aku akan mengantarmu pulang, ayo," Sasuke tidak berpindah dari tempatnya. Dia tidak mau.
"Kenapa? Bukannya tadi kau mau pulang, sekarang aku akan mengantarmu"
"Naruto… Aku-aku mencintaimu," Sasuke menghambur kearah Naruto.
Naruto memegang kedua pipi Sasuke, lalu mencium keningnya.
"Akhirnya kau mengatakannya"
Naruto memasang senyum kemenangan diwajahnya.
"Pangeran tsundere akhirnya mengatakan yang sebenarnya"
"Kau menipuku—" sebelum lebih banyak protesan yang keluar dari mulut Sasuke, Naruto sudah membungkamnya lebih dulu.
Naruto menciumnya sepihak, menyusupkan lidahnya ke dalam mulut Sasuke. Menginvasi apa saja apa yang ada di dalamnya. Saliva mereka berdua bercampur menjadi satu, mengalir keluar dari bibir Sasuke. Menetes di dagunya.
Sasuke meronta dibawah dominasi Naruto. Naruto baru melepaskan Sasuke ketika dia sendiri sudah mulai kehabisan napas. Sasuke lemas, napasnya tersengal.
"Kita pindah, aku lebih suka melakukanya di ranjang"
Naruto segera menggendong Sasuke. Membawanya kekamar dengan gaya bridal stylenya.
Seperti biasa Naruto langsung menggoda Sasuke tanpa henti. Membuat mulut Sasuke tidak bisa berhenti mengeluarkan suara desahan. Padahal dimasuki juga belum.
Sasuke sendiri juga sudah tidak peduli. Padahal tadi sedikir kesal dengan Naruto, dia ditipu. Aslinya sih lega, semua yang dia pendam sudah dikeluarkan. Sekarang mau berhenti juga sudah tanggung. Menyelesaikan mungkin lebih baik.
Tangan Sasuke yang sebelumnya mendorong Naruto sekarang malah mengalung di leher Naruto, seolah menahan Naruto agar tidak lari lagi. Sasuke kesal jika ingat apa yang terkhir Naruto lakukan pada tubuhnya. Miliknya dimainkan sampai berdiri, tapi belum selesai malah ditinggal pergi.
Sekarang Sasuke tidak akan membiarkan Naruto lari lagi, biar saja dia digagahi sampai pagi. Tidak salah kan? Mereka berdua sama-sama saling mencintai.
Naruto turun dari ranjang, mengarah ke meja yang ada dikamarnya, tangannya membuka laci mnacari-cari sesuatu di dalam sana. Tangan Naruto keluar dengan menggenggam sesuatu.
"Lubrican?" Naruto menggoyangkan botol yang ada ditangannya.
"Kenapa kau punya benda seperti itu? Atau jangan-jangan kau pernah memakaikannya untuk orang lain?" semua pakaiannya sudah tanggal.
"Sasuke jangan mulai, aku sudah tidak mau berhenti. Tentu saja ini untukmu"
Naruto naik keranjang. Tangannya membuka kedua kaki Sasuke lebar. Naruto duduk diantaranya.
Tangannya membuka tutup botol, mengeluarkan isinya cukup banyak. Mengoleskannya kelubang Sasuke, sebagian juga dibuat masuk ke dalam lubang Sasuke. Sasuke berjengit kaget merasakan dinginnya cairan itu.
"Kenapa? Ini akan mengurangi rasa sakit saat nanti aku memasukimu"
Naruto memasukan dua jarinya sekaligus kedalam lubang Sasuke yang sudah belepotan.
"Akhh!"
Sasuke memekik kaget, tiba-tiba ditusuk.
"Hmm? Masih sempit"
Naruto mulai menggerakkan jarinya yang ada di dalam tubuh Sasuke. Sasuke hanya bisa mendesah, tangannya meremas kuat sprei yang ada di bawahnya.
Naruto masih belum selesai menyiapkan lubangnya, padahal dia sudah tidak tahan dari tadi.
Kemaluannya terus mengeluarkan precum. Minta dimanjakan lagi, Sasuke meraih kemaluannya yang sudah sangat tengang. Menggerakkan tangannya naik dan turun pelan. Precumnya mengalir lebih banyak.
"Tidak sabar, eh?"
"K-kau yang lama-Aah! Nnnhh…"
Naruto menusukan jarinya lebih dalam kedalam lubang Sasuke. Tusukannya tepat mengenai sweetspot Sasuke.
"Aku melakukannya agar nanti kau tidak kesakitan, sayang"
Sasuke tidak menjawab, dia tidak bisa. Mulutnya terlalu sibuk mendesah, Naruto sangat suka menyentuh titik-titik sensitifnya.
Naruto mengeluarkan jarinya, ketika dirasa sudah cukup. Membalikan tubuh Sasuke, membuatnya bertumpu pada lutut dan kedua tangannya.
Naruto melepas kaosnya sendiri. Kancing celananya dilepas dan resletingnya diturunkan. Celananya sudah terasa sempit sejak tadi.
Dia lega, miliknya sudah bisa bebas. Bebas mengacung tegak tanpa halangan. Naruto juga mengoleskan lubrikan ke penisnya, mengocoknya sebentar lalu mendekatkan ke lubang Sasuke. Menggesekan kelubang Sasuke.
"N-Naruto.. cepat—Aakkh!"
"Jaa.. aku masuk. Hhh.. Sial, berhenti menyempit Sasuke," Sasuke menenggelamkan wajahnya ke bantal. Dia meremas bantal yang menutupi wajahnya.
Rasanya luar biasa, lubangnya terasa penuh.
Naruto menarik dirinya, meninggalkan separuh miliknya di dalam tubuh Sasuke lalu menyentaknya kuat. Membuat Sasuke memekik.
"Aaakkhh… Anngghhh.. K-kau terlalu dalam.. Nnnhhh…"
"Bukannya kau suka? Shh… rileks Sasuke, kau ingin membuatku keluar duluan, hmm?"
Setelah itu Naruto menyentaknya lagi, berulang kali. Membat Sasuke keluar lebih dulu, padahal penisnya belum mendapat sentuhan. Naruto tidak berhenti begitu saja setelah Sasuke keluar. Dia tetap bergerak keluar-masuk, membuat Sasuke terus mendesah dan menegang lagi.
Naruto menghentikan gerakannya, dia tetap berada di dalam tubuh Sasuke. Tangannya bergerak kearah kemaluan Sasuke. Mengocok dan meremasnya bersamaan. Membuat Sasuke keluar lagi. Naruto merasakan miliknya terasa dipijat di dalam tubuh Sasuke saat Sasuke ejakulasi.
Tubuh Sasuke kembali dibalik. Terbaring dengan paha terbuka lebar. Penis Naruto sudah keluar dari lubangnya. Naruto menaruh bantal di bawah pinggul Sasuke. Membuat aksesnya lebih mudah.
Naruto kembali memasuki Sasuke dengan sekali sentakan kuat. Sasuke memekik keras. Ah, mungkin penis Naruto tepat mengenai prostat Sasuke.
Naruto baru akan bergerak, tapi suara ponsel menginterupsinya. Ponsel Sasuke berdering keras di atas nakas. Tangan Naruto bergerak untuk mengambilnya.
"Siapa?"
Sasuke bertanya dengan napas putus-putus. Naruto memberikannya pada Sasuke.
"Ibu?"
Sasuke bingung, mau mengangkatnya atau tidak. Apalagi dia dalam keadaan seperti ini, mana bisa dia bicara dengan ibunya.
"Angkat Sasuke," Naruto memerintah.
"Tapi—"
"Tenang, aku tidak akan bergerak"
Sasuke mengangkat teleponnya, dari seberang terdengar suara ibunya khawatir.
"H-halo, Bu—Ahh!"
Tidak seperti yang Naruto katakan, nyatanya dia bergerak menusuk bagian dalam Sasuke. Sasuke memelototi Naruto. Ibunya bisa curiga.
'Sayang, kau baik-baik saja kan?'
"A-aku.. baik-baik s-saja, Bu"
Sasuke berusaha bicara senormal mungkin, Naruto yang jail bergerak pelan di dalam tubuhnya.
'Kenapa belum pulang?'
"A-aku masih—Oww.. belum selesai, Bu—Anngghh.."
'Sasuke kau baik-baik saja kan? Kenapa tadi berteriak?'
"I-ibu tidak usah khh..khawatir—Aaahh.. aku baik-baik saja. Bu aku menginap disini, jaa—Haahh…" Sasuke menutup teleponnya sepihak, yang penting tadi dia sudah izin ibunya. Tinggal berharap semoga ibunya tidak curiga.
"Milikmu minta dimanjakan, aku hanya membantu," Naruto bergerak cepat sambil meremas penis Sasuke.
Naruto semakin memperdalam tusukannya. Tangan Sasuke berganti mencengram punggung Naruto. Meninggalkan bekas cakaran memanjang. Mungkin setelah ini selesai punggung Naruto akan merah-merah karena bekas cakaran Sasuke. Itu sih setimpal dengan bekas yang dia tinggalkan di tubuh Sasuke. Kissmark dan bitemark disana-sini. Seminggu juga belum tentu hilang.
Sasuke sudah tidak tahan, sesuatu dalam dirinya terasa ingin meledak keluar. Kakinya sudah terasa kebas. Naruto juga masih belum memberikan tanda akan keluar. Baiklah sepertinya sekarang dia harus berkonsentrasi ke bagian bawahnya. Berusaha keras memerah sperma Naruto.
Naruto mempercepat gerakannya. Dinding lubang Sasuke semakin mengetat, meremas penis Naruto yang ada di dalamnya.
"Agh.. Sasuke, bersama.. Shh.."
Napas naruto terengah, gerakannya tidak beraturan. Naruto menggagahi Sasuke sambil mencumbunya. Tangannya menggenggam erat tangan Sasuke. Desahan Sasuke teredam ciuman.
Mereka keluar bersamaan, Sasuke keluar mengotori perut Naruto dan perutnya sendiri. Sementara Naruto dia ejakulasi jauh di dalam tubuh Sasuke.
Tubuhnya merileks memeluk Sasuke. Mereka masih dalam posisi yang sama, Naruto masih berada di dalam tubuh Sasuke.
"N-Naruto.. kau.."
Sasuke merasakan jika milik Naruto masih menegang di dalam tubuhnya.
"Kenapa, hmm?"
Naruto membalikan posisi. Dia setengah duduk dengan Sasuke yang ada di pangkuan menghadapnya.
"Aku masih ingin di dalam, kau tidak keberatan kan?"
Keberatan? Sebenarnya tidak, tapi senseinya ini mau menusuk lubangnya sampai berapa kali?
Sasuke tidak menjawabnya. Wajahnya memerah, dari tadi padahal sudah memerah.
Sepertinya malam ini Sasuke harus bekerja lebih keras.
.
.
.
.
.
Sekarang pukul satu dini hari. Mereka belum tidur. Naruto ada dibelakang Sasuke memeluknya dari belakang. Tubuh mereka hanya tertutup selimut sampai sebatas pinggang.
Sasuke memegang tangan Naruto yang ada dipinggangnya.
"Banyak hal terjadi selama 24 jam terakhir"
Naruto mencium rambut Sasuke.
"Kau menjebakku agar bisa menarikku ke ranjang"
Naruto meringis, Sasuke mencubit tangannya.
"Tapi bagusnya kau sudah mengatakan semuanya, sayang"
"Aku masih marah padamu"
"Jangan bercanda. Kau masih marah padaku setelah kita bercinta?"
Wajah Sasuke memerah.
"T-tentu saja, lagipula siapa yang senang saat orang yang dia sukai bercumbu dengan orang lain? Siapa sih perempuan itu?"
"Jadi kau suka pada senseimu sendiri. Dasar tsundere"
"Aku tidak tsundere, dan katakan siapa perempuan itu!"
"Tsundere tidak akan mau mengaku tsundere, sayang"
Pundak Sasuke dicium dan dijilat, Sasuke bergidik.
"Lagipula apa untungnya buatku jika aku mengatakan siapa dia?"
Tangan Naruto bergerak mengelusi perut Sasuke.
"Kau benar-benar ingin tahu siapa dia?"
"Siapa dia?"
"Temanku, Sakura. Kebetulan dia mau membantuku mendapatkanmu, semua sangat sempurna. Dia bisa berakting dengan bagus, pas sekali saat kau menemukan aku dan dia di dapur"
Sasuke ingin memukul wajah Naruto saat ini juga.
"Ini tidak akan terjadi seandainya kau kemarin tidak datang kemari—Ouch!"
Sasuke menyikut pelan perut Naruto.
"Jadi kau sudah merencanakan segalanya?!"
Sasuke bangun terduduk.
"H-hei, kau jangan marah begitu. Lagipula kita sama-sama saling cinta, jadi apa masalahnya?"
"Masalahnya adalah kau membuatku sangat kesal, kenapa tidak melakukannya dengan cara yang biasa. Naruto bodoh!"
Naruto menenangkan Sasuke dengan cara memeluknya.
"Maaf. Tapi aku tidak bisa menggunakan cara yang biasa untukmu"
Naruto membuat Sasuke kembali terbaring menyamping disampingnya.
"Jadi? Sekarang kita pacaran kan?"
Ini dibikin TBC apa END?
Gomen kudasai kalo lemonnya kurang asem atau gimana, aku nggak jago bikin gituan. Hayati Cuma anak polos.
Tapi sumpah aku merasa mesum banget TT_TT
Nggak sih, udah biasa mah teriak yaoi sana-sini.
Balesin review dikit ya..
MaknaEXO : Aiya, aku dibilang mesum juga. Naruto disini bisa jadi cerminan sifatnya author yang asli *plak /nggak kok, aku sengaja bikin Naru brengsek. Kan cocok gitu sama yang sifatnya tsun-tsun semacam Sasuke/
Hwang635 : Aku akan mempersiapkan mentalku dulu, belum siap kalo Sasu dipake sama yang lain. Aku mah oke aja kalo Sasu di ini ituin sama Naru. Tapi sama yang lain ya pikir-pikir dulu lah
Habibah794 : Iya dong Naru untung terus disini. Kan dia tsundere akut, digoda dikit awalnya nolak-nolak tapi akhirnya malah minta sendiri, ahahahaha~~
Arina Marioka : Gregetan ya sama Naru dan Sasu. Aku suka sama tipe-tipe uke tsundere, nolak-nolak aslinya tapi mau, hihi..~~
Jasmine DaisynoYuki : Sasu disini mah bagiannya Cuma dikerjain Naru, jangan kasihani dia. Uchiha tidak butuh belas kasihan
Nicisicrita : iya Naru mecuumm cekali, mungkin lain kali aku bakal bikin BDSM NaruSasu. Kan Sasu tsundere, nolak-nolak gitu pasti akhirnya bakal minta lagi sama Naru. Konflik? Pantengin aja dulu my tutor
Askasufa : sorry kalo Karin tak bikin fujo. Iya pasti jejeritan seneng*plak /iya ini aku semangat nulisnya, semangat banget/ watashi wa tsuyoi~
Tomoyo to Kudo : udah keenakan malah ditinggal, nanggung dah. Saingannya Naru siapa? Ini beneran mau tak bikin Neji jadi saingan Naru, pas nggak Neji Sasu?
Ns gues : ini udah dilanjut~~~
Zen lupa password : aku juga suka Sasu dianuin sama Naru. Kan hukuman, udah tengang nggak diterusin, ahahaha~~ sini-sini ayo bantuin Sasu...~~
Kyuufi No Kitsune : yang bener? Padahal aku nggak jago bikin ginian, tapi terimakasih
BellaClaw : ini udah dilanjut..~~~
Oke, tinggalkan review kalian ya..~~
