" Nee, Kodomotachi! "
Disclaimer: Sampe Murasakibara berhenti makan snack dan beralih ke makanan empat sehat lima sempurna tetep aja punyanya Fujimaki Tadatoshi. I don't own anything.
Penuh kecadelan, jadi harap ditanyakan jika anda bingung dengan dialog-dialog di bawah ini.
Salam awal hari ini; Ciao Minna! Kembali lagi dengan Arisu yang mau membawakan fanfic alay ini! Wah, gomen, ya, Aomine belum bisa dimunculkan di chapter satu sampai tiga. Rencananya sih mau dimunculkan di chapter tiga, tapi nggak jadi karena alurnya agak nggak enak entar. Kuusahakan mau dimunculkan di sini, tapi nggak yakin sukses deh orz. Orz. Iya sama emang labil. Gomen.
Betewe, gomen juga lama lanjutnya na no. Hutang dan request mulai menggunung na no.
Btw, makasih buat NaRin RinRin, chi-lin, higitsune84tails, Kuroko Neophilina Phamtomhive, dan Mochiyo-sama. Terima kasih review-nya! Akan kuusahakan meng-update fanfic ini secepatnya! Kalian semua! Bersabarlah menunggu kemunculan Papa Mine dan sejuta kejutan lainnya! Terima kasih banyak, semuanya!
Dan juga kamu yang sedang membacanya sekarang~! Douzo!
"Murasakicchi!" jerit Kise panik dan langsung melompat dari kursi sehingga nyaris menyenggol dan membuat jatuh Kuroko di sampingnya. "Murasakicchi! Akashicchi!" jeritnya lagi.
Dipanggil, Akashi menoleh. Tatapannya datar seperti biasa, dingin. "Aah, Lyouta. Kenapa kau menjelit-jelit begichu?" tanya Akashi datar. "Tak pellu menjelit aku juga cudah dengal," lanjutnya sambil menghela napas sebal. Kise agak kaget dengan reaksi Akashi yang terlalu tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang baru membunuh.
Mungkin.
"Akashicchi! Apa yang kau lakukan pada Murasakicchi?!" jerit Kise. Akashi tampak bingung. Ia menatap Murasakibara dan kemudian menatap Kise lagi.
"Atchuchi?" tanya Akashi ragu. "Chidak melakukan apa-apa, kok, memang kenyapa?" tanya Akashi sambil menelengkan kepalanya. Kise buru-buru lari ke arah keduanya, panik sekali. Kise langsung menarik tangan Akashi yang memegang gunting dan mendapati sebuah kenyataan.
...
...
...
...
Krik.
Saos tomat.
Ternyata itu bukan darah.
Yang ada di gunting Akashi bukan darah. Saos tomat. Sebelah tangannya memegang gunting, sebelah lagi memegang botol saos tomat yang sudah robek, entah bagaimana merobeknya. Saosnya muncrat kemana-mana. Mungkin botol saos itu dianiaya oleh gunting Akashi, makanya gunting itu penuh saos tomat yang tampak seperti darah.
"... Saos...?" tanya Kise tak percaya. Akhirnya Akashi tampak mengerti permasalahannya. "Apa maksudnya...?"
"Iya, Caos," jawab Akashi datar. "Kau kila apa, hah? Dalah?" tanya Akashi dingin. Kise terdiam.
Krik.
"Ta... tapi... Murasakicchi..." ujarnya terbata-bata, bingung.
"Atchuchi?" Akashi menoleh dan melihat Murasakibara terpakar dengan sukses di lantai. "Oh, encah. Mungkin kelelahan acau kalena kulempal tadi," Akashi mengangkat bahu.
"... Lempar?"
"Iya. Nggak cengaja. Mau nge-choot tapi Atchuchi malah lompat buat ngalangin, ya kalena aku udah tau jadinya aku lempal kenceng-kenceng, nggak taunya kena jidat Atchuchi dan dianya pingcan."
Krik.
Kise facepalm.
Akashi memang berhak menyandang gelar sebagai pembunuh nomor satu dari Rakuzan. Perlu piala Oscar kalo perlu.
Lah kok Oscar?
Dua orang bocah moe telah menjadi korban dari kebrutalan lemparan ajaib dari sang Emperor Eye kesayangan kita. Mari kita nobatkan Akashi Seijuurou sebagai pembunuh nomor satu dari Rakuzan.
Dasar gila.
"AKASHICCHIIII!" jerit Kise sebal. "SESEKALI TAHAN LEMPARA—!"
Ckris.
Kise batal ngomong karena Akashi sudah mengancamnya tanpa suara dengan mempertunjukkan gunting ajaib itu.
Kise mengalah. Ia menggendong Murasakibara yang bobotnya dua kali anak biasa dan membawanya ke bench. Akashi mengikutinya dari samping.
"Ah, nee, Akashicchi," panggil Kise. Yang dipanggil nengok. "Kau dapat saos darimana tadi?"
"Kantongnya Atchuchi."
Krik.
Udah tukang bunuh, tukang nyolong lagi.
Kise diam saja sambil membawa Murasakibara. Ia meletakkan bocah besar itu di atas bench sementara Kuroko, Midorima, dan Momoi langsung minggir.
"Kenapa lagi?" tanya Kuroko polos.
"Kena lemparan Akashicchi," Kise menghela napas. "Benar-benar, deh..." lanjutnya, dan langsung menyadari bahwa Midorima dan Momoi bersembunyi di belakangnya sambil menatap Akashi ketakutan. Manis sekali, kedua-duanya. Kise tertawa. "Tak perlu takut begitu," tangannya menepuk dan mengelus rambut hijau dan pink itu. "Bertemanlah seperti biasanya, Akashicchi tetap baik, kok-ssu~" ujarnya seperti membujuk anaknya sendiri untuk berkenalan dengan anak tetangga yang agak mengerikan. Biar pun akhirnya tak ada yang berani mendekati Akashi.
Akashi menatap kedua anak kecil ajaib itu bergantian. Tatapannya dingin—seperti men-death glare.
"Chintalou," panggil Akashi. Ralat, itu lebih kedengaran seperti perintah daripada panggilan. "Apa yang kau lakukan, hah? Cepat lacihan lagi," lanjutnya tetap dingin. Cadel, tentu saja. Oke, cadelnya itu cukup mengganggu.
"Ba—ba—baik!" Midorima membungkuk-bungkuk dengan kaku, tampak begitu panik, dan langsung berjalan mendekati Akashi.
"La—lacihan lagi?" tanya Midorima polos.
"Bukan, ayo kitca makan."
"Makan?" mata Midorima berbinar-binar. "Benelan, nih? Aku udah lapel banget nih macalahnya!" ujarnya girang sementara Akashi nyaris menancapkan guntingnya di jawab moe milik bocah bersurai hijau itu. Untung nggak jadi ditusuk. Kalau jadi entah bagaimana nasib Takao...
Kok Takao?
Entahlah.
"Ja—jahat!" Midorima berteriak kaget saat Akashi nyaris menancapkan guntingnya di wajah Midorima. "Ke—kenyapa denganku, nanodayo?!"
"Kau menyebalkan cekali."
"Me—menye—"
"Menyebalkan cekali. Kubilang lachihan, bukan makan,"
"Kau cadi bilang makan, kok!" ujar Midorima ngotot.
Ckris.
"Apa kacamu?"
"Chi—chidak!" Midorima menggeleng cepat, kencang-kencang sampai kepalanya pusing. "Uhh..." Midorima mengerang pelan. Kise hanya bisa menahan senyum dan tawanya melihat sikap Midorima yang manis itu.
"Partner-nya di Shuutoku harus melihatnya seperti ini, nih," gumam Kise pelan sambil tertawa. Cukup pelan untuk tak terdengar Akashi maupun Midorima.
"Kau mengacakan cecuatu?" tanya Akashi pada Kise. Kise kaget, ternyata Akashi bisa menyadari ia bicara.
"Tidak, kok," jawab Kise salah tingkah. Akashi hanya menghela napas, agak malas berargumen—walau ia pasti menang—dan berbalik menatap Midorima dan Kuroko.
"Kayian beldua," Akashi menatap Midorima dan Kuroko bergantian. "Cicanya cinggal kayian. Ayo lacihan," perintah Akashi dan kedua mantan rekannya yang sekarang bertubuh kecil itu langsung bergerak mendekati bola. Latihan kembali dimulai, walau hanya bertiga. Yah, mau apalagi? Aomine kabur seperti biasanya, Momoi tak bisa latihan dengan mereka bertiga kecuali mau bunuh diri, sedangkan Kise entah kenapa diutus Akashi untuk menjadi babysitter yang harus menjaga kelima mantan rekannya yang mengecil itu. Sebenarnya sih kalau boleh Kise ingin ikut latihan, tetapi Akashi mengutusnya untuk menjaga mereka semua sehingga ia tak bisa ikut latihan.
Hening. Hening. "Bosan..." ujar Kise sambil menghela napas panjang. Bagaimana tidak bosan? Harus duduk di bench menjaga Murasakibara yang pingsan, Momoi yang ada di sampignya, Midorima, Akashi, dan Kuroko yang bermain basket. Tidak boleh pergi. Melihat ketiga temannya bermain basket membuat naluri ingin bermain basketnya keluar. Tapi kalau ia meminta main pasti akan dimarahi Akashi.
"Bosan sekali..." Kise menghela napas dan menyandarkan punggungnya di sandaran bench.
—dan membuatnya terjungkal.
Harus diingat bahwa bench tak memiliki sandaran, dan Kise lupa ia sedang duduk di bench sehingga dengan teledornya ia mencoba bersandar dan terjungkal dengan tidak elitnya.
Kakinya ada di atas bench, sementara badannya ada di lantai. Itu membuatnya susah bergerak. Mau belok ke kanan susah, mau belok ke kiri sudah, mau menarik kaki susah, mau menggelinding ke depan juga susah. Akhirnya daripada imejnya sebagai model ganteng nan seksinya hancur karena ia tetap tertidur di lantai dengan posisi unik itu dan tak tahu cara bangun yang tepat, Kise melupakan imejnya sejenak dan langsung menggelinding ke belakang dan akhirnya sukses bangun... dengan leher keceklek.
"Oh..." Kise mengelus belakang lehernya, mirip kakek-kakek tua yang lehernya keceklek karena salah tidur. "Sial..."
Ya, sial sekali. Saking bosannya, Kise berdiri dan menggerakkan tubuhnya, memberikan senam kecil agar ia merasa lebih baik.
"Uh..." tiba-tiba terdengar suara erangan. Dari belakang Kise. Ia menoleh dan mendapati Murasakibara sedang mengerang.
"Murasakicchi! Kau kenapa?!" tanyanya panik.
"Uh..." Murasakibara hanya mengerang lagi. "Aku... aku..." ujarnya lemah.
"Kenapa?!"
"... Aku..."
"Ada apa, Murasakicchi?! Katakan!"
"... Mau... mau snack..."
Krik.
Baru bangun dari pingsannya dia langsung nanyain snack. Dasar Murasakibara.
"Mau... Momogi..." Murasakibara mencoba bangkit dengan tampang malas dan malah tampak seperti zombi. "Yang rasa baru..."
Gubrak.
Nggak sadar, ternyata Murasakibara yang nggak bisa bangkit malah menggelinding dan akhirnya jatuh dengan tidak elitnya dari bench. Kompak amat sama Kise. Ia buru-buru bangkit dan berjalan layaknya zombi.
Akashi tampaknya menyadari Murasakibara telah terbangun, ia langsung menengok dari balik badan Midorima yang mencoba menghalanginya, menatap ke Murasakibara.
"Oi, Atchuchi," panggil Akashi. Murasakibara tersentak kaget. Usahanya kabur mengambil snack dengan mengendap-endap gagal. "Kau cudah ciuman, kan? Cepat lacihan lagi."
God, Akashi dengan kecadelannya mau ngomong siuman malah jadi ciuman.
"Iya..." Murasakibara melangkah malas sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
Akhirnya kembalilah mereka latihan basket sementara Kise masih memandangi mereka berempat, gatel pengen main.
Momoi hanya menatap dengan sangat berminat, pandangan matanya berbinar-binar. "Hooo..." ujarnya, senang. Wajahnya memerah, mungkin karena kagum dan tertarik?
Tiba-tiba ia menatap Kise dengan wajah malu-malu dan merah padam.
"E—etto..." ujarnya. Kise menoleh menatap Momoi yang wajahnya seperti gadis mau menyatakan perasaannya. "... Aku... um... aku... aku... aku mau..." Momoi menundukkan kepalanya, ragu untuk mengatakannya. Sementara Kise salah tingkah. Ia mau ditembak...?
.: To Be Continued :.
