Bakako say...
Desclaimer: Bakako hanya meminjam chara Vocaloid doang! pemilik aslinya Vocaloid tuh.. Crypton sama Yamaha!
Ps:maap kalo cerita ini sedikit gaje atau apapun. Ah! Bakako pokoknya minta maap sebesar-besarnya aja deh! Oke?
.
.
RIN POV
Ah... hai, mungkin kalian sudah tau aku dan siapa aku sebelumnya, jadi aku tak perlu menjelaskan lagi panjang lebar. Aku Kanamine Rin, saat ini aku sedang dalam tugas didunia ini. Aku disini tidak sendiri, aku tinggal dengan Len, tunanganku yang disuruh ayahku untuk menjagaku selama bertugas disini. Setelah aku selesai dengan tugas ini kami akan menikah.
Aku sedang makan diruang makan disudut perpustakaanku, apa author geblek itu gak ngasih tau bahwa perpustakaanku ini lengkap? Ah bukan lengkap sih, tapi aku bisa memunculkan ruangan yang kuperlukan diperpustakaan ini dengan sihir. Hanya orang-orang dari duniaku saja yang bisa melakukannya. Termasuk Len tentunya...
Aku sedang makan dengan Len, aku yang memasak karena jika Len yang memasak habislah dapurku yang indah itu. Sejak Len datang kemari bisa dibilang saat hari itu juga aku sudah layaknya seorang istri yah, berlatih sedikit juga gak apa-apa sih.
Setelah aku dan Len selesai makan, aku pergi membersihkan perpustakaanku dan membersihkan buku-buku itu sampai mengkilap. Sedangkan si Len dikamar lagi baca novel, hobinya Len selain godain cewek ya itu baca novel.
Ah... akan ada cerita yang menarik tercipta setelah ini sepertinya, buktinya ada suara orang korban selanjutnya. Tapi sayangnya gak akan ada adegan penderitaan kali ini sepertinya. "Len... apa kau mau ikut ambil bagian dicerita kali ini?" Tanyaku pada Len yang keluar dari kamar.
Kulihat Len menyeringai, itu artinya dia setuju padaku. "Kalau kau izinkan aku akan ikut ambil bagian selalu Rin..." Ucapnya sambil jalan kearahku. Aku lalu berdiri dan keluar dari rak urutan abjad U-Y. Aku berjalan menuju menuju mejaku lalu memunculkan sebuah pintu keluar disamping meja itu.
Aku lalu keluar dari pintu itu, disusul oleh Len dibelakangku. Saat diluar terlihat lorong sekolah yang panjang dan sepi. Diujung lorong ini ada tangga untuk menuju kebawah, dilorong ini semua temboknya berwarna krem terang. Tak ada ruangan lain selain pintu perpustakaanku, yang ada hanya jendela-jendela yang besar agar sinar matahari bisa masuk.
"Sekolah yang bagus sekali, sepertinya sekolah orang kaya ya..." Ucap Len sambil melihat keluar salah satu jendela. Aku lalu memanggil Len mengingatkan dia akan suatu hal "Len... ganti dulu bajumu seperti baju seragam sekolah ini" Ucapku.
Len lalu memasang tampang bingung, aku lalu menghela nafas. Jika Len memasang tampang seperti itu rasanya aku ingin menjitak kepalanya berkali-kali lho. "Hah... caranya pikirkan saja 'seragam sekolah ini' lalu bajumu akan segera berubah jadi seragam" Ucapku. Len lalu memejamkan matanya dan setelah itu secara ajaib bajunya berubah.
Len memakai kemeja putih lengan panjang dan dilapisi blazer warna hitam serta memakai dasi merah, dia memakai celana panjang berwarna putih setara dengan warna kemejanya. Sekarang dia benar-benar... KERENNN~, aku sendiri saja sampai blushing melihatnya.
"Rin-chan~ ayo ganti bajumu... apa kau mau aku yang gantikan?~" Tanyanya dengan nada yang menggoda dan kalimat yang membuatku semakin blushing. "Heh.. Pervert! Aku bisa sendiri Baka Len" Ucapku, aku lalu memejamkan mataku dan secara ajaib bajuku yang ala gothic itu berubah jadi seragam.
Aku memakai blazer warna hitam dengan kemeja putih didalamnya serta memakai pita merah yang imut, tidak lupa rok mini warna putih dengan renda-renda warna hitam dan ada bordiran lambang sekolah ini di kerah kemejaku sama seperti Len punya.
Len lalu menyeringai jahil, firasatku buruk seketika itu juga "Well... well... Rin~ beruntungnya aku yang memilikimu~" Ucap Len dengan nada yang menggoda. " Kau itu sangat menyebalkan sekali!" Ucapku sambil menggembungkan kedua pipiku dan menatap kearahnya. Len yang melihatku hanya tertawa dan mencubit pipiku.
"Hei... kenapa ada orang diatap ini?" Tanya sebuah suara dari arah tangga. Seorang guru perempuan berambut biru muda soft sebahu dan memakai bando berwarna putih. Guru itu memakai kemeja putih dilapisi blazer coklat dan memakai rok hitam selutut serta memakai high heels hitam.
Guru itu menghampiri kami "Apa kalian anak baru? Saya Hikari Takanashi sensei, kalian tidak boleh datang kelantai ini anak-anak" Ucap Hikari sensei. Aku tersenyum 'saatnya memakai mata yang membuat semua orang mengenaliku' batinku. Aku lalu menatap guru itu dengan mata berwarna biru gelap.
Guru itu lalu menatapku selama 30 detik, dia lalu menggelengkan kepalanya dan menatap kami kembali. "Eh.. Len Rin? Kenapa ada disini? Ayo turun kalian tidak boleh kesini" Ucap Hikari Takanashi sensei. Aku tersenyum "Ha'i sensei" lalu pergi menuju ke bawah. Len hanya geleng-geleng kepala.
"Sihirmu memang tingkat tinggi ya Rin-chan sayang" Ucap Len yang lalu mencium pipi kiriku saat kami turun dari tangga, spontan wajahku merona merah tipis. "Dasar Shota" Ucapku sambil mengalihkan pandanganku kearah lain. Len yang tadinya tersenyum setelah mendengar kata Shota dia langsung cemberut.
"Rin... kalau kau mengucapkan kata itu sekali lagi, aku tak jamin kau bisa tidur malam ini" Ucapnya sambil menyeringai. Aku langsung kicep, kalo nggak bisa mati aku dilahap dia malem ini. "Ya.. ya... Len, jangan macem-macem lho~" Ucapku. Len lalu menghela nafas sambil terus menggandeng tanganku.
Entah mengapa ada sesuatu yang berbeda dari cerita sebelumnya " Len.. kali ini bukan kita yang akan memberikan buku tapi, kita akan diberikan buku beserta ceritanya" Ucapku pada Len sambil tersenyum. Len bingung "Maksudmu Rin?" Tanya Len, aku langsung menunjuk dua orang yang berada didepan pintu suatu kelas atau bisa dibilang kelasku.
satu orang cowok berambut honeyblond setengkuk dengan tiga jepit putih sedang berbicara dengan perempuan berambut honeyblond sepunggung dan diikat model high ponytail. Len lalu bersiul, entah apa yang membuatnya bersiul. Lantas aku langsung bertanya padanya "Kenapa kau bersiul seperti itu?" Tanyaku.
" Dengan melihat kedua orang itu saja aku tahu apa masalahnya Rin. Kau tahu? Cinta yang tidak akan tersampaikan jika salah satu tidak jujur, jika tidak ada yang jujur mungkin akan sangat menyakitkan" Ucap Len sambil menatap buku biru yang ditangan anak laki-laki berjepit putih itu.
"Buku itu yang akan kusihir, agar secara otomatis cerita dua orang itu langsung tercantum didalamnya" Ucap Rin sambil menatap apa yang ditatap oleh Len dari tadi. Len paham apa yang Rin katakan, tapi ada satu yang membuatnya bingung "Tapi, apa laki-laki itu bersedia menyerahkan bukunya?" Tanya Len.
"Kau tahu? Takdir akan terus berjalan dan aku adalah orang yang mengetahui takdir mereka" Ucapku sambil menatap Len. Len masih bingung dan itulah yang membuatku ingin memukul wajahnya yang shota itu saat memasang tampang bingung seperti itu. "Jika kau belum ngerti, lihat saja dan perhatikan baik-baik" Ucapku.
"Drama cinta diatas sebuah panggung yang beralaskan banyak kejadian aneh diluar batas pikiran sejuta atau seorang umat manusia" lanjutku.
"Kata-katamu memang tingkat tinggi ya Rinrin-chan sayang" Ucap Len sambil memasang tampang mesum. Aku lalu menjitak kepala Len pelan "Sayang, sayang, kepalamu peyang! jangan kau kira aku tak tahu maksudmu mengatakan hal itu Len" Ucapku sambil merona tipis. Len terkekeh dia lalu menggenggam tanganku "Ayo temui mereka" Ucap Len, aku hanya mengangguk.
RINTO POV
Namaku Rinto, 14 tahun. Aku adalah pemuda yang gak bisa Matematika dan mempunyai teman cewek yang aku sukai sejak SD, namanya Lenka Kagami. Anak yang pintar dalam semua pelajaran, dan sangat menyukai novel misteri. Saat ini aku dan Lenka ada didepan kelas kami, aku sedang membujuk Lenka mengajariku matematika tapi karena aku mengucapakan hal yang ia benci, Lenka jadi ngambek sama aku.
Lenka ngambek, aku lalu segera meminta maaf padanya. Namun dia tetap nagmbek. 'Oh iya! Lenka kan penggemar novel misteri mungkin dia tertarik dengan rumor sekolah ini' batinku."Hei... apa kau tahu tentang, perpustakaan Alice karya penulis xxx yang disekolah kita ini? katanya itu nyata lho!" Ucapku.
Lenka lalu menatapku dengan wajah berbinar "Ya! Ya! Bagaimana ceritanya? Kok aku baru dengar?" Tanyanya dengan mata fangirling. Aku lalu mendengus kesal "Beritahu rumus ini maka aku akan memberitahumu" Ucapku sambil memasang tampang kesal, tentu saja itu semua hanya pura-pura.
Lenka lalu berkata padaku dengan tampang kusut juga "Rumus ini sama dengan rumus halaman 209 Rinto, cara disitu lebih detail jadi kau bisa lihat dari situ" Ucapnya sambil mendengus kesal. Aku tersenyum lebar dan berteriak ala fans "Kau hebat Lenka! Arigatou!" Ucapku. Lenka lalu tersenyum namun dalam sekejap dia langsung serius.
"Nah! Sekarang beritahu aku tentang rumor perpustakaan Alice karya penulis xxx yang disekolah kita ini!" Ucapnya dengan nada yang sangat mengintimidasi, aku lalu tersenyum kaku setelah mendengar nada bicara Lenka yang seperti ini.
"Rumor yang mengatakan bahwa perpustakaan itu akan muncul tiba-tiba dan sang penjaga perpustakaan tersebut akan masuk dalam peran kehidupan orang yang takdirnya akan dicantumkan pada buku merah miliknya" Ucapku dengan wajah dan nada bicara yang sangat serius pada Lenka yang kelihatannya sangat tertarik dengan rumor ini.
Tiba-tiba seorang perempuan berambut honeyblond sepundak dengan tiga jepit putih dan seorang pemuda dengan warna rambut yang sama dengan model ponytail kecil muncul disamping kami. Perempuan itu sangat mirip dengan penjaga perpustakaan Alice karya penulis xxx yang ada disekolah ini, tapi mungkin ini hanya kebetulan 'kan.
Sepertinya mereka anak baru disekolah ini, aku tak pernah melihat mereka "Kalian anak baru ya? aku Rinto Kagemi dan dia Lenka Kagami salam kenal" Ucapku memperkenalkan diri dan memperkenalkan Lenka.
Perempuan itu tersenyum dan matanya tiba-tiba berubah menjadi biru dan gelap atau bisa dibilang kosong... ini...tidak mungkin...ini mata milik dia! sang penjaga perpustakaan dalam rumor! inikah takdir? Aku adalah orang selanjutnya? Aku dan Lenka spontan menatap matanya. Menatap mata...
Alice...
Entah kenapa semuanya tiba-tiba gelap dan kosong, pikiranku buyar, kepalaku sakit. Aku...
.
.
.
.
.
.
.
.
Eh? Sejak kapan aku bengong? Aku menggelengkan kepalaku cepat dan menatap orang-orang disekitarku. Disana ada Lenka disampingku, lalu Len Kagamine didepanku dan Rin Kanamine disamping Len yang sedang menatapku. Rin memasang wajah khawatir dan segera memegang tangan Lenka yang sedang menggelengkan kepalanya.
"Lenka... Apa kau.. baik-baik saja? Ada sesuatu yang terjadi?" Tanya Rin menatap Lenka khawatir. Lenka tersenyum dan menatap Rin "Ah... aku baik-baik saja Rin-chan, aku hanya bengong saja tadi" Ucap Lenka, sedangkan Rin menghela nafas lega. Jujur aku bingung, aku dan Lenka bisa bengong bersamaan. Padahal kami sedang ngobrol tadi.
Aku terus menatap Lenka, jantungku jadi gak karuan begini, mataku tak bisa lepas dari wajah cantik Lenka. Aku terus menatap Lenka sampai akhirnya Len membuyarkan lamunanku dengan tangannya didepan wajahku. "Helo? Rinto? Apa kau ada di dunia ini?" Tanya Len. Aku kaget dan menjitak Len pelan "Tentu saja bodoh" Ucapku.
Entah sejak kapan, tapi aku merasa akrab sekali dengan Len. Lenka juga sangat akrab dengan Rin, entah sejak kapan. Ah... aku jadi lupa! selain menanyakan rumus aku juga memberitahu Lenka tentang pesta dansa sekolah yang akan ada besok malam dan mengajaknya.
"Eh, Lenka! Besok kau akan pergi ke pesta dansa besok malam? kalau mau kita bisa pergi bersama" Ucapku. Pipi Lenka lalu merona tipis dan tingkah Lenka juga jadi gugup, dia seperti anak perempuan yang diajak kencan pertama kali saja. "Baiklah kutunggu kau didepan rumah" Ucapnya.
Ah iya! Lenka dan aku tetanggaan orang tua kami akrab, jadi aku memutuskan untuk berangkat bareng dia. "Ya, baiklah pilih yang bagus ya bajunya nona Kagami" Ucapku dengan wajah jahil, Lenka lalu masuk kekelas dengan wajah merona. Aku lalu menyusulnya.
Disisi Lain...
"Apa kita akan ikut dalam pesta itu?" Tanya Len pada Rin. Rin tersenyum "Tentu saja! Karena aku sudah bosan dan penasaran dengan ending dari cerita ini" Ucapnya sambil tersenyum. Rin lalu memejamkan matanya dan membuka matanya yang tiba-tiba menjadi biru gelap.
"Kita... akan ikut serta dan tampil dalam drama cinta diatas panggung ini"
LENKA POV
Saat ini aku sedang berada dirumah, sedang memilih-milih baju untuk pergi ke pesta sekolah. Lemari bajuku terlihat seperti tumpukan cucian kotor, karena aku mengacak-ngacaknya lebih dari dua jam mungkin. "KAA-SAN! Apa baju ini cocok!?" Tanyaku sambil berlari kearah dapur, sedangkan kaa-san hanya bisa kaget aku memanggilnya sekencang tadi.
Kaa-san melihat kearahku sambil menopang dagunya dengan tangannya "Hmm..." ucapnya. Kaa-san lalu menghela nafas dan tersenyum jahil padaku "Lebih baik jangan menunggu Rinto menunggu karena hal kecil seperti ini Lenka~" ucapnya dengan nada jahil.
Aku lalu merona, sejak kapan aku bilang akan pergi dengan Rinto? Aku lalu menengok kearah jam dan yah masih jam 19.30 kok kan acaranya mulai jam delapan. Ya~ santai~...
.
.
.
WTH!? OMG!? jam setenganh delapan!? "aku harus cepat!", aku lalu pergi melesat kekamar dan mengganti bajuku dengan dress. Dress warna pink berenda-renda dengan pita merah manis. Roknya model balon dan berenda-renda warna putih, aku menggerai rambutku dan memakai bando dengan hiasan bunga mawar putih, serta memakai kalung mutiara. Aku memakai high heels putih 3 cm dan membawa tas putih kecil.
Setelah siap aku berlari kearah pintu keluar dan mengucapkan salam pada okaa-san "KAA-SAN! LENKA PERGI DULU YA!" ucapku yang lalu menutup (baca: membanting) pintu itu, samar-samar aku mendengar kaa-san mengomel tapi biarkan sajalah.
Saat diluar Rinto sudah berdiri dipintu gerbang dan menyenderkan punggungnya ke pagar. Rinto memakai kemeja hitam dan jas putih serta celana panjang warna hitam. Dia memakai sepatu berwarna putih dan membawa buku notes biru kesayangannya. Pokoknya dia keren deh hari ini! Aku lalu menghampirinya.
"Maafkan aku membuatmu menunggu!" Ucapku sambil membungkuk. Tiba-tiba aku mendapat sebuah pukulan pelan dikepalaku, ya Rinto memukul kepalaku dengan bukunya sambil merona. "Dasar cewek lamban, sudahlah ayoo!" Ucap Rinto yang lalu menggenggam tanganku dan menarikku untuk berjalan disampingnya. Aku yang dibegitukan hanya bisa merona.
At School
Aku sedang berada di aula dan minum anggur, aku merasa lelah dan ingin memukul wajah pak kepala sekolah yang aneh itu berkomentar panjang lebar dan gak jelas. Setelah ini aku akan pergi bersama Rinto untuk melihat kembang api, tapi sekarang aku tak tahu dia ada dimana sekarang.
Tadi Rinto izin pergi ke kamar kecil sebentar padaku, tapi setelah lima belas menit dia belum kembali juga. "Haah... Rinto mana sih? kan pesta kembang apinya sebentar lagi akan dimulai..." Ucapku sambil mengehela nafas karena bosan menunggu Rinto yang sangat lama dari toilet. Betah amat si Rinto di toilet, jiwa fujoshinya lagi kambuh apa ya? Ihhh sejal kapan aku jadi hentai gini?! ketularan Bakako kali ya?!
"Kucari saja deh... dasar cowok lelet, bilang aku lamban tapi dia sendiri lamban. Nanti akan kuberikan cermin padanya agar dia liat diri dia sendiri sebelum mengomentari orang lain! Huuh! Baka Rinto!" Omelku sambil berjalan keluar aula.
.
.
.
Haaahhh aku gak ketemu si Rinto dimana-mana nih! padahal aku udah cari sampe ke toilet cewek! kali aja dia pura-pura nyasar supaya intipin cewek gitu. Entah apa yang menarikku untuk pergi kelantai paling atas sekolah, akhirnya aku menaiki tangga dan menerima nasib untuk melihat kembang api sendirian.
Aku melihat keluar dari salah satu jendela, melihat sejuta bintang seperti membentuk sebuah sungai yang mengkilap dan terbayang wajahnya. "Rinto..." gumamku tanpa sadar. Aku langsung menutup mulutku sambil merona, sulit bagiku mengakui bahwa aku ini... aku ini... Baiklah aku jujur dan mengakuinya aku suka pada Rinto.
Sayangnya hari ini aku tidak bisa melihat kembang api dari sini bersamanya "Dasar Baka Rinto! gak paham perasaan cewek!" Ucapku sambil menatap langit dan tiba-tiba menangis. "Aku suka padamu Rinto bodoh!" ucapku tanpa sadar sambil terus menangis.
RINTO POV
Sudah sepuluh menit aku izin ke toilet pada Lenka, sebenarnya aku sedang berlatih menyatakan perasaanku dengan baik di lantai atas sekolah. "Huft... aku suka padamu Lenka, mau jadi pacarku?" Ucapku sambil gugup dengan waajah yang memerah, padahal gak ada orangnya. Apalagi ada orangnya! aku udah ditolak kali!
"Aku mau! itu jawaban yang kau inginkan bukan?" Ucap suara seorang anak perempuan. Aku terkejut dan berbalik, tidak ada siapapun hanya ada sebuah pintu misterius yang tadinya tidak ada dilorong ini. Aku menghampiri pintu itu dan menatapnya "Padahal tadi' kan gak ada pintu disini" Ucapku dengan perasaan takut.
Aku membuak pintu itu dan masuk kedalamnya, terlihat banyak buku disana, semua bukunya tersusun dengan sangat rapihhh! bahkan tidak serapi buku-buku di peperpustakaan sekolahku yang udah kayak kapal pecah itu. Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku dan aku tersentak kaget, lalu membalikkan tubuhku dan menatapnya dia...
Len dan Rin...
Tapi bagaimana bisa mereka ada disini? Rin memakai pakaian ala Alice berwarna biru dan celemek putih, sedangkan Len memakai baju seperti butler. Kenapa mereka bisa ada disini? Siapa mereka? "Tak perlu kaget Rinto-kun aku hanya ingin membantumu menyatakan perasaanmu pada Lenka-chan kok!" Ucap Rin dengan wajah yang manis.
Aku lalu merona sambil menundukkan wajahku dalm-dalam, Len lalu memukul pelan kepalaku "Hei Rinto! kau itu laki-laki! ayo cepet ngomong! kalo Lenka direbut orang gimana?" Tanya Len dengan nada jahil, aku dengan cepat langsung menjawab "Tidak! Tidaaakkk! aku ingin Lenka jadian denganku saja!" Ucapku dengan nada lantang.
Rin tertawa kecil, kemudian dia menggenggam tanganku dan menatapku dengan wajahnya yang tenang dan penuh pengertian "Aku yakin..." Ucapnya menggantung, "Aku yakin Lenka juga memiliki perasaan yang sama denganmu Rinto-kun" Ucapnya sambil tersenyum tipis, entah kenapa dikegelapan da hanya dengan sinar bulan senyuman Rin terlihat sangat lembut dari biasanya.
Aku mengangguk sambil tersenyum dan menjawab dengan mantap "Aku pasti bisa melakukannya" Ucapku, Rin dan Len tertawa kecil. "Tutup matamu Rinto-kun" suruh Rin, "Untuk apa?" tanyaku. "Kau harus segera menyatakan perasaanmu pada Lenka-chan, dia menunggumu" Ucapnya. Aku lalu menutup mataku, entah apa yang terjadi tapi sekelilingku jadi terasa sangat tenang.
.
.
.
.
Setelah sepuluh detik aku membuka mataku dan menyadari diriku langsung ada di lantai atas sekolah, atau tepatnya lantai tempat aku berlatih tadi. Aku bingung dan memastikan bahwa dugaanku benar "jangan-jangan Rin..." ucapku tak percaya. "Rin adalah... Alice?!" uvapku tak percaya.
"Aku suka padamu baka Rinto!" terdengar ucapan Lenka yang langsung membuatku kaget, aku lalu membalikkan badanku dan menemukan Lenka sedang menangis sambil menatap langit lewat sebuah jendela. "Lenka..." gumamku pelan sambil merona mengingat apa yang Lenka katakan tadi. Aku lalu tersenyum dan mendekati Lenka yang masih tak sadar kudekati.
Aku memeluknya, memelu Lenka dan berbisik di telinganya. "Maaf kalau aku tak tau perasaanmu lamban! Kau juga lamban sih! masa gak tau aku suka padamu!" Lenka tersentak dan kemudian merona, dengan memberanikan diri dia menjawab "Jadi kita sama-sama lamban kan?" tanyanya. Hening kemudian kami mulai tertawa, kami melihat kembang api sampai selesai dan tentu saja terus berduaan.
Disisi lain...
Rin menatap Len yang senyum-senyum sendiri, akhirnya Rin tahu kenapa Len senum senyum sendiri. Akhirnya Rin ikut tersenyum "Ahh... kau sudah dapat bukunya toh... hampir aja aku lupa! Arigatou Len-kun!" Ucap Rin sambil memeluk Len dengan erat.
Len lalu merona sebentar, lalu tiba tiba dia menyeringai dan memasang wajah mesum yang tentu saja tak dilihat oleh Rin. Len lalu menggendong Rin ala bridal style, Rin yang digendong kaget "Hwaaaa!" Ucap Rin. Rin yang melihat tampang mesum Len, langsung takut. "Kau harus membayarnya Rin..." Ucap Len sambil menyeringai.
Rin yang lagi digendong hanya bisa menjitak kepala Len pelan "Dasar Pervert! aku menolak!" Ucap Rin tegas, Len menyahut dengan nada mesum "Tak ada penolakkan Rin~" Ucap Len yang akhirnya membawa Rin kekamar, sementara Rin hanya bisa pasrah akan keadaan.
SOMEONE POV/ ? POV
"KYAAAA! LIHAT ITU! ADA ANAK YANG DIGANTUNG DAN LEHERNYA SOBEK!" Teriak seorang perempuan yang melihat ke arah sebuah mayat anak perempuan tergantung dengan keadaan yang mengenaskan. "KYAA AYO LARI! MENJAUH DARI SINI!" Ucap seorang perempuan lagi.
Lalu orang-orang itu pergi menjauh dari menara yang terdapat mayat perempuan yang mengenaskan itu. "Ah... sayang sekali.. baru saja aku akan mengambil nyawa mereka lagi. Mereka sudah pergi..." Ucapku menatap mereka dari balkon disamping aku menggantung mayat perempuan mengenaskan tadi.
"Lain kali tak akan kubiarkan mereka yang kesini pergi hidup-hidup"
TBC
Bakako: Uwahh! capeknya!
Hikari: Bakako-nee san arigatou sudah memunculkan aku!
Bakako: ya... douita! aku tidur dulu ya! *tidur*
Lenka: hah... bagianku... RnR!
Rinto: kita cuma muncul disini, ah... RnR ya.
Len&Rin: kontrak masih panjang! RnR ya! agar ceritanya berlanjut! Wokeh?
