24 Hours as a…

Cast:

Kris, Chanyeol (Krisyeol)

Support Cast: Baekhyun, Lay, Chen, Kai, Sehun, Suho, Yura.

Rating: Balik ke T lagi^^

Length: Chaptered

Genre : Romance, Yaoi, Yadong, BL, AU, OOC, dll

Disclaimer: Para pemain milik Yang Maha Kuasa. FF ini murni milik saya dan bener – bener datang dari otak saya. Titik.

Warning: FF ini menggunakan bahasa Indonesia gaul acakadut

Note: Don't like don't read, don't bash and don't be a silent reader ^^

Summary Lengkap:

Kris: Namja gay yang ingin sembuh dan berniat mengencani wanita normal. Namun cewek yang dia temui sama sekali diluar ekspektasinya. Karena dia…

Chanyeol: Namja gay yang berkali – kali ditolak karena badannya yang terlalu raksasa. Kata orang gak imut. Saking kepengennya dapat pacar akhirnya dia melakukan jalan pintas dengan menyamar menjadi seorang gadis di dunia maya dengan nama Gamergirl_61. Awal mula berkenalan dengan Kris melalui game online. Ternyata dia…


###HAPPY READING###


Chapter 4

Chanyeol menerawang ke langit – langit dan menarik napas panjang untuk yang kesejuta kalinya. Meratapi hubungannya yang hanya berumur biji jagung mini.

Jadian dan putus dihari yang sama… ada yang lebih mengenaskan daripada itu?

Padahal baru beberapa saat yang lalu Chanyeol merasakan betapa berbunga – bunganya dan bercetar – cetirnya punya pacar, eh… belum ada lima jam dia harus merasakan patah hati lagi gara – gara diputusin pacar—ehem—mantan pacarnya.

Mantan lima jam. Mungkin dia harus menulis sebuah lagu dan mengirimkannya ke produser musik dangdut. Siapa tau bisa lebih hits dari pacar lima lingkah.

Rupanya dia benar – benar mencintai Kris. Buktinya dia sesakit ini…

Tok Tok Tok.

"Yeol… ini kakak lo mau pulang." Terdengar suara Baekhyun di depan pintu kamarnya.

"Masuk aja." sahut Chanyeol dengan suara tenggelam karena mukanya ketutupan bantal. Chanyeol tidak cerita apa – apa soal Kris ke Yura. Begitu pula Baekhyun. Chanyeol emang udah mewanti – wanti sohibnya itu untuk merahasiakan hubungannya. Jadi otomatis Yura tidak tau apa – apa.

Untung aja pas Chanyeol pulang, kakaknya itu udah tidur. Jadi dia gak sempet ngeliat muka kacau badainya Chanyeol plus dandanannya yang kayak banci lampu merah habis dianiaya sepasukan hansip.

"Chan, masih pusing kepalanya?" tau – tau Yura udah duduk disebelahnya. Nunanya itu hanya tau kepala Chanyeol pusing. Alasan itu sudah paling mantab. Soalnya muka pucet ala vampir darah rendahnya Chanyeol juga mendukung banget.

Chanyeol mengangguk. Kepalanya emang pusing. Oke, pusing menggalau. Tapi kan tetep aja namanya 'pusing'. Jadi Chanyeol gak sepenuhnya bohong, kan?

Yura mengusap pelan kepala sang adik, "Aku mau ngantor dulu, nanti kalau sempet baru balik lagi bawain kamu makanan. Kamu mau pesen apa? Entar aku beliin."

Chanyeol memaksakan senyum, "Apa aja deh. Terserah. Yang penting enak aja bakal kumakan."

Yura memegang dahi Chanyeol. Panas. Iya. Panas karena mikirin Kris.

"Yaudah kalo gitu kamu istirahat aja lagi. Makan yang banyak ya, itu tadi Baekhyun udah aku suruh beliin kamu obat sama makanan untuk sarapan. Sama ada cemilan – cemilan juga buat pengganjal perut."

Pfrrt… mau juga ya si Baekhyun dijadiin babu. Dasar modus. Kalo kakaknya yang nyuruh langsung grak! Kalo Chanyeol boro – boro!

"Iya, makasih nuna." Chanyeol tersenyum tulus.

Tumben banget mood kakaknya hari ini lagi bagus. Bukannya diinterogasi macam – macam, malah dibeliin makanan. Dan soal kemeja pink itu, Chanyeol udah pake alasan lagi dipinjem temen sekelasnya buat acara dies natalis. Tauk dies natalis apa. Sekali lagi untung Yura gak nanyain temennya yang mana yang minjem baju kesayangannya.

Yura yang udah mau nyampe ke pintu tiba – tiba berbalik, "Oh iya, waktu bangun tengah pagi buta, aku sempet denger ada suara – suara gaib dari dalam kamar kamu." ujarnya memberi tanda kutip di suara – suara gaib. Mana cengiran meledeknya lebar banget.

Chanyeol menegang. Pantes aja Yura kalem – kalem aja daritadi. Ternyata udah tau toh.

Gak salah deh Yura jadi kakaknya Chanyeol. Kedekatan mereka dari kecil membuat insting seorang kakak milik Yura jadi cepat peka kalau sakit pusing adiknya itu tidak terletak di kepala. Tapi di… yaa, taulah dimana.

Apalagi Chanyeol itu termasuk orang yang sulit mengeluarkan air mata. Dari SMP dulu, kalau adiknya itu lagi patah hati, dia hanya akan bungkam seharian persis orang gusi bengkak. Berarti kalau sampai termehek – mehek segala, emang 'pusingnya' sudah berada pada tahap paling urgent. Dan tentu saja Yura tau soal orientasi seksual Chanyeol, kedua orangtuanya bahkan sudah tau. Tapi mereka cukup berpikiran terbuka dengan menghargai privasi Chanyeol. Mereka percaya suatu saat Chanyeol akan buka – bukaan sendiri tanpa harus didesak.

Seringai tengil Yura makin lebar liat muka speechlessnya Chanyeol, "Kamu masih save nomerku yang lama kan? Kalau ada apa – apa telpon aja, jangan ragu – ragu." tukas Yura sambil mengerlingkan mata, makin menguatkan dugaan Chanyeol.

Chanyeol berbalik ke sisi lain ranjang, berusaha menyembunyikan muka canggungnya, "Iya iya. Ngantuk nih. Mau istirahat dulu."

Pintu kamar Chanyeol tertutup. Kesunyian kembali menyerbu.

Chanyeol menghela napas. Dia tidak boleh lemah dan mennye – mennye begini. Harus mandi dan berangkat ke kampus. Pokoknya dia tidak boleh dramatis begini! Biar gimana – gimana dia ini kan namja. Nasi telah menjadi ampas bubur. Yang lalu biarlah berlalu. Lagipula itu semua bisa terjadi karena dia juga yang salah. Untuk apa disesali terlalu lama? Malah jadi penyakit.

Chanyeol bangkit dari ranjang empuknya lalu berjalan gontai menuju kamar mandi.

.

.

.

.

Kris masih tidak habis pikir. Kenapa sih dia bisa seidiot ini? Oke. Bukannya Kris sama sekali tidak menyadari semua keanehan itu. Hanya saja dia terlalu…

Buta.

Lebih tepatnya, dibutakan oleh perasaannya sendiri. Dibutakan oleh sesuatu yang disebut… shit! Ini kan bajunya Chanyeol?

Kris berhenti melipat baju dan menatap kemeja dalam genggamannya. Kemeja pink. Kemeja cowok itu.

Hehehe. Tanpa sadar Kris cengengesan. Lucu sekali. Cowok pake warna pink.

Cowok yang cantik…

Damn. Mikir apa sih dia?!

Biar gimanapun, Kris tidak bisa membohongi perasaannya sendiri. Meskipun merasa kecewa dan terkhianati, anehnya selama beberapa jam terakhir justru wajah Chanyeol yang terus nongol dalam kepalanya. Sampai – sampai dia sempat tergoda untuk mencicipi bagaimana rasa cairan pembersih lantai. Tapi karena gak enak. Jadi dia batal melakukannya.

Oke. Becanda. Tenang aja, Kris tidak semellow itu kok. Paling dia hanya bolak – balik nangkring di jendela. Sudah pasti melihat pemandangan kan? Apalagi?

Kris menghela napas dalam – dalam. Dia memang berniat ingin pulih. Pulih dari apapun yang terus membebaninya dan membelit pikirannya. Tapi kalau terus 'dihantui' oleh sosok si dia. Kapan Kris sembuhnya?!

.

.

.

.

"Mana, Yeol? Katanya lo mau nunjukin pacar baru lo ke kita kita?"

Chanyeol berhenti mengaduk random minumannya.

"Enggak ada. Udah putus."

Tiga pasang mata di depannya saling pandang takjub. Chen berhenti nyanyi. Lay berhenti bales bbm. Sehun yang lagi rebahan pewe di pangkuannya Kai juga langsung terduduk dan ikutan ngeliatin Chanyeol senyureng mungkin. Hanya Baekhyun yang anteng. Yaiyalah. Dia kan udah tau.

"Serius? Kok bisa?" tanya Lay dengan alis bertaut heran, "Bukannya baru sehari?"

Chanyeol mengedikkan bahu, kembali mengaduk minumannya. Daritadi es lemon tea nya cuman diaduk – aduk gak jelas tanpa berniat dia minum sama sekali.

"Gue diputusin. Gara – gara omongan kita waktu itu kedengeran Luhan hyung. Terus dia ngelapor."

Chen geleng – geleng kepala dengan muka sebel, "Keterlaluan. Udah gue duga tuh orang punya dendam kesumat ama lo."

Kai terkekeh nyebelin, "Yaahh… gak jadi beli hape baru dong."

Sehun ngeplak pundak Kai sambil melirik judes. Dasar tidak berperiketemanan!

"Lho, emang iya kan? Kalau Chanyeol gagal itu artinya dia KALAH. Berarti itu tandanyaa…"

"Lo harus mau ngelakuin apapun yang gue suruh." Chen tersenyum penuh misteri.

"Minum susu dari hidung selama seminggu." cengir Lay jahil.

"Ngerjain semua tugas – tugas gue selama sebulan." tagih Kai.

Sehun mikir, "Hmm… traktir gue bubble tea setiap hari?"

"Eh.. eh, tunggu!" Chanyeol angkat tangan gak terima, "Ini gimana sih? Kan gue udah berhasil dapetin pacar…yaa… walaupun cuma tiga jam doang sih."

Kai ngakak, "Demi ubur – ubur, adek gue yang balita aja bisa pacaran lebih lama dari lo."

"Itu gak masuk itungan, Yeol." Ujar Chen.

"Ya tetep gak bisa gitu dong. Yang penting kan udah ada deklarasi!" protes Chanyeol ngotot, "Kris juga udah bilang suka ke gue. Itu artinya kan kami pernah pacaran." tukas Chanyeol menggebu – gebu udah kayak simpanan pejabat yang tiba – tiba nongol di infotainment dan minta dikawin.

"Lo pengen tau apa yang dimaksud dengan pacaran?" serang Lay.

Chanyeol gelagapan.

Lay merangkul Chanyeol sok asik, "Gini ya temanku yang sangat amatir… suatu hubungan bisa disebut pacaran, kalau diantara kedua belah pihak sudah terbentuk sebuah komitmen." tukas Lay sok sok pakar percintaan, "Nah. Lo udah punya komitmen gak sama dia?"

Chanyeol menggeleng, "Be-belum sih…"

"Udah pernah ngerayain hari jadian?" timpal Chen.

Chanyeol menggeleng.

"Udah pernah selfie bareng?" kali ini Sehun.

Chanyeol menggeleng.

"Udah pernah disodok?" todong Kai lebih sadis.

Chanyeol menggeleng. Nyalinya bukan cuma menciut, tapi kejengkang, terpelanting dan kelelep di samudra atlantik alias jauh!

Baekhyun berdecak, "Guys, gak bisa ya ngebahas taruhan bullshit itu laen kali aja? Bukan sikonnya, tau! Lo pada gak liat mukanya Chanyeol udah abstrak gitu?"

Baekhyun emang sesuatu. Tuh buktinya para tikus mondok itu kembali ke rutinitasnya masing – masing dan gak banyak cingcong lagi. Chen ngelanjutin karaokenya, Lay lanjut ngebales bbm dari gebetan barunya, sementara dua sejoli Kai dan Sehun asik bercumbu mesra. Baekhyun mendesis malas terus cepet – cepet pindah tempat duduk. Takut virus yadongnya nular ke dia.

"Thanks, Baek." ucap Chanyeol tulus. Berusaha keras mengabaikan suara cap-cip-cup horny disebelahnya.

"You're welcome, bro." Baekhyun nepuk – nepuk pundak Chanyeol, "That's what friend for. Yaah, meskipun lo gak terbebas dari konsekuensi taruhan konyol lo itu. Habisnya lo sih batu! Udah dibilangin gak usah masih aja."

Chanyeol terkekeh, "Biar hidup ini gak monoton, Baek."

Baekhyun mutar bola mata, "Mau hidup gak monoton? Sono beternak ikan piranha!"

Chanyeol nyengir, "Ide bagus. Entar ya kalo gue udah kaya raya."

"Lo gak perlu kaya raya. Cukup pergi ke sungai amazon dan mancing sendiri ikannya. Pake tangan dan harus nyelam tanpa baju pelindung. Kalo perlu gak usah pake baju."

"Ya mati dong gue. Gimana sih?"

Baekhyun mencibir, "Katanya mau hidup gak monoton?"

"Mau hidup yang gak monoton?" celetuk Lay.

Chanyeol dan Baekhyun kompak noleh penasaran ke dia, "Apa?"

"Jadi brondong simpanannya bos mafia ganja di Meksiko. Pasti hidup lo gak bakal monoton." usul Lay ngaco.

Chanyeol dan Baekhyun kompak mendesis malas.

"Terima kasih atas saran hebatnya tuan Yixing. Anda sungguh mulia." ujar Chanyeol gak jelas.

Lay cengengesan, "Sama – sama."

"Mau kemana?" tanya Chen ngeliat Kai dan Sehun tiba – tiba berdiri dan jalan kearah pintu.

Kai ngibasin tangan, sementara tangan kirinya merangkul Sehun mesra, "Biasaaa. Menuntaskan panggilan alam."

Semua orang di ruangan karaoke itu hanya ber-Ooo malas terus balik ke aktifitas masing – masing. Kalau Kai sama Sehun gak perlu dipertanyakan lagi. Udah tau deh pasti maksudnya pengen 'ehem-eheman'. Mereka emang kalau udah ketemu suka gak kenal tempat dan waktu. Serasa dunia milik berdua dan yang lain cuma ngontrak.

Chanyeol manyun envy ngeliatin punggung Kai dan Sehun yang menghilang dibalik pintu.

Kapan ya dia bisa kayak Sehun?

Punya pacar maksudnya. Bukan jadwal 'ehem-eheman' tiga kali seharinya.

.

.

.

.

Ini sudah jepretan kesepuluh dan dia masih belum juga mendapatkan angle yang tepat.

Sial! Hari ini konsentrasinya benar – benar payah. Sampai – sampai semua orang jadi korban kesensiannya Kris. Mulai dari model mempelai pria yang berkali – kali dia tegur karena selalu tersenyum suram (masa foto busana pre-wed muka pengantin cowoknya memprihatinkan gitu?), sampai ke kru bagian editing yang menurutnya kerja asal – asalan dan malah makin mempersuram hasil jepretannya.

Hampir semua partnernya pada ngeluh soal hobi baru Kris: ngomel. Gak biasa – biasanya Kris kayak begini. Namja itu adalah fotografer professional yang paling cool dan gak cepat emosian menghadapi sesuatu. Jadi pasti kalau sudah uring – uringan begitu, pasti ada faktor x-y-z yang melatarbelakangi.

"Ada apa?" tanya Suho nyamperin. Suho ini sesama fotografer juga. Cuma bedanya dia ini official alias emang kerjanya di kantor majalah ternama. Dan biasanya emang kalau ada job pemotretan atau apa, pasti Suho bakal 'menggandeng' Kris sebagai partnernya. Sudah lama kerjasama gitu dari waktu jaman masih jadi fotografer amatir, pasti udah saling taulah trak recordnya gimana. Mereka kan udah ceesan banget. Intinya Suho ini lebih percaya ke Kris ketimbang musti nyewa partner fotografer lain dan harganya bisa berkali – kali lipat. Toh kalau hasilnya gak sesuai juga dengan seleranya dia kan percuma.

Kris membanting dokumen keatas meja lalu menegakkan posisi duduknya, "Tauk. Mumet gue."

"Persoalan cewek?" tebak Suho sambil mengecek semua hasil jepretan foto di kamera Kris. Memuaskan. No doubt. Sesuai harapan. Meskipun sedang dalam mood terjelek sekalipun, sohibnya ini tetap saja seorang perfeksionis.

Kris tertawa getir, "Tadinya sih begitu."

Suho mengernyit bingung, "Kamsud anda?"

"Iya. Tadinya sih gue kira cewek."

Mata Suho melebar, "Lo kena tipu?"

Inilah yang Kris sukai kalo curhat dengan Suho. Cepet tanggap dan mengerti. Gak perlu dijelasin satu – satu kayak mendikte anak TK baru belajar membaca. Mana Kris itu orang yang paling gak suka bertele – tele.

"Bisa dibilang begitu."

Suho manggut – manggut, "Oke… dan sialnya lo udah bertindak 'lebih' ke dia?" tebak Suho bikin Kris refleks nelen ludah grogi.

"Y-ya… lo taulah. Gue kan dulu udah pernah cerita."

Suho tertawa tanpa suara, "Kris… Kris. Udah gue duga. Eh, tapi perasaan cewek…maksud gue, cowok itu ke lo gimana?"

"Dia bilangnya sih serius. Yaa gue gak taulah. Luhan sempet denger kalau tuh bocah dan temen – temennya melakukan semacam taruhan…"

"Sementara lo adalah korbannya?" potong Suho lagi – lagi bikin Kris nelen ludah.

Suho terkekeh pelan kemudian menepuk pundak Kris, "Lo inget gak taruhan terakhir kita?"

"Ohh… yang lo taruhan mau macarin salah satu model di kantor lama lo?"

Suho mengangguk, "Dan lo tau kan apa kelanjutannya? Cewek itu ternyata istri atasan gue dan lagi hamil muda pula."

Kris ikut tertawa, "Iya, gila lo! Udah punya orang gitu."

Suho ngibasin tangan santai, "Ya mana gue tau kalo tuh perempuan udah bini orang? Lagipula dia ngakunya juga masih single dan virgin. Tapi dibalik itu semua, lo liat dong sekarang hasilnya! Gue berhasil dapetin cewek itu. Meskipun bonusnya gue dipecat dan sempet ngerasa tertipu habis – habisan."

Kris mendengus, "Beda kasuslah. Pernah denger pepatah udah jatuh ketimpa tangga pula? Nah itu gue banget tuh."

Suho mencibir, "Heleh! Lebai. Emang kenapa kalau lo korban taruhan? Toh lo juga ngerasa sreg kan sama dia? Ini buktinya lo sampai baper. Semua orang kena damprat. Apalagi coba namanya kalau bukan baper? Gue berani bersumpah lo hari ini beda banget Kris. Lo gak pernah kayak gini sebelumnya. Marah – marah gak jelas. Gue sampai gak ngenalin lo. Kesannya bukan lu banget. Kayaknya cowok itu really something sampai bisa ngerubah lo jadi Godzilla ngamuk kayak tadi."

Kris tercenung. Iya juga ya. Kris baru nyadar kalau seharian ini kerjaannya dia marah – marah terus.

"Sob, denger ya. Gue gak peduli apa alasan dia ngelakuin itu, tapi dari hasil penerawangan sekilas gue, dia bener – bener makhluk yang gak boleh lo lewatkan begitu aja. Jarang – jarang ada orang bisa naklukin lo sampai bikin lo jadi menggila kayak begini."

Kris memijat keningnya. Bimbang. Lantas bagaimana dengan niat awalnya jadi cowok straight?

"Tapi kan… arghh!" Kris meremas rambutnya frustasi, "Tauk! Pusing gue."

"Kenapa? Masih bermimpi pengen jadi cowok normal?" Suho ngibasin tangan, "Udah deh lupain obsesi lo! Sekali gunting rumput tetap gunting rumput, tidak akan bisa berubah jadi kunci inggris."

Kris mikir. Agak bingung apa hubungan gunting rumput dan kunci inggris dengan masalahnya. Suho ini kadang suka aneh. Suka ngasih analogi gak jelas.

"Understand? Maksud gue udah maho ya maho aja. Kagak usah ngimpi."

"Kurang asem!" Kris ngeplak leher belakang Suho. Yang dikeplak malah haha-hihi, "Orang usaha malah dikatain."

"Ngapain lo usaha? Gak usah! Terima kenyataan aja napa sih? Susah banget. Toh banyak juga yang sejenis kayak lo, ya mereka enjoy aja tuh. Lo boleh move on dari Tao. Lo boleh berusaha. Tapi jangan karena dia juga lo jadi terlalu maksain diri. Entar kasian cewek yang dapetin lo. Makan ati punya suami gay terselubung."

"Jadi lo ngelarang nih ceritanya?" tanya Kris mulai kumat sensinya.

"Idih. Yang ngelarang siapa? Justru gue ngingetin lo buat jadi diri lo sendiri. Kalau lo berhasil 'sembuh' ya syukur, enggak juga it's fine. Almost everyone okay with that."

"No. Not everyone. Buktinya nyokap gue enggak."

Suho langsung kehabisan kata – kata. Kalau udah ngomongin soal nyokapnya Kris yang galak itu, dia juga bingung mau berargumen apalagi selain ngeluarin saran umum: "Sabar, Kris. Lo pasti bisa melalui ini. Gue yakin."

Semenjak Papanya meninggal pas Kris masih berusia lima tahun, hanya sang bunda yang merawat dan membesarkan Kris sampai sekarang. Seorang single parent yang mandiri, tabah dan berpendirian kuat. Itulah yang tergambar jelas dari Mamanya Kris. Meskipun beliau sekarang sudah tidak muda lagi dan wanita itu harus pakai kursi roda kemana – mana, namun pendiriannya tidak pernah luntur dimakan usia. Kris harus menikah dengan seorang yeoja. Titik.

Kris mengusap wajahnya frustasi, "Gue ngantuk, mau pulang. Duluan ya?"

Habis ngomong gitu, Kris langsung ngeloyor pergi ninggalin Suho yang hanya terdiam sambil menatapnya prihatin.

.

.

.

.

Chanyeol menatap pantulan wajahnya di kaca spion.

Tidak ada lagi gadis cantik berambut panjang.

Tidak ada lagi gadis yang dicintai Kris.

Yang ada hanya pemuda tinggi berwajah polos dan berambut seleher.

Pemuda yang… kehidupan asmaranya sial mulu.

Namja itu menghela napas. Kali ini dia sedang terduduk lesu di mobil. Tentu saja ini bukan mobil miliknya. Setelah berhasil ngemis di salah satu teman kosnya, Chanyeol berhasil membawa fortuner abu – abu ini untuk 'mencari udara segar'. Pikirannya betul – betul mendung. Sudah dua hari berlalu tapi dia masih tidak bisa juga menghentikan sebutir air matanya yang tiba – tiba meluncur secara mendadak tanpa dia perintah. Dan biasanya itu selalu terjadi saat Chanyeol sedang bertapa di kamar sendiri. Chanyeol benci dirinya yang sekarang. Dia benar – benar tidak menyangka bisa berada pada level mengenaskan paling bawah seperti ini. Padahal Kris hanya mengencaninya selama dua puluh empat jam.

Well…dua puluh empat jam yang sangat berarti, kalau boleh jujur.

Salute to Kris. Diantara sekian banyak cowok, hanya Kris yang sanggup merubah Chanyeol menjadi manusia super mellow dengan hobi baru: Melototin mata cecak yang lagi nemplok di dinding.

Apalagi sekarang Kris benar – benar menghilang dari peredaran. Bahkan saat Chanyeol online di game, dia tidak menemukan cowok itu diantara deretan nama lain yang online. Hanya ada sapaan dan chattingan gaje dari cowok – cowok lain yang di detik berikutnya langsung dia close tanpa repot – repot membacanya dulu.

Bagaimana ya kabar Kris? Apa yang sedang dia lakukan? Apa dia sudah berhasil mengencani wanita lain? Tentu saja kali ini pasti wanita asli, bukan yang abal – abal kayak dia.

Chanyeol tersentak kaget mendapat serangan klakson beruntun di sekelilingnya. Begitu melirik ke lampu merah. Benar saja. Warna lampu sudah berganti menjadi hijau dan terus melaju ke angka tiga puluh. Gawat. Sudah berapa lama sih pikirannya mengambang?

Chanyeol cepat – cepat mendorong maju tombol persneling lalu menginjak pedal gas kuat – kuat. Mobil abu – abu itu melesat cepat meninggalkan rombongan klakson yang terus menyerang telinganya.

Berisik! Pada gak tau ya orang lagi puyeng?!

TIIIINNN TIIINNNN!

Chanyeol menoleh dan seketika melotot dasyat mendapati truk besar dari arah depan sedang melaju cepat kearahnya dan hanya berjarak beberapa meter saja. Gawatt! Dia bisa gepeng bareng mobil ini! Kenapa bisa keluar jalur gini sih?! Buru – buru dia belokkan setir hingga sekarang posisi mobilnya berhenti tepat di depan pintu masuk sebuah toko emas. Orang – orang yang lagi jalan – jalan santai di sekitar situ pada kabur kocar – kacir melihat mobil fortuner gila tiba – tiba menyasarkan diri ke area emperan toko. Alhasil, bukan hanya mendapat celaan dari sopir truk raksasa yang nyaris merebut nyawanya tadi, Chanyeol juga mendapat setumpuk caci maki dari para pejalan kaki yang lalu lalang di dekatnya. Belum lagi orang – orang yang terjebak dalam toko emas jadi ikutan ngomel sambil nunjuk – nunjuk Chanyeol, gara – gara moncong mobilnya persis di depan pintu dan menghalangi jalan keluar.

"Woiii mundurin mobil lo!"

"Kita mau keluar, begokkk!"

Sementara di dalam mobil, di tengah – tengah hujatan yang mengalir deras dari mulut orang – orang, Chanyeol hanya bisa mematung shock dengan tubuh gemetaran. Dicekam ketakutan. Truk raksasa itu masih terproyeksi dimana – mana. Bagaimana keempat ban raksasanya membelah aspal jalanan. Bagaimana lengkingan klaksonnya bagai geraman monster peremuk tulang di telinga Chanyeol. Semuanya begitu… begitu…

Nyaris!

"Maaf, Mas, Mbak, Pak, Bu. Permisii. Iya, maaf, maaf. Ini adik saya. Dia emang baru belajar nyetir. Iya, maaf. Lain kali saya gak ijinin dia bawa mobil sendiri. Ya, Pak… mohon maaf yang sebesar – besarnya."

Kris? KRIS?!

Chanyeol tercengang liat tampang Kris tau – tau udah nongol di kaca jendelanya yang terbuka lebar. Cowok yang selama dua hari ini selalu meneror pikirannya sekarang muncul di depan matanya. Dia gak lagi mimpi sambil melek kan?

"Geser. Cepetan!"

Serasa dihipnotis, tanpa repot – repot turun lagi, Chanyeol manut membuka seatbelt lalu menggeser bokongnya ke kursi disamping kemudi. Kris membuka pintu mobilnya dan segera menggantikan posisi Chanyeol.

Setelah menanyakan alamat rumah kos kosan Chanyeol, Kris cepat – cepat menghidupkan mesin mobil dan melaju meninggalkan TKP.

Kok suasananya jadi canggung gak enak begini ya? Apa Kris masih sebegitu marahnya sampai dia jadi sependiam ini? Kemana perginya Kris yang waktu itu? Kris yang selalu melepar senyum malaikat dan tidak pernah bosan menertawainya. Chanyeol jadi ngerasa serbasalah. Mau negur duluan gak enak, tapi kalau diem gini terus berasa kayak lagi disopirin sama demit bisu. Yaaah… mending puter musik aja deh.

Begitu Chanyeol men-turn on kan radio, mengalun suara mendayu – dayu Lana Del Ray menyanyikan Blue Jeans. Dooh… syahdu banget sih! Bisa – bisa pertahanannya bakal luntur lagi di depan cowok ini. Ogah. Ganti!

Nah. Ini aja. Toploader, Dancing In The Moonlight. Setidaknya kepala Chanyeol sekarang ikutan goyang – goyang dikit mengikuti irama lagunya yang ceria dan ear catching.

Kalau saja suasana hatinya gak lagi begini, Kris pasti sudah mengulum senyum geli melihat tingkah Chanyeol yang asik sendiri goyang – goyang kepala sambil ngelipsync lagu itu pake penghayatan muka yang enggak banget. Bisa ya dia berganti emosi secepat itu?

Kris berdehem. Akhirnya setelah diem selama bermenit – menit, kalimat pertama yang meluncur dari mulut Kris adalah, "Kamu itu gila ya?"

Chanyeol mengerjap – ngerjapkan mata, "Hah?" Perasaan telinganya baik – baik aja deh? Kok kayaknya tadi dia denger Kris ngomong…

"Apa kamu gila?! Bisa – bisanya nyetir kayak gitu. Sudah bosan hidup?!" bentak Kris bikin Chanyeol makin melotot tak terima.

Tunggu dulu! Apa – apaan nih orang?! Baru ketemu udah ngatain dia gila. Biar gimanapun Chanyeol jadi begini itu kan gara – gara dia juga. Nggak bisa dibiarkan! Ini ngeselinnya tingkat dewa.

"Lo kenapa sih? Kalo gak iklas ya sudah. Gak perlu sok peduli kayak tadi. Pake ngatain segala." Chanyeol menyilangkan tangan di dada, "Lagian gue juga udah minta maaf."

"Ini bukan masalah iklas atau enggaknya, Chan. Tapi nyawa kamu! Siapa yang mau tanggung jawab kalau seandainya kamu gak selamat tadi? Siapaa?!"

Chanyeol memutar bola matanya kesal. "Ya yang pasti bukan lo, kan? Udah deh gak usah dramatis gitu. Toh gue gak kenapa – napa ini. Ck! Lebai! Baru aja ketemu udah ngajakin ribut. Dasar pendendam! Gak nyangka gue lo sependendam ini."

Kris menghela napas lalu tersenyum miris, "Dendam? Kecewa sih iya. Kamu tau kan perasaan manusia bukan barang yang bisa dipertaruhkan seenaknya?"

Perasaan kesal hilang, digantikan perasaan bersalah. Chanyeol bungkam. Terdiam gusar.

"Udah berapa lama?"

"Apanya?"

"Taruhan itu. Udah berapa lama? Apa emang niat kamu ngajak aku kenalan karena itu?"

Chanyeol diem.

"Jawab jujur, Chan. Kalau kamu begitu malah makin memperkuat dugaan aku."

Alis Chanyeol bertaut, "Dugaan?"

"Dugaan kalau kamu ini penipu dan pembohong yang hebat." tukas Kris telak – telak. Langsung nancep, persis jarum raksasa milik bokapnya Hercules yang dijatuhkan dari langit.

What the…

Chanyeol mengatupkan rahang. Mencoba menekan emosinya kuat – kuat. Sabar Yeol… sabaar… emang lo udah salah dari sononya.

"Oke. Jujur. Itu udah lama. Dan memang niat awal aku waktu itu buat menangin taruhan. Sebelum kenal kamu, aku juga udah pernah coba – coba berkenalan dengan berbagai macam jenis cowok di dunia maya. Tapi baru kamu yang berhasil sampai ke taraf kencan." Chanyeol melirik Kris untuk melihat reaksi cowok itu. Tetap sama. Tetap gak ada ekspresi. Tetap datar, sedatar muka pengawas UN.

"Berarti cowok – cowok itu juga udah pernah nyoba ngajakin kamu keluar, kan?"

Chanyeol mengangguk.

"Terus dari sekian banyak tawaran, kenapa justru aku yang keterima?" tanya Kris lebih terdengar seperti tukang kredit panci lagi nagih utang.

Iya. Kenapa ya? Kenapa musti Kris? Kenapa? Chanyeol sendiri juga tidak yakin perasaannya. Yang dia tau, selama chatting dua bulan lebih dengan namja ini, dia merasa ada something yang berbeda. Semacam feeling untuk mengenal Kris lebih dari sekedar kenalan di dunia maya. Perasaan nyaman. Perasaan langka yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Perasaan yang membuat Chanyeol terlena dengan mimpi indah fananya. Entahlah. Banyak sekali definisi dari kata sakral yang satu itu.

"Aku… aku ngerasa kalau kamu itu… beda." sahut Chanyeol salah tingkah, rada bingung mau ngejelasin gimana.

Kris menoleh. Biarpun samar, dia masih bisa melihat ada rona blushing di pipi tembem Chanyeol. Jerapah cantik itu juga terus menunduk menghindari tatapan intensnya.

"Beda?"

Chanyeol ngangguk pelan, "Pokoknya beda. Tolong jangan paksa aku ngejelasin lebih detail."

"Kenapa?" tanya Kris kepo maksimal.

"Aku gak sanggup."

"Kenapa?"

Chanyeol menunduk semakin dalam. Kayak mau mengheningkan cipta, "Gak bisa. Itu terlalu memalukan. Cukup sekali saja."

"Kenapa?"

Kris ini minta dilamar Datuk Maringgih ya? Menyebalkan! Apa coba maksudnya ngomong kenapa kenapa mulu daritadi? Ngajak berantem?!

"Kris, sekali lagi kamu ngomong 'kenapa', aku akan loncat heroik dari mobil ini terus mencakari muka setiap pengamen dan pedagang asongan yang lewat."

Pfrttt… Apa?! Nyaris saja tawa Kris meledak. Ancaman barbar yang sungguh sangat ajaib dan tidak jelas apa motifnya.

"Eh, jangan! Jangan!" jawab Kris buru – buru, "Oke. Sori, sori. Tolong jangan lakuin itu, kasihan mereka gak tau apa – apa tiba – tiba dicakarin."

Chanyeol mendengus keras sambil buang muka. Kris jadi terpaksa menahan tawa gelinya.

"Intinya aku bukan tipe orang yang mau dicium gitu aja sama orang yang aku gak suka. Aku gak sarap, apalagi gila kayak tuduhan kamu tadi. Itu… itu ciuman pertama, tau!"

Kris menoleh lagi. Wajah Chanyeol memang masih terpaku ke kaca jendela. Tapi dari suaranya yang agak bergetar, Kris tau betul bocah itu bersungguh – sungguh.

"Maaf kalau aku kelepasan ngebentak kamu. Habis siapapun yang melihat aksi percobaan bunuh diri kamu tadi, berani bertaruh mereka pasti akan melakukan hal yang sama kayak aku. Itu gila, Chan. Sori. Jangan tersinggung. Tapi itu beneran gila! Aku aja sampai nyaris pingsan waktu ngeliat truk itu melaju dan nyaris melumat mobil ini. Aneh aja kamu masih bisa santai dan goyang – goyang kepala."

Emosi Chanyeol yang tadi meletup – letup mulai mereda karena jelas sekali amarah Kris tadi meledak karena dia khawatir.

"Terus mengenai taruhan dan apa yang udah kamu lakuin, aku udah pikirin semuanya dan…" –ternyata sangat sulit untuk membenci kamu, Chan. Namun sayangnya, kalimat itu hanya bisa dia dengungkan dalam hati saja. Entah kenapa mulut Kris seperti dilem secara mendadak . Dia tiba – tiba bungkam dan bikin Chanyeol jadi berdecak sambil muter bola mata malas.

Gantung lagi, gantung lagi! Chanyeol ngibasin tangan sebodo amat. Ya sudahlah!

"Aku juga minta maaf karena aku ngerasa sangat bersalah sama kamu. Toh pada akhirnya aku kalah juga dan harus ngelakuin semua konsekuensinya." Ujar Chanyeol pelan, "Terus persoalan yang tadi, kamu gak perlu cemas lagi. Udah lewat. Lagian ternyata aman – aman aja kan? Aku masih utuh ini. Gak sampai lecet sedikitpun. Malah masih bisa ngeladenin kamu ribut dulu tadi."

Kris menarik napas dalam – dalam. Kok ada ya orang sesantai Chanyeol? Padahal nyaris digiles ban mobil truk tronton, tapi masih bisa ngejawab santai kayak gitu.

Kebersamaan itu akhirnya harus berakhir. Mobil fortuner abu – abu itu berhenti tepat di depan pagar sebuah rumah tingkat yang lumayan besar. Kris mengamati bangunan bertingkat di depannya. Ada papan plang bertuliskan: Asrama khusus putra. Sama sekali tidak untuk campuran. Beberapa anak muda yang lagi nongkrong sambil main gitar di teras itu juga tidak ada yang memiliki gunung kembar. Sesuatu dalam diri Kris berdenyut nyeri kalau mau mengingat kembali kata – kata diucapkan Chanyeol waktu itu.

Enough! Yang penting semuanya sudah cukup jelas sekarang.

Seorang satpam berlari – lari kecil dari gardu kecilnya menuju ke pintu pagar, satpam itu menarik pintu pagar hingga terbuka lebar sekali dan cukup dimasuki oleh dua buah mobil.

Kris tersenyum tipis, "Aku cuma bisa nganterin kamu sampai sini. Bisa kan masukin mobilnya sendiri?"

Chanyeol mengangguk sambil membuka sabuk pengaman di tubuhnya. Kris juga membuka sabuk pengaman lalu melangkah keluar dari mobil. Kris membiarkan pintu mobil tetap terbuka, menunggu sampai Chanyeol benar – benar duduk manis dibelakang kemudi, barulah Kris menutupnya kembali. Benar – benar seorang gentleman. Beruntung sekali wanita yang bisa mendapatkan Kris…

"Chan, aku bukan pengawal gaib kamu. Gak bisa nongol tiba – tiba setiap saat kalau kamu ada apa – apa. Jadi lain kali kamu musti lebih hati – hati. Jangan sampai terulang lagi."

Pengawal gaib? Kenapa gak sekalian aja Om Jin? Chanyeol tertawa jengah.

"Pikirin perasaan orangtua kamu kalau mau bertindak. Kamu gak mau kan bikin mereka cemas?" tukas Kris dengan raut lembut dan tatapan teduh. Sayang sekali namja ini bukan pacarnya lagi. Padahal Chanyeol kepengen banget mencipok pipi Kris sampai tinggal tulang belulang.

Chanyeol terkikik kecil, "Iya, iya, bawel! Udah sana. Kalo ngomel mulu kapan aku masuknya?"

Kris menjauh dari kaca jendela, "Ya udah. Aku duluan ya? Inget lho, jangan nyetir sambil melamun lagi."

Tiba – tiba Chanyeol menepuk jidat. Oh iya! Masih ada yang ingin dia tanyakan. "Kris!"

Kris yang lagi jalan menuju ke trotoar dekat jalan utama seketika berhenti dan menoleh.

"Kenapa kamu bisa tau aku yang lagi nyetir mobil tadi? Emang tadi lagi dimana?"

Kris tersenyum sok misterius, "Hanya kebetulan lewat."

Begitu ada taksi, namja pirang itu buru – buru menyetopnya. Setelah puas bertatapan lama dengan Chanyeol, Kris langsung membuka pintu bagian depan dan melangkah masuk. Taksi itu segera melaju dan menghilang di tikungan depan.

Chanyeol menghela napas. Menyesali waktu yang pertemuan mereka yang begitu singkat. Menyesali waktu yang sangat cepat berlalu. Menyesali kualitas percakapan mereka yang sama sekali tidak bisa dimasukkan dalam kategori 'Menyenangkan'. Menyesali kenapa jalanan menuju kosannya deket banget. Harusnya dia ngekos di pedalaman hutan Afrika, biar Kris nganternya bisa lamaan dikit.

Tok, Tok, Tok! "Chaan. Buka!"

Chanyeol yang lagi asik melamun langsung terlonjak kaget melihat penampakan Kris dijendela, "Kris?" Dia menurunkan kaca jendela untuk mendengar lebih jelas apa yang dikatakan Kris.

"Lho? Kris? Bukannya kamu udah pergi ya?" tanya Chanyeol dengan dahi berkerut bingung.

"Gak jadi. Aku mau ngajak kamu kesuatu tempat. Ayo."

.

.

.

.

Sepanjang perjalanan, lagi – lagi mereka bungkam seribu bahasa. Jengah dengan perasaan asing yang melanda. Perasaan asing yang penuh keragu – raguan. Perasaan asing yang membuat hati masing – masing menjerit dalam diam. Dalam sunyi yang menjemukan. Tanpa sanggup terlontar keluar, apalagi terbaca dalam ekspresi.

Sampai akhirnya mobil berbelok ke sebuah pelataran parkiran terbuka yang luas.

Chanyeol menoleh ke kanan dan ke kiri. Merasa familier dengan tempat ini.

"Taman Nasional?"

Kris melepaskan sabuk pengaman yang melintang di tubuhnya, "Ayo."

Hawa gunung yang dingin langsung menusuk kulit. Mereka berdua berdiri dibalik sebuah tembok setinggi perut orang dewasa. Tembok bata yang membatasi antara area pengunjung dengan lembah – lembah dan gunung granit yang puncak runcing dan ditumbuhi pepohonan. Menjulang tinggi bagai membelah langit. Pengunjung yang malas mendaki, bisa melihat langsung keindahan view gunung dan ngarai – ngarai yang mengalir tepat dikaki gunung dari balik tembok ini. Apalagi sekarang pas lagi musim – musimnya turis pelancong dari berbagai Negara. Udah rame, ditambah para penjaja makanan dan souvenir yang bertebaran dimana – mana, makin hiruk pikuklah suasana disini.

Chanyeol tercekat melihat Kris tau – tau berdiri dibelakangnya dan menutupi pundaknya dengan jaket yang dia kenakan.

"Sori, aku refleks. Habis kayaknya kamu kedinginan banget." Ujar Kris sambil menyalurkan kegugupannya lewat garukan di kepala.

Refleks? Ada ya orang refleks ngasih jaket? Chanyeol tertawa dalam hati. Padahal dia kan gak lagi nyamar jadi cewek. Tapi anehnya Kris tetap memperlakukannya semanis ini. Belum lagi ada bau khas Kris yang sangat Chanyeol sukai menempel erat di jaketnya. Entah Kris nyucinya kurang bersih, parfumnya yang kebagusan, atau emang Kris yang keseringan pake nih jaket, wanginya masih sangat jelas sekali tercium. Jadi berasa kayak lagi dipeluk Kris, tapi terus menerus…

Muka Chanyeol langsung merona merah, "Emm… gak usah deh, kamu pake aja sendiri." Chanyeol nyodorin jaket itu kembali, sok sok sungkan.

Kris tersenyum, "Kamu aja. Kaos kamu kan lengan pendek."

"Tapi…"

"Pake atau aku peluk?" tukas Kris ngancem pake tampang nakutin.

Diancem gitu baru deh Chanyeol make jaket itu. Bukan. Bukan karena Chanyeol gak mau dipeluk. Tapi karena pelukan Kris bisa mengaktifkan kembali memori ciuman hot mereka di apartemen Kris malam itu. Gak boleh! Ini bukan saat yang tepat untuk mikir begituan. Cowok ini kan bukan miliknya lagi.

"Thanks." Chanyeol menunduk salting, berusaha menyembunyikan wajah merah padamnya.

Kris hanya mengulum senyum tipis, lalu kembali fokus menatap kedepan sana.

Keheningan menyergap. Hawa dingin yang gila – gilaan membuat Kris sedikit menggigil. Namja itu merogoh saku celananya. Dia jadi kepengen…oh shit! Dimana rokok – rokok sialan itu? Pasti tadi ketinggalan di dasbor mobil Suho. Gara – gara ngeliat mobil fortuner nekat mau menyeruduk truk tronton, dia jadi kaget dan spontan berlari menyebrangi jalan raya untuk melihat siapa pengemudi sinting yang hari ini lagi beruntung bisa terbebas dari maut. Tercengang shock melihat ternyata si pengemudi sinting itu adalah Chanyeol. Cewek jejadian yang berhasil membuat dunianya gonjang – ganjing dan dilanda galau berkepanjangan.

Chanyeol berdehem membuyarkan kebisuan, "Kris."

Kris noleh agak kaget. "Hm?"

"Nyari apa?"

"Rokok. Ketinggalan tadi. Tunggu bentar ya." tukas Kris terus ngacir ke penjual terdekat. Membeli sekotak rokok plus pemantik, habis itu balik lagi.

Chanyeol diem aja ngeliatin Kris menyulut sebatang rokok. Padahal dirinya sendiri kedinginan, tapi masih bela – belain ngasih jaketnya ke orang lain. Bisa gak sih cowok ini berhenti membuat Chanyeol terharu?

Kris mengernyit. Alisnya naik sebelah, tanda untuk: 'Kenapa liat – liat?'.

Chanyeol menggeleng sambil tertawa pelan. Tawa getir, "Kamu tuh aneh tau gak."

Kris makin gak ngerti, "Aneh? Aneh gimana maksudnya?"

"Ya aneh. Padahal aku udah ngecewain kamu. Udah nipu habis – habisan. Aneh aja kamu masih bisa sebaik ini sama aku."

Kris menghisap rokoknya lagi, terus dihembuskan lewat hidung dan mulut. "Justru kamu itu yang aneh."

"Hah?" gantian Chanyeol yang bingung, "Dikatain aneh malah ngatain balik."

"Emang aneh. Tadi aku marah – marah difitnah pendendam. Sekarang aku berbaik hati diledekin aneh. Serbasalah kan jadinya."

Chanyeol nyengir, "Ya udah, sesama orang aneh dilarang saling menjatuhkan. Oke? Setop pembahasan soal aneh."

Kris menatap Chanyeol tanpa dosa, "Aku gak aneh, Aneh."

Chanyeol manyun, "Iya, iya, Kris. Kamu gak aneh kok. Iya. Memang akulah yang selalu aneh. Sudah biar aku saja yang aneh sendiri." tukasnya melantur dangdut.

Kris tersenyum geli sambil mengulurkan tangannya, mengacak lembut puncak kepala Chanyeol. Ohmaiigot. Mendadak Chanyeol terserang penyakit keram otak.

"Dasar aneh." Kris menatap Chanyeol lekat – lekat. Ternyata… meski dengan dandanan biasa yang manly, Chanyeol tetap mampu membuat jantung Kris menggila.

Hening.

Sunyi.

Senyap.

"Kris…"

"Ya?"

"Ini mau sampai kapan?" tanya Chanyeol sambil nunjuk tangan Kris yang ternyata masih nemplok di kepalanya. Gak dilepas – lepas. Entah karena gak sadar, terlalu terbawa suasana, atau sengaja?

"Eh…" Kris buru – buru menarik tangannya kembali. Ya ampun. Apa – apaan sih dia tadi? Kris sibuk menggosok – gosok rambutnya canggung, "Sori."

Chanyeol nyengir tengil binti pede. Deg – degannya hilang. Keahlian jahilnya kumat, "Kenapaa? Terpesona ya?"

Kris melongo liat Chanyeol ngedip – ngedip jijay sambil nowel – nowel pinggangnya ganjen, "Apa sih?"

"Udah ngaku ajaa. Sengaja kan? Deg – degan kan? Terpesona kan?"

Kris kerepotan menangkis serangan towelan Chanyeol, "Chan, jangan gila mendadak."

Chanyeol ketawa – tawa girang liat Kris salting sendiri.

Eh iya. Tadi kan dia mau nanya sesuatu, jadi lupa deh gara – gara keasikan. "Ngomong – ngomong, kenapa sih kamu ngajakin aku kesini?"

Tampang Kris balik ke cool lagi, "Lagi kepengen aja. Emang harus ada alasan?"

"Yaa… enggak sih." Kirain ada hal penting yang mau diomongin. Bodo amatlah apapun alasannya. Yang penting sekarang nikmati dulu kebersamaan mereka yang singkat ini. Kebersamaan yang lekang oleh putaran jarum jam ini.

Chanyeol menghela napas panjang. Ada banyak pertanyaan yang berputar – putar dibenaknya. Memenuhi pikirannya. Membuat dadanya sesak dan selalu dipenuhi rasa penyesalan.

Kris, bisakah kita kembali seperti dulu? Perasaanku ini tidak main – main. Aku menyukaimu, Kris. Sangat.

Ini aneh. Ajaib bagaimana sebuah perasaan yang begitu kuat bisa datang begitu saja tanpa melalui proses yang panjang dan rumit. Hanya dalam sekejap dan tau – tau… bimsalabim! Chanyeol berasa kayak udah pacaran setahun lamanya.

Tiba – tiba saja Kris mengulurkan tangannya dan meraih bahu Chanyeol, membenamkan namja tinggi itu dalam pelukannya. Pelukan lembut. Singkat, namun penuh perasaan. Itulah yang sempat dirasakan Chanyeol sesaat tadi.

"Ayo pulang. Udaranya semakin dingin."

Chanyeol yang baru sembuh dari melongo terpananya, langsung cepat – cepat mengekor dibelakang Kris. Mengikuti langkah cowok itu menuju ke pelataran parkir.

Apa maksud pelukan tadi? Kris ini gimana sih? Bilangnya benci. Kalau begini caranya dia malah melambungkan mimpi Chanyeol semakin tinggi, kan!?

Akhirnya kebersamaan yang singkat namun fana itu harus berakhir lagi dengan sia – sia. Tanpa ada sepatah katapun yang terucap. Tanpa ada setitik perasaanpun yang terungkap. Bahkan di sepanjang perjalanan pulang, keduanya masih bungkam. Sesuatu dalam diri mereka terus bergemuruh. Memberontak untuk dibebaskan. Berteriak atas nama kejujuran. Namun dengan mulut – mulut yang terkunci rapat itu, seolah – olah menegaskan satu hal: Keduanya masih diselimuti keraguan. Chanyeol dengan angan – angan berharap akan ada kesempatan kedua, sementara Kris yang masih saja terjebak dalam dilemmanya.

"Chan."

Chanyeol menoleh dari kaca jendela, menatap Kris.

"Soal pelukan yang tadi itu…" Kris tarik napas dalam – dalam dulu, "Lupain aja. Sori. Tadi aku kelepasan."

What? Lupain? Enteng aja dia bilang gitu. Kenapa gak sekalian aja dia suruh Chanyeol jedotin kepala ke dasbor sampai benjol permanen? Biar amnesia sekalian!

Chanyeol cuma diem, mengeluh dalam hati.

Goddamnit! Bedebah ini malah bikin pikirannya tambah mumet.

.

.

TBC—

.

.

.

.

A/N: Maaf kalo agak lama. Heheh. Tadinya saya emang mau bikin sampai empat chapter aja, tapi karena jadinya kepanjangan lagi (T_T), jadi saya mutilasi menjadi dua chapter :D. Yang mau Review di chapter ini silahkan ^^.