Disclaimer: All character belong to Masashi Kishimoto. But this story purely mine. I don't take any profit from this work. It's just because I love it.
Warning: AU, miss-typo, OOC, another NaruSaku fic (NaruSaku saya pasangkan dengan pair lain dicantumkan karena tuntutan cerita. Jadi, jangan dibawa hati ya ;p). M just for safe.
And for all anti-NS, if you DON'T LIKE, I know you'll smart enough to DON'T READ
.
Come Hell or High Water
by LastMelodya
.
.
"It's so hard to pretend to be friends with someone special, when every time you look at that person, all you see is everything you want to have. -Unknown"
.
.
Chapter 4
Hujan deras yang turun tanpa disangka-sangka tadi, kini mulai mereda. Membawa aroma tanah basah yang menenangkan lewat embusan angin-anginnya. Sakura menatap rintikan kecil itu melalui jendela kamarnya. Suasana malam Konoha terlihat begitu jelas. Indah. Lampu-lampu yang menyala menghiasi kegelapan malam yang pekat. Cahaya kuningnya seolah menjanjikan kehangatan di antara udara dingin yang menguar. Ah, melankolis.
Sasori, Sasuke, dan Shikamaru sudah pulang sejak tadi. Sasori adalah yang terakhir pulang. Yeah, ciuman Sasori di kamar Naruto tadi masih membayanginya. Menyenangkan, memang. Hanya saja saat ia menyadari di mana mereka melakukannya tadi, tubuhnya merinding seketika.
Sebuah sedan biru tertangkap oleh emerald-nya yang meredup. Mobil itu memasuki gerbang apartemen dan berhenti tepat di halaman utama, tidak memasuki area parkir. Pintu kemudi terbuka, menampilkan sosok wanita berambut pirang pucat yang pernah ia temui saat acara pernikahan Tenten beberapa hari lalu. Sosoknya berlari ke arah pintu penumpang, membukanya dan dengan perlahan mengulurkan tangan untuk memapah seseorang yang berada di dalamnya. Seorang pria. Yang juga berambut pirang.
…ya, Naruto.
Naruto dengan senang hati menyambut uluran mesra wanita yang memapahnya itu. Ia berjalan agak sempoyongan—sepertinya mabuk. Mereka saling tergelak, tertawa bersama, tak menyadari sekitarnya. Dasar orang mabuk. Tak jarang si wanita mendekatkan wajahnya, mencuri ciuman Naruto. Membuat mereka saling berbalas ciuman sepanjang perjalanan masuk ke dalam apartemen.
Sakura menutup tirai jendela saat sesuatu yang terasa tak nyaman menyambanginya. Napasnya ia embuskan pelan, sembari menggosok-gosok kedua tangan demi menghalau rasa dingin yang tiba-tiba hadir. Jam di meja kamarnya telah menunjukkan hampir pukul duabelas malam. Hampir tengah malam. Mungkin, sebaiknya ia tidur.
Belum sempat Sakura merebahkan tubuhnya, ponselnya berdering. Tanpa melihat nama sang penelepon ia segera menempelkan alat itu ke telinganya.
"Halo,"
"Sakura-chan…"
Satu ucapan serak, dan itu mampu membuat Sakura melesat cepat melangkah keluar dari kamarnya menuju satu-satunya pintu utama yang berada di kamar apartemen itu.
…
Naruto berdiri di depan pintu apartemennya dengan wajah sayu dan aroma alkohol yang menguar kuat. Tubuhnya yang limbung hanya mampu berpegangan erat pada sisi dinding di sekitarnya. Membuat Sakura segera meraih tangannya dan memapah sahabatnya itu memasuki kamar apartemennya.
"Besok Ibu dan Ayah datang—hik. Aku—ugh, tidak bisa tidur di kamarku dengan keadaan—hik—seperti ini." Racaunya di antara langkah mereka. Sakura masih terdiam, membawa Naruto hingga sampai pada sofa besar di kamarnya. Gadis itu dengan telaten membuka jas Naruto (demi Tuhan, bahkan sahabatnya ini masih memakai jas kantornya!). Kemudian disusul dengan jari-jemarinya yang membuka dasi serta tiga kancing teratas kemeja Naruto.
"Aku akan membuatkanmu teh hangat, tunggu sebentar—"
"—tidak usah—hik—, Sakura-chan." Naruto menahan lengannya. "Aku mau langsung tidur saja."
Sakura menurutinya. Gadis itu menghela napas kemudian duduk di samping Naruto. Pria di sampingnya, dengan refleks, merebahkan tubuh. Menjadikan paha Sakura sebagai bantalannya. Matanya terpejam perlahan. Suara aneh yang dihasilkan pemuda itu karena terlalu mabuk juga menghilang perlahan.
Jemari Sakura bergerak pelan, menyusuri helaian pirang Naruto yang terasa lembut dan sedikit basah karena rintikan hujan. Pikirannya entah melayang ke mana. Kacau dan abstrak. Pekerjaannya, teman-temannya, ajakan kencan Sasori, ciuman panas pria itu, hingga sekelebat bayangan dua sejoli yang asik berciuman yang ia lihat dari balik jendela tadi.
Gadis itu dengan yakin mengira Naruto sudah terlelap pulas kalau saja ia tak merasakan sebelah tangannya yang bebas diraih seseorang di pangkuannya.
"Sakura-chan… jangan bilang Ibu dan Ayah kalau aku mabuk hari ini." gumamnya pelan. Tangannya memainkan jari-jemari Sakura dengan bebas.
"Memangnya sejak kapan aku menjadi si pengadu, eh?" Balasnya terkekeh kecil. Tangannya yang berada di helaian pirang Naruto terangkat untuk menyentuh sudut bibir pria itu—menghapus noda merah lipstick yang berada di sana. Hingga bersih. "Lagipula, aku, kan, sudah bilang padamu—"
"—ahhh aku tahu! Jangan macam-macam, ne? Tapi mana bisa aku menahan diri kalau tidak ada kau."
Senyum Sakura mengembang. Sahabatnya ini, benar-benar, deh…
"Omong-omong, besok bangunkan aku jam enam pagi. Aku benar-benar harus ekstra membersihkan diri sebelum Ibu dan Ayah datang."
"Kau tidak ke kantor?" Tanya Sakura cepat.
Naruto menggeleng. "Hm, sebaiknya aku menunggu mereka di apartemen saja."
Sakura hanya balas mengangguk-angguk. "Kalau begitu, seharusnya kita tidur sekarang. Berhenti mengajakku mengobrol, Naruto-baka!"
Naruto terkekeh pelan, mulutnya bergumam-gumam tak jelas. Kemudian mengadahkan kepalanya untuk menatap wajah Sakura di atasnya. Masih tersenyum geli, tangannya meraih pipi Sakura untuk dibelainya lembut. "Baik, baik. Terima kasih, my sugar. Kau sangat, sangat, baik sekali."
Sakura hanya mencibir singkat kemudian bangkit berdiri. Balas menepuk pipi Naruto pelan, ia berbisik. "Have a good sleep, my boy."
Keduanya, tanpa mereka sadari, menikmati perasaan hangat yang berdesir-desir di rongga dada mereka malam itu.
…
Saat Sakura bangun di pagi harinya, sosok Naruto sudah lenyap dari sofa kamar tidurnya. Gadis itu menghela napas lega, sedikit banyak bersyukur bahwa sahabatnya itu ternyata bisa bangun tepat waktu tanpa harus menunggu dibangunkan olehnya.
Jas abu-abu yang dipakai Naruto semalam masih tersampir di punggung sofa. Saat Sakura mendekat untuk mengambilnya, sebuah kertas kecil terjatuh ke lantai. Tepat di samping kaki kanannya. Membungkuk sejenak, ia mengambil secarik kertas tersebut, kemudian membaca tulisan di sana.
Terima kasih tumpangan sofanya (lagi),
you're very very nice bad girl I've ever met.
Dengan apa aku bisa membalasmu? Satu ciuman di bibir?
Bercanda ;p
ps: titip laundry-kan jasku, ya, Sakura-chan. Bau parfum
Shion membuatku mual. Ugh.
-ur hottest boy
Sakura terkekeh kecil. Dasar playboy sinting. Dalam rangka apa coba sempat-sempatnya ia mengucapkan terima kasih seperti ini? Mungkin karena efek bangun pagi yang membuat otak rusaknya kembali tersusun dengan benar untuk sementara.
Omong-omong, jadi yang semalam itu namanya Shion, ya?
Dasar Naruto brengsek, setelah mendapatkan apa yang ia mau, barulah ia berkomentar kalau parfum teman kencan semalamannya itu membuatnya mual. Kheh, ke mana saja fungsi indra penciumannya semalam? Ah, Sakura lupa, sepertinya indra penciuman Naruto saat berada bersama wanita itu semalam berpindah ke bibirnya.
Mendengus kesal, ia melemparkan jas itu ke tumpukkan baju kotornya.
Terkadang, ia merutuki kebiasaan Naruto itu. Tak bisa bertahan pada satu wanita. Tapi kemudian ia kembali merenung, bukankah ia juga sama saja?
Lalu, di lain waktu ia kembali merenungi hal lainnya, seperti, bagaimana kalau suatu hari ia menjadikan Naruto teman kencannya. Dan sebaliknya. Apakah semua terasa sama saja? Sama seperti kencan-kencan lainnya?
Tapi ada sebuah rasa di sudut hatinya yang tak menginginkan itu—menjadikan Naruto teman kencannya. Naruto itu … bukan seseorang yang ingin didapatkan, kemudian ia buang begitu saja. Tapi lebih kepada tipe seseorang yang ingin ia miliki seterusnya. Lihat saja, bertahun-tahun mereka bersama, dan keduanya tetap—eh, sebentar, apa yang dikatakannya tentang Naruto barusan?
Tipe seseorang yang ingin ia miliki seterusnya? Tunggu, kalimat itu terasa begitu ganjil! Sakura menggelengkan kepalanya sampai-sampai membuat helaian merah muda itu tersentak-sentak halus. Ada yang salah dengan otaknya, sepertinya.
Tidak. Maksudnya adalah Naruto adalah tipe sahabat yang ingin ia miliki seterusnya. Ya, sahabat. Just it.
Ya, benar. Pasti itu maksudnya, kan?
…
Langkah itu berjalan cepat, setengah berlari dengan kedua tangan penuh tentengan plastik-plastik putih khas swalayan. Barusan Ayahnya menelepon ketika Naruto tengah berada di supermarket apartemen, mengatakan kalau beliau sudah sampai di depan pintu kamarnya. Naruto meminta mereka langsung masuk saja, toh mereka juga memiliki kunci duplikasinya. Tapi Ayahnya mengatakan kunci itu tidak berfungsi dan menuduh Naruto mengganti kuncinya agar orangtuanya tak bisa masuk kapan saja. Ah, pasti kejadian itu lagi. Akhirnya ia meminta kedua orangtuanya menunggu sementara ia berlari menuju kamar apartemennya.
Naruto menggumam-gumam tak jelas saat kekhawatirannya terbukti. Dua sosok berbeda warna itu, tengah berdiri di depan kamar nomor 944. See? 944. Bukannya 947.
Menghela napas pelan, Naruto pun menghampiri mereka.
"Harus berapa kali kubilang kalau nomor kamarku itu 947 Ayah, Ibu..."
Keduanya menoleh, Kushina—ibunya, segera saja menghampiri dan mencubit lengan Naruto keras-keras—"aww! Sakit, Bu!"
"Anak nakal! Kau sengaja menipu kami dengan mengganti kunci, ya? Supaya Ibu dan Ayahmu ini kesulitan masuk, he?" Kushina masih tak melepaskan cubitannya, sedangkan Minato—ayahnya, hanya dapat ikut meringis melihat anak satu-satunya ini kembali terkena tindak kekerasan ibunya.
"Bu, kalian salah—"
"—mau alasan apalagi, hah? Cepat buka pintunya!"
"Duh, lepaskan cubitanmu dulu, Bu." Naruto mengujar memelas. Membuat Kushina mendengus dan akhirnya melepaskan cubitan mautnya.
Sungguh, terkadang Naruto merasa ibunya lebih ganas dari wanita-wanita korban cintanya.
"Nah, sekarang dengarkan aku dulu." Naruto berusaha menjelaskan, membuat Kushina hampir kembali menyela, namun ditahan Minato. "Bisa kalian lihat di pintu nomor berapa kalian berdiri?"
"944! Kau kira orangtuamu ini sudah buta?"
"Kushina…"
Naruto kembali menghela napas, oh benar-benar, "Ayah, Ibu, nomor kamar apartemenku itu 947, dan 944 itu nomor kamar Sakura-chan…"
Hening.
Kushina dan Minato kemudian menoleh, saling bertatapan. Sebelum akhirnya sebuah ringisan kecil muncul di bibir mereka. Keduanya memalingkan wajah ke arah Naruto dengan cengiran bodoh. "Ah, benar! Ini, kan, kamar Sakura-chan. Aha-ahahaha."
Naruto hanya memutar kedua bola matanya bosan sembari berbalik menuju pintu nomor 947 dan membukanya. Astaga, selalu saja seperti ini. Apa sulitnya, sih, membedakan 944 dan 947?
Pintu terbuka, membuat Kushina dan Minato segera masuk mendahului Naruto. Sekali lagi, ia hanya dapat menggeleng pasrah atas kelakuan Ayah dan Ibunya itu. Ah, untung saja tadi pagi ia sudah sempat berberes. Kalau mereka tahu seperti apa kamar Naruto sebelumnya, habislah riwayatnya.
"Nah, Ayah sudah menelepon Shizune untuk mengurus semua urusanmu. Jadi tugasmu hari ini adalah menemani kami berdua!" ujar Minato menghempaskan tubuh di sofa dan tersenyum lebar.
"Naruto, di mana kautaruh perlengkapan memasak Ibu?" Suara Kushina terdengar berteriak dari arah dapur. Naruto menghela napas dan melangkah menghampiri wanita tercintanya itu. Pria muda itu memeluk rindu Ibunya seraya mengecup kecil pipinya. Ah, walaupun galak, ternyata ia sangat merindukan wanita ini.
"Aku titipkan Sakura-chan. Huh, Ibu pasti tahu kalau ditaruh di sini hanya akan membuat alat-alat itu bulukan."
Kushina balas memeluk anaknya dan mengelus rambut pirangnya. "Dasar lelaki pemalas! Sepertinya ibu berhutang banyak pada Sakura-chan yang telah banyak membantumu untuk bertahan hidup." Katanya sambil tertawa.
Naruto mencibir, "hei, siapa bilang dia membantuku?" Yang diurisinya, kan, hanya pria-pria teman kencannya. Tambah Naruto dalam hati.
"Oi, oi, jangan asyik bermesraan begitu, dong. Kau tidak tahu kalau Ayahmu ini cemburu, Naruto?"
Kushina tertawa, dan malah memeluk Naruto semakin erat. Naruto pun ikut tertawa melihat wajah Ayahnya yang cemberut. Hatinya terasa penuh dan hangat. Untuk sesaat, ia merasa seperti anak kecil lagi. Melupakan seluruh pekerjaan serta beban-benan hidupnya yang lain.
Sungguh, hanya kedua orangtuanya yang dapat membuatnya merasa seperti itu.
…
"Okaeri, Saku-chan."
Sakura melepaskan Sasori yang barusan saja mencuri cium sudut bibirnya dan dengan terburu menoleh ke asal suara yang menyapanya. Seketika senyumnya merekah melihat siapa yang tengah berdiri di pintu seberang kamarnya itu.
Gadis itu menepuk pipi Sasori sekilas, mengujar, "terima kasih tumpangannya," kemudian mengedip tanpa mengacuhkan kode Sasori yang masih ingin berlama-lama dengan si gadis. Sakura malah mendorong bahunya lembut, tanpa kata mengusirnya secara halus. Pria itu pun dengan menghela napas berpamit undur diri. Sekilas mengangguk singkat pada seorang wanita yang menyapa Sakura tadi sebelum berlalu dan menghilang di ujung koridor.
"Bibi Kushina!"
Sakura melangkah mendekat ke arah wanita cantik berambut merah yang tadi menyapanya. Ah, sudah lama sekali ia tak bertemu dengan Ibu Naruto, yang sudah ia anggap seperti ibunya juga.
"Hai, hai, Saku-chan, adeganmu dengan pria tadi mematahkan hatiku sebagai calon mertuamu ini." Kushina mengerling jahil sementara tangannya dengan ringan memeluk Sakura dan mencium kening gadis itu. Senyum Sakura semakin lebar.
"Lihat saja sampai Naruto tahu apa yang Bibi katakan tadi." Candanya halus.
Kushina mengerutkan kening, "lho, memangnya kenapa? Bibi seratus persen yakin Naruto tidak akan menolak untuk menjadi suamimu."
Yeah, andai saja mereka tahu apa yang sudah anak lajangnya lakukan pada perempuan-perempuan sebayanya itu.
"Temani kami dulu, yuk, Sakura-chan."
Saat itu masih pukul tujuh malam, dan Sakura tak dapat menolak saat diseret masuk oleh Kushina ke dalam apartemen Naruto. Dirinya bahkan belum membuka pintu apartemennya sendiri, dan, oh, lihatlah penampilannya yang masih memakai outfit kantor lengkap dengan blazer dan rok pensil ketatnya.
Ketika ia masuk, yang dilihatnya pertama kali adalah punggung Naruto yang tengah berdiri di depan pantry bersama Ayahnya. Mereka terlihat tengah mendebatkan sesuatu, dan keduanya memakai celemek!
"Oh, jangan bilang kalau Bibi meminta mereka…"
Kushina tertawa pelan seraya menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tengah, mengambil remot televisi dan melambaikan tangan pada Sakura. "Hari ini biar para pria yang memasak. Kita tinggal bersantai menunggu masakan matang, Saku-chan. Kau belum makan, kan?"
Mau tak mau Sakura ikut tertawa. Ia ikut duduk di samping Kushina, meletakkan tas kerjanya kemudian melepas high heels yang masih dipakainya. Bukanlah hal baru lagi melihat tindakan konyol keluarga ini. Sungguh, di luar rumah mereka memang terlihat seperti orang-orang berkelas yang angkuh. Namun, jika sudah berkumpul di dalam rumah, sifat asli ketiganya memberi kombinasi konyol yang menyenangkan. Setidaknya, begitu pendapat Sakura. Kekonyolan mereka membuatnya nyaman.
"Omong-omong, Ibu dan Ayahmu titip salam untukmu." Kushina berujar lembut seraya menatap Sakura. Rambut merah panjangnya semakin terlihat indah jika dipandang dari dekat.
"Ah, aku rindu mereka…"
"Mereka pun juga, Sayang. Mereka sangat ingin mengunjungimu, tapi butik sedang ramai-ramainya, lho."
Sakura mengangguk, "hm… Ibu juga cerita ditelepon. Setidaknya, kami masih selalu memberi kabar lewat telepon."
Kushina hanya balas mengangguk, mengingat dirinya masih lebih beruntung karena bisa mengunjungi Naruto lebih sering. Sedang Mebuki dan Kizashi—orangtua Sakura, mungkin hanya bisa mengunjungi Sakura tak lebih dari tiga kali setahun.
Suara berisik yang terdengar dari pantry tiba-tiba saja terdengar mendekat. Naruto dan Minato telah selesai dengan kegiatannya. Keduanya sudah melepaskan celemek mereka, meninggalkan kaus oblong hitam beserta celana pendek yang dipakai Naruto, dan kaus putih serta celana bahan yang dipakai Minato. Mereka terlihat begitu santai dan nyaman.
"Wah, wah, kita kedatangan tamu spesial! Tetangga spesial!" Minato berkata dengan semangat, membuat Sakura tak dapat menahan tawanya. Ia akhirnya membantu Kushina menyiapkan makan malam mereka, dengan menu spesial ala Naruto dan Ayahnya.
Tanpa menyadari Naruto yang sedari tadi menatapnya.
…
"Aku menemukannya di kamarku pagi tadi. Jadi, jelaskan."
Sakura tak ingin balas menatap Naruto meskipun dirinya merasakan tatapan tajam pemuda itu yang diberikan padanya. Saat ini, mereka tengah berada di beranda kamar apartemen Naruto, disapa dengan angin-angin yang berembus pelan menerbangkan helaian rambut mereka. Lagi-lagi Konoha terlihat begitu indah dari atas sini. Menyenangkan saat memandangnya.
"Kau bukan sedang menuduhku melakukan macam-macam, kan, Naruto?" balas Sakura dengan suara kecil, masih enggan menatap netra biru safir lawan bicaranya itu.
Terdengar suara helaan napas terumbar, lalu, "kau tahu aku memercayaimu lebih dari apapun, Sakura-chan. Aku hanya ingin tahu apa yang kau lakukan di kamarku."
Ia baru saja menyelesaikan makan malamnya tadi saat Naruto telah lebih dulu menariknya ke beranda ini. Wajahnya tak tersirat seperti biasa, dan tiba-tiba saja pria itu menyodorkan benda yang selama ini terus terpatri di lehernya. Sebuah kalung. Kalungnya!
"Pertama, aku menemukan kalung ini di atas tempat tidurku, kedua, gitarku yang selalu kutaruh di sudut kamar juga berada di atas tempat tidur, dan ketiga, sepraiku berantakan…"
Oh, shit. Apa yang harus ia jelaskan pada Naruto? Bercumbu dengan Sasori di kamar sahabatnya itu? Tidak, tidak. Bahkan Naruto sendiri tak pernah membawa perempuan ke kamarnya sendiri, setahunya. Lagipula, mengapa ia bisa tak sadar bahwa kalungnya terlepas dari lehernya? Err… mungkin tangan Sasori terlalu kasar menyentuh lehernya saat itu.
"Aku sedang mencari daftar buku telepon kantormu, bermaksud menelepon karena teman-teman Sunset-mu tak bisa menghubungi ponselmu. Mungkin kalungku terjatuh saat itu." Sakura menelan ludah. Yaaa, ia juga tak ingin berbohong, sih.
"Lalu, gitar itu? Seingatku kau tak bisa main gitar, dan tak tertarik untuk menyentuhnya barang sebentar, Sakura-chan…"
Helaan napas, "Tiba-tiba Sasori datang, dan tiba-tiba juga ia ingin menyanyikan lagu untukku…" Tambahnya pelan. Untungnya, Naruto tak dapat melihatnya yang kini tengah menggigit lidah.
"Begitu,"
Ada keheningan yang cukup lama setelah itu. Sakura sibuk dengan perasaan bersalahnya—yang bahkan ia sendiri tak paham mengapa harus merasa bersalah. Sedangkan Naruto, pria itu tengah menahan sesuatu dalam dirinya, juga berbagai persepsi yang kini menghantui pikirannya. Sungguh, rasanya tak nyaman.
Tiba-tiba Naruto beringsut memosisikan diri di belakang Sakura. Helaan napasnya terasa di tengkuk gadis itu yang terbuka. Tubuhnya mendekat, sampai-sampai bahunya sedikit menyentuh punggung kecil Sakura.
"Aku tak pernah mempermasalahkan dengan siapa kau berkencan, Sakura-chan…" tangannya terulur ke depan, memperlihatkan sebuah kalung perak yang mengilat di antara temaram lampu berandanya. Dengan telaten, ia pasangkan kalung itu pada leher Sakura, "hanya saja, Sasori itu terlalu liar untuk kaujadikan mainan," katanya lagi, "angkat rambutmu."
Sakura mengangkat helaian rambutnya, memudahkan tangan Naruto yang tengah memasangkan kalungnya. Dan, hap, terpasang sempurna. Sedetik, kulit lehernya meremang.
"Intinya, berhati-hatilah dalam bermain, my sugar." Dada Sakura berdebar kencang saat tubuh Naruto di belakangnya semakin merapat, dan pria itu mengecup pipinya dari belakang. "Aku cuci piring dulu, ya."
Dan tarikan magnet itu segera menghilang dengan cepat, bersamaan dengan detakkan jantungnya yang kembali normal saat Naruto beranjak pergi.
Sungguh, ini bukan kali pertama Naruto mencium pipinya seperti itu. Hanya, saja, seperti ada yang berbeda.
Bahkan ia tak bisa membedakan debaran hatinya, karena takut tertangkap basah Naruto kalau ia dan Sasori bercumbu di kamar sahabatnya itu, atau karena hal lainnya yang bahkan masih belum ia pahami.
.
.
To be Continued
.
.
a/n: sebenarnya, saya ingin bikin Naruto dan Sakura di sini bad boy dan bad girl total, tapi kayaknya nggak jadi, karena ada beberapa yang protes dan nggak enak juga kalau slight mereka dengan pair lain terlalu banyak :') Dan untuk yang khawatir Naru/Saku sudah lebih dulu berhubungan intim dengan orang lain, tenang saja, ya. Mereka aman wihiiiy. Saya memakai kata ganti 'gadis' untuk Sakura di sini juga ada alasannya ;p
Thank youuuu to: Riela nacan (kalo di kamar saku malah lebih ribet nanti :') thanks yah!), Kei Deiken (bukan naru doang kok yg udah mulai 'konek' ehehe. Btw thanks sarannya yah ;D), Ae Hatake (wah saku ganas yah xD makasih RnR-nya :D), chitay narusaku (ahaha masa sih panas? xP thanks yah!), Namikaze KahFi ErZa (duh, permintaan sulit :') btw makasih udh RnR ya!), katsumi (tenang, mereka aman ;) makasih RnR-nya, gomen, I really can't writing about Hinata on my fict :)), Luluk Minam Cullen (thanks udah RnR^^ hihi semoga setelah ini gak akan sering kissing sama pair lainnya #semoga :'3), Guest (:''3), Sakurazawa Ai (terima kasih banyak^^ ini udah kulanjut ya!), MysteriOues Girl (maaf kali ini gak lebih cepat dari kemarin u,u btw makasih sudah RnR^^), ohSehunnieKA (ah, terima kasih banyak ya^^ makasih sudah RnR^^), harunami56 (haha maaf juga kalo mengecewakanmu :') btw makasih sudah RnR^^), zeedezly clalucindtha (wah, syukurlah kalo suka :'3 makasih banyak sudah RnR!^^) , Reina Murayama (ahaha makasih yaa. Bagian Naru-nya Cuma bisa dikit doing nih hehew ^^v), nona fergie kennedy (ahhh kita samaaa xD jadi terharu :') lol. Bibir mereka emang udh lama gak perawan kok :') tapi tenang, bagian 'yang lain' masih utuh :') wkwk. Makasih ya^^), Coccoon (wah terima kasih banyak ya!^^)
Mind to give me some feedback again? RnR? :3
LastMelodya
