MASK
"Semua orang memakai topeng untuk kau cintai.
Jika kupakai topeng burukrupa, akankah kau mencintaiku?"
.
.
CHAPTER 4
.
.
.
.
Chanyeol yang sedang tidak ada jadwal untuk pergi kuliah, sekarang sedang bersantai di depan televisi dengan cemilan di pangkuannya. Namun, tiba-tiba toples berisi cemilannya yang tinggal setengah berubah menjadi kepala manusia lengkap dengan rambut hitam yang menjuntai panjang.
"Minggir, Kyung... Kepalamu berat!" pinta Chanyeol lembut lalu mengambil kembali toples cemilannya yang disingkirkan Kyungsoo. Kyungsoo bebas keluar masuk apartemen Chanyeol. Mungkin jika Luhan sudah muak hidup dengannya, ia bisa lari ke apartemen Chanyeol yang siap menampungnya kapan pun.
Kyungsoo malah asik memandangi wajah Chanyeol dari bawah. Menggosok-gosok dagu Chanyeol dengan tanganya sambil terkekek bahagia. "Aku tidak tau pria sebersih dirimu. Sampai tak ada satu pun bulu berani muncul disini." Chanyeol tak menanggapi malah asyik dengan layar televisi.
"Kau bangun jam berapa?"
"Baru setengah jam yang lalu"
"Bararti kau belum mandi seharian ini. Ayo mandi bersama! Setelah itu temani aku ke kantor appa-ku."
"Oke, tapi kali ini giliramu menggosok punggungku"
"Laksanakan, Sir!"
Dengan air hangat yang hampir meluap karena ada dua orang dewasa yang berendam disana. Kyungsoo dengan semangat menggosok punggung yang lebarnya dua kali lipat dengan punyanya. Sedangkan Chanyeol kelopak matanya setengah mengatup karena terlalu menikmati.
"Aiigooo! Dakimu banyak sekali, Park! Pasti tidak ada yang mau membersihkan punggungmu selain aku"
"Ibuku mau" sahut Chanyeol.
"Ibumu pasti terpaksa! Ayo buka ketiakmu, biar ku bersihkan sekalian." Chanyeol hanya menurut saya mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Sambil memencet hidungnya, Kyungsoo menggosok bagian ketiak pemuda jakung yang sialnya hanya temannya.
"Nah sudah wangi sekarang!" Kyungsoo berdecak senang akan hasil pekerjaannya.
"Terima kasih" ucap Chanyeol manis. "Sekarang gantian"
Chanyeol membalik tubuh Kyungsoo. Mengambil spons dan menuangkan sabun cair milik Kyungsoo sendiri. Chanyeol memang menyiapkan alat mandi yang bisa Kyungsoo pakai dan tentu sesuai selera Kyungsoo.
Aroma coklat yang manis menguar di seluruh sudut kamar mandi. Chanyeol mulai menggosok punggung Kyungsoo dengan pelan. Kulit perempuan lebih tipis bukan, ia harus hati-hati.
Chanyeol masih dapat melihat bekas percintaan Kyungsoo dengan pemuda yang tak di kenalnya. Masih tersisa samar-samar di punggung Kyungsoo. "Kenapa masih ada? Padahal sudah satu minggu lebih." Reflek Kyungsoo meraba punggungnya sendiri.
Rasa sedih menggerogoti hati Chanyeol. Ia menghentikan gosokannya. Melingkarkan tangannya ke bahu sempit yang ada di depannya. Kyungsoo memberikan tepukan pelan pada tangan Chanyeol, "Aku tidak apa-apa."
"Jangan melayaninya lagi. Ahh tidak, jangan menemuinya lagi." koreksi Chanyeol dengan penekanan. Dagunya menyender di bahu Kyungsoo. Lalu memberikan kecupan di bahu putih itu.
Kyungsoo merasa hatinya menghangat mendapat perlakuan tersebut. Sambil tersenyum simpul ia berkata, "Jika setiap hari seperti ini. Aku ingin hidup denganmu, Chan!." Chanyeol mempererat pelukannya. "Kau boleh hidup denganku tapi di kehidupan selanjutnya saja."
Kyungsoo tertawa mendengar jawaban dari Chanyeol. "Jangan-jangan kau sudah punya kekasih, hingga sampai hati menolakku" goda Kyungsoo membalik tubuhnya menghadap Chanyeol.
Chanyeol menggeleng. "Belum, mungkin nanti. Sekarang ini, kau masih jadi prioritasku."
"Sadar atau tidak kau ini berbakat merayu perempuan."
"Sayangnya aku tidak suka mereka dan aku tak akan merayu mereka. Kecuali terdesak." Imbuh Chanyeol memandangi tubuh Kyungsoo yang tidak terendam air.
"Ayo aku bersihkan lagi, setelah itu kita obati bekas gigitan itu. Kau ini bercinta atau bertarung dengan vampir? Kau bukan bella, Kyung!" caci Chanyeol.
"Terima kasih, mau ku beri hadiah setelahnya?" balas Kyungsoo menatap genit ke pangkal paha Chanyeol yang terendam air. Chanyeol langsung menatap garang, "Tolong, jangan merendahkan dirimu sendiri!"
"Bercanda, kapten!"
Acara mandi mereka lebih lama dari yang seharusnya. Ketika matahari terbenam mereka baru selesai berpakaian. Setelah membantu mengeringkan rambut Kyungsoo, Chanyeol menghidupakan mesin mobilnya siap melaju ke kantor Kepolisian tempat ayah Kyungsoo bekerja.
Di luar gedung para orang-orang berseragam kepolisian berlalu lalang. Beberapa membungkuk hormat atas kedatangan Kyungsoo. Salah satu rekan kerja ayahnya datang menghampirinya sambil menyapa dengan sopan, "Nona Do, mencari appamu?"
"Ya, apa appa ada di kantor atau bertugas di luar?" tanya Kyungsoo jujur, ia tidak tau jadwal appa-nya sendiri.
"Beliau ada di dalam."
"Oh baiklah...aku akan menemui appa dulu."
Tidak sulit mencari ruangan ayah Kyungsoo. Chanyeol hanya heran semua orang disini sangat menghormati Kyungsoo dan Kyungsoo bersikap sangat sopan. Berbanding terbalik saat di kampus. Menyapanya saja tak ada yang sudi kecuali Luhan.
Ketika ruangan di tutup, Kyungsoo yang Chanyeol kenal kembali. BRAKKKK! Gebrakan keras ke meja kerja ayahnya. Beruntung Tuan Do maupun perempuan yang ada di pangkuannya tidak mempunyai penyakit jantung.
"Appaaa!" teriak Kyungsoo. Membuat perempuan tadi turun dari pangkuan dan membenarkan bajunya. Lalu memohon ijin untuk keluar dulu, nampaknya ia tak mau ikut campur pertikaian keluarga ini. Chanyeol bergidik ngeri sesaat bukan karena teriakan Kyungsoo, tetapi mendapat kedipan dari wanita tadi.
"Apa appa mengajarimu masuk keruangan orang tanpa mengetuk pintu dulu?" tanya Tuan Do sama marahnya.
"Ingat appa! Appa masih berstatus suami orang! Tolong jika kalian begini, lebih baik kalian bercerai saja! Aku – anak Appa muak melihat kalian berdua mempunyai selingkuhan masing-masing –"
"Setidaknya jadilah keluarga normal pada umumnya. Jangan begini appa!"
"Kau masih kecil tidak mengerti urusan dewasa. Kyungsoo kau harus belajar sopan santun setelah ini. Kerena kenalan appa ada yang meminangmu"
Kyungsoo melotot lebar. Jadi ini kenapa appa-nya tiba-tiba tidak ada angin tidak ada hujan memanggilnya. "App –"
"Tidak ada penolakan. Belajarlah jadi wanita terhormat, soo-ya! Appa sudah capek mendengar laporan anak buah appa bahwa kau sering ke club dan membuat masalah di kampus. Harus ada yang merubahmu."
"Atau kau akan menikah dengan pemuda di belakangmu?" Tuan do memandang Chanyeol yang berdiri di belakang Kyungsoo. Chanyeol sendiri jadi gelagapan karena masuk dalam pembicaraan.
"Maaf, Tuan Do. Saya hanya teman Kyungsoo. Saya merasa kurang pantas bersanding dengan putri Anda. Saya setuju jika Anda menjodohkannya." Sahut Chanyeol menolak secara sopan.
"Chan~!" rengek Kyungsoo. Chanyeol menggeleng keras. Lalu mengangkat tangan kanannya, memberitahu bahwa ia ingin bicara lagi. "Permisi, bolehkah aku ke kamar mandi?" mendapat anggukan dari Tuan Do, Chanyeol langsung ngacir pergi ke toilet terdekat.
Toilet sedang sepi. Chanyeol yang agak kurang suka buang air menggunakan urinoir karena malu. Dirinya lebih suka menggunakan closet di dalam bilik. Tapi karena sepi dan keburu kebelet akhirnya ia menurunkan zippernya. Mengeluarkan miliknya yang sudah tak bisa menampung urin lebih banyak lagi.
Di saat akan memasukan miliknya kembali ke celana, benda mengkilat dan terasa dingin menyentuh lehernya. Tubuh Chanyeol langsung kaku. Hell, setidaknya biarkan ia memasukan kejantanannya dan merapikan celananya terlebih dahulu.
"Jangan berteriak!" sebuah suara berdengung tepat di telinga Chanyeol. "Aku memang tidak akan berteriak tapi tolong biarkan aku membereskan bagian bawahku dulu. Ini sungguh tidak sopan." Balas Chanyeol.
"Tidak usah." Pria yang menodong Chanyeol dengan pisau itu melirik milik Chanyeol yang lemas usai menunaikan tigasnya. "Lumayan"
"Hey, bung! Aku bisa mendengarmu!" ucap Chanyeol tak terima.
"Kau tidak takut padaku?"
"Apa kau lupa ini toilet kantor polisi?"
Pria itu tertawa sebentar. "Kau benar..." ucapnya dengan tangan sudah ada di kejantanan Chanyeol lalu mengelusnya pelan.
"Ngghhh...tolong singkirkan tanganmu! Itu tidak sopan. Sudah kubilang biar ku masukan dulu jika milikku mengganggumu."
Pria menurunkan pisaunya dan melepaskan milik Chanyeol. "Ngomong-ngomong temanmu cantik dan manis. Kita akan bertemu lagi nanti. Bye!"
Ketika Chanyeol menengok ke belakang, pria itu sudah keluar kamar mandi. Namun ia masih dapat melihat samar. Memakai jaket kulit hitam dan topi hitam, tingginya setara dengannya atau mungkin lebih tinggi. Chanyeol tidak yakin. "Uhhh...mengganggu saja. Hey, kau! Kenapa kau jadi tegang?"
Sementara itu Kyungsoo keluar dari kantor appa-nya sambil mengentak-hentakan kakinya kesal. "Mengapa kau tak membantuku yak Park Dobi?" seru Kyungsoo ke arah Chanyeol yang sudah duduk manis di kap mobilnya.
"Aku bisa apa?" tanya Chanyeol balik sambil membukakan pintu mobil untuk Kyungsoo. "Ayo pulang! Besok kau ada jadwal pagi bukan?"
Selama perjalanan Kyungsoo diam saja tanpa bertanya atau mengoceh apa pun. "Kau jadi di jodohkan?" tanya Chanyeol hati-hati.
"Iya, jika tidak aku akan di kirim ke luar negeri. Ikut dengan eommaku nantinya. Eommaku sebenarnya sudah setuju bercerai tapi appa...Appa tidak mau karena ini menyangkut nama baiknya di kepolisian. Appa juga akan naik jabatan. Untuk itu dia tidak mau cerai sekarang dan menggertakku. Menjodohkanku, yang benar saja"
Chanyeol diam saja. "Chan!" panggil Kyungsoo. "Kau melamun?"
"Ahh...tidak. Aku hanya fokus menyetir. Kupikir lebih baik kau ke luar negeri saja, cari pria luar. Siapa tau seleramu pria barat. Ngomong-ngomong apa kau tau kasus yang sedang di urusi appamu?"
"Kejahatan yang di lakukan sebuah kelompok. Geng, entahlah aku tidak tau menyebutnya bagaimana. Ada apa?"
"Tidak. Aku hanya bertanya. Sebaiknya setelah ini kau harus hati-hati. Siapa tau mereka juga mengincarmu. Kau mau turun kuantar kemana? Apartemenku?"
"Apartemenku saja"
.
.
MASK
.
.
Kali ini Jongin menjemput Luhan di apartemennya. Hari ini adalah acara ulang tahun Sehun. Khusus di adakan untuk teman-temannya saja. Luhan harus disana sebagai hadiah untuk Sehun. Beruntung, di pesta tersebut appa Sehun tidak ikut campur. Jadi Luhan boleh keluar masuk seenak bokong Sehun. Namun, naasnya Jonginlah yang di beri amanah menjemput tuan putri.
Di dampingi bodyguard baru Jongin. Yang dengan setia berdiri tegap dengan stelan jas rapi. Setelah berdiskusi dan berdebat panjang dengan appa-nya. Kali ini hanya satu bodyguard. Wanita, pula. Xiumin, namanya. Mereka bertiga sudah memasuki lift menuju lantai paling bawah tempat mobil Jongin terparkir.
"Oh tidak...aku lupa tas-ku" ujar Luhan baru ingat tas-nya masih tergeletak di ranjang. Jongin melirik jam tangannya. Pukul 20.55. Tidak ada waktu lagi. Sehun juga sudah menelponnya berkali-kali beberapa menit yang lalu.
"Tolong antar Luhan, Xiumin-ssi! Aku akan mengambil tasnya" perintah Jongin.
"Tapi tuan Kim Jongin – "
Jongin keluar lift seraya berucap menenangkan bodyguard-nya yang baru. "Jangan cemas. Aku bisa jaga diri. Nanti aku menyusul. Jaga Nona Luhan okey?" Jongin berdadah-dadah ria.
Jongin kembali ke apartemen Luhan berbekal password yang Luhan berikan cuma-cuma. Putra perdana menteri tidak mungkin berbuat kejahatan di apartemennya, begitu pikir Luhan.
Disamping itu Kyungsoo sudah di apartemennya dengan selamat. Sekarang ia sedang mencuci muka dan mengganti bajunya dengan dress ketat di kamar mandi. Bersiap untuk kembali ke hidupan malamnya.
Jongin yang mendengar suara air, mencoba mengetuk pintu kamar mandi. "Permisi, maaf jika aku tidak sopan. Luhan meninggalkan tas-nya di kamar. Bisa kau tunjukkan kamarnya?"
Kyungsoo menghentikan acara cuci mukanya. Merasa tidak asing dengan suara itu. "Nuguseyo?"
"Kim Jongin."
Kim Jongin. Ucap Kyungsoo dalam hati. Apa Tuhan sedang mempermainkannya. Apa ini balasan karena mencium seorang pendeta suci. Suho tidak sesuci itu ngomong-ngomong. Atau karena berani-beraninya dirinya tidur di gereja yang harusnya untuk berdoa.
"Luhan sekarang dimana?" Kyungsoo menyahut tampa membuka pintu kamar mandi.
"Dia sedang menghadiri pesta ulangtahun kekasihnya."
"Kekasihnya yang mana? Bukankah kau kekasihnya?"
"Si albino Sehun lah. Yang mana lagi...Eh, tunggu! Aku bukan kekasihnya, nona teman apartemennya Luhan."
"Benarkah?"
"Cukup, nona yang terhormat. Aku hanya perlu tau dimana kamarnya lalu mengambil tas dan pergi dari sini." Ujar Jongin mulai kesal.
"Kau masuk saja ke kamar yang ada gambar hello kitty-nya"
"Baiklah, terima kasih."
Kyungsoo mulai menguping. Menentukan waktu yang tepat untuk keluar dari kamar mandi. Kim Jongin tak boleh melihatnya. Walaupun fakta baru bahwa ia bukan kekasih Luhan tapi ia tidak mau berhubungan lagi dengannya. Terutama karena ia sudah janji dengan Chanyeol, ia tak mau Chanyeol khawatir lagi.
Jongin menemukan tas yang dimaksud di ranjang Luhan. Lalu ia segera menelpon Sehun. "Luhan sedang dalam perjalanan. Aku sedang mengambil tasnya yang ketinggalan. Iya...iya...lama-lama ku cabut ijin usaha perusahaan appa-mu jika kau bawel terus, albino!." Mata Jongin menangkap sesuatu yang menarik perhatiaannya. Bingkai foto yang ada di meja Luhan. Bukan foto dirinya, Sehun dan Luhan. Tetapi foto Luhan dengan gadis bermata bulat yang tersenyum manis membentuk hati.
"Bentuk hati. Senyum. Hati. Senyum..." ucap Jongin berulang-ulang. Ia mengangkat tangan kanannya menutupi separuh wajah foto gadis itu. Seketika senyum mereka di wajah tampannya. "Tuhan sedang berbaik hati padaku!"
"Sepertinya aku akan telat nanti. Jangan menungguku! Dah albino jelek!" ucap Jongin mengakhiri teleponnya. Kemudian ia berjalan ke pintu. Membuka pintu lalu menutupnya kembali. Seolah-olah dirinya sudah pergi. Satu tikus terperangkap dalam jebakannya.
Mendengar suara pintu depan apartemennya terbuka lalu tertutup terkunci kembali. Kyungsoo bisa bernafas lega keluar dari kamar mandi.
Pintu kamar mandi terbuka. Seorang gadis berdress ketat keluar dengan santainya. Melenggang melewati ruang tamu menuju kamarnya. Jongin melipat tangannya di dada sambil berdehem sekenanya, "Ehemmm...permisi nona, aku hanya ingin berpamitan. Jadi aku menunggumu keluar."
Kyungsoo berhenti di tempat. Seperti video yang tiba-tiba di pause. Namun segera ia merubah dirinya setenang mungkin. Tenangkan dirimu, soo-ya...dia tidak tau wajahmu. Dengan cekatan ia mengambil jaket entah miliknya atau Luhan yang kebetulan tersampir di punggung sofa. Mencoba menutup dress-nya yang minim.
"Maaf sudah seenaknya masuk ke apartemenmu, nona –" Jongin sengaja mengantung kata-katanya sambil menaikan sebelah alisnya. Menunggu sebuah nama untuk ia ingat.
"Kyungsoo" jawab Kyungsoo tegas. Bagaimana pun cepat atau lambat Luhan akan memberitahukan namanya. Jadi daripada ketauan berbohong nantinya lebih baik mengaku dengan nama asli.
"Kalau begitu aku permisi dulu, nona Kyungsoo!" Jongin undur diri melangkah yakin keluar dari apartemen Kyung-Lu.
Kyungsoo memegangi dadanya sambil menarik nafas berat dan panjang lalu menghembuskannya sekuat tenaga. "Oh God, Kenapa orang itu selalu membuat hidupku tidak tenang!"
Diam-diam Jongin menunggu di club. Kyungsoo berpakaian minim tadi tentu tujuannya adalah ke club. Dirinya penasaran bagaimana gadis itu bekerja. Apa ia juga akan melayani pria selain dirinya? tidak boleh, itu tidak boleh terjadi. Ia harus mengecek sendiri.
Siluet Kyungsoo dengan dress yang ia gunakan tadi lengkap dengan topeng mulai terlihat di antara kerumunan. Jongin masih ingat benar baju itu. Wajah Jongin jadi panik ketika Kyungsoo bersama pria mulai menepi ke sofa di sudut ruangan.
"Tenangkan dirimu, kawan! Memang itu yang dilakukannya selama ini" jelas Chen yang melihat gelagat panik dari Jongin.
Pandangan Jongin tak bisa lepas dari Kyungsoo yang bersimpuh di lantai. Membuka celana pria yang duduk di depannya. Mengeluarkan kenjantanan pria itu lalu melahapnya layaknya permen manis.
"Aku tidak pernah seperti ini. Aku kesal dan terangsang secara bersamaan. Ini membingungkan," keluh Jongin mengungkapan perasaannya.
"Apa dia jalang juga?" Jongin bertanya dengan polosnya kepada Chen. Chen hampir saja ingin mengumpat tapi urung ia lakukan mengingat masih sayang nyawa. "Ya kasarannya begitu. Jika tidak, ia tidak akan melayanimu, bod- Tuan...hehehe"
"Berapa penghasilannya sehari?" tanya Jongin lagi seperti wartawan televisi yang menggrebek bisnis gelap.
" Tergantung kondisi... ." Chen berpikir sebentar lalu berkata lagi, "Minimal satu juta won. Mungkin sekitar itu."
"Apa tak ada pekerjaan lain? Maksudku aku sudah memberikannya banyak uang kemarin, kenapa ia masih saja melakukannya?"
"Kau tanya saja sendiri. Sudah ku bilang dia gadis gila." Balas Chen acuh.
Kyungsoo sedari tadi sedang melakukan tugasnya. Merasa tidak fokus karena ada gadis baru disini. Sesekali ia melirik ke gadis itu. Topengnya belum ada nomornya, artinya ia baru disini atau kemungkinan lainnya ia tamu biasa. Namun melihat pakaiannya yang menggunakan kemeja putih kebesaran tanpa dalamanan. Tanpa di kancing, kancingnya hilang entah kemana. Hingga tangan mungilnya menggenggam erat kemajanya berusaha menutupi tubuhnya.
Duduk di kawal pria berstelan jas rapi. Wajah menunduk. Tubuh gemetran dan gerakan halus yang menadakan ia ketakutan. Kyungsoo yakin ia di jual bukan menjual dirinya sendiri. "Kau penasaran dengannya?" tanya pria yang duduk di hadapannya.
Kyungsoo melepas kulunannya. Mengambil tisu, membersihkan sisa-sisa cairan yang tercecer. "Tuan mengenalnya?"
"Ia sudah ada disini sejak kemarin. Kau pasti tidak datang kemarin" tebak pria itu. Kyungsoo mengangguk."Kabarnya tarifnya sangat mahal karena masih sangat muda. Banyak yang mengantri kemarin bahkan hari ini."
"Tuan juga ikut mengantri?" tanya Kyungsoo penasaran.
Pria itu tertawa, "Tidak. Aku tak punya uang sebanyak itu dan aku tidak tega. Aku punya putri yang seumuran dengannya." Kyungsoo mengangguk sekenanya lalu berbalik untuk memasukan uang yang ia dapat ke dalam tasnya yang ada di meja.
Ketika ia berbalik lagi tuannya tadi sudah berganti orang."Aku juga mau..."
"Kau – ." Dari balik topeng Kyungsoo melotot tajam. Bukankah ia ke pesta bersama Luhan dan kekasihnya. Apa dia mencoba membohongiku?
"Kenapa? Kau tidak boleh menolak rejeki"
Kyungsoo menghela nafas sebentar. Entah dia membohongi tentang pesta atau karena ia gembira sudah tau identitas dirinya. Otak Kyungsoo berkutat tentang dua hal tersebut. "Sudahlah... berhenti berpura-pura. Aku tau kau sekarang mengenalku. Aku teman Luhan, harusnya kau merasa tidak enak hati karena memakaiku. Bukannya malah duduk di hadapanku minta di layani."
"Aku tertarik denganmu" balas Jongin singkat.
"Aku juga tertarik denganmu," ucap Kyungsoo lembut. Jongin menyunggingkan senyum mendengarnya." Tapi... ketertarikan bukan yang utama bagiku saat ini. Aku bukan anak muda lagi yang di penuhi perasaan menggebu-gebu."
Seketika senyum Jongin luntur."Jadi kau pikir aku seperti anak muda?"
"Ya...jika tidak kau tidak mungkin mengikutiku kemari. Kau akan menyusul Luhan ke pesta dan menjabat tangan kekasih Luhan yang sedang berualang tahun. Lebih-lebih kau membawa sekotak kado untuknya."
"Luhan sudah dengan pengawalku dan Sehun...aku bisa memberikannya kado lain kali. Toh dia tak akan peduli."
Drrrtttt...drrrrtttt... handphonenya menyala dan bergetar hebat dari dalam tas Kyungsoo di meja. "Maaf, aku akan menerima telepon dulu..." Kyungsoo memalingkan wajahnya ke samping sambil mengangkat teleponnya.
"Bagaimana bisa, ahjussi? Baik...baik...aku sudah mengirim uang mukanya bukan? Ahjussi tidak boleh melakukannya. Aku akan lunasi akhir bulan ini. Jangan menjual tanah itu ke orang lain. Apa?! tidak bisa?Yakkk!"
Jongin yang mendengarnya langsung merebut handphone dari tangan Kyungsoo. Kyungsoo mencoba merebutnya kembali tapi tangan Jongin siap menangkis tangan Kyungsoo yang tak mau diam. "Tulis saja rekening Anda dan sisa yang harus nona ini bayar. Lalu kirim ke nomor telepon ini."
Tak butuh waktu lama Jongin melihat pesan masuk berisikan nominal uang dan deretan angka rekening. Ia mengambil handphonenya sendiri dari saku lalu mentransfer sejumlah yang diminta. "Selesai," seru Jongin sambil mengembalikan handphone Kyungsoo. "Apa kau membeli vila?"
"Semacam itu. Berapa nomor rekeningmu? Aku akan mengembalikan uangmmu. Aku tidak mau masuk kelingkaran setan, merasa berutang terus padamu."
"Aku tidak menganggapmu berutang."
"Aku tidak bodoh, Jongin-ssi.." ujar Kyungsoo dengan nada tinggi.
"Jongin saja. Jangan pakai embel-embel ssi. Aku merasa seperti orang asing dan aku tahu benar kau tidak bodoh. Jadi seharusnya kau tahu apa yang kuinginkan."
"Aku tidak mau. Jangan memaksaku. Jika kau tak memberikan nomor rekeningmu, aku bisa menanyakannya ke Chen."
Jongin langsung menarik dan menyentak tangan Kyungsoo, hingga tubuh Kyungsoo terlempar ke sofa. Jongin sudah sigap mengukungnya dan menahan tangannya di lengan sofa. "Aku tidak memaksamu."
Kyungsoo melempar tatapan nyalang sambil berseru, "Jelas-jelas kau memaksaku!"
Jongin mengeluarkan smirk-nya. "Kita lihat ini paksaan atau kenikmatan." Ia pun mulai mencium pelan bibir hati merekah di hadapannya. Seolah-oleh bibir itu memanggilnya untuk segera di jelajahi. Kyungsoo yang sebenarnya suka sensasi bibir plum yang kenyal itu, tidak bisa menolak untuk membalas ciuman Jongin. Sial, tubuhnya tak bisa berkompromi. Pikir Kyungsoo kesal sendiri dengan dirinya.
Hingga akhirnya Jongin sadar ia tak bermain sendiri, ia mengakat wajahnya melihat mata sayu dari balik topeng. "Masih mau menolakku?"
"Pesonamu memang susah ku abaikan. Makanya aku tidak mau. Aku tidak mau jatuh dalam pesonamu lebih dalam. Aku tidak mau terperangkap," kata Kyungsoo susah payah karena jantungnya berdetak sangat cepat kali ini. "Aku hanya jalang, yang gila uang. Ingat itu baik-baik, Tuan Kim Jongin"
"Jangan khawatir, aku sudah merekamnya baik-baik di otakku. Sekarang giliranmu yang merekam ucapanku. Aku tertarik padamu dan kau tertarik padaku, selesai. Jika denganku kau bukan jalang, kita setara sebagai manusia yang saling memuaskan."
"Jika kau takut terperangkap, aku akan selalu membuka pintu perangkapnya. Kau boleh keluar jika kau ingin. Walaupun aku berharap jangan punya keinginan itu." Jongin bangkit kemudian memanggul Kyungsoo di pundaknya seperti karung beras. Menaiki tangga menuju kamar yang kosong.
Kali ini Kyungsoo yang mulai mendorong tubuh Jongin ke ranjang. Baju atas Jongin sudah di buang ke sudut ruangan oleh Kyungsoo. Jongin membalasnya dengan menurunkan tali di pundak Kyungsoo hingga dressnya melorot. Namun tetahan di pinggang. Jongin dapat melihat dengan jelas bra hitam dengan renda di pinggirnya. "Kau salah jika ini kau anggap kecil. Ini pas, bulat, putih dan kencang. Seperti kue mochi..Kkkkk. Percaya padaku, aku sudah mencobanya" goda Jongin yang tangannya meraba-raba bra Kyungsoo dan bermain-main di belahan dadanya.
"Jangan merayuku. Lepas saja, jangan banyak bicara!" tegur Kyungsoo sembari melepas topeng Jongin. "Benda ini tak ada gunanya lagi sekarang"
Jongin pun ikut melepas topeng Kyungsoo. Dua mata bulat bersinar jenih. Ia jarang menemui mata seperti ini di Korea. Indah dan cantik. "Kita seri. Sama-sama kaum minoritas di Korea. Mata bulat dan berkulit tan." Kyungsoo diam saja. Jongin melanjutkan pekerjaannya, membuang bra penganggu itu.
Isinya tumpah tanpa penyangga. Kyungsoo menangkup payudaranya sendiri. Mencoba menutupi sebisanya. Tanpa topengnya ada perasaan malu tiba-tiba menyerangnya. Apalagi risih terus di pandangi pemuda di depannya ini. "Mari lakukan dengan cepat. Aku hanya tak ingin berutang padamu."
Kyungsoo melepas celana dalamnya hanya dengan satu tangan. Namun dressnya masih di pinggangnya. Lalu ia duduk di pangkuan Jongin. "Jangan memandanginya, tolong! Aku merasa risi. Jika kau mau, hisap saja." Kyungsoo menekan pelan kepala Jongin ke dadanya. Memberikan kecupan di kepala Jongin dan belaian di rambut tebalnya.
"Tolonggg..! Hentikan, Tuannn! Saya lelahhh! Aaaakhhh hiks...hikss..hiks..s-sa-kittt, Tuannnn...! PLAAKKK!" Suara jeritan gadis diiringi tamparan samar-samar terdengar dari arah kamar sebelah. Pikiran Kyungsoo mulai bercabang. Apa mungkin gadis muda tadii?
Kyungsoo mendorong pundak Jongin pelan. Memberikan isyarat untuk menjauh sebentar. Jongin terlihat kesal karena belum berhasil menyusu. Padahal bibirnya sudah di depan puting. "Ada apa?"
" Aku mendengar jeritan kesakitan dari kamar sebelah. Tunggu sebentar aku akan mengecek kamar sebelah." Kyungsoo membenarkan dressnya tanpa memasang bra dan celana dalamnya ke tempat semula.
"Jangan lama-lama. Dan hati-hati..."
Ia memakai topeng dan sepatunya lalu berjalan ke luar kamar. Dua penjaga berjas rapi yang ia lihat tadi berjaga di depan kamar sebelah. Sekarang Kyungsoo yakin di dalam pasti gadis tadi. Segera ia turun ke meja bar dimana Chenn sedang sibuk dengan minumannya. "Chen, berikan aku dua botol minuman racikanmu yang langsung membuat mabuk dalam satu tegukan. Langsung terkapar kalau bisa."
"Apa aku perlu memasukan obat tidur juga kedalamnya?" gurau Chen.
"Terserah. Racun tikus juga tak apa," balas Kyungsoo yang kali ini tak bisa tertawa menanggapi gurauan Chen. Hanya butuh lima menit dua botol sudah siap. Kyungsoo tidak tau apa yang terkandung dalam minuman itu, namun ia juga tidak peduli. Sekarang ia hanya perlu membawa nampan berisi dua botol dan 5 gelas. Menaiki tangga menuju kamar dengan dua penjaga.
Dua penjaga itu mengamati Kyungsoo dari atas sampai bawah. Buru-buru Kyungsoo berucap sambil tersenyum sekenanya, "Pesanan..."
Buruk. Kata pertama yang muncul di kepala Kyungsoo. Kodisi gadis muda yang ia temui di bawah tadi sedang bermain dengan empat orang sekaligus. Jika bermain UNO atau ular tangga, dirinya tidak perlu seterkejut ini. Masalahnya ini permainan orang dewasa.
Satu pria memangku gadis itu, meminta service dari anus dan payudara sang gadis. Sesekali dengan suara syarat kekelahan gadis itu menjerit karena pria itu meremasnya telalu keras. Sedangkan kedua tangannya mengocok dua penis pria di sisi kanan dan kiri. Satu pria lagi mencari kenikmatan di di vargina sang gadis.
Kyungsoo sampai tak tega melihatnya. Keringat, desahan, jeritan, rintihan bercampur jadi satu. Namun ia tetap mencoba tenang, dengan sopan dirinya membungkuk memberi hormat. "Permisi tuan-tuan. Maaf saya menganggu kesenangan kalian, tapi saya kemari memberikan minuman hadiah untun tuan-tuan disini. Ayo, silahkan akan saya tuangkan..."
Mereka semua menghentikan aktivitas menjijikan itu lalu duduk di sofa dalam kamar. Ahh tidak semua, ada satu pria yang tetap memompa penisnya ke gadis itu. Kyungsoo memberikan gelas ke masing-masing pria kemudian menuangkan isi botol hasil racikan Chen dengan gaya sensual. Ada pria yang sengaja ingin meremas bokongnya namun Kyungsoo langsung menghindar.
"Iniiii enakk...hahaha...aku mau lagiii" Tiga pria lainnya sudah mabuk dalam sekali tegukan dan di tegukan kedua mereka terkapar tak sadarkan diri. Kyungsoo rasa Chen benar-benar memberikan racun tikus.
"Ayo tuan...tuan juga harus minum," bujuk Kyungsoo pada satu-satu pria yang tak mau di ganggu. "Nanti saja!" sahutnya. Tangan Kyungsoo menggapai botol yang telah kosong isinya. Memukulkan ke kepala pria tersebut.
DUGGG! PYARRRRR! Pecahan kaca botol berhamburan di lantai. Darah mengalir dari kepala. Kyungsoo bahkan melihat ada kaca yang ikut menancap disana. "Wuuahhh...pecahan botol ini tajam juga ya," seru Kyungsoo terkagum-kagum. Berbanding terbalik dengan sang gadis yang tampak shock.
Tanpa buang waktu Kyungsoo berpindah ke sisi kanan ranjang menarik sang gadis untuk mengikutinya keluar. Namun sepertinya pemeran utama kita lupa jika pria tadi belum limbung hanya kesakitan memegangi kepalanya. Dengan amarah pria itu pun mengambil pecahan gelas yang ada di lantai, lalu menusukan ke tangan Kyungsoo yng sibuk menarik sang gadis.
"Akkhhh...Kenapa kau tak mati saja disiksa di nerakaaaaa?!" pekik Kyungsoo sangat kesal. Pria itu berbalik menatapnya tajam dengan wajah masih kesakitan. Kyungsoo memang tak punya keahlian bela diri apa pun tapi Chanyeol adalah gudang informasinya. Seketika ingatannya melayang mengingat Chanyeol pernah berkata "Jika kau diserang pria. Tendang saja kemaluannya...itu titik kelemahan pria. Mengerti?"
Tapi masalahnya kakinya tak sekuat pemain bola. Jadi Kyungsoo putuskan, "Lariiiiiiii...!"
Buru-buru Kyungsoo menarik paksa gadis yang masih telanjang itu. Tentu pria tadi mengejarnya, namun Kyungsoo langsung mencopot sepatu hak tingginya lalu melemparnya dengan sasaran kepala si pria. "Yes...Kena!" seru Kyungsoo bersorak. Pintu langsung ia tutup.
"Og..Oooo...kita tertangkap!" ucap Kyungsoo. Sebuah pistol sudah di pelipis masing-masing. Siap menembus otaknya dan sang gadis muda, jika pelatuknya di lepaskan.
Jongin yang masih berbaring di kamar merasa bosan karena Kyungsoo tak kembali-kembali. Samar-samar ia mendengar suara kaca pecah. Ia pun bangkit memunguti bajunya untuk memakainya kembali. Tak lupa dengan topengnya. Ia pun membuka handle pintu dan langsung di suguhi dua gadis di todong pistol, yang satunya ia kenal dan satunya telanjang. Hell, dia benar-benar telanjang.
"Mungkin sebaiknya aku ke pesta Sehun" ucap Jongin yang bisa di dengar Kyungsoo dengan jelas. Kyungsoo berdecak sebentar, dalam hati ia mengumpat pria bermarga Kim itu.
"Baiklah silahkan urusi urusan kalian, aku ada janji. Dahhh!" Jongin berjalan dengan santai melewati dua pria berjas yang menodong Kyungsoo dan gadis satunya.
"Sebaiknya kau telanjangi juga gadis itu. Agar mereka berdua kompak" seru pria yang menodong si gadis muda. Sialnya, Kyungsoo merasa tali kiri dressnya sengaja di turunkan melewati lengannya. Dirinya hanya bisa berdoa Chanyeol ada disini, karena saat ini dirinya tak bisa melakukan apa pun. Kedua tangannya di tahan di belakang badan, bahkan lukanya di tangan di tekan sangat keras hingga terasa perih.
"Woww...ternyata ia juga tak memakai apa pun di dalam," ucap pria tersebut ketika dada dan payudara bagian kiri Kyungsoo menyembul terekspos akibat tali dressnya di turunkan.
BUGGGG!" satu tendangan Jongin layangkan tepat di kepala sang pria. Pistolnya pun ikut lepas dari tangannya. Di bonusi pukulan di belakang kepala untuk mematikan semua syaraf. "Berani-beraninya kau melihat wadah susu kesukaanku!" kata Jongin dingin lalu mengambil pistol.
Pria satunya mengakat pistolnya mengarah pada Jongin. Namun dengan gerakan cepat dan pukulan di titik-titik yang tepat, pria itu juga ikut terlumpuhkan. "Sungguh aku ingin menembakmu! Namun aku tak punya ijin menggunakan pistol. Jadi bersyukurlah!"
Tiba-tiba derak banyak kaki melewati tangga terdengar sangat berisik di telinga Jongin. Di ikuti pria berbadan kekar dengan wajar garang bermunculan dan berbaris rapi. Sekitar 15 orang. Jangan lupakan pistol dan benda tajam yang mereka bawa.
"Ohhh ya Tuhaannnnn..! Aku sekarang tau kenapa ayahku memberiku bodyguard." Jongin langsung menelepon Xiumin. Jika sama-sama dengan tangan kosong ia masih bisa tapi kalau yang ini, ia butuh seseorang.
Di sisi lain Kyungsoo mencari dompetnya yang tertinggal di meja. Di butuh handphonenya untuk menelpon Chanyeol untuk menjemputnya. Orang-orang memandanginya dan gadis muda yang masih telanjang itu. Kyungsoo lupa dengan ketelanjangan, tapi ia tak punya waktu. Dirinya sendiri tak bisa menyetir dengan benar jika tangannya terluka, dengan satu tangan? Sudah di pastikan ia akan menabrak truk di jalanan.
Kyungsoo mengajak gadis itu menunggu Chanyeol lewat pintu belakang. Untungnya Chanyeol datang tak lama kemudian. Menyimpan semua pertanyaan dalam hati saja. Chanyeol lebih memilih membuka jaket big size-nya untuk menutupi tubuh gadis yang di bawa Kyungsoo. "Ayo segera masuk! Aku akan memarahimu nanti. Ingat itu itu Do Kyungsoo!"
"Komapseumnida, Tuan Park" ucap Kyungsoo dengan bahasa formal. Berniat menyindir Chanyeol yang hobi memarahinya.
Di dalam mobil gadis muda itu tak henti-hentinya menatap Chanyeol lewat spion. Merasa di perhatikan Chanyeol berbalik melihat satu satunya gadis yang duduk di belakang. Merasa tertangkap basah, Gadis itu langsung merapatkan jaket Chanyeol dan menunduk antara malu dan takut.
"Aku bukan orang jahat, nona. Jangan cemas." ucap Chanyeol lembut.
"Mukamu seram, Park! Seperti penagih hutang...! Dia sepertinya di jual oleh seseorang sebagai pemuas nafsu, wajar jika ia masih ketakutan, benarkan?" timpal Kyungsoo. "
Chanyeol dapat melihat dari kaca spion tengah jika gadis itu mengangguk samar. "Oh iya siapa namamu, nona? "
"B-byun baekhyun... "
.
.
TBC
.
.
.
.
Note:
Sampai chapter ini apakah kalian tidak menyadari sesuatu? Apa yang kalian temukan?
Saya masih menunggu kalian tersadar sesuatu... *senyum misterius*
