VOCALOID © Crypton Future Media Yamaha
Story © Me (shirayuha)
Warning:
OOC, Typo, Gaje, pairing Miku X Len, gaya penulisan labil.
Pokoknya author seenaknya sendiri.
.
.
Dengan penuh cinta, aku persembahkan chapter 4 ini oo
Selamat membaca!
Chap. 4 : Double Date? Double Traktir?
"Oy kalian ini, mau apa sih? Aku risih dengan tatapan kalian, kalian mau aku tatap lagi?" tanyaku dengan nada sedikit mengejek. Rin dengan wajah polosnya kebingungan, si cowok aneh malah tertawa terbahak-bahak.
"JANGAN TERTAWA!" bentakku pada si cowok planet lain itu. dia malah tambah cekikikan. Oke, kesabaranku sudah habis. Aku menarik tangan Rin dan langsung menghilangkan diri dari tempat itu, dan dari situasi itu.
~OoO~
"Ya ampun, Rin. Sebenarnya ada apa denganku akhir-akhir ini, banyak orang menyebalkan disekitarku." Ujarku sambil berhenti sejenak di tempat yang agak jauh. Kuatur nafasku yang tersenggal-senggal seperti orang bengek tapi maaf saja aku ini sehat, Rin terlihat menikmatinya. Ia tersenyum menyebalkan, membuatku ingin menendangnya keluar angkasa.
"Double Date?" sahut Rin dengan nada yang seolah mengejek, aku merasakan urat-urat wajahku mulai cacingan.
"HAHA. Siapa yang mau date dengan cowok itu." aku memalingkan wajah, menunjukkan sikap 'bodo amat'. "Jadi, mau traktir apa, Rin?" lanjutku kembali ke masalah traktir. Rin terlihat biasa saja, tapi kemudian dia memukulku dengan tas kecilnya.
"Micchi! Traktir Kagaine-kun juga ya!"
Pendengaranku tak bermasalah kan? Oke, memang aku tak punya masalah dengan telinga. Tapi, dengan yang Rin ucapkan barusan aku rasa aku perlu mendengarnya sekali atau dua kali lagi untuk memastikan.
"Rin, bisa diulang?" tanyaku dengan wajah yang penuh rasa kesal.
"Karena tadi kita sudah bertemu, traktir Kagaine-kun juga!" jawab Rin dengan penuh semangat, sedangkan aku hanya bisa menampakkan wajah suramku.
"Ada apa Micchi? Kenapa? Oh ayolah, ini tidak akan seburuk yang kau bayangkan." Lanjut Rin mencoba menghibur dan meyakinkanku. Aku membalas dengan anggukan lesu. Entah sekarang roh ku sedang melayang kemana.
~OoO~
"Micchi~ terimakasih sudah mengajakku makan. Tenang saja, demi Micchi aku tidak akan memesan yang mahal-mahal kok. Kagamine-chan juga, terimakasih ya." Dengan lembutnya si cowok aneh itu berbicara, dan Rin yang ku tahu mengagumi orang ini sekarang sedang berbunga-bunga karena dipanggil "-chan". Hal biasa bukan?
Sambil menunggu pesanan datang, aku melihat-lihat seisi cafe yang kami datangi ini. Tempatnya cukup ramai, pelayannya pun ramah. Dan... banyak pasangan disini, ku rasa hanya kami bertiga yang aneh. Tunggu, jangan sampai orang mengira yang aneh-aneh soal ini. Ya, tapi kalau mereka mengira yang date adalah Rin dan si cowok aneh, aku merasa tenang. Kalau dilihat lagi, mereka memang cocok. Apalagi wajah mereka 'sedikit' ada kemiripan. Wajah seorang yang menyebalkan. Meskipun Rin lebih baik dibanding 'dia'.
Ah, nggak enak juga kalau aku terus-terusan memperhatikan orang-orang yang sedang date nanti dikira aku penjahat apa. Err, sepertinya aku memang salah masuk cafe. Untuk sedikit menghilangkan rasa bosanku, aku membuka plastik yang berisi aksesoris yang kubeli tadi. Tapi sepertinya, ada yang memperhatikan gerak-gerikku, tak lain dan tak bukan adalah si alien.
"Ada apa?" tanyaku sewot.
"Ternyata kau ini bisa membeli yang seperti ini ya, Micchi." Jawab si cowok alien yang tiba-tiba menyambar barang yang ada di tanganku.
"Haa? Apa maksudmu, aneh? Aku ini perempuan, wajar! Cepat kembalikan!" aku menahan volume suaraku, tak enak juga mengganggu orang yang sedang pacaran—seperti yang ada di cafe ini. Dengan cengiran khasnya yang menyebalkan, si makhluk planet lain ini tetap tak mau mengembalikannya.
Karena aku terlalu kesal, meja yang menghubungi— lebih tepatnya membatasi kami terdorong oleh tubuhku dan akhirnya aku terjatuh—tepat diatas cowok sialan ini. Entah kenapa untuk beberapa saat mata kami saling bertemu dan jantungku agak berdegup.
Aarrggg jangan sampai aku... aku...Tuhan, kumohon TIDAK.
Aku segera bangun, dan menahan rasa malu yang amat sangat memalukan. Aku pun merapihkan rambut dan bajuku yang lumayan acak-acakkan. Tiba-tiba Len— um maksudku cowok alien ini menarikku keluar dari kafe dan membawaku ke gang kecil disela-sela bangunan.
A-apa ini?! Kenapa tiba-tiba! Jangan-jangan dia mau melakukan sesuatu yang aneh!
Pikiranku sudah tidak bisa tenang dibuatnya. Namun ternyata aku salah, cowok alien ini menarik tanganku dan melihat luka yang ada disikuku.
"Apa kau baik-baik saja? Apa ini sakit?" tanyanya – yang entah mengapa sosok berbeda terpancar dari diri cowok alien ini. Rasanya wajahku memanas dan mulai salting.
"A-apa yang kau katakan? Tentu saja aku baik-baik saja, ini tidak sakit! Memangnya aku ini cewek cengeng?!" jawabku sekaligus menghilangkan rasa canggung. Cowok alien ini sedikit menekan bagian dekat lukanya. Dan— aw! Sakit sekali! Tidak bisa berbohong lagi, ini sakit! Wajahku meringis dan aku sedikit terhentak. Len— maksudku cowok alien ini pun menatap wajahku.
"Sakit bukan?" tanyanya dengan tatapan penuh perhatian. Dan aku hanya membalasnya dengan dengusan pelan sambil melempar wajah ke arah lain.
"huh..."
Kulirik Cowok alien itu dengan ekor mataku, ia mengambil sesuatu dari saku celananya, apa itu? sapu tangan dengan obat bius? Suntikan bius? Atau obat bius yang siap dia berikan padaku lalu menculikku? Ah aku tidak bisa berpikiran jernih saat ini.
Dan ternyata hanya sebuah plester luka. Tunggu, untuk apa?
"Nah, kemarikan lukamu."
"Untuk apa?"
"Sudah, kemarikan saja. Jangan banyak bicara dasar, Micchi."
"Berhenti—aw!"
Sialan! Disaat aku sedang merajuk soal dirinya, si Cowok alien ini malah memaksaku untuk menunjukkan luka disikuku dan menempelkan plester luka disana. Keterkejutan membuat lukanya terasa sakit. Argh benar-benar sialan kau Len!
"Apa yang kau lakukan?!" bentakku padanya.
"Yang kulakukan itu kebaikan, Micchi. Jangan menolak rezeki, kau tau, aku tau kau tak punya plester luka untuk menutup luka itu." jawabnya panjang kali lebar membuatku hanya bisa memutar bola mata, kesal.
"Ehm, begini ya Kagaine-kun, kau tau, luka yang belum dibersihkan kemudian langsung ditutup itu pun tidak baik lho. Kuman-kumannya masih ada di luka, dan percuma kau menempelkan plester ini."
"Uhm, sebenarnya Micchi, plester itu sudah mengandung alkohol dan anti bakteri, jadi jangan khawatir." Dengan santai dia meng-skakmatku. Sial, aku benar-benar malu dibuatnya. Tubuhku panas, sepertinya darahku sudah mendidih dan organ-organ tubuhku siap dimaka— ah tidak.
Tanpa mengatakan apapun dia pergi, sepertinya kembali ke cafe. Masa bodoh, aku tak peduli. Aku memutuskan untuk diam sebentar di gang ini, mengingat kembali kejadian di cafe tadi. Pikiranku kacau! Rasanya jantungku ada yang memompa dengan cepat sehingga berdegup lebih kencang dari biasanya. Apa ini? Jangan bilang— ah tidak mungkin! Jangan sampai deh, amit-amit!
Setelah lama berpikir dan berkhayal yang tidak-tidak, aku kembali ke cafe. Kulihat Rin sedang duduk manis bersama banana split yang sudah ia habiskan setengahnya.
"Rin-chan, maaf lama." Ujarku sambil tersenyum pada Rin yang sedang melamun. "Rin?"
"Len- ah! Micchan! Kau baik-baik saja kan? Kau tidak ada yang terluka kan?" Rin terlihat sangat heboh membanjiriku dengan pertanyaan, aku hanya membalasnya dengan senyum.
"Aku baik-baik saja kok."
"Syukurlah! Oh ya Micchan, Kagaine-kun setelah menarikmu tadi dia hanya berpamitan padaku katanya ada urusan mendadak kemudian pergi begitu saja."
Eh? Dia langsung pergi? Ya memang sih, aku perhatikan sekelilingku tidak ada tanda-tanda kehidupan dari alien itu. tunggu, kenapa dia pergi? Dan kemana? Ah, kenapa aku harus peduli. Yang harus kupedulikan saat ini adalah, dia sudah memesan apa aja?!
"Hei Rin, dia memesan apa tadi?" tanyaku pada Rin sambil mengaduk-ngaduk milkshake strawberi yang sudah kupesan.
"Tidak ada, dia tidak memesan apa-apa."
"Ah, begitu ya. Syukurlah, jadi hanya kau yang kutraktir."
Rin tersenyum mendapati respondku atas jawabannya. Kami menghabiskan hari itu di cafe dan berjalan-jalan menikmati pemandangan di taman kota yang masih rindang.
Diperjalan pulang, aku berpikir...
Hei, kenapa aku bisa segitu bencinya dengan Kagaine Len ya?
.
.
-TBC-
Nekat update padahal masih UN ~ (jangan ditiru pls)
Entah kenapa padahal lagi UN tapi tiba-tiba hasrat nulis muncul dengan ganasnya.
Yaa 2 hari lagi lah, dan hari kedua berjalan dengan...
Ah pokoknya gitu, udah belajar mati-matian yang dipelajari apa yang nongol soalnya apa. sakiitthh.
Haha sekian curhatnya. Akhir kata dariku, umm chapter ini entah kenapa sebenernya bikinnya udah lama *taplok* jadi ini cuma copas dari sekian banyak data di laptop~ ngoahaha
Ya dengan diedit-edit dulu tentunya.
Chapter ini dibikin pas lagi Ujian Praktek kalau gak salah, dan pas bikinnya itu aku lagi dengerin musik.
Haha [2] yaudah sih itu aja, sekian.
Wassalam XD
See ya!
Review?
.
.
.
.
SATU LAGIIII! BARU INGET PAS MAU DISUBMIT-
TERIMAKASIH BANYAK BUAT YANG UDAH MAU REVIEW~ SILENT RIDER PUN, TERIMAKASIH YAA~
TANPA KALIAN AKU GAK AKAN SEMANGAT NGELANJUT- SAKING SEMANGATNYA SAMPAI CAPS JEBOL BEGINI HWHWH
SEKALI LAGI TERIMAKASIIHHH~ *tebar seres hamster*
