Terhitung satu minggu sejak Taehyung memberikan kimbap untuk Yoongi, dan tidak ada kontak apa pun lagi. Ini membuat pemuda manis itu uring-uringan. Harapannya sih seperti di drama, terus bertemu di kesempatan tak terduga. Atau paling tidak, Yoongi menemuinya untuk mengembalikan kotak makannya dan berbincang banyak hal. Tetapi mungkin Yoongi itu hanya iklan lima belas detik, yang entah kapan akan muncul lagi. Padahal, Taehyung benar-benar sangat luar biasa amat ingin bertemu malaikatnya lagi dan berbincang dengan benar. Tidak gugup dan membicarakan hal normal seperti makanan kesukaan dan nomor telepon.
Ah, omong doang. Tatap mata saja langsung ketar-ketir.
"Yah, hujan..." dengan cepat Taehyung berlari ke sebuah ruko yang tutup. Dia hanya butuh kanopinya untuk berteduh sebentar. Saat ini ia kesal mengapa tidak mendengarkan Jimin tentang nasihatnya untuk membawa payung. Padahal tadi langit cerah sekali, loh? Taehyung memang suka ngeyel, dan sepertinya Jimin sudah lelah karena dia ada urusan kelompok. Ah, ternyata satu hari tanpa Jimin itu cukup merepotkan. Kalau diingat-ingat, sudah lama sekali sejak mereka bepergian sendiri-sendiri. Mereka lebih sering menghabiskan waktu berdua. Rasanya agak asing juga, tetapi menyenangkan. Dan sebetulnya, Taehyung ingin lari-lari dibawah hujan. Tetapi Jimin tidak akan suka ide ini, apalagi Ibunya. "Deras sekali, kapan redanya?"
Taehyung mengadahkan wajahnya pada langit mendung.
"Hei, tukang lihat penis."
Apa-apaan itu! Taehyung menoleh kaget, dan nyaris terjungkal menemukan Yoongi berdiri di sisinya memakai payung hitam. Lagi-lagi, pakaiannya serba hitam. Apa orang ini selalu menghadiri pemakaman atau bagaimana? Taehyung tak habis pikir. "Berhenti memanggilku begitu! Aku tidak sekotor itu!"
"Lalu kenapa kau menoleh saat kupanggil begitu?"
Benar juga, sih. "Aku mengenali suaramu."
"Ah... aneh kau mengatakan itu."
Taehyung hanya mengulum bibir. Dia kumat. Mulai berdegup-degup dan perutnya geli, pertanda dia gugup berdua saja dengan pria pujaannya. Walau penampilan serba hitamnya agak mengerikan, tetapi wajah dan aura tegas Yoongi tidak tertutupi –malah terekspos jelas. Taehyung jadi lemas hanya karena melihatnya. Ah, dia ganteng sekali. "Kau sudah pulang kuliah?"
"Uhm... Hanya ada kelas pagi."
Yoongi mengangguk tenang. "Mau pulang tidak?"
"N-Ne?"
Dia hanya memiringkan kepalanya, menunggu jawaban. Kelihatannya dia bukan tipikal yang suka mengulang ucapannya sendiri. Jadi Taehyung tambah gugup dan memilin jemarinya sendiri. Apa ini semacam ajakan pulang bersama? Aduh, jantungnya tidak kuat! "Aku benci siput,"
"I-Iya mau!" serunya beranjak ke sisi Yoongi dalam satu payung.
"Aku bahkan tidak mengatakan akan mengantarmu dengan sepayung berdua,"
"O-Oh... Maaf," Taehyung sudah akan pergi lagi karena malu, tetapi Yoongi menahan bahu kurusnya untuk tetap berlindung di bawah payung hitamnya. Dan karena bahu mereka yang bersentuhan, Taehyung tambah kumat. Napasnya susah payah dia hirup dan hembuskan. Susah sekali rasanya mengontrol tubuhnya sendiri. Dari jarak lima meter saja sudah sulit untuk bersama Yoongi, dan sekarang hanya berbatasan dengan gagang payung! Seperti mau meledak. Yoongi berujar dengan suara dalamnya lagi, "Kau itu bodoh banget. Sudah, cepat jalan."
Dia hanya bisa mengangguk kaku. Malu dan kikuk.
Tetapi dia senang.
"Rumahmu dimana?"
"Kau mau kemana, Yoongi?"
Yoongi melirik Taehyung yang sudah menatapnya duluan. "Apa itu sebuah jawaban? Aku bertanya dimana rumahmu. Bukan membicarakan aku akan pergi kemana, mengerti?" dia sudah mencoba tegas tetapi dilihat dari wajah berseri Taehyung, sepertinya pemuda itu tidak mengerti maksud Yoongi barusan. Kenapa dia selalu terlihat seperti anak anjing? Yoongi kehabisan akal untuk sekadar menebak-nebak. "Aku sendirian di rumah. Boleh aku ikut kau pergi?"
"Apa kita sedekat itu?"
"Kita sudah berdekatan sekarang," ia menunjuk bahu mereka yang bersentuhan.
Dasar anak kecil. Bukan itu maksudnya. "Aku keluar bukan untuk main. Kalau saja aku punya banyak uang untuk dihabiskan, lebih baik aku tidur saat hujan-hujan begini. Tetapi aku harus bekerja, bocah. Aku mau memberi tumpangan karena kelihatannya rumahmu tak jauh dari sini tapi anak manja sepertimu pasti tidak diperbolehkan hujan-hujanan,"
Wah. Baru sekali ini Yoongi bicara panjang betul.
"Kau bekerja apa, Yoongi?"
Yoongi menghembuskan napasnya. Berat. Anak ini tidak mengerti. "Apa kau tidak paham juga kalau aku hanya ingin mengantarmu pulang? Dan aku tidak setuju tentang kau ikut denganku!"
"Tapi aku ingin lihat," Taehyung mengerutkan bibirnya. "Nanti aku akan pulang sendiri kalau hujan sudah reda. Janji! Jadi, boleh dong?"
"Memangnya untuk apa?"
Taehyung menggigit bibir lagi. "Hanya... ingin saja,"
"Aku sudah berbaik hati mengantarmu pulang, tapi kau yang menolak, ya."
"Uhm! Tidak apa, kok!" Taehyung mengangguk semangat. Itu artinya Yoongi akhirnya memperbolehkannya pergi bersama, 'kan? Ada ribuan ulat yang sudah berubah jadi kupu-kupu di dalam paru-parunya hingga rasanya geli yang mendebarkan. Taehyung merasa senang, meski Yoongi bukan tipikal yang akan mengatakan sesuatu secara gamblang, dia orang yang baik. Dan ia akan melihatnya bekerja! Keren sekali dia sudah bekerja!
Mereka berhenti menunggu lampu pejalan kaki berubah hijau.
"Dan kurasa kau lebih muda dariku," Yoongi membangun percakapan. "Jadi berhenti memanggil namaku tanpa honorifiks. Itu terdengar aneh namaku dipanggil begitu saja oleh seorang bocah."
"Yoongi juga selalu panggil aku bocah! Aku kan sudah kuliah!"
Kelakukanmu yang seperti bocah. "Sudah kuliah bukan berarti kau sudah besar. Lihat tingkahmu."
"Aku sudah dua puluh, tahu!"
"Oh," dia terkekeh geli. "Aku baru dua puluh tiga, tuh?"
"Hah?!"
Yoongi berjalan karena lampu untuk pejalan kaki sudah hijau. Taehyung mengikuti dengan langkah lebih cepat dan wajah kacau karena panik. Itu terlihat lucu, sebenarnya. Yoongi hanya menahan geli di mulutnya. "M-Maaf, hyung! Habisnya kau terlihat seumuran, Yoongi! M-Maksudku, hyung! hyung!"
"Bagus. Panggil aku hyung, bocah."
Ambition
..
Park Jimin x Kim Taehyung ǁ Min Yoongi x Kim Taehyung
[MinV] vs [Taegi-YoonV]
..
I will run to reach you!
(direkomendasikan membaca sembari mendengarOst Chorim – the girl who sees smells yang dinyanyiin Yuju Gfriend feat. Loco judulnya Spring is gone by chance)
Nah kalau sudah sekalinya Taehyung pergi sendirian, tamat sudah. Anak itu akan tidak tahu waktu kapan harus pulang. Jimin bahkan mengusahakan pulang cepat dan membelikannya cheesecake tetapi malah tak menemukannya dimana pun. Mama Taehyung yang kebetulan ada acara organisasi di Gwanghwamun tidak mungkin ditanya. Taehyung memang sudah bilang kalau di rumah tidak akan ada siapa-siapa. Ayahnya dinas ke Taiwan lima hari, dan Taehyung ini anak tunggal. Harusnya Jimin memikirkan ini lebih jauh, harusnya dia kepikiran untuk mengajaknya pergi bersama dan terus memastikannya berada di sisinya.
Sekarang sudah jam sebelas, dan Taehyung tidak juga pulang.
"Aish! Tae! Angkat, dong, telponnya!" Jimin menggerutu sendirian.
Tadinya Jimin ingin merahasiakan ini, tetapi Mama Taehyung tidak bisa dibohongi jadi dengan nada khawatir ia memerintah Jimin untuk segera memastikan anaknya pulang dan tidur di ranjangnya malam ini juga. Jimin langsung lemas karena tidak tahu harus mencari kemana, dan bocah itu tidak mengangkat telponnya satu kali pun! Lokasinya tidak aktif! Bayangkan betapa linglungnya Jimin saat ini, kehilangan jejak Taehyung itu lebih buruk daripada kehilangan anjing peliharanmu.
Ketika ia mendengar suara pintu, Jimin berlari.
"Astaga, Tae!"
"Ung?" Taehyung yang masih terkejut itu sedikit limbung dengan pelukan Jimin yang berat dan terlalu mendadak. Sesak dan erat. Tetapi dari napasnya yang tersendat, sepertinya ia melukai Jimin dengan sikap lupa waktunya. Itu karena Taehyung mengenalnya dengan sangat baik. Dia tahu semua maksud dari helaan napas dan tatapan matanya. Dan ia sadar diri kalau pulang terlalu larut, Jimin pasti kalang kabut mencarinya. Ia tersenyum menenangkan dan melepas pelukannya, menangkup wajah bulat Jimin yang hangat. "Maaf, Jimin."
Diperlakukan selembut itu, Jimin mengalah. "Mandilah dulu. Kamu bau keringat dan terasa dingin, aku akan menyiapkan air hangat untukmu."
.
.
Sebuah pelukan hangat Taehyung rasakan lagi. Ia tersenyum hangat karena tahu itu Jimin –ya memang siapa lagi? Hanya ada mereka berdua di rumah. Ini sudah jadi hal yang biasa. Mereka biasa tinggal bersama sejak SD. Di luar dingin, dan pelukan Jimin membuatnya hangat dan nyaman. Entah karena memang Jimin adalah pria yang hangat atau sweater tebalnya yang harum. "Kau tidak tahu aku khawatir, hm? Kamu ini harus dibelikan jam tangan, sepertinya."
"Kan sudah kubilang maaf."
"Lain kali angkat telponku jika bepergian," Jimin berkata dengan tegas dan lembut bersamaan. Jemarinya mengusap pelipis Taehyung. Rambutnya semakin panjang saja, Jimin berpikir untuk memangkasnya besok atau di waktu lain. Lihat poninya sudah mencapai kelopak mata Taehyung bagian bawah. Itu panjang sekali. Pasti menyakitkan jika rambutnya tertiup angin, apalagi rambut Taehyung lembut sekali. Tetapi ada satu hal yang membuatnya enggan, Taehyung terlihat cantik dengan rambut panjang seperti ini. "Atau paling tidak, beritahu aku kau akan pergi kemana. Jika memang sudah larut dan kau lupa waktu, aku yang akan datang menjemput."
Senyumnya merekah. "Aku bisa pulang sendiri."
"Jangan membantah, dasar bandel." Ia mencubit ringan hidung Taehyung dan memainkannya hingga empunya terkikik geli. Jimin juga tertawa saja, karena suara Taehyung terdengar lucu jadi ia otomatis tertawa bersamanya. "Kali ini kumaafkan karena kau manis setelah mandi." Ia maju untuk mengecup puncak kepala Taehyung, "Dan harum melon. Aku suka. Nah, sekarang jawab pertanyaanku. Kau pergi kemana sampai semalam ini?"
Pipi Taehyung merona. "Aku melihat Yoongi bekerja."
Apa?! Ekspresi Jimin mengeras.
"Tadi saat aku pulang, hujan turun deras." Mata jernihnya mengerjap lambat. Menerawang kejadian hari ini yang terasa indah (untuknya). Mengingat-ingat momen ketika Yoongi datang dengan gagahnya menawarkan tumpangan payung. Ah, itu membuatnya berdebar lagi. Kalau sudah begini, apa dia harus periksa ke dokter? Duh, rasanya campur aduk. "Dia mau antar aku pulang tapi aku tidak mau. Aku yang minta untuk pergi dengannya, percaya gak? Yah, walaupun awalnya aku terbata-bata... tapi aku akhirnya bisa mengobrol dengannya. Tadinya dia juga tidak mau aku ikut, tapi aku yang paksa. Akhirnya dia perbolehkan, dan aku pergi dengannya. Tahu-tahu sudah larut malam. Aku mau pulang, tapi Yoongi bilang aku harus makan dulu."
Dia was-was. "Jadi...?"
"Kami makan malam bersama!" katanya dengan malu-malu. Lihat pipi bersemu itu, Jimin makin kesal saja dengan cerita Taehyung. Sebenarnya dia terlihat begitu menggemaskan tetapi kalau bukan karena dirinya, kenapa harus senang? Ini Yoongi yang dibicarakan! Bikin gondok hati saja, untung dia sayang Taehyung pake banget, jadi tabah mendengarkannya curhat. Walau di dalam hatinya sudah berdarah-darah. "Kukira dia pria berhati dingin sama seperti cara bicaranya. Tetapi dia cukup pengertian dan lembut. Dia memang tak banyak bicara, tetapi dia bahkan peduli padaku untuk mengingatkan makan malam," ia tersenyum konyol. "Dia manis."
Sebenarnya Jimin malas kalau sudah begini.
Sakit, man. Melihat gebetanmu memuji pujaannya di depanmu. Mau marah tapi tak kuasa, diam saja makin sakit. Bimbang harus melakukan apa, selain diam dan membiarkan hatinya diiris-iris begitu polosnya. Ya, Taehyung memang polos sekali. "Jadi kau sudah kenyang? Yoongi kasih kamu makan apa?"
"Ayam goreng."
"Tidak ada sayur?" Taehyung menggeleng lucu. "Dia bilang butuh sesuatu yang cepat. Dan restoran ayam itu satu-satunya yang paling dekat. Yoongi memastikan aku harus segera makan karena sudah malam, dan dia masih ada kerjaan jadi takut meninggalkanku kelaparan di jalan. Sebenarnya dia tidak bilang begitu, sih..." ia terkekeh. "Tapi menurutku pasti begitu! Kelihatan kok, di matanya!"
Jimin mengangguk lemas. "Yasudah. Kamu tidur, ya. Sudah malam."
"Hmmm. Ayo,"
"Duluan saja," ketika Jimin menjawab itu, Taehyung bingung. "Aku harus membereskan dapur dulu. Aku juga belum mandi, hehehe. Nanti aku menyusul, kok. Tidurlah sekarang, besok susah bangunnya kalau terlalu malam."
Karena tidak ada yang bisa dibantah, Taehyung mengangguk. Memberi pelukan sebentar dan beranjak ke kamarnya sambil mengucek matanya yang berair. Jimin hanya menatapnya dengan senyum tipis.
Bagaimana caranya dia marah pada Taehyung jika dia terus bersikap manis?
"Yah... Malam ini aku makan sendirian,"
Jimin membuka kotak bekalnya dan menyiapkan sebotol jus apel untuk Taehyung, dia menyiapkan makan siang dengan semangat. Dia sudah merasa lapar sejak Profesor Lee mengoceh banyak hal tentang nilai kuis yang anjlok. Jimin merasa penat dengan suara seraknya yang membuatnya ingin menggaruk kerongkongan pria tua itu supaya suaranya jernih. Taehyung berkata dia punya tugas melukis dengan tema alam surealis. Dia bilang tidak mengerti dan belum mendapat inspirasi, jadi Jimin menyuruhnya makan supayan kepikiran ide. "Kau bisa jadi istri yang baik, loh."
"Aku akan jadi suami, Taehyung."
"Tapi masakanmu enak," pemuda itu menyumpit daging teriyaki. Lembut, dan bumbunya meresap dengan baik. Dia memuji masakan Jimin yang selalu pas dengan lidahnya, seakan Jimin memang tahu apa yang lidahnya suka. Senang rasanya memiliki teman yang jago masak. Lain kali dia akan belajar dengan benar supaya juga bisa. "Well, suami yang jago memasak juga keren kok. Malah, harusnya suami juga bisa masak. Itu poin tambahan yang tak semua lelaki bisa, kurasa."
Pendapat itu membuahkan senyum manis di bibir Jimin.
Apa itu sebuah lampu hijau? "Lalu kau mau aku jadi suamimu?"
Uhuk! Smooth, Jimin. Tetapi lihat Taehyung langsung tersedak. Kalau reaksinya begitu, sepertinya itu bukan sesuatu yang dipikirkan Taehyung benar. Dan Jimin hanya nyengir tanpa merasa ada yang salah dari ucapannya. Benar, kok! Dia siap kalau jadi suaminya Taehyung! Memasak jago, pintar, lihat saja dia akan jadi pengusaha kaya dan menciptakan banyak uang untuknya, romantis dan pengertian. Bukankah dirinya ini paket lengkap? Kenapa Taehyung tidak pernah melihat sisinya yang tak terkalahkan ini, sih?
Malah melirik ke Yoongi. Ck, seleranya memang aneh.
"Ngomong apa, sih, kamu?! Jadi keselek, nih!"
Jimin memiringkan kepalanya, "Kalau aku, sih, mau jadi suamimu."
Nah. Ini nih. Langsung penonton menahan mimisan. Heboh lagi bisik-bisik dan gosip. Apalagi kalau bukan karena kalimat kode keras dari Jimin. Seantero kampus juga tahu kalau pemuda itu suka Taehyung tapi yang disukai itu kelewat bego jadinya tak pernah peka. Dikiranya ya sayang sebagai kakak atau sahabat aja gitu. Kalau sudah begini, sebetulnya, mereka semua –termasuk Jimin– juga tidak yakin kalau Taehyung paham arah pembicaraannya. Lihat saja tatapan matanya yang kosong dan bingung, pasti tidak mengerti.
Kasihan jadi Jimin. Kodenya tak pernah pecah.
"Ada-ada aja, kamu." Taehyung menyuapkan tomat ceri ke Jimin. "Makan saja udah!"
Paling tidak, Taehyung masih menyayanginya, meski dengan maksud dan cara yang lain. Bagi Jimin, segini juga sudah lumayan. Dia bisa berada di sisi Taehyung yang tak bisa digapai oleh orang lain yang menyukai Dewinya. Ini sudah jauh lebih dari cukup. Pada tahap ini, ia harus bersyukur. Hingga nanti ketika ia sudah mantap, baru akan serius dalam hubungannya dengan Taehyung. Walau sekarang pun, ia sudah mulai melayangkan kode untuknya. Meski tak pernah tersampaikan karena Taehyung itu tidak peka! Tapi kata orang, bukan hanya ilmu yang harus dituntut sampai negeri Cina, tapi cinta juga patut diperjuangkan! Merdeka!
Taehyung untuk Jimin! Camkan itu!
"Hei, Taehyung!"
Panggilan itu membuat mereka berdua menoleh. Langsung terkejut dan Taehyung bangkit berdiri dengan mata membola. "Y-Yoongi?"
Lelaki itu datang dengan wajah datar. "Sudah lupa untuk memanggilku apa?"
"A-Ah! Maaf, hyung.. maksudku, Yoongi hyung,"
Jimin menatapnya tajam sekaligus bingung. Hyung?
"Aku ingin mengembalikan kotak makanmu." Katanya dengan suara berat. Lengan kanannya yang kurus menyodorkan kotak bekal Taehyung pada empunya. Wajahnya santai sekali, padahal Taehyung sudah bergejolak organ dalamnya. Rasa-rasanya dia ingin melompat seperti kelinci dan berguling di rerumputan. Padahal hanya mengembalikan kotak makan, tapi kok rasanya dag dig dug ser gini? Karena penampilan Yoongi yang sederhana dan lebih menampilkan wajah kharismatiknya atau apa? Taehyung bingung harus mengambilnya cepat atau mau menikmati muka pujaan hatinya yang ganteng itu. "Hei, mata gundu. Tanganku pegal, cepat diambil!"
"I-Iya... terima kasih," ia bergerak kikuk.
Yoongi menatapnya geli. "Harusnya aku. Kau perlu belajar lebih baik."
"Iya, hyung." Taehyung mengulum bibir. "Sebentar, hyung. Tunggu disini, jangan kemana-mana. Aku ada sesuatu, tapi harus angkat telpon. Sebentar aja, ya. Jangan pergi dulu!"
Bahkan Yoongi belum sempat menjawab mau atau tidak, tetapi Taehyung sudah lari menjawab dering ponselnya yang berisik tadi. Karena bingung harus melakukan apa, Yoongi diam menunggu. Dan malah bertatapan mata dengan pria berambut hitam legam di tempat Taehyung duduk. Ia menatapnya tajam seperti tidak menyukainya, menelisiknya dari atas ke bawah, dan Yoongi melihatnya menggerutu entah apa. Tetapi dia bukan orang yang senang dibicarakan di belakang jadi ia menegurnya, "Kau ada masalah, bung?"
"Tch, apa sih yang Taehyung suka darimu?"
Oh... ya, Yoongi paham. Orang ini mudah sekali ditebak.
"Kau ini kuliah disini atau tidak sih?" lengannya dilipat di depan dada. "Seperti setan saja. Kadang muncul kadang hilang berminggu-minggu. Aku sih senang tidak melihatmu di dunia ini, tapi Taehyung-ku akan jadi lesu seharian hanya karenamu! Bukan artinya aku ingin kau terus berkeliaran di tempatnya bisa melihatmu tetapi aku ingin melihat senyum Taehyung, paham?"
"Kau terlalu berbelit-belit."
Jimin mendengus. "Singkat dan kasarnya; aku ingin kau pergi. Tapi karena itu akan terdengar egois dan seperti pengecut, aku ingin bermain sportif denganmu! Kompetisi yang adil!"
"Agaknya terdengar kau sedang menjadikan Taehyung hadiah lomba?"
"Mana ada begitu?!"
"Kau sendiri yang ingin berkompetisi," Yoongi mengendikkan bahu. "Memangnya apa yang kau pusingkan? Apa yang kita rebutkan? Kim Taehyung? Aku tidak mengerti apa maumu merendahkanku seperti itu, dan aku juga tidak peduli siapa suka siapa jadi lebih baik kau tutup mulutmu yang bau dan bersikap sopan padaku," ia menajamkan pandangannya. "Kau lebih muda tiga tahun dariku, bocah pendek."
Enak saja dia bicara. Taehyung lebih tinggi darimu, bego! Ngaca!
"Lagipula aku tidak tertarik pada anak anjing sepertinya,"
Jimin bangkit dengan wajah merah, "Apa maksudmu mengatainya anjing?! Dasar babi!"
"Ah, hyung! Maaf, apa kau menunggu lama?"
Taehyung datang dengan wajah kacau. Padahal tidak seharusnya dia berekspresi begitu, dia hanya menerima telpon dan dia kelihatan buru-buru sekali ingin mengobrol. Yoongi tidak pernah bisa memahami sikap pemuda satu ini. Dia terlihat kacau setiap kali bersamanya, dan itu membuatnya geli dan merasa Taehyung itu konyol. "Omong-omong, apa yang hyung lakukan di kampus?"
"Aku tukang antar makanan. Dosen Fakultas Kedokteran pesan banyak, sekalian mampir."
"Tapi kau kan bekerja di toko swalayan?"
Yoongi mengendikkan bahu, "Segitu saja tidak cukup. Kerjaanku banyak."
"Oh... Uhm, hyung," ia menyodorkan ponselnya. "Berikan aku nomormu, hyung."
Sial sial sial! Jimin hanya membatin kesal. Lihat wajah menyebalkan dan tatapan mata Yoongi padanya! Kentara sekali dia meledeknya karena meskipun Jimin berusaha menjauhkannya, tetap saja Taehyung adalah pihak yang mengejar. Jadi untuk saat ini, Yoongi merasa menang. Walau ia juga tidak tahu kenapa rasanya menyenangkan merasa begitu pada kawan si Taehyung itu.
Awas kau, Yoongi! Kau tidak akan selamanya menang!
Aku akan merebut apa yang seharusnya milikku!
To be continue!
a/n:
gantung? Iya! Emang wkwkwk.
Sampai chapter ini rasanya masih ngambang gitu ya? masih permukaan banget gitu gak sih? Maksudnya belum ada konflik atau klimaksnya wkkwkwk ini kayaknya bakal jadi ff yang lumayan panjang chapternya. Kira-kira sepuluh atau belasan, kalau dilihat dari chapter segini masih sedatar ini. nyantai aja lah ya, orang ini ff ringan kok.
Guys, percaya dong kali ini ff yang hepi-hepi. Wkwk.
Aku bikin ini sembari dengerin Ost Chorim – the girl who sees smells yang dinyanyiin Yuju Gfriend feat. Loco judulnya Spring is gone by chance. Coba dengerin selama baca ff ini. feelnya kerasa banget!
