Fake Love
Kim Taehung itu benar-benar mesum dan cabul. Jungkook benar-benar tidak mengerti apa saja yang ada dipikiran pemuda tersebut.
Flashback
"Angka atau Kepala?" tanya Taehyung kepada gadis yang kini berada dipangkuannya.
"Angka" jawab Jungkook tanpa berpikir lagi. Berharap jika ia mengubah pilihanya, maka keberuntungannya pun akan berubah. Ia hanya berharap semoga kali ini ia menang agar ia bisa membalaskan dendamnya kepada pemuda Kim itu.
Setelah Jungkook memantapkan pilihanya langsung saja Taehyung kembali melemparkan koin tersebut ke udara. Beberapa detik kemudian ia menangkap koin tersebut lalu meletakanya diatas punggung tanganya.
"Kepala" ucapnya seraya menunjukan sisi koin tersebut kepada Jungkook. Sial! rutuk Jungkook dalam hati padahal ia sudah berharap agar pemuda Kim itu kalah saja.
"Sekarang giliranmu" ucap Taehyung yang menyerahkan koin logam tersebut pada telapak tangan sang gadis.
1… 2… 3…
Jungkook melemparkan koin tersebut ke udara kemudian menangkapnya. Sama halnya seperti yang dilakukan oleh pemuda Kim tadi.
Dengan sedikit kebimbangan Jungkook kembali membuka tanganya untuk melihat hasil pertandingan mereka kali ini.
"Angka!" ucap Jungkook dengan girang. Seperti seorang anak kecil yang baru saja memenangkan sebuah boneka dari vending machine. Tampaknya kali ini sang dewi keberuntungan tengah berbaik hati kepada dirinya.
"Tak ku sangka ternyata kita seri" icap Taehyung yang kemudian kembali mengambil koin logam tersebut dari genggaman Jungkook.
"Kau tahu kita akan terus menerus mengulangi permainan ini sampai ada yang menang dan ada yang kalah" ujar Taehyung sebelum kembali melemparkan koinnya.
"Kepala" ucap pemuda itu begitu ia membuka tangannya. Melihat koin sisi kepala tengah bertengger pada tanganya. Pertanda jika untuk ronde kali ini ia kembali memenangkan permainan.
Ah—sekarang giliran Jungkook. Meskipun tadi Taehyung menang tak apa. Asalkan dirinya tak kalah seperti tadi. Yang berakhir harus menerima dare or dare dari pemuda gila itu.
Bolehkah Jungkook berharap agar dewi keberuntungan kembali memihak kepada dirinya.
Jungkook baru saja menangkap koin yang tadi ia lemparkan ke udara. Dengan sangat perlahan ia membuka tanganya. Entah mengapa semenjak tadi perasaannya tak enak.
Dan benar saja sesuai dengan dugaanya, koin sisi kepala tergeletak pada punggung tanganya. Pertanda jika si gadis manis telah kalah—mau tidak mau, suka tidak suka, ia harus mempersiapkan dirinya untuk menerima dare or dare dari Taehyung.
Sementara Taehyung kini menyunggingkan seringai nakalnya begitu ia mendapati kelinci manis itu telah kalah.
"Jungkook-ah, aku ingin kau mencium seorang wanita" bisik Taehyung ditelinganya.
Sepertinya hari ini benar-benar hari kesialan seorang Jeon Jungkook. Tadi ia disuruh untuk menggoda sehingga berakhir mencium seorang ahjussi. Sekarang ia kembali diminta untuk mencium seorang wanita. Rasanya Jungkook ingin menenggelamkan dirinya berserta dengan pemuda yang tengah memeluknya ke sungai Han saja.
Dua orang wanita kini tengah bercumbu satu sama lain. Wanita yang satunya hanya mengenakan lingerie sexy berwarna merah. Sementara wanita yang satu lagi masih dalam balutan dress mewahnya yang berwarna peach.
Kim Taehyung selaku pemberi dare or dare hanya menonton dan menyaksikan aksi panas kedua wanita itu ditemani dengan segelas Martell.
"Aku sudah bermain dengannya 15 menit. Dare or dare ku selesai" ucap Jungkook sembari menatap jengah sang tuan muda.
"Satu kali terakhir lagi, setelah itu aku janji kita pulang" ucap Taehyung yang kembali menepuk pahanya. Jungkook pun tahu dimana tempat ia harus duduk.
Taehyung kembali melemparkan koin tersebut ke udara. Ini sudah keempat kalinya mereka bermain. Namun pemenang sama sekali belum dapat. Hasilnya terus menerus seri.
"Kepala" ucap Taehyung yang kemudian menyerahkan koin itu kembali pada Jungkook.
Jungkook pun melempar dengan santai, lalu menangkap koin tersebut. Berharap jika hasil kali ini akan sama seperti sebelumnya.
"Damn!" umpatan keluar dari bibir mungilnya begitu mendapati sisi kepala kembali tergeletak pada punggung tanganya.
Sial! mengapa dewi keberuntungan kembali berpaling darinya. Sang gadis cantik hanya bisa menghela nafas panjang, bersiap dengan apapun hukuman gila yang akan diberikan oleh pemuda Kim. Sementara Taehyung kembali tersenyum nakal. Bagainya malam ini begitu menyenangkan berhasil mengerjai Jungkook habis-habisan. Entah sejak kapan Taehyung berubah menjadi sosok yang jahil seperti ini. Mungkin akibat perngaruh dari dua botol minuman keras yang sejak tadi ia konsumsi.
"Jungkook-ah.. kali ini aku ingin kau menari diatas sana" tangan Taehyung kini terangkat dan tertuju kearah panggung tempat dimana para penari telanjang tersebut menari dengan sensual dan juga erotis.
"Ka-kau.. Op-oppa bercanda kan? Aku tidak mau menari telanjang diatas sana" Jungkook kini menekuk wajanya sembari menggelengkan kepalanya. Terlihat begitu menggemaskan sehingga taehyung meremas kedua pipi gembil sang gadis dengan kedua buah telapak tangan besarnya.
"Siapa yang menyuruhmu untuk telanjang. Aku hanya menyuruhmu untuk menari saja. Sana cepat naik" perintah Taehyung tersebut membuat Jungkook bangkit dari pangkuan Taehyung. Berjalan menuju ke arah panggung. Dimana pandangan hampir seluruh pengunjung club ini terpusat.
Setelah menaiki lima buah anak tangga, Jungkook kini telah berada diatas panggung. Musik yang diputar terdengar sangat sexy. Ah—Jungkook tahu dan mengenal lagu ini. Lagu berjudul Something milik Girls Day memang sangatlah sexy, sensual, dan seductive. Jungkook pun mulai mengikuti irama dan lantunan lagu tersebut. Menggerakan tubuhnya dengan dengan lincah dan gemulai. Bahkan dalam beberapa gerakan ia menonjolkan bagian sexy tubuhnya. Nyaris menyingkap bagian yang seharusnya tak ia tunjukan.
Penonton dibawah sana tiba-tiba saja bersorak riuh dan bertepuk tangan. Mungkin mereka kagum dengan kegilaan dan keberanian dirinya. Gerakan Jungkook lama kelamaan semakin sensual dan sexy saja. Bahkan sejak tadi seekor macan tidak dapat mengalihkan pandangnya menatap si kelinci manis. Dengan tatapan kelaparan dan hawa nafsu tengah terpancar pada hazel coklatnya.
Setelah lagu tersebut berakhir Jungkook oun memilih untuk turun kembali duduk tepat disamping Kim Taehyung.
"Ayo kita pulang sekarang" ajak Taehyung mengandeng tangan sang gadis membawanya keluar dari tempat tersebut.
Kini keduanya tengah berada di dalam mobil yang masih terpakir di parkiran depan strip club tersebut. Jam telah menunjukan pukul setengah 4 pagi.
Jungkook tidak mungkin pulang ke rumah bisa-bisa sang appa akan mengamuk karena mendapati putri keduanya baru pulang pagi hari.
"Oppa malam ini bolehkah aku menginap di rumahmu? Aku tidak mungkin pulang pagi-pagi begini"
Mendengar pernyataan Jungkook barusan lantas saja membuat hati pemuda kim sedikit senang. Mungkin malam ini ia membutuhkan mainannya untuk menemani dirinya hingga tertidur lelap.
"Baiklah sesuai dengan permintaanmu princess"
Jawaban Taehyung barusan seketika langsung membuat gadis itu mengerutkan dahinya. Ah—mungkin pengaruh dari minuman haram itu membuat Kim Taehyung semakin tak waras saja. Jungkook hanya bisa berharap semoga setelah ini ia baik-baik saja.
Ternyata dugaan sang gadis manis salah. Ia tidak baik-baik saja pagi hari ini. Efek samping dari minuman beralkohol yang tadi ia minum menyebabkan Jungkook hampir mati terkena serangan jantung. Akibat sang pemuda memacu maseratinya dengan kecepatan 180 km/jam. Ditambah Taehyung tidak mampu mengontrol kendali stir dengan baik. Bahkan beberapa kali hampir menabrak pembatas jalan.
Jika dewi fortuna tadi berpaling daripada Jungkook. Mungkin saja mereka sudah terguling dan tidak akan selamat malam hari ini.
Keduanya baru saja turun daru mobil hitam mewah tersebut. Melangkah masuk ke dalam rumah. Jungkook yang sedari tadi memperhatikan jika pemuda tersebut berjalan dengan sedikit terhuyung.
Tiba-tiba saja Taehyung memeluk pinggang Jungkook dari belakang.
"Yoongi-ah aku merindukanmu"ucap Taehyung yang meletakan kepalanya pasa ceruk leher Jungkook. Menghirup aroma yang menyuar keluar dari tubuh mungil sang gadis.
"O-oppa aku ini bukan Yoongi" balas sang gadis yang berusaha melepaskan kedua tangan sang pemuda yang melingkar pada pingganya.
"Memangnya apa kelebihan Park Jimin. Sehingga kau lebih mencintainya dibanding aku" ujar Taehyung dengan suara lirih bahkan tangannya semakin melingkar erat seperti tak ingin jika gadis itu pergi.
"Apa aku harus menghamilimu? Agar kau membatalkan pertunanganmu dengannya"
Secara tiba-tiba Taehyung membalik tubuh Jungkook, mengendong sang gadis ala bridal style. Sementara Jungkook secara terus menerus memukul kecil dada dan juga lengan pemuda itu. Agar pemuda tersebut menurunkan dirinya dari gendongannya.
Namun sepertinya pukulan itu sama sekali tak dirasakan oleh sang pemuda kim. Ia terus saja berjalan sembari memboying sang gadis melewati ruang tamunya, menaiki anak tangga demi anak tangga, menyusuri lorong panjang sehingga kini keduanya telah berada tepat di depan pintu kamar sang pemuda kim.
Begitu tiba dikamar yang bernuansa monochrome tersebut langsung saja Taehyung membanting tubuh Jungkook ke atas ranjang. Mengurung dan menindih tubuh sang gadis sehingga ia tetap pada posisinya.
"Tae… Oppa aku bukan Yoongi, aku ini Jungkook" ucap Jungkook yang tengah mencoba mendorong dada sang pemuda agar menjauh dari tubuhnya. Masalahnya pagi ini ia masih harus datang ke sekolah dan ujian tengah semester. Jika ia sudah melayani nafsu Taehyung tentu saja Jungkook akan berakhir dengan berjalan sedikit aneh akibat sang pemuda yang suka melampiaskan nafsunya dengan brutal dan kasar.
Seolah tak mendengar ucapan Jungkook, Taehyung tetap mengeryangi seluruh tubuh sang kelinci manis. Bibinya membungkam perkataan Jungkook dengan sebuah lumatan panas yang meningkatkan gairah. Tangannya pun tidak diam sibuk mengekplorasi bagian belakang tubuh si kelinci sexy dimana dua buah bongkahan sintalnya berada. Sementara tanganya yang tadinya menahan kedua tangan Jungkook kini sudah berpindah siap untuk menarik turun dress selutut yang terbalut pada tubuh sang gadis.
"Nghh… Tae-op-oppa… hentikanh..." lengguh Jungkook begitu Taehyung bersiap untuk membebaskan miliknya.
"Tenanglah yoongi malam ini aku berjanji akan memperlakukan dirimu dengan lembut" ucap Taehyung yang kembali mengecup belah bibir Jungkook sehingga suasana menjadi hening.
Memperlakukan dengan lembut dari kalimat tersebut Jungkook tahu Jeon Yoongi sang kakak ternyata memiliki tempat khusus dihati Taehyung. Bolekah sekali dalam hidupnya Jungkook merasa iri pada sang kakak. Yang sangat genius, cantik, dan juga di sayangi oleh semua orang.
Kedua jemari panjang milik Taehyung kini mulai masuk ke dalam dirinya. Membuka jalan dan memberikan pemanasan agar Jungkook tak terlalu merasakan sakit.
Perlakuan Taehyung kepada Jungkook dan Yoongi tampaknya benar-benar berbeda. Selama ini Taehyung selalu memperlakukan dirinya kasar seperti seorang jalang. Hanya mengejar nafsu dan kepuasannya saja. Namun malam ini Taehyung memperlakukan dirinya yang ia kira Yoongi dengan lembut meskipun ia sedang mabuk. Membuat Jungkook miris dengan hidupnya sendiri.
"Ahh—ahhh…" rintih Jungkook begitu merasakan milik Taehyung memasuki dirinya. Taehyung yang sudah berada di atas tubuhnya kini mulai menggerakan pinggulnya, menghentak masuk benda tersebut agar masuk semakin dalam ke tubuh Jungkook.
"Kau sangat cantik Yoongi-ah" ucap Taehyung yang terus menghentakan miliknya mencari titik sensitive sang gadis sembari memainkai surai hitam si gadis.
"Su-sudah kubilang… a-aku bukan Yoongi-Nyahh…" ucapan Jungkook terputus dengan suara desahan begitu Taehyung berhasil menghantam sweet spotnya.
Suara nyaring decitan kasur terus berbunyi memenuhi ruangan bernuansa hitam dan putih tersebut. Bahkan keduanya tidak sadar jika mentari sudah mulai mengintip dari balik gorden. Aktifitas keduanya terus berlangsung sehingga sang pemuda mencapai kepuasannya. Melepaskan benihnya di dalam tubuh sang gadis. Kemudian keduanya tumbang setelah pertempuran panas tersebut.
Jungkook secara tiba-tiba membuka kedua onyx bulatnya. Dipikirannya kini hanya ada ujian bahasa inggris saja. Dengan terburu dan sedikit rasa perih pada bagian bawahnya gadis itu bangkit dari ranjang king size tersebut. Melangkah dengan sedikit pincang menuju ke arah kamar mandi. Meghiraukan sesosok tampan yang tadi tengah tidur di ranjang yang sama dengan dirinya.
"Sial orang itu!" umpat Jungkook begitu mendapati kulit porcelainnya kini sudah di penuhi dengan banyak tanda kemerahan. Dari bagian leher, tulang selangka, dada, rusuk, hingga bagian bawah perutnya. Begitu ia memutarbalikan badannya, ia kembali mendapatkan hal yang sama pada bagian punggungnya. Paha bagian dalamnya juga tak kalah. Penuh dengan banyak bekas merah keunguan itu. Saat ini ia tubuhnya tampak seperti seorang korban kekerasan dalam rumah tangga.
Gadis itu pun menyiapkan air hangat untuk mandinya pagi ini. Setelah air hangat tersebut siap. Ia mencelupkan satu persatu kakinya, disusul dengan tubuh telanjangnya. Menikmati bagaimana sensasi air hangat memanjakan dirinya dan merilekskan ototnya sejenak.
20 menit telah berlalu. Jungkook yang telah selesai membersihkan dirinya keluar dari kamar mandi dengan berbalutkan haduk yang menutupi bagian dada hingga pahanya. Kemudian meraih baju seragamnya lalu memakainya.
Baru saja ia ingin berangkat, ia ingat jika dompetnya tertinggal di rumah kemarin. Sial memang. Apa saat ini ia harus meminta tolong kepada pemuda yang tengah tidur di ranjang untuk mengantarkannya sekolah.
"Oppa…" dengan pelan Jungkook meraih lengan pemuda tersebut lalu mengoyangkan-goyangkan tubuh pemuda yang tengah terlelap.
"Oppa… bangunlah…" ujar Jungkook dengan volume suara yang sedikit dinaikan.
"Oppa… antarkan aku…" kini suara Jungkook sedikit meninggi. Bukannya ia sedang marah namun ia halnya takut terlambat dan tidak bisa mengikuti ujian.
Taehyung yang tadinya sedang bermimpi pun geram karena suara gadis itu terus menganggu dan membangunkan dirinya.
"APA? BISAKAH KAU DIAM!" ucap Taehyung yang masih menutup matanya rapat.
Jungkook sedikit tersentak mundur oleh karena bentakan pemuda tadi.
"Aku hanya ingin minta kau antarkan saja.." ucap Jungkook dengan takut-takut.
Taehyung kemudian bangkit dari tempat tidurnya. Meraih celananya yang terserak dilantai. Mengambil sebuah dompet berwarna hitam dari dalam sana. Kemudian melemparkan uang beberapa lembar won tepat di wajah Jungkook.
"Kepala ku sakit, sebaiknya kau keluar dari kamarku" ucap Taehyung yang kembali menaiki ranjangnya. Menarik selimutnya sehingga nyaris menutupi kepalanya.
Kedua onyx hitam Jungkook tiba-tiba saja berkaca-kaca nyaris meneteskan air mata. Entah mengapa kejadian kemarin malam kembali melintas di pikirannya. Jika saja dirinya adalah Jeon Yoongi mungkin Taehyung tidak akan memperlakukan seperti ini. Ia baru saja diperlakukan seperti seorang jalang sewaan yang sesudah tidur, dibayar, lalu diusir keluar.
Jungkook kemudian mengusap kedua maniknya. Ia tidak boleh terlihat lemah dan cengeng. Ia harus menjadi sesosok gadis yang kuat. Kemudian ia pun melangkahkan kakinya pergi dari kamar sang tunangan.
"Hnghh…" lengguh Taehyung dalam tidurnya. Perlahan hazel coklat indahnya terbuka menelisik keadaan sekitar. Dapat ia lihat jika sinar matahari telah meninggi memaksa masuk ke dalam gorden kelabu yang menutup jendala kamarnya.
Kepalanya sedari tadi terasa bedenyut nyeri. Sementara dapat ia hirup jika bau alkohol memenuhi indra penciumannya. Terlintas di benak pemuda itu sekilas kejadian tadi malam. Dimana ia menghabiskan hampir 2 botol alkohol. Sekedar untuk melepaskan bebannya ketika ia bertemu dengan Yoongi dan juga saudara sepupunya—Park Jimin.
Ia pun meraih ponsel hitamnya untuk sekedar tahu sudah pukul berapa saat ini—Pukul 12:15. Beruntunglah Kim Taehyung dirinya adalah seorang CEO di perusahaan miliknya sendiri. Karena jika ia bekerja dikantor kemungkinan besar atasanya sudah memaki dan memecat dirinya.
Taehyung pun bangkit dari ranjangnya meraih celananya yang tergeletak dilantai kemudian memakainya. Entah mengapa sekilas memori kejadian tadi pagi kembali terlintas di benaknya.
Dimana Jeon Jungkook menjadi sasaran amukannya akibat dirinya yang masih hangover. Ia sedikit merasa kasihan pada gadis itu. Ah—tapi sudalah salah gadis itu sendiri mengusiknya ketika ia sedang pulas terlelap.
Hari kini sudah sore. Suara bel nyaring terdengar memenuhi di seluruh lorong dan juga ruangan gedung tersebut. Jungkook kini tengah melangkahkan kakinya keluar dari kelasnya. Hendak menunggu kedua sahabatnya—Bambam dan Lisa di parkiran sekolah. Hari ini ketiganya ujian di ruangan yang terpisah.
Jungkook kini meraih ponselnya, kemudian menyampirkan surai hitamnya ke belakang telinga. Kemudian mengambil airpods yang berada di dalam tasnya. Hendak mendengarkan lagu BTS yang merupakan boyband favorite-nya. Namun belum sempat airpods tersebut terpasang. Suara seseorang tengah memanggil dirinya. Jungkook mengenal jelas siapakah pemilik suara lembut tersebut. Park Jimin pria yang selama tiga tahun terakhir ini pernah mengisi hatinya.
"Kookie.." panggil pemuda Park. Tanganya menarik tangan Jungkook yang hendak pergi daripadanya.
"Kookie aku ingin bicara dengan mu ujar pria tersebut.
"Jimin-ssi hubungan kita sudah selesai. Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi"
Jungkook kini melepaskan cengkraman Jimjn pada tangannya. Hendak berjalan pergi menjauh secepat mungkin dari pemuda tersebut. Namun apa daya kini Jimin telah melingkarkan kedua tangannya memeluk tubuh sang gadis.
Seketika mata kedua onyx Jungkook menjadi berkaca-kaca. Airmata telah jatuh pada pelupuk matanya. Tubuh dan bibirnya bergetar mencoba menahan rasa sakit dan sesak di dadanya.
"Aku merindukanmu kookie"
Ucapan Jimin semakin membuat Jungkook terisak—bahkan hingga ia kesulitan untuk merah nafasnya. Tangan pemuda itu yang tadinya memeluk pinggang sang gadis telah berpindah. Jimin mengusap pundak Jungkook mencoba untuk menenangkannya. Setelah beberapa menit Jungkook pun kembali tenang. Beruntung tadi suasana lorong sekolah telah sepi sehingga tak ada yang menyaksikan drama keduanya.
"Ayo ikut aku ada yang ingin aku bicarakan denganmu"
Jimin kini meraih tangan gadis itu, mengandeng sang gadis. Membawanya Jungkook masuk ke dalam mobilnya.
Suasana di dalam mobil begitu hening dan sunyi. Jimin masih takut untuk membuka mulutnya. Sementara Jungkook juga memilih diam seribu bahasa.
Sehingga tangan pemuda Park tersebut tiba-tiba saja menyentuh tangan putih Jungkook. Mendekatkan wajahnya menatap onyx hitam yang masih sembab. Sehingga keduanya saling bertatapan.
"Aku masih mencintaimu kookie" ujar jimin sembari tangannya mengusap pipi gembil kemerahan sang gadis.
"Bohong" sinis Jungkook sembari mengalihkan pandangannya agar tak bertemu tatap dengan pemuda park itu.
"Hey..tatap aku kookie lihat kedua mataku"
Kedua tangan Jimin kini tengah menangkup pipi sang gadis sehingga pandangannya terkunci.
"Kau tahu kan jika mata itu itu tidak bisa berbohong"
Jungkook menatap kedua manik pemuda itu. Masih sama halnya seperti dulu. Terpancar kehangatan dan ketulusan pada kedua bola matanya. Hal yang sangat ia rindukan beberapa bulan kebelakangan ini.
Mendadak Jungkook kembali terisak. Membuat panik pemuda yang ada dihadapanya.
"Hey sayang mengapa kau menangis?" tanya Jimin sembari memeluk tubuh Jungkook.
"Kalau oppa mencintaiku… me-mengapa waktu itu oppa memutuskanku.."
"Bahkan dua minggu setelah oppa memutuskanku. Kau bertunangan dengan Yoongi eonnie… Kau jahat oppa… jahat…"
Jungkook yang terisak kini tengah dada bidang sang pemuda. Namun Jimin hanya terdiam menerima setiap pukulan yang Jungkook layangkan kepadanya.
"hikss… aku membencimu…" pukulan Jungkook mendadak terhenti. Bahkan kinj sang gadis tengan menundukan kepalanya sehingga membuat wajah cantiknya tertutu dengan helaian surai malamnya.
"Tidak apa jika kau membenciku, yang terpenting aku menyayangimu" tangan Jimin kini mengangkat wajah Jungkook, kemudian mengusap air mata yang telah jatuh dipipinya.
"Ah lebih tepatnya aku mencintaimu" Jungkook terkesiap kedua mata bonekanya membulat begitu merasakan bibir Jimin kini menempel pada pipinya.
"Sore ini ijinkan aku mengantarkanmu pulang" ujar Park Jimin yang kemudian mengusap kepala kelinci kecilnya.
Kemudian ia mulai menginjak pedal gasnya. Membawa mobil tersebut melaju menuju ke kediaman keluarga Jeon.
TBC
Hari ini aku update lagi hehehe, semua karena comment" dari kalian yang bikin aku semangat terus buat update. Ga tau kenapa aku itu seneng banget bacain comment dan reaksi kalian. Terima kasih banyak semuanya buat dukungannya.
Semoga kedepannya aku bisa terus update rutin hehehe
