Akhir musim liburan telah tiba. Semua siswa Hogwarts harus kembali ke sekolah mereka. Begitu pun dengan siswa-siswa tahun pertama. Di antara kerumunan manusia di stasiun king cross, tampak beberapa orang mendekati sebuah tembok di antara peron 9 dan 10. Orang-orang itu seperti terhisap ke dimensi lain saat menyentuh dinding tersebut. Di antara orang-orang itu, seorang bocah berkacamata memperhatikan sekelilingnya. Heran dengan tulisan di tangannya yang menunjukkan peron 9¾ tapi tak satupun melihat peron dengan angka aneh itu. Sementara kawan besarnya tidak terlihat di mana pun.

"Hey!" seseorang menepuk bahunya. Ketika dilihat, tampak rambut merah yang berkibar tertiup angin. Setelah dilihat lebih dekat, dia tidak lain adalah anak laki-laki terakhir Weasley yang ditemuinya di Diagon Alley namun tidak diingat namanya. Di belakangnya tampak lebih banyak rambut merah yang memandangnya dengan senyum.

"Oh, hai, err…"

"Ron. Namaku Ron. Apa kau lupa?" Ron menggembungkan pipinya kesal. Sedangkan Harry hanya tersenyum salah tingkah. Merasa bersalah dengan salah satu teman pertamanya itu. Anggota keluarga Weasley lain hanya menyapa Harry satu per satu. Ginny tampak salah tingkah ketika sekali lagi ia berkenalan dengan Harry. Ketika-

"Harry!" suara ceria seorang anak perempuan membuat dahi Ginny berkerut tidak suka. Suara orang yang dia lihat bersama Harry di Diagon Alley.

Sementara Ginny merengut, Ron dan Harry tersenyum cerah. Pipi keduanya memerah melihat melihat senyuman sehangat mentari pagi itu. "Claire!"

Claire mendekati Harry yang balas menyapanya. Setelah itu menyapa seluruh anggota Weasley yang hadir di sana yang membuat mereka balas menyapa. Keceriaan sepertinya menular pada keluarga tersebut. Kecuali satu orang tentu saja.

" Kau sendiri, nona Claire?"

" Ya, Mrs. Weasley." Wajahnya yang semula ceria menjadi merengut saat menyadari anggota keluarga Weasley berkumpul untuk mengantarkan anak laki-laki terakhir di keluarga itu. Sangat berbeda dengannnya. "Aku ditinggal. Orang tuaku pasti bersama kakakku saat ini." ucapnya sedih.

"Oh, Dear! Kemarilah! Kau pasti kesepian. Ikutlah bersama kami." Mendengar cerita menyedihkan gadis di hadapannya, naluri keibuan Mrs. Weasley pun keluar.

"Terima kasih Mrs. Weasley." Wajahnya kembali ceria. Baru kali ini ada orang dewasa yang mau mengajaknya. Teman-teman orang tuanya serta paman dan bibinya tidak pernah mau bersamanya. Selalu kakak laki-lakinya yang diajak. Pandangannya pun teralih pada Harry. "Hei Harry, mengapa kau terlihat seperti orang linglung?"

Sementara yang ditanya wajahnya memerah. Jika tadi hanya pipi, kini hampir seluruh wajahnya yang memerah. "A- aku mencari peron 9¾."

"Huh?" kali ini Claire yang menunjukkan wajah bingungnya. "bukannya di sebelah sana? Bukankah terlihat jelas?" jawabnya sambil menunjuk kea rah dinding di antara peron 9 dan 10.

Semua orang yang ada di sana menatap bingung. Dengan jenis kebingungan yang berbeda. Harry bingung karena ia memang tidak tahu ada peron 9 ¾ di tempat yang sepenglihatannya terlihat deperti dinding. Sementara orang lain yang memang tahu letaknya disana bingung dengan perkataannya yang 'terlihat jelas'. "Terlihat jelas?" Arthur Weasley mewakili seluruh keluarga weasley menanyakan maksud dari terlihat jelas tersebut.

"Ya, bukankah disana terlihat ada peron dengan tulisan 9 ¾ di atasnya? Aku heran mengapa ada angka aneh itu. Dan sepertinya peron itu diliputi suatu energi. Entah apa maksudnya." Dan ia pun melenggang ke tempat dimana peron tersebut berada diikuti keluarga Weasley dan Harry.

-000-

Kereta Hogwarts berjalan cepat. Di luar jendela, pepohonan tampak berlarian. Desa-desa penyihir yang asri menjadi hiburan tersendiri. Setelah mencari di sepanjang kereta, Harry, Ron, dan Claire menemukan sebuah kompartemen kosong. Mengobrol tentang beberapa hal, dan mempertanyakan tentang pandangan anak-anak lain sepanjang kereta yang menatap Harry aneh, penasaran, kagum, dan tatapan tidak biasa lainnya. Setelah beberapa saat, pintu kompartemen terbuka, menampilkan seorang anak perempuan bergigi besar dan seorang anak laki-laki di belakangnya.

"Maaf, apa kalian melihat Trevor?" Tanya anak perempuan itu agak ketus. Sementara penumpang kompartemen itu tampak bingung.

"Maaf, diantara kami tidak ada yang bernama Trevor." Jawab Ron dengan agak ketus mengikuti nada bicara anak perempuan itu.

"Oh! Maaf." Anak itu kembali berkata. "Maksudku katak kecil peliharaan Neville." Anak itu kembali melanjutkan sambil menunujuk anak canggung yang berdiri di sebelahnya.

"Aku tidak melihat katak di kompartemen ini." Harry menambahkan. Anak bernama Neville itu semakin muram. Hampir semua gerbong telah dilewati dan dia tidak menemukan katak kesayangannya.

Kedua anak itu akan melangkah pergi sebelum sebuah suara menghentikan keduanya. "Dia ada di atap kereta."

"Apa? Bagaimana kau tahu?" anak perempuan tadi bertanya dengan nada curiga. Bisa jadi anak di depannya ini yang menyembunyikan Trevor. Kalau tidak, bagaimana dia bisa tahu?

"Gamachiro yang memberitahuku." Jawabnya sambil tersenyum sambil menunjukkan katak kecil berwarna hijau cerah pada semua orang.

"Oke, ini aneh. Bagaimana caranya katak itu memberitahumu, maksudku-.. kau manusia dan hewan itu-" Ron menunjuk jijik pada Gamachiro. "adalah katak. Kecuali kau adalah siluman katak maka kau bisa mengerti bahasa katak-"

"Aku memang mengerti bahasa mereka." Claire memotong. Walau sudah mengetahui dimana kataknya, Neville masih muram. Bagaimana cara mengambil peliharaannya jika dia ada di atap kereta? Dia tidak mungkin memanjat keluar kea tap kereta untuk mengambil Trevor. "tenang saja, aku sudah menyuruh Gamachiro untuk memanggil katakmu kemari. Tunggu saja." Kali ini Claire tersenyum cerah. Senyum yang membuat pipi chubby Neville bersemu merah.

"Baiklah. Neville, sepertinya kita disini saja. Kita tidak mungkin kembali ke kompartemen awal kita dan membiarkan bocah blonde itu membuli kita lagi. " Neville hanya mengangguk dan duduk mengikuti anak perempuan itu yang kini duduk di sebelah Ron, sementara Neville duduk di sebelah Claire. "Aku Hermione, dan ini temanku Neville." Hermione mengulurkan tangan pada mereka semua. Dan mereka mulai memperkenalkan diri mereka satu persatu. Seperti biasa, ketika Harry memperkenalkan dirinya, Hermione dan Neville menatap dengan pandangan tidak biasa yang tidak bisa dimengerti olehnya, mengapa dirinya begitu terkenal.

Setelah menunggu hampir sepuluh menit, Gamachiro kembali dan diikuti katak seukuran dengannya berwarna hijau pucat. "Trevor!" Neville berseru riang. Katak itu kembali pada pemiliknya yang langsung dipeluk erat oleh Neville.

Gamachiro juga telah kembali pada Claire yang tampak tengah berkomat-kamit seperti berbicara, tapi tidak ada satu pun yang mengerti. "err.. Claire!"

"Ya, Harry!"

"Apa benar kau mengerti bahasa katak?" orang-orang di gerbong kereta mulai tampak serius dan penasaran. Apa benar ada orang yang bisa mengerti katak? Itu sangat aneh dan tidak masuk akal, menurut mereka. Terutama Hermione, yang menurutnya secara scientific hal itu tidak mungkin mengingat manusia dan binatang berbeda spesies. Jadi tidak mungkin keduanya bisas memahami melalui bahasa verbal.

"Ya. Aku mengerti bahasa mereka."

"Menurutmu bagaimana- maksudku, aku bisa berbicara dengan ular, jadi mungkin kau tahu mengapa bisa begitu." Harry bertanya penuh harap, mungkin saja dia mendapat jawaban tentang keanehannya.

"Kau bisa berbicara dengan ular?" Ron, Hermione, dan Neville tercekat.

"I- itu benar Ron. Memang kenapa?"

"Kalau berbicara dengan ular, kau bukan satu-satunya." Kali ini Hermione yang menjawab.

"Maksudmu?"

"I- itu, pangeran kegelapan juga bisa berbicara dengan ular. Nenekku bilang ular adalah hewan terkutuk karena sering digunakan sebagai symbol bagi penyihir-penyihir gelap."

"well, apa yang dikatakan Neville itu benar. Bahkan death eater pun memiliki lambing ular sebagai tanda kesetiannya pada kau-tahu-siapa."

"Death eater? Itu apa?" Harry semakin penasaran. Dan Ron pun mulai menjelaskan apa itu death eater.

"dan death eater yang paling setia pada kau-tahu-siapa adalah sebuah keluarga yang terkenal sangat culas, serakah, dan licik. Dan keluarga itu adalah…"

Percakapan mereka terhenti saat pintu kompartemen bergeser. Menunjukkan seorang bocah blonde kurus denagn dua gorilla di belakangnya.

"Well, apa yang kita temukan disini? Bocah canggung, Mudblood, dan Blood traitor. Apa yang lebih menarik dari…" kata-katanya terputus saat melihat seorang gadis berrambut pirang yang menatapnya malas. Pandangannya beralih pada bocah berkacamata yang duduk di sebelah Ron. " Oh, Harry Potter. Bocah yang bertahan hidup. Perkenalkan, aku Draco Malfoy, Penerus keluarga Malfoy bangsawan yang terkenal." Draco menekankan kata penerus sambil melirik kea rah gadis pirang yang tampak tak peduli.

"Apa maumu, Malfoy?" Harry balik menantang bocah pirang berpipi tirus di depannya. Tidak ada rasa takut seperti yang ditunjukkan anak-anak lain di gerbong kereta.

"Hanya ingin mengajakmu berteman. Kau akan sukses jika berteman denganku. Sebaliknya.." Draco menatap ke tiga orang lain di gerbong dengan pandangan remeh. "Jika kau berteman dengan mereka, kau hanya akan menjadi pecundang."

"kau lah yang akan jadi pecundang, Malfoy. Dan tidak ada seorangpun yang berhak mengatur dengan siapa aku berteman." Harry menjawab dengan nada yang ditinggikan. Kemarahannya sudah meningkat melihat sikap menyebalkan orang di depannya. Sementara Draco tidak kalah kesal melihat bocah yang menjadi bahan pembicaraan seluruh gerbong kereta menolaknya dan lebih memilih para pecundang itu, menurutnya.

Sebelum dia benar-benar keluar, Draco berjalan ke sisi lain gerbong. Mendekati adik kembarnya yang tampak tak tertarik dengan perdebatan di depannya. "kau pun akan jadi pecundang jika tetap bersama mereka. Dan mungkin akan dicoret sebagai anggta keluarga Malfoy." Draco berkata pelan sehingga hanya Claire yang bisa mendengarnya.

"Aku. Tidak. Peduli." Claire membalas tajam. Menekankan setiap katanya dengan suara yang pelan dan dalam. "Bukankah aku tidak dianggap bagian dari keluargamu sejak aku dilahirkan, Kakak!" Claire kembali mendesis tajam. Matanya menunjukkan tantangan. Draco bahkan bisa melihat sekilas mata itu berwarna merah darah dengan pupil vertical. Membuatnya bergidik takut dan langsung meninggalkan gerbong kereta.

"Apa yang dikatakannya?" Ron bertanya khawatir. Bisa saja si Malfoy itu mengancam Claire. Sementara yang ditanya hanya menjawab 'bukan apa-apa' membuat mereka tidak bertanya lebih lanjut.

"keluarga itu adalah keluarga Black dan Malfoy. Dan jika anak tadi anaknya Lucius, maka dia mewarisi darah dari keluarga itu. Dan ayahku mengingatkan untuk tidak berteman dengan mereka." Orang lain di kompartemen menyetujui ucapannya setelah melihat sendiri bagaimana sikap penerus keluarga Malfoy tersebut. Tanpa menyadari seseorang yang memandang kosong, menyesali nasibnya yang harus terlahir di keluarga yang dimaksud. Sepertinya akan sulit baginya untuk menemukan teman, yang baik tentu saja.

-000-

Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, kereta Hogwarts akhirnya telah sampai. Bangunan yang menyerupai kastil berdiri dengan kokoh. Membuat decakan kagum dari para siswa baru. "kelas satu, kelas satu! Ikuti aku!" suara seorang pria besar mengalihkan anak-anak tahun pertama. Beberapa anak ketakutan saat melihat Hagrid yang mengarahkan anak-anak kelas satu.

"Hagrid!" Harry berseru riang melihat teman besarnya itu. Hagrid yang melihat Harry menyapa balik. Terlihat olehnya Harry bersama Claire, Ron dan dua orang lainnya yang belum dikenal. Mereka adalah siswa terakhir di tahun pertama. Membuat mereka memiliki waktu lebih lama untuk mengobrol bersama Hagrid.

Semua abak-anak kelas satu dibawa ke sebuah danau. Pemandangan di sekitar danau tersebut sangat indah. Mereka dibawa meggunakan perahu untuk menyeberangi danau menuju ke kastil Hogwarts. "Baiklah, anak-anak! Sampai jumpa lagi!" Hagrid menyampaikan salam perpisahan pada kelima orang anak yang akan menaiki perahu. Karena satu perahu hanya bisa dinaiki maksimal oleh 4 orang, Hermione terpisah dari rombongan. Dia bersama dengan anak kembar yang bernama Padma dan Parvati Patil, dan juga Dean Thomas.

Perjalanan menyeberangi danau sangat indah, kalau saja-

"Hai, Potter!" Malfoy datang mengganggu ketenangan.

"Malfoy!" Harry mendesis tidak suka.

"Oh, rupanya tidak ada si Mudblood rupanya. Tawaranku masih berlaku sampai saat ini, Potter. Jika kau tidak mau bergabung denganku, maka kau akan menjadi musuhku." Malfoy berkata sing a song. Perahunya dibawa mendekati perahu Harry dkk. Neville masih menunduk ketakutan. Bayangan pembulian yang menyebabkan kaburnya Trevor di kereta kembali terlintas. Ron sudah ingin menghampiri dan meninju wajah menyebalkan Malfoy. Harry masih sibuk bearadu deathglare dengannya, sementara Claire tidak peduli. Pandangannya menerawang, melihat bintang yang bersinar terang di atas langit Hogwarts.

"Sudah ku katakana, Malfoy! Aku tidak akan bergabung dengan pengecut sepertimu!" Kata-kata Harry membangkitkan kekesalan Malfoy. Dua orang pengawalnya dan seorang gadis berrambut cokelat di sebelahnya mendesis tak suka. Tanpa aba-aba, Malfoy dan kedua pengawalnya mendorong perahu yang ditumpangi Harry dkk hingga terjungkal. Para penumpangnya panik. Suasana yang gelap menyamarkan kejadian itu dari orang lain yang juga berada di danau yang sama. Sementara Malfoy dan ketiga orang lainnya hanya terkikik penuh kemenangan. Tidak peduli walaupun adik kembarnya berada di perahu yang sama. Dan melenggang pergi meninggalkan perahu malang yang mulai menjauhi penumpangnya tersebut.

"Harry! Kau dimana?"

"Aku di belakangmu Ron!"

"Tolong!" gulp. Suara di samping Harry mengalihkan perhatian mereka. Neville ternyata tidak bisa berenang. Sementara air yang danau yang dingin menghambat pergeraakn dua anak lainnya yang mulai kesulitan bergerak. 'apa ini akhir hidup kami?' batin ketiganya kompak. Melihat semua siswa tidak ada lagi yang berada di sekitar lokasi. Mereka berenang sebisanya sambil mencoba meraih Neville yang sudah tidak lagi muncul di permukaan membuat keduanya khawatir.

Grep! Sebuah tangan meraih tangan Neville yang nyaris tenggelam dan menariknya ke permukaan. "Kau tidak apa-apa?" sebuah suara yang sangat di kenalnya menyadarkan Neville bahwa ia masih ada di dunia.

"Cl- Claire!" Neville berseru siang melihat penyelamatnya. Suara Neville menyadarkan Harry dan Ron yang masih mencari Neville di bawah permukaan air. Mereka mengira, Claire berhasil menemukannya dan membawa Neville berenang bersamanya. Perahu mereka telah jauh. Satu-satunya cara agar mereka sampai adalah berenang. Dan Harry serta Ron tidak akan membiarkan anak perempuan itu membawa teman mereka sendirian sebelum-

"Lihat! Dia berjalan di atas air!" Ron berseru kencang. Harry yang melihatnya menampakan keterkejutannya. Neville yang baru menyadari kalau dia berada di permukaan kaget. Dilihatnya air yang berada di bawah kakinya. Dilihatnya penolongnya yang memegangnya dan menapakkan kakinya di air. Claire mengabaikan tatapan heran teman-temannya dan menghampiri kedua orang temannya yang lain.

"Kalian tidak apa-apa?" Kedua oang yang ditanya hanya menggeleng, masih bingung dengan pemandangannya di depannya. Claire yang berjalan di atas air sambil menyeret Neville. Tatapan takjub masih ditunjukkan oleh keduanya. "Baiklah, sepertinya perahu kita menjauh. Kalian, berpeganganlah dan pegang tanganku!" kedua orang itu mengikuti, memegang tangan kanan Claire yang tidak digunakan untuk membawa Neville. "Ingat, jangan di lepas, dan berjalanlah seperti biasa." Keduanya mengangguk paham meski tidak benar-benar paham. Dan keempatnya mulai berjalan menyeberangi danau yang luas. Ketiganya mulai merasa mereka seperti berjalan di atas tanah walau pada kenyataannya mereka berjalan di atas air.

Setelah berjalan selama lima belas menit, tepi danau mulai terlihat. Sudah tidak ada anak kelas satu disana. Yang tinggal hanya wajah khawatir Hagrid mengingat jumlah perahu yang kembali kurang satu. Pandangannya berubah bingung saat melihat sesosok bayangan yang menggandeng tiga bayangan lainnya berjalan di atas air. Beberapa kali dia mengucek matanya. Berharap dia sedang berhalusinasi. Tapi yang terlihat sangat jelas. Keempat orang itu memang berjalan diatas air. Setelah hanya berjarak 10 meter, Hagrid mulai bisa mengenali keempat orang itu yang tidak lain adalah Harry dan teman-temannya. "Harry!"

Mereka semua telah sampai di tepian. Dia menatap aneh Claire yang masih berdiri di atas danau sementara ketiga orang lainnya sudah sampai berada di tepian, menapak ke tanah. "Kau berjalan diatas air?"

"Ya. Jangan bertanya kenapa karena aku tak tahu." Jawabnya ketus, mulai mengambil barang-barangnya yang telah dibawakan terlebih dahulu dan meninggalkan keempat orang lainnya yang masih menatap heran padanya.

-000-

."/ "hei, jangan dekat-dekat dengannya Harry, dia adalah Malfoy, keluarga death eater paling setia pada you-know-who."/ "SLYTHERIN!"/ "Kau ada disini, Misaki-san?"/ "Kau tidak melupakanku ternyata, Albus."/ " tentu saja, aku oclumens yang hebat."

Selamat sore semua! :

Senang rasanya bertemu kembali. Untuk beberapa pertanyaan akan coba dijawab sebisanya ya (muehehehe…)

Q: Narutonya cewek?

A: Iya, demi kebutuhan cerita. Biar Sasuke makin susah nyarinya (evil smirk ;) )

Q: Namanya Naru tetap Claire?

A: Yups! Cuma beberapa orang dari masa lalu yang tetap memakai nama Naru.

Q: Naru berpasangan sama Harry?

A: untuk sekarang iya. Untuk nanti, hmmm… liat aja deh. Hehe…

Q: kapan Sasu n Naru ketemu?

A: Masih lama, bukan di tahun pertama yang pasti

Sekian reader sekalian. Makasih bagi yang mau mampir JJJ