Malam itu hujan begitu deras. Baekhyun yang sedang terlelap terbangun ketika mendengar gelegar petir beserta kilat-kilatnya seperti blitz kamera yang sedang membidiknya.
Baekhyun sangat takut hujan beserta petir. Baekhyun benci badai. Dan malam ini sepertinya sedang terjadi.
Waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam. Dan Chanyeol belum juga pulang. Baekhyun semakin meringkukkan tubuhnya seperti trenggiling dibalik selimut Chanyeol.
Selama tinggal di apartemen Chanyeol, Baekhyun memang tidur di atas ranjang Chanyeol. Bukan tidur dengan Chanyeol. Bukan. Kenyataan bahwa Chanyeol selalu tidur lewat tengah malam bahkan menjelang pagi, Chanyeol selalu tertidur di ruang kerjanya. Jadi Chanyeol memutuskan untuk mempersilahkan Baekhyun untuk menggunakan kamar tidurnya yang jarang digunakan. Baekhyun kadang berpikir apakah Chanyeol benar-benar manusia? Ia bahkan tak pernah berpikir bahwa tidur adalah sesuatu yang penting.
'Kapan ia akan pulang? Aku bahkan tak tau bagaimana menghubunginya. Dia dimana sekarang?' bisiknya dalam hati, ia begitu mengkhawatirkan Chanyeol. Bagaimana jika sesuatu terjadi padanya?.
Baekhyun terlonjak dalam pikirannya dan langsung terduduk ketika mendengar suara pintu utama terbuka. Ia berlari keluar kamar dan menghampiri siapa yang telah datang, "kau pulang?" sambutnya sambil membantu Chanyeol membawakan tas kerjanya.
Wajah Chanyeol terlihat begitu lesu. Ia sedang tak baik terlihat. Seperti sedang menghadapi sebuah masalah paling pelik di hidupnya. Ia hanya mengangguk lesu menjawab pertanyaan Baekhyun.
"Apa kau ingin kubuatkan sesuatu? Apa kau ingin kusiapkan air untuk mandi? Apa kau tadi terjebak badai?" rentetan pertanyaan Baekhyun membuat kepala Chanyeol semakin berdentum macam suara drum musik rock. Ia menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.
Baekhyun lalu membantunya membuka kaos kaki Chanyeol, "kau terlihat begitu lelah, bagaimana dengan sedikit pijatan?" tawarnya.
Chanyeol mengangguk di balik lengannya yang menutupi matanya.
"Apa kau sudah makan malam?" tanyanya di sela-sela pekerjaannya.
Chanyeol menggeleng.
"Ingin kubuatkan ramen?" tanyanya kembali.
Alih-alih menjawab pertanyaan Baekhyun ia malah balik bertanya, "bagaimana harimu Baek?".
Baekhyun tersenyum akhirnya si giant membuat suara juga. Mungkin pijatannya sedikit meringankan bebannya. "Aku baik, Mark selalu menemaniku".
"Baguslah." Chanyeol menarik tangannya dan menatap Baekhyun kemudian, "buatkan aku teh hangat saja bisa? Ada chamomile tea di rak samping mesin kopi. Tak usah pakai gula, aku tak suka manis."
Baekhyun mengangguk dan berlari kecil menuju pantry.
Sementara Baekhyun sibuk dengan tehnya. Chanyeol melanjutkan waktu istirahatnya. Begitu banyak yang dipikirkan Chanyeol malam ini. Bukan masalah pekerjaan. Ayahnyalah yang menjadi tokoh utama dalam pikirannya belakangan ini.
Yoora, kakak satu-satunya Chanyeol meneleponnya tadi siang. Ia bilang kesehatan ayah semakin memburuk. Dokter sedang berusaha menstabilkan kembali keadaan ayahnya.
Ayah Chanyeol mengidap kanker pankreas. Kanker pankreas merupakan salah satu kanker paling mengerikan. Karena gejalanya yang tak terlihat pada tahap awal sampai kanker itu menyebar. Itu terjadi ketika ayah Chanyeol tiba-tiba terjatuh di meja kerjanya saat mengajari Chanyeol bagaimana mengelola perusahaan saat umurnya sudah cukup. Sekitar tiga bulan setelah ibu Chanyeol meninggal karena kanker payudara.
Awalnya dokter mengira ayah Chanyeol hanya terkena depresi ringan akibat terlalu larut dalam kesedihan setelah ditinggal kekasih hidup tercintanya. Namun ketika tak kunjung terlihat membaik, dokter memvonis ayah Chanyeol mengidap kanker pankreas yang telah menyebar sehingga sulit untuk melakukan pengangkatan.
Imbasnya adalah Chanyeol yang harus belajar lebih keras karena pada akhirnya Chanyeol lah yang harus menggantikan posisi ayahnya nanti.
Ketika kembali dari pantry sambil membawa teh hangatnya, Baekhyun duduk di samping kepala Chanyeol dibawah sofa. Ia menepuk-nepuk pipi Chanyeol pelan agar lelaki itu bangun dan meminum teh hangatnya. Namun Baekhyun terkejut dan sontak meraba kening Chanyeol, "astaga panas sekali!" pekiknya. "Bahkan aku bisa memasak telur mata sapi di dahinya".
Baekhyun berubah panik. Bukannya mencari kain basah untuk meredakan panas Chanyeol. Ia malah mondar-mandir sambil menggigiti kuku-kukunya. Demi tuhan Baekhyun itu sama sekali tidak membantu!.
Sampai ketika ponsel Chanyeol berdering. Mata Baekhyun berkedip banyak dan segera menemukan benda itu dalam saku jas Chanyeol. Ia membaca siapa gerangan yang memanggil Chanyeol. Yoora noona.
Baekhyun lalu menekan tombol hijau pada layar ponsel Chanyeol, "ha..ha..halo" sapanya gugup. Suaranya bergetar layaknya bocah kecil yang dipaksa mengaku bahwa ia telah mencuri minuman soda dari lemari es.
"Halo, hey Chanyeol suaramu berbeda" ucap suara dari ujung sana yang terdengar bingung. "Dengar, siapapun yang menjawab panggilan ini, tolong katakan pada pemilik ponsel ini bahwa ayahnya sedang dalam masa kritis. Segera kemari. Secepatnya!"
Pip.
Telepon terputus.
Baekhyun masih termangu. Menatap kosong ke depan.
Cepat-cepat ia menggeleng guna mengaburkan lamunannya dan segera membangunkan Chanyeol.
"Hyung, hyung kau harus bangun, seseorang mengatakan ayahmu sedang dalam masa kritis dan kau harus segera pergi ke rumah sakit"
Chanyeol tersentak dan terbangun dari tidurnya. Ia segera berlari meraih ponselnya di samping Baekhyun. "Apa kau akan ikut denganku?" tanyanya ketika berbalik pada Baekhyun yang masih berdiri di tempatnya tadi. Sambil mengenakan sepatu sekenanya Chanyeol mengibas-ngibaskan tangannya pada si bocah agar cepat-cepat menghampirinya, "cepatlah pakai mantelmu, kita ke rumah sakit".
Baekhyun mengangguk cepat dan menyambar hoodie kebesaran Chanyeol yang tersampir di gantungan dekat rak sepatu dan memakai cepat sneakersnya.
.
.
.
Tak peduli bahwa mungkin Chanyeol akan dikejar mobil polisi karena menyetir secara ugal-ugalan. Chanyeol tetap menginjak pedal gasnya secara gila-gilaan. Malam itu badai, Chanyeol nekat menembus badai demi menemui ayahnya yang kritis.
Baekhyun menggenggam erat sabuk pengamannya. Ia merasa seperti diculik oleh penjahat yang sedang dikejar mobil polisi.
Wajah Chanyeol terlihat sangat kalut. Sarat dengan ketakutan. Matanya sudah berkaca-kaca sejak tadi dan bersiap untuk menangis.
Baekhyun memberanikan diri untuk menyentuh pundak Chanyeol yang tegang itu memberi sedikit pijatan walaupun sesungguhnya ia pun sangat tegang. "Tenanglah, semua akan baik baik saja," tangan itu lalu terulur pada ujung mata kanan Chanyeol untuk menghapus titik air mata yang mulai jatuh.
"Kumohon jangan tinggalkan aku dulu ayah," satu persatu air mata Chanyeol mulai jatuh.
Lorong rumah sakit sudah serupa lorong menuju neraka bagi Chanyeol. Ia berlarian panik seperti orang gila. Kaki kecil Baekhyun mulai terasa seperti copot karena mengejar si kaki panjang.
Sejak turun dari mobil dengan tergesa, Chanyeol terus menangis meraung-raung. Tangisannya begitu terdengar pilu dan menyayat hati. Sungguh Baekhyun pun jadi ikut merasakan bagaimana rasa sakit yang dirasakan Chanyeol. Bagaimana orang tuanya menghilang begitu saja seperti melarikan diri dan meninggalkan Baekhyun sendirian. Rasanya menyakitkan seperti seseorang telah menaburkan garam di atas lukamu.
Chanyeol tiba di ruang rawat ayahnya.
Terlambat. Itulah yang tertangkap dipikiran Chanyeol saat ini. Terlambat. Ia sungguh terlambat.
"AYAAAAAAAAAAAHHHHHH!" jeritnya penuh kesedihan. "Kumohon ayah jangan pergi dulu ayaaaaaah" tangisnya tak terbendung lagi. Ia terlihat begitu hancur. Isakannya sudah membuat nafasnya tersengal-sengal. Chanyeol terus memanggil ayahnya supaya bangun dari tidur lelapnya. Chanyeol terus memeluk dan mengguncang-guncang tubuh dingin itu.
Yoora yang sejak tadi duduk di samping ranjang ayah Chanyeol segera memeluk Chanyeol berusaha menenangkan adik kecil kesayangannya itu. Sementara di ujung pintu Baekhyun hanya bisa ikut terisak merasakan kesedihan Chanyeol yang mendalam.
Mark berjalan mendekati Baekhyun seraya menepuk-nepuk punggung Baekhyun.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanyanya disela-sela isakannya. Mark hanya tersenyum dan memeluk Baekhyun kemudian.
"Paman hanya sedikit terpukul, setelah ini kau hanya harus menghiburnya hyung" air mata Baekhyun mulai membasahi kemeja garis-garis biru milik Mark "Pastikan ia tidak terlalu larut dalam kesedihannya. Ia harus melanjutkan hidupnya Baekhyunah. Bukankah kau bisa merasakannya?".
Baekhyun mengangguk dalam pelukannya pelan.
.
.
.
Setelah semua tamu pergi, dan pemakaman selesai, Yoora menghampiri Chanyeol yang tertunduk lesu di kursi paling depan. Jejak air matanya masih samar terlihat. Ialah yang paling terlihat sedih disini.
Yoora meraih tangan yang terkepal itu dan mrngusapnya pelan, "Chanyeolah, maafkan noona. Noona harus segera pergi."
Chanyeol masih tertunduk. Kini air matanya mulai jatuh, "Noona bahkan tega meninggalkanku sendirian disini huh?" tanyanya disela-sela segukannya.
Yoora meraih leher Chanyeol dan mencium pundaknya, "aku menyayangimu lebih dari apapun Chanyeolah, tapi kau adalah pengganti ayah. Aku tak bisa menggantikkannya. Hanya kaulah pewaris tunggal" ucapnya terisak.
"Hanya tinggallah disini"
Yoora menggeleng, "aku pun punya keluarga Chanyeolah".
Adik kecilnya yang malang, kakak mana yang tega meninggalkan seorang adiknya untuk mengurus perusahaan itu sendirian?. Namun apalah daya. Yoora yakin, Chanyeol kuat. Ia cukup cerdas bagaimanapun.
Ia lalu bangkit dan memberikan sebuah kecupan kecil pada pucuk kepala Chanyeol, "aku tau kau kuat, aku tau kau cerdas. Kau harus mempertahankan Park Industries. Itulah yang ayah inginkan."
Chanyeolnya yang malang. Ia semakin tertunduk dan terisak. Belum habis kesedihannya. Ia harus kembali menelan kesedihan yang lain. Sementara Baekhyun datang tanpa ia ketahui dan memeluk punggung lebarnya.
"Aku disini hyung, aku akan menjagamu"
Isakannya terhenti sesaat dan mengalihkan pandangannya hingga hidung mereka bersentuhan. Mata Chanyeol berkedip banyak.
"Aku disini," ulangnya "aku yang akan menemanimu hyung, terima kasih. Ini balas budiku".
Chanyeol masih belum percaya. Ia masih mengerjap. Pelukan Baekhyun semakin erat. Ia hirup dalam-dalam wangi Chanyeol. Sangat menenangkan. Mengalahkan segala aroma therapi jenis manapun.
Ia tau, ia mengerti apa yang Chanyeol rasakan saat ini. Chanyeol hanya butuh pelukan, ia butuh kasih sayang. Dan dengan senang hati Baekhyun berikan. Karena hanya itulah yang ia miliki.
.
.
.
.
.
.
ccd: Haha aku tau ini semakin absurd. Aku masih berusaha guys! Sungguh aku masih bahagia liat review kalian meski cerita ini sungguh receh. Aku usahain dipanjangin kalo mau yang panjang-panjang. Eh?!
See you next time! Have a great day!
