Disclaimer : tokoh milik Tadoshi Fujimaki-sensei kecuali OC dan alur cerita milik daku.
Warning : OOC, gaje, alay, EYD ngawur. Jika anda menemukan hal tersebut silahkan muntah ditempat yang telah disediakan dan melapor pada pihak yang berwajib.
…..
Kembali lagi membawa FF Gaje. Hahaha… kali ini membawa 'jamur maaf' dari Touou mengingat ada request dari salah satu pembaca. Sankyu ya! muehehe…
…..
Akademi Touou dipagi hari tampak damai. Begitu pula hati para siswanya, semua damai. Terutama hati Sakurai Ryo. Hatinya sangaaaattt damai! Ia sangat senang sekali hari ini. Adiknya mau membuat bento untuknya. Biasanya ia yang akan membuatkan bento untuk adiknya. Tapi kali ini, berhubung dia ulang tahun, maka adiknya membuatkan bento untuknya. Ia bersenandung sepanjang jalan, tanpa tersadar telah menabrak seorang perempuan.
"astaga! Maaf, maaf, maaf, maafkan aku… beneran… maafkan aku. Aku tidak lihat!" seperti biasa, Sakurai sangat panik begitu ia melakukan kesalahan pada seseorang. Ia segera membantu perempuan tadi berdiri dan mengambil buku perempuan yang berserakan. "maaf, maaf, maaf…" ia menunduk lagi.
"iya iya, tidak apa-apa…"
"apa kau baik-baik saja?" tanya Sakurai cemas "apa tidak ada yang luka? Sekali lagi, maafkan aku ya" ujarnya lagi.
"eh… ehm… iya" perempuan itu tiba-tiba menunduk begitu melihat wajah Sakurai. "anoo…"
"hem? Ada apa? Apa kau ingin menuntutku? Maaf, beneran. aku gak sengaja!" Sakurai meminta maaf lagi.
"aku… aku menyukaimu! Maukah kau jadi pacarku?!"
….
Momoi menyentil pelan kepala Aomine. Manusia yang suka tidur tidak pada saat yang tepat. Momoi benar-benar kesal pada sifat Aomine ini. Bagaimana bisa ia tidur dipagi hari?
"Aomine-kun! Sebentar lagi sensei masuk loh!"
"heh? Biarkan saja, nanti kalau sudah masuk, baru bangunkan aku!" jawab Aomine. Momoi mengembungkan pipinya. Bersiap untuk berteriak.
"MOMOIII…" Sakurai segera masuk tergopoh-gopoh. Momoi yang kaget tidak sempat mengucapkan apapun karena Sakurai segera menariknya keluar. Aomine langsung terbangun dan melihat dari pintu belakang. 'ada apa?' pikirnya.
"ada apa Sakurai-kun?" tanya Momoi heran.
"hosh hosh… maaf, maaf, maaf. Beneran maaf!" Sakurai meminta maaf bahkan sebelum hari lebaran tiba #plak.
"ada apa?"
"anu… anu… bagaimana… aduh… maafkan aku!" Sakurai tidak mampu mengeluarkan kata-kata. Ia hanya terus mengucapkan minta maaf.
"Sakurai!" Momoi akhirnya marah juga.
"iya iya, maaf. Ehm begini… begini…" Sakurai berbisik pada Momoi.
"…."
"…."
"hahhhh? Appa? Terus terus… kau jawab apa?"
"aku cuman mengatakan maaf" Sakurai menunduk.
"tapi, sebenarnya, kau sendiri menyukainya atau tidak?" tanya Momoi lagi.
"kenal pun tidak, Momoi-san" Sakurai terus menunduk.
"yang sabar… cobaan itu selalu datang pada orang yang baik" Momoi menghibur Sakurai. Mereka berdua pun menunduk sedih.
"maafkan aku"
"kau tidak perlu minta maaf, Sakurai."
…
Perasaan Sakurai berangsur baik setelah mendapat serangan mendadak dari perempuan tak dikenal. Sudah 8 jam ia tidak bertemu lagi dengan orang itu. Berkali-kali ia mengucapkan syukur kepada Yang Maha Kuasa. Kali ini, dia berlatih bersama anggota tim basket Touou yang lain. Ia mendribble bola sambil bersenandung.
"tumben sekali, apa ada sesuatu hal yang menyenangkan?" tanya Imayoshi padanya.
"eh? maaf, maaf, tidak ada apa-apa!" Sakurai menunduk meminta maaf.
"kau kan tidak perlu meminta maaf, Sakurai." Imayoshi menggaruk bagian belakang kepalanya.
"hehe… maaf" kali ini Sakurai tersenyum sambil terus mengatakan maaf.
"Sakurai, apa kau sudah memeriksakan kesehatanmu?" Momoi berlari sambil membawa catatan kesehatan. "ah, Imayoshi-senpai, senpai sudah kok, tidak perlu lagi" Momoi tersenyum pada senpainya.
"maaf, maaf… aku belum…" Sakurai menunduk lagi. Momoi menggelengkan kepalanya.
"tidak apa-apa. Ayo ku temani ke UKS" ujarnya. "kami pergi, senpai!" Momoi dan Sakurai pun pergi menuju pintu sampai seorang perempuan datang.
"TUNGGGUUUU…" teriaknya. semua anggota Touou terkejut. Terutama Sakurai. "apa yang kau lakukan padanya?" tanya perempuan itu sambil menunjuk Momoi. Yang ditunjuk mulai bingung.
"aku? Aku akan membawanya ke UKS" ujar Momoi. "ayo, Sakurai"
"TUNGGGGUUU… DASAR PEREMPUAN BERDADA BESAR!" ucapan perempuan itu menambah kaget semua member Touou. Hal yang tabu untuk dikatakan sesiapapun di dunia ini kecuali bagi Aomine dan Momoi. Wajah Momoi langsung memerah.
"apa kau bilang? Memangnya kenapa kalau dadaku besar? Dasar perempuan ukuran A!" Ucapan Momoi langsung menghujam jantung perempuan itu. Ia menggigit bibirnya dengan kuat dan mulai menangis.
"huaaa… kau kejam sekali…. Hiks hiks…"
"ya ampun. Ada apa ini?" Imayoshi mulai terganggu dengan teriakkan perempuan di gym. "kau siapa?"
"hiks, hiks, aku… aku… aku pacar orang ini!" perempuan itu menunjuk Sakurai. Wajah Sakurai langsung memerah. Semua member Touou kaget (lagi).
"APPPAAAA? SAKURAIII SEJAK KAPAN KAMU PUNYA PACARRR?" semua berteriak kecuali Momoi dan Imayoshi. Momoi mulai mengingat peristiwa tadi pagi dan Imayoshi hanya tersenyum.
"ah ah ah… sejak kapan? Maaf. Maaf. Maaf. Apa maksudmu? Maaf semuanya. Aku tidak mengerti" ujar Sakurai.
"huaaa… kau jahat sekalii…" perempuan itu makin mengeraskan suara tangisnya. Sakurai meminta maaf dengan cepat.
"ah, situasi apa ini? Sakurai, bawa dia keluar. Selesaikan urusanmu disana" ujar Imayoshi. Sakurai segera menunduk dan menarik tangan perempuan itu untuk keluar.
"…"
"hiks…"
"maaf, aku tidak mengerti. Maaf, tapi bukankah aku tidak menjawab tadi pagi?" Sakurai bertanya dengan hati-hati.
"aku anggap itu artinya kau menerimaku" ujarnya.
"aku bahkan tidak mengenalmu, maaf, tapi darimana kau mengenalku?" tanya Sakurai.
"aku juga tidak mengenalmu" jawab perempuan itu sambil menunduk.
"heh?" Sakurai tidak percaya ini. Memangnya ada ya orang yang suka pada seseorang tapi tidak mengenalnya sama sekali. Apa-apaan itu? "lalu kenapa kau menyukaiku?"
"ehm…. Karena, kau mirip dengan Ikkun" jawab perempuan itu lagi.
"eh? Ikkun siapa?"
"Ikkun, mantan pacarku"
"hehhh?" Sakurai kaget lagi. Emangnya ada orang menyukai seseorang karena dia mirip dengan mantan pacarnya? Alasan apa itu?
"hem. Jadi, siapa namamu?" tanya perempuan itu. "namaku Suzuna Ryo"
"eh. maaf, siapa namamu?" tanya Sakurai lagi. Sepertinya ia salah dengar.
"namaku Suzuna Ryo. Namamu siapa?"
"namaku juga Ryo. Sakurai Ryo" Sakurai menggaruk kepalanya. "maaf…"
"huaaa… benarkah? Inilah yang namanya jodoh!"
"eh maaf. Apa?"
"Ryo-kun… senang bertemu denganmu!" Suzuna mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
…
Baru kali itu Sakurai benar-benar merasa menyesal telah dilahirkan dimuka bumi. Bagaimana mungkin dia menerima pernyataan cinta yang jelas-jelas mereka tidak saling kenal? Yah, karena sifat Sakurai yang baik, ia tidak tega untuk menolak perempuan itu.
"Sakurai, yang sabar ya…" ujar Momoi ketika dia berjalan pulang dengan Sakurai. Loh, mana Aomine? Tenang saja saudara-saudara! Aomine ada dibelakang Momoi dan Sakurai. Menjaga keamanan!
"maaf merepotkanmu, Momoi-san" ujar Sakurai lagi.
"tidak apa-apa, iya kan Aomine-kun?" tanya Momoi pada Aomine yang sedang menguap.
"hem? Terserahlah. Tapi apa itu masuk akal heh? Kalau aku, pasti ku tolak." Ujar Aomine. "lagipula ukurannya juga A"
"Aomine-kun!" Momoi dan Sakurai berteriak. Apa-apaan manusia mesum ini.
"kenapa? Apa aku salah?" tanya Aomine sok polos.
"maaf, gak sih" jawab Sakurai.
"wah, kalau begitu, Sakurai, kau suka perempuan berukuran berapa?" Aomine segera maju dan merangkul Sakurai sambil tersenyum-senyum.
"eh?"
"Aomine-kun, jangan samakan Sakurai denganmu!" teriak Momoi lagi.
"sudahlah Satsuki, ini urusan antar pria. Kau kenal Tetsu?" Aomine mengabaikan Momoi.
"ehm. Kuroko Tetsuya dari Seirin" angguk Sakurai.
"bagus, kau tahu, pacarnya itu ukuran B! kurang lebih begitu. Kalau kau mau tanya pendapatnya tentang cewek, aku punya nomornya! Kau mau" Aomine mulai mempromosikan Kuroko sebagai ahli cinta.
"Aomine-kun! Tetsu-ku tidak seperti itu. Huuuuhhh…" Momoi kesal setengah mati. Ia menarik tangan Sakurai dan berjalan lebih cepat. "udah Sakurai! Lupakan si mesum itu"
"oii, Satsuki! Aku kan baru saja mau mengajari Sakurai!"
"tidak perlu!"
…
Esoknya, hari yang ditakuti oleh Sakurai. Ia hanya heran mengapa ia menerima pernyataan cinta dari Suzuna. Tapi bubur sudah menjadi nasi, ia tidak bisa mengembalikan keadaan lagi. Yang terjadi biarlah terjadi.
"Ryo-kun!" teriakan Suzuna membuat hari Sakurai semakin sulit. Ia baru saja akan makan siang.
"ada apa, Suzuna-san?" tanya Sakurai. Suzuna menggembungkan pipinya.
"kenapa memanggilku Suzuna? Panggil aku Ryo-chan!" pinta Suzuna.
"namaku juga begitu, maaf, tapi aku merasa kesusahan…" jawab Sakurai. Suzuna tersenyum dan duduk dihadapan Sakurai.
"ya sudah, tapi nanti pasti biasa kok, ngomong-ngomong, kau makan apa?" Suzuna membuka penutup bento Sakurai sebelum Sakurai sempat untuk membukanya sendiri. Ia hanya diam melihat Suzuna.
"maaf, bukan sesuatu yang special"
"uwaaaahh… apa kau menyukai makanan ini?" tanya Suzuna dengan sumringah.
"ah, tidak juga, lagipula makanan itu lebih mudah dimasak" ujar Sakurai sambil menggaruk bagian belakang kepalanya.
"kau mirip sekali dengan Ikkun, dia juga suka dengan makanan ini, dia juga pintar memasak." Ternyata Suzuna membandingkan dia dengan mantan pacarnya. Sakurai hanya terdiam, sekali lagi dia dibandingkan oleh orang yang tidak pernah ia kenal, "Wah hebat. Aku boleh minta?"
"silahkan, maaf kalau tidak enak" Sakurai mempersilahkan Suzuna untuk mengambil sedikit dari makanannya.
…..
"Ryo-kun! Aku ikut!" sekali lagi teriakkan itu membuat langkah Sakurai terhenti. Tak perlu baginya untuk berbalik sekedar mengetahui siapa yang memanggil, karena ia sudah tahu siapa.
"Maaf…" ujar Sakurai sambil tersenyum. Ia sendiri tidak tahu mengapa harus meminta maaf dan tersenyum.
"uwaahh… Ryo-kun tersenyum! Mirip sekali dengan Ikkun!" sementara Suzuna ber-fangirling-ria, Sakurai hanya menunduk sambil tersenyum.
"benarkah?" tanyanya basa-basi. Ah, sebenarnya ia ingin pulang dan meninggalkan perempuan ini. Tapi ia sama sekali tidak tega.
"Iya! Ikkun juga punya warna rambut yang sama denganmu! Karena itu kupikir kau adalah Ikkun loh! Aku senang banget!" Suzuna mulai berputar kesenangan, hampir saja ia jatuh di trotoar sampai Sakurai menarik tangannya.
"Maaf, jangan berputar-putar, berbahaya" ujarnya setelah menyelamatkan Suzuna. Suzuna malah tersenyum lebar.
"kau baik sekali! Benar-benar mirip Ikkun!" Suzuna malah melompat kegirangan sambil menggenggam kedua tangan Sakurai. Sakurai benar-benar panik dengan sifat Suzuna yang hiperaktif ini. Benar-benar perusuh tengah jalan.
"Suzuna, Suzuna, maaf, tapi tenanglah!"
"aku sangat senang bisa bertemu Ryo-kun!" kali ini Suzuna melompat-lompat seperti anak yang baru saja bisa melompat. Sakurai terhenyak. Baru kali ini ada orang yang mengatakan senang bertemu dengannya. Ah, mungkin saja karena ia mirip Ikkun.
"Suzuna, ngomong-ngomong, Ikkun itu seperti apa?" tanya Sakurai. Suzuna membalikkan badan dan mengancungkan jarinya pada Sakurai.
"sepertimu!"
"Suzuna…"
"hehehe… pokoknya dia mirip denganmu!"
"Suzuna…" suara Sakurai tidak lagi diperdulikan oleh Suzuna yang sekarang berada didepan Sakurai sambil bernyanyi dan kadang melompat dan berputar. Sakurai hanya bisa tersenyum sambil menyimpan rasa penasaran.
…..
Sakurai dan Momoi dalam perjalanan menuju perpustakaan. Sebenarnya Sakurai juga merasa agak takut. Bagaimana jika Suzuna melihatnya dengan Momoi? Bisa-bisa akan ada perang dunia ketiga! Tapi kenapa dia begitu takut? Sakurai juga tidak mengerti, ia menggelengkan kepalanya.
"ada apa, Sakurai-kun?" tanya Momoi yang heran pada tingkah aneh Sakurai.
"ehm? Bukan apa-apa, Momoi-san. Maaf" ujar Sakurai lagi.
"hehehe… kau masih saja meminta maaf…" Momoi tersenyum "oh ya, bagaimana kabar Suzuna?" tanya Momoi lagi.
"eh? baik. Kenapa?" Sakurai heran dengan pertanyaan Momoi.
"tidak, aku hanya tanya saja, tidak boleh ya?" tanya Momoi lagi.
"Maaf, tidak apa-apa kok"
"oh ya, apa dia masih membandingkanmu dengan mantan pacarnya itu?"
"iya…" Sakurai mengangguk sedih. Kenapa ia merasa sedih.
"pasti tidak enak ya! apa kau kenal dengan mantannya?" tanya Momoi lagi.
"tidak… apa Momoi mengenalnya?"
"ehm. Aku merasa agak familiar dengan nama Ikkun, aku akan coba ingat-ingat ya" ujar Momoi sambil menggaruk pipinya pelan. Benar, ia merasa mengenal Ikkun, tapi siapa ya orang itu?
….
"Ryo-kun!" Sakurai kaget bukan kepalang begitu membuka pintu, Suzuna muncul dengan hebohnya. Bukankah ini hari minggu? Apa yang diinginkannya?
"ada apa, Suzuna-chan?" tanya Sakurai.
"kencan yuk! Mumpung hari minggu!"
"ehhh… maaf, apa?" Sakurai kaget lagi. Benar-benar manusia diluar perkiraan.
"ayo ayo!" Suzuna menarik tangan Sakurai. Sakurai menahan dirinya dipintu.
"tapi, aku belum mengganti bajuku, Suzuna!" Sakurai memperlihatkan dirinya yang masih memakai piyama. Yah, lagipula ini masih pukul 8 pagi!
"tak apa! Aku sering pergi mengenakan Piyama loh!" ujar Suzuna.
"apa? Kau pergi mengenakan Piyama?" Sakurai bertambah kaget membayangkan Suzuna memakai piyama. Ada-ada saja. "ayo masuk, aku ganti baju dulu!"
"tidak! Ayo cepat pergi!" Suzuna mulai merengek.
"Suzuna! Aku ganti baju dulu!"
Dan adegan paksa memaksa itu dimenangkan oleh Sakurai atas wajah imutnya. Suzuna hanya berdiri didepan rumah. Ia sama sekali tidak mau masuk rumah meski ibu Sakurai sudah menyuruhnya. Ia menunggu dengan sabar sambil bersenandung kecil. Benar-benar aneh, pikir Sakurai.
"Ayo!" begitu Sakurai keluar, Suzuna langsung menarik tangannya. Tanpa sempat mengucapkan kata 'maaf', Sakurai mengikuti kemana saja Suzuna pergi. Mereka pergi menuju taman bermain yang tentu saja ramai pada hari minggu.
"Ayo kesini!" ujar Suzuna lagi. Terserahlah, Sakurai hanya bisa ikut. Padahal hari ini adalah hari libur baginya, kenapa dia mesti menghabiskan energy ditempat ini bersama seorang gadis yang melupakan umur? Suzuna begitu menikmati permainan sementara Sakurai tampak panik. Apalagi ada berbagai permainan yang tidak dimengerti Sakurai.
"Ryo-kun!" Suzuna mengayukan tangan Sakurai ketika mereka baru saja membeli minuman.
"hem?"
"Aku sangat senang hari ini… terima kasih!" Suzuna mencium pipi Sakurai dan segera pergi berlari meninggalkannya menuju permainan selanjutnya. Meninggalkan Sakurai yang memegangi pipinya dengan terkejut. Rasanya wajahnya memanas, Suzuna memang agak gila. Ia tersenyum.
"Suzuna, maaf… bisakah kau pelan-pelan?" ujarnya sambil mengejar Suzuna, bisa-bisa ia kehilangan anak itu dikerumunan ini. "Suzuna?"
"…" benar saja! Suzuna hilang! Sakurai mulai panik. Bagaimana bisa anak sekecil itu begitu cepat hilang? Ah, tenang dulu. Suzuna biasanya juga pasti akan mencarinya, tidak mungkin dia tidak mengeluarkan suara. Coba cari anak yang melompat, berputar, dan berteriak! Sakurai mengedarkan seluruh pandangan. Percuma, ia tidak tenang sama sekali! Ia harus mencari dengan baik!
"Suzuna!" Sakurai mengitari permainan yang rencananya akan mereka mainkan. Suzuna tidak ada disini, berarti kemungkinan ia juga mencari Sakurai. Sakurai segera berlari ke permainan sebelumnya. Nihil! Tidak ada tanda-tanda keberadaan Suzuna sama sekali. Sakura memegang kepalanya. Ia merasa pusing setelah mengitari daerah itu selama 20 menit.
"SUZUNAAAA…" teriakan Sakurai membuat sebagian besar orang menoleh padanya. Sakurai tidak perduli. Dia harus menemukan Suzuna!
"Ryo-kun!" kali ini teriakkan itu begitu menyenangkan ditelinga Sakurai. Ia tidak perlu berbalik untuk mengetahui siapa yang ada dibelakangnya, ia hanya mengeluskan dadanya lega.
"Ryo-kun!" tiba-tiba saja Suzuna memeluknya dari belakang. Membuat Sakurai lebih kaget lagi. Dasar anak yang mengejutkan!
"Maaf, Suzuna. Kau darimana saja? Aku kebingungan mencarimu" ujar Sakurai berusaha melepaskan pelukan Suzuna. Namun, Suzuna tetap saja memeluknya. "Suzuna-chan, kau baik-baik saja? Maaf, lepaskan aku."
"Aku pikir Ryo-kun meninggalkanku!" ujar Suzuna sambil melepaskan pelukannya. Sakurai lalu mengelus pelan kepala Suzuna.
"aku tidak akan meninggalkanmu, Suzuna" ujar Sakurai sambil tersenyum.
"hehehe… satu hal yang aku sukai dari Ryo-kun" ujar Suzuna lagi sambil tersenyum lebar. Sakurai hanya menampakkan wajah heran.
"karena aku mirip Ikkun?"
"benar!"
"heh…" Sakurai hanya bisa menunduk. Apa-apaan anak ini! Sampai kapan ia mau membandingkanku dengan orang itu? "Suzuna-chan…"
"apa?"
"maaf, tapi tidak bisakah kau tidak membandingkanku dengan orang yang bernama Ikkun itu?" ujar Sakurai tersenyum lagi. Ia lalu berjalan kedepan meninggalkan Suzuna yang termenung.
"Sakurai?"
"eh, Suzuna, sudah agak siang. Pulang yuk!"
"aku masih mau main!" ujar Suzuna keras.
"tapi ini sudah siang"
"AKU MAU MAIN!" Suzuna berteriak dengan keras. Sakurai tambah terkejut. Ada apa dengan psikologi anak ini?
"maaf, Suzuna. Kau kan tidak perlu berteriak. Kalau begitu, 1 kali lagi ya, setelah itu kita pulang!" ujar Sakurai mencoba memahami pikiran Suzuna.
"TIDAK MAU! AKU MAU MAIN SAMPAI MALAM!" Suzuna lalu berlari. Sakurai menepuk jidatnya pelan. Apa salah dan dosanya sampai hal ini terjadi lagi? Ia baru saja menemukan Suzuna tadi.
"Suzuna!" Sakurai berlari lagi. Adegan yang sebelumnya terulang lagi. Ah, dia mulai lelah.
"Perhatian kepada seluruh pengunjung Taman Wisata. Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Ditemukan seorang perempuan menangis sangat keras disamping penjual balon di daerah 4. Kepada seseorang yang merasa mengenal perempuan tersebut, silahkan untuk datang mengamankan situasi. Ia tidak mau memberitahukan namanya, tapi ia memiliki rambut pendek sebahu berwarna hitam, memakai baju warna…" terdengar pengumuman dari Taman Wisata itu. Dari ciri-cirinya, Sakurai sudah bisa mengenali Suzuna. Ia pun berlari menuju daerah 4.
"Syumpehhh… cepetan! Entu anak sudah ngamuk, hampir makan pa le' balon, tauk! Teriak-teriak gaje kayak kesurupan. Plisss dibawaain pawangnya juga bolehhh…" operator mulai alay membuat Sakurai tambah panik. Ya Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi? Operator, jangan membuat semua semakin rumit. Sakurai tambah bingung dengan apa yang terjadi.
"Suzuna? Suzuna?" Sakurai meruak dari kerumunan yang mengelilingi Suzuna. Ia melihat Suzuna jongkok sambil menangis keras. begitu kerasnya sampai Sakurai merasa tuli mendadak. Ia langsung menggoyangkan tubuh Suzuna. "Suzuna! Sadar! Apa yang terjadi padamu?"
"PERGIII… AKU BENCI RYO!" teriakan Suzuna membuat Sakurai semakin panik. Apa yang harus ia lakukan?
"maafkan aku Suzuna. Sungguh, maafkan aku! Aku tidak sengaja! Aku hanya berbohong soal yang tadi. Tidak masalah kok kalau kau mau membandingkanku dengan Ikkun atau siapapun itu. Terserahlah, maafkan aku! Sungguh!" Sakurai mulai meminta maaf kepada Suzuna. Suzuna mulai diam. Sakurai ikut diam. Begitu juga dengan kerumunan orang-orang. Suasana semakin tegang. Mengapa selalu ada special effect ketika keadaan mendesak begini?
"benarkah?" tanya Suzuna. Sakurai hanya mengangguk.
"ayo pulang. Minggu depan kita kesini lagi." Ujar Sakurai. Suzuna menunduk. "ya? kau pasti capek kan? Besok kita ada ujian. Minggu depan saja, ya"
"hem…" angguk Suzuna.
"BANZAAIII!" semua orang berteriak. Akhirnya Suzuna bisa jinak kembali. Sakurai hanya bisa menutup matanya malu.
"maaf, maaf sudah merepotkan kalian!" dan sekali lagi, Sakurai meminta maaf.
…..
Esok sorenya, Momoi berjalan menuju ruang Gym. Ia baru saja dari ruang pelatih. Hari ini pelatih tidak akan mengawasi latihan Touou, karena ia akan menghadiri acara pernikahan adiknya. Lah, dia sendiri belum nikah? Udah, lupain soal pelatih Touou yang ganteng. Momoi sendiri juga ingin bicara dengan Sakurai. Ia baru saja mengingat siapa itu Ikkun.
"Ikkun? Bukankah itu adalah tokoh anime di anime 'Catch Me If You Dare'!" Ujar seorang temannya padanya.
"eh? bukan tokoh anime! Gak nyambung banget! Manusia, bukan tokoh anime!" Momoi benar-benar kesal dengan jawaban temannya itu.
"hehehe… bukan ya? Ikkun yang mana memangnya?"
"Ikkun yang sering dibicarain Suzuna-san!"
"ohhh Ikkun yang itu!"
"nah! Kau kenal?"
"yeee… udah dibilang itu tokoh anime!"
"eh?" Momoi tidak percaya dengan apa yang ia dengar. "beneran?"
"hehehe… gak lah. Masa' iya dia bilang mantannya tokoh anime!" Momoi benar-benar ingin membunuh temannya ini. Asalkan tidak ada hukum yang melarang, temannya ini pasti sudah mati. "Ikkun itu, itu loh… teman SMP kita yang meninggal 2 tahun yang lalu!"
"eh?"
"iya. Dia meninggal karena Suzuna" bisik temannya.
"kok bisa?"
"kau tahu Bipolar Disorder?"
"oh, penyakit psikologi itu? Yang bisa sangat senang, bisa juga sangat marah, atau sangat sedih?"
"hem, intinya alay berlebihan!" ujar temannya. Teori yang agak sableng, pikir Momoi. "ketika itu, Suzuna sangat senang karena mendapat hadiah ulang tahun dari Ikkun, tapi tiba-tiba, saking senangnya, ia berlarian ketengah jalan. Hampir saja ditabrak motor sampai Ikkun menyelamatkannya. Malah Ikkun yang meninggal, begitu! Mulai saat itu ia terkena penyakit Bipolar Disorder, sebelumnya sih enggak"
Momoi hanya bisa mengelus dadanya. Kisah yang sangat tragis. Karena itulah sifat Suzuna bisa menjadi sangat aneh. Yah, semuanya sudah dijawab oleh temannya itu.
"Suzuna-chan?" Momoi terkejut melihat Suzuna yang bersembunyi dibalik pintu Gym. Suzuna mengisyaratkan kepada Momoi untuk diam. Momoi segera mendekati Suzuna. "apa yang kau lakukan?"
"aku ingin melihat Ryo-kun berlatih" ujarnya dengan pelan. "kalau aku langsung memberitahukannya, ia pasti tidak mau aku lihat."
"oohh… begitu…" Momoi hanya mengangguk, ia melihat arah pandangan Suzuna yang tentu saja melihat Sakurai. "dia hebat kan? Dia sangat serius ketika berlatih. Semakin lama ia berlatih, akurat tembakannya semakin baik."
"…" pujian Momoi itu hanya membuat Suzuna diam. Ia sendiri mengakui kehebatan Sakurai yang saat ini melemparkan bola kedalam ring berkali-kali.
"apalagi ketika melawan Seirin beberapa bulan yang lalu. Hyuga senpai membuatnya tertekan, tapi ia tetap bisa bertahan!" ujar Momoi lagi.
"tertekan bagaimana?" Suzuna penasaran.
"ehm. Hyuga senpai melakukan tembakan 3 point, dia tidak mau kalah. Sakurai itu bukan orang yang suka untuk dibandingkan apalagi untuk hal yang ia sukai. Karena itu ia berusaha keras, yah meskipun kami tetap juga kalah 1 point" ujar Momoi mengenang masa lalu. Dan saat itu juga Aomine kembali menjadi Aomine yang biasa ia kenal, meski kadang masih suka malas-malasan.
"Momoi, apa aku salah?"
"apanya?"
"selama ini, aku membandingkan dia dengan Ikkun"
"ah, tidak usah dipikirkan…"
"tidak… aku jahat sekali ya, Momoi?"
"Suzuna?" Momoi hanya bisa terdiam melihat air mata yang jatuh dari mata Suzuna. Suzuna berbalik dan berlari menjauhinya. Momoi hanya bisa terkejut, ia harus memberitahukan ini pada Sakurai.
"SAKURAI-KUN!"
…..
Sakurai menghempaskan bola basket beberapa kali. Huft, dia mulai lelah, sudah 30 menit ia berlatih dan belum istirahat sama sekali. Ia masih belum puas dengan akurasi tembakannya. Dia harus bisa lebih baik dari ini. Minimal lebih baik dari Imayoshi senpai, atau Hyuga senpai, tidak perlu sampai sesempurna Midorima. Pikirnya.
"Ukh…" tapi ngomong-ngomong, kenapa tangannya dan kakinya terasa benar-benar sakit hari ini? Ah, pasti karena kemarin. Bola basket terlepas dari tangannya dan bola itu mulai menggelinding ke pinggir lapangan. Iya, kemarin. Ketika ia seperti orang kesurupan mencari jejak anak hilang. Hari itu benar-benar hari yang mengejutkan.
"tapi, kenapa sifatnya bisa seperti itu ya? apa dia tidak lelah?" pikirnya. Ia sendiri heran dengan sifat Suzuna yang angin-anginan. Mudah berubah dengan cepat dan begitu drastis. Ia juga penasaran dengan orang yang bernama Ikkun. Apa tidak ada 1 orang pun yang mengetahuinya.
"huft…" tapi, kenapa ia malah tidak mau membahas orang yang bernama Ikkun itu ya? Sakurai hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan frustasi. Dia benar-benar tidak mengerti. Kedatangan Suzuna dalam kehidupannya itu membuatnya kesulitan. Lebih sulit dibandingkan membawa Aomine untuk latihan!
"SAKURAI-KUN!" Teriakkan Momoi membuat Sakurai terbangun dari lamunannya dan membuatnya menoleh kesumber suara.
"ada apa, Momoi-san?" tanyanya heran.
"aku sudah tahu!"
"tentang apa?"
"semuanya! Dengarkan aku dengan baik! Setelah itu pergi lah mencari Suzuna, kau mengerti?"
…
Suzuna hanya bisa terdiam di toilet perempuan. Ia yakin, kalau pun Sakurai mencarinya, ia tidak akan bisa masuk kedalam. Suzuna telah lelah menangis dan berteriak selama 10 menit, yang mengakibatkan tidak ada yang berani masuk ke toilet. Ia sudah memutuskan sesuatu!
Suzuna merasa benar-benar menyesal pernah mengenal Sakurai. Karena ia mengenal Sakurai, ia akhirnya malah membuat Sakurai tertekan. Ia yakin kehidupan Sakurai pasti sangat menyenangkan sebelumnya. Jauh menyenangkan sebelum bertemu dengan Suzuna.
Sakurai sendiri mau menerima Suzuna hanya karena kasihan, kan? Sakurai adalah orang yang memiliki hati yang lembut. Buktinya, ia selalu meminta maaf, dimana pun dan kapan pun. Mengingat hal itu membuat Suzuna tersenyum miris. Ia benar-benar tidak tahu diri!
Lagipula, siapa yang mau punya penyakit yang mengerikan seperti ini? Hanya karena Ikkun mati didepan matanya, ia menjadi gila. Ah, kenapa juga ia masih mengingat orang itu? Pantas saja Sakurai menunjukkan wajah tidak suka ketika ia mulai membandingkan Ikkun dengannya. Suzuna benar-benar merasa bodoh. Ia harus menyelesaikan semua ini, Sakurai tidak boleh tertekan lebih dari pada ini lagi. Ia pun keluar dari toilet.
"Suzuna!" Sakurai akhirnya menemukan Suzuna yang keluar dari toilet perempuan. Suzuna tidak sedikit pun terkejut atau pun menoleh pada Sakurai sampai tangan Sakurai meraih tangannya. "aku minta.."
"maafkan aku…" ujar Suzuna langsung. "aku tidak tahu betapa merepotkannya aku selama ini. Aku minta maaf…"
"Suzuna…" Sakurai terkejut dengan apa yang ia dengar. Suzuna meminta maaf lebih dulu dari pada dirinya.
"maaf, sudah membandingkanmu dengan Ikkun, pasti tidak menyenangkan ya?" Suzuna menggigit bibir bawahnya. Ia menoleh pada Sakurai yang masih terkejut.
"itu…"
"yah, karena itulah, aku harap kau mau memaafkanku"
"ya, aku tentu saja akan memaafkanmu. Aku juga…"
"dan…" Suzuna menahan kata-katanya karena tenggorokannya tercekat menahan suara tangis yang mungkin keluar. Ia harus menahan emosinya sebaik mungkin. "sebaiknya, kita mulai semua dari awal."
"ehm. Baiklah. Kita akan mulai dari awal…" ujar Sakurai. Dia mulai lega, Suzuna sudah bisa agak stabil dan mau kembali padanya. Ia sendiri tidak mau mengakhiri hubungan yang ia jalin dengan Suzuna setelah ia mengetahui kebenaran.
"maksudku, benar-benar dari awal, Sakurai-kun" Suzuna kali ini tidak lagi memanggil Sakurai dengan nama 'Ryo-kun', hal itu membuat Sakurai heran. "lupakan tentang hubungan ini. Anggap kita tidak pernah bersama dan tidak pernah merasakan apapun."
"Suzuna!"
"Senang bertemu denganmu, Sakurai-kun" Suzuna tersenyum pada Sakurai. Ia lalu berjalan kearah loker sekolah. Meninggalkan Sakurai yang masih belum bisa mencerna kata-kata Suzuna. Apa maksudnya? Apa maksudnya dari mengulang dari awal? Apa itu artinya kebersamaan mereka selama ini tidak ada gunanya? Apa itu tidak ada artinya sama sekali?
"Suzuna? Bagaimana bisa aku melupakannya?" tanya Sakurai dengan suara yang lebih besar agar mencapai pendengaran Suzuna.
"…"
"jika aku salah, kau bisa memarahiku seperti biasanya. Tak masalah jika kau membandingkanku dengan Ikkun!"
"…"
"Apa kita harus benar-benar melupakan semuanya?"
"…"
"Suzuna, jika kau seperti ini, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri!"
"…"
"aku tidak masalah dengan apa yang kau derita, aku baik-baik saja!"
"…"
"apa kau tidak mendengarku, Suzuna?"
"…"
"SUZUNAAA!"
Teriakkan Sakurai menggema dilorong sekolah yang sepi di sore hari. Hanya terdengar suara detak jarum jam dan suara tetesan air dari keran. Angin membawa gelombang suara Sakurai mengelilingi relung hati Suzuna yang mengganti sepatunya dan pergi keluar dari sekolah. Ia sudah berusaha dengan keras untuk menahan air matanya. Ia sudah yakin dengan keputusannya. Ia tidak akan mengganggu Sakurai lagi.
Lalu bagaimana dengan Sakurai? Ia hanya bisa terdiam ditempat semula. Mencoba untuk menepis kenyataan yang terjadi. Kenapa ia harus berhenti ketika sudah mengetahui kebenaran? Kenapa ia harus berhenti ketika ia sudah siap untuk memahami? Ia mengepalkan dengan erat kedua tangannya, mencoba menahan suara tangisnya. Baru kali ini, ia benar-benar sakit hati. Bahkan, ia belum mengucapkan kata 'maaf' pada Suzuna.
…..
Gimana? Hehehe… menggantung ye? Author agak bingung memilih endingnya. Apa sad ending atau happy ending. Akhirnya milih Sad ending, meskipun gak ahli kalau buat sad ending. Bipolar Disorder itu beneran ada loh! Pernah juga author masukkan ke dalam FF Jadul author. Hehehe…
Review please… ^^ thanks for reading!
