"Mau sampai kapan kau tertidur seperti ini Teme?" ucap seorang pemuda blonde.

"Kau tahu?, Hinata tidak akan menyukainya, dia tidak suka melihat orang yang di sayanginya menderita." ucap Naruto, hari ini Naruto menjenguk Sasuke, karena kuliahnya sedang libur, kekasihnya Shion menunggu di luar kamar pasien.

"Kau merindukanya iya kan?, hhh...apa kau pikir aku juga tidak merindukanya." Naruto menundukan kepalanya, pemuda itu juga menahan air matanya keluar.

"Bangunlah Teme, aku punya sesuatu untukmu, ini adalah catatan harian Hinata, hanya ini yang tersisa, kuharap bisa mengobati rasa rindumu."

"Kau pikir aku tidak tahu dengan semua yang terjadi antara kau dan Hinata?"

"Aku memang tidak berhak ikut campur, tapi tenggelam dalam rasa bersalah itu tidak baik, aku yakin Hinata tidak akan pernah membencimu, dia sangat mencintaimu."

"Jadi segeralah bangun dan selesaikan semua, katakan pada semua orang yang kau rasakan."

"Kau harus melanjutkan hidupmu , Teme."

"Kupikir Hinata melakukan semua ini, karena dia ingin kau bahagia, dia tidak ingin membebanimu dengan perasaanya."

"Dia tidak mungkin kembali, percuma kau menunggunya."

"Hinata tidak sanggup bertahan dengan hidupnya"

"Selama ini dia bertahan karena dirimu, Teme."

"Maka saat cahaya hidupnya redup, Hinata memilih jalan itu."

Naruto menangis mengenang sahabatnya yang sudah pergi, Hinata sudah pergi untuk selamanya.

"Dia mengandung bayimukan?, Teme." tangisan Naruto pecah, hanya saja dia tidak meraung seperti seorang gadis.

"Hiks...kenapa kalian berdua harus menderita seperti ini?" tanpa Naruto sadari seorang gadis bersurai pink tengah berdiri di belakangnya, gadis itu menutup mulutnya dengan telapak tanganya, dengan air mata yang keluar deras.

Naruto berhenti berbicara, karena melihat gerakan kecil di jemari Sasuke, Naruto segera memanggil dokter, kelopak mata itu terbuka perlahan dan memperlihatkan iris serupa jelaga, pemuda itu sadar, Sasuke tersadar dari koma.

Naruto©Mr Masashi Kishimoto

Bukan Romeo dan Juliet

SASUHINA

Rate M

Peringatan keras jika tak suka pair ini, silahkan tekan back...

Happy reading.

Seorang prodigy dari keluarga Uchiha tengah berjalan, pemuda penuh talenta dengan segala kesempurnaan yang di milikinya, membuat langkahnya terlihat penuh dengan kepercayaan diri yang tinggi.

'Uchiha Sasuke'

Hari ini adalah hari pertama dirinya menginjakan kaki di sekolah barunya KIHS, sekolah bergengsi paling terkenal seantero Jepang, sekolah terfavorit, hanya kalangan borjuis yang bisa sekolah disini, atau yang beruntung dengan otak cerdasnya bisa masuk dengan jalur beasiswa.

Sasuke berjalan dengan santai, di belokan koridor pertama tanpa di duga ada seorang gadis yang tidak sengaja menambraknya, mereka berdua terjungkal kebelakang, sebagai seorang laki-laki Sasuke menunjukan sikap gentlemannya dengan segera bangkit dan membantu si gadis untuk bangkit, tangan mereka bersentuhan, kulit lembut si gadis begitu terasa di telapak tanganya, gadis itu bertubuh mungil, rambutnya gelap sepanjang bahu.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Sasuke setelah mereka berdiri kembali.

Gadis itu mendongak, tatapan mereka bertemu gelap dan bening, mata bening yang indah dan menenangkan mengedip membuat Sasuke sadar terlalu lama menatapnya.

"Y-ya...a-aku baik-baik saja, maaf aku tidak sengaja menabrakmu, a-aku buru-buru t-tadi." ucap gadis itu kikuk, kemudian membungkukan badanya.

"Tak apa, aku permisi dulu." ucap Sasuke, gadis itu kembali membungkuk, Sasuke pergi melewati gadis itu, tanpa Sasuke sadari gadis itu berbalik melihat dirinya, seulas senyum cantik terlihat di bibir gadis itu.

Akhirnya Sasuke tahu, gadis itu teman satu kelasnya, Sasuke mengenal gadis itu dengan nama Hinata, Sasuke tidak pernah berkenalan secara harafiah dengan gadis itu, sebagai ketua Osis yang baru terpilih tentu Sasuke harus tahu siapa saja nama temanya.

Sasuke tidak pernah menghiraukan lagi kehadiran Hinata, baginya gadis itu hanya sekedar teman satu kelas biasa tidak lebih, Sasuke menjalin hubungan dengan banyak gadis, tentu saja karena di sekolah ini banyak gadis cantik dari kalangan berada, Sasuke mungkin playboy tapi dia bukanlah badboy, Sasuke selalu menghargai semua temanya terutama para gadis, Sasuke juga bertanggung jawab dengan tugasnya sebagai ketua Osis.

Sasuke tidak menyadari, selama ini ada seseorang memperhatikanya, seseorang yang memendam cinta yang tulus hanya untuk dirinya, seorang gadis bernama Hinata, seorang gadis yang memandangnya dari kejauhan, seorang gadis yang diam-diam mengumpulkan informasi tentangnya.

Namun sekali lagi, Sasuke tidak menyadarinya, perlahan eksistensi gadis bermata bening itu semakin tersamar dengan terhalang pesona gadis lain yang jauh lebih cantik, lebih menarik dan juga lebih aktif.

'Bahkan eksistensi si gadis bermata bening, telupakan'

B

R

D

J

Sasuke masih menunggu Hinata di Uks, dirinya sengaja tidak memberi tahu Sakura ataupun Naruto, pemuda blonde itu pasti akan mencari Neji jika mengetahui hal ini.

Sasuke menarik selimut untuk Hinata, tapi saat melihat pakaian Hinata yang basah itu akan percuma, entah kebetulan atau apa para petugas di Uks juga tidak ada, Sasuke bingung sendiri, dengan terpaksa dan jantung yang berdebar Sasuke membuka sepatu dan kaos kaki Hinata dulu, setelah itu Sasuke membuka blazer yang dia pakaikan tadi.

Sasuke menelan ludahnya, bagaimana pun dia seorang lelaki normal, tubuhnya akan bereaksi terhadap rangsangan, di depanya tubuh Hinata terpangpang jelas, bra hitam yang sedikit basah tertangkap di matanya, kancing kemeja yang terlepas membuat tubuhnya terbuka, dua benda bulat yang menyembul dari balik bra terlihat begitu sexy dan menggoda.

Sasuke menutup mata, Sasuke melepaskan kemejanya sendiri dan kemeja Hinata, sekilas memandang mereka seperti akan melakukan percintaan, namun tidak Sasuke memakaikan kemeja seragamnya pada Hinata, tanpa sengaja tanganya menyentuh salah satu benda bulat yang menggairahkan itu, tubuh Sasuke merinding seketika, namun Sasuke tetap menjaga kewarasanya, dengan cepat dia mengancinkan kemejanya yang di pakai Hinata.

Pandangannya kini beralih pada rok seragam Hinata yang juga basah.

'Sial...'

Sasuke mengusap wajahnya kasar, Sasuke berjalan ke arah lemari di pojok ruangan, membukanya dan dia menemukan beberapa pasang seragam untuk laki-laki dan perempuan.

'Sial...' kalau dari tadi dia tahu ada seragam cadangan, maka dirinya tidak perlu repot membuka kemejanya sendiri, dan sekarang tidak mungkin untuk menukarnya kembali, dia tidak ingin mengambil resiko tubuh sensitifnya kembali menegang.

Sasuke memakai kemeja seragam cadangan untuk laki-laki, kemudian mengambil rok seragam perempuan untuk Hinata.

Sasuke memasang selimut di bagian bawah tubuh Hinata, dengan terpaksa Sasuke menjangkau dari luar selimut untuk membuka rok Hinata, namun tetap saja tanganya selalu menyentuh kulit Hinata yang terasa halus dan juga dingin.

Berkali-kali Sasuke menggelengkan kepalanya untuk menyingkirkan pikiran kotor, Sasuke merasa dirinya tidak berbeda dengan Neji, menyentuh tubuh Hinata tanpa seijin si empunya.

Lonceng tanda berakhirnya pelajaran untuk hari ini sudah berbunyi sejak 1 jam yang lalu, tapi Hinata belum juga sadarkan diri, Ponsel Sasuke mati sehingga dia tidak bisa menghubungi atau dihubungi siapapun, Sasuke tidak berani mengambil ponsel Hinata yang berada di rok seragam Hinata yang basah.

"S-sa..." Sasuke mendengar gumaman dari mulut Hinata.

"Sa...kit..." Sasuke mengernyit, perlahan Sasuke mendekatkatkan wajahnya dengan wajah Hinata.

"Tolong..." suara Hinata terdengar merintih, gadis itu bermimpi buruk, Sasuke mendekatkan telinganya di bibir Hinata, namum saat ingin mengalihkan wajahnya, tanpa sengaja hidungnya bersentuhan dengan hidung Hinata, bibirnya hanya berjarak 2 centi dari bibir Hinata.

Sasuke menahan napasnya, namum pemuda itu tidak segera mengangkat wajahnya, Sasuke merasakan napas halus Hinata yang berhembus ke wajahnya.

Sasuke berpikir, kenapa dirinya jadi semesum ini, bagaimana tidak, bibirnya semakin mendekat di bibir Hinata, belum pernah Sasuke tergoda lebih dulu pada perempuan kecuali jika mereka memulai duluan.

Tapi Hinata tidak melakukan apapun, gadis ini bahkan tak sadarkan diri, Sasuke tidak mengerti bahkan dengan Sakurapun Sasuke belum pernah sedekat ini.

'Sakura..?'

Ya ampun, Sasuke lupa, sungguh dia tidak ingin menghianati Sakura, Sasuke sangat menyayangi gadis itu.

Dengan segera Sasuke menjauh dan mengusap kasar wajahnya.

'Sial...'

Kata itu keluar entah yang keberapa kali dalam umpatanya, Sasuke keluar, namun tidak menutup pintu, kemudian pemuda itu menyandarkan punggungnya pada dinding luar Uks, pikiranya kembali menerawang.

'Kenapa aku bertindak seperti ini, memalukan, sikapku seperti seorang pecundang yang memanfaatkan seorang gadis yang tidak berdaya'

Sasuke bermonolog dengan pemikiranya sendiri.

Sudah satu minggu sejak kejadian Hinata pingsan, sikap Sasuke begitu dingin, Hinata ingat saat tersadar di Uks, sikap Sasuke begitu dingin, walaupun Hinata sudah meminta maaf dan berterima kasih, tapi tetap saja raut wajah Sasuke tidak bersahabat.

Hinata menatap Sasuke dan Sakura dari kejauhan, pemuda itu tampak bahagia bersama kekasihnya.

"Mereka sangat serasi bukan?" suara seorang gadis bersurai blonde membuyarkan lamunan Hinata.

"Itu benar Shion, kurasa tidak ada yang lebih pantas lagi selain Sakura" ucap gadis bersurai merah kepada temanya Shion, mereka berdua berdiri di sisi kiri dan kanan Hinata.

"Itu benar kan? Hinata?" ucap Shion dengan nada suara yang dingin, Hinata menundukan kepalanya.

"Kau tahu seorang Yamanaka Ino yang cantik sekalipun, tidak akan mampu merebut Sasuke dari Sakura, apalagi seorang gadis seperti..." ucap Karin pandanganya menilai Hinata dari atas sampai bawah tubuhnya.

Hinata mengerti, Karin dan Shion hanya mengingattkanya dengan cara halus.

"Aaahh...kalian benar." ucap Hinata dengan suara manja.

"Kau Shion aku juga harus mengingatkanmu." ucap Karin sinis.

"Karin benar Shion, kau harus lebih hati-hati sekarang." ucap Hinata sinis, sebenarnya Hinata tau kedua gadis ini menyindirnya.

"Kau..." ucap Shion marah.

"Cih..tapi itu benar Shion, coba saja kau pinta Naruto untuk memilih antara kau dan aku, kau sudah tau jawabanya bukan?" ucap angkuh Hinata, gadis itu berlalu dan eninggalkan dua temanya yang dongkol.

Shion mengetahui selama ini Hinata selalu mencuri pandang pada Sasuke, sebelumnya Shion selalu cemburu karena Naruto terlalu memperhatikan Hinata.

Skizo-affectif, Hinata tahu tentang penyakit kejiwaanya, tanpa sengaja dia mendengar percakapan antara Tsunade dan asistenya Sizune, Hinata benar-benar berusaha untuk menutupinya, dirinya tidak ingin seorangpun tahu , semua temanya akan menjauh jika mereka tahu bahwa dirinya adalah seorang gadis yang gila, setidaknya itu yang Hinata pikirkan sekarang.

'saat takdir menentukan, bisakah kita menghindar'

Hari ini tanggal 23 juli, semua orang tahu ada apa di hari ini, Uchiha Sasuke sudah mencapai usia 18 tahun.

Pesta?

Ya siang ini di rumah Sasuke di adakan pesta, ibunya memaksa agar ulang tahunya dirayakan, sekalian Mikoto ingin berkenalan dengan pacar Sasuke, karena Mikoto sempat khawatir bahwa putranya memiliki hubungan khusus dengan si gadis Hyuga, entahlah naluri keibuanya mengatakan sesuatu akan terjadi pada putra kesayanganya.

Semua undangan tampak hadir, kebetulan hari ini adalah hari minggu, Mikoto tampak senang saat berkenalan dengan Sakura, gadis itu memancarkan aura kegembiraan berbeda sekali dengan Hinata yang memiliki aura gelap.

Mokoto menggelengkan kepalanya, kenapa dia selalu terpikirkan tentang Hinata, segala sesuatu tentang Sasuke selalu di sangkut pautkan dengan si gadis Hyuga, padahal Sasuke selalu mengatakan bahwa dirinya tidak punya hubungan apapun.

Kegembiraan pesta Sasuke di nikmati para tamu, hanya satu orang yang tidak hadir, Hinata, wanita bernama Mikoto bernapas lega karena gadis itu tidak hadir, namun tiba- tiba dari arah pintu masuk siluet seorang gadis muncul dengan langkah cantiknya, gadis itu datang saat pesta akan segera berakhir.

Hinata menjadi pusat perhatian, selain datang terakhir gadis itu benepampilan begitu memukau, gaun shifon abunya sangat serasi di padu kulitnya yang seperti susu, semua mata pemuda mengarah padanya, Hinata yang biasanya sangat sederhana menjelma seperti seorang ratu.

"Berani sekali kau datang kemari?" ucap Mikoto dengan senyum di bibirnya, sekilas melihat wanita itu seperti menyambut ramah tamunya, Hinata mengerti maksud Mikoto wanita itu menjaga imagenya di depan orang lain.

"Maaf nyonya, saya mendapat undangan, jadi apa masalah jika aku datang kemari." ucap Hinata tenang.

"Kau...lihatlah, pakaian yang kau kenakan itu hanya cocok untuk Naomi, bukan gadis dengan darah kotor sepertimu." ucap Mikoto masih dengan senyumnya.

"Kalau dia masih hidup, dia pasti tidak akan pernah mengijinkanmu menyentuh barang-barangnya."

"Ya...anda benar, tapi wanita itu sudah mati, jadi kurasa meminjam barangnya saat ini tidak menjadi masalah." ucap Hinata dengan senyum sinis.

"Kau gadis durhaka, bagaimana mungkin kau bicara seperti itu tentang ibumu, sebaiknya cepat pergi dari rumahku ini." Mikoto menggertakan gigjnya karena marah.

"Ini pesta putra anda, jadi hanya dia yang bisa mengusir saya."

Mikoto pergi meninggalkan Hinata dengan dongkol, terakhir kali bertemu, Hinata terlihat lemah, tapi baru saja gadis itu seperti menunjukan taringnya yang tersembunyi.

"Hey,...kenapa pesta ini di adakan di siang hari? seperti anak TK saja." ucap seorang pemuda pada temanya yang lain, Hinata mengalihkan perhatian pada teman beda kelasnya.

"Katanya karena nanti malam pesta ini akan di lanjutkan di club malam terbesar di pusat kota."ucap pemuda lainya.

"Selamat sore semuanya, terima kasih atas kehadiran anda semua di pesta ulang tahun putraku." suara Mikoto terdengar melalui microfon yang tengah di pegangnya, suaminya Fugaku mendampingi Mikoto .

"Hari ini adalah hari yang membahagiakan untuk keluarga kami, sebenarnya di pesta ini ada kejutan, kalau tidak ada halangan putraku Sasuke dalam 4 bulan ke depan akan melaksanakan lamaran pada kekasihnya, Haruno Sakura."

Semua orang terkejut bahkan Sasuke sendiri tidak tahu hal ini, Fugaku bahkan menatap Mikoto penuh tanya, tapi Mikoto menatap kembali seolah mengatakan.

'Nanti akan kujelaskan'

Naruto melirik ke arah Hinata, gadis itu tengah tersenyum dan bertepuk tangan seperti yang lainya, seolah ikut merasakan kegembiraan tersebut, Naruto merasakan sesak di dadanya, bagaimana mungkin Hinata bisa menghadapinya, Hinata melirik kearahnya, tepukan tanganya terhenti, gadis itu tersenyum selebar mungkin, namun Naruto tahu mata gadis itu menunjukan luka yang mendalam.

Sore semakin terlewati malam datang membawa gelapnya, membuat sang matahari mengalah pada sang bulan yang akan datang membawa sinarnya yang anggun.

Sesuai rencana pesta di lanjutkan di club malam, awalnya Hinata menolak, Naruto juga sudah mengajaknya pulang, Naruto tidak ingin melihat Hinata yang terluka, namun semua temannya termasuk Shion memaksanya untuk tetap tinggal.

Hinata tengah duduk di meja bar yang berbentuk setengah lingkaran, perasaannya sudah bercampur aduk, tapi di tempat ramai seperti ini, dia tidak mendengar suara-suara aneh yang selalu ada di kepalanya.

"Nona, kau minum ini?" seorang bartender menyodorkan satu gelas besar minuman yang Hinata tidak tahu apa namanya.

"Tidak tuan, terima kasih." ucap Hinata dengan gelengan kepalanya.

"Ayolah, ini gratis semua minuman disini sudah di bayar oleh tuan Uchiha untuk merayakan pesta putranya." ucap bartender itu lagi.

"Ya, saya tahu, masalahnya aku tidak pernah minum." tolak Hinata, bartender itu tersenyum.

"Kalau kau mabuk, di sini kan banyak temanmu mereka bisa mengantarmu." Hinata mengambil minuman itu dan meneguknya sekaligus sensasi pahit dan panas mengalir di tenggorokanya, bartender itu banyak bicara dan membuat Hinata kesal.

Hinata tidak beranjak dari tempat itu, kepalanya terasa pusing, gadis itu kemudian pergi ke toilet, saat kembali Hinata tidak melihat lagi teman- temanya.

"Hey, kemana mereka." Hinata tidak melihat Naruto,Shion maupun yang lainya, Hinata hanya melihat anak lain dari sekolahnya.

"Hyuga.." suara baritone itu mengejutkanya.

"S-Sasuke-san, kemana semua orang?." tanya Hinata, gadis itu tampak kebingungan.

"Mereka sudah pulang, tadi mereka mencarimu." ucap Sasuke, pemuda itu melihat penampilan Hinata yang berbeda hari ini.

"A-aku baru k-kembali dari toilet, kau sendiri kenapa belum pulang? lalu di mana Sakura?" ucap Hinata dengan memegang kepalanya.

"Sakura sudah pulang, aku harus menyelesaikan sisa pembayaran club ini."

"Ini sudah tengah malam, pulanglah karena sebentar lagi club ini akan di buka untuk umum." lanjut Sasuke.

"Ya, tapi aku ke toilet dulu perutku rasanya mual." Hinata kembali ke toilet sedangkan Sasuke menyelesaikan pembayaran ke ruangan menager club ini, suara musik yang keras mulai menggema, sepertinya clubnya sudah di buka untuk umum, Sasuke belum melihat Hinata keluar.

'Di mana dia, apa dia sudah pulang'

"Hallo selamat malam para pengunjung."suara seorang DJ terdengar, semua pengunjung bersorak, club ini terlihat penuh padahal baru beberapa menit di buka, Sasuke mengalihkan perhatianya pada suara DJ tersebut.

"Malam ini ada penampilan special dari seorang pengunjung, dia akan menari untuk kita semua, seorang gadis cantik yang akan menghibur kita semua, dan sambutlah ini diaaaaaa..." suara DJ menggema di iringi suara musik yang membuat semua orang menggoyangkan tubuhnya.

Lampu di matikan hanya satu lampu yang menyala dan menyorot ke panggung yang berada di tengah dancefloor, seorang gadis muncul dari balik panggung, dengan pakaian sexynya, rambut gelap yang teruarai bibirnya di poles lipstik merah, make up yang pas dengan wajahnya, pakainya yang supermini membuat para hidung belang di sana bersorak.

Sasuke membulatkan matanya, gadis di depanya ini dia kenali, gadis yang tengah menari dengan gayanya yang sensual mempertontonkan lekuk tubuhnya, memperlihatkan kulit seputih susunya pada para pria pemburu kenikmatan.

Pakaian gadis itu menerawang, bra dan celana dalam gadis itu hampir terlihat dari luar pakaianya, Sasuke mengepalkan tanganya merasa kesal, gadis yang dianggapnya pendiam bertingkah seperti wanita murahan.

Di tengah hentakan suara musik gadis itu turun masih dengan gaya tarianya yang sensual, gadis itu mendekati Sasuke, mengalungkan kedua tanganya pada pemuda itu.

"Sasuke ayo menari bersamaku" ucap gadis itu pelan, Sasuke masih bisa mendengarkan.

"Hentikan Hinata, ayo kuantar kau pulang." ucap Sasuke menahan marah.

"Hm...tidak mau, aku masih ingin di sini, kau harus menemaniku." ucap Hinata, gadis itu meyentuh dada Sasuke dengan telunjuknya, bau alcohol tercium oleh Sasuke.

"Kau mabuk Hinata." Sasuke menepis tangan Hinata yang berada di dadanya, Sasuke takut tubuhnya bereaksi seperti tempo hari, sekarang Hinata memeluknya gadis itu tertawa.

"Haha...eum...kau tidak ingin menyentuhku hm?" ucap Hinata, suaranya terdengar khas seperti orang mabuk.

"Kau tahu Sasuke, orang itu selalu ingin menyentuhku, aku sampai harus mengunci kamarku rapat-rapat." ucap Hinata, kemudian gadis itu menggerakan tubuhnya seirama suara musik, para hidung belang itu melihat kembali tubuh Hinata yang bergerak di hadapan Sasuke, seorang pria tiba-tiba mengulurkan tanganya hendak menyentuh bokong Hinata, namun Sasuke melihat dan segera mencekal tangan tersebut.

"Hey...anak muda, jangan serakah seperti itu, gadis ini milik kita semua di sini, ayo kita bersenang-senang bersama." ucap pria itu, dengan segera Sasuke menarik kembali tubuh Hinata yang berada jauh satu langkah di hadapanya.

"Gadis ini bukan gadis murahan, dia temanku." ucap Sasuke, kemudian menarik paksa Hinata keluar dari tempat terkutuk itu, para pria hidung belang itu tertawa saat Sasuke pergi membawa Hinata.

"Hahaha...kau memang serakah anak muda, kau ingin menikmatinya sendirian ya?" Sasuke mengumpat, kelakuan Hinata selalu melibatkan emosinya, pertama dengan ibunya, kedua dengan Neji dan sekarang?.

Sasuke menarik Hinata menuju mobilnya, sebelumnya dia memakaikan jasnya pada Hinata, gadis itu meronta menolak Sasuke membawanya.

"L-lepaskan aku Sasuke-san, aku tidak mau pulang, mereka ada di sana, ada di rumah."

"Siapa?.." tanya Sasuke, pemuda itu membuka pintu mobilnya.

"Teman dari Hiashi Hyuga, a-aku tidak bisa pulang kerumah, b-biarkan aku tetap di sini." Hinata memang mendapat pesan singkat dari Ayame, bahwa di rumahnya sedang ada Hiashi dan teman-temanya, Ayame meminta Hinata untuk tidak pulang malam ini.

Sasuke tahu alasan Hinata tidak ingin pulang, gadis itu takut.

"Eum...m-maksudku, a-aku malu pada teman a-ayah, kalau mereka melihatku mabuk seperti ini, ayahku pasti akan kecewa." Sasuke menghela napas jelas Hinata sedang berbohong.

"Naiklah.." ucap Sasuke kembali.

"A-aku tidak bisa, kau pulang duluan saja." ucap Hinata dengan menunduk.

"Kubilang naik, Hyuga." Sasuke membentak Hinata, gadis itu terkejut kemudian menangis tapi kemudian gadis itu memasukan dirinya ke dalam mobil Sasuke.

Kendaraan roda empat itu berjalan pelan, Sasuke bingung harus membawa Hinata kemana, tidak mungkin dia membawa gadis itu ke rumahnya, Hinata masih mengalihkan pandanganya ke arah jalan, dapat Sasuke lihat gadis itu masih menangis, sebenarnya Sasuke merasa bersalah karena membentak Hinata.

"Apa kau ingin aku menghubungi Naruto atau Sakura?." tanya Sasuke, Hinata menoleh dan dengan cepat menggelengkan kepalanya.

"Tidak, jangan menghubungi mereka, aku sudah terlalu banyak merepotkan mereka."

"Lalu kau mau kemana sekarang?"

"Aku turun di sini saja, Sasuke-san silahkan pulang saja."

"Kau pikir aku akan membiarkanya ,hah?" Sasuke membentak lagi, sumgguh berurusan dengan Hinata membuat tekanan darahnya naik, sekarang Hinata membuatnya kesulitan.

Pada akhirnya Sasuke membawa Hinata ke apartement kakakanya yang kosong, pemiliknya sedang berada di luar negri, untung saja Sasuke masih mengingat passwordnya.

Hinata masih berjalan terhuyung, gadis itu duduk di sofa kemudian menyandarkan kepalanya.

"Kalau kau punya masalah sebaiknya minta bantuan pada temanmu, jangan libatkan orang lain." ucap Sasuke, pemuda itu memberikan satu gelas teh hangat untuk Hinata, kemudian gadis itu menegakan kembali kepalanya yang semula bersandar, teh yang di berikan Sasuke kemudian di sesapnya.

"M-maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk merepotkanmu." ucap Hinata, gadis itu menunduk, gadis itu mabuk tapi dia berusaha mempertahan kesadaranya.

Sasuke menghela napas, sebenarnya setelah kejadian di Uks, Sasuke selalu memikirkan Hinata, dia bersikap dingin karena berusaha membentengi dirinya dari perasaan aneh yang mengganggunya.

"Jangan bersikap seolah hanya kau yang menderita di dunia ini." sungguh ucapan Sasuke yang satu ini membuat Hinata merasakan sakit luar biasa di dadanya.

"Apa yang kau tahu, kau tidak tahu apapun tentangku, jadi jangan menghakimiku, terima kasih atas pertolonganya, aku permisi." Hinata beranjak kemudian membungkukan badanya.

Sasuke juga beranjak dari duduknya.

"Mau menghindar Hyuga." Hinata berbalik dan menatap Sasuke.

"Kalau kau mau kau bisa menceritakan kesedihanmu itu pada orang lain, aku...aku...aku bisa mendengarkan semua kalau kau mau bercerita." ucap Sasuke tatapannya sedikit melembut.

"Haah...kau menawarkan bantuan?" Hinata tertawa di tengah tangisnya.

"Kau pikir siapa dirimu, aku bukan siapa-siapa bagimu, begitupun sebaliknya." ucapan Hinata memang benar mereka tidak memiliki hubungan apapun.

"Kita tidak berteman tidak juga bersahabat, kau hanyalah kekasih dari sahabatku Sakura, dan aku hanyalah sahabat dari kekasihmu, lalu kenapa aku harus bercerita padamu?" jujur saja ada rasa sakit saat Sasuke mendengar perkataan Hinata.

"Kau butuh seseorang untuk berbicara Hinata." suara Sasuke meninggi.

"Lalu apa yang harus kukatakan pada mereka?"

"Apakah harus kukatakan kalau aku adalah gadis gila, sakit jiwa?" nada suara Hinata juga sedikit meninggi, air matanya deras mengalir.

"Apakah aku harus membongkar aibku sendiri?." Hinata mulai sesenggukan, sebenarnya dia tidak ingin menunjukan kelemahanya pada siapapun, terutama pada pemuda yang ada di hadapanya.

"Ibuku membenciku, dia memilih mati dari pada menyayangiku, ayah kandungku di bunuh ibuku sendiri,hiks...orang-orang itu mencoba menodaiku, bahkan sepupuku sendiri menganggapku seperti wanita jalang."

"Hidupku sangat sulit Sasuke-san, untuk makan pun aku harus bisa mencari sendiri, aku merasa hidupku ini tidak berguna, semua membenciku karena ibuku mati, aku di maki bahkan di siksa, hiks...adikku hanabi, tinggal di luar negri karena Hiashi tidak ingin putrinya melihat kegilaan ibunya." Hinata menutup wajahnya dengan telapak tangan kirinya, sedangkan tangan kananya mengepal.

"Bukankah kau menyukai seseorang.?" tanya Sasuke, sebenarnya mulutnya terasa kelu untuk mengatakan itu.

Hinata menurunkan tanganya, sedikit terkejut.

"Apa lagi yang kau tahu, Sasuke -san?."

"Ku dengar kau menyukai orang itu, dia cahaya hidupmu bukan?." Sasuke melihat Hinata gadis itu semakin terluka, bubirnya bergetar.

"Kenapa kau tidak mencoba mengungkapkan perasaanmu itu, mungkin setelahnya kau akan merasa lebih baik." ucap Sasuke walaupun ragu.

"Aku tidak bisa, lagi pula itu bukan urusanmu."

"Lalu kau akan terus seperti ini?." Sasuke semakin emosi pembicaraanya dengan Hinata menguras kesabaranya.

"Aku tidak bisa menggapainya, cintaku bertepuk sebelah tangan, aku yakin perasaanku tidak akan di balas olehnya." Hinata tidak tahan lagi, dia ingin meninggalkan tempat ini secepat mungkin.

"Sedalam itukah kau mencintai orang itu.?" Sasuke tidak tahu kenapa dia ingin tahu perasaan Hinata padahal itu bukan urusanya, tapi ada rasa cemburu yang menyeruak dalam dadanya.

"..."

" Jadi begitu? sebaiknya kau lupakan dia!" ucap Sasuke, Hinata menundukan kepalanya, sakit rasanya secara tidak langsung Sasuke menyuruh Hinata melupakanya.

"M-maaf...aku, hiks...tidak bisa melakukan itu!...aku..aku permisi Sasuke-san!" Hinata berbalik kembali untuk berjalan, Sasuke membatu tubuhnya diam, apakah dirinya benar-benar menyakiti Hinata?.

Hinata berbalik dan berjalan ke arah Sasuke, pemuda itu menatapnya dalam dan menunggu apa yang akan di lakukan Hinata.

"Ini jasmu, terima kasih atas bantuanya dan selamat untuk rencana lamaranmu." Hinata memberikan jas milik Sasuke dan pemuda itu menerimanya.

Hinata berbalik meninggalkan cahaya hidupnya yang sudah padam, Hinata tidak tahu apa yang akan di lakukanya setelah ini, harapanya seakan hilang untuk selamanya.

Hinata tidak menyadari apapun, saat membuka mata dirinya tengah dipeluk bahkan di cium oleh pemuda itu, yang terakhir dia ingat dia sedang berjalan menuju pintu, tapi kemudian dia merasakan tarikan di tanganya dan tubuhnya bertabrakan dengan tubuh itu setelahnya, benda kenyal, basah dan lembut menyentuh bibirnya, pelakunya tidak lain Uchiha Sasuke.

Sasuke hilang kendali sisi kelelakianya berkata dia harus menghentikan Hinata, dia tidak ingin gadis itu pergi dari hadapanya.

Dengan cepat Sasuke melempar jasnya, kemudian melangkah dan menyambar tangan Hinata, tubuh gadis itu ditarik kemudian di rengkuhnya, tidak sampai disitu bibirnya meraup bibir Hinata, hasratnya menggebu, bahkan bibirnya sekarang mulai melumat bibir manis itu lagi dan lagi.

Hinata menjauhkan tubuhnya saat ciuman Sasuke berhenti, pemuda itu menatapnya sarat akan kerinduan, Hinata mengernyitkan alisnya seolah bertanya.

"Aku tidak akan membiarkanmu pergi." suara Sasuke terdengar parau, dilema, itu yang dirasakan Hinata, tidak bisa, dia tidak bisa menghianati temanya, Hinata mundur dan menjauh dari Sasuke, tapi pemuda itu menarik tubuhnya lagi, memeluknya lebih berat.

"Sasu...hmf." Sasuke menciumnya lagi lebih dalam, Hinata terlena dengan sentuhan lembut yang Sasuke berikan.

"Aaakhh..." Hinata memekik saat tubuhnya di angkat dan di bawa ke dalam ruangan yang di sebut kamar.

Sasuke tahu dirinya sudah gila, apa yang di pikirkanya sekarang adalah menyentuh gadis yang berada di bawahnya, setelah membaringkan Hinata pemuda itu tak hentinya menciumi seluruh bagian tubuh Hinata, terdengar erangan kesakitan dari bibir cantik itu saat Sasuke menyalurkan kenikmatan di bawah sana.

Sasuke sepenuhnya menyadari, hanya gadis ini yang mampu membuat hasratnya bangkit, padahal gadis itu tidak melakukan apapun, gadis itu tidak menggodanya.

to be continue

Yo...yo chap 4 up...maaf ga update cepet soalnya aku juga kangen sama fict lain jadi kemarin aku manjain diri buat nikmatin fict dari para author, jujur aja keren2 ..aku suka...I love SH always,...muach...muach...

Peluk cium untuk para reviewer kesayanganku...

Balasan chap 3

susimakipark,, yup alurnya maju mundur, tapi mulai chap depan mah maju teruuusss, ya skizo affectif sama kaya skizoprenia tapi ada perpaduan penyakit jiwa lainya aku lupa namanya..hehe..chap selanjutnya ada sasu pov dan hinata pov, ibunya hinata ntar ketahuan juga..sabar ea...

Stay918,, nich dah lanjut...makasih udah like..terus ikutin ea...

Green Oshu,,ini dach lanjut...baperin teruss ..tancapppp...

ana,, chap depan alurnya maju terussss...

hyacinth uchiha,,aduch kalo itu rahasia author..hehe..pokoknya ikutin terus dech...

lovely sasuhina,,kamu cekik neji nanti km di cekik balik sama fans neji...wkwk..sepertinya penyakit jiwa hinata jauh lebih berat,..gommene..hina kemana? di chap ini ketahuan kan? Tapi itu dugaan sementara.

Han Zizah,, aku jahat? Aku sayang banget ama Hina, aku cuma mendramatisir untuk kelancaran fict ini...gommen...

HipHipHuraHura,,Neji kamvret? emang...bayangin si zetsu putih yang lagi nyamar jadi Neji, kira2 mukanya kaya gitu...hehe...

Ok ceklis foll and favs kalian, jangan lupa review juga...

Kata terakhir selalu terima kasih untuk semua.

Salam aisyaeva...